Rabu, 10 April 2019

Sejarah Masuknya Islam di amerika 6b

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Latar belakang orang-orang Muslim Amerika sangatlah beragam. Ada yang sudah menjadi Muslim sebelum masuk ke Amerika, ada yang berkonversi menjadi Muslim setelah masuk Amerika. Kategori pertama, kedatangannya ke Amerika sebagai bentuk “hijrah” dalam rangka pengembangan kehidupan duniawi, karena Amerika merupakan negara yang menjanjikan. Tidak sedikit dari mereka berasal dari Timur Tengah dan Afrika, serta kawasan dunia lain. Kategori kedua, terjadi perpindahan agama karena alasan yang beragam.
Kedatangan orang-orang Islam asal Afrika dapat dipastikan Islamisasi awal di Amerika. Selama periode ini, orang-orang Islam yang datang ke Amerika adalah budak-budak belian, tawanan-tawanan, dan sukarelawan. Pembukaan perkebunan Eropa di Dunia Baru di Benua Amerika tahun 1500-an memperluas permintaan budak di Amerika. Perdagangan budak menjadi ekspor utama bangsa Eropa. Mereka dijual sebagai budak untuk berkerja di perkebunan di Karibia dan Amerika.
Namun Islam di Amerika menjadi golongan yang minoritas karena beberapa faktor. Pertama, adanya perbudakan, perbudakan menghambat perkembangan agama Islam. Islam tidak disukai oleh majikan-majikan budak itu, bahkan sebagian dari mereka harus menganut agama yang dianut majikannya.. Kedua, falsafah negara Amerika sendiri yang memisahkan antara agama dengan negara yang dikenal dengan negara sekular. Ketiga, peristiwa besar pasca 11 September 2001. Peristiwa serangan 11 September 2001 selalu berarti membahas hal-hal tentang terorisme yang kemudian diasosiasikan kepada Islam. Hal itu muncul karena sasaran yang menjadi korban serangan setidaknya ada dua kawasan yang sangat strategis, yaitu pusat perdagangan termegah di dunia World Trade Center (WTC) di New York dan markas besar militer Amerika Serikat di Pentagon.  Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah mengalami kondisi tekanan psikologis yang sangat berat. Mereka dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan, dan diasosiasikan dengan teroris.

Rumusan Masalah
Bagaimana Sejarah Masuknya Islam di Amerika itu?
Bagaimana Kondisi Demografi Amerika itu?
Bagaimana Dinamika dan Perkembangan Islam di Amerika Serikat itu?
Bagaimana Problem yang Dihadapi Umat Islam Amerika Serikat itu?
Apa saja Sebab-sebab Minoritas Islam di Amerika Serikat itu?
Bagaimana Tantangan dan Peluang Umat Islam Amerika Serikat itu?





BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Masuknya Islam di Amerika Serikat
Islam sudah lama masuk di tanah Amerika, jauh sebelum Christopus Columbus mengklaim menemukan benua tersebut. Beberapa tulisan yang bersumber dari Sejarawan Islam, seperti Al-Mas’udi (871-957 M) dalam bukunya Muruj al-Dzahab wa Ma’adin al-Jawhar menyebutkan bahwa masa kekhalifahan Abdullah bin Muhammad (888-912 M) di Andalusia, ada seorang pemuda Muslim bernama Khasykhasy bin Said bin Aswad asal Cordova, memimpin pelayaran dari pantai Delba (Palos) tahun 889 M menyebrangi Samudra Atlantik hingga mencapai daratan yang belum dikenal. Dalam pendaratannya ia sempat kontak dengan penduduk setempat. Pelayaran lain juga dilakukan Ibn Farrukh dari Granada pada Februari 999 di masa pemerintahan Hisyam III (976-1009 M). Ibn Farrukh berlayar dari Cadesh menyeberangi Atlantik dan mendarat di Gando Kepulauan Canary.
Colombus baru melakukan pelayaran dari Delba (Palos) dan mendarat di kepulauan Bahama pada 12 Oktober 1492 di sebuah kampung yang disebut Guanahami. Nama ini berasal dari suku Mandinka Muslim, dari kata “Ikhwana” dan “Hani” yang berarti Bani Hani. Ahli-ahli Sejarah berspekulasi bahwa Christopus Colombus telah dibimbing mendarat benua Amerika oleh navigator-navigator dan pembantu-pembantu Muslim Andalusia atau Maroko yang jasa-jasanya telah Colombus beli.
Kemudian Marisco Spanyol datang pada abad ke 16 dengan tentara Spanyol di wilayah New Mexico dan Arizona. Yang paling terkenal dari mereka adalah Jenderal Spanyol Estevanico de Azemor, yang nama Muslimnya belum diketahui. Muslim pertama ini tida dapat memelihara Islam kalangan keturunannya. Dalam periode yang sama, seorang pangeran Mesir dengan nama Nasir al-Din bergabung dengan suku Mohawk di daerah yang membentuk negara bagian New York sekarang.
Kedatangan orang-orang Islam asal Afrika antara abad XVI dan XVIII, dapat dipastikan Islamisasi awal di Amerika. Selama periode ini, orang-orang Islam yang datang ke Amerika adalah budak-budak belian, tawanan-tawanan, dan sukarelawan. Penyebab tawanan-tawanan Spanyol tersebut berdatangan antara lain karena jatuhnya Andalusia ke tangan bangsa Eropa. Sementara itu, budak-budak dipekerjakan di perkebunan tebu di pulau-pulau Karibia yang pada saat itu juga sedang membutuhkan banyak tenaga manusia.
Perbudakan diperkenalkan di tanah-tanah yang kemudian menjadi Amerika Serikat pada 1619 M. Ratusan ribu orang dikapalkan dari Afrika menyeberangi Atlantik dalam keadaan menakutkan. Budak-budak tersebut diburu dari Afrika oleh bangsa-bangsa Spanyol, Belanda, Perancis, dan Inggris untuk diperjualbelikan di pasar budak Amerika. Diketahui bahwa penduduk Sinegal, Guinea, Gambia, dan Mauritania telah beragama Islam pada akhir abad ke  XV, dapat dipastikan bahwa budak-budak tersebut beragama Islam. Tetapi perbudakan juga menghambat perkembangan agama Islam. Islam tidak disukai oleh majikan-majikan budak itu, bahkan sebagian dari mereka harus menganut agama yang dianut majikannya. Nama-nama mereka juga diganti oleh majikannya.

Kondisi Demografi Amerika Serikat
Negara Amerika terbentuk dari 13 bekas koloni Britania Raya yang merdeka pada  4 Juli 1776. Lintas sejarah Amerika Serikat bermula dari kehidupan manusia di Amerika Utara yang sudah ada sejak 34.000 SM. Namun, mereka membutuhkan waktu ribuan tahun untuk menuju ke Selatan, yaitu daratan yang disebut Amerika Serikat. Diperkirakan mereka sampai Amerika Serikat pada tahun 12.000 SM.
Luas Amerika adalah 9,83 juta km2 dan penduduk besar 309 juta jiwa. Amerika Serikat adalag negara terbesar ketiga berdasarkan jumlah penduduk dan keempat berdasarkan total luas wilayah. Negara ini merupakan negara multikultural, yang disebabkan masuknya para imigran dari seluruh dunia. Pada awal kolonialisasi bangsa Eropa, pribumi Amerika yang hidup di Amerika Serikat berjumlah sampai 18 juta orang. Populasi berkurang karena disebabkan dampak penyakit menular yang dibawah dari Eropa, terutama wabah cacar yang menewaskan orang Indian pada tahun 1600.
Seiring perkembangannya, penduduk Amerika sekitar 270 juta jiwa dengan komposisi penduduk bergama Nasrani 55%, Yahudi 3%, Muslim 1,5%, dan selebihnya agama-agama lain. Komposisi penduduk yang beragama Islam merupakan turunan dari berbagai macam etnis yang melakukan migrasi ke Amerika. Imigran-imigran tersebut adalah:
Daerah Asal
Jumlah

Eropa Timur
880.000

Timur Tengah/Afrika Utara
940.000

Sub Sahara
94.000

Asia
380.000

Karibia
13.000

Amerika-Afrika
1.000.000

Jumlah keseluruhan
3.378.000

Dinamika dan Perkembangan Islam di Amerika Serikat
Awal abad XIX, perdagangan budak telah dihentikan. Dengan dihapuskannya institusi perbudakan dan adanya kontak Dunia Islam dengan Amerika, terjadilah gelombang migrasi dari Dunia Islam ke Amerika karena tempat ini dianggap menjanjikan suatu tanah harapan. Migrasi orang-orang Islam ke Amerika Serikat sejak akhir abad XIX hingga paruh akhir XX, terjadi dalam lima gelombang.
Gelombang pertama, sejak tahun 1875 sampai 1912. Mereka yang bermigrasi pada umumnya adalah pemuda-pemuda desa yang tidak terpelajar dan tidak memiliki keterampilan. Mereka bermigrasi karena keadaan ekonomi negaranya yang tidak menguntungkan, dan berharap memperoleh perubahan ekonomi di Amerika Serikat. Gelombang kedua, tahun 1918 sampai 1922, setelah terjadinya Perang Dunia I. Mereka pada umumnya adalah para intelketual yang berasal dari perkotaan. Gelombang ketiga, tahun 1930 hingga 1938 yang terkondisikan karena kebijaksanaan imigran Amerika Serikat yang memberikan prioritas kepada mereka yang keluarganya lebih dulu menetap di Amerika Serikat.
Gelombang keempat, antara tahun 1947 sampai 1960. Para imigran ini adalah anak para penguasa dari berbagai negeri yang umumnya berlatar belakang kehidupan perkotaan, terpelajar, dan terbaratkan (westernized) sebelum mereka tiba di Amerika Serikat. Mereka datang untuk mendapat kehidupan yang lebih baik dan pendidikan yang tinggi. Gelombang kelima, sejak 1967 sampai kentemporer ini. Mereka datang tidak hanya alasan ekonomis, tetapi juga politis. Mereka umumnya kaum terpelajar dan profesional. Di antara Intelektual Muslim yang bermigrasi ke Amerika Serikat adalah Fazlur Rahman dari Pakistan yang kemudian menjadi Guru Besar Chigago University, Sayyid Husein Nasr dari Iran yang menjadi Guru Besar George Washington University, dan Isma’il Al-Faruqi dari Palestina yang kemudian menjadi Guru Besar Harvard University.
Pada abad ke XX berdiri Organisasi Islam di Amerika Serikat yang disebut The Nation of Islam, berdiri di Paraise Valley perkampungan orang kulit hitam pada 1930. Pemimpin mereka adalah seorang keturunan Timur Tengah bernama Wallace Fard yang mengaku diutus Tuhan untuk mengangkat derajat orang-orang berkulit hitam. Fard dibantu Elijah Poole atau dikenal Elijah Muhammad sebagai tangan kanannya. Sejak Fard kembali ke Timur Tengah pada 1934, Elijah Muhammad organisasi tersebut dan berkembang di Amerika sampai tahun 1952. Elijah mengajarkan bahwa kehinaan yang menimpa orang kulit hitam di Amerika dikarenakan mereka terpisah dari pengetahuan dan nilai-nilai tentang Allah Swt. Tugas dari Elijah Muhammad adalah mengangkat orang-orang kulit hitam yang telah masuk Kristen kembali kembali memeluk Islam.
Elijah Muhammad meninggal pada tanggal 25 Februari 1975. Kemudian kepemimpinannya jatuh kepada anaknya, Wallace Muhammad yang kemudian dikenal Warith Deen Muhammad. Warith Deen Muhammad memiliki pandangan berbeda dengan almarhum ayahnya. Ia tidak mewarisi kultus yang terbangun pada masa ayahnya. Warith Deen Muhammad mendeklarasikan bahwa Elijah Muhammad bukanlah “Nabi atau utusan Allah Swt”. Warith Deen Muhammad ingin membawa NOI kepada mainstream. Tentu tidak semua orang menerima ini karena beberapa masih mempertahankan ajaran Elijah Muhammad. Sehingga terdapat dua kubu dalam NOI, yaitu kubu yang bertahan dipimpin Farrakhan dan kubu Warith Deen hingga tahun 2000. Dalam masa itu di Amerika Serikat tumbuh beberapa organisasi Islam, pusat-pusat Islam, dan masjid-masjid. Namun tidak semua Muslim bergabung dalam institusi tersebut. Tahun 2000, hanya 20% Muslim yang tergabung dalam Islamic Center.

Problem yang dihadapi umat Islam Amerika Serikat
Tonggak peristiwa yang menjadi landasan dasar untuk menggambarkan kondisi umat Islam Amerika adalah peristiwa pengeboman 11 September 2001 yang meluluhlantakkan gedung Kembar WTC. Kejadian ini dikatakan kejadian yang kebetulan dan menjadi fondasi yang kuat bagi Bush, Jr untuk mencengkramkan kekuasaannya di Amerika. Membahas tentang peristiwa serangan 11 September 2001 selalu berarti membahas hal-hal tentang terorisme yang kemudian dihubungkan dengan agama. Tragedi ini sering diasosiasikan kepada Islam, tindak kekerasan Islam seringkali mengatasnamakan agama. Tragedi ini hingga sekarang menjadi kotroversi mengenai misteri dan keganjilan-keganjilan dibalik kejadian tersebut. Hal itu muncul karena sasaran yang menjadi korban serangan setidaknya ada dua kawasan yang sangat strategis, yaitu pusat perdagangan termegah di dunia World Trade Center (WTC) di New York dan markas besar militer Amerika Serikat di Pentagon.
Gedung WTC merupakan gedung yang sangat kokoh dengan kekuatan baja seberat 200.000 ton. Sementara Pentagon adalah kawasan yang tidak sembarang orang menembusnya. Peristiwa menara WTC di New York adalah sebuah tragedi yang memilukan. Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah mengalami kondisi tekanan psikologis yang sangat berat. Mereka dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan, dan diasosiasikan dengan teroris. Pemerintah George Walker Bush segera menetapkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigrasi secara berlebihan.
Orang-orang Amerika mengadakan pembungihangusan terhadap kantong-kantong Muslim yang dicurigai sebagai markas teroris. Kecurigaan ini didasarkan atas dugaan bahwa markas tersebut tempat persembunyian Intelektual teroris paling dicari yaitu Osama bin Laden. Tokoh ini adalah figur antagonis menurut Amerika, dan menjadi pahlawan yang dibanggakan oleh pihak Muslim. Ia dikenal sebagai organisatoris yang mumpuni terhadap kelompok teroris yang menamakan diri Al-Qaeda. Osama bin Laden dan jaringan Al-Qaedanya tertuduh sebagai pelaku utama atas kehancuran WTC membawa dampak buruk terhadap dunia Islam. Karena Presiden Amerika George Bush tiba-tiba mengeluarkan stateme “miring” bahwa “Islam adalah Teroris” dalam hal ini G. Bush mengumumkan:
“Amerika diserang teroris biadab. Teroris itu adalah Osama bin Laden. Teroris itu adalah Islam. Amerika tidak akan tinggal diam. Amerika akan membalas. Amerika tidak akan galak. Amerika sudah terbiasa berperang........... Ikut Amerika atau ikut teroris. Tidak ada pilihan ketiga, apalagi pilihan keempat. Siapa yang tidak mau ikut Amerika akan digebuk. Rezim yang tidak mau memusuhi teroris akan dicap sebagai Rezim jahat.”
Dalam survey yang dilakukan lembaga Pewforum pada tahun 2007, menyebutkan bahwa 53% Muslim Amerika mengaku lebih sulit menjadi seorang Muslim setelah serangan 11 September. Lebih dari 10% diperlakukan diskriminatif, sebanyak 15% dipandang sebagai teroris, 13% ketidaktahuan publik tentang Islam, dan setereotip sebanyak 12%. Setelah terjadinya peristiwa 11 September sebuah lembaga resmi di Amerika bernama Council on American-Islamic Relation (CAIR) gencar melakukan kampanye Anti-Terorisme. CAIR juga menerbitkan fatwa-fatwa anti terorisme yang dirilis dalam bahasa Inggris, Arab, dan Urdu. CAIR juga merilis petisi berjudul “Not in the name of Islam”. Pokok petisi tersebut adalah pernyataan bahwa pelaku teror tidak hanya melanggar nilai-nilai kemanusiaan tetapi juga nila-nilai keimanan.
Setelah tragedi 11 September, Islam dan umat Islam di Amerika dan di negara-negara non Muslim menjadi sorotan perhatian, sinisme, kebencian, dan permusuhan. Hal itu tidak dapat dihindari dengan citra yang timbul bahwa Islam diidentikkan dengan kekerasan dan Muslim adalah orang yang berkomitmen pada terorisme.
Akan tetapi, keajaiban sejarah terjadi sebab tampaknya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Tidak lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang berbondong-bondong menyatakan masuk Islam dan mengaku menemukan kedamaian di dalamnya. Selain 20.000 orang Amerika masuk Islam negara-negara non Amerika juga mengambil keputusan masuk Islam. Karena peristiwa 11 September yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai lapisan masyarakat Amerika, justru kemudian terundang Curiousity (keingintahuan) untuk mengetahui Islam lebih jauh. Tentu saja hal itu semakin dekat dan semakin tahu tentang Islam.
Populasi Muslim di Amerika mengalami peningkatan juga karena didorong oleh adanya imigrasi dari berbagai negeri Timur Tengah, Afrika, Indo-Pakistan, Asia Timur, dan sebagainya. Tahun 2005, orang dari negara-negara Islam menjadi penduduk-penduduk Amerika hampir 96 ribu. Pada tahun 2009 penduduk Muslim melebihi 115 ribu orang.
Survey yang dilakukan oleh The Religious Lanscape Study tahun 2014 menunjukkan keadaan sebagai berikut, perkembangan kelompok minoritas di AS:
Agama
2007 (%)
2014 (%)
Selisih

Yahudi
1,7
1,9
+0,2

Muslim
0,4
0,9
+0,5

Budha
0,7
0,7
0,0

Hindu
0,4
0,7
+0,3

Agama dunia lainnya
<0,3
0,3
n/a

Kepercayaan lain
1,2
1,5
0,3

Total non Kristen
4,7
5,9
+1,2

Sebab-sebab Minoritas Islam di Amerika Serikat
Terdapat berbagai sebab mengapa kaum Muslim di Amerika menjadi golongan yang minoritas. Pertama, adanya perbudakan, perbudakan menghambat perkembangan agama Islam. Islam tidak disukai oleh majikan-majikan budak itu, bahkan sebagian dari mereka harus menganut agama yang dianut majikannya. Nama-nama mereka juga diganti oleh majikannya. Budak-budak tersebut didatangkan dari Afrika yang mayoritas dari mereka adalah orang berkulit hitam. Budak-budak Muslim yang berkulit hitam dianggap sebagai kasta rendah. Mereka mendapatkan kehinaan selama berabad-abad.
Kedua, tantangan falsafah negara Amerika Serikat yang menganut paham sekuler yang memisahkan antara agama dengan urusan negara. Sehingga agama diredusir ke dalam lingkup privat atau urusan pribadi.  Filososfi individualisis ini bertentangan dengan filosofi yang dianut masyarakat Muslim Amerika, bahwa agama bukan hanya menyangkut urusan pribadi tetapi juga publik secara keseluruhan. Mereka harus menanggung beban sebagai kelompok yang ditatap dengan penuh kecurigaan. Sehingga ketika ada pemicu, langsung berubah menjadi aksi teror nyata. Hal ini terjadi karena ketidakpahaman mayoritas non Muslim AS mengenai Islam. Mereka minim menerima informasi tentang Islam. Kalaupun ada, informasi yang diterima banyak tidak benarnya. Misalnya, siswa-siswa SMA di Amerika diharuskan membaca buku wajib yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang Islam yang ngawur dan berbahaya, seperti:
“Islam didirikan oleh seorang pedangang kaya berkebangsaan Arab bernama Muhammad. Dia mengaku dirinya seorang Nabi, dan diikuti orang-orang Arab lainnya. Kepada para pengikutnya, Muhammad menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa mereka telah dipilih (Tuhan) untuk memimpin dunia”.
Ketiga, pasca pengeboman menara kembar WTC perlakuan terhadap Musim setempat meningkat secara signifikan. Bahwa kekerasan dan diskriminasi yang menimpa umat Islam telah mencapai 1717 kasus, dan kasus yang terbanyak yaitu 372 kasus adalah pelecehan seksual terhadap para Muslimah yang berjilbab di Amerika. Jilbab adalah salah satu identitas Islam, dan mereka menganggap bahwa setiap wanita berjilbab berpotensi memiliki hubungan yang erat dengan terorisme.

Tantangan dan peluang Masyarakat Islam di Amerika Serikat
Sebagaimana layaknya golongan minoritas, Muslim Amerika menghadapi tantangan-tantangan. Tantangan tersebuat berasal dari luar dan dari dalam. Tantangan yang berasal dari luar adalah falsafah negara Amerika sendiri yang memisahkan antara agama dengan negara yang dikenal dengan negara sekular. Di situ pihak negara memberi kebebasan pemeluk agama untuk menjalankan agamanya masing-masing. Namun di lain pihak, pemerintah membiarkan kelompok memutarbalikkan citra Islam sehingga tantangan lain berupa lingkungan budaya Amerika yang serba permissive cukup berat untuk di hadapi.
Pergaulan bebas dan kebiasaan meminum minuman keras yang setiap hari cukup menggoda remaja Muslim sehingga dapat membuat lupa terhadap nilai-nilai agama yang dianutnya. Bagi setiap Muslimah yang biasa memakai busana Muslim, akan menjadi pemandangan yang ganjil di tengah-tengah remaja Barat yang biasa memakai pakaian seenaknya. Pengaruh negative datang pula dari siaran TV yang serba bebas bila dilihat dari norma Islam. yang lebih berbahaya bagi remaja ialah lingkungan sekolahnya, mereka di rumah dididik secara Islami, tetapi di sekolah harus menyaksikan pergaulannya yang bertolak belakang dengan yang diajarkan di rumah.
Tantangan lain adalah tidak semua imigran berperilaku dengan ajaran agamanya. Malah sebaliknya, mereka larut dengan budaya Barat dengan tidak mengindahkan nilai-nilai Islam. adapun generasi yang dapat dijadikan modal dan peluang untuk perkembangan Islam di Amerika, di antaranya adalah realitas semakin banyaknya orang yang memeluk Islam. Generasi Muslim mendatang boleh dianggap sebagai warga Amerika tulen. Mereka lahir dan dibesarkan di Amerika. Bahasanya bahasa Amerika, mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari warga Amerika. Potensi lain di Amerika terdapat intelektual Muslim yang terkemuka. Saat ini bukan hanya teknologi Amerika yang diperhitungkan dunia, tetapi pemikir Muslim Amerika seperti Faziur Rahman dan Ismail Al-Faruqi telah mewarnai pemikiran Islam zaman modern. Potensi lain yang penting adalah terdapatnya dai-dai, baik dari kalangan kampus maupun lainnya, yang giat berdakwah. Perkembangan Islam di Amerika berada di tangan mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Elhady, Amimullah. (2015). “Perkembangan Islam di Amerika Sebelum dan Setelah Tragedi 11 September 2001”, Jurnal Al-Hikmah, Vol. 13 No. 1.
Karina, Nina., & Retna Sasongkowati. (2013). History of the Word Sejarah Dunia Kuno dan Modern. Yogyakarta: Indoliterasi.
Kartini, Indriana. “Dinamika Minoritas Muslim di Amerika Serikat”, Jurnal Penelitian Politik, PDFejournal.politik.lipi.go.id., Diakses pada 6 April 2019.
Ketani, M. Ali. (2005). Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Khalik, Subehan. (2015). “Sejarah Perkembangan Islam di Amerika”, Jurnal al-Daulah, Vol. 4 No.2.
Thohir, Ajid. (2004). Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar-akar Sejarah , Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...