BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Islam memiliki berbagai problem dimasa lalu sampai sekarang yang bersangkutan tentang Nasionalisme yang mengharuskan umat islam untuk menggagasnya agar dapat mengikuti perkembangan Negara Indonesia. Umat Islam bergerak dalam Nasionalisme juga merupakan kesadaran dari diri mereka sendiri. Mereka bergerak dalam Nasionalisme bukan karena materi ataupun yang lainnya. Maka dari itu disini kami ingin membahas tentang Islam Nasionalisme yang menerangkan tentang Bagaimana partai Islam yang ikut serta dalam pembentukan Nasionalisme di Indonesia.
Rumusan Masalah
Bagaimana hubungan Islam dan Nasionalisme
Partai apa saja yang ikut dalam pembentukan NKRI
Tujuan Penulisan
Memahami hubungan Islam dan Nasionalisme
Mengetahui partai islam maupun nsional yang ikut pembentukan NKRI
BAB II
PEMBAHASAN
Islam dan Nasionalisme
Secara etimologi, kata nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa yang dipersatukan karena kelahiran. Ada juga yang mengartikan Nasionalisme adalah suatu negara yang mengakui pusat pemerintahan yang sama dan wilayah yang dikuasai oleh negara tersebut serta penduduk yang ada didalamnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negaranya sendiri.
Jauh sebelum kata nasionalisme muncul, sebenarnya islam telah mengenal nilai-nilai Universal yang berlaku dan menjadi alat pemersatu yaitu agama. Sehingga nasionalisme akan bersentuhan dengan nilai-nilai agama yang telah lama dianut masyarakat. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa umat islam adalah umat yang berada di tengah (ummatan wasathan). Hal inilah yang mendorong kalangan islam nasionalis memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa mendasarkan diri formalisasi syariat islam.
Partai Pembentuk NKRI
Munculnya berbagai organisasi politik dapat dilihat sebagai hasil dari pendidikan modern saat diberlakukan kebijakan politik etis oleh pemerintah Hindia-Belanda. Walaupun tujuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda sebenarnya hanya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan administrasi dan birokrasi kolonial tingkat rendah, namun telah membangkitkan kesadaran kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan melalui gerakan politik. Dengan munculnya hal tersebut Partai politik di Indonesia pertama–tama lahir dalam era zaman kolonial sebagai manifestasi bangkitnya kesadaran nasional. Berbagai organisasi modern muncul sebagai wadah pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Walaupun pada awalnya berbagai organisasi tidak secara tegas menamakan diri sebagai partai politik, namun memiliki program–program serta aktivitas politik.
Kelahiran Budi Utomo merupakan contoh dari terbentuknya organisasi nasional pada masa kolonial tersebut dan juga cikal bakal lahirnya organisasi modern di Indonesia, maka dari itu tidak heran apabila kelahiran Budi Utomo diidentikan sebagai tonggak kebangkitan nasional. Lahirnya Budi Utomo pada awalnya disebabkan oleh kondisi bangsa Indonesia yang saat itu berada dalam jajahan Belanda. Dimana rakyat berada dalam kondisi menderita dan disiksa. Hanya sebagian pemuda dan pelajarlah yang menikmati pendidikan, akan tetapi hanya sebagian kecil pemuda yang menikmati pendidikan tersebut yang sadar akan kondisi kesengsaraan bangsa Indonesia. Sehingga atas dasar itu pemuda-pemuda tersebut mendirikan perkumpulan Budi Utomo dengan tujuan untuk memajukan rakyat dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.
Keberadaan organisasi tersebut di ikuti dengan munculnya berbagai organisasi partai politik. Partai–partai tersebut diantaranya adalah Indische Partij (IP), Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia Raya (Perindra), Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindro), Partai Indonesia (Pertindo), dan Partai Rakyat Indonesia (PRI).
Indische partij merupakan partai politik pertama di Indonesia yang menjadi pelopor timbulnya organisasi-organisasi politik di zaman prakemerdekaan, baik organisasi politik yang bersifat ilegal maupun legal. Mengingat ekstrimnya pemikiran partai ini kala itu, Indische Partij hanya bertahan 8 bulan saja, hal itu disebabkan karena ketiga pemimpin mereka masing-masing dibuang ke Kupang, Banda dan Bangka, dan kemudian diasingkan ke Nederland.
Setelah beberapa tahun diasingkan, Ki Hajar Dewantara dan Dr. Setyabudi kembali ke Indonesia untuk mendirikan partai politik yang dinamakan sebagai National Indische Partij (NIP) pada tahun 1919 yang kemudian secara langsung mempelopori lahirnya beberapa partai politik lain yakni Indische Social Democratische Verening (ISDV), Partai Nasional Indonesia, Partai Indonesia dan Partai Indonesia Raya. Partai – partai politik yang ada sebelum kemerdekaan tersebut, tidak semuanya mendapatkan status badan hukum dari kolonial Belanda. Bahkan, partai – partai tersebut tidak dapat beraktivitas secara damai dan lancar di zaman penjajahan Belanda. Maka dari itu, partai yang bergerak atau menentang tegas pemerintahan Belanda akan dilarang, dimana pemimpinnya akan ditangkap, dipenjarakan atau diasingkan.
Kemudian pada tanggal 4 Juli 1927, sukarno dan Algemene Studieclub memprakarsai pembentukan sebuah partai politik baru yaitu Perserikatan Nasional Indonesia dengan sukarno sebagai ketuannya. Pada bulan Mei 1928 nama partai ini di ubah menjadi Partai Nasional Indonesia ( PNI ). Tujuan PNI adalah kemerdekaan bagi kepulauan indonesia yang akan dicapai dengan nonkooperatif dan dengan organisasi massa. Inilah partai politik penting pertama yang beranggotakan etnis indonesia, semata mencita-citakan kemerdekaan politik, berpandangan kewilayahan yang meliputi batas-batas indonesia sebagaimana yang ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda dan beridiologi nasionalisme sekuler. Partai Nasional Indonesia (PNI) merupakan wadah nasionalisme modern yang radikal. Ideologi partai tersebut nasional radikal, yang dalam pandangan Bung Karno dianggap bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme (NASAKOM).
Setelah itu, diikuti kelahiran banyak organisasi, baik yang bercorak keagamaan, politik maupun kepemudaan, seperti Muhammadiyyah (18 November 1912), Nahdlotul Ulama (31 Januari 1926), Christelijke Ethische Partij (1916), Indiche Katholieke Partij (1918), Jong Java (1915), Jong Sumatera Bond (1917), dll. Lahirnya beraneka ragam organisasi dapat dikatakan bahwa nasionalisme sudah mulai tumbuh karena senasib sependeritaan, yang menginginkan bebas dari penjajahan Belanda, dan ingin mewujudkan cita-cita yaitu masa depan yang lebih baik, yang oleh Anderson disebut Imagined Political Community.
Nasionalisme mencapai puncaknya saat dibentuknya BPUPKI pada 1 Maret 1945. Organisasi yang dibentuk oleh pemerintah Jepang beranggotakan 60 orang. Pada awalnya yang akan menjadi ketua adalah Ir. Soekarno, tetapi dengan alasan tertentu akhirnya ditunjuka Radjiman Wediodiningrat sebagai ketua dengan wakilnya R.P. Soeroso, tujuannya pembentukannya adalah untuk menyelidiki dan mempelajari hal-hal penting yang berhubungan dengan pembentukan Negara Indonesia Merdeka.
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Agama Islam menggagas Nasionalisme karena dorongan dari diri mereka yang sejak awal diajarkan tentang persatuan, dan tujuan umat Islam memegang Nasionalisme karena mereka ingin menyatukan berbagai pendapat dan bukan karena materi ataupun kedudukan.
Berbagai partai yang berpartisipasi dalam pembentukan NKRI yang sangat menjunjung tinggi rasa Nasionalisme yang begitu besar. Partai yang didirikan para tokoh agama tersebut memiliki tujuan yang berbeda-beda yang menyesuaikan masyarakat disekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar