Rabu, 10 April 2019

Sejarah Masuknya Islam di amerika 6b

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Latar belakang orang-orang Muslim Amerika sangatlah beragam. Ada yang sudah menjadi Muslim sebelum masuk ke Amerika, ada yang berkonversi menjadi Muslim setelah masuk Amerika. Kategori pertama, kedatangannya ke Amerika sebagai bentuk “hijrah” dalam rangka pengembangan kehidupan duniawi, karena Amerika merupakan negara yang menjanjikan. Tidak sedikit dari mereka berasal dari Timur Tengah dan Afrika, serta kawasan dunia lain. Kategori kedua, terjadi perpindahan agama karena alasan yang beragam.
Kedatangan orang-orang Islam asal Afrika dapat dipastikan Islamisasi awal di Amerika. Selama periode ini, orang-orang Islam yang datang ke Amerika adalah budak-budak belian, tawanan-tawanan, dan sukarelawan. Pembukaan perkebunan Eropa di Dunia Baru di Benua Amerika tahun 1500-an memperluas permintaan budak di Amerika. Perdagangan budak menjadi ekspor utama bangsa Eropa. Mereka dijual sebagai budak untuk berkerja di perkebunan di Karibia dan Amerika.
Namun Islam di Amerika menjadi golongan yang minoritas karena beberapa faktor. Pertama, adanya perbudakan, perbudakan menghambat perkembangan agama Islam. Islam tidak disukai oleh majikan-majikan budak itu, bahkan sebagian dari mereka harus menganut agama yang dianut majikannya.. Kedua, falsafah negara Amerika sendiri yang memisahkan antara agama dengan negara yang dikenal dengan negara sekular. Ketiga, peristiwa besar pasca 11 September 2001. Peristiwa serangan 11 September 2001 selalu berarti membahas hal-hal tentang terorisme yang kemudian diasosiasikan kepada Islam. Hal itu muncul karena sasaran yang menjadi korban serangan setidaknya ada dua kawasan yang sangat strategis, yaitu pusat perdagangan termegah di dunia World Trade Center (WTC) di New York dan markas besar militer Amerika Serikat di Pentagon.  Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah mengalami kondisi tekanan psikologis yang sangat berat. Mereka dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan, dan diasosiasikan dengan teroris.

Rumusan Masalah
Bagaimana Sejarah Masuknya Islam di Amerika itu?
Bagaimana Kondisi Demografi Amerika itu?
Bagaimana Dinamika dan Perkembangan Islam di Amerika Serikat itu?
Bagaimana Problem yang Dihadapi Umat Islam Amerika Serikat itu?
Apa saja Sebab-sebab Minoritas Islam di Amerika Serikat itu?
Bagaimana Tantangan dan Peluang Umat Islam Amerika Serikat itu?





BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Masuknya Islam di Amerika Serikat
Islam sudah lama masuk di tanah Amerika, jauh sebelum Christopus Columbus mengklaim menemukan benua tersebut. Beberapa tulisan yang bersumber dari Sejarawan Islam, seperti Al-Mas’udi (871-957 M) dalam bukunya Muruj al-Dzahab wa Ma’adin al-Jawhar menyebutkan bahwa masa kekhalifahan Abdullah bin Muhammad (888-912 M) di Andalusia, ada seorang pemuda Muslim bernama Khasykhasy bin Said bin Aswad asal Cordova, memimpin pelayaran dari pantai Delba (Palos) tahun 889 M menyebrangi Samudra Atlantik hingga mencapai daratan yang belum dikenal. Dalam pendaratannya ia sempat kontak dengan penduduk setempat. Pelayaran lain juga dilakukan Ibn Farrukh dari Granada pada Februari 999 di masa pemerintahan Hisyam III (976-1009 M). Ibn Farrukh berlayar dari Cadesh menyeberangi Atlantik dan mendarat di Gando Kepulauan Canary.
Colombus baru melakukan pelayaran dari Delba (Palos) dan mendarat di kepulauan Bahama pada 12 Oktober 1492 di sebuah kampung yang disebut Guanahami. Nama ini berasal dari suku Mandinka Muslim, dari kata “Ikhwana” dan “Hani” yang berarti Bani Hani. Ahli-ahli Sejarah berspekulasi bahwa Christopus Colombus telah dibimbing mendarat benua Amerika oleh navigator-navigator dan pembantu-pembantu Muslim Andalusia atau Maroko yang jasa-jasanya telah Colombus beli.
Kemudian Marisco Spanyol datang pada abad ke 16 dengan tentara Spanyol di wilayah New Mexico dan Arizona. Yang paling terkenal dari mereka adalah Jenderal Spanyol Estevanico de Azemor, yang nama Muslimnya belum diketahui. Muslim pertama ini tida dapat memelihara Islam kalangan keturunannya. Dalam periode yang sama, seorang pangeran Mesir dengan nama Nasir al-Din bergabung dengan suku Mohawk di daerah yang membentuk negara bagian New York sekarang.
Kedatangan orang-orang Islam asal Afrika antara abad XVI dan XVIII, dapat dipastikan Islamisasi awal di Amerika. Selama periode ini, orang-orang Islam yang datang ke Amerika adalah budak-budak belian, tawanan-tawanan, dan sukarelawan. Penyebab tawanan-tawanan Spanyol tersebut berdatangan antara lain karena jatuhnya Andalusia ke tangan bangsa Eropa. Sementara itu, budak-budak dipekerjakan di perkebunan tebu di pulau-pulau Karibia yang pada saat itu juga sedang membutuhkan banyak tenaga manusia.
Perbudakan diperkenalkan di tanah-tanah yang kemudian menjadi Amerika Serikat pada 1619 M. Ratusan ribu orang dikapalkan dari Afrika menyeberangi Atlantik dalam keadaan menakutkan. Budak-budak tersebut diburu dari Afrika oleh bangsa-bangsa Spanyol, Belanda, Perancis, dan Inggris untuk diperjualbelikan di pasar budak Amerika. Diketahui bahwa penduduk Sinegal, Guinea, Gambia, dan Mauritania telah beragama Islam pada akhir abad ke  XV, dapat dipastikan bahwa budak-budak tersebut beragama Islam. Tetapi perbudakan juga menghambat perkembangan agama Islam. Islam tidak disukai oleh majikan-majikan budak itu, bahkan sebagian dari mereka harus menganut agama yang dianut majikannya. Nama-nama mereka juga diganti oleh majikannya.

Kondisi Demografi Amerika Serikat
Negara Amerika terbentuk dari 13 bekas koloni Britania Raya yang merdeka pada  4 Juli 1776. Lintas sejarah Amerika Serikat bermula dari kehidupan manusia di Amerika Utara yang sudah ada sejak 34.000 SM. Namun, mereka membutuhkan waktu ribuan tahun untuk menuju ke Selatan, yaitu daratan yang disebut Amerika Serikat. Diperkirakan mereka sampai Amerika Serikat pada tahun 12.000 SM.
Luas Amerika adalah 9,83 juta km2 dan penduduk besar 309 juta jiwa. Amerika Serikat adalag negara terbesar ketiga berdasarkan jumlah penduduk dan keempat berdasarkan total luas wilayah. Negara ini merupakan negara multikultural, yang disebabkan masuknya para imigran dari seluruh dunia. Pada awal kolonialisasi bangsa Eropa, pribumi Amerika yang hidup di Amerika Serikat berjumlah sampai 18 juta orang. Populasi berkurang karena disebabkan dampak penyakit menular yang dibawah dari Eropa, terutama wabah cacar yang menewaskan orang Indian pada tahun 1600.
Seiring perkembangannya, penduduk Amerika sekitar 270 juta jiwa dengan komposisi penduduk bergama Nasrani 55%, Yahudi 3%, Muslim 1,5%, dan selebihnya agama-agama lain. Komposisi penduduk yang beragama Islam merupakan turunan dari berbagai macam etnis yang melakukan migrasi ke Amerika. Imigran-imigran tersebut adalah:
Daerah Asal
Jumlah

Eropa Timur
880.000

Timur Tengah/Afrika Utara
940.000

Sub Sahara
94.000

Asia
380.000

Karibia
13.000

Amerika-Afrika
1.000.000

Jumlah keseluruhan
3.378.000

Dinamika dan Perkembangan Islam di Amerika Serikat
Awal abad XIX, perdagangan budak telah dihentikan. Dengan dihapuskannya institusi perbudakan dan adanya kontak Dunia Islam dengan Amerika, terjadilah gelombang migrasi dari Dunia Islam ke Amerika karena tempat ini dianggap menjanjikan suatu tanah harapan. Migrasi orang-orang Islam ke Amerika Serikat sejak akhir abad XIX hingga paruh akhir XX, terjadi dalam lima gelombang.
Gelombang pertama, sejak tahun 1875 sampai 1912. Mereka yang bermigrasi pada umumnya adalah pemuda-pemuda desa yang tidak terpelajar dan tidak memiliki keterampilan. Mereka bermigrasi karena keadaan ekonomi negaranya yang tidak menguntungkan, dan berharap memperoleh perubahan ekonomi di Amerika Serikat. Gelombang kedua, tahun 1918 sampai 1922, setelah terjadinya Perang Dunia I. Mereka pada umumnya adalah para intelketual yang berasal dari perkotaan. Gelombang ketiga, tahun 1930 hingga 1938 yang terkondisikan karena kebijaksanaan imigran Amerika Serikat yang memberikan prioritas kepada mereka yang keluarganya lebih dulu menetap di Amerika Serikat.
Gelombang keempat, antara tahun 1947 sampai 1960. Para imigran ini adalah anak para penguasa dari berbagai negeri yang umumnya berlatar belakang kehidupan perkotaan, terpelajar, dan terbaratkan (westernized) sebelum mereka tiba di Amerika Serikat. Mereka datang untuk mendapat kehidupan yang lebih baik dan pendidikan yang tinggi. Gelombang kelima, sejak 1967 sampai kentemporer ini. Mereka datang tidak hanya alasan ekonomis, tetapi juga politis. Mereka umumnya kaum terpelajar dan profesional. Di antara Intelektual Muslim yang bermigrasi ke Amerika Serikat adalah Fazlur Rahman dari Pakistan yang kemudian menjadi Guru Besar Chigago University, Sayyid Husein Nasr dari Iran yang menjadi Guru Besar George Washington University, dan Isma’il Al-Faruqi dari Palestina yang kemudian menjadi Guru Besar Harvard University.
Pada abad ke XX berdiri Organisasi Islam di Amerika Serikat yang disebut The Nation of Islam, berdiri di Paraise Valley perkampungan orang kulit hitam pada 1930. Pemimpin mereka adalah seorang keturunan Timur Tengah bernama Wallace Fard yang mengaku diutus Tuhan untuk mengangkat derajat orang-orang berkulit hitam. Fard dibantu Elijah Poole atau dikenal Elijah Muhammad sebagai tangan kanannya. Sejak Fard kembali ke Timur Tengah pada 1934, Elijah Muhammad organisasi tersebut dan berkembang di Amerika sampai tahun 1952. Elijah mengajarkan bahwa kehinaan yang menimpa orang kulit hitam di Amerika dikarenakan mereka terpisah dari pengetahuan dan nilai-nilai tentang Allah Swt. Tugas dari Elijah Muhammad adalah mengangkat orang-orang kulit hitam yang telah masuk Kristen kembali kembali memeluk Islam.
Elijah Muhammad meninggal pada tanggal 25 Februari 1975. Kemudian kepemimpinannya jatuh kepada anaknya, Wallace Muhammad yang kemudian dikenal Warith Deen Muhammad. Warith Deen Muhammad memiliki pandangan berbeda dengan almarhum ayahnya. Ia tidak mewarisi kultus yang terbangun pada masa ayahnya. Warith Deen Muhammad mendeklarasikan bahwa Elijah Muhammad bukanlah “Nabi atau utusan Allah Swt”. Warith Deen Muhammad ingin membawa NOI kepada mainstream. Tentu tidak semua orang menerima ini karena beberapa masih mempertahankan ajaran Elijah Muhammad. Sehingga terdapat dua kubu dalam NOI, yaitu kubu yang bertahan dipimpin Farrakhan dan kubu Warith Deen hingga tahun 2000. Dalam masa itu di Amerika Serikat tumbuh beberapa organisasi Islam, pusat-pusat Islam, dan masjid-masjid. Namun tidak semua Muslim bergabung dalam institusi tersebut. Tahun 2000, hanya 20% Muslim yang tergabung dalam Islamic Center.

Problem yang dihadapi umat Islam Amerika Serikat
Tonggak peristiwa yang menjadi landasan dasar untuk menggambarkan kondisi umat Islam Amerika adalah peristiwa pengeboman 11 September 2001 yang meluluhlantakkan gedung Kembar WTC. Kejadian ini dikatakan kejadian yang kebetulan dan menjadi fondasi yang kuat bagi Bush, Jr untuk mencengkramkan kekuasaannya di Amerika. Membahas tentang peristiwa serangan 11 September 2001 selalu berarti membahas hal-hal tentang terorisme yang kemudian dihubungkan dengan agama. Tragedi ini sering diasosiasikan kepada Islam, tindak kekerasan Islam seringkali mengatasnamakan agama. Tragedi ini hingga sekarang menjadi kotroversi mengenai misteri dan keganjilan-keganjilan dibalik kejadian tersebut. Hal itu muncul karena sasaran yang menjadi korban serangan setidaknya ada dua kawasan yang sangat strategis, yaitu pusat perdagangan termegah di dunia World Trade Center (WTC) di New York dan markas besar militer Amerika Serikat di Pentagon.
Gedung WTC merupakan gedung yang sangat kokoh dengan kekuatan baja seberat 200.000 ton. Sementara Pentagon adalah kawasan yang tidak sembarang orang menembusnya. Peristiwa menara WTC di New York adalah sebuah tragedi yang memilukan. Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah mengalami kondisi tekanan psikologis yang sangat berat. Mereka dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan, dan diasosiasikan dengan teroris. Pemerintah George Walker Bush segera menetapkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigrasi secara berlebihan.
Orang-orang Amerika mengadakan pembungihangusan terhadap kantong-kantong Muslim yang dicurigai sebagai markas teroris. Kecurigaan ini didasarkan atas dugaan bahwa markas tersebut tempat persembunyian Intelektual teroris paling dicari yaitu Osama bin Laden. Tokoh ini adalah figur antagonis menurut Amerika, dan menjadi pahlawan yang dibanggakan oleh pihak Muslim. Ia dikenal sebagai organisatoris yang mumpuni terhadap kelompok teroris yang menamakan diri Al-Qaeda. Osama bin Laden dan jaringan Al-Qaedanya tertuduh sebagai pelaku utama atas kehancuran WTC membawa dampak buruk terhadap dunia Islam. Karena Presiden Amerika George Bush tiba-tiba mengeluarkan stateme “miring” bahwa “Islam adalah Teroris” dalam hal ini G. Bush mengumumkan:
“Amerika diserang teroris biadab. Teroris itu adalah Osama bin Laden. Teroris itu adalah Islam. Amerika tidak akan tinggal diam. Amerika akan membalas. Amerika tidak akan galak. Amerika sudah terbiasa berperang........... Ikut Amerika atau ikut teroris. Tidak ada pilihan ketiga, apalagi pilihan keempat. Siapa yang tidak mau ikut Amerika akan digebuk. Rezim yang tidak mau memusuhi teroris akan dicap sebagai Rezim jahat.”
Dalam survey yang dilakukan lembaga Pewforum pada tahun 2007, menyebutkan bahwa 53% Muslim Amerika mengaku lebih sulit menjadi seorang Muslim setelah serangan 11 September. Lebih dari 10% diperlakukan diskriminatif, sebanyak 15% dipandang sebagai teroris, 13% ketidaktahuan publik tentang Islam, dan setereotip sebanyak 12%. Setelah terjadinya peristiwa 11 September sebuah lembaga resmi di Amerika bernama Council on American-Islamic Relation (CAIR) gencar melakukan kampanye Anti-Terorisme. CAIR juga menerbitkan fatwa-fatwa anti terorisme yang dirilis dalam bahasa Inggris, Arab, dan Urdu. CAIR juga merilis petisi berjudul “Not in the name of Islam”. Pokok petisi tersebut adalah pernyataan bahwa pelaku teror tidak hanya melanggar nilai-nilai kemanusiaan tetapi juga nila-nilai keimanan.
Setelah tragedi 11 September, Islam dan umat Islam di Amerika dan di negara-negara non Muslim menjadi sorotan perhatian, sinisme, kebencian, dan permusuhan. Hal itu tidak dapat dihindari dengan citra yang timbul bahwa Islam diidentikkan dengan kekerasan dan Muslim adalah orang yang berkomitmen pada terorisme.
Akan tetapi, keajaiban sejarah terjadi sebab tampaknya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Tidak lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang berbondong-bondong menyatakan masuk Islam dan mengaku menemukan kedamaian di dalamnya. Selain 20.000 orang Amerika masuk Islam negara-negara non Amerika juga mengambil keputusan masuk Islam. Karena peristiwa 11 September yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai lapisan masyarakat Amerika, justru kemudian terundang Curiousity (keingintahuan) untuk mengetahui Islam lebih jauh. Tentu saja hal itu semakin dekat dan semakin tahu tentang Islam.
Populasi Muslim di Amerika mengalami peningkatan juga karena didorong oleh adanya imigrasi dari berbagai negeri Timur Tengah, Afrika, Indo-Pakistan, Asia Timur, dan sebagainya. Tahun 2005, orang dari negara-negara Islam menjadi penduduk-penduduk Amerika hampir 96 ribu. Pada tahun 2009 penduduk Muslim melebihi 115 ribu orang.
Survey yang dilakukan oleh The Religious Lanscape Study tahun 2014 menunjukkan keadaan sebagai berikut, perkembangan kelompok minoritas di AS:
Agama
2007 (%)
2014 (%)
Selisih

Yahudi
1,7
1,9
+0,2

Muslim
0,4
0,9
+0,5

Budha
0,7
0,7
0,0

Hindu
0,4
0,7
+0,3

Agama dunia lainnya
<0,3
0,3
n/a

Kepercayaan lain
1,2
1,5
0,3

Total non Kristen
4,7
5,9
+1,2

Sebab-sebab Minoritas Islam di Amerika Serikat
Terdapat berbagai sebab mengapa kaum Muslim di Amerika menjadi golongan yang minoritas. Pertama, adanya perbudakan, perbudakan menghambat perkembangan agama Islam. Islam tidak disukai oleh majikan-majikan budak itu, bahkan sebagian dari mereka harus menganut agama yang dianut majikannya. Nama-nama mereka juga diganti oleh majikannya. Budak-budak tersebut didatangkan dari Afrika yang mayoritas dari mereka adalah orang berkulit hitam. Budak-budak Muslim yang berkulit hitam dianggap sebagai kasta rendah. Mereka mendapatkan kehinaan selama berabad-abad.
Kedua, tantangan falsafah negara Amerika Serikat yang menganut paham sekuler yang memisahkan antara agama dengan urusan negara. Sehingga agama diredusir ke dalam lingkup privat atau urusan pribadi.  Filososfi individualisis ini bertentangan dengan filosofi yang dianut masyarakat Muslim Amerika, bahwa agama bukan hanya menyangkut urusan pribadi tetapi juga publik secara keseluruhan. Mereka harus menanggung beban sebagai kelompok yang ditatap dengan penuh kecurigaan. Sehingga ketika ada pemicu, langsung berubah menjadi aksi teror nyata. Hal ini terjadi karena ketidakpahaman mayoritas non Muslim AS mengenai Islam. Mereka minim menerima informasi tentang Islam. Kalaupun ada, informasi yang diterima banyak tidak benarnya. Misalnya, siswa-siswa SMA di Amerika diharuskan membaca buku wajib yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang Islam yang ngawur dan berbahaya, seperti:
“Islam didirikan oleh seorang pedangang kaya berkebangsaan Arab bernama Muhammad. Dia mengaku dirinya seorang Nabi, dan diikuti orang-orang Arab lainnya. Kepada para pengikutnya, Muhammad menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa mereka telah dipilih (Tuhan) untuk memimpin dunia”.
Ketiga, pasca pengeboman menara kembar WTC perlakuan terhadap Musim setempat meningkat secara signifikan. Bahwa kekerasan dan diskriminasi yang menimpa umat Islam telah mencapai 1717 kasus, dan kasus yang terbanyak yaitu 372 kasus adalah pelecehan seksual terhadap para Muslimah yang berjilbab di Amerika. Jilbab adalah salah satu identitas Islam, dan mereka menganggap bahwa setiap wanita berjilbab berpotensi memiliki hubungan yang erat dengan terorisme.

Tantangan dan peluang Masyarakat Islam di Amerika Serikat
Sebagaimana layaknya golongan minoritas, Muslim Amerika menghadapi tantangan-tantangan. Tantangan tersebuat berasal dari luar dan dari dalam. Tantangan yang berasal dari luar adalah falsafah negara Amerika sendiri yang memisahkan antara agama dengan negara yang dikenal dengan negara sekular. Di situ pihak negara memberi kebebasan pemeluk agama untuk menjalankan agamanya masing-masing. Namun di lain pihak, pemerintah membiarkan kelompok memutarbalikkan citra Islam sehingga tantangan lain berupa lingkungan budaya Amerika yang serba permissive cukup berat untuk di hadapi.
Pergaulan bebas dan kebiasaan meminum minuman keras yang setiap hari cukup menggoda remaja Muslim sehingga dapat membuat lupa terhadap nilai-nilai agama yang dianutnya. Bagi setiap Muslimah yang biasa memakai busana Muslim, akan menjadi pemandangan yang ganjil di tengah-tengah remaja Barat yang biasa memakai pakaian seenaknya. Pengaruh negative datang pula dari siaran TV yang serba bebas bila dilihat dari norma Islam. yang lebih berbahaya bagi remaja ialah lingkungan sekolahnya, mereka di rumah dididik secara Islami, tetapi di sekolah harus menyaksikan pergaulannya yang bertolak belakang dengan yang diajarkan di rumah.
Tantangan lain adalah tidak semua imigran berperilaku dengan ajaran agamanya. Malah sebaliknya, mereka larut dengan budaya Barat dengan tidak mengindahkan nilai-nilai Islam. adapun generasi yang dapat dijadikan modal dan peluang untuk perkembangan Islam di Amerika, di antaranya adalah realitas semakin banyaknya orang yang memeluk Islam. Generasi Muslim mendatang boleh dianggap sebagai warga Amerika tulen. Mereka lahir dan dibesarkan di Amerika. Bahasanya bahasa Amerika, mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari warga Amerika. Potensi lain di Amerika terdapat intelektual Muslim yang terkemuka. Saat ini bukan hanya teknologi Amerika yang diperhitungkan dunia, tetapi pemikir Muslim Amerika seperti Faziur Rahman dan Ismail Al-Faruqi telah mewarnai pemikiran Islam zaman modern. Potensi lain yang penting adalah terdapatnya dai-dai, baik dari kalangan kampus maupun lainnya, yang giat berdakwah. Perkembangan Islam di Amerika berada di tangan mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Elhady, Amimullah. (2015). “Perkembangan Islam di Amerika Sebelum dan Setelah Tragedi 11 September 2001”, Jurnal Al-Hikmah, Vol. 13 No. 1.
Karina, Nina., & Retna Sasongkowati. (2013). History of the Word Sejarah Dunia Kuno dan Modern. Yogyakarta: Indoliterasi.
Kartini, Indriana. “Dinamika Minoritas Muslim di Amerika Serikat”, Jurnal Penelitian Politik, PDFejournal.politik.lipi.go.id., Diakses pada 6 April 2019.
Ketani, M. Ali. (2005). Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Khalik, Subehan. (2015). “Sejarah Perkembangan Islam di Amerika”, Jurnal al-Daulah, Vol. 4 No.2.
Thohir, Ajid. (2004). Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar-akar Sejarah , Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Makalah MAKALAH ILMU POLITIK 6b

MAKALAH ILMU POLITIK
“POLITIK LOKAL DAN SUBNASIONAL
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah dunia abad 15-model

Disusun oleh :
Chalimah Retnaningtyas
Taufik Ismail 

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Politik tidak bisa terlepas dari kekuasaan sehingga dalam politik dibutuhkan penguasa yang dipercaya oleh rakyat dan untuk rakyat. Setiap poltik memiliki dua unsur, yaitu, penguasa dan masyarakat beserta organisasi yang dibentuknya. Proses menuju panggung politik bisa ditempuh atau dilakukan oleh siapa saja selama memiliki kapasitas.
Politik pemerintah lokal mempelajari bentuk dan kegiatan pemerintah yang tidak hanya dipandang sebagai fakta yang harus dijelaskan, dibandingkan, atau dinilai, tetapi sebagai fakta yang harus dipahami dan dinilai dalam kaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan pendapat, aspirasi, dan kebutuhan warga negara.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengertian dari Politik Lokal yang berkaitan dengan pemerintahan Lokal?
Bagaiman peranan politik lokal  pada masa orde baru dan reformasi
Bagaimana relevansi politik lokal pada masa kontemporer

BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN POLITIK LOKAL
Sebelum membahas mengenai tentang politik lokal, akan terlebih dahulu membahas mengenai pengertian politik. Politik dapat di artikan sebagai serangkaian upaya atau kegiatan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang teratur dan baik, memajukan masyarakat dengan membuat keputusan yang mengikat semua warga negara. Politik selalu disangkut pautkan dengan kekuasaan dan kedudukan dalam struktur organisasi kekuasaan. Pengertian politik terus berkembang tidak hanya menyangkut tentang pemimpin, memerintah, menjalankan otoritas, tetapi menyangkut perebutan kekuasaan, menjalankan kekuasaan, meraih kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, membuat keputusan tentang perang, damai, dan lain sebagainya. Kegiatan politik merupakan kegiatan yang berkaitan tentang pengelolaan kehidupan kolektif manusia dalam negara (sebagai lembaga politik dan pemerintahan).
Politik lokal secara sederhana dapat didefinisikan sebagai semua kegiatan politik yang berada pada level lokal. Dalam hal ini, semua hal yang berkaitan dengan politik seperti halnya pemerintahan lokal, pembentukan kebijakan daerah, maupun pemilihan kepala daerah. Hal ini menunjukkan bahwa politik lokal cakupannya berada dibawah nasional. Golongan daerah yang termasuk dalam pengelolaan politik local diantaranya kota, kabupaten dan desa. Pada taraf politik lokal,pemerintah nasional tidak dapat ikut campur secara penuh. Hal ini dikarenakan dalam setiap tatanan lokal telah mempunyai peraturan daerah masing-masing.
Dalam hal ini, peraturan daerah biasanya tidak selalu sejalan dengan pemerintah. Pelaksanaan politik lokal juga harus sejalur dengan politik nasional. Perbedaan tingkatan wilayah bukan berarti harus lepas dari tatanan wilayah nasional, namun politik lokal harus masih berkiblat kepada politik nasional. Selain itu, politik lokal juga dapat diartikan sebagai pasar lokal yang menyediakan pelayanan publik. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa politik lokal dapat menjadi sebuah penyedia layanan publik yang baik bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan pada taraf lokal masyarakat akan lebih dapat dimengerti. Kebijakan-kebijakan pemerintah lokal pasti akan menimbang dari sisi kehidupan masyarakat lokal secara mayoritas. Oleh karena itu, pemerintahan lokal dianggap sebagai penyedia layanan yang baik bagi masyarakatnya karena lebih dapat mengerti kebutuhan rakyatnya. Selain itu, politik lokal akan lebih memperhatikan hak-hak rakyat kecil. Dalam hal ini karena pada tatanan lokal pasti akan lebih banyak rakyat yang miskin dari pada rakyat yang kaya. Hal ini dikarenakan pada politik lokal menggunakan pendekatan terhadap grass-root sehingga rakyat miskin akan menjadi sebuah perhatian.
Politik dan pemerintahan lokal terdiri dari tiga terminologi, yaitu politik, pemerintahan dan lokal. Istilah lokal lebih merujuk pada wilayah geografis, suatu tempat yang dibatasi oleh kewenangan yang diatur oleh undang – undang. Pemerintahan lokal adalah hasil dari devolusi sebagai dimensi dari pelaksanaan desentralisasi ( penyerahan kekuasaan pemerintahan daerah oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom berdasarkan asas otonomi).
Kajian politik pemerintah lokal berbeda dengan politik perkotaan. Kajian ini jauh lebih kompleks dari politik perkotaan. Konsep – konsep dasar dalam politik pemerintahan lokal seperti proses demokrasi lokal yang lengkap, partisipasi warga, pemilu, birokrasi, praktik pemilihan kepala daerah, proses rekuitmen elite politik dan praktik pemilihan wakil – wakil rakyat di daerah. 
Dinamika politik lokal di Indonesia selalu berubah sepanjang waktu. Pada era sebelum kemerdekaan, politik lokal di Nusantara menunjukkan potret buram karena penguasa memperoleh kekuasaan dalam kerangka hukum adat yang totaliter. Akibatnya sebagian besar lapisan masyarakat hanya diakui sebagai hamba (bukan warga) yang tidak pernah menjadi subjek pembangunan semasa itu. Masyarakat dijadikan objek dari kehidupan politik yang tidak berpihak kepada mereka. Pelbagai bentuk pajak dan upeti ditarik oleh penguasa melalui aparatur represifnya yang menjadikan kondisi ekonomi masyarakat semakin terpuruk. Perlakuan penguasa yang tidak manusiawi itu kemudian mencetuskan perlawanan rakyat. Cerita ataupun mitos tentang orang kuat lokal seperti Ken Arok, Samin, Pitung dan lainnya, yang berupaya melawan pusat kuasa memantulkan sedikit dari sekian banyak bentuk ataupun hasrat pembangkangan sipil pada masa lalu. Mengikuti banyak kisah, pada masa lalu orang kuat lokal memiliki citra positif dan peran signifikan di mata masyarakat.
Citra dan peran seperti itu terbangun karena pembelaan para local strongmen terhadap kepentingan rakyat yang tertindas, walau dari cara pandang yang berbeda di pihak penguasa, orang-orang kuat lokal ini melakukan tindak kejahatan dan perampokan. Meski demikian, kehadiran dan kiprah para orang kuat lokal telah menegaskan atas melembaganya local strongmen dan polisentrisme di masa lalu. Politik lokal di Indonesia semakin dinamik setelah proklamasi kemerdekaan, ketika kekuatan masyarakat mulai merembes masuk kelembaga-lembaga formal. Keadaan inilebih kurang merupakan legasi positif dari rancangan kolonial Belanda untuk menyediakan kesempatan kepada masyarakat awam terlibat dalam kepolitikan dalam konteks implementasi politik etis. Walhasil, para elit tradisional (bangsawan daerah) harus bersaing dengan masyarakat umum yang juga berusaha keras mendapatkan posisi dalam lembaga-lembaga negara. Selain persaingan antara elit tradisional dan masyarakat awam yang mengemuka pascaproklamasi, masalah etnisitas juga menonjol dalam kerangka nation-building di Indonesia.
POLITIK LOKAL MASA ORDE BARU DAN REFORMASI
Perbincangan mengenai politik lokal pasca Orde Baru selalu menarik perhatian. Ini karena politik lokal pada masa itu memberikan dampak yang diametral. Keadaaan ini disebabkan oleh keadaan tarik menarik kepentingan pusat dan daerah, ditambah lagi dengan wujud otonomi daerah dan pemekaran daerah. Percampuran ini memberikan corak tersendiri terhadap politik lokal karena hasilnya yang beraneka ragam.
Tetapi jika disederhanakan, keanekaragaman tersebut menghadirkan dua implikasi. Pertama, ia menghasilkan ‘kebaikan bersama’ bagi masyarakat, dan kedua, sebaliknya. ‘Kebaikan bersama’ yang dimaksud di sini seperti para pegawai negeri sipil daerah yang kini lebih berwajah ‘abdi masyarakat’, peningkatan pelayanan administratif yang lebih baik dan dekat bagi publik, infrastruktur yang semakin manusiawi, pelayanan kesehatan yang cukup memuaskan bahkan sangat memuaskan di beberapa daerah, dan masih banyak lagi lainnya. Selain itu, kondisi politik lokal di Indonesia saat ini juga menunjukkan realititas positifnya dengan dibenarkannya masyarakat untuk memilih kepala daerah secara langsung yang sekaligus memberangus mekanisme dropping elit dari pusat seperti yang berlaku pada zaman Orde Baru, mulai bermunculannya kepala-kepala daerah perempuan, terealisasinya pembagian keuangan pusat dan daerah yang lebih adil dibandingkan sebelumnya, dan lainnya. Walaupun demikian, politik lokal pasca Orde Baru pun menghadirkan dampak negatif.
Ketika krisis moneter menghantam Indonesia pada tahun 1997, dalam tempo yang tidak terlalu lama, ledakan politik yang didetonatori oleh gerakan mahasiswa berhasil menghancurkan kuasa pusat di Jakarta. Ambruknya Orde Baru sekaligus menandai polisentrime baru yang menolak kuasa pusat. Dengan menggantungkan harapan yang sangat tinggi pada jiwa zaman saat itu (reformasi politik), otonomi daerah yang diundangkan pada tahun 1999 dan dilaksanakan dua tahun kemudian membuka peluang bagi pembatalan pembagai mekanisme pungutan liar, pemberhentian penjarahan keuangan negara oleh elit lokal, dan penolakan atas budaya bosisme dan local strongmen di daerah. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh pusat di daerah terdekonstruksi oleh politik reformasi sehingga individu-individu yang dianggap sebagai ‘orang Jakarta’ (yang berada di daerah) terdelegialtimasi kedudukannya. Mereka tidak lagi bisa menjadi broker bagi kepentingan pusat di daerah. Ataupun, mereka kini tidak dapat lagi menjadi penguasa tunggal di daerah karena polisentrisme politik telah mengalahkan logika sentralisme politik. Perubahan haluan dari ‘politik lama’ yang tersentralisasi dan terkontrol kepada ‘politik baru’ yang terdesentralisasi dan egaliter membawa angin segar bagi politik lokal di Indonesia, setidaknya pada tahun-tahun pertama reformasi.
Setelah melewati reformasi, beberapa sarjana segera menangkap pertumbuhan pesat para broker politik dan local strongmen di level lokal, yang mulai mengambil alih kekosongan maupun memperkuat akses kontrolnya terhadap politik lokal. Para broker dan local strongmen yang mengambil alih kekosongan pemain dalam arena politik lokal pada Orde Reformasi biasanya adalah ‘broker lama’ yang pada masa sebelumnya tidak mampu atau tidak mendapatkan kesempatan untuk bersaing dengan local strongmen pendukung rezim Orde Baru. Sedangkan, broker dan local strongmen yang berhasil menancapkan kukunya lebih dalam lagi pada era reformasi adalah para pemain atau broker lama yang pada masa sebelumnya telah menjadi proksi Orde Baru. Tetapi karena kemampuannya untuk melakukan reorganisasi kekuatan selama masa transisi menuju demokrasi mereka berhasil memanipulasi state of minds publik sehingga menempatkan orang kuat lokal menjadi semakin berkuasa dan berpengaruh dibanding masa sebelummnya.
Melalui proses demokratisasi dan desentralisasi, para local strongmen dan bos ekonomi semakin memperoleh kesempatan untuk menjabat kursi sentral di lembaga-lembaga pemerintahan daerah dibandingkan masamasa sebelumnya. Kalaupun mereka tidak memangku jabatan-jabatan penting tersebut, para broker ataupun orang kuat lokal ini selalu berupaya untuk memastikan bahwa para politisi lokal bergantung pada bantuan dan sokongannya agar kebijakan resmi menguntungkan bisnis dan posisinya. Imbal jasa para politisi kepada para broker politik tidak jarang dilandaskan pada jasa investasi politik selama berlangsungnya Pilkada atau Pemilukada. Atau juga, karena mereka mau menjadi ‘tameng’ penguasa apabila terjadi unjuk rasa kelompok oposisi, mahasiswa, buruh dan lainnya. Meski demikian, tidak selamanya elit politik formal berutang jasa pada para bos ekonomi. Kadang kejadian terjadi sebaliknya. Jika hal ini yang berlaku, maka imbalan yang didapat oleh elit politik formal atas jasa bantuannya terhadap bos ekonomi adalah mengalirnya uang-uang dari para cukong ke kantong-kantong pejabat daerah. Penelitian yang dilakukan McCarthy di Aceh Tenggara mengenai interaksi ini menarik untuk dibahas. Analisis McCarthy menyatakan Interaksi seperti terurai di atas muncul di banyak tempat di Indonesia pasca Orde Baru. Munculnya dan merasuknya kiprah orang-orang kuat lokal juga terlihat jelas di Kota Medan. Parlemen Kota Medan, merujuk Vedi R. Hadiz, di dominasi oleh kelompok-kelompok preman yang saling bersaing. Beberapa diantaranya bahkan memiliki hubungan yang rapat dengan purnawirawan petinggi tentara dan polisi. Bahkan pada tahun-tahun pertama setelah Reformasi, wali kota Medan, Abdillah, adalah bos ekonomi setempat yang karismatik yang menduduki jabatan dan melalui cara pembelian suara dan kekerasan. Selain orang kuat lokal, aktor lain yang memainkan peran politik baru setelah Orde Baru di Medan adalah para pengusaha tingkat menengah yang paling tidak sebagiannya sangat tergantung pada proyek dari pemerintah, dan aktivis yang terkait dengan organisasi semacam Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.
Selain di Aceh Tenggara dan Medan, di beberapa daerah lain bos-bos ekonomi yang berprofesi sebagai politisi semakin menjamur. Bahkan jaringan orang kuat lokal di beberapa daerah seperti Banten, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan bukan hanya berada di bawah kekuasan bos ekonomi tetapi juga di bawah kepemimpinan bangsawan lokal, pemuka agama, dan tokoh adat.
RELEVANSI POLITIK LOKAL PADA MASA KONTEMPORER
Meski implikasi awal transformasi politik lokal di Indonesia tidak separah seperti yang terjadi di Thailand di mana para local strongmen terpusat pada diri seorang Chao Pao dan berkubu-kubu secara lebih kaku. Ini karena peranan orang kuat lokal di Indonesia lebih longgar, lebih samar, dan kurang monolitik. Tetapi harus segera dicatat ini terjadi tujuh hingga lima tahun lalu. Kini evolusi orang kuat lokal di Indonesia di beberapa daerah khususnya sudah bertumpu pada pemusatan kekuasaan yang mengarah pada pembentukan dinasti politik lokal. Salah satunya berlangsung di Banten. Kini dinasti politik tersebut telah berjaya menempatkan beberapa sanak keluarga dan kroni mereka di banyak posisi, baik pemerintahan maupun dunia bisnis (formal ataupun informal).
Politik lokal di Indonesia masih terus berevolusi. Arah evolusi tersebut jika mengikuti argumentasi tulisan ini dapat dipastikan akan bermuara pada penguatan politik lokal yang berbasis local strongmen. Namun tidak dipungkiri juga berlangsugnya good practices otonomi daerah masa reformasi di daerah-daerah yang tidak mengalami penguasaan oleh orang-orang kuat lokal sepert uraian di atas. Tetapi mesti diingat bahwa walaupun local strongmen tidak berkuasa seperti halnya di Banten, kecenderungan mereka untuk menjadi investor politik Pilkada pada akhirnya dapat mempengaruhi proses desentralisasi yang sejati di level lokal. Karena, para investor politik akan senantiasa menciptakan peluang bukan lagi memanfaatkan  peluang layaknya free rider(s) bagi memastikan bahwa elit politik formal menopang kepentingan mereka. Jika demikian halnya, maka politik lokal di Indonesia dapat dikatakan berwajah muram karena perubahan yang diimpikan hanyalah asa semata.

Makalah gerakan pendidikan islam diindonesia 6b


Disusun Oleh :
Desi Pratiwi
Arifudin Shirojul F.
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam perkembangannya, pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara bertahap, mulai dari yang amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap yang sudah terhitung modern dan lengkap. Lembaga pendidikan Islam telah memainkan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat dan zamannya. Perkembangan lembaga-lembaga pendidikan tersebut telah menarik perhatian para ahli baik dari dalam maupun luar negeri untuk melakukan studi ilmiah
K.H Ahmad Dahlan dilator belakangi beberapa hal, diantaranya: (1)Keprihatinan terhadap umat Islam pribumi, (2) Kesenjangan pendidikan, dan (3) Pertarungan melawan Kristen. Sedangkan pemikiran-pemikiran K.H Ahmad Dahlan dalam dunia pendidikan Islam diantaranya: (1) Mendirikan sekolah, (2) Lahir “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, (3) Kerjasama dengan pemerintah Belanda, (4) Mengadopsi sistem pendidikan, serta (5) Dakwah.

Rumusan Masalah
Bagaimana gerakan pendidikan islam pesantran di Indonesia?
Bagaimana gerakan pendidikan islam madrasah di Indonesia?
Bagaimana gerakan pendidikan sekolah-sekolah modern islam di Indonesia?
Bagaimana gerakan pendidikan perguruan tinggi islam di Indonesia?

BAB II
PEMBAHASAN

Gerakan Pendidikan Islam Pesantren di Indonesia
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam nonklasikal yang peserta didiknya disediakan tempat singgah atau pemondokan. Menurut Lathiful Khuluq dalam jurnal yang di tulis oleh KM. Akhirudin pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisonal yang sudah ada sejak sekitar abad XIII M. Dalam perkembangannya, pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang subur di daerah pedesaan atau di daerah terpencil
Pondok Pesantren dalam tinjauan historis pada mulanya merupakan lembaga pendidikan penyiaran agama Islam konon tertua di Indonesia. Sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat, fungsi itu telah berkembang menjadi semakin kaya dan bervariasi, walaupun pada intinya tidak lepas dari fungsi semula. Berdirinya suatu pesantren mempunyai latar belakang yang berbeda, yang pada intinya adalah memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus akan ilmu. Pada umumnya diawali karena adanya pengakuan dari suatu masyarakat tentang sosok kyai yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi. Kemudian masyarakat belajar kepadanya baik dari sekitar daerahnya, maupun luar daerah. Oleh karena itu mereka membangun tempat tinggal disekitar tempat tinggal kyai. Pendidikan Islam berlangsung secara tradisional dalam bentuk pendidikan surau/langgar dan pesantren. Materi pelajaran murni diniyah; metode mengajar bersifat individual, ceramah, dan hafalan
Meskipun demikian pada abad 20 pesantren mulai terbentuk transformatifnya perkembangan mengenai kurikulum, metode mengajar dan kelembagaan. Sehingga munculnya gerakan-gerakan islam yang membatu dalam perkerakan pendidikan islam pesantren. Dengan gerakan gerakan pembaharuan tersebut, awal mulanya pesantren bersifat tradisional akan tetapi masyarakat bermetamorfosis dengan cara mengadaptasi diri dan mengadopsi system yang menjadi keberlangsungan. Gerakan tersebut salah satunya Muhammaddiyah yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan yang kemudian menjadi gerakan pendidikan besar dan mendirikan madrasah perguruan tinggi yang akan kita bahas di poin selnjutnya.
Pendidikan Islam di pesantren mulai berkembang dan maju dengan mengadopsi system pendidikan modern yang mengajarkan pendidikan agama yang bersifat tradisional dan juga pendidikan modern. Akan tetapi masih ada juga pesantren yang mempunyai sifat yang masih mempertahankan ketradisionalannya. Meskipun bentuk aslinnya masih di pertahankan pesantren dengan arif mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan realistis masyarakat.
Sehingga bagaiama pesantren mampu bertahan dengan perkembangan zaman dan realistis masyarakat, disini ada 4 poin yang akan saya bahas menurut (Ahmad syamsul rizal, 2011) yaitu, pertama, ujuan pendidikan pesantren yaitu pendidikan untuk murid-muridnya yang bercorakkan, bercirikan  islami faham mengenai agama dan juga ditekankan kepada akhlak seorang santri yang mengajar di pesantren. Sedangkan yang pesantren modern ditambah membentuk santri yang kompeten ketika lulus. Kedua, kurikulum pendidikan pesantren yang mengkaji mengenai agama yang dibagi tingkatan-tingkatan kesulitannya. Ketiga, pendekatan edukasi pendekatan edukasi ini lebih bercondong ke system pengajaran atau pembelajaran terhadap santri dengan kyai, pengawasan terhadap santri dll. Keempat, model pembelajaran di sisni para santri dikenalkan dengan wetonan, mentoring, setoran.

Gerakan Pendidikan Islam Madrasah di Indonesia
Secara umum, kemunculan lembaga-lembaga modern ini ditandai dengan perubahan pada aspek-aspek; kurikulum (memperkenalkan mata pelajaran umum), metode (memperkenalkan metode-metode mengajar modern), dan sarana (mulai menggunakan meja, kursi, papan tulis, dan sistem klas). Dengan demikian, keberadaan madrasah di Indonesia merupakan fenomena era modern yang bukan berasal dari tradisi asli Nusantara.
Sekolah dikenal sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah yang kurikulumnya menitikberatkan pada mata pelajaran umum, dan pengelolaannya berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. Sedangkan madrasah dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan tingkat dasar dan menengah yang, karenanya, lebih menitikberatkan pada mata pelajaran agama, dan pengelolaannya menjadi tanggungjawab Departemen Agama.
Dalam sejarah perkembangan madrasah di Indonesia, dikenal dua jenis madrasah, madrasah diniyah dan madrasah non-diniyah. Madrasah diniyah merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang kurikulumnya semuannya materi agama. Adapun madrasah non-diniyah adalah lembaga pendidikan keagamaan yang kurikulumnya, di samping materi agama, meliputi mata pelajaran umum dengan prosentase beragam.
Dalam awal kemerdekaan Indonesia madrasah sudah mendapat perhatian. Madrasah dan pesantren-pesantren yang pada hakekatnya adalah satu alat  dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat dan berakar dalam masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah pula mendapat perhatian dan bantuan yang nyata dengan berupa tuntunan dan bantuan material dari pemerintah. Dalam pendidikan di Indonesia memang mulai di perhatikan apalagi pada saat itu Indonesia baru merdeka sedangkan mengenai pendidikan ilmu agama, Panitia Penyelidik merekomendasikan hal-hal mengenai system pendidikan akan tetapi  Dari sekian rekomendasi di atas, perhatian khusus terhadap madrasah hanya pada satu bagian saja madrasah mendapat perhatian yang berbunyi “Kualitas pesantren dan madrasah harus diperbaiki”, selebihnya diarahkan pada pendidikan agama di sekolah umum.
Karena madrasah di bawah kementrian Agama maka Langkah pertama Kementerian Agama dalam melakukan pembinaan terhadap keberadaan madrasah adalah memberikan bantuan berupa pengadaan sarana dan prasarana serta biaya operasional, madrasah juga mengajarkan pengetahuan umum sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah jam pelajaran yang digelar. Pengetahuan umum dimaksud meliputi; bahasa Indonesia, membaca dan menulis huruf Latin, berhitung (untuk tingkat dasar). Ditambah dengan ilmu bumi, sejarah, kesehatan tumbuh-tumbuhan dan alam (untuk tingkat lanjutan).
Sedangkan keberadaan madrasah dalam undang-undang tersebut tidak disinggung secara khusus, kecuali pada pasal 10 (ayat 2) tentang Kewajiban Belajar, yang berbunyi : “Belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari Menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar”.

Gerakan Pendidikan Sekolah Modern Islam di Indonesia
Gerakan pendidikan sekolah-sekolah modern di Indonesia merupakan bukan suatu hal yang baru bagi kita, pendidikan sekolah modern berbasis IIBS atau International Islamic Boarding School adalah salah satu sekolah agama modern yang mempunyai fasilitas yang tidak biasa seperti di pesantren maupun madrasah, sekolahannya pun juga menggunakan bahasa pengantar bahasa inggris disejumlah mata pelajaran. Didalam asrama pendidikan mengajarkan budi pekerti, tauziah, mengaji sama dengan sekolah islam pada umumnya. Dan nilai-nilai agama diupayakan untuk disatukan dengan kegiatan sehari-hari
Sedangkan kurikulum pendidikan sekolah Modern ini terdapat pendidikan agama dan pendidikan umum sehingga diharapkan melahirkan siswa-siswi yang berkualitas dari segi agama dan segi ilmu umu dengan fasilitas asrama yang memumpuni biasanya juga diikuti dengan biaya sekolah yang mahal.
Biasanya sekolah modern islam ini hadir agar masyarakat faham ilmu agama disamping itu juga tidak terlalu tertinggal oleh perubahan zaman yang makin modern sehingga sekolah-sekolah modern lahir untuk mengatasi berbagai persoalan modernitas zaman.

Gerakan Pendidikan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia
Gerakan pendidikan islam sebagai sebuah lembaga lanjutan upaya ini disempurnakan dari awal hingga sekarang. Kelahiran perguruan tinggi islamkarena usaha gigih umat islam  untuk mengebangkan system pendidikan yang lengkap yang dimulai dari pesantren hingga perguruan tinggi islam. keberadaan perguruan tinggi islam tersebut erat kaitannnya dengan dengan cita cita umat islam yang ingin memajukan islam ke seluruh Indonesia. Perguruan tinggi islam di nusantara berawal dari persatuan guru-guru agama islam di Padang yang kemudian melahirkan perguruan tinggi islam pertama. Akan tetapi itu itu tidak bertahan lama.
Perguruan tinggi islam hadir dan disamakan derajat oleh perguruan tinggi yang dikelolah oleh kementrian agama sehingga kebijakan yang dikeluarkan ini menjadikan pendidikan islam lebih maju dan mempunyai dampak positif yang sangat luas. Dengan adanya pengiriman dosen keluar negeri, memberikan perubahan perubahan yang mendasar terhadap pola pikirdan proses pembelajaraan di perguruaan tinggi islam.
Menurut azra bahwa aspirasi umat islam umumnyabagi pembentukan perguruan tinggi islam terdapat tiga tujuan yaitu, untuk melaksanakan pengkajian dan pengembangan ilmu-ilmu islam pada tingkat yang lebih tinggi dan terarah, untuk melakukan pengembangan dakwah islam dan fungsionaris keagamaan lainnya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Jadi gerakan pendidika islam di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup beragam dan pesat, gerakan pembaharuan islam dilakukan agar tidak tertinggal dengan realitas kehidupan yang ada dan mulai diperhatikan oleh lembaga-lembaga islam di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Iswantir M. 2011. Perkembagan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. Di akses melalui Academia.edu
Akhiruddin.K.M.2015. Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara Jurnal TarbeyaVolume: 1 No: 1 - 2015 (195-219)
Kosim, Mohammad. 2007. Madrasah di Indonesia (Pertumbuhan dan perkembangan). Jurnal Tadris. Volume 2. Nomor 1.
Rizal, Ahmad Syamsu. 2011. Transformasi corak edukasi dalam system pendidikan, pesantran dari pola tradisi ke pola modern. Jurnal Pendidikan Agama-Ta’lim. Vol.9 , No. 2.
Blog spot di ambil melalui https://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2011/08/1

Makalah DINASTI QAJAR DAN MODERNISASI IRAN SEJARAH ISLAM ASIA BARAT 4a

Oleh :
Nauval Lutfi Nazaruddin

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Sejarah Islam Asia Barat ini dengan baik.
Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang peradaban islam pada masa Rasulullah SAW dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Sukoharjo, 13 Maret 2019

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dinasti qajar merupakan dinasti yang lemah dibandingkan dengan dinasti dinasti sebelumnya yang ada di Iran. Pada dinasti qajar ini sistim dari perpajakannya tidak berjalan dengan efektif. Dinasti ini pula mengalami berbagai konflik baik intern maupun ekstern, hal itu disebabkan akibat adanya pengaruh barat yang ada di Iran.
Akibat konflik dan pengaruh yang ada di Iran membuat munculnya berbagai pemikir modernisasi. Banyak usaha yang telah dilakukan guna memodernisasikan iran dan memperkokoh struktur pemerintahannya namun usaha mereka masih gagal hingga lengsernya raja terakhir dari qajar. Setelah lengsernya raja terakhir bergantilah menjadi dinasti pahlevi dengan pemimpin pertamanya adalah Reza Pahlevi dan dari situlah awal dari modernisasi Iran.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah dinasti qajar ?
Bagaimana modernisasi Iran ?
TUJUAN
Untuk mengetahui bagaimana sejarah dinasti qajar
Untuk mengetahui bagaimana modernisasi Iran

BAB II
PEMBAHASAN
Dinasti Qajar
Sebelum Dinasti Qajar ini berdiri sudah ada Dinasti Syafawiyah yang lebih dulu berdiri di Iran. Pada Dinasti Syfawiyah dibawah kepemimpinan Abbas I mengalami pucak kejayaan bagi Dinasti Syafawiyah, walaupun didalamnya masih banyak masalah masalah intern tetapi pada Dinasti ini banyak mengurai prestasi. Salah satu contohnya pada bidang ekonomi terbukanya jalur perdanganagan internasional melalui jalur laut. Dan pada masa ini Iran mengalami perubahan yang cukup signifikan yang berkaitan dengan agama dan negara, dimana suatu agama dijadikan sebuah alat untuk mempersatukan masyarakat pada masa itu. Sepeninggal Abbas I pada akhir abad ke 17 dinasti syafawiyah mengalami fase kehancuran atau keruntuhan.
Setelah runtuhnya Dinasti Syafawiyah berdirilah Dinasti Qajar sekitar tahun 1779-1925. Dengan pemimpin pertamanya adalah Muhammad Khan Qajar, pada tahun 1779-1906 dinasti ini menggunakan sistim pemerintahan yang monarki absolute, dimana seorang penguasa atau raja mempunyai hak kuasa penuh dalam memerintah suatu negara. Dinasti ini merupakan dinasti yang lemah jika dibandingkan dengan dinasti yang sudah berdiri sebelumnya. Tidak hanya itu sistim perpajakan yang ada dalam dinasti ini tidak berjalan dengan efektif.
Pada dinasti ini Iran berada dibawah campur tangan bangsa asing (Inggris dan Rusia) baik itu secara ekonomi politik maupun militer. Pada bidang ekonomi tahun 1889 berdirilah Imperial Bank of Persia yang dimana proses berdirinya bank tersebut dibantu oleh Inggris, namun bantuan Inggris tersebut ada timbal baliknya dimana Inggris mendapatkan hak monopoli pada industri tembakau. Lalu pada tahun 1891 dibentuk Bank of Persia dibantu oleh Rusia dan menjadi investor terbesar yang memberikan pinjaman pada masyarakat Iran.
Pengaruh pada bidang militer dimana kemiliteran dan juga lembaga pemerintahan Iran mulai mengikuti pola Barat. Contoh saja Nashiral Din yang mengharuskan masing masing daerah mensuplai sejumlah tentara atau membayar sejumlah uang untuk menggaji mereka dan 1851 ada sebuah perguruan tinggi tekhnik yang didalamnya untuk melatih pasukan militer dan pegawai sipil.
Pada tahun 1907 terjadi sebuah perjanjian antara Inggris dan Rusia yang isinya membagi Iran menjadi 2 wilayah yakni wilayah utara dan selatan dan menyisakan 1 wilayah ditengah guna membatasi kedua wilayah tersebut. Karena ikut campurnya bangsa asing kepada permasalahan Iran membuat dinasti qajar ingin untuk memodernisasikan Iran. Banyak para pemikir modernis bermunculan dan mereka berpendapat bahwa dengan memodernisasikan Iran merupakan salah satu cara yang efektif untuk melawan kekuasaan asing yang ada di Iran. Namun usaha mereka gagal.
Pada tahun 1906 sistim pemerintahan qajar berubah menjadi monarki konstituante, hal ini dilatarbelakangi karena adanya campur tangan bangsa asing yang membuat pergolakan yang terjadi antara ulama dengan bangsa asing dan negara mereka sendiri yakni Iran karena ulama menganggap bahwa qajar berkoalisi atau bekerjasama dengan bangsa asing. Dan pada pemerintahan Nashir al Din Shah yang pada waktu itu dipengaruhi oleh Mirza Taqi Khan mengalami puncak ketegangan antara ulama dan negara, sehingga membuat golongan ulama yang diikuti oleh para pedagang, pengrajin, kaum intelek modernis islam didikan barat membentuk sebuah kelompok untuk melakukan suatu perlawanan terhadap qajar.
Adapun macam perlawanan yang berusaha mereka lakukan. Yang pertama, munculnya gerakan tembakau pada tahun 1891-1892 yang dipimpin oleh Ayatullah al uzma mirza hasan shirazi. Yang kedua, adanya revolusi konstitusi iran pada tahun 1905-1906. Revolusi ini mencul akibat rasa geram dan kecewanya para pedagang dan kaum ulama karena dirasa pengaruh barat yang semakin hari semakin menguat. Dan akibat dari pergolakan tersebut timbullah krisis konstitusional, yang membuat Dewan Konstitusional merubah sistim monarki absolute menjadi monarki konstituante. Yang bertujuan untuk mengurangi krisis konstitusional pada masa itu, namun tidak seperti apa yang diharapkan. Perubahan sistim tersebut justru menjadi titik awal pergolakan yang lebih besar dan cukup panjang antara ke dua kubu kubu konstitusionalis dan kubu syah. Tidak hanya itu akibat pengaruh dari bangsa asing lainnya menimbulkan krisis krisis yang lain baik itu krisis kekuasaan, keabsahan, dan krisis partisipasi yang saling berkaitan dan yang semakin parah terjadi pada dinasti pahlevi. Yang ketiga, terjadinya pemberontakan pemberontakan local yang menyebabkan Iran diambang kehancuran.
Pada perang dunia1, Rusia dan Inggris semakin kuat pengaruhnya di Iran. Ditandai dengan dikuasainya wilayah utara oleh Rusia dan selatan oleh Inggris dan ada beberapa kota yang mempunyai tambang minyak dan itu mulai dikuasai oleh asing. Sedikit demi sedikit bangsa asing mulai mengambil kedaulatan Iran yang membuat masyarakat pada waktu itu geram dan menganggap bahwa Ahmad Shah Qajar yang ketika itu menjadi pemimpin dinasti qajar dilengserkan dan digantikan oleh Reza Pahlevi.
Setelah dinasti qajar mengalami kemunduran berdirilah dinasti pahlevi (1925-1979) yang dipimpin oleh Reza Pahlevi. Yang dimana pada dinasti ini mengalami kemajuan yang pesat walaupun dibawah pemerintahan yang otoriter. Dan ini menjadi langkah awal dari modernisasi Iran.
Modernisasi Iran
Setelah runtuhnya dinasti qajar pada sekitar tahun 1920 an seorang panglima militer yang bernama Reza Khan, mendirikan sebuah dinasti Pahlevi yang dimana dia menjadi seorang pemimpin pertama pada dinasti tersebut. Pada masa pemerintahannya dia memerintah dengan sistim otoriter yang melakukan program modernisasi ekonomi namun tidak menghapuskan lembaga lembaga keagamaan. Ia lebih menekankan pada bidang kemiliterannya dimana ia menerapakan wajib militer. Dan pada masa ini Reza Khan mendapat dukungan dari para ulama namun sayangnya keadaan keduanya berangsur angsur mulai memburuk ketika Reza Khan mengeluarkan satu kebijakan yang mana dalam keadaan tersebut berisi tentang pembatasan kekuasaan dari kaum ulama, itulah yang membuat hubungan keduanya memburuk.
Pada masa ini beragam cara telah dilakukan untuk memodernisasikan Iran. Pada bidang pendidikan Reza Khan memberlakukan sistim sekularisme, diamana dia membedakan urusan negara dengan urusan agama. Contoh saja ia mendirikan sebuah Universitas yang didalamnya dibuka fakultas pendidikan Eropa dan mengirim sejumlah siswa untuk belajar di luar negri. Selain dibidang pendidikan ada juga pada bidang ekonomi. Dalam bidang ekonomi membangun struktur ekonomi yang lebih modern, dibangunnya sebuah Bank Nasional Iran dan membangun jaringan komunikasi guna mempermudah perekonomian. Selain itu Reza Khan juga membangun beberapa proyek industry.
Berbagai upaya telah dilakukan dengan harapan rezim khan tidak bergantung pada Inggris dan Rusia. Namun sayangnya tidak seperti apa yang diharapkan, justru Inggris dan Rusia makin kuat kekuasaannya di Iran dengan menggulingkan Shah Iran dari kedudukannya dan mengangkat putranya Mohammad Reza Pahlevi sebagai rajanya. Namun Inggris dan Rusia mempunyai maksut tertentu dalam diangkatnya putra shah Reza yaitu sebagai penguasa boneka. Setelah itu, pengaruh Inggris dan Rusia mulai digeser oleh Amerika Serikat. Amerika mempunyai peran untuk membantu Moh Reza Pahlevi, namun itu malah membuat beban bagi Reza Pahlevi karena rezim Shah akan lebih bergantung pada Amerika. Karena Amerika membantu Iran dalam memodernisasikan Iran pada bidang ekonomi dan militer. Alasan Amerika membantu Iran adalah amerika khawatir jika Iran akan memperkuat pengaruh uni soviet dan komunisme Iran.
Setelah itu rezim Khan kembali ke sistim yang otoriter dan terpusat. Setelah modernisasi Iran ada 5 landasan kekuasaan yang menyebabkan jatuhnya Syah dan memicu timbulnya revolusi.
Control negara yang sangat besar atas sumber sumber keungangan, khusunya minyak
Program stabilitasi dan pertumbuhan ekonomi serta intervensi ekonomi rezim kedalam sistim ekonomi
Mobilisasi massa dan penciptaan suatu keseimbangan antara kelas kelas melalui control dan intervensi rezim
Membentuk hubungan dengan kaum borjuis
Diperluasnya peranan kekuatan penekan dan adanya ketergantungan pada Barat

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdirinya Dinasti Qajar sekitar tahun 1779-1925. Dengan pemimpin pertamanya adalah Muhammad Khan Qajar, pada tahun 1779-1906 dinasti ini menggunakan sistim pemerintahan yang monarki absolute, dimana seorang penguasa atau raja mempunyai hak kuasa penuh dalam memerintah suatu negara. Dinasti ini merupakan dinasti yang lemah jika dibandingkan dengan dinasti yang sudah berdiri sebelumnya. Tidak hanya itu sistim perpajakan yang ada dalam dinasti ini tidak berjalan dengan efektif.
Berbagai upaya telah dilakukan dengan harapan rezim khan tidak bergantung pada Inggris dan Rusia. Namun sayangnya tidak seperti apa yang diharapkan, justru Inggris dan Rusia makin kuat kekuasaannya di Iran dengan menggulingkan Shah Iran dari kedudukannya dan mengangkat putranya Mohammad Reza Pahlevi sebagai rajanya. Namun Inggris dan Rusia mempunyai maksut tertentu dalam diangkatnya putra shah Reza yaitu sebagai penguasa boneka. Setelah itu, pengaruh Inggris dan Rusia mulai digeser oleh Amerika Serikat. Amerika mempunyai peran untuk membantu Moh Reza Pahlevi, namun itu malah membuat beban bagi Reza Pahlevi karena rezim Shah akan lebih bergantung pada Amerika. Karena Amerika membantu Iran dalam memodernisasikan Iran pada bidang ekonomi dan militer. Alasan Amerika membantu Iran adalah amerika khawatir jika Iran akan memperkuat pengaruh uni soviet dan komunisme Iran.

DAFTAR PUSTAKA

Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, LESFI, Yogyakarta, 2009
Books.google.co.id

Makalah SEJARAH DAN PERDEBATAN PEMIKIRAN DALAM ILMU KALAM 4a

SEJARAH DAN PERDEBATAN PEMIKIRAN DALAM ILMU KALAM
Oleh :
M. Misbahul Munir
Duanda Rahma

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Sejarah Pemikiran
Shalawat serta salam tak lupa kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang sejarah dan perdebatan pemikiran dalam ilmu kalam dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ilmu  Kalam  karena  pembahasan  tentang  eksistensi  dan  sifat-sifat  Tuhan  ini  didasarkan  pada  firman-firman  atau  kalam  Allah yang  terdapat  dalam  Al-Qur’an. Harus diakui bahwa tradisi pemikiran kalam dalam Islam, sebenarnya diawali oleh konflik politik internal saat umat Islam tidak mulus melakukan regenerasi kekhalifahan. Masalah besar yang dihadapi oleh kaum muslimin setelah wafatnya Rasulullah saw ialah siapakah yang akan menggantikan Nabi Muhammad sebagai kepala negara, bukan sebagai Nabi atau Rasul.
Peristiwa tahkim itulah sebenarnya yang menjadi cikal bakal tumbuhnya pemikiran kalam dalam sejarah Islam. Sekelompok orang terutama para pengikut setia Ali bin Abi Thalib yang kecewa dengan tipu muslihat tahkim itu, menganggap bahwa orang yang telah menyetujui tahkim harus dituntut, bahkan dibunuh karena mereka sudah termasuk orang kafir. Sekelompok orang yang kemudian dinamakan Khawarij tersebut berkembang menjadi faham yang beranggapan bahwa orang yang berbuat dosa besar sekalipun dia pernah beriman termasuk kafir. Dari sinilah timbul aliran-aliran teologi Islam (Ilmu Kalam), seperti Murji’ah, Mu’tazilah, aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah. Masing-masing aliran memiliki pokok pikiran yang khas yang seringkali satu sama lain bertentangan. 
Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah ilmu kalam muncul?
Bagaimana perdebatan pemikiran ilmu kalam?
Tujuan
Untuk mengetahui tentang sejarah munculnya ilmu kalam
Untuk mengetahui tentang perdebatan pemikiran ilmu kalam

BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Ilmu Kalam
Ilmu Kalam sebagaimana dikemukakan oleh Rasyid Ridha adalah Ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan (agama Islam) dengan bukti-bukti yang yakin. Sedangkan Ibnu Khaldun lebih menekankan kepada kegunaannya yakni mempertahankan kemurnian keyakinan agama. Menurut Muhammad Abduh, ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan (Allah, Sifat-sifat yang wajib/mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang mustahil/tidak mungkin ada pada-Nya), dan juga Ilmu yang membicarakan tentang Rasul-rasul Tuhan (Allah) yang telah ditetapkan-Nya serta mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, dan sifat-sifat yang tidak mungkin ada padanya. Al-Kalam dalam arti semula adalah kata-kata yang tersusun, yang menunjukkan suatu maksud. Kemudian berkembang menjadi suatu yang digunakan untuk menunjukkan salah satu sifat Tuhan yaitu Sifat Berbicara.
Pada masa pertumbuhan islam yang dipimpin rasulullah tidak ada perpecahan sama sekali antar sesama, setelah wafatnya rasulullah (632M) dan semakin berkembangnya umat islam , akhirnya ummat islam mulai pecah belah. Awal mula terjadi perpecahan dikalangan islam pada masa kekhalifaan Ali Bin Abi Thalib yang dipicu oleh terbunuhnya Ustman Bin Affan yang menjadi khalifah sebelumnya, Ali yang menjadi khalifah pada saat itu tidak mau melakukan Qishas atas terbunuhnya Ustman, dikarenakan masih belum jelas tentang siapa pelakunya, dari hal tersebut terjadilah peperangan dikalangan ummat islam, yakni Ali dengan kalangan Aisyah yang disebut perang jamal yang akhirnya dimenangkan oleh sayydina Ali dan perang siffin atas pemberontakan Muawwiyah terhadap kekhalifaan Ali yang berakhir dangan perdamaian atas politik Muawwiyah yang mengangkat mushaf sebagai tanda perdamaian atas hukum Allah. Pada Akhirnya kedua-duanya ( Ali Dan Muawwiyah) diputuskan dengan  tahkim
Peristiwa tahkim itulah sebenarnya yang menjadi cikal bakal tumbuhnya pemikiran kalam dalam sejarah Islam. Sekelompok orang terutama para pengikut setia Ali bin Abi Thalib yang kecewa dengan tipu muslihat tahkim itu, menganggap bahwa orang yang telah menyetujui tahkim harus dituntut, bahkan dibunuh karena mereka sudah termasuk orang kafir. Sekelompok orang yang kemudian dinamakan Khawarij tersebut berkembang menjadi faham yang beranggapan bahwa orang yang berbuat dosa besar sekalipun dia pernah beriman termasuk kafir. Dari sinilah timbul aliran-aliran teologi Islam (Ilmu Kalam), seperti Murji’ah, Mu’tazilah, aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah. Masing-masing aliran memiliki pokok pikiran yang khas yang seringkali satu sama lain bertentangan. 
Adapun nama-nama lain dari ilmu kalam sendiri yaitu ilmu kalam, ilmu Tauhid, Ilmu Ushuludin, dan teologi islam. Di ilmu kalam factor-faktor lahirnya sebuah ilmu kalam ada 2 yaitu
Faktor internal, lebih kepada orangnya seperti (golongan, kepentingan politik, perbedaan pandangan)
Factor eksternal, paham-paham keagamaan non muslim tertentu yang mempengaruhi dan ikut mewarnai sebagian paham di lingkungan umat islam.
Perdebatan Pemikiran Ilmu Kalam
Persoalan berbuat dosa besar inilah yang kemudian memberi pengaruh besar dalam pertumbuhan dan perkembangan aliranaliran Ilmu Kalam (Teologi) di dalam Islam yaitu:
Pertama :  Aliran Khawarij, yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti keluar dari Islam atau Murtad dan oleh karena itu wajib dibunuh.
Kedua  : Aliran Murjiah, yang menganggap bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mukmin bukan kafir, adapun tentang dosa yang telah dilakukannya terserah kepada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak mengampuni
Ketiga : Aliran Mu’tazilah, yang tidak mengakui kedua pendapat tersebut di atas. Bagi mereka, orang yang berdosa bukan kafir tetapi bukan pula mukmin. Orang yang serupa ini menurut anggapan mereka mengambil posisi di antara kedua posisi Mukmin dan Kafir (al-manzilah baina al-manzilatain)
Keempat : Aliran Al-Qodariyah, menurut Qodariyah manu-sia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya (Free will free act).
Kelima :  Aliran Jabariyah. Sebagai kebalikan dari Qodariyah, mereka berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan kehendak dalam perbuatannya. Manusia didalam tingkah lakunya atas dasar paksaan Tuhan, tidak ubahnya seperti kapas yang diterbangkan angin. Di dalam istilah Inggris disebut Predestination atau Fatalisme.
Keenam  :  Aliran Al-Asyariyah, yang mengambil bentuk aliran tradisional, sebagai reaksi dari Mu’tazilah, yang menganut aliran teologi rasional, bahkan dianggap liberal. Pokok–pokok ajaran aliran Al Asyariyah berdekatan dengan ajaran Jabariyah
Ketujuh  : Aliran Al-Maturidiyah, aliran teologi ini pada dasarnya sama dengan Asy’ariyah yaitu menentang Mu’tazilah. Didirikan oleh Abu Mansyur Muhammad Al Maturidi

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ilmu  Kalam  karena  pembahasan  tentang  eksistensi  dan  sifat-sifat  Tuhan  ini  didasarkan  pada  firman-firman  atau  kalam  Allah yang  terdapat  dalam  Al-Qur’an. Peristiwa tahkim itulah sebenarnya yang menjadi cikal bakal tumbuhnya pemikiran kalam dalam sejarah Islam. Ada dua faktor yang membuat hal ini terpecah, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Perdebatan di mulai dengan munculnya mazhab-mazhab

DAFTAR PUSTAKA
Hasan Basri, Murif Yahya,dkk. Ilmu Kalam sejarah dan pokok pemikirannya. Bandung:2006. Azkia Pustaka Utama.
Makalah Sejarah lengkap Ilmu Kalam. http://www.makalah.co.id. Diakses pada tanggal 7 April 2019

Makalah Islam dan Nasionalisme 4a

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Islam memiliki berbagai problem dimasa lalu sampai sekarang yang bersangkutan tentang Nasionalisme yang mengharuskan umat islam untuk menggagasnya agar dapat mengikuti perkembangan Negara Indonesia. Umat Islam bergerak dalam Nasionalisme juga merupakan kesadaran dari diri mereka sendiri. Mereka bergerak dalam Nasionalisme bukan karena materi ataupun yang lainnya. Maka dari itu disini kami ingin membahas tentang Islam Nasionalisme yang menerangkan tentang Bagaimana partai Islam yang ikut serta dalam pembentukan Nasionalisme di Indonesia.

Rumusan Masalah
Bagaimana hubungan Islam dan Nasionalisme
Partai apa saja yang ikut dalam pembentukan NKRI

Tujuan Penulisan
Memahami hubungan Islam dan Nasionalisme
Mengetahui partai islam maupun nsional yang ikut pembentukan NKRI




BAB II
PEMBAHASAN
Islam dan Nasionalisme
Secara etimologi, kata nasionalisme berasal dari kata nation yang berarti bangsa yang dipersatukan karena kelahiran. Ada juga yang mengartikan Nasionalisme adalah suatu negara yang mengakui pusat pemerintahan yang sama dan wilayah yang dikuasai oleh negara tersebut serta penduduk yang ada didalamnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negaranya sendiri.
Jauh sebelum kata nasionalisme muncul, sebenarnya islam telah mengenal nilai-nilai Universal yang berlaku dan menjadi alat pemersatu yaitu agama. Sehingga nasionalisme akan bersentuhan dengan nilai-nilai agama yang telah lama dianut masyarakat. Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa umat islam adalah umat yang berada di tengah (ummatan wasathan). Hal inilah yang mendorong kalangan islam nasionalis memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa mendasarkan diri formalisasi syariat islam.
Partai Pembentuk NKRI
Munculnya berbagai organisasi politik dapat dilihat sebagai hasil dari pendidikan modern saat diberlakukan kebijakan politik etis oleh pemerintah Hindia-Belanda. Walaupun tujuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Belanda sebenarnya hanya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan administrasi dan birokrasi kolonial tingkat rendah, namun telah membangkitkan kesadaran kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan melalui gerakan politik. Dengan munculnya hal tersebut Partai politik di Indonesia pertama–tama lahir dalam era zaman kolonial sebagai manifestasi bangkitnya kesadaran nasional. Berbagai organisasi modern muncul sebagai wadah pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Walaupun pada awalnya berbagai organisasi tidak secara tegas menamakan diri sebagai partai politik, namun memiliki program–program serta aktivitas politik.
Kelahiran Budi Utomo merupakan contoh dari terbentuknya organisasi nasional pada masa kolonial tersebut dan juga cikal bakal lahirnya organisasi modern di Indonesia, maka dari itu tidak heran apabila kelahiran Budi Utomo diidentikan sebagai tonggak kebangkitan nasional. Lahirnya Budi Utomo pada awalnya disebabkan oleh kondisi bangsa Indonesia yang saat itu berada dalam jajahan Belanda. Dimana rakyat berada dalam kondisi menderita dan disiksa. Hanya sebagian pemuda dan pelajarlah yang menikmati pendidikan, akan tetapi hanya sebagian kecil pemuda yang menikmati pendidikan tersebut yang sadar akan kondisi kesengsaraan bangsa Indonesia. Sehingga atas dasar itu pemuda-pemuda tersebut mendirikan perkumpulan Budi Utomo dengan tujuan untuk memajukan rakyat dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.
Keberadaan organisasi tersebut di ikuti dengan munculnya berbagai organisasi partai politik. Partai–partai tersebut diantaranya adalah Indische Partij (IP), Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia Raya (Perindra), Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindro), Partai Indonesia (Pertindo), dan Partai Rakyat Indonesia (PRI).
Indische partij merupakan partai politik pertama di Indonesia yang menjadi pelopor timbulnya organisasi-organisasi politik di zaman prakemerdekaan, baik organisasi politik yang bersifat ilegal maupun legal. Mengingat ekstrimnya pemikiran partai ini kala itu, Indische Partij hanya bertahan 8 bulan saja, hal itu disebabkan karena ketiga pemimpin mereka masing-masing dibuang ke Kupang, Banda dan Bangka, dan kemudian diasingkan ke Nederland.
Setelah beberapa tahun diasingkan, Ki Hajar Dewantara dan Dr. Setyabudi kembali ke Indonesia untuk mendirikan partai politik yang dinamakan sebagai National Indische Partij (NIP) pada tahun 1919 yang kemudian secara langsung mempelopori lahirnya beberapa partai politik lain yakni Indische Social Democratische Verening (ISDV), Partai Nasional Indonesia, Partai Indonesia dan Partai Indonesia Raya. Partai – partai politik yang ada sebelum kemerdekaan tersebut, tidak semuanya mendapatkan status badan hukum dari kolonial Belanda. Bahkan, partai – partai tersebut tidak dapat beraktivitas secara damai dan lancar di zaman penjajahan Belanda. Maka dari itu, partai yang bergerak atau menentang tegas pemerintahan Belanda akan dilarang, dimana pemimpinnya akan ditangkap, dipenjarakan atau diasingkan.
Kemudian pada tanggal 4 Juli 1927, sukarno dan Algemene Studieclub memprakarsai pembentukan sebuah partai politik baru yaitu Perserikatan Nasional Indonesia dengan sukarno sebagai ketuannya. Pada bulan Mei 1928 nama partai ini di ubah menjadi Partai Nasional Indonesia ( PNI ). Tujuan PNI adalah kemerdekaan bagi kepulauan indonesia yang akan dicapai dengan nonkooperatif dan dengan organisasi massa. Inilah partai politik penting pertama yang beranggotakan etnis indonesia, semata mencita-citakan kemerdekaan politik, berpandangan kewilayahan yang meliputi batas-batas indonesia sebagaimana yang ditentukan oleh pemerintah kolonial Belanda dan beridiologi nasionalisme sekuler. Partai Nasional Indonesia (PNI) merupakan wadah nasionalisme modern yang radikal. Ideologi partai tersebut nasional radikal, yang dalam pandangan Bung Karno dianggap bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme (NASAKOM).
Setelah itu, diikuti kelahiran banyak organisasi, baik yang bercorak keagamaan, politik maupun kepemudaan, seperti Muhammadiyyah (18 November 1912), Nahdlotul Ulama (31 Januari 1926), Christelijke Ethische Partij (1916), Indiche Katholieke Partij (1918), Jong Java (1915), Jong Sumatera Bond (1917), dll. Lahirnya beraneka ragam organisasi dapat dikatakan bahwa nasionalisme sudah mulai tumbuh karena senasib sependeritaan, yang menginginkan bebas dari penjajahan Belanda, dan ingin mewujudkan cita-cita yaitu masa depan yang lebih baik, yang oleh Anderson disebut Imagined Political Community.
Nasionalisme mencapai puncaknya saat dibentuknya BPUPKI pada 1 Maret 1945. Organisasi yang dibentuk oleh pemerintah Jepang beranggotakan 60 orang. Pada awalnya yang akan menjadi ketua adalah Ir. Soekarno, tetapi dengan alasan tertentu akhirnya ditunjuka Radjiman Wediodiningrat sebagai ketua dengan wakilnya R.P. Soeroso, tujuannya pembentukannya adalah untuk menyelidiki dan mempelajari hal-hal penting yang berhubungan dengan pembentukan Negara Indonesia Merdeka.



BAB III
Penutup
Kesimpulan
Agama Islam menggagas Nasionalisme karena dorongan dari diri mereka yang sejak awal diajarkan tentang persatuan, dan tujuan umat Islam memegang Nasionalisme karena mereka ingin menyatukan berbagai pendapat dan bukan karena materi ataupun kedudukan.
Berbagai partai yang berpartisipasi dalam pembentukan NKRI yang sangat menjunjung tinggi rasa Nasionalisme yang begitu besar. Partai yang didirikan para tokoh agama tersebut memiliki tujuan yang berbeda-beda yang menyesuaikan masyarakat disekitarnya.

Revolusi Islam Iran 4a.2

REVOLUSI ISLAM IRAN
Oleh
Nur Isnaini Firdhausa Kholidah

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah member Rahmat, Hidayat dan KaruniaNya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Juma’ selaku dosen Islam di Asia Barat yang telah memberikan tugas makalah dengan judul “Revolusi Islam Iran”.
Harapan kami dengan membuat makalah ini teman-teman, dosen, dan pembaca dapat menambah pengetahuan, ilmu yang bermanfaat dan pengalaman bagi pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk kalimat dan menambahkan isi makalah ini.
Karena keterbatasan kami dalam membuat makalah ini. Kami membutuhkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari teman-teman, dosen, dan pembaca agar menjadi lebih baik.

Sukoharjo, 06 Maret 2019

         Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keberhasilan revolusi Islam Iran tanggal 11 Februari 1979 adalah sebuah deskripsi dramatis bagi semangat kebangkitan Islam militan di bekas kerajaan Persia kuno, tidak sengaja membuat miris rezim semi-feodal di dunia Arab namun juga menimbulkan ketegangan berat di dunia Barat. Kekalahan Syah Iran menyesakkan dada para penguasa semi-feodal di negara-negara Tmur Tengah yang menganggap Syah sebagai pelindung mereka.
Menarik saat revolusi Islam Iran ditimjau dari aspek pergerakan kebangkitan kaum Islam militan hingga mampu merebut kekuasaan dari genggaman rezim diktator tanpa sedikitpun meneteskan darah rakyat. Perubahan sistem pemerintahan Iran dari monarki yang turun temurun dan menjadi republik Islam melahirkan sifat pemerintahan dan kepemimpinan dalam masyarakat muslim.

Rumusan Masalah
Revolusi apa saja yang terjadi sebelum meletusnya revolusi Islam Iran?
Bagaimana situasi meletusnya revolusi Islam Iran ?

Tujuan Penulisan
Mengetahui berbagai rvolusi yang terjadi sebelum meletusnya revolusi Islam Iran.
Mengetahui situasi meletusnya revolusi Islam Iran.

Revolusi Sebelum Revolusi Iran
Revolusi Mazdak
Revolusi mazdak terjadi dilatarbelakngi oleh adanya penindasan yang dilakukan oleh Dinasti Sasanid kepada para buruh dan juga petani miskin. Revolusi ini di peolopori oleh Mazdak. Mazdak adalah seorang revolusioner besar pada zaman itu dengan gerakan revolusinya. Ajarannya menuntut distribusi kesejahteraan yang adil, melarang memiliki istri lebih dari satu dan memperjuangkan eliminasi kebangsawanan dan feodalisme. Gagasan-gagasan pada revolusi Mazdak mengakar kuat dikalangan budak dan kaum tani miskin. Gerakannya bertahan selama 30 tahun dari tahhun 494-524 M.
Pada masa pemerintahan Raja Nosherwan gerakan Mazdak secara brutal ditindas dan sebanyak 30.000 pengikutnya dbinasakan. Dipertengahan abad ke 7 M, terjadilah sebuah peristiwa yang mengubah nasib Iran. Tentara Arab berhasil menaklukan negara-negara tersebut dan banyak dari rakyat Iran yang kmudian memeluk agam Islam yang semula beragama Persia kuno yaitu Zoroastrianisme.
Revolusi Bab / Konsesi Tembakau
Kemenangan Dinasti Qajar atas kaum Zaund pada tahun1974 telah mengakhiri otoritarianisme. Namun ketika Dinasti Qajar memimpin banyak terjadi ketidakpuasan dalam bidang ekonomi karena ketidakmampuannya dalam membangun ekonomi modern, serta dominasi ekonomi asing yang berujung pada gerakan massa. Revolusi Bab tahun 1844 adalah gerakan massa yang melakuakn perlawanan terhadap kebijakan politik luar negeri Qajar yang menghadirkan konsesi kepada perusahaan tembakau Inggris. Gerakan perlawanan ini dilakukan oleh para pedagang dan institusi religius yang mendapatkan dukungan dari para bazaris, penjaga toko, dan dari kelas yang lebih rendah lainnya.
Revolusi Konstitusional
Pada akhir kekuasaan Dinasti Qajar pada 1906, telah terjadi apa yang disebutdengan Revolusi Konstitusional yang digerakkan oleh kaum kelas menengah. Revolusi ini akhirnya berhasil memaksa Raja Muhammad Ali Syah untuk memberlakukan konstitusi model Barat dan membentuk parlemen (males). Terjadinya revolusi konstitusional disebabkan oleh timbulnya  tuntutan atas dirombaknya tatanan tradisional, dan terjadinya fragmentasi dikalangan penguasa Qajar sendiri.
Revolusi Putih
Revolusi putih ini dicetuskan oleh Syah pada 1963 yang merupakan sebuah program reformasi agraria dengan memberikan tanah kepada 1,5 juta keluarga pededesaan yang dikombinasikan dengan langkah-langkah pendidikan dan kesehatan. Pada tahun 1963-1967 kondisi ekonomi Iran cukup stabil karena harga minyak dunia naik empat kali lipat dan pendapatan Iran meningkat dari 5 milyar dollar ke 20 milyar dolar pertahunnya.
Dengan meningkatnya pendapatan ekonomi Iran, Syah merayakan ulang tahun ke 2500 berdirinya kerajaan persia dari masa Cyrus pada tahun 550 SM. Ketika itu Syah benar-benar sedang mabuk kekuasaan dan pesta tersebut telah menghabiskan dana sebesar ratusan juta dolar. Akibat dari pendapatan Iran yang sangat melejit tersebut terjadi inflasi yang yang tinggi di Iran, migrasi masal ke daerah perkotaan yang akhirnya mebuat para rakyat kelas menengah seperti buruh dan petani melakukan gerakan masa revolusioner.

Meletusnya Revolusi Islam Iran
Banyak analisi yang mengatakan bagaimana situasi di Iran yang mengakibatkan berhasilnya Revolusi Islam dan jatuhnya seorang Reza Syah dari tahta kepemimpinannya. Terdapat empat faktor yang menagkibatkan terjadinya revolusi Islam Iran yaitu keberhasilan kelompok-kelompok anti Syiah menggalang persatuan, tampilnya Syi’isme sebagai ideologi revolusioner yang memberikan landasan pembenaran bagi perjuangan melawan Syah serta menjanjikan masa depan Iran yang cemerlamg, keberhasilan kaum revolusioner dalam menarik dukungan internasional, kegagalan Syah dalam memnafaatkan sarana-sarana represif secara efektif.
Situasi Terjadinya Revolusi Islam
Bermula dari peringatan 10 Muharram di kota suci Syi’ah pada 1 Desember 1978 retusan ribu orang turun ke jalan memperingati terbunuhnya Imam Husein di tengah padang pasir Karbala. Sambil berteriak Allahu Akbarterus menerus mulai dari masjid-masjid, rumah-rumah hingga jalan-jalan di berbagai wilayah diiringi dengan tuntutan kepada Syah Iran untuk turun dari tahta kepemimpinan. Demonstrasi yang pada awalnya hanya sebuah acara ritual berubah menjadi kerusuhan setelah tentara memblokir jalan-jalan dan menembaki para demonstran. Masyarakat yang sebenarnya memperingati hari Asy Syura itu banya yang menjadi korban, mereka mati sebagai syuhada. Persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa mereka yang tebunuh sebagai syuhada, sehingga pada hari-hari berikutnya terjadi pemogokan massal di seluruh penjuru Iran. Dan menuntut Jendral Azhari dipecat karena kebrutalan menembaki masyarakat yang tak berdosa.
Sebagai rasa simpati terhadap kejadian tersebut pada 11 Desember 1978 digelar kembali demonstrasi nasional di depan Avenue Syah (istana Syah) untuk menentang pemerintah. Pada hari pertama situsai masih bisa terkendali masyarakat hanya menyuarakan agar Syah segera turun dari jabatan dan mereka menyerukan “HidupKhomaeni “. Namun pada hari kedua para demonstran mejadi brutal karena menuntut balas dendam akibat penndaan dan penembakan. Mereka menyerukan slogan “mampuslah Syah” dan menginginkan agar Khomaeni menjadi pemimpin yang baru. Pada hari itu 3 juta rakyat Teheran menentang pemerintahan Syah Iran.
Pada 13 Desmber 1978 Syah memerintah para tentara agar melakukan perlawanan. Para tentara Syah memaksa orang-orang pinggiran, pedagang kecil, dan kaum buruh agar menyuarakan “hidup Syah” kalau tidak mereka akan ditembak. Namun banyak dari mereka yang tidak mau melakukannya dan akhirnya mereka ditembak mati. Mendengar kekejaman yang dilakukan oleh tentara Syah para dokter, dan perawat serta pegawai kesehatan membantu para korban yang ditembak mati maupun luka-luka, namu karena hal itu justru rumah sakit dan apotek-apotek malah dibakar hangus oleh para tentara SAVAK tanpa belas kasihan.
Pada 15 Desember 1978 terjadi pemberontakan dari para dokter dengan membuta pernyataan “ para dokter perawat, dan apoteker bergabung dengan rakyat yang berjuang di bawah pimpinan Khomaeni”. Melihat pernyataan tersebut Syah panik karena awalnya para dokter tersebut berada dibelakang Syah ditambah lagi pemberontakan para dokter tersebut mendapat perhatian dari Prancis.  Dari pemberontakan dokter tersebut muncul fenomena baru dimana tentara-tentara Syah iku mebangkang. Untuk mengatasi ketegangan tersebut Syah membentuk pemerintahan sipil. Ketegangan semakin memuncak ketika kantor Kedutaan Besar Amerika berhasil dikuasai oleh para Mahasiswa, dan kantor peruahaan penerbangan Israel juga brhasil diporak porandakan oleh massa yang mengakibtakan terbunuhnya wakil direktur perusahaan Amerika. Mendengar hal tersebut AS marah besar dan mengancam seluruh oposisi dan ulama.
Ancaman dari AS tidak menyurutkan semangat para demonstrasi justru mereka malah melakukan aksi pemgokan kerja nasional yang berdampak pada lumpuhnya perusahaan minyak nasional Iran, bahkan para kru pesawat, nahkoda, masinis mogok total dan menghentikan ekspor minyak Iran yang berimbas pada turunya harga minyak yang cukup drastis. Pada tanggal 13 Desember 1979  salah seorang Jendral yang bernama Jendral Azhari mengundurkan diri dari jabatanyya dan pergi melarikan diri ke luar negeri. Kemudian tanggal 1 Januari 1979 para dokter mengirim surat kepada PBB untuk untuk mengehntikan kekerasan di Iran, karena setiap harinya terjadi pembunuhan oleh orang-orang yang tak dikenal yang diduga sebagai tentara SAVAK.,
Setelah Azhari mengundurkan diri Syah mencari perdana menteri baru untuk menggantikan Azhari. Shapur Bakhtiar yang menajdi pengganti Azhari adalah orang yang pernah dipenjara. Alasan Bakhtiar bersedia untuk menjabat sebagai perdana menteri yang  aru adalah untuk menghindarkan Iran dari chaos total. Langkah pertama yang dia ambil adalah membubarkan SAVAK, mencabut sensor press, dan meyakinkan Syah untuk pergi ke luar negeri. Syah menyetujui nya dan Syah memutuskan untuk pergi meninggalkan negaranya dan dia pergi ke Los Angles bersama dengan anak, istri dan orangtuanya. Sebelum Syah meninggalkan Iran ia membentuk Dewam Negara yang beranggotakan 9 orang, dan kesembilan orang tersebut adalah orang-orang kepercayaan Syah. Alasan Syah membentuk Dewan Negara tersebut adalah jika suatu saat kondisi Iran sudah membaik dia berharap dapat kembali memangku jabatan sebagai pemimpin Iran kembali.
Pengangkatan Shapur Bakhtiar sebagai perdana menteri ternyata tidak memberikan pengaruh apapun terhadap Iran, justru pada tanggal 19 Januari 1979 jutaan orang berdemo menuntut agar Bakhtiar turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Akhirnya Shapur Bakhtiar mundur dari jabatannya dan meminta Khoameni untuk pulang dan memimpin Iran. Tanggal 25 Januari 1979 Khomaeni pulang dari pengasingannya dan kepulangan Khoameni disambut dengan luar biasa oleh rakyat Iran, akhirnya pada 13 Februari 1979 dihadapan para wartawan Khoameni mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi dan berakhirlah Dinasti Pahlevi sekaligus tumbanglah kerajaan Persia.

BAB III
PENUTUP
Keberhasilan revolusi Islam Iran tanggal 11 Februari 1979 adalah sebuah deskripsi dramatis bagi semangat kebangkitan Islam militan di bekas kerajaan Persia kuno, tidak sengaja membuat miris rezim semi-feodal di dunia Arab namun juga menimbulkan ketegangan berat di dunia Barat. Kekalahan Syah Iran menyesakkan dada para penguasa semi-feodal di negara-negara Tmur Tengah yang menganggap Syah sebagai pelindung mereka.

Referensi
Kiki,Mikail. Iran di Tengah Hegemoni Barat.
Prof.Dr.H.Musa Asy’ari. Islam Ditepian Revolusi. Yogyakarta: Pilar Media. 2005


Makalah revolusi islam iran 4a.1


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Iran merupakan negara yang dulunya terkenal dengan nama Persia, negara ini awalnya menganut agama majusi. Setelah Arab datang dan berhasil menaklukan wilayahnya, bangsa Iran  mulai menganut agama Islam. Iran merupakan negara muslim yang menganut paham Syiah terbesar di dunia. Kekuasaan Iran selalu berganti-ganti antar dinasti dan mulai mengenal sistem pemerintahan modern sejak masa kekuasaan dinasti Syafawi dan dinasti Qajar. Setelah dinasti Qajar runtuh Iran beralih dibawah kekuasan dinasti Pahlevi yang di pimpin oleh Reza Syah Pahlavi dan setelah kematiannya, Mohammad Reza Syah dinobatkan menjadi Syah Iran sebagai pengganti ayahnya. Hingga terjadinya revolusi yang dikenal sebagai Revousi Islam Iran yang menggulingkan dinasti Pahlevi. Revolusi Islam Iran merupakan revolusi yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeni.

Rumusan Masalah

Bagaimana ideologi revolusi Islam Iran?
Bagaimana revolusi Islam Iran?
Bagaimana konsep Wilayatul Faqih?

Tujuan

Mengetahui ideologi revolusi Islam Iran.
Mengetahui revolusi Islam Iran.
Mengetahui konsep Wilayatul Faqih.

BAB II
PEMBAHASAN

Ideologi Revolusi Islam Iran
Revolusi merupakan langkah menuju pada sebuah perubahan, dalam wacana Islam kontemporer revolusi dartikan sebagai langkah pemberontakan untuk menentang otoritas yang terpilih. Sedangkan secera umum revolusi diartikan sebagai perubahan cepat pada suatu budaya politik yang ada. Dalam kasus yang terjadi pada revolusi Islam Iran kekuatan agama lah yang menjadi faktor yang paling menonjol dan kekuatan para massa sebagai penggeraknya. Kekuatan-kekuatan tersebut muncul sebagai reaksi sosial karena ada banyaknya tekanan yang dirasakan oleh para rakyat baik dibidang ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Selain itu juga terjadinya tekanan dibidang identitas kebangsaan. Tekanan-tekanan tersebut dilakukan oleh pemimpin dan didukung oleh kekuatan asing yaitu pihak Barat. Yang menarik dari revolusi dunia Islam sendiri bukan semata-mata karena faktor sosial saja tetapi juga dengan digerakkan oleh kekuatan ideologi moral-spiritual. Revolusi Islam merupakan revolusi yang terjadi di Iran yang disebabkan oleh adanya tekanan Barat yang sekuler terhadap bangsa Iran, tapi yang sebenarnya revoluisi hanyalah sebuah investigasi terhadap gerakan revolusioner yang ingin melakukan teorisasi revolusi di kalangan Muslim. Pada intinya revolusi yang terjadi di Iran diakibatkan tekanan yang dilakukan oleh pihak Barat terhadap Iran.
Revolusi Islam Iran merupakan revolusi yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeni. Ada empat faktor secara garis besar yang melatar belakangi seorang  Ayatullah Khomeni secara langsung memimpin jalannya revolusi Islam Iran. Empat faktor tersebut antara lain, intervensasi negara-negara Barat, program modernisasi pembangunan ekonomi, westrenisasi, dan tindakan otokratik refresif rezim Syah. Selain Ayatullah Khomeni revolusi Islam Iran juga tidak luput dari seorang yang bernama Ali Shariati seorang yang membantu Ayatullah Khomeni untuk menggulingkan dinasti Pahlevi, Ali Shariati merupakan sosok pemikir cara berfikirnya yang radikal serta  penilaiannya dengan cara terus terang terhadap berbagai masalah sosial muslim khusunya di wilayah Iran. Dalam pemikirannya Ali Shariati juga memadukan antara ajaran Marxis dengan ajaran Islam untuk membebaskan rakyat kecil dari segala penindasan dan ketidak adilan yang terjadi. Dengan begitu dalam gagasannya mengenai revolusi Ali Shariati tidak menghilangkan ajaran Marxis sepenuhnya, justru memadukannya dengan ajaran Islam. Dan kemudian Ali Shariati mencetuskan hubungan antara agama dengan politik sebagai dasar ideologi pergerakan. Menurut Ali Shariati negara seperti Iran sangat membutuhkan serta memerlukan revolusi yang saling berkaitan, seperti revolusi sosial dan revolusi nasional. Hingga ideologi Ali Shariati menjadi pengaruh dikalangan mahasiswa dan para cendikiawan.

Revolusi Islam Iran

Terjadinya Revolusi Islam Iran
Revolusi Islam Iran ditandai dengan runtuhnya atau digulingkannya dinasti Pahlevi, tapi sebelum sampai pada puncak revolusi Islam Iran membuuhkan waktu yang cukup panjang. Berawal dari revolusi Mazdak yakni revolusi yang dipimpin oleh seseorang yang bernama Mazdak, gerakan revolusi Mazdak terjadi karena penindasan yang dilakukan oleh dinasti Sasanid sudah tidak wajar dan perbudakan yang dilakukan dinasti Sasanid sudah melampaui batas. Hingga datangnya bangsa Arab di Iran dan mampu memberikan perubahan terhadap negara Iran. Terjadinya revolusi BAB pada tahun 1844 sebagai bentuk penentangan massa terhadap kebijakan yang dilakukan oleh kepemimpinan dinasti Qajar yang memberikan hadiah konsensi pada perusahaan tembakau Inggris. Revolusi Konstitusional terjadi pada akhir masa dinasti Qajar. Revolusi tersebut digerakan oleh kaum kelas menengah yang berhasil memaksa rajanya untuk memberlakukan adanya konstitusi model Barat dan mengadakan pembentukan parlemen. Tahun 1960-1961 krisis politik dan ekonomi kembali timbul. Kemiskinan memluas dan pengangguran juga ada dimana-mana, hingga Syah Iran mengadakan revolusi Putih dan kebijakan tersebut memicu ketidak puasan pada kalangan kaum menengah.
Revolusi Islam Iran merupakan peristiwa yang menggemparkan dunia, dan melahirkan sejarah besar. Setelah runtuhnya rezim Pahlevi sistem politik negara yang awalnya Monarki berubah menjadi Republik Islam. Peristiwa revolusi Islam Iran diwarnai dengan adanya unjuk rasa secara besar-besaran. Para demonstran menuntut supaya Syah Iran mundur dari pemerintahan, seketika semua menjadi rusuh karena penutupan jalan yang dilakukan oleh para tentara dan terjadinya penembakan yang dilakukan oleh tentara terhadap para demonstran dan menyebabkan kematian. Setelah kejadian itu di seluruh wilayah Iran melakukan aksi mogok masal yang menuntut supaya Jendral Azhari dipecat atas penembakan brutal yang dilakukannya.
Hari-hari berikutnya aksi masyarakat Iran terus melakukan aksinya, pada 11 Desember 1978 atas rasa simpatik terhadapkejadian sebelumnya, masyarakat Iran melakukan demonstrasi di depan tempat kerja Syah Iran. Pada 13 Desember Syah Iran memerintah para tentara untuk melakukan perlawanan, dengan demikian para tentara memaksa masyarakat pinggiran untuk meneriakan yel-yel sesuai yang diperintahkan. Dan banyak dari mereka yang tidak menjalankan perintah para tentara hingga berujung pada penembakan. Atas  kekejaman yang terjadi para pegawai rumah sakit memberikan bantuan pengobatan kepada korban. Dengan aksi solidaritas yang dilakukan oleh para pegawai rumah sakit berujung pada pembakaran rumah sakit dan apotek oleh tentara SAVAK. Tak hanya serangan bagi kaum pinggiran saja, di seluruh wilayah Iran kekejman juga merambah ke wilayah kampus menyarang para mahasiswa dan kaum intelektual. Hingga pada 15 Desember 1978 para pekerja rumah sakit melakukan pemeberontakan dan menyatakan untuk bergabung bersama masyarakat untuk berjuang dibawah kepemimpinan Ayatullah Khomaeni. Pemberontakan yang dilakukan oleh para pekerja rumah sakit menimbulkan fenomena baru. Setelah beberapa hari kemudian terjadi perusakan kantor kedutaan besar Amerika dan kantor perusahaan penerbangan Israel, dan sehari setelah kejadian itu terjadi pembunuhan misterius yang dilakukan oleh orang tak dikenal terhadap wakil direktur perusahaan Amerika Serikat. Pada akhirnya Amerika Serikat mengancam, tapi masyarakat Iran tidak takut tetapi justru menimbulakn pemogokan nasional yang dilakukan oleh masyarakat Iran. Pada 1Januari 1979 para dokter Iran mengirim surat yang ditujukan kepada sekjen PBB dengan maksud untuk melindungi dan menghentikan kekerasan di Iran.
Pemogokan yang dilakukan oleh masyarakan Iran semakin memperkeruh keadaan, Jendral Azhari pun memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai perdana mentri dan kabur ke luar negri. Sehari setelah pengunduran Azhari, Syah Iran mencari penggantinya dan hanya seorang Shapur Bakhtiar yang mau menggantikan posisi Azhari. Dengan diangkatnya perdana mentri yang baru munculah langkah-langkah baru yang diambilnya. Shapur Bakhtiar juga meyakinkan Syah Iran untuk pergi meninggalkan Iran dengan alasan kesehatan agar krisis berakhir, namun sebelum Syah meningalkan Iran mmbentuk dewan negara yang beranggotakan sembilan orang, yang dianggap sebagai orang kepercyaannya. Pengankatan mentri baru tidak membuahkan hasil yang baik, justru pada 19 Januari 1979 mayarakat Iran berdemo menuntut Shapur Bakhtiar turun dari jabatannya. Akhirnya Shapur Bakhtiar turun jabatan dan meminta Ayatullah Khomaeni memimpin Iran. 25 Januari 1979 Ayatullah Khomaeni pulang dari pengasingannya. Hingga pada 3 Februari 1979 diumumkannya Dewan Revolusi oleh Ayatullah Khomaeni dan berakhirnya dinasti Pahlevi.

Peran Perempuan dalam Revolusi Islam Iran
Terjadinya revolusi Islam Iran juga melibatkan sosok perempuan, kaum perempuan ikut serta dalam banyak hal seperti, dalam aksi demonstrasi, gerilya militer, menyebarkan informasi, provokasi, menyediakan obat-obatan dan bahan pangan, serta motif-motif lainnya. Kaum perempuan melakukan perlawanan didorong dengan motif-motif seperti, ekonomi, sosial, politik, dan nilai religius kurtural. Dalam perjalanan kememimpinan rezim Pahlevi berkeinginan menjadikan Iran sebagai negara yang modern dan kebarat-baratan. Dan keinginan tersebut berdampak pada kaum perempuan. Pemimpin berusaha meningkatkan pendidikan kaum perempuan di seluruh wilayah Iran, akan tetapi kurikulumnya tidak ada yang menjunjung harkat dan martabat seorang perempuan. Terdapat juga undang-undang hukum mengenai kehidupan berumah tangga yang diberlaukakan, isi undang-undang tersebut tidak memberikan kesetaraan dan kebebasan terhadap perempuan, juga terdapat pasal-pasal yang diskriminatif. Rezim Pahlevi juga membuka lapangan pekerjaan bagi kaum perempuan, tapi tanpa pembekalan keterampilan dan kemampuan yang cukup. Dan keinginan rezim Pahlevi menjadikan Iran modern dan western juga memerintah kaum perempuan untuk meninggalkan pakaian islami yang menutup aurat dan memerintah agara para perempuan berpakaian ala-ala Eropa. Upaya rezim Pahlevi menghapuskan nilai Islam tradisional semakin memunculan identitas politik kaum perempuan.

Konsep Wilayatul Faqih

Setelah runtuhnya rezim Pahlevi, Iran beralih pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Ayatullah Khomaeni yang menerapkan Wilayatul Faqih bahwa imam merupakan pejabat tertinggi dalam pemerintahan. Dalam negara republik Islam Syiah ini mempunyai lembaga-lembaga pemegang kekuasaan yang terdiri dari, Faqih, presiden, perdana mentri dan kabinet, majelis konstitusi Islam, dewan pelindung konstitusi, serta mahkama agung. Wilayatul Faqih merupakan lembaga pemegang kekuaan tertinggi, mempunyai tugas serta kewajiban dalam menetapkan nominasi fuqaha untuk dewan fuqaha, menyetujui kelayakan calon presiden, memberhentikan presiden jika presiden melakukan kesalahan, menyatakan perang atau damai yang diusulkan oleh dewan pertahanan nasional, dan banyak tugas lainnya. Wilayatul Faqih dipimpin oleh seorang pemimpin yang adil, baik, bijak, shaleh, mempunyai kemampuan administratif, patut diterimah oleh kalangan masyarakat, dan bertanggung jawab dalam memimpin. Ayatullah Khomaeni juga menerapkan prinsip-prinsip pembagian kekuasaan sebagaimana triaspolitica.
Seorang Faqih dalam Wilayatul Faqih memilik wewenang yaitu, mengangkat ketua pengadilan tertinggi Iran, mengangkat dan memberhentikan seluruh pemimpin angkatan bersenjata Iran, mengangkat anggota dewan perlindungan, mengangkan dan memberhentikan pengawal revolusi, dan membentuk dewan pertahanan nasional. Negara Iran yang memakai Wilayatul Faqih sebagai bentuk pemerintahan yang diterapkan oleh Ayatullah Khomaeni. Negara Iran merupakan sebagai bentuk negara kesatuan, yang perubahan konstusionalnya melalui pemilihan. Bentuk republik Islam Iran dan undang-undang dasarnya telah disetujui oleh mayoritas masyarakat Iran. Menurut pandangan Ayatullah Khomaeni terdapat tiga karakteristik Wilayatul Faqih yaitu, tidak bersifat tirani, berbasis hukum, dan pemberlakuan pemerintahan Islam. Wilayatul Faqih diterima dengan baik oleh seluruh mayoritas masyarakat Syiah Iran, dan keinginan mendirikan pemerintahan Islam pun telah terwujud dinegara Iran.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Revolusi Islam Iran merupakan peristiwa yang menggemparkan dunia, dan melahirkan sejarah besar. Setelah runtuhnya rezim Pahlevi sistem politik negara yang awalnya Monarki berubah menjadi Republik Islam. Revolusi Islam Iran merupakan revolusi yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeni. Revolusi Islam merupakan revolusi yang terjadi di Iran yang disebabkan oleh adanya tekanan Barat yang sekuler terhadap bangsa Iran, tapi yang sebenarnya revolusi hanyalah sebuah investigasi terhadap gerakan revolusioner yang ingin melakukan teorisasi revolusi di kalangan Muslim. Setelah runtuhnya rezim Pahlevi, Iran beralih pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Ayatullah Khomaeni yang menerapkan Wilayatul Faqih bahwa imam merupakan pejabat tertinggi dalam pemerintahan.

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...