KERAJAAN MATARAM KUNO
Makalah
Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sejarah
Indonesia Sampai Abad 16
Dosen
Pengampu : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.
Disusun oleh :
Klompok 5
1.
Ilham Ade Kurniawan (173231050)
2. Rahmatika
Amaylia Samawi (173231041)
3. Puput
Tri Lestari. (173231040)
4. Saiful Haq (173231072)
PROGRAM
STUDI SEJARAH PERADAPAN ISLAM
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Masuk nya agama hindhu-budha di
indonesia membawa pengaruh yang sangat besar baik dari segi norma
kehidupan,kebudayaan, kepercayaan ,bahkan memengaruhi sistem pemerintahan bangsa
indonesia, dari sistem kebudayaan masuknya agama hindu budha
di indonesiamemunculkan berbagai alkulturasi budaya perpaduan antara budaya asli dari leluhur
tanah nusantara dengan kebudayaan hindubudha, dari sistem pemerintahanya
sendiri yang mana sebelum datangnya hindhu-budha masyarakat indonesia yang
dahulunya menganut sistem kelompok suku ,seletahmasuknya hindhu-budha beralih
menjadi kerajaan.
Banyak sekali kerajaan hindubudha
yang berdiri di nusantara ini, setelah meluasnya ajaran agama hindubudha di
nusantara salah satu kerajaan hindu yang ada di nusantara adalah kerajaan
mataram kuno.
Mataram kuno adalah salah satu kerajaan
hinduYang ada di tanah jawa, yang daerah kekuasaanya Meliputi jawa timur dan
jawa tengah, kerajaan ini di kuasai oleh 2 dinasti besar yaitu wangsa sanjaya dan
wangsa syailendra,banyak sekali hal - hal
menarik utuk kita bahas mengenai kerajaan mataram kuno ini ,mulai dari sistem
pemerintahanya,hingga peninggalan dari kerajaan mataram kuno itu sendiri
Maka dari itu dalam makalah ini akan
di sajikan sedikit profil tentang kerajaan mataram kuno ,mulai dari ,sisitem politiknya,
kebudayaanya, sistem ekonominya bagaimana, siapa yang memimpin di kerajaan ini ,dan
apa saja yang peninggalan dari kerajaan mataraminjsemua akan di bahas sedikit
dalam makalah yang kami susun ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah berdiri nya kerajaan mataram kuno ?
2. Bagaimana perkembangan politik di
kerajaan mataram kuno ?
3. Bagaimana sistem Birokrasi pemerintahanya
?
4. Bagaimana kondisi sosial
masyarakatnya ?
5. Apa yang menjadi penyebab
runtuhnya kerajaan mataram kuno ?
6. Apa saja peninggalan dari kerajan
mataram kuno ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui sejarah berdirinya
kerajaan mataram kuno.
2. Mengetahui perkembangan politik
di kerajaan mataram kuno.
3. Mengetahui sistem birokrasi
pemerintahannya.
4. Mengetahui kondisi sosial
masyarakatnya.
5. Mengetahui penyebab runtuhnya
kerajaan mataram kuno.
6. Mengetahui peninggalan dari
kerajaan mataram kuno.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH BERDIRINYA
KERAJAAN MATARAM KUNO
Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan medang
periode jawa tengah) merupakan kelanjutan dari kerajaan kalingga di jawa tengah
sekitar abad ke 8 M, yang selanjutnya pindah ke propinsi jawa timur pada abad
10. Penyebutan Mataram kuno atau mataram hindu berguna untuk membedakan
kerajaan ini dengan kerajaan mataram islam yang berdiri sekitar abad ke 16.
Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya
lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan
prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode
sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah. Sementara itu, nama yang lazim dipakai
untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram,
yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kerajaan Medang
periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau
Kerajaan Mataram Hindu.
Kemudian, Prasasti Mantyasih tahun 907 M atas nama Dyah Balitung
menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun
ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri
mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa
nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau
Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau.
Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha,
saudara perempuan Sanna.
Sanna, juga dikenal dengan nama "Sena" atau
"Bratasenawa", merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716
M). Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh
Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam tahun 716 M.
Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada
Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah
Tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat
baik Sanna. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya
menjadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat
menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan
Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat Sanna). Hasratnya dilaksanakan
setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama istrinya. Akhirnya Sanjaya
menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah
Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram
dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur
pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda
dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan
Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.
Dari
prasasti Canggal, bisa diperoleh informasi jika Kerajaan Mataram Kuno telah
berdiri dan berkembang sekitar abad ke-7 M dengan raja yang pertama adalah
Sanjaya yang memiliki gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
B.
PERKEMBANGAN POLITIK KERAJAAN MATARAM
KUNO
1. Pemerintahan
Rakai Panangkaran
Ketika memeluk agama
Budha, Rakai Panangkaran mendirikan bangunan agama Buddha yang pertama, yaitu
Candi Kalasan (778 M), Candi Borobudur, Candi Plaosan Lor dan Candi Sewu (782
M), serta bangunan wihara di bukit Ratu Baka. Sebagai seorang pemeluk baru
agama Buddha, dengan wajah barunya pula ia memerintah Kerajaan Sanjaya yang
diwariskan kepadanya dengan berlandaskan ajaran agama Buddha. Dalam prasasti
Kalasan ia disebut Maharaja Tejahpurnna Panangkaran. Maka wajarlah ia dimata
keturunan-keturunannya yang beragama Buddha mendapat sebutan
Sailendrawamsatilaka (permata dari keluarga Sailendra), sebagaimana yang
tersebut dalam prasasti-prasasti(Kalasan, Kelurak, Ligor B, Kayuwungan, dan
Nalanda). Menurut prasasti Nalanda, Sailendrawamsatilaka beranak Samaragrawira,
yang mungkin dapat disamakan dengan Samaratungga di dalam prasasti Kayumwungan
(874 M). Samaragrawira dalam prasasti Nalanda memiliki anak bernama
Balaputradewa, sementara prasasti Kayumwungan menyebutkan bahwa Samaratungga
memiliki seorang putri mahkota bernama Pramodhawardani.
2. Pemerintahan
Rakai Panaraban
Rakai
Panangkaran turun takhta dan digantikan oleh saudaranya yaitu Rakai Panaraban
(prasasti Wanura Tengah III), bukan oleh anaknya Samaragrawira (Samaratungga).
Juga perlu kiranya mendappat perhatian bahwa jika diperhatikan sederet nama
dalam prasasti Wanua Tengah III, maka nama-nama raja tersebut jumlahnya lebih
banyak dibanding dengan yang ada pada prasasti Mantyasih (907 M). Terdapat nama
raja, yaitu Rakai Panunggalan, yang tidak terdapat pada prasasti Wanua Tengah
III. Demikian pula nama Rakai Panaraban dalam prasasti Mantyasih. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Rakai
Panunggalan sama dengan Rakai Panaraban.
3. Pemerintahan
Rakai Warak/Samaratungga
Baru setelah
Rakai Panaraban turun takhta menurut prasasti Wanua Tengah III, ia digantikan
oleh Rakai Warak Dyah Manara (803 M) hingga 827 M. Akan tetapi menurut prasasti
Kayumwungan (824 M) maharaja di kerajaan Mataram adalah Sammaratungga.
4. Pemerintahan
Dyah Gula
Nama Dyah Gula
hanya didapati dalam prasasti Wanua Tengah III, yang naik takhta pada 26 Juli
827. Dyah Gula hanya bertakhta selama dua tahun, karena pada tahun 829 M yang naik takhta adalah Rakai
Garung. Ia duduk di atas takhta Kerajaan
Mataram tanpa memakai gelar karakaiannya (tanah lungguhnya). Sehingga tidak
diketahui ia berasal dari penguasa daerah mana.
5. Pemerintahan
Rakai Garung
Casparis pernah
mengidentifikasikan bahwa Rakai Garung ini sama dengan Rakarayan Patapan Pu
Palar, dengan alasan bahwa setelah Rakai Garung, yang naik takhta adalah Rakai
Pikatan. Dalam prasasti Garung (819 M) Rakai Garung tidak memakai gelar sri
maharaja. Akan tetapi dikatakan bahwa perintahnya diturunkan kepada sang Pamgat
Amrati Pu Mananggungi, agar daerah Mamrati dibebaskan dari beberapa jenis
pungutan. Apapun jabatannya yang pasti ia adalah serang penguasa daerah (raja).
Kiranya dapat dipahami mengapa Rakai Garung pada 819 tidak memakai gelar sri
maharaja dari prasasti Wanua Tengah III. Dalam prasasti tersebut jelas bahwa
Rakai Garung baru naik takhta pada tanggal 14 Februari 829 M. Jadi gelar sri
maharaja baru ia sandang sejak tanggal tersebut.
6. Pemerintahan
Rakai Pikatan
Karena Rakarayan
Patapan Pu Palar, yang juga termasuk keluarga Sailendra yang tetap menganut
agama Hindu, berambisi pula untuk menjadi maharaja. Maka dilakukan perkawinan
antara anak Rakarayan Patapan, yaitu Rikai Pikatan dengan Pramodhawardhani,
anak Samaratungga turun takhta penggantinya adalah Rakai Pikatan yang naik
takhta karena perkawinannya dengan Pramodhawardhani. Namun naiknya Rakai
Pikatan diatas takhta kerajaan Mataram agaknya tidak semudah apa yang dia
bayangkan. Terjadi suatu pemberontakan yang dilakukan oleh keluarga Sailendra
yang lain yang merasa lebih berhak. Seperti yang disinggung dalam prasasti
Siwagraha (856 M) terhadap adanya serangan masa pemerintahan Rukai Pikatan.
7. Pemerintaha
Rakai Kayuwangi
Rakai Kayuwangi
adalah putra bungsu Rakai Pikatan. Nama garbopatinya adalah Dyah Lokapala
(prsasti Siwagraha). Menurut prasasti Siwagerha (856 M), Dyah Lokapala naik
takhta menggantikan ayahnya yang mengundurkan diri dengan sebutan sang
Jadingrat. Menurut Prasasti Wanua Tengah III, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala,
naik takhta pada 27 April 855
M.
Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini didasarkan pada jasa kepahlawanan
Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, Rakai Pikatan. Rakai Kayuwangi
bertakhta di Medand di Mamratipura
8. Pemerintahan
Dyah Tagwas
Rupanyya intrik
dalam keraton tidak sebatas pada masa Rakai Pikatan. Pada masa pemerinta Rakai
Kayuwangi pun terjsdi terjadi saling menggulingkn takhta. Terbukti pengganti
Rakai Kayuwangi bukan putra mahkotanya, yaiti Rakai Hino Pu Aku, melainkaan
Dyah Tagwae. Nama Dyah Tagwas terdapat pada prasasti Wanua Tengah III. Ia naik
takhta pada 17 Februari 885
M.
Namun pemerintahannya tidak lama. Setelauh itu
ia terusir dari kraton.
9. Pemerintahan
Rakai Panumwangan Dyah Dewendra
Naik takhta pada
25 Agustus 885 M.
Namun dalam pemerintahan yang singkat selama 2 tahun, ia pun kemudian terusir
dari istana. Tokoh ini mengingatkan kepada tokoh yang disebut di dalam prasasti
Poh Dulus (890 M). Disana disebut seorang maharaja, yaitu Rakai Limus Dyah
Dawindra yang karena terusir dari istana, akhirnya ia melarikan diri ke daerah
Limus dan berkuasa di sana dengan tetap menganggap ia masih maharaja Mataram,
sehingga tetap menggunakan gelar maharaja.
10. Pemerintahan
Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra
Naik takhta 18
Januari 887, tetapi pada tanggal 14 Februari 887 ia melarikan diri (minggat)
dari istana.
11. Pemerintahan
Rakai Wungkalhumalang Dyah Jbang
Naik takhta pada
21 November 894, sebelum beliau naik takhta terjadi kekosongan takhta selama 7
tahun lamanya. Beliau mengeluarkan Prasasti yaitu prasasti Panunggalan (896 M).
12. Pemerintahan
Watukura Dyah Balitung
Naik takhta pada
10 Mei 898. Padaa masa pemerintahannya, diduga ia telah meluaskan pengaruhnya
ke Jawa bagian timur. Hal ini dapat disebutkan dalam prasasti Kubu-kubu (905
M). Yang pasti bahwa dengan adanya prasasti Kubu-kubu itu ada petunjuk bahwa
Rakai Watukura Dyah Balitung telah meluaskan kekuasaannya kedaerah Jawa bagian
timur. Pemerintahannya berlangsung selama kurang lebih 12 tahun.
13. Pemerintahan
Sri Daksottama Bahubajra
Mpu Daksa naik
takhta menggantikan Dyah Balitung yang merupakan saudara iparnya. Dyah Balitung
diperkirakan naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya, sehingga secara
otomatis Mpu Daksa pun disebut sebagai putra raja tersebut. Kemungkinan besar
raja itu ialah Rakai Watuhumalang yang memerintah sebelum Balitung menurut
prasasti Mantyasih. Menurut prasasti Talahap, Mpu Daksa, adalah cucu dari
Rakryan Watan Mpu Tamer, yang merupakan seorang istri raja yang dimakamkan di
Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Dengan demikian Daksa dapat disebut sebagai cicu
dari Rakai Pikatan.
C. STRUKTUR
BIROKASI KERAJAAN
Dalam struktur pemerintah kerajaan
mataram kuno, penguasa tertinggi disebut sri maharaja. Sesuai dengan landasan
kosmogonis, raja adalah penjelmaan dewa di dunia. Hal itu ternyata dari gelar
abhiseka dan puji-pujian kepada raja di dalam berbagai prasasti dan kitab-kitab
sastra Jawa Kuno sejak masa Airlangga. Di bawah struktur sri maharaja adalah
gelar rakai hino atau rakarayan mapatih i hino. Namun, perlu dicatat bahwa
jabatan ini tidak harus dipegang oleh putra raja yang memerintah. Bisa juga
dijabat oleh adik raja, kemenakan, paman, atau kerabat dekat yang lain, asal
masih seketurunan secara langsung. Dengan perkataan lain, dengan diterimanya
institusi kerajaan sebagai bentuk ketatanegaraan oleh nenek moyang kita, timbul
pula pengertian wangsa atau dinasti.
Struktur kerajaan mataram kuno masa
pemerintahan Rakai Kayuwangi menurut prasasti Bungur (860 M) dan prasasti Kwak
(879 M):
1. Sri maharaja
2. Rakarayan mapatih i hino
3. Rakarayan mapatih i hulu
4. Rakarayan mapatih i sirikan
5. Rakarayan watu tihang
6. Samgat bawang
7. Rakarayan sirikan
8. Rakai wka
§ Pejabat Pemerintahan:
a)
Rake
halaran
b)
Rake
panggil hyang
c)
Rake
dolinan
d)
Pangkur
e)
Tawan
atau hanangan
f)
Tirip
g)
Pamgat
manghuri
h)
Pamgat
wadihati
i)
Pamgat
makudur
Struktur
Birokasi masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung menurut prasasti
Penggumulan (902 M):
1. Sri maharaja
2. Rakryan mapatih i hino
3. Rakryan i hulu
4. Rakryan i sirikan
5. Rakai wka
6. Rakai pagarwasi
7. Pamgat tiruan
§
Pejabat
Pemerintahan:
a)
Rakai
halaran
b)
Rakai
palarhyang
c)
Rakai
dolinan
d)
Rakai
wlahan
e)
Pamgat
manghuri
f)
Pangkur
g)
Tawan/hanangan
h)
Tirip
i)
Pamgat
wadihati
j)
Pamgat
makudur
Jalanya perintah raja dengan struktur yang demikian, ditinjau dari
berbagai prasasti yang ada adalah seorang raja menjatuhkan keputusan dengan
pertimbangan para pejabat kerajaan, juga dengan pendeta purohita, yaitu pendeta
kerajaan yang berhubungan dengan hukum keagamaan (Dalam hal ini dijabat oleh
seorang pamgat tiruan). Ketika raja menjatuhkan putusan, titah raja tersebut
pertama-tama diterima oleh ketiga pangeran yang menyandang gelar rakarayan
mapatih, yang kemudian perintah tersebut disampaikan kepada para pejabat
eksekutif pemerintahan.
Dalam penataan birokrasi pemerintahan keraj
aan, pada umumnya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara mempunyai
suatu landasan kosmogonis yaitu kepercayaan akan adanya kesesuaian antara dunia
manusia (Jagat kecil-mikrokosmos) dengan alam semesta (Jagat raya/
makrokosmos).
D. KEADAAN
SOSIAL MASYARAKAT KERAJAAN MATARAM
KUNO
Dalam
masyarakat Mataram Kuno banyak dijumpai pejabat-pejabat di tingkat watak (
Daerah) yang jumlahnya ratusan. Dari nama tersebut tentunya dapat diprediksi
bagaiman keadaan sosial masyarakat pada saat itu. Jabatan-jabatan tersebut
antara lain :
1.
Rama
magman ( Pejabat desa yang masih memegang perintah ).
2.
Tuha
wanua ( Orang yang tertua di suatu desa disebut kepala desa ).
3.
Hulu-air
( Pejabat yang mengurusi masalah pengairan di desa ).
4.
Tuha
alas ( Pejabat yang mengurusi hutan yang ada di wilayah desanya ).
5.
Wariga
( Pejabat yang bertugas menghitung hari-hari baik untuk suatu pekerjaan di
suatu desa ).
6.
Tuha
wereh ( Pemimpin para pemuda mudi di desa ).
7.
Parujar
( Semacam juru bicara ).
8.
Winekas
( Pejabat yang bertugas menyampaikan berita kepada penduduk ).
9.
Hulu
wras ( Pejabat yang mengurusi lumbung padi ).
10.
Mapkan
( Pejabat yang mengurusi pasar ).
11.
Mataman
( Pejabat yang mengurusi pertamanan ).
12.
Tuha
buru ( Pejabat yang mengurusi masalah perburuan binatang ).
13.
Tuha
gusali ( Pejabat yang mengurusi para pandai logam ).
14.
Hulu
wuatan ( Pejabat yang mengurusi jembatan atau penyebrangan ).
15.
Hulu
turus ( Pejabat yang mengurusi batas-batas tanah penduduk ).
Dari segi ekonomi dapat diketahui
bahwa masyarakat Mataram Kuno pada waktu itu sudah melakukan perdagangan
individu dan pasar. Dagangan mereka ada yang dipikul dan ada pula yang di
angkut dengan pedati. Ada pula yang dibawa dengan prahu. Perahu sebagai sarana
transportasi perdagangan, dapat dibayangkan adanya perdagangan antar desa dan
antar wilayah di luar desa.
Prasasti-prasasti menyebutkan
istilah-istilah untuk alat pembayaran yang terdiri dari mata uang emas yaitu :
suwarno, masa, dan kupang. Sedangkan mata uang perak dengan satuan dharana,
masa, dan kupang.
Dalam masalah hukum, karena dari
zaman kerajaan Mataram kuno tidak ditemukan naskah hukum. Oleh karena itu,
semua pelanggar hukum dikenai denda dalam uang emas yang besarnya sesuai dengan
berat ringanya pelanggaran. Hanya perampok dan pencuri yang dihukum mati.
Sementara prasasti-prasasti yang ditemukan hanya menyebut masalah hukum yang
berhubungan dengan sengketa tanah, maka keputusan pengadilan yang ditulis dalam
prasasti dinamakan jayapatra.
Masalah kesenian rakyat, pada masa Mataram kuno dapat diketahui
dari berbagai relief yang terdapat di candi Borobudur maupun Prambanan.
Prasasti Wukajana menyebutkan adanya sebuah permainan wayang dan juga
pertunjukan tarian, seperti : tuwung, bungkuk, ganding, rawanahasta, dan
matapukan (tari topeng). Selain pertunjukan wayang, juga dikenal istlah mamirus
dan mabanal. Mamirus berhubungan dengan lawakan dengan kata-kata, sedangkan
mabanol berhubungan dengan gerak tubuh. Seni pertunjukan adalah suatu seni yang
memiliki sifat kerakyatan.
E. PENYEBAB RUNTUHNYA KERAJAAN MATARAM KUNO
Runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh beberapa faktor:
1.
Disebabkan
oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar tersebut
menimbun candi-candi yang didirikan tersebut menjadi rusak.
2.
Rutuhnya
kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M.
3.
Runtuhnya
kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di
Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak
terdapatnya pelabuhan strategis. Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai
selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan
daerah sumber penghasilan komoditi perdagangan.
Mpu
Sindok mempunyai jabatan sebagai Rake I Hino ketika Wawa menjadi raja di
Mataram, lalu pindah ke Jawa Timur dan mendirikan dinasti Isyana disana dan
menjadikan. Walunggaluh sebagai pusat kerajaan. Mpu Sindok yang membentuk
dinasti baru, yaitu Isanawangsa berhasil membentuk Kerajaan Mataram sebagai
kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yang berpusat di Jawa Tengah. Mpu Sindok
memerintah sejjak tahun 929 M sampai dengan 948 M.
F. PENINGGALAN-PENINGGALAN KERAJAAN MATARAM KUNO
a) Prasasti Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun
778 M, ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta.
b) Prasasti Klurak ditemukan di desa Prambanan berangka tahun 782 M ditulis
dalam huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan pembuatan arca
Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya
c) Prasasti Canggal, prasasti ini di temukan di halaman Candi Guning Wukir
di wilayah desa Canggal mempunyai angka tahun 732 Masehi. ditulis dengan huruf
pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasati ini berisi tentang cerita pendirian
Lingga (atau lambang Syiwa) di wilayah desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya
selain itu prasasti ini juga menceritakan bahwa terdapat seorang raja yang
memimpin pulau jawa sebelum dirinya yang bernama Sanna yang kemudian digantikan
oleh Sanjaya.
d) Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih Kedu, Jawa tengah, berangka
tahun 907 M yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut
adalah daftar silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality yaitu Raja
Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai
Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah Balitung.
Untuk itu prasasti Mantyasih/Kedu ini juga disebut dengan prasasti Belitung.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kerajaan Mataram kuno adalah salah satu
kerajaan hinduYang ada di tanah jawa, yang daerah kekuasaanya Meliputi jawa
timur dan jawa tengah, kerajaan ini di kuasai oleh 2 dinasti besar yaitu wangsa
sanjaya dan wangsa syailendra.
System birokrasi dari kerajaan matram kuno pada masa
pemerintahan Rakai dyah balitung tediri sri mahapatih sampai struktur birokrasi
yang paling bawah yaitu pamgat makudur
Keadaan sosial masyarakat pada masa itu
terdapat pejabat, Dalam
masyarakat Mataram Kuno banyak dijumpai pejabat-pejabat di tingkat watak (
Daerah )
yang jumlahnya ratusan. Dari nama tersebut tentunya dapat diprediksi bagaiman
keadaan sosial masyarakat pada saat itu.
Kemudian kerajaan mataram kuno mengalami
keruntuhan di karenakan beberapa faktor berikut :
1.
Disebabkan
oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar tersebut
menimbun candi-candi yang didirikan tersebut menjadi rusak.
2.
Rutuhnya
kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M.
3.
Runtuhnya
kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di
Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak
terdapatnya pelabuhan strategis. Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai
selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan
daerah sumber penghasilan komoditi perdagangan.
DAFTAR PUSTAKA
§ Buku :
Suwardono.2013.Sejarah Indonesia Masa
Hindhu-Budha.Yogyakarta:Penerbit Ombak.
§ Internet:
Widiyatmiko. Staf. Gunadarma . ac. Id. “ Kerajaan
Mataram Kuno ” PDF.
Diakses pada hari Minggu, 4 Maret 2018 jam
19.30 WIB.
