KERAJAAN MAJAPAHIT
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia
Sampai Abad Ke-16
Dosen Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.
Disusun Oleh :
Umi Kultsum (173231048)
Dino Aditya Tantowi (173231045)
Rita Purnamasari (173231048)
Afrizal Muklisin (173231051)
SEJARAH
PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULAN
A.
Latar Belakang
Agama Hindu-Budha
merupakan agama yang datang dan dikenal pertama kali oleh masyarakat Indonesia
sebelum datangnya Islam. Agama Hindu-Budha memiliki ajaran tersidiri, dalam
agama ini terdapat berbagai kelas kelas sosial mulai dari kaum Brahmana, kaum
Kesatria, dan kaum Sudra. Selain itu, ajaran ajaran Agama Hindu-Budha hampir
memiliki kesamaan dalam hal peribadahan, namun setiap upacara keagamaan agama
ini selalu terkesan mewah dan menghabiskan biaya yang cukup banyak.
Agama Hidu-Budha
sangatlah berkembang sangat pesat di Indonesia, bahkan mereka mendirikan
kerajaan kerajaan yang sangat luas wilayah kekuasaanya dan besar. Kerajaan
kerajaan tersebut memiliki kejayaan di setiap sistem pemerintahan kerajaan
tersebut. Banyak kerajaan Hindu-Budha yang berdiri di penjuru Nusantara.
Salah satunya adalah
Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini berdiri setelah runtunya Kerajaan Singasri.
Majapahit menjadi Kerajaan terbesar di Pulau Jawa karena wilayah kekusaan
Majapahit mencakup seluru wilayah yang ada di Nusantara. Selain itu, kerajaan
ini berdiri selama ±233 tahun, memiliki berbagai kemajuan dan peninggalan
didalam berbagai bidang kehidupan. Kerajaan ini pertama di pimpin oleh Nararya
Sanggramawijaya dengan nama Abhiseka Kertarajasa Jayawardana (Raden Wijaya).
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana awal berdirinya Kerajaan Majapahit ?
2.
Bagaimana sistem pemerintahaan Kerajaan Majapahit ?
3.
Apa saja peninggalan Kerajaan Majapahit ?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui proses berdirinya Kerajaan Majapahit
2.
Untuk mengetahui sistem pemerintahaan Kerajaan Majapahit
3.
Untuk mengetahui akan adanya peninggalan Kerajaan Majapahit
BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Berdirinya Kerajaan Majapahit
Setelah
kemunduran Kerajaan Singasari, muncullah kerajaan baru yang akan menjadi
penguasa nusantara, yaitu Kerajaan Majapahit. Pendiri kerajaan ini adalah
menantu Raja Kertanegara yang berhasil lolos dari pemberontakan Jayakatwang.
Sumber lain mengatakan bahwa ia adalah keturunan Jayabaya.
Beberapa
sumber mengatakan nama yang berbeda mengenai pendiri Kerajaan Majapahit. Salah
satu sumber mengatakan Raden Wijaya dan sumber lain menyebutkan Raden Sesuruh.
Raden Wijaya adalah nama yang sering dipakai sejarawan untuk menyebutkan
pendiri Kerajaan Majapahit. Hal ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis pada
abad ke 15 M. Disana disebutkan nama asli Raden Wijaya adalah Raden
Harsawijaya. Padahal pada abad ke 15 M ini penggunaan gelar raden belum
populer. Nagarakertagama yang ditulis pada abad ke 14 M menyebut pendiri
Kerajaan Majapahit adalah Dyah Wijaya. Gelar Dyah merupakan gelar yang umum
digunakan pada waktu itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden.
Sementara
itu, Prasasti Kudadu menyebutkan nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat
adalah Nararya Sanggramawijaya. Dikatakan paling tepat karena prasasti ini
dikeluarkan oleh Wijaya pada tahun 1294. Gelar Nararya sama dengan gelar Dyah.
Dalam
Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahesa Cempaka. Sedangkan dalam Pustaka
Rajya Rajya I Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra dari pasangan Rakyan
Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya dalah Prabu Guru Darmasiksa, raja
Kerajaan Sunda Galuh. Sedangkan ibunya adalah putrid Mahesa Cempaka dari
Singasari. Setelah Rakyan Jayadarma meninggal keran diracun oleh musuhnya, Lembu Tal dan Wijaya kembali
ke Singasari. Dengan demikian, Raden Wijaya seharusnya menjadi raja ke 27
Kerajaan sunda Galuh. Sebaliknya ia mendirikan Majapahit setelah tewasnya raja
Kertanegara yang merupakan sepupu ibunya.
Kisah
tersebut mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Majapahit adalah
Jaka Sesuruh, putra Prabu Sri Pamekas, raja Kerajaan Pajajaran. Sesuruh
melarikan diri ke timur karena dikalahkan oleh saudara tirinya, Siung Wanara.
Kemudian, Sesuruh mendirikan Majapahit dan berbalik menumpas Siung Wanara.
Namun,
berita tersebut berlawanan dengan Nagaraketagama yang menyebut Dyah Lembu Tal
adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Terlepas dari perbedaan
pendapat diatas, para sejarawan sepakat bahwa pendiri Kerajaan Majapahit adalah
Raden Wijaya ( versi Pararaton), Dyah Wijaya (versi Nagarakertagama) dan Raden
Sesuruh (versi Babad Tanah Jawi).
Dalam
Prasasti Balawi (1305), Raden Wijaya menyatakan dari sebagai Wangsa Rajasa.
Menurut Nagarakertagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti.
Sedangkan Pararaton menjelaskan bahwa Narasinghamurti nama lain dari Mahesa
Cempaka adalah putra Maisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Wangsa Rajasa.
Adapun
mengenai latar belakang berdirinya Kerajaan Majapahit adalah pemberontakan
Jayakatwang yang menyebabkan keruntuhan Kerajaan Singasari. Telah tercatat
dalam prasasti bahwa Singasari telah dikuasai oleh Jayakatwang. Kemudian ia
mengangkat dirinya sebagai Raja di Kediri. Pada pemberontakan itu, Raden Wijaya
berhasil lolos dan melarikan diri dari kejaran musuh. Kemudian, ia meminta
bantuan kepada Adipati Wiraraja di Sumenep, Madura.
Atas
usahanya, Wiraraja berhasil mendapat pengampunan dari Jayakatwang. Kemudian, ia
mendapatkan hutan di daerah Tarik yang juga disebut Terang Wulan karena
sebagian hutannya tidak ditumbuhi pohon dan ketika bulan purnama, sinar bulan
akan memenuhi seluruh hutan. Nama Terang Wulan ini kemudian berubah menjadi
Trowulan.
Setelah
hutan Tarik dibuka, daerah ini menjadi daerah yang ramai. Daerah ini bernama
Majapahit karena pada waktu itu Raden Wijaya banyak mendapat cobaan dan
didaerah tersebut juga banyak pohon Maja yang jika buahnya digigit rasanya
pahit, dari sinilah nama Majapahit ditemukan.
B. Sistem Pemerintahaan Kerajaan Majapahit
a.
Nama Raja-Raja Kerajaan Majapahit
Selama berdirinya Kerajaan Majapahit kita
dapat mengetahui bahwa Majapahit dipimpin oleh 13 Raja dan 2 Penguasa dalam
masa post-period[1].
Majapahit bertahan dari tahun 1294-1527 M, selama ± 233 tahun, 184 tahun
sebagai kerajaan yang merdeka, dan 49 tahun sebagai negara bawahan’. Berikut
nama dan urutan raja-raja Majapahit :
|
1.
Kertarajasa
Jayawardhana (Sanggramawijya : Raden Wijaya)
|
1294 – 1309
|
|
2.
Jayanegara
(Kala Gamet : Wirandagopala)
|
1309 – 1328
|
|
3.
Tribhuwanatunggadewi
(Jayawisnuwardhani)
|
1328 – 1350
|
|
4.
Rajasanegara
(Hayam Wuruk)
|
1350
– 1389
|
|
5.
Wikramawardhana
(Hyang Wisesa:suami Kusumawardhani)
|
1389 – 1427
|
|
6.
Suhita
|
1427 – 1437
|
|
7.
Bhre
Daha (pemerintah selingan)
|
1437 – 1447
|
|
8.
Sri
Kertawijaya
|
1447 – 1451
|
|
9.
Bhre
Pamaton (Sang Sinagara)
|
1451 – 1453
|
|
Tiga Tahun Kosong
|
|
|
10.
Hyang
Purwawisesa
|
1456 – 1466
|
|
11.
Bhre
Panda Alas
|
1466 – 1468
|
|
12.
Singawardhana
|
1468 – 1474
|
|
13.
Kertabhumi
|
1474 – 1478
|
|
14.
Njoo
Lay Wa
|
1478 – 1468
|
|
15.
Girindrawardhana
(Dyah Ranawijaya:Prabu Nata)
|
1468 – 1527
|
b.
Masa Kejayaan
Kejayaan kerajaan Majapahit
ketika masa pemerintahan Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan raja keempat dengan
masa pemerintahannya tahun 1350 sampai 1389. Ia menggantikan posisi
Tribhuwanattunggadewa Jayawisnuwarddani. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk
dibantu oleh Gajah Mada. Dalam masa pemerintahannya ini, keadaan rakyatnya
mengalami kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan. Kerajaan Majapahit pada
masanya bisa dikatakan sebagai negara terbesar yang pernah ada dalam sejarah
bangsa Indonesia. Dengan patih Gajah Mada, kerajaan majapahit memiliki misi
besar yaitu mempersatukan nusantara.
Bahkan karena seriusnya Gajah
Mada sampai melakukan Sumpah Palapa yaitu tidak bakal mundur dari jabatannya
sebelum bisa mempersatukan nusantara. Berdasarkan Kakawin Negarakertagama pupuh
XIII-XV, wilayah kekuasaan Majapahit terdiri dari Sumatera, Semenanjung Malaya,
Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik
(Singapura) termasuk sebagian kepulauan Filipina.
Selain perluasan wilayah kekuasaan Hayam
Wuruk juga melakukan kebijakan terhadap berbagia bidang diantaranya bidang
pertanian, perdagangan dan impor, ekonomi, hukum dan agama, kesenian dan
kesusastraan.
c.
Masa Kemunduran
Kerajaan Majapahit mulai mengalami
kemunduran setelah sepeninggalan Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1398. Hal ini
disebabkan karena sang prabu tidak memiliki keturan laki-laki dari istri
sahnya. Prabu Hayam Wuruk memeliki seorang putri dari pernikahannya dengan
putri Bhra Parameswara yaitu Kusumawardani atau Bhre Lasem[2].
Namun dari istri selirnya yaitu ia memiliki seorang putra yaitu Bhre Wirabumi.
Karena Bhre Wirabumi lahir dari seorang selir maka dia tidak berhak atas tahta
Kerajaan dan Mahkota raja[3]. Dengan
demikian Kusumawardani lah yang memperoleh tahta kekuasaan dan mahkota kerajaan
sepeninggalan Hayam Wuruk[4].
Selain itu, factor penyebab runtuhnya
kerajaan Majapahit adalah
1)
Tidak adanya pembentukan pemimpin baru
2)
Gajah Mada adalah Patih Amangkubumi yang memegang semau jabatan
yang sangat penting. Dia tidak mengajarkan kepiaweannya kepada genari
penerusnya
3)
Adanya perang saudara yang di kenal dengan perang Paregreg pada
tahun 1405-1406.
4)
Adanya daerah daerah yang melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan
Majapahi
5)
Kelemahaan raja raja Kerajaan Majapahit
6)
Masuknya dan tersiarnya ajaran Islam.
Diantara
beberapa faktor penyebab kemunduruan dan berakhir pada keruntuhan Kerajaan
Majapahit adalah adanya perng saudara yng merebutkan kekuasaan Kerajaan
Majapahit. Dalam catatan sejarah bahwa perselisihan itu telah terjadi enam
peristiwa penting yang berkaitan dengan perselisihan (perang) saudara demi
mendapatkan hak sebagai raja atau legitimasi sebagai pewaris Majapahit[5].
Enam peristiwa tersebut banyak merugikan kerajaan dan menimbulkan korban jiwa.
Keenam peristiwa itu diantaranya adalah :
1)
Perang Paregreg
Perang ini dimulai sejak kepemimpinan raja ke-5 Kerajaan Majapahit
yaitu Gagak Sali (Wikramawardhana), putra Dyah Nertaja. Pada tahun 1406 M,
pasukan Istana Majapahit Barat yang dipimpin oleh Bhre Tumapel (putra Gagak
Sali) menyerbu Istana Majapahit Timur[6].
Akibatnya Bhre Wirabumi mengalami kekalahan dan melarikan diri. Namun, Bhre
Wirabumi berhasil ditagkap dan dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh Bhra
Narapati (Raden Gajah) yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya[7].
Untuk mengenang arwah Bhre Wirabumi dibuatkanlah candi di Lung dengan nama
Girisa Pura.
2)
Pemberontakan Rajasawardhana
Semasa pemerintahan Dyah Kertawijaya (1447-1451 M), Majapahit
dilanda pemberontakan yang dilakukan oleh Rajasawardhana. Dalam Serat Pararaton
menyebuutkan bahwa Rajasawardhana yang naik tahta sesudah menggulingkan
Kertawijya tersebut diidentikkan dengan
Bhre Pamotan, Bhre Keling, atau Bhre Kahuripan.
3)
Perebutan Kekuasaan Suryawirakrama dan Samarawijaya
Sepeninggalan
Rajasawardhana pada tahun 1453 M, Majapahit mengalami kekosongan pemimpim dari
tahun 1453-1456 M. Hal ini dikarenakan peristiwa perebutan kekuasaan antar
Suryawirakrama dan Samarawijaya (Putra sulung Wuijayakumara atau menantu
Suryawikrama)[8].
Dalam peristiwa ini dimenangkan Suryawikrama dan ia berhasil naik takhta
sebagai Raja Majapahit dengan gelar Girishawardhana Dyah Suryawirakrama[9].
4)
Pemberontakan Bhre Kertabhumi
Seusai
kepemimpinan Girishawardhana pada tahun 1466 M, tahta Kerajaan Majapahit
diduduki olek Singhawikramawardhana. Sesame kepemimpinannya terjadilah
pemberontakan yang dilakukan oleh Bhre Kertabumi, ia merasa berhak atas warisan
takhta Majapahit. Pemberontakan yang dilakukan pada tahun 1474 M membawa hasil
yang gemilang[10].
Hingga Singhawikramawardhana melarikan diri dari Majapahit yang beribu kota di
Majakerta menuju Dhaha ( Ibu Kota Kediri sekarang )[11].
5)
Pemberontakan Girindrawardana
Girindrawardana
melakukan pemberontakan terhadap Bhre Kertabumi dan berhasil membuhanguskan
Istana Majapahit di Majakerta dan memindahkannya ke Dhaha. Di sana, Ia menjadi
Raja Majapahit drngan gelar Sri Wilwatika Jenggala-Kediri[12].
6)
Perebutan Legitimasi sebagai Pewaris Majapahit
Runtuhnya
Majapahit yang beribu kota di Majakerta
memicu Raden Patah (Sultan Jin-Bun) penguasa Kesultanan Demak (1478-152
M) yang merupakan Bhre Kertabumi, berhasrat mendapatakan legitimasi pewaris
takhta Majapahit[13].
Hal ini menimbulkan peperangan antara Demak dan Majapahit tidak dapat
dihindari. Pasukan Demak berhsil mengalahkan dan merebut kekuasaan Majapahit
dari tangan Girindrawardhana.
Sepeninggalan
Raden Patah (1518 M), Girindrawardhana melakukan kerjasama dengan Protugis
untuk melakukan pemberontakan terhadap Kesultanan Demak yang saat itu di pimpin
oleh Sultan Tenggrono. Pada tahun 1524 M, perang antar Demak dan Majapahit
pecah lagi dan berakhi pada tahun 1527 M. Kesultanan Demak berhasil
menaklukakan Majapahit yang dipimpin oleh Sunan Kudus. Dengan demikian,
Kerajaan Majapahit berakhir.
C.
Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Majapahit
Sebagai salah satu kerajaan terbesar di
Indonesia, kerajaan Majapahit meninggalkan banyak peninggalan peninggalan yang
unik, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Peningalan kerajaan Majapahit yang telah
diungkapkan oleh para ahli sejarah, hanya sebagian dari banyaknya peninggalan
yang ditinggalkan oleh kerajaan yang mencapai masa keemasannya pada
kepemimpinan raja Hayam Wuruk.
Masih banyak lagi peninggalan kerajaan
Majapahit yang masih menjadi misteri, sebagaimana banyak hal tentang kerajaan
ini yang belum terungkap sampai sekarang. Berikut beberapa peninggalan kerajaan
Majapahit.
1. Candi Wringin Lawan
Candi
ini mirip dengan bangunan gapura agung yang berbahan batu merah dan memiliki
luas dasar 13×11 meter dengan tinggi 15,5 meter. Arsitektur candi merupakan
“candi terbelah” yang sampai saat ini sudah banyak ditiru pada gaya arsitektur
Bali.
Kegunaan
utama candi ini sebagai pintu gerbang menuju kawasan utama di Ibukota
Majapahit. Tempatnya nampak dari jalan utama Surabaya-solo, yang berada di
wilayah Brangkal sebelum masuk ke Trowulan sehingga sangat mudah ditelurusi
jika teman-teman mau melihatnnya.
2. Candi Brahu
Letak Candi Brahu ini terdapat di
daerah Bejijong, Trowulan yang sekarang ini sebagai pusat pengrajin kuningan
dan Patung Batu. Candi Brahu tersebut sebagai bangunan suci untuk beribadah
yang digunakan dalam memuliakan para anggota keluarga kerajaan yang telah
meninggal dunia.
Konon ceritanya 4 raja dari kerajaan
Majapahit yang meninggal diprabukan atau dikremasi di samping bangunan candi
Brahu.
3. Candi Gendong
Candi
Gentong saat ini masih proses tahapan restorasi, sehingga dar bentuknya masih
terlihat reruntuhan bangunan. Candi ini belum dapat dijadikan sebagai tempat
wisata peninggalan kerajaan zaman dulu. Dan tempat Candi Gentong ini berada
tidak jauh dari Candi Brahu.
4. Candi Tikus
Candi
Tikus terkenal dengan kolam pemandian ritual (petirtaan) yang mempunyai bentuk
bangunan kolam bujur sangkar yang berukuran 22,5 x 22,5 meter. Terdapat
arsitektur teras-teras persegi dengan penyusunan konsentris pada mahkota
menara-menara yang dijadikan titik tertinggi pada bangunan candi Tikus. Di
bagian utara terdapat tangga menuju ke dasar bangunan kolam.
Dinding selatan yang menonjol dari struktur
utama sebagai tiruan dari bentuk gunung legendaris Mahameru. Konon katanya
kolam ini dijadikan sebagai tempat pemandian putri raja-raja Majapahit, yang
lebih dikenal dengan nama Candi Tikus karena pada masa itu candi ini menjadi
sarang tikus yang memakan tanaman sawah milik masyarakat sekitar.
5. Candi Bajang Batu
Lokasi Candi Bajang Batu sangat dekat
dari Candi Tikus, yang beebentuk bangunan ramping dan mempesona. Candi ini
memiliki arsitektur gapura paduraksa dengan tinggi 16,5 meter.
Pada bagian atapnya terdapat aksesoris
bangunan yang dilengkapi dengan hiasan ukiran agak rumit dan detail. Istilah
nama Bajang ratu dalam bahasa Jawanya yaitu “Raja Kecil” penduduk sekitar
mengaitkan dengan raja kedua Majapahit yaitu Jayanegara.
Pada masa itu, Konon katanya
Jayanegaraa waktu kecil pernah jatuh di tempat itu, dan cerita lainnya karena
Raja Jayanegara naik tahta pada usia masih muda. Sedangkan para pakar sejarah
sendiri mengaitkan candi tersebut sebagai penghormatan kepada Raja Jayanegara
yang telah meninggal pada tahun 1328 Masehi.
6. Candi Minak Jinggo
Bentuk bangunan ini sangat unik, namun
yang tersisa tinggal reruntuhannya saja. Bangunan candi ini menggunakan
kombinasi dari batu adesit sebagai lapisan luar dan batu bata pada bagian
dalam.
Pada bangunan ini juga ditemukan qilin
pada ukiran yang berbentuk arca. Sebagai informasi, qilin merupakan makhluk
ajaib bagi bangsa Cina. Dari penemuan ini, diyakini akan adanya hubungan yang
terjalin antara dinasti ming Cina dengan kerajaan Majapahit.
7. Candi Kedaton
Bangunan Candi kedaton sudah luluh
lantah sehingga para ahli kesulitan untuk mendeskripsikannya. Sehingga wujud
dari candi ini pun sapai sekarang masih menjadi salah satu misteri dari
berbagai misteri kerajaan Majapahit.
Pada sekeliling bangunan candi ini
juga telah ditemukan bangunan lain berupa candi, sumur upas, lorong rahasia,
makam rahasia, dan beberapa mulut gua. Ada dugaan dari beberapa ahli sejarah
bahwa daerah kedaton ini, dulunya merupakan wilayah ibu kota kerajaan
Majapahit.
8. Candi Grinting
Candi ini terletak di pelosok desa,
tepatnya di dusun Griting, Jatirejo, sehingga candi ini termasuk candi yang
kurang mendapat sorotan dari masyarakat.
Akses
ke candi ini termasuk sulit mejadi salah satu sebab candi ini jarang dikunjungi
masyarakat. Sekarang candi ini tinggal berupa reruntuhan, sehingga bentuknya
sulit digambarkan.
9. Pendopo Agung
Bangunan pendopo ini hanya berupa
umpak-umpak besar yang merupakan sisa dari bangunan pendapa agung. Dulu pendopo
ini dijadikan sebagai tempat menemui para tamu yang datang menemui raja
Majapahit.
Sekarang bangunan ini sudah menjadi
pendapa yang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Sebuah batu miring ditemukan di
bagian belakang pendapa, yang diyakini sebagai tempat patih Gajah Mada
mengikrarkan sumpahnya, yaitu sumpah palapa.Adanya kompleks makam pendiri
kerajaan Majapahit Raden Jaya Wijaya, menjadi salah satu daya tarik tersendiri
yang membuat masyarakat ramai ramai mengunjungi tempat pendopo agung ini.
10. Situs Lantai Segi Empat
Sebenarnya situs ini hanyalah berupa
sisa sisa reruntuhan bangunan rumah dengan berbagai keunikan. Salah satu
keunikan pada situs ini, yaitu paving blok segi enam yang merupakan lantai kuno
yang terbuat dari tanah liat halus yang dibakar, ukurannya 34 x 29 x 6.5 cm.
11. Kolam Segaran
Asal mula nama segaran ialah ‘segara’
yang artinya ‘laut’ dalam bahasa jawa. Kolam ini berfunsi sebagi sumber air
bagi masyarakat kerajaan Majapahit, serta sebagai tempat jamuan bagi para tamu
kerajaan.
12. Alun Alun Watu Umpak
Alun alun Watuk merupakan sebuah
bangunan yang terdiri dari susunan sejumlah batu umpak besar yang tersusun
rapi. Ada dugaan bahwa situs ini merupakan bangunan milik kerajaan Majapahit.
13. Makam Putri Campa
Letak makam candi putri campa ada
disekitar candi menak jinggo. Pemakaman ini merupakan salah satu dari pemakaman
islam kuno. Putri Campa sendiri adalah istri atau selir seorang Raja Majapahit
pada periode akhir.
Bila dilihat dari bentuk makam tersebut,
Putri Campa diyakini menganut Agama islam, dan konon katanya ia berhasil
mengajak raja terakhir Majapahit untuk memeluk agama islam. Beliau Wafat pada
tahun 1448 M.
14. Makam Troloyo
Tempat ini juga merupakan salah satu
dari pemakaman islam kuno yang ada di Indonesia. Rata rata batu nisan di tempat
ini bertulisakan tahun 1350 – 1478 M. Makam ini menjadi salah satu bukti bahwa
penganut agama islam yang mulia sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit.
15. Siti Inggil
Tanah ini terletak di sekitar candi
Brahu, yang memiliki arti tanah tinggi yang merupakan tanah yang di agungkan.
Menurut ahli sejara, siti inggil yang merupakan sebuah punden, dahulu pernah
dipilih dan dijadikan oleh Raden Wijaya sebagai tempat pertapaan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kerarajaan Majapahit berdiri
setelah kehancuran Kerajaan Singasari. Berdasarkan berbagai sumber yang ada
Kerajaan Majapahit didirak oleh Kertanegara. Namun, sumber lain mengatakan
bahwa pendiri kerajaan ini adalah Raden Wijaya. Tetapi berdasarkan Pararaton
yang ditulis pada abad ke-15 M mengatakan bahwa pada saat itu belum ada
penyebutan nama Raden belum ada. Berdasarkan Negarakertagama yang ditulis pada
abad ke-14 M menyebutkan pendiri Kerajaan Majapit adalah Dyah Wijaya, dimana
penyebutan nama Dyah adalah sebutan nama Raden pada saat itu.
Kerajaan Majapahit didirikan
sejak tahun 1294-1527 M, selama ± 233 tahun, 184 tahun sebagai kerajaan yang
merdeka, dan 49 tahun sebagai negara bawahan. Selama itu kerajaan ini dipimpin
oleh 13 Raja dan 2 penguasa post-period. Pemerintahan Majapahit
mengalami masa kejayaan atau kemasan ketika Majapahit berada dibawah kepemimpinan
Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Gajah Mada merupakan seorang patih Majapahit
yang terkenal dengan melakukan Sumpah Palapa, yang menyatakan bahwa dia tidak
akan manakan buah palapa, sebelum menyatukan Nusantara. Sumpah ini menjadi
pemacu utuk memperluaskan wilayah kekuasaan Majapahit yang hampir meliputi
seluruh Nusantara.
Sepeninggalan Hayam Wuruk dan
Gajah Mada pada tahun 1398 M, menyebabkan Kerajaan Majapahit mengalami
kemunduran dan berakhir kehancuran. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
ialah tidak adanya pengganti Raja yang cakap dan adanya perang saudara dalam
merbutkan takhta kekuasaan Majapahit. Perang saudara ini lebih dikenal dengan
sebutan Perang Paregreg, perang ini terjadi pada tahun 1406 M, pasukan Istana
Majapahit Barat yang dipimpin oleh Bhre Tumapel (putra Gagak Sali) menyerbu
Istana Majapahit Timur. Akibatnya Bhre Wirabumi mengalami kekalahan dan
melarikan diri. Namun, Bhre Wirabumi berhasil ditagkap dan dibunuh dengan
dipenggal kepalanya oleh Bhra Narapati (Raden Gajah) yang menjabat sebagai Ratu
Angabhaya’ Untuk mengenang arwah Bhre Wirabumi dibuatkanlah candi di Lung
dengan nama Girisa Pura.
Kerajaan Majapahit sebagai
kerajaan terbesar di Pulau Jawa memiliki berbagai peninggalan-peninggalan yang
sampai sekarang masih dapat kita temui. Diantara peninggalannya adalah Candi
Wringi, Candi Lawan, Candi Brahu, Candi Gendong, Candi Tikus, Candi Bajang
Batu, Candi Minyak Jinggo, Candi Kedaton, Candi Griting, Pendopo Agung, Situs
Lantai Segi Empat, Kolam Segaran, Alun-Alun Watu Umpuk, Makan Putri Campa,
Makan Troloyo, dan Siti Inggil.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber
dari Buku :
Achmad,
Sri Winata.2016.Politik Dalam Sejarah Kerajaan Jawa.Yogyakarta:Araska
Muljana,
Slamet.2013.Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam
di Nusantar.Yogyakarta:LKiS
Soekmono.1973.Pengantar
Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta:Kanisius
Abimanyu,
Soedjipto.2014.Babad Tanah Jawi.Yogyakarta:Laksana
Sumber dari
Internet :
Setyawan,
Doni. 2016. Kejayaan dan Kemunduran Majapahit.
http://www.donisetyawan.com/2076-2/&grqid:yaJOScGl&s=1&jl=id-ID Diakses Sabtu, 03 Maret 2018 pukul 20.00 WIB
[1] Slamet Muljayana, 2013, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbunya
Negara Negara Islam di Nusantara, hlm.32
[2] Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulya Negara Negara Islam di
Nusantara, hlm.20
[3] Ibid, hlm.20
[4] Ibid, hlm. 20
[5] Sri Winata Achmad, 2016, Politik Dalam Sejarah Kerajaan Jawa, hlm.148
[6] Politik Dalam Kerajaan Jawa, hlm.149
[7] Ibid, hlm.150
[8] Ibid, hlm. 152
[9] Ibid, hlm.152
[10] Ibid, hlm.152
[11] Ibid, hlm.152
[12] Ibid, hlm.153
[13] Ibid, hlm.153

Tidak ada komentar:
Posting Komentar