Jumat, 09 Maret 2018

MAKALAH KERAJAAN MAJAPAHIT


KERAJAAN MAJAPAHIT
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia Sampai Abad Ke-16
Dosen Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.



Disusun Oleh :
 Umi Kultsum                 (173231048)
Dino Aditya Tantowi     (173231045)
Rita Purnamasari           (173231048)
Afrizal Muklisin             (173231051)
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018

BAB I
PENDAHULAN
A.    Latar Belakang
         Agama Hindu-Budha merupakan agama yang datang dan dikenal pertama kali oleh masyarakat Indonesia sebelum datangnya Islam. Agama Hindu-Budha memiliki ajaran tersidiri, dalam agama ini terdapat berbagai kelas kelas sosial mulai dari kaum Brahmana, kaum Kesatria, dan kaum Sudra. Selain itu, ajaran ajaran Agama Hindu-Budha hampir memiliki kesamaan dalam hal peribadahan, namun setiap upacara keagamaan agama ini selalu terkesan mewah dan menghabiskan biaya yang cukup banyak.
         Agama Hidu-Budha sangatlah berkembang sangat pesat di Indonesia, bahkan mereka mendirikan kerajaan kerajaan yang sangat luas wilayah kekuasaanya dan besar. Kerajaan kerajaan tersebut memiliki kejayaan di setiap sistem pemerintahan kerajaan tersebut. Banyak kerajaan Hindu-Budha yang berdiri di penjuru Nusantara.
         Salah satunya adalah Kerajaan Majapahit. Kerajaan ini berdiri setelah runtunya Kerajaan Singasri. Majapahit menjadi Kerajaan terbesar di Pulau Jawa karena wilayah kekusaan Majapahit mencakup seluru wilayah yang ada di Nusantara. Selain itu, kerajaan ini berdiri selama ±233 tahun, memiliki berbagai kemajuan dan peninggalan didalam berbagai bidang kehidupan. Kerajaan ini pertama di pimpin oleh Nararya Sanggramawijaya dengan nama Abhiseka Kertarajasa Jayawardana (Raden Wijaya).
B.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimana awal berdirinya Kerajaan Majapahit ?
2.    Bagaimana sistem pemerintahaan Kerajaan Majapahit ?
3.    Apa saja peninggalan Kerajaan Majapahit ?
C.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui proses berdirinya Kerajaan Majapahit
2.    Untuk mengetahui sistem pemerintahaan Kerajaan Majapahit
3.    Untuk mengetahui akan adanya peninggalan Kerajaan Majapahit















BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses Berdirinya Kerajaan Majapahit
Setelah kemunduran Kerajaan Singasari, muncullah kerajaan baru yang akan menjadi penguasa nusantara, yaitu Kerajaan Majapahit. Pendiri kerajaan ini adalah menantu Raja Kertanegara yang berhasil lolos dari pemberontakan Jayakatwang. Sumber lain mengatakan bahwa ia adalah keturunan Jayabaya.
Beberapa sumber mengatakan nama yang berbeda mengenai pendiri Kerajaan Majapahit. Salah satu sumber mengatakan Raden Wijaya dan sumber lain menyebutkan Raden Sesuruh. Raden Wijaya adalah nama yang sering dipakai sejarawan untuk menyebutkan pendiri Kerajaan Majapahit. Hal ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis pada abad ke 15 M. Disana disebutkan nama asli Raden Wijaya adalah Raden Harsawijaya. Padahal pada abad ke 15 M ini penggunaan gelar raden belum populer. Nagarakertagama yang ditulis pada abad ke 14 M menyebut pendiri Kerajaan Majapahit adalah Dyah Wijaya. Gelar Dyah merupakan gelar yang umum digunakan pada waktu itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden.
Sementara itu, Prasasti Kudadu menyebutkan nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya. Dikatakan paling tepat karena prasasti ini dikeluarkan oleh Wijaya pada tahun 1294. Gelar Nararya sama dengan gelar Dyah.
            Dalam Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahesa Cempaka. Sedangkan dalam Pustaka Rajya Rajya I Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra dari pasangan Rakyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya dalah Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh. Sedangkan ibunya adalah putrid Mahesa Cempaka dari Singasari. Setelah Rakyan Jayadarma meninggal keran diracun  oleh musuhnya, Lembu Tal dan Wijaya kembali ke Singasari. Dengan demikian, Raden Wijaya seharusnya menjadi raja ke 27 Kerajaan sunda Galuh. Sebaliknya ia mendirikan Majapahit setelah tewasnya raja Kertanegara yang merupakan sepupu ibunya.
Kisah tersebut mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Majapahit adalah Jaka Sesuruh, putra Prabu Sri Pamekas, raja Kerajaan Pajajaran. Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan oleh saudara tirinya, Siung Wanara. Kemudian, Sesuruh mendirikan Majapahit dan berbalik menumpas Siung Wanara.
Namun, berita tersebut berlawanan dengan Nagaraketagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Terlepas dari perbedaan pendapat diatas, para sejarawan sepakat bahwa pendiri Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya ( versi Pararaton), Dyah Wijaya (versi Nagarakertagama) dan Raden Sesuruh (versi Babad Tanah Jawi).
Dalam Prasasti Balawi (1305), Raden Wijaya menyatakan dari sebagai Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakertagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Sedangkan Pararaton menjelaskan bahwa Narasinghamurti nama lain dari Mahesa Cempaka adalah putra Maisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Wangsa Rajasa.
Adapun mengenai latar belakang berdirinya Kerajaan Majapahit adalah pemberontakan Jayakatwang yang menyebabkan keruntuhan Kerajaan Singasari. Telah tercatat dalam prasasti bahwa Singasari telah dikuasai oleh Jayakatwang. Kemudian ia mengangkat dirinya sebagai Raja di Kediri. Pada pemberontakan itu, Raden Wijaya berhasil lolos dan melarikan diri dari kejaran musuh. Kemudian, ia meminta bantuan kepada Adipati Wiraraja di Sumenep, Madura.
Atas usahanya, Wiraraja berhasil mendapat pengampunan dari Jayakatwang. Kemudian, ia mendapatkan hutan di daerah Tarik yang juga disebut Terang Wulan karena sebagian hutannya tidak ditumbuhi pohon dan ketika bulan purnama, sinar bulan akan memenuhi seluruh hutan. Nama Terang Wulan ini kemudian berubah menjadi Trowulan.
Setelah hutan Tarik dibuka, daerah ini menjadi daerah yang ramai. Daerah ini bernama Majapahit karena pada waktu itu Raden Wijaya banyak mendapat cobaan dan didaerah tersebut juga banyak pohon Maja yang jika buahnya digigit rasanya pahit, dari sinilah nama Majapahit ditemukan.
B. Sistem Pemerintahaan Kerajaan Majapahit
a.      Nama Raja-Raja Kerajaan Majapahit
     Selama berdirinya Kerajaan Majapahit kita dapat mengetahui bahwa Majapahit dipimpin oleh 13 Raja dan 2 Penguasa dalam masa post-period[1]. Majapahit bertahan dari tahun 1294-1527 M, selama ± 233 tahun, 184 tahun sebagai kerajaan yang merdeka, dan 49 tahun sebagai negara bawahan’. Berikut nama dan urutan raja-raja Majapahit :
1.      Kertarajasa Jayawardhana (Sanggramawijya : Raden Wijaya)
1294 – 1309
2.      Jayanegara (Kala Gamet : Wirandagopala)
1309 – 1328
3.      Tribhuwanatunggadewi (Jayawisnuwardhani)
1328 – 1350  
4.      Rajasanegara (Hayam Wuruk)
1350 – 1389
5.      Wikramawardhana (Hyang Wisesa:suami Kusumawardhani)
1389 – 1427
6.      Suhita
1427 – 1437
7.      Bhre Daha (pemerintah selingan)
1437 – 1447
8.      Sri Kertawijaya
1447 – 1451
9.      Bhre Pamaton (Sang Sinagara)
1451 – 1453
Tiga Tahun Kosong
10.  Hyang Purwawisesa
1456 – 1466
11.  Bhre Panda Alas
1466 – 1468
12.  Singawardhana
1468 – 1474
13.  Kertabhumi
1474 – 1478
14.  Njoo Lay Wa
1478 – 1468
15.  Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya:Prabu Nata)
1468 – 1527

b.      Masa Kejayaan
Kejayaan kerajaan Majapahit ketika masa pemerintahan Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan raja keempat dengan masa pemerintahannya tahun 1350 sampai 1389. Ia menggantikan posisi Tribhuwanattunggadewa Jayawisnuwarddani. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk dibantu oleh Gajah Mada. Dalam masa pemerintahannya ini, keadaan rakyatnya mengalami kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan. Kerajaan Majapahit pada masanya bisa dikatakan sebagai negara terbesar yang pernah ada dalam sejarah bangsa Indonesia. Dengan patih Gajah Mada, kerajaan majapahit memiliki misi besar yaitu mempersatukan nusantara.
Bahkan karena seriusnya Gajah Mada sampai melakukan Sumpah Palapa yaitu tidak bakal mundur dari jabatannya sebelum bisa mempersatukan nusantara. Berdasarkan Kakawin Negarakertagama pupuh XIII-XV, wilayah kekuasaan Majapahit terdiri dari Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) termasuk sebagian kepulauan Filipina.
     Selain perluasan wilayah kekuasaan Hayam Wuruk juga melakukan kebijakan terhadap berbagia bidang diantaranya bidang pertanian, perdagangan dan impor, ekonomi, hukum dan agama, kesenian dan kesusastraan.
c.       Masa Kemunduran
     Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran setelah sepeninggalan Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1398. Hal ini disebabkan karena sang prabu tidak memiliki keturan laki-laki dari istri sahnya. Prabu Hayam Wuruk memeliki seorang putri dari pernikahannya dengan putri Bhra Parameswara yaitu Kusumawardani atau Bhre Lasem[2]. Namun dari istri selirnya yaitu ia memiliki seorang putra yaitu Bhre Wirabumi. Karena Bhre Wirabumi lahir dari seorang selir maka dia tidak berhak atas tahta Kerajaan dan Mahkota raja[3]. Dengan demikian Kusumawardani lah yang memperoleh tahta kekuasaan dan mahkota kerajaan sepeninggalan Hayam Wuruk[4].
     Selain itu, factor penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit adalah
1)      Tidak adanya pembentukan pemimpin baru
2)      Gajah Mada adalah Patih Amangkubumi yang memegang semau jabatan yang sangat penting. Dia tidak mengajarkan kepiaweannya kepada genari penerusnya
3)      Adanya perang saudara yang di kenal dengan perang Paregreg pada tahun 1405-1406.
4)      Adanya daerah daerah yang melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Majapahi
5)      Kelemahaan raja raja Kerajaan Majapahit
6)      Masuknya dan tersiarnya ajaran Islam.
     Diantara beberapa faktor penyebab kemunduruan dan berakhir pada keruntuhan Kerajaan Majapahit adalah adanya perng saudara yng merebutkan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Dalam catatan sejarah bahwa perselisihan itu telah terjadi enam peristiwa penting yang berkaitan dengan perselisihan (perang) saudara demi mendapatkan hak sebagai raja atau legitimasi sebagai pewaris Majapahit[5]. Enam peristiwa tersebut banyak merugikan kerajaan dan menimbulkan korban jiwa. Keenam peristiwa itu diantaranya adalah :
1)      Perang Paregreg
Perang ini dimulai sejak kepemimpinan raja ke-5 Kerajaan Majapahit yaitu Gagak Sali (Wikramawardhana), putra Dyah Nertaja. Pada tahun 1406 M, pasukan Istana Majapahit Barat yang dipimpin oleh Bhre Tumapel (putra Gagak Sali) menyerbu Istana Majapahit Timur[6]. Akibatnya Bhre Wirabumi mengalami kekalahan dan melarikan diri. Namun, Bhre Wirabumi berhasil ditagkap dan dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh Bhra Narapati (Raden Gajah) yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya[7]. Untuk mengenang arwah Bhre Wirabumi dibuatkanlah candi di Lung dengan nama Girisa Pura.
2)        Pemberontakan Rajasawardhana
Semasa pemerintahan Dyah Kertawijaya (1447-1451 M), Majapahit dilanda pemberontakan yang dilakukan oleh Rajasawardhana. Dalam Serat Pararaton menyebuutkan bahwa Rajasawardhana yang naik tahta sesudah menggulingkan Kertawijya tersebut  diidentikkan dengan Bhre Pamotan, Bhre Keling, atau Bhre Kahuripan.
3)        Perebutan Kekuasaan Suryawirakrama dan Samarawijaya
Sepeninggalan Rajasawardhana pada tahun 1453 M, Majapahit mengalami kekosongan pemimpim dari tahun 1453-1456 M. Hal ini dikarenakan peristiwa perebutan kekuasaan antar Suryawirakrama dan Samarawijaya (Putra sulung Wuijayakumara atau menantu Suryawikrama)[8]. Dalam peristiwa ini dimenangkan Suryawikrama dan ia berhasil naik takhta sebagai Raja Majapahit dengan gelar Girishawardhana Dyah Suryawirakrama[9].
4)      Pemberontakan Bhre Kertabhumi
Seusai kepemimpinan Girishawardhana pada tahun 1466 M, tahta Kerajaan Majapahit diduduki olek Singhawikramawardhana. Sesame kepemimpinannya terjadilah pemberontakan yang dilakukan oleh Bhre Kertabumi, ia merasa berhak atas warisan takhta Majapahit. Pemberontakan yang dilakukan pada tahun 1474 M membawa hasil yang gemilang[10]. Hingga Singhawikramawardhana melarikan diri dari Majapahit yang beribu kota di Majakerta menuju Dhaha ( Ibu Kota Kediri sekarang )[11].
5)        Pemberontakan Girindrawardana
Girindrawardana melakukan pemberontakan terhadap Bhre Kertabumi dan berhasil membuhanguskan Istana Majapahit di Majakerta dan memindahkannya ke Dhaha. Di sana, Ia menjadi Raja Majapahit drngan gelar Sri Wilwatika Jenggala-Kediri[12].
6)        Perebutan Legitimasi sebagai Pewaris Majapahit
Runtuhnya Majapahit yang beribu kota di Majakerta  memicu Raden Patah (Sultan Jin-Bun) penguasa Kesultanan Demak (1478-152 M) yang merupakan Bhre Kertabumi, berhasrat mendapatakan legitimasi pewaris takhta Majapahit[13]. Hal ini menimbulkan peperangan antara Demak dan Majapahit tidak dapat dihindari. Pasukan Demak berhsil mengalahkan dan merebut kekuasaan Majapahit dari tangan Girindrawardhana.
Sepeninggalan Raden Patah (1518 M), Girindrawardhana melakukan kerjasama dengan Protugis untuk melakukan pemberontakan terhadap Kesultanan Demak yang saat itu di pimpin oleh Sultan Tenggrono. Pada tahun 1524 M, perang antar Demak dan Majapahit pecah lagi dan berakhi pada tahun 1527 M. Kesultanan Demak berhasil menaklukakan Majapahit yang dipimpin oleh Sunan Kudus. Dengan demikian, Kerajaan Majapahit berakhir.
C. Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Majapahit
Sebagai salah satu kerajaan terbesar di Indonesia, kerajaan Majapahit meninggalkan banyak peninggalan peninggalan yang unik, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Peningalan kerajaan Majapahit yang telah diungkapkan oleh para ahli sejarah, hanya sebagian dari banyaknya peninggalan yang ditinggalkan oleh kerajaan yang mencapai masa keemasannya pada kepemimpinan raja Hayam Wuruk.
     Masih banyak lagi peninggalan kerajaan Majapahit yang masih menjadi misteri, sebagaimana banyak hal tentang kerajaan ini yang belum terungkap sampai sekarang. Berikut beberapa peninggalan kerajaan Majapahit.
1.    Candi Wringin Lawan
               Candi ini mirip dengan bangunan gapura agung yang berbahan batu merah dan memiliki luas dasar 13×11 meter dengan tinggi 15,5 meter. Arsitektur candi merupakan “candi terbelah” yang sampai saat ini sudah banyak ditiru pada gaya arsitektur Bali.
            Kegunaan utama candi ini sebagai pintu gerbang menuju kawasan utama di Ibukota Majapahit. Tempatnya nampak dari jalan utama Surabaya-solo, yang berada di wilayah Brangkal sebelum masuk ke Trowulan sehingga sangat mudah ditelurusi jika teman-teman mau melihatnnya.
2.    Candi Brahu
            Letak Candi Brahu ini terdapat di daerah Bejijong, Trowulan yang sekarang ini sebagai pusat pengrajin kuningan dan Patung Batu. Candi Brahu tersebut sebagai bangunan suci untuk beribadah yang digunakan dalam memuliakan para anggota keluarga kerajaan yang telah meninggal dunia.
               Konon ceritanya 4 raja dari kerajaan Majapahit yang meninggal diprabukan atau dikremasi di samping bangunan candi Brahu.
3.    Candi Gendong
               Candi Gentong saat ini masih proses tahapan restorasi, sehingga dar bentuknya masih terlihat reruntuhan bangunan. Candi ini belum dapat dijadikan sebagai tempat wisata peninggalan kerajaan zaman dulu. Dan tempat Candi Gentong ini berada tidak jauh dari Candi Brahu.
4.    Candi Tikus
               Candi Tikus terkenal dengan kolam pemandian ritual (petirtaan) yang mempunyai bentuk bangunan kolam bujur sangkar yang berukuran 22,5 x 22,5 meter. Terdapat arsitektur teras-teras persegi dengan penyusunan konsentris pada mahkota menara-menara yang dijadikan titik tertinggi pada bangunan candi Tikus. Di bagian utara terdapat tangga menuju ke dasar bangunan kolam.
Dinding selatan yang menonjol dari struktur utama sebagai tiruan dari bentuk gunung legendaris Mahameru. Konon katanya kolam ini dijadikan sebagai tempat pemandian putri raja-raja Majapahit, yang lebih dikenal dengan nama Candi Tikus karena pada masa itu candi ini menjadi sarang tikus yang memakan tanaman sawah milik masyarakat sekitar.
5.    Candi Bajang Batu
               Lokasi Candi Bajang Batu sangat dekat dari Candi Tikus, yang beebentuk bangunan ramping dan mempesona. Candi ini memiliki arsitektur gapura paduraksa dengan tinggi 16,5 meter.
               Pada bagian atapnya terdapat aksesoris bangunan yang dilengkapi dengan hiasan ukiran agak rumit dan detail. Istilah nama Bajang ratu dalam bahasa Jawanya yaitu “Raja Kecil” penduduk sekitar mengaitkan dengan raja kedua Majapahit yaitu Jayanegara.
               Pada masa itu, Konon katanya Jayanegaraa waktu kecil pernah jatuh di tempat itu, dan cerita lainnya karena Raja Jayanegara naik tahta pada usia masih muda. Sedangkan para pakar sejarah sendiri mengaitkan candi tersebut sebagai penghormatan kepada Raja Jayanegara yang telah meninggal pada tahun 1328 Masehi.
6.    Candi Minak Jinggo
               Bentuk bangunan ini sangat unik, namun yang tersisa tinggal reruntuhannya saja. Bangunan candi ini menggunakan kombinasi dari batu adesit sebagai lapisan luar dan batu bata pada bagian dalam.
               Pada bangunan ini juga ditemukan qilin pada ukiran yang berbentuk arca. Sebagai informasi, qilin merupakan makhluk ajaib bagi bangsa Cina. Dari penemuan ini, diyakini akan adanya hubungan yang terjalin antara dinasti ming Cina dengan kerajaan Majapahit.
7.    Candi Kedaton
               Bangunan Candi kedaton sudah luluh lantah sehingga para ahli kesulitan untuk mendeskripsikannya. Sehingga wujud dari candi ini pun sapai sekarang masih menjadi salah satu misteri dari berbagai misteri kerajaan Majapahit.
               Pada sekeliling bangunan candi ini juga telah ditemukan bangunan lain berupa candi, sumur upas, lorong rahasia, makam rahasia, dan beberapa mulut gua. Ada dugaan dari beberapa ahli sejarah bahwa daerah kedaton ini, dulunya merupakan wilayah ibu kota kerajaan Majapahit.
8.    Candi Grinting
               Candi ini terletak di pelosok desa, tepatnya di dusun Griting, Jatirejo, sehingga candi ini termasuk candi yang kurang mendapat sorotan dari masyarakat.
     Akses ke candi ini termasuk sulit mejadi salah satu sebab candi ini jarang dikunjungi masyarakat. Sekarang candi ini tinggal berupa reruntuhan, sehingga bentuknya sulit digambarkan.
9.    Pendopo Agung
               Bangunan pendopo ini hanya berupa umpak-umpak besar yang merupakan sisa dari bangunan pendapa agung. Dulu pendopo ini dijadikan sebagai tempat menemui para tamu yang datang menemui raja Majapahit.
               Sekarang bangunan ini sudah menjadi pendapa yang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Sebuah batu miring ditemukan di bagian belakang pendapa, yang diyakini sebagai tempat patih Gajah Mada mengikrarkan sumpahnya, yaitu sumpah palapa.Adanya kompleks makam pendiri kerajaan Majapahit Raden Jaya Wijaya, menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang membuat masyarakat ramai ramai mengunjungi tempat pendopo agung ini.
10.    Situs Lantai Segi Empat
               Sebenarnya situs ini hanyalah berupa sisa sisa reruntuhan bangunan rumah dengan berbagai keunikan. Salah satu keunikan pada situs ini, yaitu paving blok segi enam yang merupakan lantai kuno yang terbuat dari tanah liat halus yang dibakar, ukurannya 34 x 29 x 6.5 cm.
11.    Kolam Segaran
               Asal mula nama segaran ialah ‘segara’ yang artinya ‘laut’ dalam bahasa jawa. Kolam ini berfunsi sebagi sumber air bagi masyarakat kerajaan Majapahit, serta sebagai tempat jamuan bagi para tamu kerajaan.
12.    Alun Alun Watu Umpak
               Alun alun Watuk merupakan sebuah bangunan yang terdiri dari susunan sejumlah batu umpak besar yang tersusun rapi. Ada dugaan bahwa situs ini merupakan bangunan milik kerajaan Majapahit.
13.    Makam Putri Campa
               Letak makam candi putri campa ada disekitar candi menak jinggo. Pemakaman ini merupakan salah satu dari pemakaman islam kuno. Putri Campa sendiri adalah istri atau selir seorang Raja Majapahit pada periode akhir.
               Bila dilihat dari bentuk makam tersebut, Putri Campa diyakini menganut Agama islam, dan konon katanya ia berhasil mengajak raja terakhir Majapahit untuk memeluk agama islam. Beliau Wafat pada tahun 1448 M.
14.    Makam Troloyo
               Tempat ini juga merupakan salah satu dari pemakaman islam kuno yang ada di Indonesia. Rata rata batu nisan di tempat ini bertulisakan tahun 1350 – 1478 M. Makam ini menjadi salah satu bukti bahwa penganut agama islam yang mulia sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit.
15.    Siti Inggil
               Tanah ini terletak di sekitar candi Brahu, yang memiliki arti tanah tinggi yang merupakan tanah yang di agungkan. Menurut ahli sejara, siti inggil yang merupakan sebuah punden, dahulu pernah dipilih dan dijadikan oleh Raden Wijaya sebagai tempat pertapaan.







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
                 Kerarajaan Majapahit berdiri setelah kehancuran Kerajaan Singasari. Berdasarkan berbagai sumber yang ada Kerajaan Majapahit didirak oleh Kertanegara. Namun, sumber lain mengatakan bahwa pendiri kerajaan ini adalah Raden Wijaya. Tetapi berdasarkan Pararaton yang ditulis pada abad ke-15 M mengatakan bahwa pada saat itu belum ada penyebutan nama Raden belum ada. Berdasarkan Negarakertagama yang ditulis pada abad ke-14 M menyebutkan pendiri Kerajaan Majapit adalah Dyah Wijaya, dimana penyebutan nama Dyah adalah sebutan nama Raden pada saat itu.
                 Kerajaan Majapahit didirikan sejak tahun 1294-1527 M, selama ± 233 tahun, 184 tahun sebagai kerajaan yang merdeka, dan 49 tahun sebagai negara bawahan. Selama itu kerajaan ini dipimpin oleh 13 Raja dan 2 penguasa post-period. Pemerintahan Majapahit mengalami masa kejayaan atau kemasan ketika Majapahit berada dibawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Gajah Mada merupakan seorang patih Majapahit yang terkenal dengan melakukan Sumpah Palapa, yang menyatakan bahwa dia tidak akan manakan buah palapa, sebelum menyatukan Nusantara. Sumpah ini menjadi pemacu utuk memperluaskan wilayah kekuasaan Majapahit yang hampir meliputi seluruh Nusantara.
                 Sepeninggalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada pada tahun 1398 M, menyebabkan Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan berakhir kehancuran. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ialah tidak adanya pengganti Raja yang cakap dan adanya perang saudara dalam merbutkan takhta kekuasaan Majapahit. Perang saudara ini lebih dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, perang ini terjadi pada tahun 1406 M, pasukan Istana Majapahit Barat yang dipimpin oleh Bhre Tumapel (putra Gagak Sali) menyerbu Istana Majapahit Timur. Akibatnya Bhre Wirabumi mengalami kekalahan dan melarikan diri. Namun, Bhre Wirabumi berhasil ditagkap dan dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh Bhra Narapati (Raden Gajah) yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya’ Untuk mengenang arwah Bhre Wirabumi dibuatkanlah candi di Lung dengan nama Girisa Pura.
                 Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan terbesar di Pulau Jawa memiliki berbagai peninggalan-peninggalan yang sampai sekarang masih dapat kita temui. Diantara peninggalannya adalah Candi Wringi, Candi Lawan, Candi Brahu, Candi Gendong, Candi Tikus, Candi Bajang Batu, Candi Minyak Jinggo, Candi Kedaton, Candi Griting, Pendopo Agung, Situs Lantai Segi Empat, Kolam Segaran, Alun-Alun Watu Umpuk, Makan Putri Campa, Makan Troloyo, dan Siti Inggil.






DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari Buku :
Achmad, Sri Winata.2016.Politik Dalam Sejarah Kerajaan Jawa.Yogyakarta:Araska
Muljana, Slamet.2013.Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantar.Yogyakarta:LKiS
Soekmono.1973.Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta:Kanisius
Abimanyu, Soedjipto.2014.Babad Tanah Jawi.Yogyakarta:Laksana

Sumber dari Internet :
Setyawan, Doni. 2016. Kejayaan dan Kemunduran Majapahit.
http://www.donisetyawan.com/2076-2/&grqid:yaJOScGl&s=1&jl=id-ID Diakses Sabtu, 03 Maret 2018 pukul 20.00 WIB


[1] Slamet Muljayana, 2013, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbunya Negara Negara Islam di Nusantara, hlm.32
[2] Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulya Negara Negara Islam di Nusantara, hlm.20
[3] Ibid, hlm.20
[4] Ibid, hlm. 20
[5] Sri Winata Achmad, 2016, Politik Dalam Sejarah Kerajaan Jawa, hlm.148
[6] Politik Dalam Kerajaan Jawa, hlm.149
[7] Ibid, hlm.150
[8] Ibid, hlm. 152
[9] Ibid, hlm.152
[10] Ibid, hlm.152
[11] Ibid, hlm.152
[12] Ibid, hlm.153
[13] Ibid, hlm.153

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...