KALAM MENURUT PARA AHLI
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam
Dosen pembimbing : Pak Ali Mashar, S.Pd.I., M.Hum
Disusun Oleh :
Ilham Ade Kurniawan (173231050)
Muhammad Alfani Ilham (173231068)
Apriska Trifiana Rusadi (173231069)
Nur Khasanah (173231073)
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Ilmu kalam atau teologi dari masa ke masa mengalami perkembangan yang cukup pesat, banyak tokoh-tokoh pemikiran ilmu kalam yang bermunculan. Dan memiliki argument yang berbeda-beda, sehingga persoalan-persoalan yang mengenai tentang ilmu kalam atau teologi itu sendiri semakin serius untuk dibahas. Karena dari permasalahan tersebut akan memicu timbulnya pemikiran-pemikiran yang baru dan tanggapan dari berbagai tokoh-tokoh ilmu kalam itu seperti Muhammad Abduh, Muhammad bin Abdul Wahab dan Syah Waliyullah. Banyaknya tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang yang berbeda sehingga banyak pula pemikiran-pemikiran dari mereka yang berbeda tentang permasalahan ilmu kalam ini.
Dari semua tokoh pemikiran ilmu kalam yang bermunculan. Banyak juga pemikiran-pemikiran tentang kalam menurut para tokoh misalnya Muhammad Abduh menjelaskan tentang pemikiran akal, syariat dan kebebasan akal, risalah islam dan agama-agama sebelumnya, rasionalisasi keimanan, kekuasaan dan kehendak tuhan, kalam liahi dan kalam nafsi, menurut Miuhammad bin Abdul Wahab menjelaskan tentang memurnikan tauhid islam dan menurut Syah Waliyullah menjelaskan tentang tauhid, kenabian dan wahyu, perbuatan manusia, iman dan kufur, wujud tuhan, penciptaan alam dan alam misal.
Maka dari itu, kalam menurut para ahli sangat menarik untuk dipelajari, sehingga kami mengangkat judul ini untuk dibentuk sebuah makalah yang diambil dari beberapa bahan paper untuk melengkapi tugas ilmu kalam kami.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana riwayat hidup Muhammad Abduh?
Bagaimana kalam Muhammad Abduh?
Bagaimana riwayat hidup Muhammad bin Abdul Wahab?
Bagaimana kalam Muhammad bin Abdul Wahab?
Bagaimana riwayat hidup syah waliyullah?
Bagaimana kalam Syah Waliyullah?
TUJUAN
Mengetahui riwayat hidup Muhammad Abduh
Mengetahui kalam Muhammad Abduh
Mengetahui riwayat hidup Muhammad bin Abdul Wahab
Mengetahui kalam Muhammad bin Abdul Wahab
Mengetahui riwayat hidup syah waliyullah
Mengetahui kalam Syah Waliyullah
BAB II
PEMBAHASAN
Riwayat hidup Muhammad Abduh
Periode Pertumbuhan
Periode ini dimulai dari tahun 1849 yang diduga sebagai tahun kelahiran Muhammad Abduh, sampai dengan tahun 1877. Perihal kelahirannya, Ia lahir pada tahun 1265 H bertepatan dengan tahun 1848 M di sebuah desa di Propinsi Gharbiyyah. Ayahnya bernama ‘Abduh Ibn Hasan Khair Alloh. Ia terlahir dalam lingkungan keluarga petani yang sederhana, taat dan cinta Ilmu pengetahuan. Orang tuanya berasal dari kota Mahallat Nasr. Ibu Muhammad Abduh menurut riwayat berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya meningkat sampai ke suku bangsanya Umar bin Khattab.
Masa pendidikannya dimulai dengan pelajaran dasar membaca dan menulisyang didapatkan dari orang tuanya sendiri. Kemudian sebagai lanjutan ia belajar Qur’an pada seorang hafidz. Dalam masa ini Muhammad Abduh telah menunjukkan kemampuannya. Hanya dalam waktu dua tahun, seperti yang dikatakannya, ia telah mejadi seorang hafidz yang mampu menghafal seluruh si al-Qur’an. Pendidikan selanjutnya di tempuh di Thanta, sebuah lembaga pendidikan Masjid Ahmadi. Di tempat ini ia mengikuti pelajaran yang diberikan dengan rasa tidak puas, bahkan membawanya pada rasa putus asa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seperti yang diharapkannya. Perasaan yang demikian berpangkal dari metode pengajaran yang diterapkan di sekolah tersebut yang mementingkan hafalan tanpa pengertian, sama halnya dengan metode pengajaran yang umumnya diterapkan di dunia Islam ketika itu. Muhammad Abduh sebagai seorang yang kritis merasakan tidak efektifnya metode yang demikian. Pendapatnya demikian terbukti dengan kembalinya ia ke Mahallat Nashr, hidup sebagai petani dan kemudian ia kawin dalam usia 16 tahun.
Langkah yang diambil Muhammad Abduh pun tidak disetujui oleh kedua orang tuannya. Meskipun ia mengajukan berbagai alasan, namun sikap tegas dari kedua orang tuanya tidak teratasi, sehingga akhirnya perintah tersebut terpaksa diturutinya. Di tengah perjalanan pulang, ia berbelok arah ke tempat lain, ke sebuah desa yang sudah dikenalnya, tempat tinggal salah seorang paman orang tuanya yang bernama Syekh Darwys, penganut Tarekat Syaziliah dan bermazhab Maliki. Syekh Darwys menjadi guru baginya yang membimbing dengan tekun untuk menumbuhkan kembali sikap cintanya pada ilmu dan mengarahkannya pada kehidupan sufi. Kehidupan sufi yang dimulainya ditempat itu tidak ditekuninya lagi dan dengan semangat baru yang ditanamkan Syekh Darwys padanya ia kembali ke Thanta pada akhir 1286 H. akan tetapi enam bulan kemudian ia kemali meninggalkan Thanta dan kali ini ia menuju al-Azhar, setelah ia beroleh ilham bahwa al-Azhar adalah tempat mencari ilmu yang sesuai untuknya.
Di al-Azhar ia hanya mendapatkan pelajaran agama dan ia pun menemukan metode pengajaran yang sama sewaktu di Thanta kala itu. Hal ini kemudian membuatnya kecewa. Tahun 1871 merupakan tahun yang mempunyai arti penting bagi perjalanan karirnya. Di tahun itulah ia bertemu dengan Sayyid Jamaluddin Al Afghani yang datang ke Mesir pada tahun itu. Selain dari Jamaluddin Al Afghani ilmu ynag didapatkan ia juga mendapatkan metode pengajaran yang selama ini ia inginkan, sehingga ia lebih giat dan setia mengikuti kuliah-kuliah yang diberikan gurunya, Jamaluddin al Afghani itu.
Meskipun ia aktif mencari ilmu pengetahuan di luar al Azhar, akan tetapi di al Azhar sendiri ia tidak melalaikan tugasnya sebagai mahasiswa. Pada yahun 1877 ia berhasil menyelesaikan studinya dengan mendapat gelar ‘alim dan berhak mengajar di universitas tersebut. Akan tetapi pengetahuan yang dimilkinya tidak terbatas pada pengetahuan keagamaan. Ia berhasil memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu yag lain, dan dengan ilmu-ilmu itulah ia tampil di depan publik sebagai guru dan penulis yang produktif.
Periode Penampilan di Depan Publik
Periode ini dimulai dari tahun 1877, setelah Muhammad Abduh menyelesaikan studinya, sampai tahun 1882 ketika ia diasingkan ke Beirut karena keterlibatannya dalam masalah politik. Periode ini meliputi dua kegiatan, yaitu sebagai guru dan sebagai penulis. Karirnya sebagai guru ditempuhnya di tiga lembaga pendidikan formal yaitu al Azhar, Dar al-Ulum dan Perguruan Bahasa Khedevi. Ia mengajarkan berbagai mata pelajaran di sekolah tersebut, seperti teologi, sejarah, ilmu politik dan kesustraan Arab. Tampaknya ada dua hal yang ditekankannya dalam memberikan pengajaran, yaitu metode diskusi yang diwarisinya dari gurunya Jamaluddin dan semnagat pembaharuan yang ditanamkannya dalam setiap mata pelajaran. Tujuan pengajaran yang demikian barangkali yang menjadi salah satu sebab ia dicurigai oleh Khedewi.
Dengan alasan tidak mendukung kebihaksanaan yang diambil oleh pemerintah dalam bekerjasama dengan Inggris, akhirnya ia tidak lahi diizinkan memberi pelajaran di Dar al-‘Ulum dan Perguruan Bahasa. Sampai disini karirinya sebagai guru di kedua perguruan tersebut terhenti, tetpi di bidang lain karirnya semakin menanjak, lebih-lebih setelah ia diangkat sebagai pimpinan redaksi surat kabar al-Waqai’ al Mishriah yang merupakan salah satu organ pemerintah. Perjalanan karir Muhammad Abduh tidak hanya didapatkannya di negeri Mesir, tetapi juga di luar negeri dan bukan saja dengan kalangan islam, tetapi juga dengan para tokoh politik dan ilmuwan yang beragama lain. Pengalaman-pengalaman itulah yang dibawanya memasuki babak baru dalam kehidupannya setelah ia kembali ke luar negeri Mesir.
Kalam Muhammad Abduh
Kedudukan Akal dan Fungsi Wahyu
Membebaskan akal pikiran dan belenggu-belenggu taklid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haknya salaf al-ummah, sebelum timbunlnya perpecahan, yakni memahami secara langsung dari sumber pokoknya, Al Qur’an
Memperbaiki gaya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-kantor pemerintah maupun dalam tulisan di media massa.
Kebebasan Manusia dan Fatalisme
Bagi Muhammad Abduh, manusia selain memiliki daya pikir, manusia juga mempunyai kebebasan memilih yang merupakan sifat dasar alami yang ada dalam diri manusia. Kalau sifat dasar ini dihilangkan dari dirinya ia bukan lagi manusia, tetapi makhluk lain. manusia dengan akalnya mampu mempertimbangkan akibat perbuatan yang dilakukannya, kemduian mengambil keputusan dengan kemaunnya sendiri, dan selanjutnya mewujudkan perbuatannya itu dengan daya yang ada dalam dirinya. Sehingga, pemahaman Jabariyah, atau faham perbuatan yang dipaksakan manusia tidak sejalan dengan pemikiran Muhammad Abduh.
Sifat-Sifat Tuhan
Dalam Risalah, ia menyebutkan sifat-sifat Tuhan. Adapun mengenai masalah apakah sifat itu termasuk esensi Tuhan atau yang lain. ia menjelaskan bahwa hal itu terletak di luar kemampuan manusia.
Kehendak Mutlak Tuhan
Karena yakin akan kebebasan dan kemampuan manusia, Abduh melihat bahwa Tuhan tidak bersifat mutlak. Tuhan telah membatasi kehendak mutlak-Nya dengan memberi kebebasan dan kesanggupan kepada manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Kehendak mutlak Tuhan pun dibatasi oleh sunnatullah yang telah ditetapkannya. Didalamnya terkandung arti bahwa Tuhan dengan kemauan-Nya sendiri telah membatasi kehendak-Nyak dengan sunnatullah yang diciptakan-Nya untuk mengatur alam ini.
Keadilan Tuhan
Ia berpendapat bahwa alam ini diciptakan untuk kepentingan umat manusia dan tidak satupun ciptaan Tuhan yang tidak membawa manfaat bagi manusia. Adapun masalah keadilan Tuhan, Ia memandang bukan hanya dari segi kemahasempurnaan-Nya, tetapi juga dari pemikiran rasional manusia. Sifat ketidakadilan tidak dapat dapat diberikan kepada Tuhan karena ketidakadilan tidak sejalan dengan kesempurnaan aturan alam.
Antropomorfisme
Ia berpendapat bahwa tidak mungkin esensi dan sifat-sifat Tuhan mengambil bentuk tubuh atau roh makhluk di alam ini. Kata-kata wajah, tangan, duduk, dan sebagainya mesti dipahami sesuai dengan pengertian yang diberikan orang Arab kepadanya.
Melihat Tuhan
Ia berpendapat bahwa orang yang percaya pada tanzih (keyakinan bahwa tidak ada satupun dari makhluk yang menyerupai Tuhan) sepakat mengatakan bahwa Tuhan tak dapat digambarkan ataupun dijelaskan demgan kata-kata. Kesanggupan melihat Tuhan dianugerahkan hanya kepada orang-orang tertentu di akhirat.
Perbuatan Tuhan
Karena berpendapat bahwa ada perbuatan Tuhan yang wajib, Abduh sepaham dengan Mu’tazilah dalam mengatakan bahwa wajib bagi Tuhan untuk berbuat apa yang terbaik bagi manusia.
Riwayat hidup Muhammad bin Abdul Wahab
Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb mempunyai nama lengkap yaitu, Abû ‘Abd Allâh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb ibn Sulaymân Abû ‘Alî bin Muhammad ibn Ahmad ibn Rasyîd al-Tamîmî (Al-Jundul, 1979:120). Dilahirkan di kota Uyainah pada tahun 1115H/1703M, ditengah keluarga berilmu, pada usia 10 tahun Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb sudah hafal Al Qur’an, ia pun belajar fikih dari Sayyid Muhammad Hayat As Sannadi dan Syaikh Al Bukhari Abdullah bin Ibrahim bin Yusuf Ali Yusuf. Selama 2 bulan, ia menentang keras praktik-praktik khufarat yang dilakukan penduduk di kampung halamannya, seperti bertawasul kepada para Nabi dan Wali tak jarang ia melihat penduduk disekitar memohon pertolongan dimakam Rosulullah SAW, Ia pun berkata kepada gurunya Sayyid Muhammad Hayat As Sannadi. “Sesungguhnya mereka akan dihancurkam (oleh kepercayaan) yang dianutnya dan akan sia-sia apa yang telah merek kerjakan” (Al A’raf : 139). Kondisi umat yang telah rusak tauhidnya itulah yang tampaknya mendorong Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb untuk memperbaikinya lewat pemikiran dan ajaran-ajarannya.
Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb dengan gerakannya untuk memurnikan ajaran Islam, khususnya dalam bidang tauhid sebagai ajaran pokok Islam, tidak ingin mengubah ajaran Islam dengan penafsiran baru terhadap wahyu, melainkan membawa misi memberantas unsur-unsur luar dari ajaran Islam, seperti bidah, khufarat, dan takhyul yang masuk ke dalam ajaran Islam. Dengan demikian, ia bermaksud mengajak umat Islam agar kembali kepada ajaran Islam yang murni (Antonius, 1939:22). Yang dimaksud dengan ajaran Islam yang murni itu ialah sebagaimana yang dianut dan dipraktekkan di zaman nabi, sahabat serta tabiin, yaitu sampai abad ke-3 Hijriah (Nasution, 1975:24).
Kalam Muhammad bin Abdul Wahab
Subtansi dakwah salafiyah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab biasa disimpulkan ke dalam 3 perkara:
Pertama, yang mengusik pikirannya sejak masih belia adalah masalah tawasul terhadap para Nabi, wali, dan orang-orang saleh. Termasuk pengultusan kuburan, pohon, bebatuan, dengan meminta bantuan kepadanya. Selain itu, menyakininya bias mendatangkan kebaikan dan menghilangkan keburukan. Kondisi ini sangat mengkhawatirkannya, karena orang-orang di Nejed sudah terbilang sangat bodoh, mundur, dan berlebihan di dalam mengultuskan semua itu.
Menurutnya, semua itu bertentangan dengan Tauhid. Sebab, hanya Allah jualah yang bias mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Dia sajalah yang berhak disembah. Dan, hanya kepada-Nya lah saja seharusnya orang-orang meminta apa saja yang diinginkan.
Kedua, yang diperangi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya hingga kini adalah persoalan tasawuf dan filsafat secara umum, tanpa diverifikasi antara filsafat sunni dan salafi yang bersumber dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan suluk para sahabat. Jadi, tidak ada perbedaan antara filsafat yang diakui jumhur ulama ahlus sunnah degan tasawuf falsafi yang menyuarakan al-hulul, al-ittihad, dan wihdah al-wujud.
Ketiga, penolakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya hingga kini untuk menakwilkan Al-Qur’an. Alih-alih, mereka membiarkan ayat yang berbicara tentang zat Allah apa adanya secara tekstual.
Inilah ketiga persoalan keyakinan yang dipegang teguh oleh wahabi. Pemikiran ini mendapat penentangan dari kalangan ulama, mayoritas di antara mereka berasal dari Ahlu Sunnah wal Jamaah. Artinya, berasal dari rumpun yang sama dengan Wahabi, yaitu Salafi. Terdapat puluhan buku dan risalah yang menyanggah pemikiran wahabi, disertai dalil-dali dari Al-Qur’an, Sunnah, dan perbuatan sahabat.
Riwayat hidup syah waliyullah
Nama lengkap dari Syah Waliyullah adalah Qutb ad-Din Ahmad ibn asy-Syah ‘Abd ar-Rahim ibn Wajih ad-Din asy-Syahid ibn Muqaddam ibn Mansur ibn Ahmad ibn Mahmud ibn Qiwam ad-Din. Yang sering disebut dengan Syah Wali Allah ad-Dahlawi. Ad-Dahlawi lahir pada tanggal 4 Syawal 1114 H/1703 M di Delhi dan meninggal pada tahun 1176 H/1762 M.
Gelar yang diperoleh dari gelar Syah ini menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga terhormat, gelar Wali Allah dan Qutb ad-Din artinya dapat dipercaya yang diberikan oleh Ayah Abd ar-Rahim atau ayahnya sendiri yang ia peroleh dari mimpi dan dari pesan dari Qutb ad-Din Bakhtiyar Ka’ki bahwa nantinya akan diberi putra yang saleh, Qutb ad Din Bakhtiyar Ka’ki merupakan wali yang paling menonjol saa itu dan memberi pesan kepada Abd ar-Rahim agar anaknya diberi nama Wali. Kemudian Abd ar-Rahim benar mengikuti pesan tersebut dan memberi nama putranya dengan nama anaknya Qutb ad-Din yang kemudian setelah dewasa terkenal dengan Wali Allah.
Ia dibekali ilmu-ilmu keislaman yang diajari oleh ayahnya sendiri dan ia juga belajar di madrasah dan pada umur 7 tahun ia sudah hafal Al-Qur’an seluruhnya. Setelah itu ia pergi ke Hijaz untuk memperdalam ilmu keagamaannya seperti fiqh, tasawuf, hadis, dll. Setelah 14 bulan lamanya atu ;enih tepatnya pada tahun 1145 H. Ad-Dahlawi kembali ke India dan mulai melakukan gerakan pembaharuan di India. Ia juga menjadi guru dan membuat beberapa karya diantaranya Hujjah Allah al Baligah, al-Fawz al-Kabir fi Usul at-Tafsir, al-Insaf fi Bayan as-Asbab al-Ikhtilaf, dsb.
Kalam Syah waliyullah
Diantara pemikiran-pemikiran Syah Waliyullah mengenai teologi atau ilmu kalam adalah sebagai berikut :
Tauhid
Menurut ad-Dahlawi, tauhid adalah dasar dari segala amal kebaikan bagi manusia. Beliau berkata bahwa tauhid itu mempunyai 4 tahapan yaitu :
Bahwa yang wajib adanya hanyalah Allah semata.
Yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya adalah Allah.
Yang mengatur dan menguasai langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada didalamnya hanya Allah.
Yang berhak disembah hanya Allah semata.
Kenabian dan Wahyu
Menurut ad-Dahlawi kenabian bukan merupakan seuatu yang dapat diperoleh melalui latihan fisik atau pembawaan sejak lahir. Tabiat kenabian merupakan derajat yang paling tinggi yang diberikan kepada manusia pada suatu waktu saja.
Kehadiran seorang nabi berkaitan dengan kondisi dunia yang sudah parah dan terjadi kerusakan dimana-mana, sehingga Tuhan mengutus seorang nabi untuk menyelamatkan manusia dan mengembalikannya kepada kedamaian dan ketertiban.
Perbuatan Manusia
Menurut ad-Dahlawi, setiap manusia mempunyai dua kecenderugan yaitu baik dan buruk. Perbuatan manusia tergantung kepada manusia sendiri untuk memilih atau mengikuti salah satu dari kecenderungan tersebut. Namun demikian, daya manusia untuk melakukan perbuatan adalah atas dorongan Ilahi sesuai keridaannya.
Artinya, manusia tidak terpaksa melakukan perbuatan, karena hal itu menjadikan Tuhan bersifat tirani, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa manusia memiliki ketetapan secara mutlak untuk melakukan perbuatannya. Manusia berbuat baik dengan pertologan Tuhan yang telah diterimanya melalui perintahNya dan manusia berbuat buruk karena ia mengingkari perintah Tuhannya.
Iman dan Kufur
Dalam hal iman, ad-Dahlawi berpendapat bahwa iman dibagi menjadi 2 yaitu iman yang berkaitan dengan hukum didunia, artinya iman yang berkaitan dengan yang terlihat saja dan iman yang berkaian dengan hukum di akhirat seperti selamat dari siksa neraka. Iman yang kedua ini harus diperoleh dengan keyakinan yang benar, dengan beramal saleh dan disertai akhlak yang baik.
Dengan demikian, iman bukanlah sekedar kepercayaan, tetapi harus disertai dengan perbuatan.Kebalikan dari iman diatas adalah untuk yang pertama adalah munafik asli, jika ia tidak memiliki kepercayaan danhanya ingin selamat ari tebasan perang. Sedangkan untuk yang kedua adakah kufur. Orang munafik dan kufur akan disiksa oleh Allah, bahkan orang mjnafik akan mendapat siksa di ner2a yang paling bawah dan orang yang mempunyai kepercayaan tetapi tidak melakukan perbuatan baik, maka ia akan menjadi orang fasik.
Wujud Tuhan
Pada zaman ad-Dahlawi banyak dibicarakan mengenai konsep wujud Tuhan. Diantaranya adalah pendapat Imam Muhyi yang menggunakan konsep wahdatul wujud (unity of being) yang mengandung arti bahwa Tuhan pada hakekatnya wujud dalam dunia ini dan konsep Rabbani Ahmad Sirhindi yang menggunakan konsep wahdah asy-Syuhud yang artinya baha Tuhan seakan-akan wujud dalam dunia ini.
Ad-Dahlawi berpendapat bahwa sebenarnya kedua konsep tersebut tidak ada perbedaan. Menurutnya, setiap wujud bukanlah semacam atribut dari Tuhan tetapi terdiri dari sifat-sifat yang non emanative.Bentuk itu hanya bergantung kepada Tuhan.
Penciptaan Alam
Menurut beliau,Allah berkaitan dengan wujudnya alam semesta ini memiliki 3 sifat yaitu Al Ibda, Al Halqu dan At Tadbir. “Al Ibda”adalah mewujudkan sesuatu dari tidak ada. “Al Halqu”adalah menciptakan sesuatu dari bahan materi. Sedangkan “At Tadbir”adalah Allah mengatur makhluk yang diciptakan dan menetapkan tujuan yang akan dicapai sesuai dengan hukum dan kemaslahatan yang sesuai dengan kewujudannya.
Alam Misal
Pandangan ad-Dahlawi mengenai hal ini adalahantara dunia fisik dan pencipta terdapat suatu dimana iradah Tuhan dalam bentuk perencanaan pertama-tama dipantulkan, kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk fisik. Semua wujud yang ada didunia ini pertama dipantulkan dari dunia spirit atau alam misal. Antara ruang dan waktu bukan merupakan dua kategoriyang terpisah tetapi merupakan kategori tunggal. Ruang dan waktu tidak dapat dipisahkan dan dengan demkian maka penciptaan akan terus berlanjut.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Riwayat hidup Muhammad Abduh di bagi menjadi dua yaitu periode pertumbuhan dan periode penampilan di depan publik. Pada periode pertumbuhan dimulai tahun 1849 karena merupakan tahun kelahiran Muhammad Abduh. Perihal kelahirannya, ia lahir pada tahun 1265 H bertepatan dengan tahun 1848 M di sebuah desa di Propinsi Gharbiyyah. Ayahnya bernama ‘Abduh Ibn Hasan Khair Alloh. Ia terlahir dalam lingkungan keluarga petani yang sederhana, taat dan cinta Ilmu pengetahuan. Sedangkan periode penampilan di depan publik dimulai dari tahun 1877, setelah Muhammad Abduh menyelesaikan studinya sampai tahun 1882 ketika ia diasingkan ke Beirut karena keterlibatannya dalam masalah politik. Periode ini meliputi dua kegiatan, yaitu sebagai guru dan sebagai penulis. Pemikiran kalam menurut Muhammad Abduh meliputi kedudukan akal dan fungsi wahyu, kebebasan manusia dan fatalism, sifat-sifat Tuhan, kehendak mutlak Tuhan, keadilan Tuhan, Antropomorfisme, melihat Tuhan dan perbuatan. Sedangkan menurut Muhammad bin Abdul Wahab pemikiran kalam itu meliputi penjelasan kemurnian tauhid. Selain itu ada juga menurut Syah Waliyullah pemikiran kalam itu meliputi tauhid, kenabian dan wahyu, perbuatan manusia, iman dan kufur, wujud Tuhan, penciptaan alam, dan alam misal.
DAFTAR PUSTAKA
Harun Nasution, 1975, PEMBAHASAN DALAM ISLAM Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: PT Bulan Bintang, hlm., 49.
Arbiyah Lubis, 1993, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh, Jakarta: Bulan Bintang, hlm., 111-113.
M.Ag., Anwar Rosihan, DR. 2007. Ilmu Kalam. Bandung:Pustaka Setia.
Syaikh Muhammad Abu Zuhrah, Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyyah fi As-Siyasah wa AlAqa’id wa At-Tarikh Al-Madzahib Al-Fiqhiyah, Dar Al-Fikr Al-Arabi, Kairo, 1996 M, hlm. 212.
Ash-Shawa’iq Al-Ilahiyyah, ibid, dari awal hingga akhir.