Selasa, 17 April 2018

MAKALAH KALAM MENURUT PARA AHLU

KALAM MENURUT PARA AHLI
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam
Dosen pembimbing : Pak Ali Mashar, S.Pd.I., M.Hum


Disusun Oleh :
Ilham Ade Kurniawan (173231050)
Muhammad Alfani Ilham (173231068)
Apriska Trifiana Rusadi (173231069)
Nur Khasanah (173231073)

SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Ilmu kalam atau teologi dari masa ke masa mengalami perkembangan yang cukup pesat, banyak tokoh-tokoh pemikiran ilmu kalam yang bermunculan. Dan memiliki argument yang berbeda-beda, sehingga persoalan-persoalan yang mengenai tentang ilmu kalam atau teologi itu sendiri semakin serius untuk dibahas. Karena dari permasalahan tersebut akan memicu timbulnya pemikiran-pemikiran yang baru dan tanggapan dari berbagai tokoh-tokoh ilmu kalam itu seperti Muhammad Abduh, Muhammad bin Abdul Wahab dan Syah Waliyullah. Banyaknya tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang yang berbeda sehingga banyak pula pemikiran-pemikiran dari mereka yang berbeda tentang permasalahan ilmu kalam ini.
Dari semua tokoh pemikiran ilmu kalam yang bermunculan. Banyak juga pemikiran-pemikiran tentang kalam menurut para tokoh misalnya Muhammad Abduh menjelaskan tentang pemikiran akal, syariat dan kebebasan akal, risalah islam dan agama-agama sebelumnya, rasionalisasi keimanan, kekuasaan dan kehendak tuhan, kalam liahi dan kalam nafsi, menurut Miuhammad bin Abdul Wahab menjelaskan tentang memurnikan tauhid islam dan menurut Syah Waliyullah menjelaskan tentang tauhid, kenabian dan wahyu, perbuatan manusia, iman dan kufur, wujud tuhan, penciptaan alam dan alam misal.
Maka dari itu, kalam menurut para ahli sangat menarik untuk dipelajari, sehingga kami mengangkat judul ini untuk dibentuk sebuah makalah yang diambil dari beberapa bahan paper untuk melengkapi tugas ilmu kalam kami.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana riwayat hidup Muhammad Abduh?
Bagaimana kalam Muhammad Abduh?
Bagaimana riwayat hidup Muhammad bin Abdul Wahab?
Bagaimana kalam Muhammad bin Abdul Wahab?
Bagaimana riwayat hidup syah waliyullah?
Bagaimana kalam Syah Waliyullah?

TUJUAN
Mengetahui riwayat hidup Muhammad Abduh
Mengetahui kalam Muhammad Abduh
Mengetahui riwayat hidup Muhammad bin Abdul Wahab
Mengetahui kalam Muhammad bin Abdul Wahab
Mengetahui riwayat hidup syah waliyullah
Mengetahui kalam Syah Waliyullah

BAB II
PEMBAHASAN
Riwayat hidup Muhammad Abduh

Periode Pertumbuhan
Periode ini dimulai dari tahun 1849 yang diduga sebagai tahun kelahiran Muhammad Abduh, sampai dengan tahun 1877. Perihal kelahirannya, Ia lahir pada tahun 1265 H bertepatan dengan tahun 1848 M di sebuah desa di Propinsi Gharbiyyah. Ayahnya bernama ‘Abduh Ibn Hasan Khair Alloh. Ia terlahir dalam lingkungan keluarga petani yang sederhana, taat dan cinta Ilmu pengetahuan. Orang tuanya berasal dari kota Mahallat Nasr. Ibu Muhammad Abduh menurut riwayat berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya meningkat sampai ke suku bangsanya Umar bin Khattab.
Masa pendidikannya dimulai dengan pelajaran dasar membaca dan menulisyang didapatkan dari orang tuanya sendiri. Kemudian sebagai lanjutan ia belajar Qur’an pada seorang hafidz. Dalam masa ini Muhammad Abduh telah menunjukkan kemampuannya. Hanya dalam waktu dua tahun, seperti yang dikatakannya, ia telah mejadi seorang hafidz yang mampu menghafal seluruh si al-Qur’an. Pendidikan selanjutnya di tempuh di Thanta, sebuah lembaga pendidikan Masjid Ahmadi. Di tempat ini ia mengikuti pelajaran yang diberikan dengan rasa tidak puas, bahkan membawanya pada rasa putus asa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seperti yang diharapkannya. Perasaan yang demikian berpangkal dari metode pengajaran yang diterapkan di sekolah tersebut yang mementingkan hafalan tanpa pengertian, sama halnya dengan metode pengajaran yang umumnya diterapkan di dunia Islam ketika itu. Muhammad Abduh sebagai seorang yang kritis merasakan tidak efektifnya metode yang demikian. Pendapatnya demikian terbukti dengan kembalinya ia ke Mahallat Nashr, hidup sebagai petani dan kemudian ia kawin dalam usia 16 tahun.
Langkah yang diambil Muhammad Abduh pun tidak disetujui oleh kedua orang tuannya. Meskipun ia mengajukan berbagai alasan, namun sikap tegas dari kedua orang tuanya tidak teratasi, sehingga akhirnya perintah tersebut terpaksa diturutinya. Di tengah perjalanan pulang, ia berbelok arah ke tempat lain, ke sebuah desa yang sudah dikenalnya, tempat tinggal salah seorang paman orang tuanya yang bernama Syekh Darwys, penganut Tarekat Syaziliah dan bermazhab Maliki. Syekh Darwys menjadi guru baginya yang membimbing dengan tekun untuk menumbuhkan kembali sikap cintanya pada ilmu dan mengarahkannya pada kehidupan sufi. Kehidupan sufi yang dimulainya ditempat itu tidak ditekuninya lagi dan dengan semangat baru yang ditanamkan Syekh Darwys padanya ia kembali ke Thanta pada akhir 1286 H. akan tetapi enam bulan kemudian ia kemali meninggalkan Thanta dan kali ini ia menuju al-Azhar, setelah ia beroleh ilham bahwa al-Azhar adalah tempat mencari ilmu yang sesuai untuknya.
Di al-Azhar ia hanya mendapatkan pelajaran agama dan ia pun menemukan metode pengajaran yang sama sewaktu di Thanta kala itu. Hal ini kemudian membuatnya kecewa. Tahun 1871 merupakan tahun yang mempunyai arti penting bagi perjalanan karirnya. Di tahun itulah ia bertemu dengan Sayyid Jamaluddin Al Afghani yang datang ke Mesir pada tahun itu. Selain dari Jamaluddin Al Afghani ilmu ynag didapatkan ia juga mendapatkan metode pengajaran yang selama ini ia inginkan, sehingga ia lebih giat dan setia mengikuti kuliah-kuliah yang diberikan gurunya, Jamaluddin al Afghani itu.
Meskipun ia aktif mencari ilmu pengetahuan di luar al Azhar, akan tetapi di al Azhar sendiri ia tidak melalaikan tugasnya sebagai mahasiswa. Pada yahun 1877 ia berhasil menyelesaikan studinya dengan mendapat gelar ‘alim dan berhak mengajar di universitas tersebut. Akan tetapi pengetahuan yang dimilkinya tidak terbatas pada pengetahuan keagamaan. Ia berhasil memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu yag lain, dan dengan ilmu-ilmu itulah ia tampil di depan publik sebagai guru dan penulis yang produktif.
Periode Penampilan di Depan Publik
Periode ini dimulai dari tahun 1877, setelah Muhammad Abduh menyelesaikan studinya, sampai tahun 1882 ketika ia diasingkan ke Beirut karena keterlibatannya dalam masalah politik. Periode ini meliputi dua kegiatan, yaitu sebagai guru dan sebagai penulis. Karirnya sebagai guru ditempuhnya di tiga lembaga pendidikan formal yaitu al Azhar, Dar al-Ulum dan Perguruan Bahasa Khedevi. Ia mengajarkan berbagai mata pelajaran di sekolah tersebut, seperti teologi, sejarah, ilmu politik dan kesustraan Arab. Tampaknya ada dua hal yang ditekankannya dalam memberikan pengajaran, yaitu metode diskusi yang diwarisinya dari gurunya Jamaluddin dan semnagat pembaharuan yang ditanamkannya dalam setiap mata pelajaran. Tujuan pengajaran yang demikian barangkali yang menjadi salah satu sebab ia dicurigai oleh Khedewi.
Dengan alasan tidak mendukung kebihaksanaan yang diambil oleh pemerintah dalam bekerjasama dengan Inggris, akhirnya ia tidak lahi diizinkan memberi pelajaran di Dar al-‘Ulum dan Perguruan Bahasa. Sampai disini karirinya sebagai guru di kedua perguruan tersebut terhenti, tetpi di bidang lain karirnya semakin menanjak, lebih-lebih setelah ia diangkat sebagai pimpinan redaksi surat kabar al-Waqai’ al Mishriah yang merupakan salah satu organ pemerintah. Perjalanan karir Muhammad Abduh tidak hanya didapatkannya di negeri Mesir, tetapi juga di luar negeri dan bukan saja dengan kalangan islam, tetapi juga dengan para tokoh politik dan ilmuwan yang beragama lain. Pengalaman-pengalaman itulah yang dibawanya memasuki babak baru dalam kehidupannya setelah ia kembali ke luar negeri Mesir.


Kalam Muhammad Abduh

Kedudukan Akal dan Fungsi Wahyu
Membebaskan akal pikiran dan belenggu-belenggu taklid yang menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haknya salaf al-ummah, sebelum timbunlnya perpecahan, yakni memahami secara langsung dari sumber pokoknya, Al Qur’an
Memperbaiki gaya bahasa Arab, baik yang digunakan dalam percakapan resmi di kantor-kantor pemerintah maupun dalam tulisan di media massa.
Kebebasan Manusia dan Fatalisme
Bagi Muhammad Abduh, manusia selain memiliki daya pikir, manusia juga mempunyai kebebasan memilih yang merupakan sifat dasar alami yang ada dalam diri manusia. Kalau sifat dasar ini dihilangkan dari dirinya ia bukan lagi manusia, tetapi makhluk lain. manusia dengan akalnya mampu mempertimbangkan akibat perbuatan yang dilakukannya, kemduian mengambil keputusan dengan kemaunnya sendiri, dan selanjutnya mewujudkan perbuatannya itu dengan daya yang ada dalam dirinya. Sehingga, pemahaman Jabariyah, atau faham perbuatan yang dipaksakan manusia tidak sejalan dengan pemikiran Muhammad Abduh.
Sifat-Sifat Tuhan
Dalam Risalah, ia menyebutkan sifat-sifat Tuhan. Adapun mengenai masalah apakah sifat itu termasuk esensi Tuhan atau yang lain. ia menjelaskan bahwa hal itu terletak di luar kemampuan manusia.
Kehendak Mutlak Tuhan
Karena yakin akan kebebasan dan kemampuan manusia, Abduh melihat bahwa Tuhan tidak bersifat mutlak. Tuhan telah membatasi kehendak mutlak-Nya dengan memberi kebebasan dan kesanggupan kepada manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Kehendak mutlak Tuhan pun dibatasi oleh sunnatullah yang telah ditetapkannya. Didalamnya terkandung arti bahwa Tuhan dengan kemauan-Nya sendiri telah membatasi kehendak-Nyak dengan sunnatullah yang diciptakan-Nya untuk mengatur alam ini.  
Keadilan Tuhan
Ia berpendapat bahwa alam ini diciptakan untuk kepentingan umat manusia dan tidak satupun ciptaan Tuhan yang tidak membawa manfaat bagi manusia. Adapun masalah keadilan Tuhan, Ia memandang bukan hanya dari segi kemahasempurnaan-Nya, tetapi juga dari pemikiran rasional manusia. Sifat ketidakadilan tidak dapat dapat diberikan kepada Tuhan karena ketidakadilan tidak sejalan dengan kesempurnaan aturan alam.
Antropomorfisme
Ia berpendapat bahwa tidak mungkin esensi dan sifat-sifat Tuhan mengambil bentuk tubuh atau roh makhluk di alam ini. Kata-kata wajah, tangan, duduk, dan sebagainya mesti dipahami sesuai dengan pengertian yang diberikan orang Arab kepadanya.
Melihat Tuhan
Ia berpendapat bahwa orang yang percaya pada tanzih (keyakinan bahwa tidak ada satupun dari makhluk yang menyerupai Tuhan) sepakat mengatakan bahwa Tuhan tak dapat digambarkan ataupun dijelaskan demgan kata-kata. Kesanggupan melihat Tuhan dianugerahkan hanya kepada orang-orang tertentu di akhirat.
Perbuatan Tuhan
Karena berpendapat bahwa ada perbuatan Tuhan yang wajib, Abduh sepaham dengan Mu’tazilah dalam mengatakan bahwa wajib bagi Tuhan untuk berbuat apa yang terbaik bagi manusia.

Riwayat hidup Muhammad bin Abdul Wahab
Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb mempunyai nama lengkap yaitu, Abû ‘Abd Allâh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb ibn Sulaymân Abû ‘Alî bin Muhammad ibn Ahmad ibn Rasyîd al-Tamîmî (Al-Jundul, 1979:120). Dilahirkan di kota Uyainah pada tahun 1115H/1703M, ditengah keluarga berilmu, pada usia 10 tahun  Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb sudah hafal Al Qur’an, ia pun belajar fikih dari Sayyid Muhammad Hayat As Sannadi dan Syaikh Al Bukhari Abdullah bin Ibrahim bin Yusuf Ali Yusuf. Selama 2 bulan, ia menentang keras praktik-praktik khufarat yang dilakukan penduduk di kampung halamannya, seperti bertawasul kepada para Nabi dan Wali tak jarang ia melihat penduduk disekitar memohon pertolongan dimakam Rosulullah SAW, Ia pun berkata kepada gurunya Sayyid Muhammad Hayat As Sannadi. “Sesungguhnya mereka akan dihancurkam (oleh kepercayaan) yang dianutnya dan akan sia-sia apa yang telah merek kerjakan” (Al A’raf : 139). Kondisi umat yang telah rusak tauhidnya itulah yang tampaknya mendorong Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb untuk memperbaikinya lewat pemikiran dan ajaran-ajarannya.
Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb dengan gerakannya untuk memurnikan ajaran Islam, khususnya dalam bidang tauhid sebagai  ajaran pokok Islam, tidak ingin mengubah ajaran Islam dengan penafsiran baru terhadap wahyu, melainkan membawa misi memberantas unsur-unsur luar dari ajaran Islam, seperti bidah, khufarat, dan takhyul yang masuk ke dalam ajaran Islam. Dengan demikian, ia bermaksud mengajak umat Islam agar kembali kepada ajaran Islam yang murni (Antonius, 1939:22). Yang dimaksud dengan ajaran Islam yang murni  itu ialah sebagaimana yang dianut dan dipraktekkan di zaman nabi, sahabat serta tabiin, yaitu sampai abad ke-3 Hijriah (Nasution, 1975:24).
Kalam Muhammad bin Abdul Wahab
Subtansi dakwah salafiyah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab biasa disimpulkan ke dalam 3 perkara:
Pertama, yang mengusik pikirannya sejak masih belia adalah masalah tawasul terhadap para Nabi, wali, dan orang-orang saleh. Termasuk pengultusan kuburan, pohon, bebatuan, dengan meminta bantuan kepadanya. Selain itu, menyakininya bias mendatangkan kebaikan dan menghilangkan keburukan. Kondisi ini sangat mengkhawatirkannya, karena orang-orang di Nejed sudah terbilang sangat bodoh, mundur, dan berlebihan di dalam mengultuskan semua itu.
Menurutnya, semua itu bertentangan dengan Tauhid. Sebab, hanya Allah jualah yang bias mendatangkan kebaikan dan menjauhkan keburukan. Dia sajalah yang berhak disembah. Dan, hanya kepada-Nya lah saja seharusnya orang-orang meminta apa saja yang diinginkan.
Kedua, yang diperangi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya hingga kini adalah persoalan tasawuf dan filsafat secara umum, tanpa diverifikasi antara filsafat sunni dan salafi yang bersumber dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan suluk para sahabat. Jadi, tidak ada perbedaan antara filsafat yang diakui jumhur ulama ahlus sunnah degan tasawuf falsafi yang menyuarakan al-hulul, al-ittihad, dan wihdah al-wujud.
Ketiga, penolakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya hingga kini untuk menakwilkan Al-Qur’an. Alih-alih, mereka membiarkan ayat yang berbicara tentang zat Allah apa adanya secara tekstual.
Inilah ketiga persoalan keyakinan yang dipegang teguh oleh wahabi. Pemikiran ini mendapat penentangan dari kalangan ulama, mayoritas di antara mereka berasal dari Ahlu Sunnah wal Jamaah. Artinya, berasal dari rumpun yang sama dengan Wahabi, yaitu Salafi. Terdapat puluhan buku dan risalah yang menyanggah pemikiran wahabi, disertai dalil-dali dari Al-Qur’an, Sunnah, dan perbuatan sahabat.
Riwayat hidup syah waliyullah
Nama lengkap dari Syah Waliyullah adalah Qutb ad-Din Ahmad ibn asy-Syah ‘Abd ar-Rahim ibn Wajih ad-Din asy-Syahid ibn Muqaddam ibn Mansur ibn Ahmad ibn Mahmud ibn Qiwam ad-Din. Yang sering disebut dengan Syah Wali Allah ad-Dahlawi. Ad-Dahlawi lahir pada tanggal 4 Syawal 1114 H/1703 M di Delhi dan meninggal pada tahun 1176 H/1762 M.
Gelar yang diperoleh dari gelar Syah ini menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga terhormat, gelar Wali Allah dan Qutb ad-Din artinya dapat dipercaya yang diberikan oleh Ayah Abd ar-Rahim atau ayahnya sendiri yang ia peroleh dari mimpi dan dari pesan dari Qutb ad-Din Bakhtiyar Ka’ki bahwa nantinya akan diberi putra yang saleh, Qutb ad Din Bakhtiyar Ka’ki merupakan wali yang paling menonjol saa itu dan memberi pesan kepada Abd ar-Rahim agar anaknya diberi nama Wali. Kemudian Abd ar-Rahim benar mengikuti pesan tersebut dan memberi nama putranya dengan nama anaknya Qutb ad-Din yang kemudian setelah dewasa terkenal dengan Wali Allah.
Ia dibekali ilmu-ilmu keislaman yang diajari oleh ayahnya sendiri dan ia juga belajar di madrasah dan pada umur 7 tahun ia sudah hafal Al-Qur’an seluruhnya. Setelah itu ia pergi ke Hijaz untuk memperdalam ilmu keagamaannya seperti fiqh, tasawuf, hadis, dll. Setelah 14 bulan lamanya atu ;enih tepatnya pada tahun 1145 H. Ad-Dahlawi kembali ke India dan mulai melakukan gerakan pembaharuan di India. Ia juga menjadi guru dan membuat beberapa karya diantaranya Hujjah Allah al Baligah, al-Fawz al-Kabir fi Usul at-Tafsir, al-Insaf fi Bayan as-Asbab al-Ikhtilaf, dsb.
Kalam Syah waliyullah
Diantara pemikiran-pemikiran Syah Waliyullah mengenai teologi atau ilmu kalam adalah sebagai berikut :
Tauhid
Menurut ad-Dahlawi, tauhid adalah dasar dari segala amal kebaikan bagi manusia. Beliau berkata bahwa tauhid itu mempunyai 4 tahapan yaitu :
Bahwa yang wajib adanya hanyalah Allah semata.
Yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya adalah Allah.
Yang mengatur dan menguasai langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada didalamnya hanya Allah.
Yang berhak disembah hanya Allah semata.
Kenabian dan Wahyu
Menurut ad-Dahlawi kenabian bukan merupakan seuatu yang dapat diperoleh melalui latihan fisik atau pembawaan sejak lahir. Tabiat kenabian merupakan derajat yang paling tinggi yang diberikan kepada manusia pada suatu waktu saja.
Kehadiran seorang nabi berkaitan dengan kondisi dunia yang sudah parah dan terjadi kerusakan dimana-mana, sehingga Tuhan mengutus seorang nabi untuk menyelamatkan manusia dan mengembalikannya kepada kedamaian dan ketertiban.
Perbuatan Manusia
Menurut ad-Dahlawi, setiap manusia mempunyai dua kecenderugan yaitu baik dan buruk. Perbuatan manusia tergantung kepada manusia sendiri untuk memilih atau mengikuti salah satu dari kecenderungan tersebut. Namun demikian, daya manusia untuk melakukan perbuatan adalah atas dorongan Ilahi sesuai keridaannya.
Artinya, manusia tidak terpaksa melakukan perbuatan, karena hal itu menjadikan Tuhan bersifat tirani, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa manusia memiliki ketetapan secara mutlak untuk melakukan perbuatannya. Manusia berbuat baik dengan pertologan Tuhan yang telah diterimanya melalui perintahNya dan manusia berbuat buruk karena ia mengingkari perintah Tuhannya.
Iman dan Kufur
Dalam hal iman, ad-Dahlawi berpendapat bahwa iman dibagi menjadi 2 yaitu iman yang berkaitan dengan hukum didunia, artinya iman yang berkaitan dengan yang terlihat saja dan iman yang berkaian dengan hukum di akhirat seperti selamat dari siksa neraka. Iman yang kedua ini harus diperoleh dengan keyakinan yang benar, dengan beramal saleh dan disertai akhlak yang baik.
Dengan demikian, iman bukanlah sekedar kepercayaan, tetapi harus disertai dengan perbuatan.Kebalikan dari iman diatas adalah untuk yang pertama adalah munafik asli, jika ia tidak memiliki kepercayaan danhanya ingin selamat ari tebasan perang. Sedangkan untuk yang kedua adakah kufur. Orang munafik dan kufur akan disiksa oleh Allah, bahkan orang mjnafik akan mendapat siksa di ner2a yang paling bawah dan orang yang mempunyai kepercayaan tetapi tidak melakukan perbuatan baik, maka ia akan menjadi orang fasik.
Wujud Tuhan
Pada zaman ad-Dahlawi banyak dibicarakan mengenai konsep wujud Tuhan. Diantaranya adalah pendapat Imam Muhyi yang menggunakan konsep wahdatul wujud (unity of being) yang mengandung arti bahwa Tuhan pada hakekatnya wujud dalam dunia ini dan konsep Rabbani Ahmad Sirhindi yang menggunakan konsep wahdah asy-Syuhud yang artinya baha Tuhan seakan-akan wujud dalam dunia ini.
Ad-Dahlawi berpendapat bahwa sebenarnya kedua konsep tersebut tidak ada perbedaan. Menurutnya, setiap wujud bukanlah semacam atribut dari Tuhan tetapi terdiri dari sifat-sifat yang non emanative.Bentuk itu hanya bergantung kepada Tuhan.
Penciptaan Alam
Menurut beliau,Allah berkaitan dengan wujudnya alam semesta ini memiliki 3 sifat yaitu Al Ibda, Al Halqu dan At Tadbir. “Al Ibda”adalah mewujudkan sesuatu dari tidak ada. “Al Halqu”adalah menciptakan sesuatu dari bahan materi. Sedangkan “At Tadbir”adalah Allah mengatur makhluk yang diciptakan dan menetapkan tujuan yang akan dicapai sesuai dengan hukum dan kemaslahatan yang sesuai dengan kewujudannya.
Alam Misal
Pandangan ad-Dahlawi mengenai hal ini adalahantara dunia fisik dan pencipta terdapat suatu dimana iradah Tuhan dalam bentuk perencanaan pertama-tama dipantulkan, kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk fisik. Semua wujud yang ada didunia ini pertama dipantulkan dari dunia spirit atau alam misal. Antara ruang dan waktu bukan merupakan dua kategoriyang terpisah tetapi merupakan kategori tunggal. Ruang dan waktu tidak dapat dipisahkan dan dengan demkian maka penciptaan akan terus berlanjut.












BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Riwayat hidup Muhammad Abduh di bagi menjadi dua yaitu periode pertumbuhan dan periode penampilan di depan publik. Pada periode pertumbuhan dimulai tahun 1849 karena merupakan tahun kelahiran Muhammad Abduh. Perihal kelahirannya, ia lahir pada tahun 1265 H bertepatan dengan tahun 1848 M di sebuah desa di Propinsi Gharbiyyah. Ayahnya bernama ‘Abduh Ibn Hasan Khair Alloh. Ia terlahir dalam lingkungan keluarga petani yang sederhana, taat dan cinta Ilmu pengetahuan. Sedangkan periode penampilan di depan publik dimulai dari tahun 1877, setelah Muhammad Abduh menyelesaikan studinya sampai tahun 1882 ketika ia diasingkan ke Beirut karena keterlibatannya dalam masalah politik. Periode ini meliputi dua kegiatan, yaitu sebagai guru dan sebagai penulis. Pemikiran kalam menurut Muhammad Abduh meliputi kedudukan akal dan fungsi wahyu, kebebasan manusia dan fatalism, sifat-sifat Tuhan, kehendak mutlak Tuhan, keadilan Tuhan, Antropomorfisme, melihat Tuhan dan perbuatan. Sedangkan menurut Muhammad bin Abdul Wahab pemikiran kalam itu meliputi penjelasan kemurnian tauhid. Selain itu ada juga menurut Syah Waliyullah pemikiran kalam itu meliputi tauhid, kenabian dan wahyu, perbuatan manusia, iman dan kufur, wujud Tuhan, penciptaan alam, dan alam misal.














DAFTAR PUSTAKA
Harun Nasution, 1975, PEMBAHASAN DALAM ISLAM Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: PT Bulan Bintang, hlm., 49.
Arbiyah Lubis, 1993, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh, Jakarta: Bulan Bintang, hlm., 111-113.
M.Ag., Anwar Rosihan, DR. 2007. Ilmu Kalam. Bandung:Pustaka Setia.
Syaikh Muhammad Abu Zuhrah, Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyyah fi As-Siyasah wa AlAqa’id wa At-Tarikh Al-Madzahib Al-Fiqhiyah, Dar Al-Fikr Al-Arabi, Kairo, 1996 M, hlm. 212.
Ash-Shawa’iq Al-Ilahiyyah, ibid, dari awal hingga akhir.

Makalah sejarah filsafat barat abad pertengahan

SEJARAH FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat ilmu
Dosen pembimbing : Pak Fuad Muh. Zein, M.UD.



Disusun oleh :
Slamet Miftahul Abror(173231036)
Rachmatika Amaylia Samawi(173231041)
Saiful Haq(173231072)
Nur Khasanah(173231073)

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Filsafat pada dasarnya merupakan suatu hasil sejarah dari olah pikir para filsuf. Seorang filsuf yang berfilsafat akan memulai dari dan juga mengkritik terhadap pemikiran-pemikiran para filsuf sebelumnya. Adapun filsafat pada masa sekarang merupakan suatu perpanjangan sejarah filsafat pada masa lampau. Pemikiran para filsuf Yunani Kuno yang sudah berjalan selama ribuan tahun sejak abad 6 sebelum masehi dan pemikiran filsafat para filsuf pada Abad Pertengahan masih memberikan kontribusi juga warna pada pemikiran para filsuf modern dan kontemporer.Oleh karenanya sejarah filsafat barat terbagi menjadi empat periode, yakni periode Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Modern, dan Kontemporer yaitu sekitar abad ke-20 dan 21.
Maka dari itu, sejarah filsafat barat sangat menarik untuk dipelajari, sehingga kami mengangkat judul ini untuk dibentuk sebuah makalah yang diambil dar beberapa buku dan untuk melengkapi tugas filsafat kami.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah filsafat barat pertengahan?
Bagaimana periodisasi filsafat barat abad pertengahan?

TUJUAN
Mengetahui sejarah filsafat pertengahan?
Mengetahui periodisasi filsafat barat abad pertengahan?

BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Filsafat Barat Pertengahan
FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN (400 – 1500 SM)
Berawal dari masa kejayaan filsafat Yunani yang dibawa oleh Caesar Augustus yang juga menciptakan masa keemasan kesusastraan latin, kesenian, dan arsitektur Romawi setelah sampai di daratan Eropa filsafat Yunani berintegrasi dengan agama Kristen sehingga munculah dari keduanya filsafat Eropa. Meskipun dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya, filsafat Eropa belum memunculkan seorang filosof, namun abad setelahnya tepatnya setelah abad 6 Masehi munculah para filosof filsafat Eropa yang menjadi tonggak kelahiran filsafat Barat Abad Pertengahan. Relasi antara agama Kristen dan Filsafat Yunani pada saat itu memunculkan beberapa anggapan.Anggapan pertama bahwa Tuhan turun ke dunia dengan membawa kabar gembira bagi umat manusia yaitu berupa firman Tuhan yang dianggap sebagai sumbernya kebijaksanaan yang sempurna dan sejati. Anggapan yang kedua, bahwa meskipun orang pada saat itu telah mengenal agama baru, akan tetapi juga mengenal filsafat Yunani yang dianggap sebagai sumber kebijaksanaan yang tidak diragukan lagi akan kebenarannya. Dengan demikian filsafat Yunani membentuk formulasi baru di benua Eropa, pohon filsafat yang lama yaitu dari Yunani tetapi ada tunas yang baru (karena adanya pengaruh Kristen) memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang rindang.
Abad ini disebut juga abad dimana filsafat berfungsi sebagai alat penjustifikasi ajaran agama (“the philosophy as a handmaiden of theology”), dinamakan pula sebagai Abad Kegelapan Filsafat. Selama filsafat melayani keinginan teologi maka ia bisa diterima. Namun apabila dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan gereja maka ditolak. Misalnya banyak buku-buku filsafat Yunani Kuno yang ditemukan akan tetapi dianggap sebagai pemikiran kaum kafir, maka banyak darinya yang dimusnahkan. Dipersempitnya kebebasan akan berpikir mengakibatkan tidak adanya filsafat baru yang berkembang pada saat itu. Copernicus melalui teorinya yang kemudian disebut “Revolusi Kopernikan” (1473-1543) bahwa matahari adalah pusat alam semesta, dan semua planet, termasuk bumi mengelilinginya. Namun teori tersebut ditentang gereja karena tidak sepaham dengan ajaran gereja pada saat itu.
Maka dari itu segala hal yang menentang ataupun melanggar ajaran gereja mereka dianggap orang yang murtad dan kemudian diadakan pengejaran (inkuisisi).Adapun tokoh yang paling gencar dan yang paling berhasil dalam melakukan pengejaran orang-orang yang dianggap murtad ini ialah Paus Innocentius III di akhir abad XII di Spanyol.
Karakteristik Filsafat Barat Abad Pertengahan
Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja
Berfilsafat di dalam lingkungan ajaran AristoteleS
Berfilsafat dengan pertolongan Augustinus dan lain-lain
Masa ini dapat dikatakan sebagai masa yang penuh dengan upaya untuk menggiring manusia ke dalam suatu sistem kepercayaan yang picik dan fanatik. Keditaktoran gereja yang sebenarnya bertujuan untuk menjadikan manusia ke arah hidup yang saleh akan tetapi malah mengekang kehidupan manusia itu sendiri dalam segala aspeknya.
PERIODISASI FILSAFAT BARAT ABAD PERTENGAHAN
Masa abad pertengahan ini terbagi menjadi dua masa yaitu: masa patristic dan masa skolastik.masa skolastik terbagi menjadi: Skolastik awal, skolastik puncak dan skolastik akhir.
MASA PATRISTIK
Istilah patristic dari kata latin pater atau bapakyang artinya, para pemimpin greja. Para pemimpin greja ini dipilih dari golongan atas atau golongan ahli pikir. dari golongan ahli piker inilah menimbulkan sikap yang beragam pemikirannya. Mereka ada yang menolak filsafat yunani dan ada juga yang menerimanya.
Bagi mereka yang menolak, alasannya beranggapan bahwa sudah mempunyai sumber kebenaran yaitu firman tuhan, tetapi tiada jeleknyya menggunakan filsafat yunani hanya diambil metodosnya saja(tata cara berfikir). Juga, walaupun filsafat yunani sebagai filsafat manusia, tetapi manusia juga sebagai manusia ciptaan tuhan. Jadi, memakai menerima filsafat yunani dip[erbolehkan selama dalam hal-hal tertentu dan tidak bertentangan dengan agama.
Perbedaan pendapat tersebut berkelanjutan, sehingga orang-orang yanggh menerima filsafat yunani menuduh bahwa mereka(orang orang Kristen yang menolak filsafat yunani) itu munafik .kemudian, orang-orang yang dituduh munafik tersebut menyangkal, bahwa tuduhan tersebut dianggap fitnah dan pembelaan dari orang orang yang menolah filsafat yunani mengatakan bahwa dirinyalahyang benar benar hidup sejalan dengan tuhan.
Akibatnya muncul upaya untuk membela agama kriten, yaitu apologis(pembela iman kristen) dengan kesadarannya membela iman Kristen dari serangan filsafat yunani. Para pembela iman Kristen tersebut adalah justines martir, diosios arepagos, aurelius augustinus.

Justinus Martir
Nama aslinya Justinus, kemudian nama Martir diambil dari istilah “orang-orang yang rela mati hanya untuk kepercayaannya”.
Menurut pendapatnya, agama Kristen bukan agama baru, karena Kristen lebih tua dari Filsafat Yunani dan nabi Musa dianggap sebagai awal kedatangan Kristen. Padahal Musa hidupnya sebelum Socrates dan Plato. Socrates dan Plato sendiri sebenarnya telah menurunkan hikmahnya dengan memakai hikmah Musa. Selanjutnya dikatakan, bahwa Filsafat Yunani itu mengambil dari kitab Yahudi. Pandangan ini didasarkan bahwa Kristus adalah logos. Dalam mengembangkan aspek logosnya ini orang-orang Yunani (Socrates, Plato dan lain-lain) kurang memahami apa yang terkandung dan memancar dari logosnya, yaitu pencerahan. Sehingga orang-orang Yunani dapat dikatakan menyimpang dari ajaran murni. Mengapa mereka menyimpang? Karena orang-orang Yunani terpengaruh oleh demon atau setan. Demon atau setan tersebut dapat mengubah pengetahuan yang benar kemudian dipalsukan. Jadi, agama Kristen lebih bermutu dibanding dengan filsafat Yunani. Demikian pembelaan justinus Martir.

Klemens
Klemens dari Alexandria (± 150 – 215), termasuk aliran yang disebut mashab Alexandria.
Seperti yang telah dikemukakan diatas, pada waktu itu Aleksandria menjadi pusat Internasional. Kebudayaan berkembang di situ sehingga timbullah hidup filsafat yang girang.
Nilai filsafat Kristen Aleksandria pada waktu itu adalah demikian bahwa kesatuan agama Yahudi dan agama Kristen dipertahankan, sehingga Allah bangsa yahudi diidentikkan dengan Allah orang Kristen (menentang Marcion), dan filsafat Yunani di perhambakan kepada perkembangan teologia Kristen, tanpa jatuh kepada kesalahan Gnostik. Sekalipun demikian, harus diakui bahwa ada kekurangan-kekurangan yaitu filsafat Kristen terlalu bersifat spekulatip, sehingga kehilangan kenyataan yang sebenarnya, terlalu terpesona oleh Plato dan Philo dan terlalu banyak dipengaruhi oleh Stoa.
Klemens tidak bebas daripada kekeliruan-kekeliruan itu. Beberapa tahun dia menjadi dosen di sekolah Kateketik di Aleksandria. Kemudian dia harus melarikan diri karena adanya penghambatan dari kaisar Septimius Severus.
Suatu tujuan rangkap ingin ia capai yaitu memberi batasan-batasan kepada ajaran Kristen guna mempertahankan diri terhadap filsafat Yunani dan aliran Gnostik, dan menerangi ajaran Kristen dengan pertolongan pemikiran Yunani.
Filsafat dijunjung tinggi, terlebih-lebih filsafat Plato dihargai sekali. Hal ini disebabkan karena menurut dia, filsafat mempunyai fungsi rangkap. Bagi orang yamh bukan Kristen filsafat dapat mempersiapkan orang untuk....kepada Injil. Sebab bagi orang yang bukan Kristen filsafat….yang sama seperti arti hukum Taurat bagi orang Yahudi. Sebagian besar dari hikmat filsafat, menurut dia, diturunkan dari Kitab Suci. Sebaliknya bagi orang Kristen filsafat juga penting, karena filsafat dapat dipakai untuk membela iman Kristen dan untuk memikirkan iman Kristen secara mendalam.
Menurut Klemens, filsafat pada dirinya memang dapat memimpin orang kepada pengetahuan tentang Allah. Sebab filsafat dapat memimpin kepada pengetahuan, bahwa Allah adalah sebab segala sesuatu. Disini tampak pengaruh filsafat Plato.
Pangkal pemikiran Klemens memang adalah iman. Iman (pistis) diperlukan bagi tiap orang Kristen. Akan tetapi disamping iman masih ada hal yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan (gnosis). Jikalau iman berlaku bagi tiap orang Kristen, maka pengetahuan (gnosis) perlu bagi orang islam yang dapat berfikir secara lebih mendalam. Pengetahuan atau gnosis ini bukan meniadakan iman, tetapi menerangi iman. Iman adalah awal pengetahuan, oleh karena itu iman harus berkembang atau tumbuh hingga menjadi pengetahuan atau gnosis. Tetapi bagi Klemens gnosis tidak mempunyai arti yang demikian. Baginya gnosis harus mengendalikan adanya iman

3.  Tertullianus (160 - 222)
Ia dilahirkan bukan dari keluarga Kristen, tetapi setelah melaksanakan pertobatan ia gigih membela Kristen dengan fanatic. Ia menolak kehadiran filsafat Yunani, karena filsafat dianggap sesuatu yang tidak perlu. Baginya berpendapat, bahwa wahyu Tuhan sudahlah cukup, dan tidak ada hubungan teologi dengan filsafat. Tidak ada hubungan antara Yerussalem (pusat agama) dengan Yunani (pusat filsafat), tidak ada hubungan antara gereja dengan akademik, tidak ada hubungan antara Kristen dengan penemuan baru.
Selanjutnya ia mengatakan, bahwa disbanding dengan cahaya Kristen, maka segala yang dikatakan oleh para filosof Yunani dianggap tidak penting. Karena yang dikatakan para filosof Yunani tentang kebenaran pada hakikatnya sebagai kutipan dari kitab suci. Akan tetapi karena kebodohan para filosof, kebenaran kitab suci tersebut dipalsukan.
Akan tetapi lama kelamaan, Tertullianus akhirnya menerima juga filsafat Yunani sebagai cara berfikir yang rasional diperlukan sekali. Pada saat itu, karena pemikiran filsafat yang diharapkan tidak dibakukan. Saat itu filsafat hanya mengajarkan pemikiran-pemikiran ahli pikir Yunani saja. Sehingga, akhirnya Tertullianus melihat filsafat hanya dimensi praktisnya saja dan ia menerima filsafat sebagai cara atau metode berfikir untuk memikirkan kebenaran keberadaan Tuhan beserta sifat-sifatnya.
4.   Augustinus (354 - 430)
Dia adalah Pembina aliran platonius masehi yang telah membanjiri abad pertengahan dengan karangan karangannya. Sejak mudanya ia telah mempelajari bermacam-macam filsafat, antara lain Platonisme dan Skeptisisme. Ia telah diakui keberhasilannya dalam filsafat abad pertengahan, sehingga ia dijuluki sebagai guru skolastik yang sejati. Ia seorang tokoh besar di bidang teologi dan filsafat.
Setelah ia mempelajari aliran skeptisisme, ia kemudian tidak menyukai atau menyetujuinya, karena didalamnya terdapat pertentangan batiniah. Orang dapat meragukan segalanya, akan tetapi orang tidak dapat meragukan bahwa ia ragu-ragu. Seseorang yang ragu-ragu sebenarnya ia berfikir dan seorang yang berfikir sesungguhnya ia berada dalam (eksis).
Menurut pendapatnya, daya pemikiran manusia ada batasnya, tetapi pikiran manusia dapat mencapai kebenaran dan kepastian yang tidak ada batasnya, yang bersifat kekal abadi. Artinya, akal pikiran manusia dapat berhubungan dengan sesuatu kenyataan yang lebih tinggi.
Akhirnya, ajaran Augustinus berhasil menguasai sepuluh abad dan mempengaruhi pemikiran Eropa. Perlu diperhatikan bahwa para pemikir Patristik itu sebagai pelopor pemikiran Skolastik. Mengapa ajaran Augustinus sebagai akar dari skolastik dapat mendominasi hampir sepuluh abad, karena ajarannya lebih bersifat sebagai metode daripada suatu sistem sehingga mampu ajaran-ajarannya mampu meresap sampai masa skolastik.
B. Masa Skolastik
Istilah skolastikadalah kata sifat yang berasal dari kata school, yang berarti sekolah. Jadi skolastik berarti aliran atau yang berkaitan dengan sekolah. Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, yaitu;
Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mempunyai corak semata-mata agama. Karena skelastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengahan yang religius.
Filsafat Skolastik adalah filsafat yang mengabdi kepada teologi, atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berfikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumusan tersebut kemudian muncul istilah: skolastik Yahudi, skolastik Arab dan lain-lainnya.
Filsafat skolastik adalah suatu sistem filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan kedalam bentuk sintesa yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.
Filsafat Skolastik adalah filsafat Nasrani, karena banyak dipengaruhi oleh ajaran gereja.

Filsafat Skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor yaitu:
Faktor Religius
Faktor Religius dapat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. Yang dimaksud dengan faktor religius adalah keadaan lingkungan saat itu yang berperi kehidupan religius. Mereka beranggapan bahwa hidup di dunia ini suatu perjalanan ke tanah suci Yerussalem. Dunia ini bagaikan negeri asing, dan sebagai tempat pembuangan limbah air mata saja (tempat kesedihan). Sebagai dunia yang menjadi tanah airnya adalah surga. Manusia tidak dapat sampai ke tanah airnya (surga) dengan kemampuannya sendiri, sehingga harus ditolong. Karena manusia itu menurut sifat kodratnya mempunyai celah atau kelemahan yang dilakukan (diwariskan) oleh Adam. Mereka juga berkeyakinan bahwa Isa anak Tuhan berperan sebagai pembebas dan pemberi bahagia. Ia akan memberi pengampunan sekaligus menolongnya. Maka hanya dengan jalan pengampunan inilah manusia dapat tertolong agar dapat mencapai tanah airnya (surga). Anggapan dan keyakinan inilah yang dijadikan dasar pemikiran filsafatnya.

Faktor Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yang diupayakan oleh biara-biara, gereja ataupun dari keluarga istana, dan kepustakaannya diambil dari para penulis Latin, Arab (Islam) dan Yunani.
Masa Skolastik terbagi menjadi tiga periode yaitu;
Skolastik Awal, berlangsung dari tahun 800-1200.
Skolastik Puncak, berlangsung dari tahun 1200-1300.
Skolastik Akhir, berlangsung dari tahun 1300-1450.
Skolastik Awal
Masa ini merupakan kebangkitan pemikiran abad pertengahan setelah terjadi kemrosotan. Sejak abad ke-5 hingga ke-8 Masehi, pemikiran filsafat Patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan 7 dikatakan abad kacau. Hal ini disebabkan pada saat itu terjadi serangan terhadap Romawi sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuh yang telah dibangun selama berabad-abad.
Baru pada abad ke-8 Masehi, kekuasaan berada di bawah Karel Agung (742 – 814) dapat memberikan suasana ketenanigan dalam bidang politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan, termasuk kehidupan manusia serta pemikiran filsafat yang semuanya menampak­kan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan inilah yang merupakan kecemerlangan abad pertengahan,  di mana arch pemikirannya berbeda sekali dengan sebelumnya.
Saat ini merupakan zaman baru bagi bangsa Eropa. Hal ini ditandai dengan skolastik yang di dalamnya banyak diupayakan pengem­bangan ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah. Pada mulanya skolastik ini timbul pertama kalinya di biara Italia Selatan dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda.
Kurikulum pengajarannya meliputi studi duniawi atau arses liberales, meliputi tata bahasa, retorika, dialektika (Beni berdiskusi), ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan musik.
Di antara tokoh-tokohnya adalah Aquinas (735-805),  Johannes Scotes Eriugena (815 – 870), Peter Lombard (1100 – 1160),  John Salisbury (1115 – 1180),  Peter Abaelardus (1079 – 1180).
1)      Peter Abaelardus (1079 – 1180)
Ia dilahirkan di Le Pallet, Prancis. Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pandangannya sangat tajam sehingga sering kali bertengkar dengan pars ahli pikir dan pejabat gereja. Ia termasuk orang konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romantik, sekaligus sebagai rasionalistik, artinya peranan akal dapat menundukkan ke­kuatan iman.  Iman harus mau didahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah disetujui atau dapat diterima oleh akal.
Berbeda dengan Anselmus yang mengatakan bahwa berpikir harus sejalan dengan iman, Abaelardus memberikan alasan bahwa berpikir itu berada di luar iman (di luar kepercayaan). Karena itu ber­pikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai dengan metode dialektika yang tanpa ragu-ragu ditunjukkan dalam teologi, yaitu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi semua bukti­bukti. Dengan demikian, dalam teologi itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan, seperti ajaran Trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan.
Skolastik Puncak
Masa ini merupakan kejayaan skolastik yang berlangsung dari tahun 1200 – 1300 dan masa ini juga disebut masa berbunga. Masa itu Ran–dai dengan munculnya universitas-universitas dan ordo-ordo, yang secara bersama . -sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan, di samping juga peranan universitas sebagai sumber atau pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Berikut ini beberapa faktor mengapa masa skolastik mencapai pada puncaknya.
a) Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas.
b) Tahun 1200 didirikan Universitas Almamater di Prancis. Universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai awal (embrio) berdirinya Universitas di Paris, di Oxford, di Mont Pellier, di Cambridge dan lain-lainnya.
c) Berdirinva ordo-ordo. Ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan dorongan yang karat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian di mana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peran di bidang filsafat dan teologi seperti Albertus de Grote, Thomas Aquinas, Binaventura, J.D. Scotus, William Ocham.
Upaya Kristenisasi Ajaran Aristoteles
Pada mulanya hanya sebagian ahli pikir yang membawa dan meneruskan ajaran Aristoteles, akan tetapi upaya ini mendapatkan perlawanan dari Augustinus. Hal ini disebabkan oleh adanya suatu anggapan bahwa ajaran aristoteles yang mulai dikenal pada abad ke-12 telah diolah dan tercemar oleh ahli pikir arab sehingga tokoh tokoh Kristen seperti albertus manganus merasa terancam akan agamanya sehingga ia mengambil teori teori aristoteles yang awalnya bertentangan dengan Kristen maka ia mengambil teori teori baru dari aristoteles yang selarang dengan Kristen. Sehingga upaya mereka berhasil.
Albertus mangunus (1203 – 1280)
Di samping sebaga birawan, Albertus mangunus juga dikenal sebagai cendikiawan abad pertengahan. Ia lahir dengan nama Albert von Bollstadt yang juga dikenal sebagai “doktor universalis” dan  “doktor magnus”, kemudian bernama Albertus mangnus (Albert the Great). Ia mempunyai kepandaian luar biasa. Di universitas Padua ia belajar artes liberalis, ilmu-ilmu pengetahuan alam, kedkteran, filsafat Aristoteles, belajar teologi di Bologna, dan masuk ordo Dominican tahun 1223, kemudia masuk ke Koln menjadi dosen filsafat dan teknologi. Selain daripada itu ia juga mengantarkan ajaran Aristotelesdi Eropa Barat, yang oleh karenanya telah membuka keterangan yang baru bagi pemikiran Kristiani terhadap gagasan-gagasan dasar filsafat Aristoteles. Lebih dari siapa pun ia telah memperkenalkan Aristotles kepada dunia Barat. Sekalipun demikian ia tetap setia kepada bebrapa dalil Neoplatonisme, bahkan telah memperkuat pengaruh Neoplatonisme dengan keterangannya yang mengenai ajaran Dionision dan Areopagos.
Thomas Aquinas (1225-1274)
Nama sebenarnya adalah Santo Thomas Aquinas, yang artinya Thomas yang suci dari Aquinas. Di samping sebagai ahli pikir, ia juga serang dokter gereja bangsa italia. Ia lahir di Rocca Secca, Napoli, Italia. Ia merupakan tooh terbesar Skolastisisme, salah seorang suci greja Katolik Romawi dan pendiri aliran yang dinyatakan menjadi filsafat resmi gereja Katolik. Tahun 1245 belajar pada Albertus Magnus. Pada tahun 1259 menjadi guru besar dan penasihat istana Paus. Karya Thomas Aquinas telah menanadai taraf yang tinggi dari aliran Skolastisisme pada abad pertengahan. Ia berusaha untuk memebuktikan bahwa iaman Kristen secara penuh dapat dibenarkan dengan pemikiran logis. Ia telah menerima pemikiran Aristoteles sebagai otoritas tertinggi tentang pemikirannya yang logis.
Menurut pendapatnya, semua kebenaran asalnya dari Tuhan. Kebenaran diungkapkan dengan jalan ynag berbeda-beda, sedangkan iman berjalan di luar jangkauan pemikiran. Ia mengimbau agar orang-orang untuk mengetahui hukum alamiah (pengetahuan) yan terungkap dalam kepercayaan. Tidak ada kontradiksi antara pemikiran dan iman. Semua kebenaran mulai timbul secara keutuhan walaupun iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yan berada di luar kekuatan pikir. Thomas telah menafsirkan pandangan Tuhan sebagai Tukang Boyong yang tidak berubah dan tidak berhubungan dengan atau tidak mempunyai pengetahuan tentang kejahatan-kejahatan di dunia. Tuhan tidak pernah menciptakan dunia, tetapi zat dan pemikirannya tetap abadi.
Skolastik Akhir
masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya,sehingga memperlihatkan stagnasi(kemandegan). Di antara tokoh tokohnya adalah William ockhamm (1285-1349), Nicolas (1401-1465).
William Ockham (1285 – 1349)
Ia merupakan ahli pikir Inggris yang beraliran skolastik. Karena terlibat dalam pertengkatran umu denga Paus John XXII, ia dipenjara di Alvignon, tetapi ia dapat melarikan diri dan mencari perlindungan pada Kaisar Louis IV. Ia menolak ajaran Thomas dan Mendahlilkan bahwa kenyataan itu hanya terdapat pada benda-benda atu demi satu dan hal-hal yang umum itu hanya tanda-tanda abstrak. Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atau kejadian-kejadian individual. Konsep – konsep atau kesimpulan – kesimpulan umum tentang alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan. Pemikiran yang demikian ini, dapat dilalui hanya lewat intuisi, bukan lewat logika. Disamping itu, ia membantah anggapan skolistik bahwa logika dapat mebuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan dirinya yang pada waktu itu ssebagai penguasanya Paus John XXII.
Nicolas Cusasus (1401 – 1464 )
Ia sebagi tokoh pemikiran yang berada paling akhir masa skolastik. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cara untuk mengena, yaitu lewat indra, akal, dan instuisi. Dengan indra kita akan mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda berjsad, yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasar pada sajian atau tangkapan indra. Dengan intuisi, kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. hanya dengan intuisi inilah kita akn dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Manusia seharusnya menyadari akan keterbatasan akal, sehingga banyak hal yang seharusnya menyadari akan keterbatasan akal, sehingga banyak hal yang seharusnya dapat diketahui. Karena keterbatasan akal tersebut, hanya sedikit saja yang dapat diketahui oleh akal. Dengan intuisi inilah diharapkan akan sampai pada knyataan, yaitu suatu tempat di mana segala sesuatu bentuknya menjadi larut, yaitu Tuhan.
Pemikran Nicolas ini sebagai upaya mempersatukan seluruh pemikiran abad pertengahan, yang dibuat ke suatu sintesis yang lebih luas. Sintesis ini mengarah ke masa depan, dari pemikiranya ini tersirat suatu pemikiran para humanis.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
zaman pertengahan ialah zaman dimana filsafata abad pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat.abad pertengahan memiliki sebutan lain misalnya abad kegelapan, zaman skolastik atau masa prtistik, yang semuanya menggambarkan corak pemikiran filsafat dan keilmuan yang dibentuk sesuai dengan perkembangan peradaban Kristen.
Abad ini ditandai dengan keruntuhan budaya romawi dan upaya untuk kembali membangun peradaban berdasarkan ajaran filsafta yunani dan Kristen. Perkembangan ilmu dfan foilsafat berlangsung digereja-gereja, untuk kemuadian mengalami perpecahan dikarenakan dominasi kuat agama terhadap segala aspek kehidupan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat berlangsung dengan lambat tetapi pasti sejalan dengan kontak budaya dengan budaya islam dan semangat untuk kembali pada kejaayaan peradaban yunani.masa ini berakhir dengan pemisahan kekuasaan dan pemikiran antar ajarean agama yang bertahan digereja dan perkembangan keilmu8an mendapat tempat dilembaga sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Hanafi.1983.Filsafat Skolastik. Jakarta:Pustaka Al-Husna

Muzairi.2015.Filsafat Umum.yogyakarta:Kalimedia

Maksum,Ali.2008.Pengantar FILSAFAT.Jogjakarta:AR-Ruzzmedia

Hadiwijono,Harun.2005.Sari Sejarah Barat.Yogyakarta:Kanisius
Huda,Syamsul Rohmadi.2013.Filsafat Umum.Surakarta:Fata

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...