BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kerajaan Mataram adalah berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan itu terletak disebelah Tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Didalam sejara Islam Kerajaan Mataram Islam ini berperang penting dalam perjalanan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Hal ini ditunjukkan dengan semangat raja-raja Mataram untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan para penduduk di daerah kekeuasaannya dengan keterlibatan para pemuka agama, sehingga pengembangan kebudayaan yang bercorak Islam di Jawa.
Mataram Islam ini memberlakukan politik ekspansi ketika masa kejayaannya di bawah kepemerintahannya Sultan Agung. Dalam pemerintahan Sultan Agung hampir seluruh Jawa dapat dikuasai oleh Mataram terkecuali wilayah Batavia dan Blambangan. Penyerangan Mataram terhadap Batavia dilakukan dua kali, namun kedua penyerangan tersebut gagal dilakukan.
Rumusan Masalah
Bagaimana Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram ?
Siapa saja Raja-Raja Di Kerajaan Mataram ?
Bagaimana Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Politik Kerajaan Mataram ?
Bagaimana Masa Kejayaan dan Kemunduran Kerajaan Mataram ?
Apa Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Mataram ?
Tujuan Masalah
Agar Mengetahui Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Raja-Raja Di Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Politik Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Masa Kejayaan dan Kemunduran Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Mataram.
BAB II
PEMBAHASAN
Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram yaitu penembahan Senopati (1584-1601), panembahan Seda Krapyak (1601-1677). Kesultanan Mataram memiliki peran yang cukup penting dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Pada awalnya daerah Mataram dikuasai kesultanan Pajang sebagai balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, oleh Ki Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan. Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. Ia membangun pusat kekuatan di plered dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang kehadirannya.
Pada tahun 1575, Pemanahan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari kekuasaan Pajang, sehingga hubungan antara Mataram dengan Pajang pun memburuk. Hubungan yang tegang antara Sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya menimbulkan peperangan. Dalam peperangan ini, kesultanan Pajang mengalami kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni Hadiwijaya meninggal dunia (1587), Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan Senopati pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan Senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar.
Sebagai raja Islam yang baru, panembahan Senopati melaksanakan penaklukan-penaklukan itu untuk mewujudkan gagasannya bahwa Mataram harus menjadi pusat budaya dan agama Islam, untuk menggantikan atau melanjutkan kesultanan Demak. Disebutkan pula dalam cerita babad bahwa cita-cita itu berasal dari wangsit yang diterimanya dari Lipura (desa yang terletak di sebelah barat daya Yogyakarta). Wangsit datang setelah mimpi dan pertemuan Senopati dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, ketika ia bersemedi di Parangtritis dan Gua Langse di Selatan Yogyakarta. Dari pertemuan itu disebutkan bahwa kelak ia akan menguasai seluruh tanah Jawa. Sistem pemerintahan yang dianut kerajaan Mataram Islam adalah sistem Dewa-Raja. Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak ada pada diri sultan. Dengan sistem pemerintahan seperti ini, Panembahan Senopati terus-menerus memperkuat pengaruh Mataram dalam berbagai bidang sampai ia meninggal pada tahun 1601. Ia digantikan oleh putranya, Mas Jolang atau Penembahan Seda Ing Krapyak (1601 -1613). Peran Mas Jolang tidak banyak yang menarik untuk dicatat.
Setelah Mas Jolang meninggal, ia digantikan oleh Mas Rangsang (1613-1645). Pada masa pemerintahannyalah Mataram mempunyai kejayaan. Baik dalam bidang perluasan daerah kekuasaan, maupun agama dan kebudayaan. Pangeran Jatmiko atau Mas Rangsang menjadi raja Mataram ketiga. Ia mendapat nama gelar Agung Hanyakrakusuma selama masa kekuasaan, Agung Hanyakrakusuma berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta. Pada tahun 1641, Agung Hanyakrakusuma menerima pengakuan dari Mekah sebagai sultan, kemudian mengambil gelar selengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman. Karena cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh pulau Jawa, kerajaan Mataram pun terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah, maupun dengan kompeni VOC yang mengincar pulau Jawa.
Pada tahun 1614, Sultan Agung mempersatukan Kediri, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Pada tahun 1615, kekuatan tentara Mataram lebih difokuskan ke daerah Wirasaba, tempat yang sangat strategis untuk menghadapi Jawa Timur. Daerah ini pun berhasil ditaklukkan. pada tahun 1616, terjadi pertempuran antara tentara Mataram dan tentara Surabaya, Pasuruan, Tuban, Jepara, Wirasaba, Surabaya dan Sumenep. Peperangan ini dapat dimenangi oleh tentara Mataram, dan merupakan kunci kemenangan untuk masa selanjutnya. Di tahun yang sama Lasem menyerah. Tahun 1619, Tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Selanjutnya Mataram berhadapan langsung dengan Surabaya. Untuk menghadapi Surabaya, Mataram melakukan strategi mengepung, yaitu lebih dahulu menggempur daerah-daerah pedalaman seperti Sukadana (1622) dan Madura (1624). Akhirnya, Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625. Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Mataram menjadi kerajaan yang sangat kuat secara militer.
Pada tahun, 1627, seluruh pulau Jawa kecuali kesultanan Banten dan wilayah kekuasaan kompeni VOC di Batavia telah berhasil dipersatukan di bawah Mataram. Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri Sultan Agung untuk menantang kompeni yang masih bercongkol di Batavia. Maka, pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumengggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk menggempur Batavia. Sayang sekali, karena kuatnya pertahanan Belanda, serangan ini gagal, bahkan tumengggung Baureksa gugur. Kegagalan tersebut menyebabkan Mataram bersemangat menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih matang. Maka pada pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Penyerbuan dilancarkan terhadap benteng Hollandia, Bommel, dan Weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan, hingga menyebabkan pasukan Mataram ditarik mundur pada tahun itu juga.
Selanjutnya, serangan Mataram diarahkan ke Blambangan yang dapat diintegrasikan pada tahun 1639. Di luar peranan politik dan militer, Sultan Agung dikenal sebagai penguasa yang besar perhatiannya terhadap perkembangan Islam di tanah Jawa. Bagi Sultan Agung, kerajaan Mataram adalah kerajaan Islam yang mengemban amanat Tuhan di tanah Jawa. Oleh sebab itu, struktur serta jabatan kepenghuluan dibangun dalam sistem kekuasaan kerajaan. Tradisi kekuasaan seperti sholat jumat di masjid, grebeg ramadan, dan upaya pengamalan syariat Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan istana.
Sultan Agung juga berprediksi sebagai pujangga. Karyanya yang terkenal yaitu Kitab Serat Sastra Gendhing. Adapun Kitab Serat Nitipraja digubahnya pada tahun 1641. Serat Sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tata aturan moral, agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Selain menulis, Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga Keraton untuk menulis sejarah babad tanah jawi. Di antara semua karyanya, peran Sultan Agung yang lebih membawa pengaruh luas adalah dalam penanggalan. Sultan Agung memadukan tradisi pesantren Islam dengan tradisi kejawen dalam perhitungan tahun. Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun caka atau saka. Pada tahun 1633, Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem perhitungan tahun yang baru bagi seluruh Mataram. Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan proses peng-Islaman tradisi dan kebudayaan Jawa yang sudah terjadi sejak berdirinya kerajaan Demak. Hingga saat ini, sistem penanggalan ala Sultan Agung ini masih banyak digunakan.
Sejak masa sebelum Sultan Agung pembangunan non-militer memang telah dilakukan. Satu yang layak disebut, panembahan Senopati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatanan gempuran. Setelah zaman Senopati, Mas Jolang juga berjasa dalam kebudayaan, dengan berusaha menyusun sejarah negeri Demak, serta menulis beberapa Kitab Suluk. Menjelang akhir hayatnya, Sultan Agung menerapkan peraturan yang bertujuan mencegah perebutan tahta, antara keluarga raja dan putra mahkota. Sultan Agung meninggal pada Februari 1646. Ia dimakamkan di puncak Bukit Imogiri, Bantul,Yogyakarta. Selanjutnya, Mataram diperintah oleh putranya, Sunan Tegalwangi, dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677). Dalam masa pemerintahan Amangkurat I, kerajaan Mataram mulai mundur. Wilayah kekuasaan Mataram berangsur-angusr menyempit karena direbut oleh kompeni VOC. Amangkurat terlunta-lunta mengungsi, dan akhirnya meninggal di Tegal. Sepeninggal Amangkurat I, Mataram dipegang oleh Amangkurat II yang menurunkan Dinasti Paku Buwana di Solo dan Hamengku Buwana di Yogyakarta. Setelah berakhirnya Perang Giyanti (1755), wilayah kekuasaan Mataram semakin terpecah belah. Berdasarkan perjanjian Giyanti, Mataram dipecah menjadi dua, yakni Mataram Surakarta dan Mataram Yogyakarta.
Pada tahun 1757 dan 1813, perpecahan terjadi lagi dengan munculnya Mangkunegara dan Pakualaman. Di masa pemerintahan Hindia Belanda, keempat pecahan kerajaan Mataram ini disebut sebagai vorstenlanden. Saat ini, keempat pecahan Kesultanan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti masing-masing. Bahkan peran dan pengaruh pecahan Mataram tersebut, terutama kesultanan Yogyakarta masih cukup besar dan diakui masyarakat.
Raja-Raja Di Kerajaan Mataram
Ki Ajeng Pamanahan
Ki Ajeng Pamanahan (Bagus Kacung) adalah anak dari kyai Gede Ngenis dari Sela. Diberi nama Pamanahan karena sesuai dengan daerah yang dikuasakannya kepada Pajang yakni di Manahan, sebelah Barat Solo. Ki Ajeng Pamanahan ini mendapatkan hadiah dari Raja Pajang yang membuat sayembara jika siapa saja yang bisa membunuh Aria Panangsang (Raja Jipang) maka dia akan dihadiahkan tanah Pati dan Mataram. Ki Ajeng Pamanahan bersama ki Panjawi menawarkan diri untuk membunuh Aria Panangsang dan berhasil membunuh Aria Panangsang dengan nasihat Ki Juru Martani serta dibantu oleh Sutawijaya. Karena kerendahan hati Ki Ajeng Pamanahan ia lebih memilih Mataram yang dulunya hutan untuk dibangunkan suatu kerajaan. Sedangkan Ki Panjawi memilih Pati.
Pembangunan Kerajaan Mataram juga dibantu oleh Ratu Kalinyamat (Jandi dari Kalinyamat dari Jepara) yang sangat kaya raya. Awalnya raja Mataram (Sultan Hadiwijaya) agak berat hati karena ramalan Sunan Giri bahwa kelak keturunan Ki Ageng Pamanahan akan dapat menjadi penguasa bahkan Pajang dan Giri sekalipun akan tunduk terhadap Mataram. Pusat Kerajaan Mataram ini berada di Mentoak. Seiring dengan berjalannya waktu, nama Ki Ageng Pamanahan mendapat gelar Ki Gede Mataram, karena terbukti kesetiannya kepada Kerajaan Pajang. Ki Ageng Mataram sudah berjanji kepada Sultan Hadiwijaya untuk tidak menjadi Raja Mataram, maka semasa hidupnya ia selalu taat kepada Raja Pajang sebagai bawahannya. Pada tahun 1584 Ki Ageng Mataram wafat dan dimakamkan di Kota Gedhe.
Panembahan Senapati (Sutawijaya)
Setelah wafatnya Ki Ageng Mataram, ia digantikan oleh Bagus Srubut atau Senapati Ingalaga atau Sutawijaya pada masa mudanya bergelar Ngabehi Loring Pasar ia adalah menantu Sultan Pajang atau Sultan Hadiwijaya. Atas anjuran Sultan Pajang Senapati menjadi Raja Kerajaan Mataram. Dapat dikatakan bahwa pada masa Panambahan Senapati ini adalah masa dimana awal kebangkitan Kerajaan Mataram Islam. Panambahan Senapati adalah anak dari Ki Ageng Pamanahan.
Panambahan Senapati merupakan Raja pertama Kerajaan Mataram Islam. Pada masa raja ini, Mataram yang semulanya desa Mataok ini berkembang menjadi ramai dan besar, sehinngga disebut Kota Gedhe (Kota Besar). Senapati juga ditunjuk oleh pangeran Banawa untuk memerintah Kerajaan Pajang yang saat itu Pangeran Banawa merasa tidak kuasa, untuk menjadi adipati Pajang, namun Senapati menolak.
Pada masa Panambahan Senapati, beliau memperluas wilayah kerajaan dari mulai Pajang, Demak, serta melakukan peperangan terhadap daetrah-daerah penting seperti Madiun, sebagian dari daerah Surabaya, Pasuruan, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dibawah kekuasaan Mataram. Hingga akhirnya Senapati wafat pada tahun 1523 H atau 1610 M dan digantikan oleh anakanya yaitu, Raden Mas Jolang. Sebelum meninggal, Raja memberi amanat kepada Jolang, Putranya, untuk menggantikannya sebagai raja. Setelah Senapati tiga tahun menjadi Raja, ia jatuh sakit dan meninggal. Ia dimakamkan di sebekah Selatan Masjid, diujung kaki Ayahnya.
Raden Mas Jolang ( Panambahan Anyajrawati)
Raja kedua dalam silsilah Kerajaan Mataram Islam. Masa pemerintahan raja ini sekitar 12 tahun (1606-1613). Raden Mas Jolang ini mendapat gelar Panembahan Anyakrawati. Raja ini, beberapa kali melakukan serangan terhadap kerajaan-kerajaan yang ingin melepaskan diri dari Kerajaan Mataram Islam. Juga untuk meneruskan penyerangan yang telah dilakukan seperti Ayahnya.
Tidak banyak berita atau sumber sejarah yang mencatat tentang Raden Mas Jolang ini, hingga akhirnya Panembahan Anyakrawati wafat pada tahun 1613 di desa Krapyak. Desa ini merupakan desa tempat perburuhan. Raja ini mendapat gelar dan lebih dikenal dengan Panembahan Sedo Ing Krapyak, dan dimakamka di Pasar Gedhe.
Raden Mas Rangsang (Sultan Agung)
Setelah wafatnya Raden Mas Jolang ini, kemudian digantikan oleh anaknya yakni Raden Mas Rangsang. Bisa dibilang bahwa Raden Mas Rangsang ini merupakam Raja ketiga. Beliau merupakan putra sulung dari Raden Mas Jolang. Masa pemerintahannya merupakan puncak kejayaan Kerajaan Mataram Islam.
Raden Mas Rangsang mendapatkan gelar sultan Agung Senapati Ingalaga Ngabdurochman. Masa pemerintahannya sekitar 1613-1645. Raden Mas Rangsang lebih dikenal sebagi Sultan Agung. Sultan Agung lebih banyak menguasai daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Dalam pemerintahannya, ia dapat menakhlukkan Kerajaan Giri. Seperti yang telah diramalkan oleh Sunan Giri bahwa kelak keturunan Ki Ageng Pamenahan akan menguasi Jawa. Dan hal tersebut dapat dilakukan oleh Sultan Agung.
Selaim kepada-kepada kerajaan di Jawa, Sultan Agung juga melakukan peperangan terhadap VOC. Dan hanya Sultan Agung yang beranu melakukan penyerangan terhadap VOC yang inginn merebut Jawa serta dianggap membahayakan Batavia. Dibawah pemerintahan Sultan Agung ini juga Kerajaan Mataram Islam berkembang menjadi kerajaan Agraris.Untuk memperluas wilayahnya, cenderung melakukan politik perkawinan untuk memperluas daerahnya. Seperti yang dilakukan oleh Sultan Agung dalam menaklukkan Pati. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.
Amungkarat I
Setelah Sultan Agung wafat digantikan oleh anaknya yang bernama Amungkarat. Amungkarat I mendapat gelar Amungkarat Sebapati Ingalaga Ngabdurochman Sayidin Panatagama. Amungkarat I memindah pusat kerajaan dari Kota Gedhe ke Kraton Plered. Perpundahan tersebut terjadi pada tahun 1569 tahun Jawa atau 1647 M (menurut Babad Tabah Djawi)
Amungkarat I memerintah pada tahun 1645-1677. Amungkarat I mempunyai sifat berbeda dengan ayahnya yakni Sultan Agung. Amungkarat I sangat dekat dengan VOC, yang menyebabkan tercapurnya urusan politik Kerajaan Mataram Islam. Permusuhannya dengan Adipati Anom juga menyebabkan para ketua dan kerabat kerajaan tidak menyukai sifat Amungkarat I, hingga akhirnya Amaungkarat I meninggal pada tahun 1677 dan dimakamkan didaerah Tegal tepatnta di Telagawangi. Dan sempat mengangkata Amungkarat II sebagai penggantinya.
Amungkarat II
Raden Mas Rahmat atau Amangkarat II merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartasura sebagai lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam. Beliau memerintah pada tahun 1677-1703. Beliau adalah raja Jawa pertama yang menggunakan pakaian dinas ala Eropa, sehingga rakyat memberkan julukan Sunan Amral yaitu dengan ejaan Jawa untuk admiral.
Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Politik Kerajaan Mataram
Kehidupan Ekonomi
Untuk memperkokoh kedudukan ekonominya, Kerajaan Mataram Islam sangat berambisi menguasai daerah pesisir utara Pulau Jawa sebagai penopang ekonomi politik Jawa. Hal itu dibuktikan dengan serangan ke Gresik pada tahun 1625. Praktis Mataram merupakan kerajaan utama di Jawa pada masa itu. Selain sebagai pintu ekspor impor, pelabuhan juga merupakan salah satu penghasilan devisa karena menjadi tempat transaksi perdagangan dengan pedagang dari Indonesia Timur. Dari kegiatan itu Kerajaan Mataram Islam mendapatkan cukai. Pada masa VOC, Belanda pernah mendapat pembebasan cukai oleh Sultan Agung pada tahun 1614 (sebelum Mataram menyerang VOC). Nelayan juga merupakan pekerjaan sebagian kecil rakyat Mataram, terutama masyarakat di daerah Laut Jawa. Samudra Indonesia atau Laut Selatan di pesisir selatan Kerajaan Mataram Islam kurang mendukung untuk berkembangnya pelayaran dan perdagangan pada masa tersebut. Hal ini disebabkan kondisi alam Samudra Indonesia yang tidak mudah dilayari karena ombaknya yang sangat besar. Namun demikian bukan berarti pelayaran tidak berkembang di daerah pesisir selatan Mataram. Hingga saat ini, masih dapat dijumpai perahu-perahu tradisional yang terdapat dibeberapa pantai selatan Yogyakarta, seperti Samas dan Sadeng. Berbeda dengan perkembangan pelabuhan diwilayah utara Pulau Jawa, wilayah selatan Mataram memang tidak berkembang menjadi pelabuhan penting.
Kehidupan Sosial
Salah satu ciri masyarakat adalah pentingnya nilai tanah bagi kehidupan mereka. Demikian halnya dengan Kerajaan Mataram. Sebagian masyarakat sangat tergantung pada kondisi alam tanah, maka simbol kekuasaan kerajaan pun salah satunya adalah tanah. Hal inilah yang mencirikan bahwa Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan yang bersifat feodal. Sifat feodal tersebut juga tampak pada gelar sultan sebagai panatagama, yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, sultan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rakyat sangat hormat dan patuh, serta siap hidup mati mengabdi kepada sultan.
Di Mataram dikenal beberapa kelompok masyarakat. Dibedakan menjadi golongan raja beserta keturunannya, golongan bangsawan serta rakyat sebagai kawula kerajaan. Secara hukum dan ketentuan tradisional saat itu, yang menjadi tanah kerajaan dan segala isinya adalah raja. Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat keluarga istana dan pegawai. Mereka digaji dengan tanah lungguh, yakni tanah yang hasil buminya bisa diambil oleh yang diberi kuasa. Raja dan pejabat dan pemegang tanah lungguh tidak mengerjakan tanah. Pengolahan tanah diserahkan kepada bekel atau kepala desa. Sedangkan yang mengerjakan tanah adalah rakyat atau para petani penggarap. Selain ketentuan tersebut, rakyat juga berkewajiban membayar pajak.
Masa Kejayaan dan Kemunduran Kerajaan Mataram
Kemunduran dan Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam
Setelah Sultan Agung wafat, Mataram kemudian diperintah oleh raja yang pro dengan kompeni yaitu Susuhunan Amangkurat I. ia memerintah pada tahun 1645-1677. Sebagai penguasa Mataram yang baru, Sultan Amangkurat I membuat kebijakan- kebijakan yang kontrofersial yaitu pertama, tidak lagi menghargai para ulama bahkan berusaha untuk menyingkirkannya. Pada masanya ribuan ulama Syahid dibunuh Sultan Amangkuran I. kedua, menghapus lembaga-lembaga agama yang ada di Kesultanan, seperti menghapus Mahkamah Syariah yang telah dibentuk oleh Ayahnya. Ketiga, membatasi perkembangan islam dan melarang kehidupan Agama mencampuri masalah kesultanan. Keempat, membangun kerjasama dengan penjajah Belanda yang menjadi musuh bebuyutan Ayahnya.
Cara Amangkurat I dalam memerintah yang tidak memperhatikan nilai-nilai kearifan itu telah mendatangkan kemarahan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, Raden Kajoran, seorang ulama bangsawan yang hidup dalam pedesaan, melakukan perlawanan. Ia menyusun kekuatan dari para santri dan rakyat pedesaan. Raden Kajoran mendapat dukungan dari Raden Anom, anak Sultan Amangkurat I dan Trunojoyo bangsawan dari Madura. Kekuatan semaki kuat ketika Karaeng Galesong bangsawan dari Gowa. Namun perkembangan selanjutnya, Adipati Anom melakukan pengkhianatan. Ia keluar dari aliansi, karena ia sudah di ampuni oleh ayahnya. Pada tahun 1677, aliansi Raden Kajoran berhasil mengepung pusat pemerintahan Amangkurat I di Pleret. Sedangkan Amangkurat I dan anaknya berhasil melarikan diri ke Batavia dan meminta bantuan kepada Belanda. Dalam perjalanan menuju Batavia, Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal.
Sebelum Amangkurat I wafat, ia sudah menetapkan Adipati Anom sebagai Sultan Mataram yang baru. Setelah dilantik, Adipati Anom diberi gelar Sultan Amangkurat II ia segera melanjutkan kerjasamanya dengan Belanda untuk merebut kembali tahta Mataram dalam perjanjian di Jepara yang mana Belanda mengiginkan wilayah timur karawang dan upah dalam bentuk uang. Setelah perjanjian Jepara ditandatangani, Amangkurat II dan Belanda melakukan penyerangan ke Mataram dan berhasil memukul mundur aliansi Raden Kajoran. Dengan demikian, Sultan amangkurat II berhasil merebut kembali tahta Mataram.
Walaupun Sultan Amangkurat II meduduki Mataram dan mengembalikan fungsi ulama, tetapi persoalan Mataram belum selesai.[15] Sejak 1743 Mataram hanya memiliki wilayah-wilayah Begelen, Kedu, Jogjakarta, Surakarta. Tragisnya lagi, Mataram terpecah menjadi dua kerajaan, sesuai dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Kedua kerajaan tersebut adalah Kerajaan Surakarta dengan rajanya Susuhunan (Pakubuwono III) dan Yogyakarta dengan rajanya Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I). Selanjutnya pada tahun 1757, Kerajaan Surakarta dipecah lagi menjadi dua yaitu, wilayah yang dirajai Pakubuwono III dan wilayah yang dirajai oleh Mangkunegara I. Demikian juga pada tahun 1813 oleh Inggris, Yogyakarta dipecah menjadi dua, yaitu wilayah Kesultanan yang dirajai oleh Sultan Hamengku Buwono III dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin oleh Bendara Pangeran Natakusuma atau dikenal dengan Pangeran Pakualam I.
Masa Kejayaan Kerajaan Mataram
Perjalanan Kerajaan Mataram Islam mencapai masa keemasannya pada masa dipimpin oleh Mas Rangsang. Mas Rangsang mempunyai gelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo tetapi ia lebih di kenal dengan Sultan Agung. Sebagai seorang pimpinan, Sultan Agung dikenal mempunyai sifat yang sangat baik, ia merupakan seorang yang mempunyai eksklusif ulet, kuat dan berani. Selain itu, Sultan Agung juga mempunyai impian besar yang ingin menyatukan wilayah Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Untuk mewujudkan cita-citanya, Sultan Agung pun mulai melancarkan perluasan nya dengan menyerang beberapa kawasan di pesisir yang menolak tunduk dengan Mataram. Sultan Agung berhasil menginvasi Pati, Bupati Lasem, Bupati Tuban, Bupati Madura. Kemudian ia juga berhasil menguasai wilayah Surabaya, Madiun, Ponorogo, Blora dan Bojonegoro.
Pada tahun 1625, hampir seluruh wilayah Jawa berhasil ditaklukkan kecuali kawasan Banten, Cirebon, Blambangan, dan Batavia. Bahkan Sultan Agung juga pernah mencoba untuk merebut Batavia dari VOC (baca : Pengertian dan Sejarah VOC). Namun sayang upaya dari Sultan Agung tersebut mengalami kegagalan alasannya yakni beberapa faktor diantaranya yakni alasannya yakni pasukannya kelelahan sesudah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kerajaan Islam Mataram ini benar-benar mengalami kemajuan di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Sayang, sepeninggal Sultan Agung yang wafat pada tahun 1645, tidak ada Raja Mataram yang secakap dan sebijak Sultan Agung sehingga Kerajaan Mataram Islam pun mengalami kemunduran dan kekacauan.Kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahan Sultan Agung
Kemajuan yang dicapai meliputi kemajuan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya, yaitu :
Bidang Politik
Kemajuan politik yang dicapai Sultan Agung adalah menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang Belanda di Batavia.
Penyatuan kerajaan-kerajaan Islam
Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Usaha inidimulai dengan menguasai Gresik, Jaratan, Pamekasan, Sumenep, Sampang,Pasuruhan, kemudian Surabaya. Salah satu usahanya mempersatukan kerajaan Islamdi Pulau Jawa ini ada yang dilakukan dengan ikatan perkawinan. Sultan Agung mengambil menantu Bupati Surabaya Pangeran Pekik dijodohkan dengan putrinya yaitu Ratu Wandansar.
Anti penjajah Belanda
Sultan Agung adalah raja yang sangat benci terhadap penjajah Belanda. Hal ini terbukti dengan dua kali menyerang Belanda ke Batavia, yaitu yang pertama tahun 1628 dan yang kedua tahun 1629. Kedua penyerangan ini mengalami kegagalan.Adapun penyebab kegagalannya, antara lain:
Jarak yang terlalu jauh berakibat mengurangi ketahanan prajurit mataram. Mereka harus menempuh jalan kaki selama satu bulan dengan medan yang sangat sulit
Kekurangan dukungan logistik menyebabkan pertahanan prajurit Mataram di Batavia menjadi lemah.
Kalah dalam sistem persenjataan dengan senjataa yang dimiliki kompeni Belanda yang serba modern.
Banyak prajurit Mataram yang terjangkit penyakit dan meninggal, sehingga semakin memperlemah kekuatan.
Portugis bersedia membantu Mataram dengan menyerang Batavia lewat laut,sedangkan Mataram lewat darat. Ternyata Portugis mengingkari. Akhirnya Mataram dalam menghadapai Belanda tanpa bantuan Portugis.
Kesalahan politik Sultan Agung yang tidak menadakan kerja sama dengan Banten dalam menyerang Belanda. Waktu itu mereka saling bersaing.
Sistem koordinasi yang kurang kompak antara angkatan laut dengan angkatan darat. Ternyata angkatan laut mengadakan penyerangan lebih awal sehingga rencana penyerangan Mataram ini diketahui Belanda.
Akibat penghianatan oleh salah seorang pribumi, sehingga rencana penyerangan ini diketahui Belanda sebelumnya.
Bidang Ekonomi
Kemajuan dalam bidang ekonomi meliputi hal-hal berikut ini:
Sebagai negara agraris, Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi. Mataram juga mengadakan pemindahan penduduk (transmigrasi) dari daerah yang kering ke daerah yang subur dengan irigasi yang baik. Dengan usaha tersebut, Mataram banyak mengekspor beras ke Malaka.
Penyatuan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa tidak hanya menambah kekuatan politik,tetapi juga kekuatan ekonomi. Dengan demikian ekonomi Mataram tidak semata-mata tergantung ekonomi agraris, tetapi juga karena pelayaran dan perdagangan.
Bidang sosial Budaya
Kemajuan dalam bidang sosial budaya meliputi hal-hal berikut:
Timbulnya kebudayaan kejawen
Unsur ini merupakan akulturasi dan asimilasi antara kebudayaan asli Jawa denganIslam. Misalnya upacara Grebeg yang semula merupakan pemujaan roh nenek moyang. Kemudian, dilakukan dengan doa-doa agama Islam. Sampai kini, di jawa kita kenal sebagai Grebeg Syawal, Grebeg Maulud dan sebagainya.
Perhitungan Tarikh Jawa
Sultan Agung berhasil menyusun tarikh Jawa. Sebelum tahun 1633 M, Mataram menggunakan tarikh Hindu yang didasarkan peredaran matahari (tarikh syamsiyah).Sejak tahun 1633 M (1555 Hindu), tarikh Hindu diubah ke tarikh Islam berdasarkan peredaran bulan (tarikh komariah). Caranya, tahun 1555 diteruskan tetapi dengan perhitungan baru berdasarkan tarikh komariah. Tahun perhitungan Sultan Agung ini kemudian dikenal sebagai“tahun Jawa”.
Berkembangnya Kesusastraan Jawa
Pada zaman kejayaan Sultan Agung, ilmu pengetahuan dan seni berkembang pesat,termasuk di dalamnya kesusastraan Jawa. Sultan Agung sendiri mengarang kitab yang berjudul Sastra Gending yang merupakan kitab filsafat kehidupan dan kenegaraan.Kitab-kitab yang lain adalah Nitisruti, Nitisastra, dan Astrabata. Kitab-kitab ini berisi tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang baik.Pengaruh Mataram mulai memudar setelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 M.Selanjutnya, Mataram pecah menjadi dua, sebagaimana isi Perjanjian Giyanti (1755) berikut:
Mataram Timur yang dikenal Kesunanan Surakarta di bawah kekuasaan Paku Buwono III dengan pusat pemerintahan di Surakarta.
Mataram Barat yang dikenal dengan Kesultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I dengan pusat pemerintahannya di Yogyakarta.Perkembangan berikutnya, Kesunanan Surakarta pecah menjadi dua yaitu Kesunanan dan Mangkunegaran (Perjanjian Salatiga 1757). Kesultanan Yogyakarta juga terbagi atas Kesultanan dan Paku Alaman. Perpecahan ini terjadi karena campur tangan Belanda dalam usahanya memperlemah kekuatan Mataram, sehingga mudah untuk di kuasai.Sultan Agung meninggal pada Februari 1646. ia dimakamkan di puncak Bukit Imogiri, Bantul ,Yogyakarta. Selanjutnya,Mataram diperintah oleh putranya, SunanTegalwangi, dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677).
Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Mataram
kerajaan mataram islam banyak sekali meninggalkan peninggalan sebagai bukti bahwa kerajaan ini pernah ada. Berikut beberapa peninggalan kerajaan mataram islam:
Sastra Ghending karya dari Sultan Agung
Tahun Saka,
Kerajinan Perak,
Kalang Obong, yang merupakan tradisi kematian orang kalang, yakni dengan membakar peninggalan orang yang meninggal.
Kue kipo yang merupakan makanan khas masyarakat kotagede, makanan ini telah ada sejak jaman kerajaan.
Pertapaan Kembang Lampir yang merupakan tempat Ki Ageng Pemanahan pernah bertapa untuk mendapatkan wahyu kerajaan Mataram
Segara Wana serta Syuh Brata yang merupakan meriam- meriam yang diberikan oleh Belanda atas perjanjiannya dengan kerjaan Mataram saat kepemimpinan Sultan Agung.
Puing – puing candi Hindu dan Budha di aliran Sungai Opak serta aliran sungai Progo
Batu Datar yang berada di Lipura letaknya tidak jauh di barat daya kota Yogyakarta
Pakaian Kiai Gundil atau yang lebih dikenal dengan Kiai Antakusuma· Masjid Agung Negara yang dibangun pada tahun 1763 oleh PB III.· Masjid Jami Pakuncen yang didirikan oleh sunan Amangkurat I
Gapura Makam Kota Gede, yag merupakan perpaduan dari corak hindu dan islam.
Masjid yang berada di Makam Kota Gede.
Bangsal Duda
Rumah Kalang
Makam dari Raja- Raja Mataram yang berlokasi di Imogiri
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kerajaan-kerajaan Islam di bumi pertiwi nampaknya menjadi salah satu peranan yang mewarnai kemerdekaan Indonesia dan tak lupa pula Islam melalui kerajan-kerajaannya mengambil peran dalam menyebarkan pengaruh paham terhadap keyakinan yang dianut oleh masyarakat setempat pada zaman itu. Banyak para penguasa-penguasa muslim yang secara terus menerus menyebarkan ajarannya di berbagai wilayah penjuru Nusantara. Tidak heran di Indonesia, apabila terdapat berbagai peninggalan-peninggalan yang masih bisa kita temui di sekitar kita. Salah satu kerajaan yang dapat kita telaah dan pelajari adalah kerajaan mataram. Mengenai kerajaan ini, kurang lebih sudah berdiri pada tahun 1582 di sebaelah tengggara kota Yogyakarta tepatnya di Kota Gede.
Selama penguasaanya dan penyebaran paham serta perluasan wilayahnya kerajaan mataram melahirkan para penguasa-penguasa yang berpengaruh dalam mempertahankan keesksitensian kerajaan mataram dan juga dalam memperluas wilayahnya. Sehubungan hal demikian maka terciptanya masa kejayaan pada zamannya dan adakalanya masa kemunduran bagi kerajaan mataram pada zamannya. Berakhirnya kerajaan mataram menandakan lunturnya pengaruh kerajaan mataram dalam kehidupan sosial bermasyarakatnya. Sehingga kondisi seperti ini menimbulkan adanya peninggalan-peninggalan yang mencirikhaskan kerajaan mataram. Sampai detik inipun bangunan tinggalan kerajaan mataram masih bisa kita temui di daerah Kota Gede Yogyakarta seperti bangunan masjid, pemandian kerajaan mataram dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Hodayah, Khoirul. “Islam dan Budaya Masyarakat Yogyakarta Ditinjau dari Perspektif Sejarah”. Skripsi. Malang: Fakultas Syariah. Universitas Islam Negeri Maliki Malang.
Maulidya, Agasti. 2013. “Raja-Raja Pada Masa Kerajaan Mataram Islam”. https://agiasti.wordpress.com/2013/04/19/raja-raja-mataram-islam/
https://sijai.com/kerajaan-mataram-islam/amp
Khotijah, Siti. 2015. “Peninggalan Kerajaan Mataram Islam”. http://www.informasi-pendidikan.com/...ram-islam.html
https://www.kopi-ireng.com/2015/03/sejarah-kerajaan-kesultanan-mataram.html?=1