Minggu, 29 April 2018

Makalah KERAJAAN ACEH

KERAJAAN ACEH
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad ke-16
Dosen : Irma Ayu Kusuma Dewi, S.Pd, M.A

Disusun oleh :
Erlin Ftamawati 173231067
Muhammad Alfani I 173231068
Apriska Trifiana R 173231069
Firly Nur Hidayah 173231071
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Aceh yang kini dikenal dengan sebutan Nanggroe Aceh Darussalam, yang berada di ujung barat pulau Sumatera dahulu sebelum bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kerajaan islam yang begitu besar. Julukan ‘Serambi Makkah” yang disematkannya turut mengharumkan namanya dalam jajaran Negara atau daulah termasyhur di zamannya, bersaing dengan 4 daulah lainnya; Aqra, Maroko, Istambul, dan Isfahan (Persia).
Dalam sebuah film serial Turki yang berjudul “Abad Kejayaan” menceritakan bahwa dahulu Kerajaan Aceh pernah beberapa kali berkiriman surat ke Kekhilafahan Turki Utsmani. Disebutkan dalam ceritanya bahwa sultan Aceh Darussalam meminta bantuan kepada Khalifah Sulaiman Al-Qunani yang merupakan Khalifatullah untuk mengirimkan bantuan berupa militer dan alat perang (senjata dan meriam) guna melawan Portugis yang ada di Malaka.
Terlebih bendera kerajaan Aceh Darussalam yang terkesan menyamai bendera Turki Utsmani menimbulkan beragam pertanyaan dan tanggapan dari berbagai kalangan. Bahkan tak jarang yang menyimpulkan bahwa dahulunya kerajaan Aceh adalah bagian dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Dan perihal ini lah yang membuatnya makin menarik untuk dikaji lebih jauh tentang kerajaan Aceh Darussalam.

Rumusan Masalah

Bagaimana sejarah berdirinya kerajaan Aceh?
Bagaimana struktur pemerintahannya dan raja-raja yang berkuasa?
Bagaimaan kehidupan politik, social, dan agama ?
Bagaimana runtuhnya kerajaan Aceh?
Apa saja peninggalan kerajaan Aceh?

Tujuan

Mengetahui sejarah berdirinya kerajaan Aceh.
Mengetahui struktur pemerintahan dan raja-raja yang berkuasa.
Mengetahui kehidupan politik, social, dan agama.
Mengetahui runtuhnya kerajaan Aceh.
Mengetahui peninggalan peninggalan Kerajaan Aceh.


BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah berdirinya kerajaan Aceh

Kesultanan Aceh, yang beribukota di Banda Aceh sekitar abad ke-14. Kerajaan ini berdiri di atas puing-puing dari kerajaan kecil seperti kerajaan Indra Purba, kerajaan Indra Purwa, kerajaan Indra Putra dan kerajaan Indra Pura. Kemunculan kerajaan ini tidak lepas dari kerajaan Islam Lamuri yang beribukota di Meukuta Alam, Banda Aceh. Kerajaan Darussalaam dulunya merupakan kerajaan Indra Purba yang berada di Aceh, ibukota Lamuri. Tahun 1059-1069 M tentara Aceh menduduki Kerajaan Indra Jaya (sekarang daerah Leupung). Pada saat itu kerajaan Indra Purba dipimpin oleh     Maharaja Indra Sakti.
       Kerajaan perlak mengirim 300 pasukan dibawah kepemimpinan Syekh Abdullah Kan’an yang bergelar “Syiah Hudan” keturunan Arab dari Kan’an. Di barisan tersebut aad seorang pemuda yang bernama Meurah Johan, putra dari Adi Genali (Raja dari Negeri Lingga). Cina mengalami kekalahan, kerajaan Indra Purba membalas jasa dengan Maharaja Indra Sakti dengan cara masuk islam dan menikahkan putrinya yang bernama Putri Blieng Indra Kesumawati dengan Meurah Johan. Setelah Maharaja Indra Sakti meninggal, Meurah Johan menjadi raja bergelar Sultan Alaiddin Johan Syah. Kerajaan Indra Purba dijadikan kerajaan Islam dengan nama Kerajaan Darussalam yang beribukota di Tei, sungai Kuala Naga dan dinamai Bandar Darussalam.
      Kerajaaan Aceh Darussalam, pemimpin pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Kerajaan ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama bernama Kerajaan Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alaiddin Johan Syah dan tahapan yang kedua pemimpin pertamanya Sultan Ali Mughayat Syah, dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam. Luas wilayahnya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar.

Struktur Pemerintahan dan Raja-raja yang Berkuasa
Masa Kejayaan
Meskipun Sultan dianggap sebagai penguasa tertinggi, tetapi nyatanya selalu dikendalikan oleh orang kaya atau hulubalang. Hikayat Aceh menuturkan Sultan yang diturunkan paksa diantaranya Sultan Sri Alam digulingkan pada 1579 karena perangainya yang sudah melampaui batas dalam membagi-bagikan harta kerajaan pada pengikutnya. pengantinya Sultan Zainal Abidin terbunuh beberapa bulan kemudian karena kekejamannya dan karena kecanduannya berburu dan adu binatang. Raja-raya dan orang kaya menawarkan mahkota kepada Alaiddin Riayat Syah Sayyid al-Mukamil dari Dinasti Darul Kamal pada 1589. Ia segera mengakhiri periode ketidak-stabilan dengan menumpas orangkaya yang berlawanan dengannya sambil memperkuat posisinya sebagai penguasa tunggal Kesultanan Aceh yang dampaknya dirasakan pada sultan berikutnya.
Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636) atau Sultan Meukuta Alam. Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama. Pada tahun 1629, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Sayangnya ekspedisi ini gagal, meskipun pada tahun yang sama Aceh menduduki Kedah dan banyak membawa penduduknya ke Aceh. Pada masa Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil (kakek Sultan Iskandar Muda) didatangkan perutusan diplomatik ke Belanda pada tahun 1602 dengan pimpinan Tuanku Abdul Hamid. Sultan juga banyak mengirim surat ke berbagai pemimpin dunia seperti ke Sultan Turki Selim II, Pangeran Maurit van Nassau, dan Ratu Elizabeth I. Semua ini dilakukan untuk memperkuat posisi kekuasaan Aceh.
Perangkat Pemerintahan
Perangkat pemerintahan Sultan kadang mengalami perbedaan tiap masanya. Berikut adalah badan pemerintahan masa Sultanah di Aceh :
a. Balai Rong Sari, yaitu lembaga yang dipimpin oleh Sultan sendiri, yang anggota-anggotanya terdiri dari Hulubalang Empat dan Ulama Tujuh. Lembaga ini bertugas membuat rencana dan penelitian.
b. Balai Majlis Mahkamah Rakyat, yaitu lembaga yang dipimpin oleh Kadli Maiikul Adil, yang beranggotakan tujuh puluh tiga orang, semacam Dewan Perwakilan Rakyat sekarang.
c. Balai Gading, yaitu Lembaga yang dipimpin Wazir Mu'adhdham Orang Kaya Laksamana Seri Perdana Menteri, seperti Dewan Menteri atau Kabinet kalau sekarang, termasuk sembilan anggota Majlis Mahkamah Rakyat yang diangkat.
d. Balai Furdhah, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal ekonomi, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Menteri Seri Paduka, seperti Departemen Perdagangan.
e. Balai Laksamana, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal angkatan perang, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Laksamana Amirul Harb, kira-kira Departemen Pertahanan.
f. Balai Majlis Mahkamah, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal kehakiman/pengadilan, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Seri Raja Panglima Wazir Mizan, seperti Departemen Kehakiman.
g. Balai Baitul Mal, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal keuangan dan perbendaharaan negara, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Orang Kaya Seri Maharaja Bendahara Raja Wazir Dirham, seperti Departemen Keuangan.
Selain itu terdapat berbagai pejabat tinggi Kesultanan diantaranya
Syahbandar, mengurus masalah perdagangan di pelabuhan
Teuku Kadhi Malikul Adil, semacam hakim tinggi.
Wazir Seri Maharaja Mangkubumi, yaitu pejabat yang mengurus segala Hulubalang; seperti tugas Menteri Dalam Negeri.
Wazir Seri Maharaja Gurah, yaitu pejabat yang mengurus urusan hasil-hasil dan pengembangan hutan; seperti tugas Menteri Kehutanan.
Teuku Keurukon Katibul Muluk, yaitu pejabat yang mengurus urusansekretariat negara termasuk penulis resmi surat kesultanan, dengan gelar lengkapnya Wazir Rama Setia Kerukoen Katibul Muluk, seperti tugas Sekretaris Negara.

Kehidupan Politik, Sosial, dan Agama

Ekonomi
Kebangkitan aktivitas ekonomi Aceh pada abad ke-16 dapat dicermati dari perkembangan statusnya sebagai penghasil beberapa hasil bumi dan sebagai pusat dagang (pelabuhan) di kawasan barat nusantara. Banda Aceh merupakan sebuah kota pusat administrasi pemerintahan dan tempat sultan dan keluarganya tinggal meskipun ia sendiri “bukan merupakan sumber penting dari produk ekspor”. Anthony Reid menyebut Banda Aceh sebagai “imperium dagang”, karena pelabuhan di Banda Aceh dalam beberapa hal dapat dikatakan sama dengan pelabuhan Malaka sebagai sebuah entrepot, meskipun popularitas pelabuhan di Malaka melebihi popularitas pelabuhan yang ada di Aceh. Namun, tentu terdapat kelebihan tersendiri pada pelabuhan yang ada di Banda Aceh, sehingga dapat bersaing dengan pelabuhan yang ada di Malaka.
Tidak diperoleh informasi detail mengenai administrasi perdagangan di Aceh dan kawasan-kawasan yang berada di bawah kontrolnya ketika itu. Juga tidak ada informasi yang memadai mengenai fungsi barang-barang ekspor dari Aceh, terutama dari kawasan Pidie dan Pasai. Beberapa sumber portugis memberikan informasi mengenai produk-produk Aceh yang dibawa ke laut Merah. Pada tahun 1585, jeorge de Lemos, seorang penasehat Portugis untuk penaklukkan Aceh, memberikan informasi bahwa Aceh mengekspor rempah-rempah, emas, dan berbagai perhiasan dalam jumlah besar ke Laut Merah. Aktivitas perdagangan di Laut Merah memberikan pemasukan yang luar biasa kepada sultan Aceh.
Sebagai sebuah kerajaan yang “ditegakkan diatas kekuatan dagang dan maritim”, Aceh secara ekonomi juga bergantung pada pajak yang secara regular dating dari daerah-daerah sekeliling di sekitar pantai dan pajak pelabuhan di ibu kota kerajaan. Poin yang menarik untuk dicermati dalam kaitannya dengan kemajuan ekonomi adalah suasana kota Banda Aceh, sebagai ibu kota kerajaan dan kota pelabuhan. Menurut John Davis, “ sangat luas, dipenuhi dengan tumbuhan yang rimbun, rumah-rumah (penduduk) tidak terlihat hingga kita berada di depannya. Kita juga tidak dapat pergi ke sembarang tempat, karena demikian padatnya rumah penduduk dan banyaknya masyarakat yang lalu lalang. Saya kira kota ini menyebar ke suluruh daratan”. Di kota ini juga dapat dijumpai beragam masyarakat yang memiliki keahlian yang berbeda.

Politik
Sartono Kartodirdjo bilang “dampak yang diakibatkan oleh aktivitas perdagangan Portugis [di kawasan nusantara] adalah meningkatnya intensitas aktivitas politik yang dimainkan oleh para penguasa dan pedagang Muslim”. Pada abad ini, kerajaan Aceh terlibat kebijakan politik yabg konsisten, yaitu melalui perluasan kekuasaan sepanjang kawasan timur dan barat pulau Sumatera. Ini akhirnya memberikan keleluasaan kepada penguasa untuk melakukan control terhadap aktivitas perdagangan di wilayah ini.
Kerajaan Aceh juga mengambil inisiatif untuk beraliansi dengan kerajaan-kesultanan Islam yang lain; dan ini dibangun atas dasar kesamaanagama yang dianut (Islam). Kerajaan Aceh pun membangun hubungan diplomatic dengan Kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka mengirim utusannya ke Istambul, Turki untuk meminta bantuan kepada Khalifah Abdul Hamid II agar berkenan mengirimkan bantuan kemiliteran guna melawan Portugis di Malaka.
Informasi mengenai hubungan Aceh-Turki dapat dijumpai dari berbagai sumber, baik sumber-sumber setempat, sumber-sumber barat, maupun sumber-sumber yang ada di Turki itu sendiri.
Dari kacamata politik, sikap portugis yang senantiasa defensive terhadap tiap serangan yang lancarkan kerajaan Aceh tentu melemahkan status mereka dalam arena perdagangan kerajaan-kerajaan di kawasan nusantara. Bernard H. M. Vlekke menegaskan bahwa “dari aspek politik, portugis tidak mampu meraih kemajuan yang berarti. Mereka tidak memiliki pemukiman di luar Malaka dan Maluku. Malaka senantiasa mendapat ancaman dari Aceh yang telah muncul sebagai sebuah kekuatan penting.

Agama
Dalam sejarah nasional Indonesia, Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama). Guru yang memimpin pendidikan dan pengajaran di dayah disebut dengan teungku. Jika ilmunya sudah cukup dalam, maka para teungku tersebut mendapat gelar baru sebagai Teungku Chiek. Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin oleh seseorang yang disebut dengan tengku meunasah. Penguasa Aceh sangat memperhatikan pendidikan agama Islam, perhatian ini terlihat dari adanya jenjang pendidikan Islam sebagai berikut :
Meunasah, jenjang pendidikan sekolah dasar (ibtidaiyah).
Rangkang, jenjang pendidikan sekolah menengah pertama (tsanawiyah).
Dayah, jenjang pendidikan sekolah atas (aliyah).
Dayah Teuku Cik, jenjang pendidikan sejajar perguruan tinggi. Terdapat di Kutaraja, ibu kota kerajaan.
Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. Manuskrip-manuskrip terkenal peninggalan Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17; kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri. Peninggalan manuskrip tersebut merupakan bukti bahwa, Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Runtuhnya kerajaan Aceh
Keruntuhan Kesultanan Aceh
Keruntuhan kesultanan Aceh bermula dengan strategi penyusupan yang dilakukan oleh Dr. Christian Snouck Hurgronje. Ia berpura-pura masuk Islam dan diterima dengan baik oleh masyarakat Aceh. Ia mendapat kepercayaan dari para pemimpin Aceh. Disitulah ia mengetahui kelemahan masyarakat Aceh. Ia menyarankan kepada Belanda untuk mengarahkan serangan kepada para ulama karena kekuatan Aceh terletak pada ulamanya. Ketika dilaksanakan, saran ini berhasil dan Belanda kemudian menguasai Aceh dengan diangkatnya Johannes Benedictus vab Heutsz sebagai gubernur Aceh pada tahun 1898 yang merebut sebagian besar wilayah Aceh. Pada tahun 1903, Sultan Muhammad Dawud menyerahkan diri kepada Belanda setelah anak dan ibunya ditangkap oleh Belanda. Maka pada tahun 1904 seluruh wilayah Aceh jatuh ke tangan Belanda dan kesultanan Aceh pun telah berakhir.

Peninggalan kerajaan Aceh
Peninggalan Kerajaan Aceh
Berikut ini adalah beberapa peninggalan Kerajaan Aceh yang menjadi bukti bahwa kerajaan tersebut pernah ada dan memiliki peranan penting dalam jalur perdagangan dan penyebaran agama Islam di Indonesia.

1. Masjid Raya Baiturrahman
Peninggalan Kerajaan Aceh yang pertama dan yang paling dikenal adalah Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada sekitar tahun 1612 Masehi ini berada di pusat Kota Banda Aceh. Saat agresi militer Belanda II, masjid ini sempat dibakar. Namun pada selang 4 tahun setelahnya, Belanda membangunnya kembali untuk meredam amarah rakyat Aceh yang hendak berperang merebut syahid.
Saat bencana Tsunami melanda Aceh pada 2004 lalu, masjid peninggalan sejarah Islam di Indonesia satu ini menjadi pelindung bagi sebagian masyarakat Aceh. Kekokohan bangunannya tak bisa digentarkan oleh sapuan ombak laut yang kala itu meluluhlantahkan kota Banda Aceh.

2.  Benteng Indrapatra
Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya adalah Benteng Indrapatra. Benteng ini merupakan benteng pertahanan yang sebetulnya sudah mulai dibangun sejak masa kekuasaan Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke 7 Masehi. Benteng yang kini terletak di Desa Ladong, Kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar ini pada masanya dulu memiliki peranan penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis. 

Sekarang, kita hanya dapat menemukan 2 benteng yang masih kokoh berdiri. Benteng tersebut berukuran 70 meter x 70 meter dengan tinggi 4 meter dan tebal sekitar 2 meter. Selain menjadi peninggalan bersejarah, benteng Indrapatra kini juga dikenal sebagai objek wisata unggulan Kab. Aceh Besar. Gaya arsitekrur serta keunikan konstruksinya yang hanya terbuat dari susunan batu gunung ini membuat banyak orang penasaran dan tertarik untuk mengunjunginya.

3. Gunongan
Gunongan adalah peninggalan Kerajaan Aceh yang berupa sebuah taman lengkap dengan bangunan keratonnya. Taman ini berdasarkan sejarahnya merupakan bukti cinta Sultan Aceh pada permaisurinya yang sangat cantik. Permaisuri yang tak diketahui namanya ini merupakan putri raja Kerajaan Pahang yang ditawan karena kerajaannya kalah perang. Sang Sultan jatuh cinta dan mempersuntingnya, hingga kemudian si permaisuri tersebut meminta dibuatkan sebuah taman yang sama persis dengan istana kerajaannya yang terdahulu untuk mengobati rasa rindunya.

Gunongan saat ini terletak tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Tepatnya berada di Desa Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Jika berkunjung ke Banda Aceh, jangan lupa sempatkan diri Anda singgah di taman asmara ini.

4. Makam Sultan Iskandar Muda
Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya adalah Makam dari Raja Kerajaan Aceh yang paling ternama, Sultan Iskandar Muda. Makam yang terletak di Kelurahan Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini sangat kental dengan nuansa Islami. Ukiran dan pahatan kaligrafi pada batu nisannya sangat indah dan menjadi salah satu bukti sejarah masuknya Islam di Indonesia.

5. Meriam Kerajaan Aceh
Kesultanan Aceh telah mampu membuat sarana persenjataannya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan meriam-meriam tua yang kini berjajar di benteng Indraparta dan musium Aceh. Awalnya meriam-meriam tersebut dianggap berasal dari pembelian ke Kerajaan Turki, namun setelah diteliti ulang, ternyata bukan. Teknisi-teknisi kerajaan Aceh-lah yang membuatnya berbekal ilmu yang mereka pelajari dari kerajaan Turki Ustmani. Peranan meriam-meriam ini sangat penting dalam perlawan dan perang terhadap para penjajah dan kapal-kapal perang musuh yang hendak menyandar ke dermaga tanah rencong.

6. Uang Emas Kerajaan Aceh
Aceh berada di jalur perdagangan dan pelayaran yang sangat strategis. Berbagai komoditas yang berasal dari penjuru Asia berkumpul di sana pada masa itu. Hal ini membuat kerajaan Aceh tertarik untuk membuat mata uangnya sendiri. Uang logam yang terbuat dari 70% emas murni kemudian dicetak lengkap dengan nama-nama raja yang memerintah Aceh. Koin ini masih sering ditemukan dan menjadi harta karun yang sangat diburu oleh sebagian orang. Koin ini juga bisa dianggap sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Aceh yang sempat berjaya pada masanya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kerajaan Aceh terletak di Banda Aceh, yang berdiri sekitar abad ke-14. Kerajaan Aceh terdiri dari dua tahap, tahap pertama ketika masa Sultan Alaiddin Johan Syah dan tahap kedua oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda. Bisa menaklukan Pahang, yang pada waktu terkenal dengan usaha timahnya. Kesultana Aceh juga pernah mengirim surat ke luar negeri. Struktur pemerintah masih seperti kerajaan lain yaitu turun temurun. Adapun perangkat pemerintahan ada balai rong Sari, balai majelis mahkamah rakyat, balai gading dan lain lain. Kehidupan ekonomi kerajaan Aceh berdagang dan penghasil bumi. Kerajaan Aceh sebagai pusat pelabuhan di kawasan barat Nusantara. Pada abad ini, kerajaan Aceh terlibat kebijakan politik yabg konsisten, yaitu melalui perluasan kekuasaan sepanjang kawasan timur dan barat pulau Sumatera. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Pada masa ini juga banyak didirikan sekolah agama.
Runtuhnya kerajaan Aceh adalah Keruntuhan kesultanan Aceh bermula dengan strategi penyusupan yang dilakukan oleh Dr. Christian Snouck Hurgronje. Ia berpura-pura masuk Islam dan diterima dengan baik oleh masyarakat Aceh. Ia mendapat kepercayaan dari para pemimpin Aceh. Disitulah ia mengetahui kelemahan masyarakat Aceh. Ia menyarankan kepada Belanda untuk mengarahkan serangan kepada para ulama karena kekuatan Aceh terletak pada ulamanya. Adapun peninggalan peninggalan kerajaan Aceh ada Masjid Baiturahman, benteng Indrapatra, Gunongan, uang Emas, makam Sultan Iskandar Muda dan meriam kerajaan Aceh

DAFTAR PUTAKA

http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/12/6-peninggalan-kerajaan-aceh-keterangan.html, diunduh pada tanggal 26 April 2018, jam 21.
http://stiebanten.blogspot.co.id/2011/10/sejarah-kerajaan-aceh.html diunduh pada tanggal 26 April 2018, jam 14.40
http://kota-islam.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-kerajaan-islam-kesultanan-aceh.html diunduh pada tanggal 26 APRIL, jam 14.30
https://ridwanaz.com/umum/sejarah/sejarah-kerajaan-aceh-pada-masa-kejayaan-dan-keruntuhannya/ diunduh pada tanggal 26 April, jam 20.18
https://andreasnugraha.wordpress.com/2014/09/12/kehidupan-agama-ekonomi-sosial-dan-budaya-masyarakat-kerajaan-samudra-pasai-dan-aceh/ diunduh pada tanggal 27 april 2018, jam 05.20
MA, Prof.Dr. Amirul Hadi. Aceh: Sejarah, Budaya, dan Tradisi. 2010. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Madjid, Prof.Dr.M.Dien. Catatan Pinggir Sejarah Aceh : Perdagangan, Diplomasi dan Perjuangan Rakyat. 2004. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...