Minggu, 29 April 2018

Makalah KERAJAAN MATARAM ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kerajaan Mataram adalah berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan itu terletak disebelah Tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Didalam sejara Islam Kerajaan Mataram Islam ini berperang penting dalam perjalanan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Hal ini ditunjukkan dengan semangat raja-raja Mataram untuk memperluas daerah kekuasaan dan mengislamkan para penduduk di  daerah kekeuasaannya dengan keterlibatan para pemuka agama, sehingga pengembangan kebudayaan yang bercorak Islam di Jawa.
Mataram Islam ini memberlakukan politik ekspansi ketika masa kejayaannya di bawah kepemerintahannya Sultan Agung. Dalam pemerintahan Sultan Agung hampir seluruh Jawa dapat dikuasai oleh Mataram terkecuali wilayah Batavia dan Blambangan. Penyerangan Mataram terhadap Batavia dilakukan dua kali, namun kedua penyerangan tersebut gagal dilakukan. 

Rumusan Masalah
Bagaimana Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram ?
Siapa saja Raja-Raja Di Kerajaan Mataram ?
Bagaimana Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Politik Kerajaan Mataram ?
Bagaimana Masa Kejayaan dan Kemunduran Kerajaan Mataram ?
Apa Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Mataram ?

Tujuan Masalah
Agar Mengetahui Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Raja-Raja Di Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Politik Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Masa Kejayaan dan Kemunduran Kerajaan Mataram.
Agar Mengetahui Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Mataram.

BAB II
PEMBAHASAN
Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Para raja yang pernah memerintah di Kerajaan Mataram yaitu penembahan Senopati (1584-1601), panembahan Seda Krapyak (1601-1677).  Kesultanan Mataram memiliki peran yang cukup penting dalam perjalanan secara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Pada awalnya daerah Mataram dikuasai kesultanan Pajang sebagai balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Selanjutnya, oleh Ki Ageng Pemanahan Mataram dibangun sebagai tempat permukiman baru dan persawahan. Akan tetapi, kehadirannya di daerah ini dan usaha pembangunannya mendapat berbagai jenis tanggapan dari para penguasa setempat. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengubah pendirian Ki Ageng Pemanahan untuk melanjutkan pembangunan daerah itu. Ia membangun pusat kekuatan di plered dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para penguasa yang menentang kehadirannya.
Pada tahun 1575, Pemanahan meninggal dunia. Ia digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya atau Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Di samping bertekad melanjutkan mimpi ayahandanya, ia pun bercita-cita membebaskan diri dari kekuasaan Pajang, sehingga hubungan antara Mataram dengan Pajang pun memburuk. Hubungan yang tegang antara Sutawijaya dan kesultanan Pajang akhirnya menimbulkan peperangan. Dalam peperangan ini, kesultanan Pajang mengalami kekalahan. Setelah penguasa pajak yakni Hadiwijaya meninggal dunia (1587), Sutawijaya mengangkat dirinya menjadi raja Mataram dengan gelar penembahan Senopati Ing Alaga. Ia mulai membangun kerajaannya dan memindahkan Senopati pusat pemerintahan ke Kotagede. Untuk memperluas daerah kekuasaanya, penembahan Senopati melancarkan serangan-serangan ke daerah sekitar.
Sebagai raja Islam yang baru, panembahan Senopati melaksanakan penaklukan-penaklukan itu untuk mewujudkan gagasannya bahwa Mataram harus menjadi pusat budaya dan agama Islam, untuk menggantikan atau melanjutkan kesultanan Demak. Disebutkan pula dalam cerita babad bahwa cita-cita itu berasal dari wangsit yang diterimanya dari Lipura (desa yang terletak di sebelah barat daya Yogyakarta). Wangsit datang setelah mimpi dan pertemuan Senopati dengan penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul, ketika ia bersemedi di Parangtritis dan Gua Langse di Selatan Yogyakarta. Dari pertemuan itu disebutkan bahwa kelak ia akan menguasai seluruh tanah Jawa. Sistem pemerintahan yang dianut kerajaan Mataram Islam adalah sistem Dewa-Raja. Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak ada pada diri sultan. Dengan sistem pemerintahan seperti ini, Panembahan Senopati terus-menerus memperkuat pengaruh Mataram dalam berbagai bidang sampai ia meninggal pada tahun 1601. Ia digantikan oleh putranya, Mas Jolang atau Penembahan Seda Ing Krapyak (1601 -1613). Peran Mas Jolang tidak banyak yang menarik untuk dicatat.
Setelah Mas Jolang meninggal,  ia digantikan oleh Mas Rangsang (1613-1645). Pada masa pemerintahannyalah Mataram mempunyai kejayaan. Baik dalam bidang perluasan daerah kekuasaan, maupun agama dan kebudayaan. Pangeran Jatmiko atau Mas Rangsang menjadi raja Mataram ketiga. Ia mendapat nama gelar Agung Hanyakrakusuma selama masa kekuasaan, Agung Hanyakrakusuma berhasil membawa Mataram ke puncak kejayaan dengan pusat pemerintahan di Yogyakarta. Pada tahun 1641, Agung Hanyakrakusuma menerima pengakuan dari Mekah sebagai sultan, kemudian mengambil gelar selengkapnya Sultan Agung Hanyakrakusuma Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman. Karena cita-cita Sultan Agung untuk memerintah seluruh pulau Jawa, kerajaan Mataram pun terlibat dalam perang yang berkepanjangan baik dengan penguasa-penguasa daerah, maupun dengan kompeni VOC yang mengincar pulau Jawa.
Pada tahun 1614, Sultan Agung mempersatukan Kediri, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Pada tahun 1615, kekuatan tentara Mataram lebih difokuskan ke daerah Wirasaba, tempat yang sangat strategis untuk menghadapi Jawa Timur. Daerah ini pun berhasil ditaklukkan. pada tahun 1616, terjadi pertempuran antara tentara Mataram dan tentara Surabaya, Pasuruan, Tuban, Jepara, Wirasaba, Surabaya dan Sumenep. Peperangan ini dapat dimenangi oleh tentara Mataram, dan merupakan kunci kemenangan untuk masa selanjutnya. Di tahun yang sama Lasem menyerah. Tahun 1619, Tuban dan Pasuruan dapat dipersatukan. Selanjutnya Mataram berhadapan langsung dengan Surabaya. Untuk menghadapi Surabaya, Mataram melakukan strategi mengepung, yaitu lebih dahulu menggempur daerah-daerah pedalaman seperti Sukadana (1622) dan Madura (1624). Akhirnya, Surabaya dapat dikuasai pada tahun 1625. Dengan penaklukan-penaklukan tersebut, Mataram menjadi kerajaan yang sangat kuat secara militer.
Pada tahun, 1627, seluruh pulau Jawa kecuali kesultanan Banten dan wilayah kekuasaan kompeni VOC di Batavia telah berhasil dipersatukan di bawah Mataram. Sukses besar tersebut menumbuhkan kepercayaan diri Sultan Agung untuk menantang kompeni yang masih bercongkol di Batavia. Maka, pada tahun 1628, Mataram mempersiapkan pasukan di bawah pimpinan Tumengggung Baureksa dan Tumenggung Sura Agul-agul, untuk menggempur Batavia. Sayang sekali, karena kuatnya pertahanan Belanda, serangan ini gagal, bahkan tumengggung Baureksa gugur. Kegagalan tersebut menyebabkan Mataram bersemangat menyusun kekuatan yang lebih terlatih, dengan persiapan yang lebih matang. Maka pada pada 1629, pasukan Sultan Agung kembali menyerbu Batavia. Penyerbuan dilancarkan terhadap benteng Hollandia, Bommel, dan Weesp. Akan tetapi serangan ini kembali dapat dipatahkan, hingga menyebabkan pasukan Mataram ditarik mundur pada tahun itu juga.
Selanjutnya, serangan Mataram diarahkan ke Blambangan yang dapat diintegrasikan pada tahun 1639. Di luar peranan politik dan militer, Sultan Agung dikenal sebagai penguasa yang besar perhatiannya terhadap perkembangan Islam di tanah Jawa. Bagi Sultan Agung, kerajaan Mataram adalah kerajaan Islam yang mengemban amanat Tuhan di tanah Jawa. Oleh sebab itu, struktur serta jabatan kepenghuluan dibangun dalam sistem kekuasaan kerajaan. Tradisi kekuasaan seperti sholat jumat di masjid, grebeg ramadan, dan upaya pengamalan syariat Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari tatanan istana.
Sultan Agung juga berprediksi sebagai pujangga. Karyanya yang terkenal yaitu Kitab Serat Sastra Gendhing. Adapun Kitab Serat Nitipraja digubahnya pada tahun 1641. Serat Sastra Gendhing berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin. Serat Nitipraja berisi tata aturan moral, agar tatanan masyarakat dan negara dapat menjadi harmonis. Selain menulis, Sultan Agung juga memerintahkan para pujangga Keraton untuk menulis sejarah babad tanah jawi. Di antara semua karyanya, peran Sultan Agung yang lebih membawa pengaruh luas adalah dalam penanggalan. Sultan Agung memadukan tradisi pesantren Islam dengan tradisi kejawen dalam perhitungan tahun. Masyarakat pesantren biasa menggunakan tahun hijriah, masyarakat kejawen menggunakan tahun caka atau saka. Pada tahun 1633, Sultan Agung berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem perhitungan tahun yang baru bagi seluruh Mataram. Perubahan perhitungan itu merupakan sumbangan yang sangat penting bagi perkembangan proses peng-Islaman tradisi dan kebudayaan Jawa yang sudah terjadi sejak berdirinya kerajaan Demak. Hingga saat ini, sistem penanggalan ala Sultan Agung ini masih banyak digunakan. 
Sejak masa sebelum Sultan Agung pembangunan non-militer memang telah dilakukan. Satu yang layak disebut, panembahan Senopati menyempurnakan bentuk wayang dengan tatanan gempuran. Setelah zaman Senopati, Mas Jolang juga berjasa dalam kebudayaan, dengan berusaha menyusun sejarah negeri Demak, serta menulis beberapa Kitab Suluk. Menjelang akhir hayatnya, Sultan Agung menerapkan peraturan yang bertujuan mencegah perebutan tahta, antara keluarga raja dan putra mahkota. Sultan Agung meninggal pada Februari 1646. Ia dimakamkan di puncak Bukit Imogiri, Bantul,Yogyakarta. Selanjutnya, Mataram diperintah oleh putranya, Sunan Tegalwangi, dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677). Dalam masa pemerintahan Amangkurat I, kerajaan Mataram mulai mundur. Wilayah kekuasaan Mataram berangsur-angusr menyempit karena direbut oleh kompeni VOC. Amangkurat terlunta-lunta mengungsi, dan akhirnya meninggal di Tegal. Sepeninggal Amangkurat I, Mataram dipegang oleh Amangkurat II yang menurunkan Dinasti Paku Buwana di Solo dan Hamengku Buwana di Yogyakarta. Setelah berakhirnya Perang Giyanti (1755), wilayah kekuasaan Mataram semakin terpecah belah. Berdasarkan perjanjian Giyanti, Mataram dipecah menjadi dua, yakni Mataram Surakarta dan Mataram Yogyakarta.
Pada tahun 1757 dan 1813, perpecahan terjadi lagi dengan munculnya Mangkunegara dan Pakualaman. Di masa pemerintahan Hindia Belanda, keempat pecahan kerajaan Mataram ini disebut sebagai vorstenlanden. Saat ini, keempat pecahan Kesultanan Mataram tersebut masih melanjutkan dinasti masing-masing. Bahkan peran dan pengaruh pecahan Mataram tersebut, terutama kesultanan Yogyakarta masih cukup besar dan diakui masyarakat.
Raja-Raja Di Kerajaan Mataram
Ki Ajeng Pamanahan
Ki Ajeng Pamanahan (Bagus Kacung) adalah anak dari kyai Gede Ngenis dari Sela. Diberi nama Pamanahan karena sesuai dengan daerah yang dikuasakannya  kepada Pajang yakni di Manahan, sebelah Barat Solo.  Ki Ajeng Pamanahan ini mendapatkan hadiah dari Raja Pajang yang membuat sayembara jika siapa saja yang bisa membunuh Aria Panangsang (Raja Jipang) maka dia akan dihadiahkan tanah Pati dan Mataram. Ki Ajeng Pamanahan bersama ki Panjawi menawarkan diri untuk membunuh Aria Panangsang dan berhasil membunuh Aria Panangsang  dengan nasihat Ki Juru Martani serta dibantu oleh Sutawijaya. Karena kerendahan hati Ki Ajeng Pamanahan ia lebih memilih Mataram yang dulunya hutan untuk dibangunkan suatu kerajaan. Sedangkan Ki Panjawi memilih Pati.
Pembangunan Kerajaan Mataram juga dibantu oleh Ratu Kalinyamat (Jandi dari Kalinyamat dari Jepara) yang sangat kaya raya. Awalnya raja Mataram (Sultan Hadiwijaya) agak berat hati karena ramalan Sunan Giri bahwa kelak keturunan Ki Ageng Pamanahan akan dapat menjadi penguasa bahkan Pajang dan Giri sekalipun akan tunduk terhadap Mataram. Pusat Kerajaan Mataram ini berada di Mentoak. Seiring dengan berjalannya waktu, nama Ki Ageng Pamanahan mendapat gelar Ki Gede Mataram, karena terbukti kesetiannya kepada Kerajaan Pajang. Ki Ageng Mataram sudah berjanji kepada Sultan Hadiwijaya untuk tidak menjadi Raja Mataram, maka semasa hidupnya ia selalu taat kepada Raja Pajang sebagai bawahannya. Pada tahun 1584 Ki Ageng Mataram wafat dan dimakamkan di Kota Gedhe.
Panembahan Senapati (Sutawijaya)
Setelah wafatnya Ki Ageng Mataram, ia digantikan oleh Bagus Srubut atau Senapati Ingalaga atau Sutawijaya pada masa mudanya bergelar Ngabehi Loring Pasar ia adalah menantu Sultan Pajang atau Sultan Hadiwijaya. Atas anjuran Sultan Pajang Senapati menjadi Raja Kerajaan Mataram. Dapat dikatakan bahwa pada masa Panambahan Senapati ini adalah masa dimana awal kebangkitan Kerajaan Mataram Islam. Panambahan Senapati adalah anak dari Ki Ageng Pamanahan.
Panambahan Senapati merupakan Raja pertama Kerajaan Mataram Islam. Pada masa raja ini, Mataram yang semulanya desa Mataok ini berkembang menjadi ramai dan besar, sehinngga disebut Kota Gedhe (Kota Besar). Senapati juga ditunjuk oleh pangeran Banawa untuk memerintah Kerajaan Pajang yang saat itu Pangeran Banawa merasa tidak kuasa, untuk menjadi adipati Pajang, namun Senapati menolak.
Pada masa Panambahan Senapati, beliau memperluas wilayah kerajaan dari mulai Pajang, Demak, serta melakukan peperangan terhadap daetrah-daerah penting seperti Madiun, sebagian dari daerah Surabaya, Pasuruan, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dibawah kekuasaan Mataram. Hingga akhirnya Senapati wafat pada tahun 1523 H atau 1610 M dan digantikan oleh anakanya yaitu, Raden Mas Jolang. Sebelum meninggal, Raja memberi amanat kepada Jolang, Putranya, untuk menggantikannya sebagai raja. Setelah Senapati tiga tahun menjadi Raja, ia jatuh sakit dan meninggal. Ia dimakamkan di sebekah Selatan Masjid, diujung kaki Ayahnya.
Raden Mas Jolang ( Panambahan Anyajrawati)
Raja kedua dalam silsilah  Kerajaan Mataram Islam. Masa pemerintahan raja ini sekitar 12 tahun (1606-1613). Raden Mas Jolang ini mendapat gelar Panembahan Anyakrawati. Raja ini, beberapa kali melakukan serangan terhadap kerajaan-kerajaan yang ingin melepaskan diri dari Kerajaan Mataram Islam. Juga untuk meneruskan penyerangan yang telah dilakukan seperti Ayahnya.
Tidak banyak berita atau sumber sejarah yang mencatat tentang Raden Mas Jolang ini, hingga akhirnya Panembahan Anyakrawati wafat pada tahun 1613 di desa Krapyak. Desa ini merupakan desa tempat perburuhan. Raja ini mendapat gelar dan lebih dikenal dengan Panembahan Sedo Ing Krapyak, dan dimakamka di Pasar Gedhe.
Raden Mas Rangsang (Sultan Agung)
Setelah wafatnya Raden Mas Jolang ini, kemudian digantikan oleh anaknya yakni Raden Mas Rangsang. Bisa dibilang bahwa Raden Mas Rangsang ini merupakam Raja ketiga. Beliau merupakan putra sulung dari Raden Mas Jolang. Masa pemerintahannya merupakan puncak kejayaan Kerajaan Mataram Islam.
Raden Mas Rangsang mendapatkan gelar sultan Agung  Senapati Ingalaga Ngabdurochman. Masa pemerintahannya sekitar 1613-1645. Raden Mas Rangsang lebih dikenal sebagi Sultan Agung. Sultan Agung lebih banyak menguasai daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Dalam pemerintahannya, ia dapat menakhlukkan Kerajaan Giri. Seperti yang telah diramalkan oleh Sunan Giri bahwa kelak keturunan Ki Ageng Pamenahan akan menguasi Jawa. Dan hal tersebut dapat dilakukan oleh Sultan Agung.
Selaim kepada-kepada kerajaan di Jawa, Sultan Agung juga melakukan peperangan terhadap VOC. Dan hanya Sultan Agung yang beranu melakukan penyerangan terhadap VOC yang inginn merebut Jawa serta dianggap membahayakan Batavia. Dibawah pemerintahan Sultan Agung ini juga Kerajaan Mataram Islam berkembang menjadi kerajaan Agraris.Untuk memperluas wilayahnya, cenderung melakukan politik perkawinan untuk memperluas daerahnya. Seperti yang dilakukan oleh Sultan Agung dalam menaklukkan Pati. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.
Amungkarat I
Setelah Sultan Agung wafat digantikan oleh anaknya yang bernama Amungkarat. Amungkarat I mendapat gelar Amungkarat Sebapati Ingalaga Ngabdurochman Sayidin Panatagama. Amungkarat I memindah pusat kerajaan dari Kota Gedhe ke Kraton Plered. Perpundahan tersebut  terjadi pada tahun 1569 tahun Jawa atau 1647 M (menurut Babad Tabah Djawi)
Amungkarat I memerintah pada tahun 1645-1677. Amungkarat I mempunyai sifat berbeda dengan ayahnya yakni Sultan Agung. Amungkarat I sangat dekat dengan VOC, yang menyebabkan tercapurnya urusan politik Kerajaan Mataram Islam. Permusuhannya dengan Adipati Anom juga menyebabkan para ketua dan kerabat kerajaan tidak menyukai sifat Amungkarat I, hingga akhirnya Amaungkarat I meninggal pada tahun 1677 dan dimakamkan didaerah Tegal tepatnta di Telagawangi. Dan sempat mengangkata Amungkarat II sebagai penggantinya.
Amungkarat II
Raden Mas Rahmat atau Amangkarat II merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartasura sebagai lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam. Beliau memerintah pada tahun 1677-1703. Beliau adalah raja Jawa pertama yang menggunakan pakaian dinas ala Eropa, sehingga rakyat memberkan julukan Sunan Amral yaitu dengan ejaan Jawa untuk admiral.
Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Politik Kerajaan Mataram
Kehidupan Ekonomi
Untuk memperkokoh kedudukan ekonominya, Kerajaan Mataram Islam sangat berambisi menguasai daerah pesisir utara Pulau Jawa sebagai penopang ekonomi politik Jawa. Hal itu dibuktikan dengan serangan ke Gresik pada tahun 1625. Praktis Mataram merupakan kerajaan utama di Jawa pada masa itu. Selain sebagai pintu ekspor impor, pelabuhan juga merupakan salah satu penghasilan devisa karena menjadi tempat transaksi perdagangan dengan pedagang dari Indonesia Timur. Dari kegiatan itu Kerajaan Mataram Islam mendapatkan cukai. Pada masa VOC, Belanda pernah mendapat pembebasan cukai oleh Sultan Agung pada tahun 1614 (sebelum Mataram menyerang VOC). Nelayan juga merupakan pekerjaan sebagian kecil rakyat Mataram, terutama masyarakat di daerah Laut Jawa. Samudra Indonesia atau Laut Selatan di pesisir selatan Kerajaan Mataram Islam kurang mendukung untuk berkembangnya pelayaran dan perdagangan pada masa tersebut. Hal ini disebabkan kondisi alam Samudra Indonesia yang tidak  mudah dilayari karena ombaknya yang sangat besar. Namun demikian bukan berarti pelayaran tidak berkembang di daerah pesisir selatan Mataram. Hingga saat ini, masih dapat dijumpai perahu-perahu tradisional yang terdapat dibeberapa pantai selatan Yogyakarta, seperti Samas dan Sadeng. Berbeda dengan perkembangan pelabuhan diwilayah utara Pulau Jawa, wilayah selatan Mataram memang tidak berkembang menjadi pelabuhan penting.
Kehidupan Sosial
Salah satu ciri masyarakat adalah pentingnya nilai tanah bagi kehidupan mereka. Demikian halnya dengan Kerajaan Mataram. Sebagian masyarakat sangat tergantung pada kondisi alam tanah, maka simbol kekuasaan kerajaan pun salah satunya adalah tanah. Hal inilah yang mencirikan bahwa Kerajaan Mataram Islam adalah kerajaan yang bersifat feodal. Sifat feodal tersebut juga tampak pada gelar sultan sebagai panatagama, yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, sultan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rakyat sangat hormat dan patuh, serta siap hidup mati mengabdi kepada sultan.
Di Mataram dikenal beberapa kelompok masyarakat. Dibedakan menjadi golongan raja beserta keturunannya, golongan bangsawan serta rakyat sebagai kawula kerajaan. Secara hukum dan ketentuan tradisional saat itu, yang menjadi tanah kerajaan dan segala isinya adalah raja. Dalam menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat keluarga istana dan pegawai. Mereka digaji dengan tanah lungguh, yakni tanah yang hasil buminya bisa diambil oleh yang diberi kuasa. Raja dan pejabat dan pemegang tanah lungguh tidak mengerjakan tanah. Pengolahan tanah diserahkan kepada bekel atau kepala desa. Sedangkan yang mengerjakan tanah adalah rakyat atau para petani penggarap. Selain ketentuan tersebut, rakyat juga berkewajiban membayar pajak.
Masa Kejayaan dan Kemunduran Kerajaan Mataram
Kemunduran dan Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam
Setelah Sultan Agung wafat, Mataram kemudian diperintah oleh raja yang pro dengan kompeni yaitu Susuhunan Amangkurat I. ia memerintah pada tahun 1645-1677. Sebagai penguasa Mataram yang baru, Sultan Amangkurat I membuat kebijakan- kebijakan yang kontrofersial yaitu pertama, tidak lagi menghargai para ulama bahkan berusaha untuk menyingkirkannya. Pada masanya ribuan ulama Syahid dibunuh Sultan Amangkuran I. kedua, menghapus lembaga-lembaga agama yang ada di Kesultanan, seperti menghapus Mahkamah Syariah yang telah dibentuk oleh Ayahnya. Ketiga, membatasi perkembangan islam dan melarang kehidupan Agama mencampuri masalah kesultanan. Keempat, membangun kerjasama dengan penjajah Belanda yang menjadi musuh bebuyutan Ayahnya.
Cara Amangkurat I dalam memerintah yang tidak memperhatikan nilai-nilai kearifan itu telah mendatangkan kemarahan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, Raden Kajoran, seorang ulama bangsawan yang hidup dalam pedesaan, melakukan perlawanan. Ia menyusun kekuatan dari para santri dan rakyat pedesaan. Raden Kajoran mendapat dukungan dari Raden Anom, anak Sultan Amangkurat I dan Trunojoyo bangsawan dari Madura. Kekuatan semaki kuat ketika Karaeng Galesong bangsawan dari Gowa. Namun perkembangan selanjutnya, Adipati Anom melakukan pengkhianatan. Ia keluar dari aliansi, karena ia sudah di ampuni oleh ayahnya. Pada tahun 1677, aliansi Raden Kajoran berhasil mengepung pusat pemerintahan Amangkurat I di Pleret. Sedangkan Amangkurat I dan anaknya berhasil melarikan diri ke Batavia dan meminta bantuan kepada Belanda. Dalam perjalanan menuju Batavia, Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal.
Sebelum  Amangkurat I wafat, ia sudah menetapkan Adipati Anom sebagai Sultan Mataram yang baru. Setelah dilantik, Adipati Anom diberi gelar Sultan Amangkurat II ia segera melanjutkan kerjasamanya dengan Belanda untuk merebut kembali tahta Mataram dalam perjanjian di Jepara yang mana Belanda mengiginkan wilayah timur karawang dan upah dalam bentuk uang. Setelah perjanjian Jepara ditandatangani, Amangkurat II dan Belanda melakukan penyerangan ke Mataram dan berhasil memukul mundur aliansi Raden Kajoran. Dengan demikian, Sultan amangkurat II berhasil merebut kembali tahta Mataram.
Walaupun Sultan Amangkurat II meduduki Mataram dan mengembalikan fungsi ulama, tetapi persoalan Mataram belum selesai.[15] Sejak 1743 Mataram hanya memiliki wilayah-wilayah Begelen, Kedu, Jogjakarta, Surakarta. Tragisnya lagi, Mataram terpecah menjadi dua kerajaan, sesuai dengan perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Kedua kerajaan tersebut adalah Kerajaan Surakarta dengan rajanya Susuhunan (Pakubuwono III) dan Yogyakarta dengan rajanya Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I). Selanjutnya pada tahun 1757, Kerajaan Surakarta dipecah lagi menjadi dua yaitu, wilayah yang dirajai Pakubuwono III dan wilayah yang dirajai oleh Mangkunegara I. Demikian juga pada tahun 1813 oleh Inggris, Yogyakarta dipecah menjadi dua, yaitu wilayah Kesultanan yang dirajai oleh Sultan Hamengku Buwono III dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin oleh Bendara Pangeran Natakusuma atau dikenal dengan Pangeran Pakualam I.
Masa Kejayaan Kerajaan Mataram
Perjalanan Kerajaan Mataram Islam mencapai masa keemasannya pada masa dipimpin oleh Mas Rangsang. Mas Rangsang mempunyai gelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo tetapi ia lebih di kenal dengan Sultan Agung. Sebagai seorang pimpinan, Sultan Agung dikenal mempunyai sifat yang sangat baik, ia merupakan seorang yang mempunyai eksklusif ulet, kuat dan berani. Selain itu, Sultan Agung juga mempunyai impian besar yang ingin menyatukan wilayah Jawa di bawah kekuasaan Mataram. Untuk mewujudkan cita-citanya, Sultan Agung pun mulai melancarkan perluasan nya dengan menyerang beberapa kawasan di pesisir yang menolak tunduk dengan Mataram. Sultan Agung berhasil menginvasi Pati, Bupati Lasem, Bupati Tuban, Bupati Madura. Kemudian ia juga berhasil menguasai wilayah Surabaya, Madiun, Ponorogo, Blora dan Bojonegoro.
Pada tahun 1625, hampir seluruh wilayah Jawa berhasil ditaklukkan kecuali kawasan Banten, Cirebon, Blambangan, dan Batavia. Bahkan Sultan Agung juga pernah mencoba untuk merebut Batavia dari VOC (baca : Pengertian dan Sejarah VOC). Namun sayang upaya dari Sultan Agung tersebut mengalami kegagalan alasannya yakni beberapa faktor diantaranya yakni alasannya yakni pasukannya kelelahan sesudah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kerajaan Islam Mataram ini benar-benar mengalami kemajuan di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Sayang, sepeninggal Sultan Agung yang wafat pada tahun 1645, tidak ada Raja Mataram yang secakap dan sebijak Sultan Agung sehingga Kerajaan Mataram Islam pun mengalami kemunduran dan kekacauan.Kemajuan yang dicapai pada masa pemerintahan Sultan Agung
Kemajuan yang dicapai meliputi kemajuan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya, yaitu :
Bidang Politik
Kemajuan politik yang dicapai Sultan Agung adalah menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang Belanda di Batavia.
Penyatuan kerajaan-kerajaan Islam
Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Usaha inidimulai dengan menguasai Gresik, Jaratan, Pamekasan, Sumenep, Sampang,Pasuruhan, kemudian Surabaya. Salah satu usahanya mempersatukan kerajaan Islamdi Pulau Jawa ini ada yang dilakukan dengan ikatan perkawinan. Sultan Agung mengambil menantu Bupati Surabaya Pangeran Pekik dijodohkan dengan putrinya yaitu Ratu Wandansar.
Anti penjajah Belanda
Sultan Agung adalah raja yang sangat benci terhadap penjajah Belanda. Hal ini terbukti dengan dua kali menyerang Belanda ke Batavia, yaitu yang pertama tahun 1628 dan yang kedua tahun 1629. Kedua penyerangan ini mengalami kegagalan.Adapun penyebab kegagalannya, antara lain:
Jarak yang terlalu jauh berakibat mengurangi ketahanan prajurit mataram. Mereka harus menempuh jalan kaki selama satu bulan dengan medan yang sangat sulit
Kekurangan dukungan logistik menyebabkan pertahanan prajurit Mataram di Batavia menjadi lemah.
Kalah dalam sistem persenjataan dengan senjataa yang dimiliki kompeni Belanda yang serba modern.
Banyak prajurit Mataram yang terjangkit penyakit dan meninggal, sehingga semakin memperlemah kekuatan.
Portugis bersedia membantu Mataram dengan menyerang Batavia lewat laut,sedangkan Mataram lewat darat. Ternyata Portugis mengingkari. Akhirnya Mataram dalam menghadapai Belanda tanpa bantuan Portugis.
Kesalahan politik Sultan Agung yang tidak menadakan kerja sama dengan Banten dalam menyerang Belanda. Waktu itu mereka saling bersaing.
Sistem koordinasi yang kurang kompak antara angkatan laut dengan angkatan darat. Ternyata angkatan laut mengadakan penyerangan lebih awal sehingga rencana penyerangan Mataram ini diketahui Belanda.
Akibat penghianatan oleh salah seorang pribumi, sehingga rencana penyerangan ini diketahui Belanda sebelumnya.
Bidang Ekonomi
Kemajuan dalam bidang ekonomi meliputi hal-hal berikut ini:
Sebagai negara agraris, Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi. Mataram juga mengadakan pemindahan penduduk (transmigrasi) dari daerah yang kering ke daerah yang subur dengan irigasi yang baik. Dengan usaha tersebut, Mataram banyak mengekspor beras ke Malaka.
Penyatuan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa tidak hanya menambah    kekuatan politik,tetapi juga kekuatan ekonomi. Dengan demikian ekonomi Mataram tidak semata-mata tergantung ekonomi agraris, tetapi juga karena pelayaran dan perdagangan.
Bidang sosial Budaya
Kemajuan dalam bidang sosial budaya meliputi hal-hal berikut:
Timbulnya kebudayaan kejawen
Unsur ini merupakan akulturasi dan asimilasi antara kebudayaan asli Jawa denganIslam. Misalnya upacara Grebeg yang semula merupakan pemujaan roh nenek moyang. Kemudian, dilakukan dengan doa-doa agama Islam. Sampai kini, di jawa kita kenal sebagai Grebeg Syawal, Grebeg Maulud dan sebagainya.
Perhitungan Tarikh Jawa
Sultan Agung berhasil menyusun tarikh Jawa. Sebelum tahun 1633 M, Mataram menggunakan tarikh Hindu yang didasarkan peredaran matahari (tarikh syamsiyah).Sejak tahun 1633 M (1555 Hindu), tarikh Hindu diubah ke tarikh Islam berdasarkan peredaran bulan (tarikh komariah). Caranya, tahun 1555 diteruskan tetapi dengan perhitungan baru berdasarkan tarikh komariah. Tahun perhitungan Sultan Agung ini kemudian dikenal sebagai“tahun Jawa”.
Berkembangnya Kesusastraan Jawa
Pada zaman kejayaan Sultan Agung, ilmu pengetahuan dan seni berkembang pesat,termasuk di dalamnya kesusastraan Jawa. Sultan Agung sendiri mengarang kitab yang berjudul Sastra Gending yang merupakan kitab filsafat kehidupan dan kenegaraan.Kitab-kitab yang lain adalah Nitisruti, Nitisastra, dan Astrabata. Kitab-kitab ini berisi tentang ajaran-ajaran budi pekerti yang baik.Pengaruh Mataram mulai memudar setelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 M.Selanjutnya, Mataram pecah menjadi dua, sebagaimana isi Perjanjian Giyanti (1755) berikut:
Mataram Timur yang dikenal Kesunanan Surakarta di bawah kekuasaan Paku Buwono III dengan pusat pemerintahan di Surakarta.
Mataram Barat yang dikenal dengan Kesultanan Yogyakarta di bawah kekuasaan Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I dengan pusat pemerintahannya di Yogyakarta.Perkembangan berikutnya, Kesunanan Surakarta pecah menjadi dua yaitu Kesunanan dan Mangkunegaran (Perjanjian Salatiga 1757). Kesultanan Yogyakarta juga terbagi atas Kesultanan dan Paku Alaman. Perpecahan ini terjadi karena campur tangan Belanda dalam usahanya memperlemah kekuatan Mataram, sehingga mudah untuk di kuasai.Sultan Agung meninggal pada Februari 1646. ia dimakamkan di puncak Bukit Imogiri, Bantul ,Yogyakarta. Selanjutnya,Mataram diperintah oleh putranya, SunanTegalwangi, dengan gelar Amangkurat I ( 1646 – 1677).

Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Mataram
kerajaan mataram islam banyak sekali meninggalkan peninggalan sebagai bukti bahwa kerajaan ini pernah ada. Berikut beberapa peninggalan kerajaan mataram islam:
Sastra Ghending karya dari Sultan Agung
Tahun Saka,
Kerajinan Perak,
Kalang Obong, yang merupakan tradisi kematian orang kalang, yakni dengan membakar peninggalan orang yang meninggal.
Kue kipo yang merupakan makanan khas masyarakat kotagede, makanan ini telah ada sejak jaman kerajaan.
Pertapaan Kembang Lampir yang merupakan tempat Ki Ageng Pemanahan pernah bertapa untuk mendapatkan wahyu kerajaan Mataram
Segara Wana serta Syuh Brata yang merupakan meriam- meriam yang diberikan oleh Belanda atas perjanjiannya dengan kerjaan Mataram saat kepemimpinan Sultan Agung.
Puing – puing candi Hindu dan Budha di aliran Sungai Opak serta aliran sungai Progo
Batu Datar yang berada di Lipura letaknya tidak jauh di barat daya kota Yogyakarta
Pakaian Kiai Gundil atau yang lebih dikenal dengan Kiai Antakusuma· Masjid Agung Negara yang dibangun pada tahun 1763 oleh PB III.· Masjid Jami Pakuncen yang didirikan oleh sunan Amangkurat I
Gapura Makam Kota Gede, yag merupakan perpaduan dari corak hindu dan islam.
Masjid yang berada di Makam Kota Gede.
Bangsal Duda
Rumah Kalang
Makam dari Raja- Raja Mataram yang berlokasi di Imogiri












BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kerajaan-kerajaan Islam di bumi pertiwi nampaknya menjadi salah satu peranan yang mewarnai kemerdekaan Indonesia dan tak lupa pula Islam melalui kerajan-kerajaannya mengambil peran dalam menyebarkan pengaruh paham terhadap keyakinan yang dianut oleh masyarakat setempat pada zaman itu. Banyak para penguasa-penguasa muslim yang secara terus menerus menyebarkan ajarannya di berbagai wilayah penjuru Nusantara. Tidak heran di Indonesia, apabila terdapat berbagai peninggalan-peninggalan yang masih bisa kita temui di sekitar kita. Salah satu kerajaan yang dapat kita telaah dan pelajari adalah kerajaan mataram. Mengenai kerajaan ini, kurang lebih sudah berdiri pada tahun 1582 di sebaelah tengggara kota Yogyakarta tepatnya di Kota Gede.
Selama penguasaanya dan penyebaran paham serta perluasan wilayahnya kerajaan mataram melahirkan para penguasa-penguasa yang berpengaruh dalam mempertahankan keesksitensian kerajaan mataram dan juga dalam memperluas wilayahnya. Sehubungan hal demikian maka terciptanya masa kejayaan pada zamannya dan adakalanya masa kemunduran bagi kerajaan mataram pada zamannya. Berakhirnya kerajaan mataram menandakan lunturnya pengaruh kerajaan mataram dalam kehidupan sosial bermasyarakatnya. Sehingga kondisi seperti ini menimbulkan adanya peninggalan-peninggalan yang mencirikhaskan kerajaan mataram. Sampai detik inipun bangunan tinggalan kerajaan mataram masih bisa kita temui di daerah Kota Gede Yogyakarta seperti bangunan masjid, pemandian kerajaan mataram dan lain sebagainya.    




DAFTAR PUSTAKA
Hodayah, Khoirul. “Islam  dan Budaya Masyarakat Yogyakarta Ditinjau dari Perspektif  Sejarah”. Skripsi. Malang: Fakultas Syariah. Universitas Islam Negeri Maliki Malang. 
Maulidya, Agasti.  2013. “Raja-Raja Pada Masa Kerajaan Mataram Islam”. https://agiasti.wordpress.com/2013/04/19/raja-raja-mataram-islam/
https://sijai.com/kerajaan-mataram-islam/amp
Khotijah, Siti. 2015. “Peninggalan Kerajaan Mataram Islam”. http://www.informasi-pendidikan.com/...ram-islam.html
https://www.kopi-ireng.com/2015/03/sejarah-kerajaan-kesultanan-mataram.html?=1

Makalah MANUSIA DAN HARAPAN

MANUSIA DAN HARAPAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Budaya
Dosen : Marsus, M.Hum

Disusun oleh :
Afifah Rahma 173231049
Erlin Fatmawati 173231067
Firly Nur Hidayah 173231070

SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Manusia dan harapan saling berhubungan. Harapan atau cita-cita merupakan sesuatu yang belum terwujud. Setiap manusia itu pasti mempunyai harapan dan cita-cita. Ada yang berharap dalm jangka panjang dan ada juga yang berharap dalam jangka pendek. Setiap manusia pun pasti memiliki alasan untuk mempunyai harapan itu. Harapan juga ada hubungan dengan kepercayaan dan kepercayaan.
Hal itu sangat menarik untuk dipelajari dan dibahas dalam cabang ilmu budaya dasar. Maka dari itu kita membuat makalah ini.
Rumusan Masalah
Apa itu harapan ?
Apa yang menyebabkam manusia mempunyai harapan ?
Apa saja macam-macam harapan ?
Mengapa harapan merupakan sebuah fenomena nasional ?
Bagaiman hubungan manusia dan harapan ?
Apa yang dimaksud dengan kepercayaan dan kebenaran ?
Tujuan Penulisan
Mengetahui definisi harapan.
Mengetahui penyebab manusia mempunyai harapan.
Mengetahui macam-macam harapan.
Mengetahui harapan merupakan sebuah fenomena nasional.
Mengetahui hubungan manusia dan harapan.
Mengetahui arti kepercayaan dan kebenaran.



BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Harapan
Harapan berasal dari kata “harap” yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Harapan adalah keinginan yang belum terwujud. Hatilah yang mempunyai harapan. Seseorang yang putus harapan akan mengalami yang namanya putus asa. Setiap orang pasti mempunyai harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya sebagai manusia. Orang mati pun memiliki harapan yang lebih sering kita dengar dengan istilah “wasiat”. Memang kadang kala harapan tidak sesuai dengan hasil. Harapan, cita-cita yang rendah, itu pencapaiannya juga rendah. Kalau pencapaiannya tinggi itu sebuah keberuntungan bagi kita. Jika harapan, cita-cita kita tinggi, jika tidak berhasil, paling tidak hasilnya di tengah-tengah. Memang biasanya harapan atau cita-cita yang tinggi tidak berhasil akan menyebabkan frustasi, putus asa. Setiap harapan, cita-cita itu memiliki potensi kekecewaan. Kecewa adalah apabila antara harapan dengan kenyataan tidak sesuai, meskipun kenyataannya lebih tinggi dari harapan. Tuhanlah yang menentukan. Manusia sekedar berusaha, jika usahanya maksimal kemungkinan harapan itu akan terwujud. Namun harus diimbangi dengan do’a. Gagal dalam meraih harapan anggaplah sebagai pengalaman dan akan berusaha semaksimal lagi.
Harapan bisa kita samakan dengan istilah cita-cita. Cita-cita juga merupakan sesuatu yang belum terwujud. Manusia wajib memiliki cita-cita setinggi langit, tapi kita harus siap dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika itu gagal. Jika tidak ingin mengalami kekecewaan, kita harus mempunyai jalan tengah. Kita jadikan cita-cita atau harapan itu mempunyai multi tujuan. Misal kita bercita-cita masuk ke perguruan tinggi di jurusan kedokteran, UGM. Awalnya kita ingin kuliah disana “ingin masa depan yang cerah”. Jika kenyataannnya gagal! Kita akan gagal 100%. Sekarang kita ubah menjadi multi tujuan, kita ingin kuliah disana karena, missal :
Ingin memiliki masa depan yang cerah,
Mengusahakan masa depan yang lebih baik sebagai ibadah,
Belajar keras akan menyenangkan hati orang tua, menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dan menghargai dorongan orang tua selama ini,
Ingin tahu sejauh mana kemampuan diri, dengan menguji diri melalui seleksi masuk perguruan tinggi,
Meniukmati permainan, karena permainan ini menuntut kemampuan juga strategi yang sangat menantang dan mengasyikkan.
Dari 1 tujuan menjadi 5 tujuan, jika tujuan pertama kita gagal, masih banyak tujuan yang bisa disapai. Ini artinya jika gagal 1 dari 5 tujuan, kita hanya gagal 20%. Jika mempunyai cita-cita tinggi, ingat tambahlah sebanyak mungkin tujuan untuk mencapainya. Dengan demikan walaupun harapan atau cita-cita tinggi, kita tidak akan depresi dan selalu bergembira.
Cita-cita merupakan suatu refleksi dari diri kita. Cita-cita suatu gambaran dari diri kita seorang tentang sifat, bakat maupun minatnya. Jangan pernah tidak mempunyai cita-cita, karena cita-cita juga merupakan tujuan hidup. Jangan sekali-kali memilih cita-cita yang tidak sesuai dengan sifat, bakat, minat karena hal itu mempersulit jalan untuk mencapainya. Setiap anak pasti mempunyai cita-cita. Mereka pasti pernah mendengar, membaca, melihat sesuatu yang menarik hatinya, dengan segera pasti anak itu akan memahatnya dalam hati. Ada yang memahatnya dengan kuat-kuat dan berhasil mencapai mimpinya, tapi lebih banyak yang tidak kuat memahat sehingga gagal dalam mencapainya. Jika sudah memiliki cita-cita, selalu berusaha mencapai walaupun sulit. Pasti ada jalan. Ingat! Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika tidak berusaha mengubahnya. Berusahalah mencapai cita-cita yang diimpikan.
Sebab Manusia Mempunyai Harapan
Penyebab manusia mempunyai harapan ada dua dorongan, yaitu dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu dorongan sifat, keadaan, pembawaan alamiah yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia lahir diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, tertawa, bercinta, berpikir dan lain-lain. Dorongan kebutuhan hidup ada kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani seperti pangan, sandang, papan dan kebutuhan rohani seperti kebahagiaan, kesejahteraan, hiburan dan lain-lain.
Macam-macam Harapan
Menurut Abraham Maslow, macam-macam harapan adalah :
Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untyk mencintai dan dicintai (being loving and love).
Harapan untuk memperoleh status untuk diterima atau diakui di lingkungan.
Harapan untuk memperoleh perwujudan dari cita-cita (self actualization).
Harapan sebuah Fenomena Nasional
Harapan adalah fenomena yang sifatnya universal. Harapan merupakan sesuatu wajar dan berkembang dalam diri manusia, dimanapun dia berada. Harapan itu sesuai dengan kebutuhan manusia yang memiliki harapan itu. Harapan yang sangat mendalam dapat menimbulkan keinginan. A.F.C Wallace dalam bukunya “Culture and Personality” kebutuhan adalah pokok dari unsur kepribadian, sasarannya dari harapan, keinginan emosi seseorang.
A.F.C Wallace juga mengatakan kebutuhan dibagi menjadi kebutuhan organik individu dan psikologi individu. Kebutuhan organik individu :
1. Makan dan minum,
2. Istirahat dan tidur,
3. Sex,
4. Bernafas,
5. Buang hajat,
6. Keseimbangan suhu, dan lain-lain.
Kebutuhan psikologi individu :
Pengendoran ketegangan dan bersantai,
Kemesraan dan cinta,
Kepuasan ego,
Kepuasan altruistik : kesempatan berbuat baik,
Kehormatan,
Kepuasan dan kebanggaan mencapai tujuan.
Manusia dan Harapan
Hubungan manusia dan harapan sangatlah erat, ada pepatah yang mengatakan “manusia tanpa cita-cita ibarat sudah mati sebelum ajal”. Artinya orang yang tidak mempunyai cita-cita atau harapan itu seperti orang yang sudah mati. Harapan sifatnya manusiawi, dimiliki oleh siapapun dari golongan apapun, kapanpun dan dimanapun. Ditinjau dari wujudnya, harapan itu tidak terhingga. Mau sebanyak apapun boleh, tidak ada yang melarangnya. Dilihat dari tujuannya, hanya ada satu yaitu bahagia.
Kadang orang tua selalu berharap anaknya menjadi dokter, insinyur, polisi, TNI, pokoknya yang terlihat menjadi orang sukses, orang kaya. Padahal tidak semua orang kaya itu bahagia, mereka bisa jadi hatinya gundah. Orang yang hidupnya sederhana bisa jadi mereka lebih bahagia. Kita tidak hanya berharap bahagia dunia saja, tapi juga berharap bahagia akhirat. Karena akhirat itu yang abadi.
Jika kita ingin atau mengharapkan menjadi orang kaya, lebih cenderung terseret ke jalan yang tidak benar. Dia akan melakukan apapun, menghalalkan segala cara. Jika sudah kaya, mereka akan memuaskan kehendak, memuaskan hawa nafsu. Mereka akan puas, tapi puas yang dilandasi hawa nafsu. Puas yang dilandasi hawa nafsu, lama-lama tidak akan merasa puas, dan tidak akan bahagia.
Jika kita dari orang yang sederhana, dia tahu semua ini hanya Titipan Tuhan. Dia akan ikhlas, mengeluarkan zakat, bersedekah, korban, membantu anak yatim piatu dan lain-lain. Jika harapan yang dia inginkan belum tercapai, dia akan selalu bersabar. Jika harapannya tercapai, mereka akan bersyukur.
Harapan tidak selamanya menjadi kenyataan. Ada sebuah pepatah mengatakan “Berusahalah untuk urusan dunia seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan berusahalah untuk urusan akhirat seolah-olah kamu akan mati besok pagi”.
Kepercayaan dan Kebenaran
Harapan harus berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan, kata dasarnya “percaya” yang artinya menyakini akan kebenaran. Kepercayaan merupakan hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Harapan dan kepercayaan tidak bisa dipisahkan. Kebenaran pengetahuan atas orang lain, karena orang lain itu dapat dipercaya. Pengetahuan yang diterima dari orang yang dapat dipercaya ini yang dinamakan kepercayaan. Kepercayaan dalam agama, keyakinan yang paling besar. Dalam agama, setiap orang wajib menghormati kepercayaan umat lain, dengan istilah lain toleransi.
Kebenaran menurut Poedjawiyatna, dalam bukunya “Etika Filsafat Tingkah Laku”, kebenaran adalah harapan orang yang tahu. Kebenaran tersebut, kebenaran yang logis, benar-benar diusahakan. Tidak ada seorang pun yang suka dengan kekeliruan. Dasar kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia.
Kepercayaan bisa kita bagi menjadi empat, kepercayaan kepada diri sendiri, kepercayaan kepada orang lain, kepercayaan kepada pemerintah dan kepercayaan terpenting adalah kepercayaan kita kepada Tuhan.
Kepercayaan kepada Tuhan, sebagai tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia kepada Tuhan-Nya. Dengan kepercayaan ini, tiap-tiap individu merasa bahwa tujuan hidup, bahagia yang sebenarnya tidak ada di dunia, tapi di akhirat. Kepercayaan kepada pemerintah, kita mempercayakan pilihan kita untuk mewujudkan Negara yang adil, makmur dan berdaulat.
Kepercayaan pada diri sendiri, ini sangat perlu ditanamkan kepada setiap individu, setiap pribadi manusia. Percaya bahwa dirinya itu benar, percaya bahwa dirinya mampu dalam melakukannya, dan lain-lain. Kepercayaan kepada orang lain, percaya dengan kata hatinya. Ada pepatah “orang itu dipercaya karena ucapannya”. Semua yang dilakukan itu sesuai dengan ucapannya. Semisal berjanji, meskipun berat dan ada kepentingan lain yang lebih mendesak, ia akan tetap melakukan janji itu.















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Harapan berasal dari kata “harap” yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Harapan adalah keinginan yang belum terwujud. Hatilah yang mempunyai harapan. Seseorang yang putus harapan akan mengalami yang namanya putus asa. Setiap orang pasti mempunyai harapan. Penyebab manusia mempunyai harapan ada dua dorongan, yaitu dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu dorongan sifat, keadaan, pembawaan alamiah yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia lahir diciptakan oleh Tuhan. Dorongan kebutuhan hidup ada kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Macam-macam harapan adalah Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival), Harapan untuk memperoleh keamanan (safety), Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untyk mencintai dan dicintai (being loving and love), Harapan untuk memperoleh status untuk diterima atau diakui di lingkungan, dan Harapan untuk memperoleh perwujudan dari cita-cita (self actualization).
Harapan adalah fenomena yang sifatnya universal. Harapan merupakan sesuatu wajar dan berkembang dalam diri manusia, dimanapun dia berada. Harapan itu sesuai dengan kebutuhan manusia yang memiliki harapan itu. Harapan yang sangat mendalam dapat menimbulkan keinginan. Hubungan manusia dan harapan sangatlah erat, ada pepatah yang mengatakan “manusia tanpa cita-cita ibarat sudah mati sebelum ajal”. Artinya orang yang tidak mempunyai cita-cita atau harapan itu seperti orang yang sudah mati. Harapan sifatnya manusiawi, dimiliki oleh siapapun dari golongan apapun, kapanpun dan dimanapun.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan, kata dasarnya “percaya” yang artinya menyakini akan kebenaran. Kepercayaan merupakan hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Harapan dan kepercayaan tidak bisa dipisahkan. Kebenaran menurut Poedjawiyatna, dalam bukunya “Etika Filsafat Tingkah Laku”, kebenaran adalah harapan orang yang tahu. Kebenaran tersebut, kebenaran yang logis, benar-benar diusahakan.
DAFTAR PUSTAKA
Mustopo, Muhammad Habib. 1989. ILMU BUDAYA DASAR. Kumpulan Essay : Manusia dan Budaya. Surabaya : Usaha Nasional.
Widagdho, Joko. 1994. ILMU BUDAYA DASAR. Jakarta : Bumi Aksara.

Makalah KERAJAAN ACEH

KERAJAAN ACEH
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad ke-16
Dosen : Irma Ayu Kusuma Dewi, S.Pd, M.A

Disusun oleh :
Erlin Ftamawati 173231067
Muhammad Alfani I 173231068
Apriska Trifiana R 173231069
Firly Nur Hidayah 173231071
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Aceh yang kini dikenal dengan sebutan Nanggroe Aceh Darussalam, yang berada di ujung barat pulau Sumatera dahulu sebelum bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kerajaan islam yang begitu besar. Julukan ‘Serambi Makkah” yang disematkannya turut mengharumkan namanya dalam jajaran Negara atau daulah termasyhur di zamannya, bersaing dengan 4 daulah lainnya; Aqra, Maroko, Istambul, dan Isfahan (Persia).
Dalam sebuah film serial Turki yang berjudul “Abad Kejayaan” menceritakan bahwa dahulu Kerajaan Aceh pernah beberapa kali berkiriman surat ke Kekhilafahan Turki Utsmani. Disebutkan dalam ceritanya bahwa sultan Aceh Darussalam meminta bantuan kepada Khalifah Sulaiman Al-Qunani yang merupakan Khalifatullah untuk mengirimkan bantuan berupa militer dan alat perang (senjata dan meriam) guna melawan Portugis yang ada di Malaka.
Terlebih bendera kerajaan Aceh Darussalam yang terkesan menyamai bendera Turki Utsmani menimbulkan beragam pertanyaan dan tanggapan dari berbagai kalangan. Bahkan tak jarang yang menyimpulkan bahwa dahulunya kerajaan Aceh adalah bagian dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Dan perihal ini lah yang membuatnya makin menarik untuk dikaji lebih jauh tentang kerajaan Aceh Darussalam.

Rumusan Masalah

Bagaimana sejarah berdirinya kerajaan Aceh?
Bagaimana struktur pemerintahannya dan raja-raja yang berkuasa?
Bagaimaan kehidupan politik, social, dan agama ?
Bagaimana runtuhnya kerajaan Aceh?
Apa saja peninggalan kerajaan Aceh?

Tujuan

Mengetahui sejarah berdirinya kerajaan Aceh.
Mengetahui struktur pemerintahan dan raja-raja yang berkuasa.
Mengetahui kehidupan politik, social, dan agama.
Mengetahui runtuhnya kerajaan Aceh.
Mengetahui peninggalan peninggalan Kerajaan Aceh.


BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah berdirinya kerajaan Aceh

Kesultanan Aceh, yang beribukota di Banda Aceh sekitar abad ke-14. Kerajaan ini berdiri di atas puing-puing dari kerajaan kecil seperti kerajaan Indra Purba, kerajaan Indra Purwa, kerajaan Indra Putra dan kerajaan Indra Pura. Kemunculan kerajaan ini tidak lepas dari kerajaan Islam Lamuri yang beribukota di Meukuta Alam, Banda Aceh. Kerajaan Darussalaam dulunya merupakan kerajaan Indra Purba yang berada di Aceh, ibukota Lamuri. Tahun 1059-1069 M tentara Aceh menduduki Kerajaan Indra Jaya (sekarang daerah Leupung). Pada saat itu kerajaan Indra Purba dipimpin oleh     Maharaja Indra Sakti.
       Kerajaan perlak mengirim 300 pasukan dibawah kepemimpinan Syekh Abdullah Kan’an yang bergelar “Syiah Hudan” keturunan Arab dari Kan’an. Di barisan tersebut aad seorang pemuda yang bernama Meurah Johan, putra dari Adi Genali (Raja dari Negeri Lingga). Cina mengalami kekalahan, kerajaan Indra Purba membalas jasa dengan Maharaja Indra Sakti dengan cara masuk islam dan menikahkan putrinya yang bernama Putri Blieng Indra Kesumawati dengan Meurah Johan. Setelah Maharaja Indra Sakti meninggal, Meurah Johan menjadi raja bergelar Sultan Alaiddin Johan Syah. Kerajaan Indra Purba dijadikan kerajaan Islam dengan nama Kerajaan Darussalam yang beribukota di Tei, sungai Kuala Naga dan dinamai Bandar Darussalam.
      Kerajaaan Aceh Darussalam, pemimpin pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Kerajaan ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama bernama Kerajaan Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alaiddin Johan Syah dan tahapan yang kedua pemimpin pertamanya Sultan Ali Mughayat Syah, dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam. Luas wilayahnya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar.

Struktur Pemerintahan dan Raja-raja yang Berkuasa
Masa Kejayaan
Meskipun Sultan dianggap sebagai penguasa tertinggi, tetapi nyatanya selalu dikendalikan oleh orang kaya atau hulubalang. Hikayat Aceh menuturkan Sultan yang diturunkan paksa diantaranya Sultan Sri Alam digulingkan pada 1579 karena perangainya yang sudah melampaui batas dalam membagi-bagikan harta kerajaan pada pengikutnya. pengantinya Sultan Zainal Abidin terbunuh beberapa bulan kemudian karena kekejamannya dan karena kecanduannya berburu dan adu binatang. Raja-raya dan orang kaya menawarkan mahkota kepada Alaiddin Riayat Syah Sayyid al-Mukamil dari Dinasti Darul Kamal pada 1589. Ia segera mengakhiri periode ketidak-stabilan dengan menumpas orangkaya yang berlawanan dengannya sambil memperkuat posisinya sebagai penguasa tunggal Kesultanan Aceh yang dampaknya dirasakan pada sultan berikutnya.
Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636) atau Sultan Meukuta Alam. Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama. Pada tahun 1629, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Sayangnya ekspedisi ini gagal, meskipun pada tahun yang sama Aceh menduduki Kedah dan banyak membawa penduduknya ke Aceh. Pada masa Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil (kakek Sultan Iskandar Muda) didatangkan perutusan diplomatik ke Belanda pada tahun 1602 dengan pimpinan Tuanku Abdul Hamid. Sultan juga banyak mengirim surat ke berbagai pemimpin dunia seperti ke Sultan Turki Selim II, Pangeran Maurit van Nassau, dan Ratu Elizabeth I. Semua ini dilakukan untuk memperkuat posisi kekuasaan Aceh.
Perangkat Pemerintahan
Perangkat pemerintahan Sultan kadang mengalami perbedaan tiap masanya. Berikut adalah badan pemerintahan masa Sultanah di Aceh :
a. Balai Rong Sari, yaitu lembaga yang dipimpin oleh Sultan sendiri, yang anggota-anggotanya terdiri dari Hulubalang Empat dan Ulama Tujuh. Lembaga ini bertugas membuat rencana dan penelitian.
b. Balai Majlis Mahkamah Rakyat, yaitu lembaga yang dipimpin oleh Kadli Maiikul Adil, yang beranggotakan tujuh puluh tiga orang, semacam Dewan Perwakilan Rakyat sekarang.
c. Balai Gading, yaitu Lembaga yang dipimpin Wazir Mu'adhdham Orang Kaya Laksamana Seri Perdana Menteri, seperti Dewan Menteri atau Kabinet kalau sekarang, termasuk sembilan anggota Majlis Mahkamah Rakyat yang diangkat.
d. Balai Furdhah, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal ekonomi, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Menteri Seri Paduka, seperti Departemen Perdagangan.
e. Balai Laksamana, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal angkatan perang, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Laksamana Amirul Harb, kira-kira Departemen Pertahanan.
f. Balai Majlis Mahkamah, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal kehakiman/pengadilan, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Seri Raja Panglima Wazir Mizan, seperti Departemen Kehakiman.
g. Balai Baitul Mal, yaitu lembaga yang mengurus hal ihwal keuangan dan perbendaharaan negara, yang dipimpin oleh seorang wazir yang bergelar Orang Kaya Seri Maharaja Bendahara Raja Wazir Dirham, seperti Departemen Keuangan.
Selain itu terdapat berbagai pejabat tinggi Kesultanan diantaranya
Syahbandar, mengurus masalah perdagangan di pelabuhan
Teuku Kadhi Malikul Adil, semacam hakim tinggi.
Wazir Seri Maharaja Mangkubumi, yaitu pejabat yang mengurus segala Hulubalang; seperti tugas Menteri Dalam Negeri.
Wazir Seri Maharaja Gurah, yaitu pejabat yang mengurus urusan hasil-hasil dan pengembangan hutan; seperti tugas Menteri Kehutanan.
Teuku Keurukon Katibul Muluk, yaitu pejabat yang mengurus urusansekretariat negara termasuk penulis resmi surat kesultanan, dengan gelar lengkapnya Wazir Rama Setia Kerukoen Katibul Muluk, seperti tugas Sekretaris Negara.

Kehidupan Politik, Sosial, dan Agama

Ekonomi
Kebangkitan aktivitas ekonomi Aceh pada abad ke-16 dapat dicermati dari perkembangan statusnya sebagai penghasil beberapa hasil bumi dan sebagai pusat dagang (pelabuhan) di kawasan barat nusantara. Banda Aceh merupakan sebuah kota pusat administrasi pemerintahan dan tempat sultan dan keluarganya tinggal meskipun ia sendiri “bukan merupakan sumber penting dari produk ekspor”. Anthony Reid menyebut Banda Aceh sebagai “imperium dagang”, karena pelabuhan di Banda Aceh dalam beberapa hal dapat dikatakan sama dengan pelabuhan Malaka sebagai sebuah entrepot, meskipun popularitas pelabuhan di Malaka melebihi popularitas pelabuhan yang ada di Aceh. Namun, tentu terdapat kelebihan tersendiri pada pelabuhan yang ada di Banda Aceh, sehingga dapat bersaing dengan pelabuhan yang ada di Malaka.
Tidak diperoleh informasi detail mengenai administrasi perdagangan di Aceh dan kawasan-kawasan yang berada di bawah kontrolnya ketika itu. Juga tidak ada informasi yang memadai mengenai fungsi barang-barang ekspor dari Aceh, terutama dari kawasan Pidie dan Pasai. Beberapa sumber portugis memberikan informasi mengenai produk-produk Aceh yang dibawa ke laut Merah. Pada tahun 1585, jeorge de Lemos, seorang penasehat Portugis untuk penaklukkan Aceh, memberikan informasi bahwa Aceh mengekspor rempah-rempah, emas, dan berbagai perhiasan dalam jumlah besar ke Laut Merah. Aktivitas perdagangan di Laut Merah memberikan pemasukan yang luar biasa kepada sultan Aceh.
Sebagai sebuah kerajaan yang “ditegakkan diatas kekuatan dagang dan maritim”, Aceh secara ekonomi juga bergantung pada pajak yang secara regular dating dari daerah-daerah sekeliling di sekitar pantai dan pajak pelabuhan di ibu kota kerajaan. Poin yang menarik untuk dicermati dalam kaitannya dengan kemajuan ekonomi adalah suasana kota Banda Aceh, sebagai ibu kota kerajaan dan kota pelabuhan. Menurut John Davis, “ sangat luas, dipenuhi dengan tumbuhan yang rimbun, rumah-rumah (penduduk) tidak terlihat hingga kita berada di depannya. Kita juga tidak dapat pergi ke sembarang tempat, karena demikian padatnya rumah penduduk dan banyaknya masyarakat yang lalu lalang. Saya kira kota ini menyebar ke suluruh daratan”. Di kota ini juga dapat dijumpai beragam masyarakat yang memiliki keahlian yang berbeda.

Politik
Sartono Kartodirdjo bilang “dampak yang diakibatkan oleh aktivitas perdagangan Portugis [di kawasan nusantara] adalah meningkatnya intensitas aktivitas politik yang dimainkan oleh para penguasa dan pedagang Muslim”. Pada abad ini, kerajaan Aceh terlibat kebijakan politik yabg konsisten, yaitu melalui perluasan kekuasaan sepanjang kawasan timur dan barat pulau Sumatera. Ini akhirnya memberikan keleluasaan kepada penguasa untuk melakukan control terhadap aktivitas perdagangan di wilayah ini.
Kerajaan Aceh juga mengambil inisiatif untuk beraliansi dengan kerajaan-kesultanan Islam yang lain; dan ini dibangun atas dasar kesamaanagama yang dianut (Islam). Kerajaan Aceh pun membangun hubungan diplomatic dengan Kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka mengirim utusannya ke Istambul, Turki untuk meminta bantuan kepada Khalifah Abdul Hamid II agar berkenan mengirimkan bantuan kemiliteran guna melawan Portugis di Malaka.
Informasi mengenai hubungan Aceh-Turki dapat dijumpai dari berbagai sumber, baik sumber-sumber setempat, sumber-sumber barat, maupun sumber-sumber yang ada di Turki itu sendiri.
Dari kacamata politik, sikap portugis yang senantiasa defensive terhadap tiap serangan yang lancarkan kerajaan Aceh tentu melemahkan status mereka dalam arena perdagangan kerajaan-kerajaan di kawasan nusantara. Bernard H. M. Vlekke menegaskan bahwa “dari aspek politik, portugis tidak mampu meraih kemajuan yang berarti. Mereka tidak memiliki pemukiman di luar Malaka dan Maluku. Malaka senantiasa mendapat ancaman dari Aceh yang telah muncul sebagai sebuah kekuatan penting.

Agama
Dalam sejarah nasional Indonesia, Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama). Guru yang memimpin pendidikan dan pengajaran di dayah disebut dengan teungku. Jika ilmunya sudah cukup dalam, maka para teungku tersebut mendapat gelar baru sebagai Teungku Chiek. Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin oleh seseorang yang disebut dengan tengku meunasah. Penguasa Aceh sangat memperhatikan pendidikan agama Islam, perhatian ini terlihat dari adanya jenjang pendidikan Islam sebagai berikut :
Meunasah, jenjang pendidikan sekolah dasar (ibtidaiyah).
Rangkang, jenjang pendidikan sekolah menengah pertama (tsanawiyah).
Dayah, jenjang pendidikan sekolah atas (aliyah).
Dayah Teuku Cik, jenjang pendidikan sejajar perguruan tinggi. Terdapat di Kutaraja, ibu kota kerajaan.
Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. Manuskrip-manuskrip terkenal peninggalan Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17; kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri. Peninggalan manuskrip tersebut merupakan bukti bahwa, Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Runtuhnya kerajaan Aceh
Keruntuhan Kesultanan Aceh
Keruntuhan kesultanan Aceh bermula dengan strategi penyusupan yang dilakukan oleh Dr. Christian Snouck Hurgronje. Ia berpura-pura masuk Islam dan diterima dengan baik oleh masyarakat Aceh. Ia mendapat kepercayaan dari para pemimpin Aceh. Disitulah ia mengetahui kelemahan masyarakat Aceh. Ia menyarankan kepada Belanda untuk mengarahkan serangan kepada para ulama karena kekuatan Aceh terletak pada ulamanya. Ketika dilaksanakan, saran ini berhasil dan Belanda kemudian menguasai Aceh dengan diangkatnya Johannes Benedictus vab Heutsz sebagai gubernur Aceh pada tahun 1898 yang merebut sebagian besar wilayah Aceh. Pada tahun 1903, Sultan Muhammad Dawud menyerahkan diri kepada Belanda setelah anak dan ibunya ditangkap oleh Belanda. Maka pada tahun 1904 seluruh wilayah Aceh jatuh ke tangan Belanda dan kesultanan Aceh pun telah berakhir.

Peninggalan kerajaan Aceh
Peninggalan Kerajaan Aceh
Berikut ini adalah beberapa peninggalan Kerajaan Aceh yang menjadi bukti bahwa kerajaan tersebut pernah ada dan memiliki peranan penting dalam jalur perdagangan dan penyebaran agama Islam di Indonesia.

1. Masjid Raya Baiturrahman
Peninggalan Kerajaan Aceh yang pertama dan yang paling dikenal adalah Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada sekitar tahun 1612 Masehi ini berada di pusat Kota Banda Aceh. Saat agresi militer Belanda II, masjid ini sempat dibakar. Namun pada selang 4 tahun setelahnya, Belanda membangunnya kembali untuk meredam amarah rakyat Aceh yang hendak berperang merebut syahid.
Saat bencana Tsunami melanda Aceh pada 2004 lalu, masjid peninggalan sejarah Islam di Indonesia satu ini menjadi pelindung bagi sebagian masyarakat Aceh. Kekokohan bangunannya tak bisa digentarkan oleh sapuan ombak laut yang kala itu meluluhlantahkan kota Banda Aceh.

2.  Benteng Indrapatra
Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya adalah Benteng Indrapatra. Benteng ini merupakan benteng pertahanan yang sebetulnya sudah mulai dibangun sejak masa kekuasaan Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke 7 Masehi. Benteng yang kini terletak di Desa Ladong, Kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar ini pada masanya dulu memiliki peranan penting dalam melindungi rakyat Aceh dari serangan meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis. 

Sekarang, kita hanya dapat menemukan 2 benteng yang masih kokoh berdiri. Benteng tersebut berukuran 70 meter x 70 meter dengan tinggi 4 meter dan tebal sekitar 2 meter. Selain menjadi peninggalan bersejarah, benteng Indrapatra kini juga dikenal sebagai objek wisata unggulan Kab. Aceh Besar. Gaya arsitekrur serta keunikan konstruksinya yang hanya terbuat dari susunan batu gunung ini membuat banyak orang penasaran dan tertarik untuk mengunjunginya.

3. Gunongan
Gunongan adalah peninggalan Kerajaan Aceh yang berupa sebuah taman lengkap dengan bangunan keratonnya. Taman ini berdasarkan sejarahnya merupakan bukti cinta Sultan Aceh pada permaisurinya yang sangat cantik. Permaisuri yang tak diketahui namanya ini merupakan putri raja Kerajaan Pahang yang ditawan karena kerajaannya kalah perang. Sang Sultan jatuh cinta dan mempersuntingnya, hingga kemudian si permaisuri tersebut meminta dibuatkan sebuah taman yang sama persis dengan istana kerajaannya yang terdahulu untuk mengobati rasa rindunya.

Gunongan saat ini terletak tak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Tepatnya berada di Desa Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Jika berkunjung ke Banda Aceh, jangan lupa sempatkan diri Anda singgah di taman asmara ini.

4. Makam Sultan Iskandar Muda
Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya adalah Makam dari Raja Kerajaan Aceh yang paling ternama, Sultan Iskandar Muda. Makam yang terletak di Kelurahan Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini sangat kental dengan nuansa Islami. Ukiran dan pahatan kaligrafi pada batu nisannya sangat indah dan menjadi salah satu bukti sejarah masuknya Islam di Indonesia.

5. Meriam Kerajaan Aceh
Kesultanan Aceh telah mampu membuat sarana persenjataannya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan meriam-meriam tua yang kini berjajar di benteng Indraparta dan musium Aceh. Awalnya meriam-meriam tersebut dianggap berasal dari pembelian ke Kerajaan Turki, namun setelah diteliti ulang, ternyata bukan. Teknisi-teknisi kerajaan Aceh-lah yang membuatnya berbekal ilmu yang mereka pelajari dari kerajaan Turki Ustmani. Peranan meriam-meriam ini sangat penting dalam perlawan dan perang terhadap para penjajah dan kapal-kapal perang musuh yang hendak menyandar ke dermaga tanah rencong.

6. Uang Emas Kerajaan Aceh
Aceh berada di jalur perdagangan dan pelayaran yang sangat strategis. Berbagai komoditas yang berasal dari penjuru Asia berkumpul di sana pada masa itu. Hal ini membuat kerajaan Aceh tertarik untuk membuat mata uangnya sendiri. Uang logam yang terbuat dari 70% emas murni kemudian dicetak lengkap dengan nama-nama raja yang memerintah Aceh. Koin ini masih sering ditemukan dan menjadi harta karun yang sangat diburu oleh sebagian orang. Koin ini juga bisa dianggap sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Aceh yang sempat berjaya pada masanya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kerajaan Aceh terletak di Banda Aceh, yang berdiri sekitar abad ke-14. Kerajaan Aceh terdiri dari dua tahap, tahap pertama ketika masa Sultan Alaiddin Johan Syah dan tahap kedua oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda. Bisa menaklukan Pahang, yang pada waktu terkenal dengan usaha timahnya. Kesultana Aceh juga pernah mengirim surat ke luar negeri. Struktur pemerintah masih seperti kerajaan lain yaitu turun temurun. Adapun perangkat pemerintahan ada balai rong Sari, balai majelis mahkamah rakyat, balai gading dan lain lain. Kehidupan ekonomi kerajaan Aceh berdagang dan penghasil bumi. Kerajaan Aceh sebagai pusat pelabuhan di kawasan barat Nusantara. Pada abad ini, kerajaan Aceh terlibat kebijakan politik yabg konsisten, yaitu melalui perluasan kekuasaan sepanjang kawasan timur dan barat pulau Sumatera. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Pada masa ini juga banyak didirikan sekolah agama.
Runtuhnya kerajaan Aceh adalah Keruntuhan kesultanan Aceh bermula dengan strategi penyusupan yang dilakukan oleh Dr. Christian Snouck Hurgronje. Ia berpura-pura masuk Islam dan diterima dengan baik oleh masyarakat Aceh. Ia mendapat kepercayaan dari para pemimpin Aceh. Disitulah ia mengetahui kelemahan masyarakat Aceh. Ia menyarankan kepada Belanda untuk mengarahkan serangan kepada para ulama karena kekuatan Aceh terletak pada ulamanya. Adapun peninggalan peninggalan kerajaan Aceh ada Masjid Baiturahman, benteng Indrapatra, Gunongan, uang Emas, makam Sultan Iskandar Muda dan meriam kerajaan Aceh

DAFTAR PUTAKA

http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/12/6-peninggalan-kerajaan-aceh-keterangan.html, diunduh pada tanggal 26 April 2018, jam 21.
http://stiebanten.blogspot.co.id/2011/10/sejarah-kerajaan-aceh.html diunduh pada tanggal 26 April 2018, jam 14.40
http://kota-islam.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-kerajaan-islam-kesultanan-aceh.html diunduh pada tanggal 26 APRIL, jam 14.30
https://ridwanaz.com/umum/sejarah/sejarah-kerajaan-aceh-pada-masa-kejayaan-dan-keruntuhannya/ diunduh pada tanggal 26 April, jam 20.18
https://andreasnugraha.wordpress.com/2014/09/12/kehidupan-agama-ekonomi-sosial-dan-budaya-masyarakat-kerajaan-samudra-pasai-dan-aceh/ diunduh pada tanggal 27 april 2018, jam 05.20
MA, Prof.Dr. Amirul Hadi. Aceh: Sejarah, Budaya, dan Tradisi. 2010. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Madjid, Prof.Dr.M.Dien. Catatan Pinggir Sejarah Aceh : Perdagangan, Diplomasi dan Perjuangan Rakyat. 2004. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Rabu, 25 April 2018

Peninggalan kerajaan banten

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Banten
1. Masjid Agung Banten
    Masjid Agung Banten adalah salah satu bangunan peninggalan kerajaan Banten yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid ini terletak di Desa Banten lama, 10 km utara Kota Serang. Masjid ini memiliki beberapa keunikan corak.
2. Istana Keraton Kaibon Banten
    Istana ini dulunya adalah tempat tinggal ibunda Sultan Syaifuddin yakni Bunda Ratu Aisyah.
3. Istana Keraton Surosowan Banten
    Kerajaan Banten di masa silam juga meninggalkan bangunan istana lainnya, yaitu istana Keraton Surosowan. Istana ini adalah tempat tinggal dari Sultan Banten dan menjadi kantor pusat kepemerintahan.
4. Benteng Speelwijk
    Kerajaan Banten juga meninggalkan bangunan berupa benteng dan mercusuar. Benteng Speelwijk di bangun tahun 1585, benteng peninggalan kerajaan Banten berfungsi selain sebagai pertahanan kerajaan dari serangan laut juga berfungsi untuk mengawasi aktifitas pelayaran disekitar Selat Sunda.
  

Makalah KERAJAAN PAJANG

       KERAJAAN PAJANG
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd. M.A.‘ 
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia Sampai Abad Ke-16

Disusun Oleh :
Nur Afni Sedyowati Naufal Hanif    Atik Septiani    Ahmad Farhan
BAB II
PEMBAHASAN

SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN PAJANG
Kerajaan Pajang merupakan kerajaan penerus Demak. Setelah kerajaan Demak mengalami kekacauan akibat perebutan tahta kepemimpinan Demak. Sepeninggal Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik tahta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang (Bojonegoro). Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal. Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang.
Jaka Tingkir menjadi pewaris tahta Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang. Jaka Tingkir adalah menantu dari Sultan Trenggana. Penyerangan terhadap Arya Penangsang itu, Jaka Tingkir dibantu oleh Ki Ageng Pamanahan. Atas jasa Ki Ageng tersebut, Jaka Tingkir memberikan hutan kepada Ki Ageng Pemanahan tepatnya di hutan Mentoak yang kelak menjadi Mataram.
Pengesahan Jaka Tingkir sebagai sultan Kerajaan Pajang (Boyolali) disahkan oleh Sunan Giri dan segera mendapat pengakuan dari seluruh kadipaten di Jawa tengah dan Jawa Timur. Sementara Demak dijadikan Kadipaten dengan adipatinya Arya Pengiri putra Sunan Prawoto. Kalau kerajaan Demak berada dipesisir akan tetapi kerajaan Pajang diletakkan di pedalaman yaitu Pajang.
Peletakan Kerajaan itu, menuai kritik dari Sunan Kudus karena menurutnya di daerah pedalaman telah menganut kepercayaan Islam yang berbeda dengan kepercayaan Islam pesisir. Sunan Kudus menduga aliran kepercayaan Islam yang berbeda diprakarsai oleh Syekh Siti Jenar. Namun harapan Sunan Kudus agar tidak memindahkan ibu kota kerajaan ke pedalaman itu tidak dihiraukan, maka terjadilah pemindahan ibu kota kerajaan Demak ke Pajang dan lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajang.
Jadi, ketika Sultan Trenggana masih menjabat sebagai raja Demak, Mas Karebet atau sering disebut Jaka Tingkir (Putra Kebo Kenanga) diangkat sebagai mantu dan dinobatkan sebagai adipati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya. Namun ketika Sunan Prawata (pengganti Sunan Trenggana) mangkat, Hadiwijaya yang telah menyingkirkan Arya Panangsang (Jipang) dengan dukungan juru Mrentani tersebut menobatkan diri sebagai raja Pajang. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa pendiri Kesultanan Pjang adalah Hadiwijaya.
Usia Kesultanan Pajang tidak lebih dari setengah abad yakni dari tahun 1549 hingga 1587. Karenanya tidak heran bila dalam waktu 38 tahun itulah, kesultanan Pjang hanya melahirkan tiga orang raja, yakni: Sultan Hadiwijaya (1549-1582), Arya Pangiri (1583-1587), dan Pangeran Banawa atau Sultan Prabuwijaya (1586-1587).
Bila menilik sejarah Kesultanan Pajang tidak diketahui masa kejayaanya. Mengingat sejk berdiri hingga masa keberakhiran riwayatnya, Pajang tidak bisa dibilang pernah mengalami puncak kejayaan. Bahkan selama pemerintahan Pajang berlangsung hanya diwarnai konflik politik di lingkup keluarga yang merupakan penyebab hancurnya kerajaan tersebut.

Konflik Sultan Hadiwijaya dengan Panembahan Senopati
Di masa Sultan Hadiwijaya, wilayah Mataram yang semula dianugerahkan pada Pemanahan atau Ki Ageng Mataram merupakan bawahan Pajang. Sesudah Pemanahan meninggal, Raden Bagus yang menggantikan kedudukannya berhasrat membebaskan Mataram dari bayang-bayang Pajang. Namun, hasrat Raden Bagus tidak pernah mendapatkan restu dari Juru Mrentani.
Ketika 40 mantri pamajekan Mataram merebut Tumenggung Mayang yang akan dibuang Hadiwijaya ke Semarang dari pasukan Pjang. Penyerangan orang-orang Mataram terhadap pasukan Pajang di Jatijajar itu diyakini Hadiwijaya sebagai bentuk perlawanan Raden Bagus terhadap raja Pajang. Karenanya, Hadiwijaya bertekad untuk menangkap Raden Bagus, hingga terjadilah perang besar antara Pajang dengan Mataram.
Sesudah peristiwa perang Pajang versus Mataram, Sultan Hadiwijaya yang dalam perjalanan pulang itu jatuh sakit. Tidak berapa lama akhirnya wafat. Sepeninggal Hadiwijaya, Sunan Kudus membuat kebijaksanaan. Di mana tahta kekuasaan Pajang diserahkan pada Adipati Demak – Arya Pangiri (putra Sunan Prawata) yang merupakan menantu Hadiwijaya. Sementara pangeran Banawa hanya dinobatkan sebagai Adipati di Kadipaten Jipang.
Konflik Arya Pangiri dengan Pangeran Banawa 
Sebagai penguasa Pajang Arya Pangiri mempunyai banyak kelemahan dalam memimpin pajang. Selain sifatnya yangmudah curiga, Arya Pangiri tidak peduli pada kesejahteraan rakyatnya. Arya Pangiri hanya berfokus untuk menaklukkan Mataram.
Selain kelemahan di muka, Arya Pangiri memiliki kelemahan lain yakni mendatangkan banyak penduduk dari Demak dan menyingkirkan penduduk asli Pajang. Kebiasaan Arya Pangiri ini membuat sebagian warga Pajang kehilangan pekerjaan kemudian merampok dan mencuri. Sementara sebagian warga Pajang lainnya berpindah ke Jipang untuk menghamba pada Pangeran Banawa.
Sesudah mengetahui tata pemerintahan Arya Pangiri yang cenderung menggencet nasib warga asli Pajang, Pangeran Banawa mengutus duta ke Mataram. Duta tersebut menyampaikan maksud Pangeran Banawa agar Raden Bagus bersedia menjadi Raja Pajang  menggantikan Arya Pangiri.
Raden Bagus menolak untuk dijadikan Raja di Pajang. Raden Bagus justru menyampaikan kepada Duta Jipang agar Banawa bersedia menjadi Raja di Pajang dan berpesan agar Pangeran Banawa pergi ke Mataram bersama pasukannya dengan melalui Gunungkidul.
Duta Jipang meninggalkan Mataram.Mengahadap Pangeran Banawa dan menyampaikan pesan Raden Bagus. Sesudah menangkap maksud tersirat dari Raden Bagus, Banawa dan pasukannya berangkat ke Mataram melalui Gunungkidul. Setiba di Weru, Banawa disambut Raden Bagus, pasukan Mataram, dan orang-orang Pajang anti Arya Pangiri.
Hasil pembicaraan antara Pangeran Banawa dan Raden Bagus adalah menyerbu Pajang dan menurunkan Arya Pangiri dari tahta kekuasaan. Dari Weru, berangkatlah pasukan gabungan Jipang, Mataram, dan orang-orang Pajang menuju Ibukota Pajang. Perang pasukan Arya Pangiri yang terdiri dari orang-orang Demak dan Kudus dengan pasukan gabungan yang dipimpin Pangeran Banawa dan Raden Bagus itu tak dapat dihindari. Dari perang tersebut, Pajang dapat ditaklukkan. Arya pangiri yang diturunkan dari tahta kekuasannya dipulangkan ke Demak. Kemudian Pangeran Banawa dinobatkan sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Prabuwijaya.

Masa Surut Kerajaan Pajang
Pangeran Banawa naik tahta sebagai raja Pajang ke-3. Hubungannya dengan Raden Bagus semakin erat saat Prabuwijaya menikahkan putrinya bernama Dyah Banowati dengan Raden Mas Jolang. Kelak pernikahan antara Dyah Banowati dengan Raden Mas Jolang melahirkan Raden Mas Rangsang (Sultan Agung).
Beberapa naskah babad memberitakan dengan versi yang berbeda tentang akhir pemerintahan Sultan Prabuwijaya di Pajang. Versi pertama menyebutkan , Sultan Prabuwijaya meninggal karena meninggal pada tahun 1587. Versi kedua menyatakan, Sultan Prabuwijaya turun tahta karena menjadi ulama di Gunung Kulakan bergelar Sunan Parakan. Versi ketiga mengabarkan, Sultan Prabuwijaya minggalkan tahta Pajangv karena membangun pemerintahan di Pemalang.
Sepeninggal Sultan Prabuwijaya, Raden Bagus menobatkan Pangeran Gagak Baning sebagai adipati di Pajang. Karena status hanya sebagai kadipaten bawahan Mataram, maka riwayat kesultanan Pajang dianggap berakhir. Sungguhpun belum bisa disebut bahwa Pajang mengalami kehancuran.
Perkembangan manuskrip pada zaman Pajang merupakan perkembangan yang tidak bisa dipisahkan dari zaman Demak. Namun tampaknya agak sulit megidentifikasi secara secara mandiri dan perperiode kerajaan. Satu karya manuskrip yang banyak dianggap berasal dari zaman ini adalah Serat Nitisruti.
Metode Penyebaran Agama Islam/ Islamisasi
Jaka Tingkir adalah seorang Kampiun Perdamaian, yang berkeinginan mendinginkan panasnya api persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan suku Jawa  yang  bibitnya  telah ditabur sejak zaman Majapahit dan Pajajaran. Bisa dikatakan pula bahwasanya ikatan Sumedang-Cirebon-Pajang yang dibangun lewat hubungan guru-murid-saudara seperguruan, adalah prestasi terbesar Jaka Tingkir sebagai Raja Pajang dalam arena diplomasi regional yang bahkan tak bias dilakukan oleh para penguasa Demak.
Selain itu, Jaka Tingkir juga membalas budi kepada Sutawijaya yang telah berhasil membunuh Arya Penangsang. Sutawijaya dan ayahnya, Ki Ageng Pamanahan diberi hadiah tanah mentaok yang sekarang berlokasi di sekitar Kotagede, inilah cikal bakal dari Kesultanan Islam terkuat di Tanah Jawa, yaitu Mataram.

Sebagai Murid dari salah satu anggota Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga. Jaka Tingkir merasa berkewajiban melanjutkan dakwah sesuai dengan cara yang pernah dipergunakan oleh sang guru. Sunan Kalijaga selama ini telah merancang proyek kebudayaan Islam lokal dalam rangka  menyebarkan  nilai-nilai  religius  yang  senafas  dengan  tradisi  Jawa (pengadatan Jowo) melalui proses asimilasi dan akulturasi yang panjang. Sunan Kalijaga terkenal sebagai seorang   pujangga   yang   berinisiatif  menciptakan  karangan  cerita-cerita   pewayangan   yang kemudian  dikumpulkan  dalam  kitab-kitab  cerita  wayang  yang  sampai  sekarang  masih  ada.
Cerita-cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Hindu Jawa dengan corak kehidupannya  yang  ada,  tetapi sudah dimasuki unsur-unsur  ajaran Islam sebanyak  mungkin. Hal semacam inilah  yang  ingin  dilanjutkan oleh Jaka Tingkir  dengan  Kerajaan Pajang sebagai Laboratorium Dakwahnya.
Tokoh lain selain Sunan Kalijaga yang ajarannya dijadikan panutan  oleh  Jaka Tingkir dalam perkembangan Dakwah Islamiyah pada masa Kesultanan Pajang, adalah Malang Sumirang. Saking kuat pengaruhnya, namanya diabadikan dengan tinta emas di dalam Babad Jaka Tingkir. Malang Sumirang kadang tidak sepaham dengan Dewan Wali Songo, ia pernah berkata “tanpa melihat besar atau kecilnya dosa dan kesalahan, namun langsung mencap buruk terhadap suatu ajaran, cara pandang seperti ini tidaklah tepat dan benar”. Statement Malang Sumirang menunjukkan realitas sejarah di mana Dewan Wali Songo tak menyetujui cara dakwah Malang Sumirang yang menekankan aspek Tasawuf Ahlaki. Dalam rangka menangkal stigma tersebut, Malang Sumirang menjelaskan bahwa Tasawuf yang ia anut tidak menentang Syariat Islam tetapi justru memperdalam penghayatan dalam beragama. Malang Sumirang juga berkata, “Orang yang sudah memahami hakikat dirinya sendiri, sembahyangnya tidak akan melihat waktu,

ibarat air mengalir; berdoa selalu siang malam tanpa henti. Memuji Allah kapan saja dan dimana saja”. Bagi Malang Sumirang, shalat yang merupakan representasi syariat merupakan ritual yang penting namun seharusnya tak terbatasi oleh lima waktu saja. Allah dapat dan harus senantiasa diingat di dalam hati setiap saat dan dimana pun.
Dalam Babad Jaka Tingkir, di pupuh ke XXII, untaian tembang Mijil, dituliskan dengan nada memuji bahwa Malang Sumirang ikhlas menerima usulan Sunan Bonang yang menghendaki dirinya menjalani hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup di tumangan (api unggun). Hukuman mati terhadap Malang Sumirang membuktikan bahwa situasi ketika itu tidak memungkinkan seseorang mengambil sikap bersebrangan dengan cara, pemikiran maupun pemahaman keagamaan yang diikuti oleh penguasa, alhasil kekuasaan dari pemegang otoritas untuk melakukan interpretasi dalam bidang agama bertindak dengan memberangus tubuh siapapun yang menurut mereka mencoba menafsirkan agama sesuka hatinya.
Jaka Tingkir juga merekrut seorang pujangga besar bernama Pangeran Karanggayam, penulis karya filosofis berjudul Serat Nitisruti yang berisi ajaran moral dan mistisme Islam Jawa. Salah satu ungkapannya yang merepresentasikan struktur nalar mistik adalah, “bersumpahlah atas nama mati dan mempraktikkan cara bertapa ala leluhur. Tak henti melihat segala hal di muka bumi. Langit seisinya semuanya adalah hamba Allah. Teks ini dapat ditafsirkan sebagai hasrat untuk menjauhkan kebutuhan-kebutuhan duniawi. Kebutuhan utama adalah menghadirkan Allah di dalam jiwanya. Apabila Allah sudah hadir dalam jiwa manusia, secara otomatis kebutuhan apapun sudah tercukupi, manusia tidak akan menjadi serakah dan haus akan harta benda maupun kekuasaan yang dapat merugikan orang lain.

Dalam Lingkungan Istana, Jaka Tingkir berusaha menciptakan atmosfer yang Islami, yang ditandai dengan adanya tata tertib, sensitifitas dan estetika dengan memanfaatkan Adat Budaya Jawa seperti yang dicontohkan Sunan Kalijaga. Dikalangan istana terdapat adat walon, yakni tata krama yang diberikan sejak kecil. Misal : cara berpakaian, cara makan, cara bergaul dengan keluarga, tetangga, orang lain, dan sebagainya. Untuk memperhalus perasaan diberikan pelajaran kesenian dan sejumlah pendidikan seperti Pendidikan kasatupan, yaitu pendidikan pembentukan karakter yang ditempuh dengan melalui laku atau cara-cara tertentu. Hal itu sesuai dengan upacara ngelmu iku kelakone kanthi laku artinya ilmu pengetahuan itu dapat diperoleh dengan cara yang tidak mudah. Pendidikan itu bersifat lahirah dan batiniah. Pendidikan ini meliputi ngelmu jaya kawijayan, yakni pendidikan bertujuan agar seseorang memiliki kesaktian. Untuk mendapat tujuan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti bertapa, berpantang, dan berpuasa. Ngelmu pangawikan, yakni pendidikan yang bertujuan agar seseorang menguasai berbagai ilmu, misalnya, ilmu tentang menjinakkan kuda, harimau, buaya, burung perkutut, dan benda pusaka. Ngelmu kasantikan, yakni pendidikan yang bertujuan agar seseorang memiliki kebijaksanaan dan kesempurnaan hidup. Dengan metode semacam itulah, pada akhirnya Jaka Tingkir sebagai Penguasa Kerajaan Pajang berdakwah dengan memberi panutan kepada masyarakat bagaimana cara hidup sebagai seorang Muslim yang baik.
Transisi Maritim ke Agraris
Pada masa Kesultanan Demak, Islamisasi banyak terjadi di wilayah Pesisir. Hal ini disebabkan karena Pantai menjadi tempat bertemunya berbagai macam kebudayaan dari luar Nusantara. Hal tersebut berakibat pada tumbuhnya perkampungan pedagang Arab di Pesisir Utara Jawa. Dalam perkembangan selanjutnya, koloni dagang para pedagang Arab ini mulai memberikan kontribus dalam penyebaran Islam . Hal ini mempengaruhi pula perkampungan pedagang lain yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan Asia Tenggara.
Disadari atau tidak, tumbuhnya Bandar-bandar baru itu dimana banyak Saudagar asing yang datang untuk berdagang, turut memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Kesultanan Demak pada awal masa Kekuasaanya.
Bukan hanya menyumbang devisa terhadap negara, makin intensnya komunikasi yang terjalin antara para penyebar islam baik itu mubaligh, kiai maupun sufi dengan para pedagang menciptakan hubungan Patron-Client, bahkan banyak diantara para saudagar yang menduduki jabatan penting di kerajaan. Tidak salah jika dikatakan bahwa, berdirinya Kesultanan Demak adalah kemenangan kelas saudagar dari Kerajaan Maritim terhadap Aristokrat Feodal pedalaman yang menguasai Imperium Majapahit.
Tidak hanya berhenti menjadi Penguasa Bandar Dagang, Demak bertransformasi menjadi Penguasa Lautan dengan menjalin Kerjasama militer bersama Kerajaan Aceh dan Kepangeranan Jepara. Pada tahun 1513, berkoalisi dengan angkatan laut Aceh, Demak melakukan penyerangan melawan Portugis di Malaka. Mereka membawa sekitar 100 kapal perang dengan kekuatan
12.000 kelasi. Kapal laksamana pemimpin perangnya diberi panser dari kapur. Meriam yang dibawa untuk menggempur Portugis di Malaka ini semua berasal dari Jawa. Begitu pun dengan Jepara. Dibawah pimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara mengirimkan bantuan militer kepada Kerajaan Aceh yang berperang melawan Portugis di Malaka.
Setelah Demak runtuh, kekuasaan pindah ke Pajang, di mana pusat kekuasaan beralih dari kawasan pesisir ke kawasan pedalaman. Peralihan pusat kekuasaan tersebut memberi dampak terhadap corak pemerintahan, lambat laun kehilangan taring khas bangsa maritim dan terkungkung dalam eksotisme budaya agraris.
Jaka Tingkir memiliki inovasi baru untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi lewat menggalakan perniagaan berbasiskan pengembangan komoditas seni-budaya yang sofistikatif. Hal itu dapat terlihat dari bandar laweyan dimana Jaka Tingkir mendukung berdirinya kampung kerajinan seperti Kampung Batik Laweyan, kampung mutihan dan beberapa kampung kerajinan lainnya yang membuat Pajang menjadi kerajaan yang terkenal kala itu. Seni budaya masa Jaka Tingkir juga mendapat perhatian tatkala Demak saat itu menjadi kadipaten dibawah kekuasaan Pajang. Selanjutnya keraton Kerajaan Pajang diperindah oleh Hadiwijaya, membangun masjid beserta makam dikampung Laweyan dan kemajuan dibidang lainnya

Kehidupan Kerajaan Pajang dari Berbagai Aspek
Kehidupan Politik Kerajaan Pajang
Kerajaan Pajang ini bisa dikatakan sebagai kerajaan bekas dari Demak. Hal ini karena sejarah berdirinya Kerajaan Pajang tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Demak. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Joko Tingkir yang kala itu berhasil menumpas Aryo Penangsang. Aryo Penangsang sendiri adalah raja di Demak yang tidak diinginkan oleh peihak keluarga besar Demak. Dari sini kemudian keluarga meminta bantuan Joko Tingkir untuk menyingkirkan Aryo Penangsang. Setelah berjalannya waktu, Kerajaan Demak runtuh maka Joko Tingkir kemudian menggeser pusat pemerintahan di Demak ke Pajang yang sekaligus menjadi penanda berdirinya Kerajaan Islam Pajang.
Kehidupan politik Kerajaan Pajang ini sebenarnya mulai mapan dan stabil. Namun disayangkan perjalanan Kerajaan Islam Pajang tidak cukup lama karena beberapa konflik yang terjadi. Kerajaan Pajang sendiri berpusat di Jawa Tengah bekas Kerajaan Demak lebih tepatnya yaitu di daerah Kartasura dekat Surakarta atau Solo. Kerajaan Pajang ini sebenarnya meski muncul belakangan, pernah juga disebut oleh Hayam Wuruk dalam kitab Negarakertagama. Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, kerajaan Pajang dan kerajaan Demak sudah disinggung di dalam kitab tersebut.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Pajang
Meski merupakan kerajaan baru jika dibanding dengan Kerajaan Demak, namun secara ekonomi Kerajaan Pajang sangatlah baik. Kesejahteraan rakyatnya cukup terjamin dengan berbagai hasil bumi yang dihasilkan. Ketika Kerajaan Demak masih berkuasa, bahkan Kerajaan Pajang ini sudah berhasil mengekspor beras ke beberapa daerah melalui perniagaan dengan memanfaatkan Bengawan Solo sebagai jalur transportasi. Pada umumnya, masyarakat Pajang mengandalkan hasil kebun dan pertanian untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan Pajang berhasil menjadi lumbung beras pada sekitar abad ke 16 dan ke 17. Hal ini karena irigasi di daerah Pajang sangat bagus dengan adanya Bengawan Solo sehingga irigasi lancar yang kemudian membuat hasil pertanian melimpah.
Kelemahan masyarakat Pajang pada saat itu adalah ketidakmampuan dalam bidang perniagaan. Sehingga meski memiliki hasil agraris yang sangat melimpah, kedigdayaan ekonomi Kerajaan Pajang ini tidak berlangsung lama. Terlebih lagi perniagaan dengan basis laut atau maritim yang sedang ngetrend pada saat itu, semakin membuat Kerajaan Pajang tertinggal dengan kerajaan lain di bidang ekonomi perniagaan. Karena masyarakat pajang kurang ahli dalam masalah kelautan, padahal pada saat itu semua perdagangan hampir dilakukan di lautan.
Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Pajang
Meski kerajaan Pajang merupakan salah satu Kerajaan Islam di Jawa, namun pengaruh tradisi Hindu masih kentara. Sehingga beberapa kebudayaan pun masih ada yang menggunakan tradisi-tradisi Hindu. Masyarakat di Pajang juga masih banyak yang menjalankan beberapa tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Pada masa kejayaan Kerajaan Pajang, terjadi akulturasi budaya antara Hindu dan Islam yang kuat. Bahkan, kemunculan Kerajaan Pajang ini juga banyak yang menafsirkan kembalinya kekuasaan Islam kejawen dari Islam ortodok.
Demikian sedikit informasi mengenai Sejarah Kerajaan Pajang, Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya Kerajaan Islam Pajang yang bisa kami sampaikan untuk Anda semua. Semoga sedikit informasi mengenai sejarah Kerajaan Pajang dan kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya Kerajaan Pajang di atas bisa menambah pengetahuan kita semua mengenai sejarah Kerajaan Pajang.
Peninggalan Kerajaan Pajang
Berikut merupakan peninggalan-peninggalan kerajaan Pajang, yaitu:
Masjid Laweyan

Masjid Laweyan berada di daerah Solo tepatnya di kampung Batik, tepatnya di Dusun Pajang Rt 4 Rw 4, laweyan Solo. Masjid ini didirikan pada tahun 1546 M yang sampai sekarang masih ada dan digunakan para masyarakat setempat. Pada masa raja Joko Tingkir yang memerintah di kerajaan Pajang, masjid ini didirikan dan masjid ini kental dengan unsure tradisional jawa. Masjid ini pun menjadi letak sejarah tentang keberadaan Ki Ageng Henis karena masjid ini dekat dengan makam-makam raja dan kerabat kasunanan.
Masjid ini sangat dipengaruhi oleh kerajaan Surakarta yang sangat terlihat dari bangunan yang berubah-ubah. Pada salah satu komplek daerah masjid ini terdapat ada pemakaman untuk para bangsawan keraton Solo. Gerbang makamnya pun terdiri dari Betari Durga dan terdapat suatu simbolisme penjagaannya dari Betari Durga. Makam ini pun pernah direnovasi oleh Paku Buwono X bersama dengan renovasi Keraton Kasunanan.
Berikut nama-nama Raja kerajaan Pajang yang dikuburkan di komplek masjid Laweyan:
Ki Ageng Henis
Susuhunan Paku Buwono II
Permaisuri Paku Buwono V
Pangeran Widjil I Kadilangu
Nyai Ageng Pati
Nyai Pandanaran
Prabuwinoto
Dalang keraton kasunanan Surakarta
Kyai Ageng Proboyekso

Bandar Kabanaran

Bandar ini merupakan suatu pelabuhan yang terkenal. Pada saat Kyai Ageng henis tinggal di daerah Laweyan dengan dakwahnya beliau pun juga mengadakan bisnis perdagangan, yaitu karya yang terkenal adalah teknik pembuatan batik pada penduduk setempat. Perdagangan semakin ramai dan berkembang sangat pesat, karena itu arus lalu lintas yang padat sangat mendukung perkembangan perdagangan tersebut. Bandar kabanaran ini merupakan pelabuhan yang menghubungkan kerajaan Pajang dengan Bandar Besar Nusupan yang ada di tepi sungai bengawan Solo.
Pasar Laweyan
Pasar ini merupakan pusat perdagangan bahan pakaian dan kain tenun. Semenjak tahun 1546 M pasar ini banyak sekali memproduksi jenis batik yang berasal dari para masyarakat kampung tersebut. seperti halnya dengan tradisi membatik di masyarakat Laweyan. Teknik membatik ini pada awalnya dikenalkan oleh Ki Ageng Henis yang merupakan penasihat spiritual di Kerajaan Pajang. Pasar ini terletak di timur kampung Setono, di selatan Kampung Lor Pasar dan di utara Kampung Kidul Pasar.
Tidak jauh dari Bandar Kabanaran ada sebuah pasar yang di namai Pasar Laweyan. Pasar itu  dahulu kala merupakan pendorong utama kegiatan perdagangan di Bandar Kabanaran. Hingga sampai kini, pasar Laweyan masih di pakai masyarakat untuk melakukan transaksi perdagangan. Namun demikian, tidak ada sisa benda bersejarah yang menceritakan bagaimana sejarah peradaban bangunan pasar itu di bangun.
Kesenian Batik
Kerajaan pajang pada masa lampau juga mewariskan kesenian batik tulis. Batik yang selama ini di kenal oleh masyarakat. ternyata sejarah awalnya pembuatan batik pertama kali yang membuat adalah masyarakat laweyan saat masa kerajaan pajang.Meskipun kesenian batik Laweyan pernah pudar karena perkembangan batik printing yakni pada tahun 1980. namun kini ke populeran kain batik tulis ini kembali naik daun berkat minat masyarakat yang semakin besar terhadap kain batik tulis ini.

BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya yang merupakan penerus keturunan dari kerajaan Demak. Sultan Hadiwijaya mendirikan kerajaan Pajang pada tahun 1549 sampai 1582 dan diteruskan oleh Arya Pangiri pada tahun 1583 sampai 1587, dan diakhiri oleh Pangeran Banawa atau biasa dipanggil Sultan Prabuwijaya (1586-1587). Kesultanan Pajang berusia tidak lebih dari setengah abad dikarenakan adanya konflik-konflik politik di lingkup keluarga.
Keadaan ekonomi kesultanan Pajang yaitu menggunakan pertemuan aliran sungai Pepe dan Dengkeng dengan  Bengawan Solo untuk digunakan sebagai irigasi pertanian. Keadaan sosial budaya di kerajaan Pajang sangatlah Islami, karna adanya tata tertib, sensitifitas, dan estetika Adat Budaya Jawa seperti yang dicontohkan Sunan Kalijaga.
Kerajaan Pajang runtuh saat Pangeran Banawa naik tahta sebagai raja Pajang ke-3 saat beliau menikahkan dengan Dyah Bonawati dengan Raden Mas Jolang dan melahirkan Raden Mas Rangsang (Sultan Agung). Banyak versi yang mengatakan Pangeran Banawa lari dari kerajaan Pajang untuk mengurus sesuatu. Sepeninggalan beliau, Raden Bagus dinobatkan sebagai adipati Pajang. Karena statusnya seorang kadipaten bawahan Mataram, maka riwayat kesultanan Pajang dianggap berakhir, dan hal ini belum bisa dikatakan bahwa Pajang mengalami kehancuran. Walaupaun kerajaan Pajang berakhir, kita masih bisa melihat peninggalan-peninggalan Kejaraan Pajang , seperti Masjid Laweyan, Bandar Kabanaran, dan Pasar Laweyan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Sri Winata. Sejarah Islam di Tanah Jawa. Yogyakarta: Araska. 2017.

Arswendo Atmowiloto. Kitab Solo. (Surakarta : Pemerintah Kota Surakarta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,2009), dari Skripsi Dede Maulana. Peran Jaka Tingkir Dalam Merintis Kerajaan Pajang 1546-1586. UIN Syarif Hidayatullah: 2015.
Hermawati, dkk. Peninggalan Masa Islam Di Jawa Tengah Abad XV-XVIII M. Semarang: Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Prov. Jawa Tengah. 2007

Sudewa. Serat Panaitisastra : Tradisi, Resepsi dan Transformasi.(Yogjakarta : Disertasi Pascasarjana UGM, 1989),  dari Skripsi Dede Maulana. Peran Jaka Tingkir Dalam Merintis Kerajaan Pajang 1546-1586. UIN Syarif Hidayatullah.2015.
http://dapurilmiah.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-kerajaan-demak-pajang-dan.html

https://pintasilmu.com/peninggalan-kerajaan-pajang-islam/

http://sejarahindonesiadahulu.blogspot.co.id/2017/03/sejarah-kerajaan-pajang-kehidupan.html

Makalah KERAJAAN BANTEN

KERAJAAN BANTEN
Makalah ini kami buat untuk memenuhi mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad-16
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.

NAMA KELOMPOK
Afrizal Mukhlisin (173231051)
Aviana Pramesti (173231052)
Hafizan Pramanda P (173231053)
Ainy Musthofiyah (173231057)
Nur Khasanah (173231073)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
SEJARAH PERADABAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018


KATA PENGANTAR
Puji syukur terhadap Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga kelompok kami dapat menyusun makalah Kerajaan Banten ini dengan tiada suatu masalah yang berarti. Dan semoga makalah ini dapat berguna bagi pembelajaran mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad-16.
Makalah ini disusun oleh mahasiswa yang tergabung dalam kelompok, untuk itu terimakasih atas kontribusinya dan kerja sama serta kekompakan dalam penyusunan makalah demi terpenuhinya tugas kami bersama.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dalam sejarah Kerajaan Banten. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Surakarta,   April 2018

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di ProvinsiBanten,Indonesia dan juga merupakan bagian dari kerajaan Sunda yang dikenal dengan Banten Girang.Sekitar tahun 1526 kedatangan pasukan Kerajaan Demak yang  dipimpin oleh Maulana Hasanuddin putera Sunan Gunung Jati ke kawasan tersebut dengan tujuan untuk perluasan wilayah dan menyebarkan dakwah Islam. Maulana Hasanuddin mulai melakukan penaklukan dan membuat benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan dan menjadi pusat pemerintahan setelah Banten berhasil mendirikan kesultanan sendiri. Pada tahun 1527 Banten menjadi kerajaan yang penting dan dapat diperhitungkan di Nusantara karena Kerajaan Banten memiliki pengaruh yang besar terhadap perdagangan rempah-rempah dan menjadi pemasok rempah-rempah ke Negara Eropa seperti Inggris, Portugis, Belanda.
Fatahillah merupakan seorang perintis berdirinya Kesultanan Banten. Agar Banten berkembang dengan baik, maka Fatahillah berupaya memperluas kekuasaan dan wilayahnya ke berbagai daerah sekitar kekuasaannya. Setelah Banten berkembang dengan baik, Fatahillah kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya yang bernama Sultan Maulana Hasanudin untuk menjadi Kesultanan Banten yang pertama. Sultan Maulana Hasanudin berhasil mendirikan kerajaan Islam di Banten sehingga masyarakat Banten yang saat itu berada dibawah kepemimpinannya mulai memeluk agama Islam. 

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah awal Kerajaan Banten?
Bagaimana peran dan kedudukan ulama di Kesultanan Banten
Bagaimana masa kejayaan Kerajaan Banten?
Bagaimana proses kemunduran Kerajaan Banten?

TUJUAN PENULISAN
Mengetahui sejarah awal terbentuknya Kerajaan Banten
Mengetahui peran dan kedudukan ulama di Kesultanan Banten
Mengetahui masa kejayaan Kerajaan Banten
Mengetahui proses kemunduran Kerajaan Banten

BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Awal Kerajaan Banten
Sejak sebelum zaman islam, ketika masih berada dibawah kekuasaan raja-raja Sunda, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten, sebuah kota pelabuhan diujung barat pantai utara Jawa. Pada tahun 1525, Sunan Gunung jati dan Cirebon, meletak dasar bagi pengemban islam serta bagi perdagangan orang-orang islam disana.
Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Demak dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin, selain perluasan wilayah juga penyebaran dakwah islam, ia juga melakukan perluasan ke Lampung, selain itu dia juga melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabau.
Letak Banten berada didekat selat Sunda menjadikan kedudukan yang startegis. Selat Sunda menjadi pintu masuk utama ke Nusantara bagian Timur lewat pantai Barat Sumatra bagi pedagang-pedagang muslim. Dan kemudian bagi para pedagang Eropa yang datang dari arah ujung selatan Afrika dan Samudra Hindia. Masuknya pedagang-pedagang asing terutamma pedagang muslim yang datang ke Banten telah banyak mengakibatkan perubahan dalam pemerintahan.  Maulana Hasanuddin telah berhasil berdakwahdari satu tempat ke daerah yang lain mulai dari Gunung Polusari, Gunung Karang, Gunung Aseupan sampai ke Pulau Panaitan Ujung Kulon.
Kerajaan Islam Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Setelah Sunan Gunungjati. Setelah Sunan Gunungjati menakhlukan Banten pada tahun 1525, ia kembali ke Cirebon, dan kekuasaannya diserahkan kepada anaknya yaitu Sultan Hasanuddin. Hasanuddin kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam meluaskan wilayah islam, yaitu ke Lampung. Hubungan perdagangan dari hasil bumi ini terus berlanjut dan berkembang. Pada akhirnya Sultan Hasanuddin mulai menyebarkan Agama Islam didaerah Lampung. Mulailah rakyat Banten bermigrasi kedaerah Lampung untuk mencari lahan dan sumber penghasilan untuk perkebunan dan penjualannya.  Sejak masuknya Masyarakat Banten ke Lampung, banyak perkampungan orang Banten yang membentuk kampung-kampung sendiri dan membuat ladang di Lampung. Misalnya penduduk di Lampung yang mayoritas dari Banten yaitu warga gang damai kampung Baru Rajabaa Bandar Lampung. Pengaruh Banten di Lampung tidak hanya berdagang saja, melainkan dalam berbagai bidang itu semua dapat dilihat dari masuk dan berkembangnya Islam di Lampung, yang dibawa dan disebarkan oleh Kesultanan Banten, lebih lagi pada masa itu pemerintahan, kebudayaan dan perekonomian Banten jauh lebih maju daripada Lampung. Banten cukup banyak memberikan pengaruh kepada para ketua adat Lampung untuk melakukan perpindahan ke Banten. Semua itu merupakan tanda akan pengakuan masyarakat Lampung terhadap hubungan persahabatan dengan Banten dan sebagai tanda pengakuan masyarakat Banten terhadap Lampung, Sultan Banten memberikan piagam kepada pemimpin Lampung yaitu piagam yang ditulis diatas lempengan tembaga yang ditulis dengan huruf arab dan huruf Lampung serta mempergunakan bahasa jawa Banten.
Pada tahun 1568 M, ketika kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Sultan Hasanuddin memerdekakan Banten. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai raja Islam pertama dari Banten. Beliau memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). ia telah memberikan Andil besar dalam meletakkan pondasi Islam di Nusntara. Selain dengan mendirikan masjid dan pesantrenn tradisional, juga mengirim ulama ke berbagai daerah yang telah dikuasainya sebagai upaya penyebarluasan Islam untuk pembangunan mental spiritual Banten. Keberhasilannya membangun istana yang selanjutnya dinamai Surosuwan dan menjadi ibukota kerajaan Banten.
Ketika ia meninggal pada tahun 1570 M, kedudukan digantikan oleh putranya yaitu pangeran Yusuf. Pangeran Yusuf menakhlukkan Pakuan pada tahun 1579 M sehingga banyak para bangsawan Sunda yang masuk islam. Ia juga berhasil memperluas wilayah penyebaran Islam ke daerah Banten selatan, bahkan berhasil menduduki ibu kota Kerajaan Pajajaran-Sunda di Pakwan pada tahun 1580.
Setelah pangeran Yusuf meninggal pada tahun 1580 M, ia digantikan oleh putranya yaitu Maulana Muhammad yang masih muda. Maulana Muhammad bergelar Kanjeng Ratu Banten. Selama kekuasaan dipegang oleh Qadhi bersama empat pembesar istana lainnya. Maulana Muhammad meninggal pada tahun 1596 M  dalam usia 25 tahun. Setelah itu kedudukannya digantikan oleh anaknya yang amsih kecil bernama Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir. ia memerintah secara resmi pada tahun 1638 M.
Pada masa Sultan Abdul Fatah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1659 M) terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dengan VOC karena Sultan Ageng Tirtayasa anti Belanda. Sikapnya yang anti Belanda itu mendapat dukungan dari seorang alim berpengaruh yaitu Syaikh Yusuf yang berasal dari Makasar. perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberika dukungan kepada Sultan Haji sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. sementara dalam memperkuat posisinya Sultan Haji mengirimkan 2 orang utusan untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan. Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah kekawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia. Dan VOC tetap mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada tanggal 14 Desember 1683 mereka berhasil menahan Syekh Yusuf, setelah itu berhasil menahan Purbaya.Kemudian Untung Surapati disuruh pleh kapten Johan Ruis untuk menjemput Pangeran Purbaya dan dalam perjalanan membawa pangeran Purbaya ke Batavia, namun mereka ketemu pada pasukan VOC. Puncaknya pada 28 Januari 1864, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC Sikap anti Belanda ini tidak disetujui oleh anaknya yaitu Abdul Kahar yang bergelar Sultan Haji, ia lebih suka bekerja sama dengan belanda.

Peran dan Kedudukan Ulama di Kesultanan Banten
Peran dan kedudukan kyai di Banten memiliki status yang dihormati oleh masyarakat. kehidupan masyarakat yang religius didasarkan kepada suatu kesakralan Tuhan, sehingga keamanan pun dipandang memiliki hubungan yang erat dengan kekuasaan di atasnya, menjadikan masyarakat Banten memiliki ikatan lebih erat terhadap tokoh agama dalam memandu kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat.
kyai Banten dibedakan menjadi kyai kitab dan kyai hikmah. kyai kitab adalah istilah yang ditunjukkan kepada kyai atau guru yang banyak mengajarkan ilmu-ilmu secara tekstual islam khususnya yang dikenal dengan kitab kuning. sedangkan kyai hikmah adalah kyai yang mempraktekan ilmu magis islam yakni wirid,zikr dan ratib.
peran keagamaan kyai Banten, sebagai berikut :
Guru Ngaji, peran awal yang dilakukan adalah membaca Al-Qur’an dengan ilmu tajwid. kemudian mengajarkan metode membaca Al-Qur’an dengan suara merdu dan lagu yangindah untuk para qari’ dan qari’ah.
Guru Kitab, santri yang sudah lancar membaca Al-Qur’an dilanjut dengan membaca kitab islam klasik yaitu kitab kuning. Ini merupakan tugas utama kyai pesantren terutama kalangan ulama fiqh yang bermazhab syafi’i.
Guru Tarekat, seorang kyai yang kharismatik. bimbingan seorang guru yang berasal dari arab bernama Syaikh Ibrahim bin Abu Bakar, yang dikenal sebagai Ki Ageng Karang.
Guru Ilmu Hikmah. para kyai yang menjadi mursyid suatu tarekat tidak hanya dikenal sebagai pemimpin atau guru tarekat, tapi juga sebagai guru ilmu hikmah.
Mubaligh, seorang kyai tidak hanya mengajarkan kitab klasik di pesantren, tapi juga melakukan ceramah agama dan khutbah kepada masyarakat dengan berkeliling. cara ini memberikan pengaruh besar meningkatkan kehidupan keagamaan rakyat Banten. kedudukan mereka tidak hanya sebagai orang yang dihormati tetapi juga sebagai orang yang berkuasa di Kesultanan Banten.
Puncak Kejayaan Kesultanan Banten
Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Abu Fath Abdul Fatah atau lebih di kenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Yang menjadi kerajaan Banten menjadi berjaya, pada saat itu Pelabuhan Banten menjadi pelabuhan internasional, sehingga perekonomian kesultanan menjadi maju pesat. Wilayah kekuasaan juga semakin luas meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut Kesultanan Mataram serta wilayah sekarang yang menjadi Lampung. Selain dari segi pelabuhan dan luasnya wilayah, kesultanan banten juga mengadakan hubungan dengan negara lain melalui jalur laut. Pengiriman pejabat ke berbagai negara sering kali dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
Sultan Ageng Tirtayasa sempat mengirimkan dua orang utusannya ke Inggris sebagai duta besar yang ditugasi juga membeli senjata, sementara itu Sultan juga menjaga hubungan baik dengan negara dan kota besar yang ada di Indonesia, seperti Aceh, Makasar, India, Mongol, Turki dan Arab. Para penguasa Banten pergi ke Arab untuk menunaikan haji dan ke Inggris untuk menunaikan tugas sebagai utusan, milik pedagang inggris. Sebagai sultan ke-6 Sultan Ageng Tirtayasa, tegas menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya. Beliau tidak pernah mempunyai keinginan untuk berkompromi dengan Belanda sejak tahun 1645 hubungan Banten dengan Belanda semakin panas.
Pada 1656 pasukan Banten bergerilya di sekitar Batavia. Setahun kemudia Belanda menawarkan perjanjian damai, namun perjanjian itu hanya menguntungkan pihak Belanda dan Sultan Ageng menolaknya kemudian tahun 1580 meletuslah perang besar antara Banten dan Belanda dan berakhir pada tanggal 10 Juli 1659 dengan ditandatangani perjanjian gencatan senjata. Pada tanggal 16 Februari 1671 diangkatlah putra mahkota oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Abdul Kohar dengan gelar Sunan Abu’n Nasr Abdul Kohar yang dikenal dengan nama Sultan Haji. Putera mahkota inilah yang menjadi jalan Belanda untuk mengadu domba antara Sultan Agung dan puteranya sendiri. Sultan Haji menginginkan untuk berdamai dengan Belanda dengan mengirimkan surat pada tahun 1680 dan menyatakan bahwa ia adalah penguasa Banten sepenuhnya dan bukan lagi Sultan Ageng Tirtayasa.
Pada tahun 26 Februari 1682, SultanAgeng Titayasa menyerbu Surosowan tempat Sultan Haji berkedudukan. Serangan tersebut berhasil namun Surosowan direbut oleh Belanda di bawah pimpinan Kapten Tack. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Sultan Haji. Setelah Sultan Hai meninggal terjadilah perebutan kekuasaan antara anak-anaknya dan pihak Belanda. Sejak saat itu terjadilah gonta-ganti sultan dan Kesultanan Banten mengalami kemunduran. Puncak kemunduran Kesultanan Banten diperintah ole Muhammad Syarifudin. Ia dipaksa turun tahta dan Kesultanan Banten dihapus oleh pemerintahan Inggris dan digantikan oleh Belanda di Banten dibawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Sejak itulah Kesultanan Banten dan hanya meninggalkan jejaknya.
Kemunduran kerajaan Banten
Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik di dalam istana. Sultan Ageng Tirtayasa yang berusaha menentang VOC, kurang disetujui oleh Sultan Haji sebagai raja muda. Keretakan di dalam istana ini dimanfaatkan VOC dengan politik devide et impera. VOC membantu Sultan Haji untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya kekuasaan VOC di Banten. Raja-raja yang berkuasa berikutnya, bukanlah raja-raja yang kuat. Hal ini membawa kemunduran kerajaan Banten. Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam kerajaan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Sejak sebelum zaman islam, ketika masih berada dibawah kekuasaan raja-raja Sunda, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten, sebuah kota pelabuhan diujung barat pantai utara Jawa. Pada tahun 1525, Sunan Gunung jati dan Cirebon, meletak dasar bagi pengemban islam serta bagi perdagangan orang-orang islam disana. Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Demak dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin. Selain itu dia juga melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabau. Hasanuddin kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam meluaskan wilayah islam, yaitu ke Lampung. Pada tahun 1568 M, ketika kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Sultan Hasanuddin memerdekakan Banten. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai raja Islam pertama dari Banten. Beliau memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). Ketika ia meninggal pada tahun 1570 M, kedudukan digantikan oleh putranya yaitu pangeran Yusuf. Pangeran Yusuf menakhlukkan Pakuan pada tahun 1579 M sehingga banyak para bangsawan Sunda yang masuk islam
DAFTAR PUSTAKA
http://sumatera-utara.silaturahim.web.id/id3/1824-1710/Kesultanan-Banten_41793_sumatera-utara-silaturahim.html
http://eprints.uny.ac.id/21617/10/RINGKASAN.pdf
http://digilib.unila.ac.id/16287/100/BAB%20I.pdf
https://media.neliti.com/.../131857-ID-sejarah-masuknya-islam-dan-pendidikan-is.pdf
Amin,Samsul Munir.2010.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:AmzahYatim,Badri.2017.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sejarah Indonesia karangan Muhammad Nuh. Jakarta : kementerian dan Kebudayaan, 2014. Hal : 61-65
http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/29/me846i-inilah-puncak-kejayaan-kesultanan-banten

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...