HASIL PENELITIAN SITUS PURBAKALA SANGIRAN
Diajukan
sebagai Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia sampai abad ke-14
Dosen
pengampu Irma Ayu Kartika
Dewi, S.Pd., M.A

Disusun
oleh :
Slamet Miftahul Abror
173231036
SEJARAH
PERADABAN ISLAM
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puja dan puji syukur kita kepada Allah
swt, yang mana telah melimpakan rahmat taufiq serta hidayahnya kepada
kita semua. Serta shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada nabi
besar Muhammad saw, yang mana telah membawa kita dari zaman yang gelap gulita
menuju zaman yang terang.
Alhamdulillah akhirnya laporan
penelitian saya dari situs purbakala sangiran selesai dikerjakan dengan tepat
waktu. Semua berjalan lancar walau ada sedikit kesulitan dalam mengerjakannya,
kesulitannya terletak pada penyusunan laporan karena data yang kami punya tidak
lengkap dan acak sehingga perlu waktu untuk menyusun secara runtut serta
lengkap dengan penjelasan yang mudah dipahami sehingga tidak terbelit-belit.
Kami ucapkan banyak terimakasih kepada dosen kami bu Irma yang telah membimbing
dan memberi tugas kepada kami sehingga perjalanan kami kesangiran tidak hanya
sebuah wisata.
Ini adalah tugas penelitian sejarah kami yang pertama
kali sebagai generasi sejarawan dimasa depan. Jadi kami mengupayakan
mengerjakan yang terbaik sebagai yang pertama kali. Kami sangat menyadari kalau
laporan kami ini masih jauh dari sempurna namun kami sudah mengupayakan yang
terbaik. Maka karenanya kami mohon maklum…Terimakasih
Surakarta, 28 Februari 2018
Penyusun
Slamet Miftahul Abror
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Sejarah adalah sebuah
peristiwa masa lalu. Dimana dari masa lalu itu terkadang terdapat sebuah
peristiwa dimana dapat kita ambil sebagai pelajaran bagi kita untuk kedepannya.
Sebagaimana kata pepatah “pengalaman adalah guru terbaik”. Bahkan ada yang mengatakan “jika ingin
mengetahui masa depan maka pelajarilah sejarah” dan banyak lagi kata-kata
tentang pepatah lain yang mengatakan tentang sejarah. Maka amat penting sebuah
sejarah untuk dipelajari apalagi bagi
para generasi bangsa.
Lalu kenapa kami mengunjungi dan mempelajari sejarah yang ada
di sangiran? Alasannya di situs
purbakala sangiran ini tergolong unik. Dari segi pemikiran yang sangat berbeda
dengan pandangan islam namun menjadi pelajaran sejarah penciptaan manusia yang
paling dipercaya dikalangan ilmu umum. namun walau berbeda, mk tetap wajib kit
pelajari sebagai ilmu. Dalam sejarah manusia ini terdapat banyak pelajaran yng
dapat kita ambil pelajarannya. Yaitu PROSES. Sehingga hal tersebut sangat
penting kita pelajari sebagai genersi sejarawan dunia. Oleh karena itu saya
membuat makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa dan dimana letak itu museum sangiran?
2. Apa saja yang terdapat didalam museum sangiran?
3. Apa hikmah yang dapat kita ambil dari penelitian
tersebut?
4. Bagaimana sikap kita sebagai generasi muda dalam
menjaga sejarah tersebut?
C.
Tujuan
1. Mengetahui apa dan dimana letak museum purbakala
sangiran.
2. Mengetahui dan memahami sejarah yang terdapat di
museum sangiran serta bukti tempat sejarah.
3. Mengetahui hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil
dari penelitian tersebut.
4. Mengetahui dan memahami apa yang harus kita lakukan
sebagai generasi muda terhadap sejarah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Apa itu sangiran dan dimana lokasinya
Museum Sangiran adalah museum
arkeologi yang terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi
Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala
Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia. Situs Sangiran memiliki
luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe,
dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten
Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang
merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo).
Museum Sangiran beserta situs arkeologinya,
selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian
tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.
Dalam museum ini dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan
manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti
Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran
ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus
Erectus oleh Profesor Von Koenigswald.
Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini
pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat
ditemukan hingga kini, sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah
sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Koleksi yang
tersimpan di museum ini mencapai 13.806 buah yang tersimpan pada dua tempat
yaitu 2.931 tersimpan di ruang pameran dan 10.875 di dalam ruang penyimpanan.
Situs
Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup kawasan seluas 32 km² dengan
bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih 8 km dan dari barat ke timur
kurang lebih 4 km². Daerah ini meliputi 12 kelurahan di 4 kecamatan, yaitu
kecamatan kalijember, gemolong, plupuh, dan godangrejo. Daerah sangiran
memiliki sebuah sungai yang membelah daerah tersebut menjadi dua yaitu
kali cemara yang bermuara di bengawan solo.
Fosil-fosil
purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50 % di seluruh
dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada
di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Pada tahun 1977 Sangiran
ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar
budaya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Selanjutnya keputusan itu dikuatkan oleh
Komite World Heritage UNESCO pada peringatannya yang ke-20 di Merida, Mexico
yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai kawasan World Heritage (warisan dunia)
No. 593.
Dari beberapa info yang saya dapat dari internet yang saya sendiri lupa
mengkopi sumbernya dan saya mengucapakan terimakasih banyak. Dan hal ini
dikarenakan tidak dijelaskan oleh pemandu wisata, karena pemandu wisata hanya
menjelaskan apa yang ada didalam museum tersebut dan kamipun lupa menanyakan
hal tersebut. Namun yang penting ilmunya dan pelajaran yang dapat kita ambil.
B. Hal yang terdapat dalam museum situs purbakala
sangiran
Didalam museum tersebut terdapat penjelasan yang
cukup lengkap. Dan bukti sejarah yang sangat banyak dan data yang kami miliki
juga banyak namun, data foto yang kami miliki begitu banyak dan acak dan tidak
mengatahui uruannya secara pasti, dan di internet saya rasa tidak aada yang
membahas secara lengkap dan runtut mengenai sejarah yang ada disangiran tersebut.
Dan saya akan mencoba mengurutkan dan menjalaskan sebaik yang saya bisa.
1. pertama, gambar ini, yang akan bisa dilihat
pertama kali ketika kita akan memasuki ruangan museum. Di situ dijelaskan bahwa
tanah tersebut telah berusia sekitar 1,8 jt tahun yang lalu yang mana itu
adalah endapan vulkanik dari erupsi gunung lawu purba yang telah menjadi fosil.
Ini adalah lapisan yang paling tua disangiran, yang diatasnya dibangun museum
sangiran yang sekarang ini.
.
Dalam
gambar yang nomer dua tersebut dapat kit jumpai ketika kita petama kali masuk
kedalam ruangan.disini diterangkan tentang formasi tanah situs sangiran
tersebut atau alih rupa sangiran.
Secara struktural Sangiran merupakan daerah yang mengalami pengangkatan
dan perlipatan yang kemudian membentuk struktur kubah terbalik, yang seiring
berjalannya waktu mengalami erosi. Adanya pengangkatan ini terjadi karena
proses penekanan dari kiri ke kanan oleh tenaga eksogen dan dari bawah ke atas
oleh tenaga endogen. Erosi menyebabkan tersingkapnya lapisan-lapisan tanah
secara alamiah. Dimana di dalamnya terkandung informasi tentang kehidupan
sejarah manusia purba dengan segala yang ada di sekelilingnya (pola hidup dan
binatang-binatang yang hidup bersamanya).
Keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi
dulu pada masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan
akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu,
Sangiran menjadi daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah
pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat
lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan
jamannya. Misalnya, Fosil binatang laut banyak diketemukan di Lapisan tanah
paling bawah, yang dulu merupakan lautan.
Adapun lapisan tanah yang tersingkap di wilayah Sangiran terbagi
menjadi 4 lapisan (dari lapisan terbawah) yaitu Formasi Kalibeng, Formasi
Pucangan, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro.
1. Formasi Kalibeng
Formasi kalibeng berumur 2.400.000 tahun yang lalu. Formasi tanah ini hanya
tersingkap pada bagian Kalibeng atas (Pliocene atas). Formasi ini terdiri dari
4 lapisan. Untuk lapisan terbawah ketebalan mencapai 107 meter merupakan
endapan laut dalam berupa lempung abu-abu kebiruan dan lempung lanau dengan
kandungan moluska laut. Lapisan kedua ketebalan 4-7 meter merupakan endapan
laut dangkal berupa pasir lanau dengan kandungan fosil moluska jenis Turitella
dan foraminifera. Lapisan ketiga berupa endapan batu gamping balanus dengan
ketebalan 1-2,5 meter. Lapisan keempat berupa endapan lempung dan lanau hasil
sedimentasi air payau dengan kandungan moluska jenis corbicula. Adanya
kalkarenit dan kalsirudit menunjukkan bahwa formasi Kalibeng merupakan hasil
endapan laut yang amat dangkal.
Formasi kalibeng merupakan endapan tertua di kubah sangiran,
terdiri dari batu Napal Pasiran warna abu-abu kehitaman dan disisipi bau
gamping balanus dan korbikula.
Ketebalan formasi kalibeng lebih dari 130 meter, kandungan
fosilnya antara lain foraminifera, molusca laut.dll. Dari urutan fasies
tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu pengendapannya
berbagai lapisan tersbut yaitu formasi kalibeng mengalami susut laut (regresi)
berubah menjadi daratan.
2. Formasi Pucangan
Formasi Pucangan berumur 1.800.000 tahun yang lalu. Formasi ini
terbagi menjadi dua yaitu lahar bawah dan lempung hitam. Formasi Pucangan lahar
bawah ketebalannya berkisar 0,7-50 meter berupa endapan lahar dingin atau
breksi vulkanik yang terbawa aliran sungai dan mengendapkan moluska air tawar
di bagian bawah dan diatome di bagian atas. Pada lapisan ini juga terdapat
fragmen batu lempung gampingan dari formasi Kalibeng.
Formasi Pucangan Atas ketebalan mencapai 100 meter berupa
lapisan napal dan lempung yang merupakan pengendapan rawa-rawa, pada formasi
ini terdapat sisipan endapan molusca marine yang menunjukkan bahwa pada waktu
itu pernah terjadi transgresi laut. Formasi ini banyak mengandung fosil
binatang vertebrata seperti gajah, banteng, kerbau. Pada formasi Pucangan ini
juga ditemukan fosi Homo erectus , fosil karapaks dan plastrón kura-kura.
Dua pasies pokok yang terdapat pada formasi ini adalah pasies
batu lempung hitam laut dan pasies breksi yang terdiri dari vulkanik tufaan
sampai pasiran. Pada pasies ini banyak ditemukan fosil vertebrata. Fragmen
batuan berupa batu pasir gampingan dari formasi kalibeng jug dijumpai pada
pasies breksi kalibeng bagian bawah. Keadaan ini menunjukan bahwa formasi
kalibeng.
3. Formasi grenzbank
Formasi grenzbank merupakan lapisan yang
berumur 900.000 tahun yang lalu. Jadi sangiran beralih menjadi daratan, dimana
menjangan dan kerbau purba berebut dengan harimau dan gajah, menyisir tanaman
yang tumbuh, sementara itu bumi bergolak. batuan gamping, pasir dan kerikil
berdatangan, mengendap.sebelum menjadi daratan sepenuhnya. Bumi sangiran seolah
riuh oleh pergerakan alam yang belum begitu stabil.
4. Formasi Kabuh
Formasi Kabuh merupakan lapisan yang berumur 730.000 tahun yang lalu dan merupakan formasi yang
paling banyak ditemukan fosil mamalia, manusia purba dan alat batu. Formasi ini
terbagi menjadi dua yaitu grenzbank yang metupakan lapisan pembatas antara
formasi Pucangan dengan Kabuh. Terdiri dari lapisan batu gamping konglomeratan
yang berbentuk lensa-lensa dengan ketebalan 2meter. Di grenzbank banyak
ditemukan fosil mamalia (Stegodon trigonocephalus, Bubalus paleokarabau,
Duboisia santeng dll) dan fosil Hominidae. Formasi Kabuh atas ketebalan
lapisannya sekitar 3-16 meter merupakan batu pasir dengan struktur silang siur
yang menunjukkan hasil endapan sungai. Terjadi pada kala Pleistocene tengah.
Endapan kala plastosen tengan terkenal dengan nama formasi
kabuh. Formasi ini memperlihatkan endapan yang berasal dari gunung Lawu
tua,berupa: batu tufa, batu pasir, dan konglomerat. Ketebalan formasi sangat
bervariasi antara 10-16 meter.
Alat-alat dari batu telah ditemukan pada formasi ini. Dengan
ditemukan alat-alat batu tersbut menunjukan bahwa pithecanthropus pada saat itu
sudag mengenal alat-alat perburuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Formasi kabuh terdiri dari spesies fluviatil yang terdiri dari batu pasir
dengan struktur silang-siur dan konglemarat. Formasi kabuh ini terletak di atas
formasi pucangan secara tidak selaras.
5. Formasi Notopuro
Formasi Notopuro merupakan lapisan yang berumur 300.000
tahun yang lalu terletak di di atas
formasi Kabuh dan tersebar di bagian tas perbukitan di sekeliling Kubah
Sangiran. Formasi ini tersusun oleh material vulkanis seperti batu pasir vulkanis,
konglomerat dan breksi dengan fragmen batuan beku andesit yang berukuran
brangkal hingga bonkah. Ketebalan lapisan mencapai 47 meter dan terbagi menjadi
tiga lapisan yaitu lapisan Formasi Notopuro bawah dengan ketebalan 3,2-28,9
meter, Formasi Notopuro tengah dengan ketebalan maksimal 20 meter dan Formasi
Notopuro atas dengan ketebalan 25 meter. Pada Formasi Notopuro ini sangat
jarang dijumpai fosil. Formasi ini ditafsirkan sebagai hasil pengendapan darat
yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dan terjadi pada kala
Pleistocene atas.
Formasi Notopuro adalah lapisan tanah dikala plastosen atas yang
berumur 10.000-125.000 tahun yang lalu. Formasi Notopuro adalah lapisan yang
terbentuk oleh endapan lahar dan terdiri atas breksi andesit dan konglomerat.
Pada formasi ini dijumpai Frakmen dari mineral kaledon, kaursa susu, carnelian,
agate, kerikil andesit, tufa dan pasiran yang merupakan penyusun utama dari
breksiden konglomerat. Pada endapan kerikil banyak ditemukn serpih bilah, yaitu
alat pada tingkat perkembangan menjadi konglomerat dan batu pasir silang siur
dengan ketebalan sekitar 2-45 meter tersebut menunjukan bahwa kala plastosen
akhir telah terjadi banjir lahar yang besar.
Secara stratigrafis situs ini merupakan situs
manusia purba berdiri tegak terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat
secara berurutan dan tanpa terputus sejak 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000
tahun yang lalu yaitu sejak Kala Pleistocene Akhir hingga akhir Pleistocene
Tengah. Situs Sangiran menurut penelitian geologi muncul sejak Jaman Tersier
akhir Pada kala Pliocene atas kawasan Sangiran masih berupa lautan dalam yang
berangsur berubah menjadi laut dangkal dengan kehidupan foraminifera dan
moluska laut. Pendangkalan berjalan terus sampai akhir kala Plestocene.

3. fosil buaya ini adalah termasih hewan rawa masa purba dulu yang hidup didaerah rawa-rawa. Dan tergolong dalam predator jalur basah. Hewan ini dalh penguasa aliran aliran sungai dan rawa-rawa sejak zaman purba, buaya adalah hewan yang tangguh. Tubuhnya yang kuat sehingga ia tidk ikut punah bersama dengan teman-teman dinosaurusnya yang lain.
4. Mata rantai kehidupan
Jadi pada
masa purba terjadi sebuah mata rantai kehidupan seperty sekarang, seperti
rumput dimakan kerbau dan kerbau dimakan harimau dll. Mereka masih menggunakan
hukum rimba. Pada masa itu jika dilihat dari fosilnya, dapt kita lihat bahwa
ukuran kerbau nya masih sangat besar dan dengan itu dapat kita taksir dengan
hewan lainnya.
5.masa
jaman keemasan sangiran
6. Selanjutnya kita bahas sejarah manusia yang
ada disangiran, dan saya akan menjelaskan berdasarkan data yang saya miliki,
tidk lebih. Jadi mohon maklum bila tidak urut. Karena ini adalah laporan hasil
maka akan saya laporkan apa yang saya dapat.
Pertama, Tentang homo erectus.
Selama 1,5 juta tahun telah terjadi 3 tingkatan evolusi Homo erectus di Jawa, Sangiran telah memberikan
bukti tentang 2 tahap evolusi yang paling tua yaitu Homo erectus arkaik (1,5-1 juta tahun yang
lalu) dan Homo erectus tipik
(0,9-0,3 juta tahun yang lalu). Satu tingkatan lagi yang lebih muda yaitu Homo erectus progresif (0,2-0,1 juta tahun yang
lalu)ditemukan di luar Sangiran yaitu di Ngandong (Blora), Sambungmacan
(Sragen), dan Selopuro (Ngawi).
Homo erectus
Progresif
Jenis progresif merupakan jenis yang paling maju, sebagian besar
ditemukan pada endapan alluvial di Ngandong (Blora), Selopuro (Ngawi) dan pada
endapan vulkanik di Sambungmacan (Sragen). Volume otak sudah mencapat 1.100 cc,
dengan atap tengkorak yang lebih tinggi dan lebih membulat.
Homo erectus Tipik
Tipe ini lebih maju dibanding tipe arkaik, merupakan bagian
terbanyak dari Homo erectus di
Indonesia, sebagian besar ditemukan di Sangiran dan lainnya ditemukan di Trinil
(Ngawi), Kedungbrubus (Madiun), Patiaya (Kudus) dan sejak tahun 2011 ditemukan
pula di Semedo (Tegal). Konstruksi tengkoraknya lebih ramping, meskipun dahi
masih landai dan agak tonggos. Kapasitas otak sekitar 1.000 cc.
Homo erectus
Arkaik
Homo erectus arkaik
merupakan tipe yang paling tua, diteukan pada lapisan lempung hitam Formasi
Pucangan dan grenzbank di Sangiran, serta pasir vukanik di utara Perning
(Mojokerto). Tipe ini menunjukkan tipe yang paling arkaik dan kekar dengan
volume otak sekitar 870 cc. (ISB)
Selanjutnya tentang homo
habilis
![]() |
![]() |
Homo habilis (dari bahasa Latin yang berarti "manusia yang
pandai menggunakan tangannya") adalah sebuah spesies dari genus Homo, yang hidup sekitar 2,5 juta sampai
1,8 juta tahun yang lalu pada masa awal Pleistocene. Definisi untuk spesies ini pertama
kali diungkapkan oleh Jonassen Leakey, yang menemukan fosil spesies ini di Tanzania, Afrika Timur, antara tahun 1962 dan 1964. Homo habilis diperkirakan
merupakan spesies dari genus Homo yang pertama kali muncul
di bumi. Penampilan dan morfologi H. Habilis memiliki
berbagai kemiripan dengan semua manusia paling modern di genus Homo (kecuali,
mungkin, Homo rudolfensis). Homo habilis memiliki tubuh yang pendek dengan lengan
yang lebih panjang dari manusia modern. Diperkirakan spesies ini adalah
keturunan dari hominid australopithecine. Homo habilis memiliki cranial
capacity kurang dari setengah kapasitas manusia modern. Meskipun masih
memiliki bentuk seperti-kera, H. habilis diperkirakan telah
mampu menggunakan peralatan primitif yang terbuat dari batu; hal ini dibuktikan
dengan ditemukannya peralatan-peralatan dari batu di sekitar fosil mereka. dan
selanjutnya masih banyak lagi.
·
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
Gambar atau foto diatas adalah sebagian
kecil yang kami miliki dan kami tidak
bisa menjelaskan secara keseluruhan yang berjumlah hingga ribuan fosil.
Sehingga kami menjelaskan secukupnya saja sebagai tugas laporan hasil kunjungan
penelitian kami disangiran.
3. Hikmah yang dapat diambil dari penelitian Sejarah Sangiran
jadi, menjadi seorang sejarawan
harus dapat mengambil hikmah atau pelajaran yang dapat diambil dari penelitian atau dari sejarah
yang ia ketahui. Dari penelitian kami kmarin yang berlangsung di situs purbakal
sangiran kami dapat mengambil peljran berharga darinya diantaranya:
ü Kita dapat memahami sejarah penciptan manusia dari
sudut pandang ilmu umum.
ü Tak hanya memahami kita juga dapat
mengetahui dan bahkan menyentuh sebuah bukti sejarah tersebut yakni berupa
fosil-fosil. Dan kita dapat melihat hasil ilustrasi manusia purba
yang hanya tengkorak tersebut dibuatkan ilustrasi berupa patung sehingga kita
dapat memahaminya secara detail.
ü Dari sebuah proses penciptaan dan evolusi yang ada
dalam sejarah tersebut dapat kita ambil pelajaran yang paling berharga yakni
adalah sebuah PROSES. Sebuah proses adalah sesuatu yang sangat penting untuk
kita sadari karena segalanya yang ada didunia ini jarang ada sesuatu yang
secara spontan, kecuali atas kehendak tuhan. Semua butuh proses dari kita
belajar, berusaha, dll sehingga kita dapat mencapai hasil yang sempurna. semua
hal tersebut membutuhkan sebuah proses. Menurut saya hal tersebut yang paling
berharga dalam hikmahnya.
ü Selanjutnya
yakni dapat menambahkan iman kita kepada tuhan. Dimana tuhan bisa menciptakan
alam semesta. Yang tak ada sekecil apapun yang luput dari penglihatan tuhan.
Sehingga sebuah tulang bisa menjadi sebuah batu yang keras dan bertahan hingga
puluhan juta tahun. Tidak hancur menjadi tanah yang seperti manusia zaman
sekarang, yang hanya membusuk dan hancur menjadi tanah dan hanya orang-orang
tertentu yang masih tetap utuh. Dan perubahan fosil yang dijaga oleh yng maha
kuasa tersebut kita dapat belajar dari hal tersebut.
Jadi itu pelajaran yang dapat saya ambil dari
penelitian ini. bila ada yang lebih dari hikmah lain yang anda dapatkan maka
itu akan menjadi hal yang lebih baik.
4. Cara agar kita sebagai generasi muda dalam menjaga sejarah
Menurut pandangan penyusun mengenai peran generasi muda
yakni ada beberapa point yaitu:
ü Hal pertama yakni adalah cinta tanah air. Dengan
begitu secara tidak langsung kita mncintai apa yang ada ditanah air kita
termasuk seperti hal berharga seperti sejarah sangiran ini. sehingga kita turut
mengapresiasi serta mmpelajarinya sehingga kita dapat mencintainya.
ü Kedua yakni keadaran diri sendiri. Karena dalam hal
ini semua berawal dari kesadaran individu, kita harus sadar betapa pentingnya
sebuah sejarah, apalagi dalah sejarah berharga seperti sangiran ini, dimana
telah diakui oleh dunia sehingga hal tersebut dapat kita banggakan sebahgai
warga Negara ini.
ü Ketiga yakni mempelajarinya secara mendalam.
Sehingga tempat sejarah seperty sangiran dll. Dapat dikelola oleh kita sebagai
warga Negara ini, bukan malah orang asing yang menemukan dan memeliharanya. Hal
tersebut perlu untuk diperhatikan bagi pemerintah dan individu lainnya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Bahwa Museum Sangiran beserta situs arkeologinya,
selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian
tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.
Dalam museum ini dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan
manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti
Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran
ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus
Erectus oleh Profesor Von Koenigswald.
Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini
pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat
ditemukan hingga kini, sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah
sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Koleksi yang
tersimpan di museum ini mencapai 13.806 buah yang tersimpan pada dua tempat
yaitu 2.931 tersimpan di ruang pameran dan 10.875 di dalam ruang penyimpanan.
SeHingga sangiran adalah sebuah harta yang sangat berharga bagi negra kita
tercinta yang harus kita jaga dan kita lestarikan bersama. Sebagai generasi sejarawan
muda.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar