Jumat, 09 Maret 2018

MAKALAH KERAJAAN KEDIRI


KERAJAAN KEDIRI
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd. M.A.

  

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia Sampai Abad Ke-16
 Disusun Oleh :
Nur Afni Sedyowati               (173231062)
Muhammad Fadhil. M            (173231066)
Atta Bika Khoir                      (173231037)
Afifah Rahmawati                  (1732310   )

SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan- kerajaan Hindu-Budha yang berdiri di Indonesia sangatlah banyak sesuai dengan runtutan waktunya. Salah satu kerajaan  yang akan dibahas dalam makalah ini adalah kerjaan Kediri. Kerajaan Kediri merupakan kerjaan Hindu yang terdapat di Indonesia, tepatnya terletak di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur.
Kerajaan yang berdiri sekitar abad ke-12 ini merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Raja pertamanya bernama Shri Jayawarsa Digjaya Sasthraprabu yang menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.
Sejarah berdirinya kerajaan Kediri diawali dengan perintah Raja Airlangga yang membagi kerajaan menjadi dua bagian, yakni Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi dengan Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Tujuannya supaya tidak ada pertikaian terdiri atas Malang dan Delta Sungai Brantas dengan pelabuhan Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan. Sedangkan Kerajaan Panjalu (Kediri) meliputi, Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha.   
                                                                                         
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah berdirinya kerajaan Kediri ?
2.      Siapa saja raja-raja yang pernah berkuasa pada kerjaan Kediri ?
3.      Kapan kerajaan Kediri mengalami kejayaan ?
4.      Kapan dan mengapa runtuhnya kerajaan Kediri ?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui sejarah berdirinya kerajaan Kediri.
2.      Mengetahui siapa saja raja-raja yang pernah berkuasa pada kerjaan Kediri.
3.      Mengetahui kapan kerajaan Kediri mengalami kejayaan.
4.      Mengetahui kapan dan mengapa runtuhnya kerajaan Kediri.





















BAB II
PEMBAHASAN

A.    SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN KEDIRI
Kerajaan Kediri merupakan kerjaan Hindu yang terdapat di Indonesia, tepatnya terletak di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur. Kerajaan yang berdiri sekitar abad ke-12 ini merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Raja pertamanya bernama Shri Jayawarsa Digjaya Sasthraprabu yang menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.
Sejarah berdirinya kerajaan Kediri diawali dengan perintah Raja Airlangga yang membagi kerajaan menjadi dua bagian, yakni Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi dengan Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Tujuannya supaya tidak ada pertikaian terdiri atas Malang dan Delta Sungai Brantas dengan pelabuhan Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan. Sedangkan Kerajaan Panjalu (Kediri) meliputi, Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha.
Pada November 1042, kedua putra Airlangga memperebutkan tahta kerajaan, sehingga dengan terpaksa Airlangga membelah kerajaan menjadi dua. Hasil dari perang saudara tersebut Kerajaan Panjalu diberikan kepada Sri Samarawijaya yang pusatnya dikota Daha. Sedangkan kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Garasakan yangberpusat di Kahuripan. Dalam prasasti Meaenga disebutkan bahwa Panjalu dapat dikuasai Jenggala dan nama Raja Mapanji Garasakan (1042-1052) diabadikan. Namun, pada peperangan selanjutnya, kerajaan Panjalu (Kediri) berhasil menguasai seluruh tahta Airlangga.[1]
Sejarah berdirinya kerajaan Kediri ini bisa dilihat dari sumber sejarah yang memberikan keterangan mengenai kerajaan Kediri, yang paling utama adalah prasasti dan berita cina. Kedua sumber ini dapat saling mengisi dalam merekontruksi sejarah kerajaan Kediri.
Berbagai prasasti dari masa kerajaan Kediri hingga saat ini menjadi sumber sejarah kerajaan Kediri. Mulai prasasti Padlegan (1116 M), hingga yang terakhir adalah prasasti Lawadan (1205). Sumber yang menarik pula adalah dari berita asing, yaitu catatan Cina dari zaman Dinasti Song (960-1279). Yang berkaitan dengan Kerajaan Kediri adalah bahwa (1109 M) ada utusan dari Raja She-p’o ke Cina dengan membawa upeti.[2]

B.  Perkmbangan Poiltik Kerajaan Kadiri
Berita setekah pembagian krajan oleh Airlangga dengan adanya Kerajaan Panjalu dan Janggala, kiranya hampir pada (1059 M), yaitu prasasti terakhir berkenaan dengan kekuasaan Raja Samarotsaha di Kerajaan Janggala. Justru Kerajaan Panjalu dengan ibu kotanya Dahana, prasatinya sama sekali tidak sampaia kepada kita. Apabila di waktu-wakt yang akan datang ditemukan rasasti prasasti-prasati dari kerajaan tersebut, akan menambah bahan yang leih jelas tentang jalannya pemerintahan hingga pada masa Kerajaan Kadiri.
Memang ada prasasti yang sampai kepada kita dari 1015 M, jadi masih zmana pemerintahan Raja Dharmmawangsa Tguh. Akan tetapi, prasati ini tinulad (prasasti yang ditulis kembali). Isinya menyebutkan seorang ratu di Kadiri, yaitu Paduka Sri Mahadewi Siniwiring Bhumi Kadiri. Dengan demikian nama Kadiri sudah ada ada 1015 M. Semesntara diketahui menurut parsasti Pamwatan (1042 M) bahwa istana Airlangga di pindah ke Dahana sebgai ibukota Panjalu. Hal ini menandakan bahwa Kadiri tidak sama dengan Panjalu. Baru setelah munculnya krajaan kadiri, dapat diketahui bahwa bukota Dahana dipindahkan ke Kadiri, yang berada di wilayah Kediri sekarang.
C.  PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN KERAJAAN KEDIRI
Kerajaan Kediri dipimpin oleh
1.      Pemerintahan Bameswara
Bukti yang menceritakan tentang Raja Bameswara terdapat pada prasasti Padlegan yang berisikan tentang anugrah raja kepada penduduk Desa Padlegan dan sekitarnya, berupa ketetapan daerah tersebut sebagai sima swatantra. Sebabnya karena penduduk diangap berjasa kepada raja dalam mempertaruhkan jiwa raganya dalam peperangan, sehingga sang raja berhasil memperoleh kemenangan.
Prasasti raja Bameswara yang lain adalah prasasti Panumbangan (1120 M), yang berisikan tentang penduduk Desa Panumbangan dengan lima desa yang masuk dalam wilayahnya. Mereka menghadap raja serta memberitahukan bahwa mereka pernah diberi anugerah prasasti diatas lontar yang diberikan oleh raja yang dicandikan di Gajapada. Mereka meohon agar prsasti tersebut diabadikan di atas batu agar anugerah raja tersebut langgeng. Bameswara pun mengabulkan keinginan mereka serta memberi mereka tambahan hak-hak istimewa pada lima kabayan di Desa Panumbangan. Panumbangan atau Desa Plumbangan sekarang, berada di wilayah Doko, Kabupaten Blitar, tempat dimana prasasti tersebut ditemukan.
2.      Pemerintahan Jayabhaya
Gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Mandhududanawataranindita Suhrtsinga Parkrama Digjayottunggadewanma. Menggunakan lencana kerajaan yang diber nama lencana narasigha.
Terdapat tiga prasasti yang berkenaan dengan Raja Jayabhaya. Tiga prasati tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Prasasti Hantang (1135 M)
Prasati ini berada di Desa Ngantang, Malang, yang bagian atasnya tedapat tulisan “pangjalu jayati” yang artinya Pangjalu menang. Prasasti ini berisikan tentang anugerah Raja Jayabhaya yang menetapkan hak sima bagi Desa Hantang dan 12 desa yang ada di wilayahnya, yang mana sebelumnya pernah diberikan kepada oleh raja yang didarmakan di Gajapada dan di Ngapuspa. Hak tersebut juga masih ditambah dengan beberapa hak istimewa lainnya dikerenakan penduduk Hantang selalu menunjukan kesetiaan kepada raja dan membantu raja ketika terjadi panuwal, usaha untuk memisahkan diri.
b.      Prasasti Talan (1136 M)
Berada di Desa Gurit, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Dipahat diatasbatu dengan aksara jawa kuno. Berisikan bahwa pada 11 paruh gelap bulan Srawana tahun 1038 S (24 Agustus 1136 M), Raja Jayabhaya memerintahkan membuat prasasti pada batu yang memuat hak sima bagi Desa Talan. Hak tersebut diberikan karena penduduk desa tersebut dapat membuktikan sebuah piagam daun lontar yang dikeluarkan oleh Paduka Mpungku Bhatara Guru (Airlangga), yang lengkap dengan cap garudamukha yang isinya menyebutkan bahwa hak sima untuk Desa Talan sudah ada sejak 961 S (1039).
c.       Prasasti dari Dukuh Jepun Desa Tegalrejo (1144 M)
d.      Prasasti Karangrejo (1134 M)
Ditemukan di Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Prasasti ini tidak dikeluarkan oleh raja, akan tetapi oleh Rahyangta Tanca bagi sebuah pertapaan dari sang brahmacari. Prasasti ini ditulis dibelakang sandaran arca Ganesha.
3.      Pemerintahan Sri Sarwweswara
Terdapat dua prasasti pada masa raja ini yang sampai pada kita, yaitu :
a.       Prasasti Padlegan II (1159 M)
Ditemukan di Desa Pikatan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.
b.      Prasati Kahyunan (1161 M)
Ditemukan di Desa Kahyunan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Isinya menyebutkan peresmian Desa Kahyunan sebagai siam oleh raja Sri Sarwweswara.
Selanjutnya ada Prasasti Sukun pada taun yang sama dengan prasasti ini. Didapatkan dari seorang kolektor di daerah Malang. Isisnya menyebutkan bahwa Sri Maharaja Jayamerta memberi anugerah sima kepada Desa Sukun karena membantu raja saat peperangan. Kejelasan mengenai Sri Maharaja Jayamerta ientik dengan Raja Sri Sarweswara sampai saat ini masih belum jelas.
4.      Pemerintahan Sri Aryyeswara
Pemerintahan raja ini dapat diketahui dari dua prasasti berikut.
a.       Prasasti Meleri (1091M)
Ditemukan di Desa Meleri, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Prasati ini dikeluarkan oleh Raja Sri Aryeswara pada tanggal 10 paruh terang bulan Bhadrawada pada tahun 1091 S (1169 M). Keadaan prasasti yang sudah sangat rusak sehingga isinya tidak diketahui.
b.      Prasasti Angin (1171 M)
Ditemukan di Dukuh Dadapan, Desa Jemekan, Kecamatan Ngadiluwih, Kadiri. Sekarang ini menjadi koleksi kantor Kabupaten Kediri. Keadaannya juga sudah sangat rusak sehingga isinyapun juga tidak diketahui. Prasati ini tertanggal 5 paruh terang bulan Cetra 1093 S (13 Maret 1171 M) dikeluarakan oleh raja Sri Aryeswara
Tidak banyak informasi mengenai raja ini karena terbatasnya peninggalan yang ditemukan. Raja Sri Aryeswara mengenakan lencana Ganesha
5.      Pemerintahan Sri Gandra
Bergelar Sri Maharaja Sri Kroncaryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayottunggadewanama. Prasasti yang ditemukan berkenaan dengan raja ini baru satu, yaitu Prasasti Jaring tahun 1181 M. Dari Dukuh Jaring, Desa Kembang Arum, Kabupaten Blitar yang semulamerupakan hutan yang bernama Gurit. Isi dari prasasti tersebut adalah Desa Jaring sewilayahnya merupakan perantar Senapat Sarwwajala (panglima angkatan laut), diantarkan kepada raja guna memberitahukan bahwa mereka telah memeperoleh anugerah dari raja terdahulu. Akan tetapi mereka hingga saat ini belum menikmatinya. Karena kesetiaan yang mereka perlihatkan kepada Raja Sri Gandra, akhirnya permohonan mereka dikabulkan. Peresmian menjadi sima dilakukan pada tanggal 10 paruh terang bulan Margasira tahun 1103 S (19 November 1181 M).
6.      Pemrintahan Sri Kameswara
Gelarnya adalah Sri Maharaja Kameswara Triwikramawatari Aniwaryawirya Parakrama Digjayotunggadewanama. Prasasti yang menunjukkan masa pemerintahan raja ini adalah sebagai berikut.
a.       Prasasti Ceker
Tertanggal 15 paruh terang bulan Bhadrawada tahun 1107 S (11 September 1185) berisikan pengesahan daerah Ceker sebagai sima oleh Raja Sri Kameswara.
b.      Prasasti dari Desa Semading
Prasasti ini kondisinya sudah sangat rusak, sehngga isinya sukar diketahui. Tertanggal 15 paruh terang bulan Asada tahun 1104 S (17 Juni 1182 M), ditemukan di Desa Semading, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sekarang ini prasasti tersebut disimpan di gedung Kabupaten Blitar.
7.      Pemerintahan Srengga atau Kertajaya
Raja Kadiri yang terakhir adalah Srengga atau Kertajaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawataranindita Srnggalancana Digjayottunggadewanama. Prasasti yang pernah dikeluarka ole raja ini adalah Prsasti Kemulan yang mana keadaannya sudah sangat rusak sehingga sulit diketahui isinya. Inti dari isi prasasti tersebut adalah Bahwa Sri Paduka Kertajaya pada tanggal 13 paruh terang bulan Bhadrawada tahun 1116 S (31 Agustus 1194 M). Beliau menetapkan apa yang sebelumnya telah ditetapkan oleh sang lumah ring Jawa. Prasasti lainnya adalah sebagai berikut.
a.       Prasasti Sapu Angin
Desa Geger, Kecamatan Kalangbret, Kabupaten Tulungagung. Angka tahunnya berbentuk candrasengkala yang berbunyi “paksa tunggal sabumi” yang mengacu pada tahun 1112 S (1190 M). Isinya menyebutkan didirikannya sebuah pertapaan sebagai hadiah dari Raja Kertajaya.
b.      Prasasti Palah (1197 M) yang berasal dari pelataran Candi Panataran Blitar. Isinya mengenai pemujaan untuk batara di Palah setiap harinya.
c.       Prasasti Candi Pertapan (1198 M)
Bukan merupakan prasati dari raja. Ditemukan di Candi Pertapan, kemudian dibawa dan ditempatkan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Di dalamnya hanya disebutkan bahwa pada tanggal 15 paruh terang bulan kartika pada tahun 1120 S (17 Oktober 1198 M ). Berisikan mengenai kakek dari Subhasitha yang meresmikan sebuah bangunan suci untuk menghormati para leluhur di Subhasitha.
d.      Prasasti Galunggung (1200 M)
Terdapat di kompleks makam Desa Panjer Rejo, Kecamatan Sumbergempol, Ngunut, Tulungagung. Isinya menyebutkan tentang peresmian sima di Galunggung pada tanggal 5 paruh terang bulan Wesaka tahun 112 S (20 April 1200 M)
e.       Prasasti Biri (1202 M)
f.       Prasasti Sumberingin Kidul (1204 M)
g.      Prasasti Pamotoh (1198 M)
Ditemukan di perkebunan Ukir Negara Sirah Kencong Wlingi, Kabupaten Blitar, pada 1974, sekarang menjadi koleksi Museum Mpu Tantular Surabaya. Dikeluarkan oleh aji jayaresi (raja resi) bagi warga wisaya Pamotoh yang bernama Dyah Limpa. Menariknya dari isi prasasti ini adalah nama-nama desa yang tertulis padanya juga mencakup desa-desa yang berada di daerah timur Gunung Kawi, termasuk nama Malang. Keterangan lainnya yang tersurat rupanya membenarkan peristiwa  yang disinggung dalam Pararaton tentang suatu peristiwa pada masa akhir Kerajaan kediri.

D.  STRUKTUR BIROKRASI KERAJAAN KADIRI
Gambaran struktur birokrasi pemerintahan ada masa Kadiri diperoleh dari sejumlah data di prasasti dan berita Chna. Gamabaran susunan Pemeintahan tersebut adalah sebagai berikut :
-          Sri Maharaja
-          Mahamantri Katrini :
Rakryan mahamantri i hino
Rakryan mahamantri i halu
Rakryan mahamantri i sirikan
-          Tanda Rakryan Ring Pakira-kiran:
1.      Rakryan mapatih
2.      Rakryan kanuruhan
3.      Rakryan juru
4.      Rakryan knep
5.      Rakryan rangga
6.      Samgat langka
7.      Samgat wadihati
8.      Samgat makudur
9.      Dyah kabayan 

E.  KEADAAN SOSIAL MASYARAKAT KEDIRI
Kehidupan sosial kemasyarakatan pada zaman Kerajaan Kadiri dapat dilihat dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang disusun oleh Chou Ku-Fei. Kitab tersebut menyatakan bahwa di Kerajaan Kadiri orang yang bersalah didenda sejumlah emas. Keluarga-keluarga yang kaya dapat menimbun padinya di lumbung hingga sepuluh ribu pikul. Negeri ramai dengan perdagangan dan makanan berlimpah. Adapun keadaan yang khas dari lingkungan thani, seperti yang digambarkan dalam kitab Sumanasantaka bahwa lumbung penduduknya kecil-kecil.
Dari data prasasti kiranya dapat diamil sutau pemahaman mengenai penataan wilayah pada zaman kerajaan kadiri yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Pembagian wilayah dapat dibagi menjadi tiga, yaitu (1) wilayah rajya atau nagara, disini tinggal masyarakat yang terdapat dalam lingkungan raja dan bberpa kaum kerabatnya serta elompo pelayannya, (2) wilayah wiyasa (semacam federasi desa), yang terdiri dari unsur-unsur wilayah, (3) thani (desa, serta di dalam wilayah thni bnyak pengurus duwan (didug sama dengan pengurus kampung).
Dari data berita China dapat disebutkan antara lain bahwa masyarakat Kadiri dalam kesehariannya memakai kain sampai lutut dan rambutnya diurai. Rumah-rumahnya ata-rata sangat bersih dan rapi. Lantainya dibuat dari ubin yang berwarna kuning dan hijau. Pemeritahannya sangat memperhtaikan keadaan rakyatnya sehingga pertanian, peternakan, dan perdagangan mengakami kemajuan yang cukup pesat. Selain golongan masyarakat yang tersebut diatas terdapat pula olongan masyarakat yang tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dengan pemerintaha secara resmi atau msyarakat wiraswasta.
Pelukisan mengenai kehidupan di pedesaan kiranya dapat diketahui dari uraian karya sastra zaman Kadiri, misalnya dalam Sumanasantaka [upuh XXVIII, baris 5-6 disebutkan bahwa rakyat sibuk membajak dan menanam, sedangkan anak-anak menggembalakan kerabu. Beberpa dusun di daerah pegunungan mengesankan  kesederhanaanya dengan adanya lumbung-lumbng yang kecil, dengan lembunya yang kurus-kurus. Dusun-dusun yang makmur biasanya di dekat pertpaan. Mereka memiliki lampu dan memiliki pencucian serta pembuatan periuk. Selain itu terdapat pemukiman pertapaan dekat pantai dengan dusun-dusun tempat pembuatan garam, mereka memiliki tambak-tambak ikan (Ferdinandus, 2006:119).
Sisipan :dari zaman Kadiri dapat kenali beberapa pujngga dengan karya sastranya. Pu Sedah dan Pu Panuluh mengubah kitab Bharatayuddha dalam masa pemerintah Raja Jayabhaya. Pu Panuluh sendiri mengubah kitab Hariwangsa pada masa Raja Jayabhaya dan kitab Ghatotkacasraya pada masa Raja Jayakerta (Jayamerta). Pu Dharmaja mengubah kitab Smaradahana pada masa Raja Kameswara, Pu Monaguna mengubah kitab Sumantasaka, dan Pu Triguna mengubah kitab Kresnayana, keduanya pada masa Raja Warsajaya (Jayawarsa). Masih ada lagi kitab yaitu, Bhomantaka, tetapi tidak diketahui siapa pengarangnya, dan pada masa kerajaan siapa.[3]

F.   KERUNTUHAN KERAJAAN KEDIRI
Kediri mendapatkan masa kejayaannya pada masa Raja Jayabaya. Sang Raja yang terkenal sakti mandraguna dan dapat mengatasi masalah dengan prediksinya yang dikenal selalu ‘waskita’ dan ‘ngerti sak durunge winarah. Bahkan sampai sekarangpun banyak yang mengenal dan masih mempercayai apa yang dinamakan Jangka Jayabaya.[4] Sebesar apapun kejayaan sebuah kerajaan di nusantara, pada akhirnya juga akan mengalami keruntuhan. Demikian halnya yang terjadi pada Kerajaan Kediri, meski pernah mengalami masa keemasan, akhirnya juga mengalami keruntuhan.
Keadaan menjadi berangsur-angsur berbalik sejak Raja Kediri diperintah oleh Raja Ketajaya sebagai penerus Raja Jayabaya. Saat itu masyarakat Kediri sebagai penganut Hindu yang taat diprovokasi oleh para agen yang sengaja dikirimkan oleh Ken Arok dari Tumapel. Permainan Ken Arok sangat rapi sekali sehingga para Brahmana di Kediri tidak mengenali akan berita yang tersebar di masyarakat bahwa Kertajaya memerintahkan masyarakat untuk menyembahnya sebagai Dewa.
Para Brahmana Kediri menganggap bahwa sang raja Kertajaya telah melecehkan agama di saat itu. Beberapa kali upaya dilakukan untuk bicara dengan Kertajaya. Namun karena Kertajaya sendiri tidak merasa memerintahkan seperti itu, maka Kertajaya menanggapinya dengan anggapan bahwa itu semua tidak benar.
Merasa dipermainkan oleh Kertajaya, para Brahmana yang merasa membela keyakinannya menyusun kekuatan sendiri dengan merencanakan meminta bantuan kepada Tumapel yang saat itu merupakan daerah bawahan kerajaan Kediri. Pemimpin Tumapel adalah akuwu (Jabatan setara camat saat ini) Ken Arok.
Ken Arok menyambut baik keinginan para Brahmana untuk melawan Kertajaya, karena memang inilah yang diharapkannya. Para Brahmana saat itu melihat bahwa Ken Arok sangat berpihak kepada Brahmana dan ingin mengembalikan kemuliaan agama yang dianggap dilecehkan oleh Kertajaya saat itu.1 Kemudian terjadilah perang antara rakyat Tumapel yang dipimpin Ken Arok dgn Kerajaan Kediri. Akhirnya pd tahun 1222 Masehi, Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya dan Kerajaan Kediri menjadi wilayah bawahan Tumapel atau Singhasari.[5]
Namun di luar dugaan para Brahmana, ternyata niat baik Ken Arok membantu yang tadinya dikatakan berdasarkan atas keyakinan yang sama ternyata membawa misi terselubung, yaitu ingin memerdekakan Tumapel yang tadinya di bawah kekuasaan Kediri. Rencana Ken Arok yang memang sudah disusunnya jauh-jauh hari melibatkan emosi keagamaan para Brahmana ini berhasil dengan mulus. Ia mengadu domba para Brahmana dengan rajanya sendiri, yaitu Kertajaya.  Kediri mengalami kemunduran sejak Kertajaya dikalahkan dan meninggal.
Ken Arok kemudian memproklamirkan kerajaan Tumapel dengan bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Berdasarkan prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singasari yang sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakertagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Di sinilah ambisi berdirinya kerajaan Singasari dibangun dengan memanfaatkan sebuah kelicikan pemberontakan yang mengambil sentimen agama saat itu di mana para Brahmana terpengaruh dan kemudian berani memberontak rajanya. Kediri yang tadinya besar dengan nama Rajanya yang sangat terkenal, Prabu Jayabaya, kini porak-poranda dan hancur hanya dikarenakan provokasi dan rencana licik Ken Arok.[6]
DAFTAR PUSTAKA

Widiyatmoko.staff.gunadarma.ac.id. Kerajaan Kediri.
Suwardono. Sejarah Indonesia Masa Hindu Budha. Yogyakarta: Ombak, 2013 hlm 138.

Suwardono. 2013. Sejarah Indonesia Hindu-Buddha. Malang: Penerbit Ombak.



Diakses  pada Hari Sabtu 3 Maret 2018, jam 16.25 WIB.







[1]  Widiyatmoko.staff.gunadarma.ac.id. Kerajaan Kediri.
[2] Suwardono. Sejarah Indonesia Masa Hindu Budha. Yogyakarta: Ombak, 2013 hlm 138.
[3] Suwardono. 2013. Sejarah Indonesia Hindu-Buddha. Malang: Penerbit Ombak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...