KERAJAAN KEDIRI
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd. M.A.
‘
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Sejarah Indonesia Sampai Abad Ke-16
Disusun Oleh :
Nur
Afni Sedyowati (173231062)
Muhammad Fadhil. M (173231066)
Atta Bika Khoir (173231037)
Afifah Rahmawati (1732310 )
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia mulai berkembang pada zaman
kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan- kerajaan Hindu-Budha yang berdiri di Indonesia
sangatlah banyak sesuai dengan runtutan waktunya. Salah satu kerajaan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
kerjaan Kediri. Kerajaan Kediri merupakan kerjaan Hindu yang terdapat di
Indonesia, tepatnya terletak di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur.
Kerajaan yang berdiri sekitar abad
ke-12 ini merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Raja pertamanya bernama
Shri Jayawarsa Digjaya Sasthraprabu yang menamakan dirinya sebagai titisan
Wisnu.
Sejarah berdirinya kerajaan Kediri
diawali dengan perintah Raja Airlangga yang membagi kerajaan menjadi dua
bagian, yakni Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi dengan
Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Tujuannya supaya tidak ada pertikaian terdiri
atas Malang dan Delta Sungai Brantas dengan pelabuhan Surabaya, Rembang, dan
Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan. Sedangkan Kerajaan Panjalu (Kediri) meliputi,
Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
sejarah berdirinya kerajaan Kediri ?
2. Siapa
saja raja-raja yang pernah berkuasa pada kerjaan Kediri ?
3. Kapan
kerajaan Kediri mengalami kejayaan ?
4. Kapan
dan mengapa runtuhnya kerajaan Kediri ?
C. Tujuan
1. Mengetahui
sejarah berdirinya kerajaan Kediri.
2. Mengetahui
siapa saja raja-raja yang pernah berkuasa pada kerjaan Kediri.
3. Mengetahui
kapan kerajaan Kediri mengalami kejayaan.
4. Mengetahui
kapan dan mengapa runtuhnya kerajaan Kediri.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH
BERDIRINYA KERAJAAN KEDIRI
Kerajaan Kediri merupakan kerjaan
Hindu yang terdapat di Indonesia, tepatnya terletak di tepi Sungai Brantas,
Jawa Timur. Kerajaan yang berdiri sekitar abad ke-12 ini merupakan bagian dari
kerajaan Mataram Kuno. Raja pertamanya bernama Shri Jayawarsa Digjaya
Sasthraprabu yang menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.
Sejarah berdirinya kerajaan Kediri
diawali dengan perintah Raja Airlangga yang membagi kerajaan menjadi dua
bagian, yakni Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi dengan
Gunung Kawi dan Sungai Brantas. Tujuannya supaya tidak ada pertikaian terdiri
atas Malang dan Delta Sungai Brantas dengan pelabuhan Surabaya, Rembang, dan
Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan. Sedangkan Kerajaan Panjalu (Kediri) meliputi,
Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha.
Pada
November 1042, kedua putra Airlangga memperebutkan tahta kerajaan, sehingga dengan
terpaksa Airlangga membelah kerajaan menjadi dua. Hasil dari perang saudara
tersebut Kerajaan Panjalu diberikan kepada Sri Samarawijaya yang pusatnya
dikota Daha. Sedangkan kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Garasakan
yangberpusat di Kahuripan. Dalam prasasti Meaenga disebutkan bahwa Panjalu
dapat dikuasai Jenggala dan nama Raja Mapanji Garasakan (1042-1052) diabadikan.
Namun, pada peperangan selanjutnya, kerajaan Panjalu (Kediri) berhasil menguasai
seluruh tahta Airlangga.[1]
Sejarah
berdirinya kerajaan Kediri ini bisa dilihat dari sumber sejarah yang memberikan
keterangan mengenai kerajaan Kediri, yang paling utama adalah prasasti dan
berita cina. Kedua sumber ini dapat saling mengisi dalam merekontruksi sejarah
kerajaan Kediri.
Berbagai
prasasti dari masa kerajaan Kediri hingga saat ini menjadi sumber sejarah
kerajaan Kediri. Mulai prasasti Padlegan (1116 M), hingga yang terakhir adalah
prasasti Lawadan (1205). Sumber yang menarik pula adalah dari berita asing,
yaitu catatan Cina dari zaman Dinasti Song (960-1279). Yang berkaitan dengan
Kerajaan Kediri adalah bahwa (1109 M) ada utusan dari Raja She-p’o ke Cina
dengan membawa upeti.[2]
B.
Perkmbangan Poiltik Kerajaan Kadiri
Berita setekah pembagian krajan oleh Airlangga dengan adanya
Kerajaan Panjalu dan Janggala, kiranya hampir pada (1059 M), yaitu prasasti
terakhir berkenaan dengan kekuasaan Raja Samarotsaha di Kerajaan Janggala.
Justru Kerajaan Panjalu dengan ibu kotanya Dahana, prasatinya sama sekali tidak
sampaia kepada kita. Apabila di waktu-wakt yang akan datang ditemukan rasasti
prasasti-prasati dari kerajaan tersebut, akan menambah bahan yang leih jelas
tentang jalannya pemerintahan hingga pada masa Kerajaan Kadiri.
Memang ada prasasti yang sampai kepada kita dari 1015 M, jadi masih
zmana pemerintahan Raja Dharmmawangsa Tguh. Akan tetapi, prasati ini tinulad
(prasasti yang ditulis kembali). Isinya menyebutkan seorang ratu di Kadiri,
yaitu Paduka Sri Mahadewi Siniwiring Bhumi Kadiri. Dengan demikian nama Kadiri
sudah ada ada 1015 M. Semesntara diketahui menurut parsasti Pamwatan (1042 M)
bahwa istana Airlangga di pindah ke Dahana sebgai ibukota Panjalu. Hal ini menandakan
bahwa Kadiri tidak sama dengan Panjalu. Baru setelah munculnya krajaan kadiri,
dapat diketahui bahwa bukota Dahana dipindahkan ke Kadiri, yang berada di
wilayah Kediri sekarang.
C. PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN KERAJAAN KEDIRI
Kerajaan
Kediri dipimpin oleh
1.
Pemerintahan
Bameswara
Bukti
yang menceritakan tentang Raja Bameswara terdapat pada prasasti Padlegan yang
berisikan tentang anugrah raja kepada penduduk Desa Padlegan dan sekitarnya,
berupa ketetapan daerah tersebut sebagai sima
swatantra. Sebabnya karena penduduk diangap berjasa kepada raja dalam
mempertaruhkan jiwa raganya dalam peperangan, sehingga sang raja berhasil
memperoleh kemenangan.
Prasasti
raja Bameswara yang lain adalah prasasti Panumbangan (1120 M), yang berisikan
tentang penduduk Desa Panumbangan dengan lima desa yang masuk dalam wilayahnya.
Mereka menghadap raja serta memberitahukan bahwa mereka pernah diberi anugerah
prasasti diatas lontar yang diberikan oleh raja yang dicandikan di Gajapada.
Mereka meohon agar prsasti tersebut diabadikan di atas batu agar anugerah raja
tersebut langgeng. Bameswara pun mengabulkan keinginan mereka serta memberi
mereka tambahan hak-hak istimewa pada lima kabayan
di Desa Panumbangan. Panumbangan atau Desa Plumbangan sekarang, berada di
wilayah Doko, Kabupaten Blitar, tempat dimana prasasti tersebut ditemukan.
2.
Pemerintahan
Jayabhaya
Gelar
lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara
Mandhududanawataranindita Suhrtsinga Parkrama Digjayottunggadewanma.
Menggunakan lencana kerajaan yang diber nama lencana narasigha.
Terdapat
tiga prasasti yang berkenaan dengan Raja Jayabhaya. Tiga prasati tersebut
adalah sebagai berikut.
a. Prasasti
Hantang (1135 M)
Prasati ini berada di
Desa Ngantang, Malang, yang bagian atasnya tedapat tulisan “pangjalu jayati”
yang artinya Pangjalu menang. Prasasti ini berisikan tentang anugerah Raja
Jayabhaya yang menetapkan hak sima bagi Desa Hantang dan 12 desa yang ada di
wilayahnya, yang mana sebelumnya pernah diberikan kepada oleh raja yang
didarmakan di Gajapada dan di Ngapuspa. Hak tersebut juga masih ditambah dengan
beberapa hak istimewa lainnya dikerenakan penduduk Hantang selalu menunjukan
kesetiaan kepada raja dan membantu raja ketika terjadi panuwal, usaha untuk
memisahkan diri.
b. Prasasti
Talan (1136 M)
Berada di Desa Gurit,
Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Dipahat diatasbatu dengan aksara jawa kuno.
Berisikan bahwa pada 11 paruh gelap bulan Srawana tahun 1038 S (24 Agustus 1136
M), Raja Jayabhaya memerintahkan membuat prasasti pada batu yang memuat hak sima bagi Desa Talan. Hak tersebut
diberikan karena penduduk desa tersebut dapat membuktikan sebuah piagam daun
lontar yang dikeluarkan oleh Paduka Mpungku Bhatara Guru (Airlangga), yang
lengkap dengan cap garudamukha yang
isinya menyebutkan bahwa hak sima
untuk Desa Talan sudah ada sejak 961 S (1039).
c. Prasasti
dari Dukuh Jepun Desa Tegalrejo (1144 M)
d. Prasasti
Karangrejo (1134 M)
Ditemukan di Desa
Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Prasasti ini tidak dikeluarkan
oleh raja, akan tetapi oleh Rahyangta Tanca bagi sebuah pertapaan dari sang
brahmacari. Prasasti ini ditulis dibelakang sandaran arca Ganesha.
3.
Pemerintahan Sri
Sarwweswara
Terdapat
dua prasasti pada masa raja ini yang sampai pada kita, yaitu :
a. Prasasti
Padlegan II (1159 M)
Ditemukan di Desa Pikatan, Kecamatan
Srengat, Kabupaten Blitar.
b. Prasati
Kahyunan (1161 M)
Ditemukan di Desa
Kahyunan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Isinya menyebutkan peresmian Desa
Kahyunan sebagai siam oleh raja Sri Sarwweswara.
Selanjutnya ada
Prasasti Sukun pada taun yang sama dengan prasasti ini. Didapatkan dari seorang
kolektor di daerah Malang. Isisnya menyebutkan bahwa Sri Maharaja Jayamerta
memberi anugerah sima kepada Desa
Sukun karena membantu raja saat peperangan. Kejelasan mengenai Sri Maharaja
Jayamerta ientik dengan Raja Sri Sarweswara sampai saat ini masih belum jelas.
4.
Pemerintahan Sri
Aryyeswara
Pemerintahan
raja ini dapat diketahui dari dua prasasti berikut.
a. Prasasti
Meleri (1091M)
Ditemukan di Desa
Meleri, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Prasati ini dikeluarkan oleh Raja
Sri Aryeswara pada tanggal 10 paruh terang bulan Bhadrawada pada tahun 1091 S
(1169 M). Keadaan prasasti yang sudah sangat rusak sehingga isinya tidak
diketahui.
b. Prasasti
Angin (1171 M)
Ditemukan di Dukuh
Dadapan, Desa Jemekan, Kecamatan Ngadiluwih, Kadiri. Sekarang ini menjadi
koleksi kantor Kabupaten Kediri. Keadaannya juga sudah sangat rusak sehingga
isinyapun juga tidak diketahui. Prasati ini tertanggal 5 paruh terang bulan
Cetra 1093 S (13 Maret 1171 M) dikeluarakan oleh raja Sri Aryeswara
Tidak banyak informasi mengenai raja ini
karena terbatasnya peninggalan yang ditemukan. Raja Sri Aryeswara mengenakan lencana Ganesha
5.
Pemerintahan Sri
Gandra
Bergelar
Sri Maharaja Sri Kroncaryadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita
Digjayottunggadewanama. Prasasti yang ditemukan berkenaan dengan raja ini baru
satu, yaitu Prasasti Jaring tahun 1181 M. Dari Dukuh Jaring, Desa Kembang Arum,
Kabupaten Blitar yang semulamerupakan hutan yang bernama Gurit. Isi dari
prasasti tersebut adalah Desa Jaring sewilayahnya merupakan perantar Senapat Sarwwajala (panglima angkatan
laut), diantarkan kepada raja guna memberitahukan bahwa mereka telah
memeperoleh anugerah dari raja terdahulu. Akan tetapi mereka hingga saat ini
belum menikmatinya. Karena kesetiaan yang mereka perlihatkan kepada Raja Sri
Gandra, akhirnya permohonan mereka dikabulkan. Peresmian menjadi sima dilakukan pada tanggal 10 paruh
terang bulan Margasira tahun 1103 S (19 November 1181 M).
6.
Pemrintahan Sri
Kameswara
Gelarnya
adalah Sri Maharaja Kameswara Triwikramawatari Aniwaryawirya Parakrama
Digjayotunggadewanama. Prasasti yang menunjukkan masa pemerintahan raja ini
adalah sebagai berikut.
a. Prasasti
Ceker
Tertanggal 15 paruh
terang bulan Bhadrawada tahun 1107 S (11 September 1185) berisikan pengesahan
daerah Ceker sebagai sima oleh Raja
Sri Kameswara.
b. Prasasti
dari Desa Semading
Prasasti ini kondisinya
sudah sangat rusak, sehngga isinya sukar diketahui. Tertanggal 15 paruh terang
bulan Asada tahun 1104 S (17 Juni 1182 M), ditemukan di Desa Semading,
Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sekarang ini prasasti tersebut disimpan di
gedung Kabupaten Blitar.
7.
Pemerintahan
Srengga atau Kertajaya
Raja
Kadiri yang terakhir adalah Srengga atau Kertajaya yang bergelar Sri Maharaja
Sri Sarweswara Triwikramawataranindita Srnggalancana Digjayottunggadewanama.
Prasasti yang pernah dikeluarka ole raja ini adalah Prsasti Kemulan yang mana
keadaannya sudah sangat rusak sehingga sulit diketahui isinya. Inti dari isi
prasasti tersebut adalah Bahwa Sri Paduka Kertajaya pada tanggal 13 paruh
terang bulan Bhadrawada tahun 1116 S (31 Agustus 1194 M). Beliau menetapkan apa
yang sebelumnya telah ditetapkan oleh sang
lumah ring Jawa. Prasasti lainnya adalah sebagai berikut.
a. Prasasti
Sapu Angin
Desa Geger, Kecamatan
Kalangbret, Kabupaten Tulungagung. Angka tahunnya berbentuk candrasengkala yang
berbunyi “paksa tunggal sabumi” yang mengacu pada tahun 1112 S (1190 M). Isinya
menyebutkan didirikannya sebuah pertapaan sebagai hadiah dari Raja Kertajaya.
b. Prasasti
Palah (1197 M) yang berasal dari pelataran Candi Panataran Blitar. Isinya
mengenai pemujaan untuk batara di Palah setiap harinya.
c. Prasasti
Candi Pertapan (1198 M)
Bukan merupakan prasati
dari raja. Ditemukan di Candi Pertapan, kemudian dibawa dan ditempatkan di Desa
Pinggirsari, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Di dalamnya hanya disebutkan
bahwa pada tanggal 15 paruh terang bulan kartika pada tahun 1120 S (17 Oktober
1198 M ). Berisikan mengenai kakek dari Subhasitha yang meresmikan sebuah
bangunan suci untuk menghormati para leluhur di Subhasitha.
d. Prasasti
Galunggung (1200 M)
Terdapat di kompleks
makam Desa Panjer Rejo, Kecamatan Sumbergempol, Ngunut, Tulungagung. Isinya
menyebutkan tentang peresmian sima di
Galunggung pada tanggal 5 paruh terang bulan Wesaka tahun 112 S (20 April 1200
M)
e. Prasasti
Biri (1202 M)
f. Prasasti
Sumberingin Kidul (1204 M)
g. Prasasti
Pamotoh (1198 M)
Ditemukan di perkebunan
Ukir Negara Sirah Kencong Wlingi, Kabupaten Blitar, pada 1974, sekarang menjadi
koleksi Museum Mpu Tantular Surabaya. Dikeluarkan oleh aji jayaresi (raja resi) bagi warga wisaya Pamotoh yang bernama
Dyah Limpa. Menariknya dari isi prasasti ini adalah nama-nama desa yang
tertulis padanya juga mencakup desa-desa yang berada di daerah timur Gunung
Kawi, termasuk nama Malang. Keterangan lainnya yang tersurat rupanya
membenarkan peristiwa yang disinggung
dalam Pararaton tentang suatu
peristiwa pada masa akhir Kerajaan kediri.
D. STRUKTUR BIROKRASI KERAJAAN KADIRI
Gambaran
struktur birokrasi pemerintahan ada masa Kadiri diperoleh dari sejumlah data di
prasasti dan berita Chna. Gamabaran susunan Pemeintahan tersebut adalah sebagai
berikut :
-
Sri
Maharaja
-
Mahamantri
Katrini :
Rakryan mahamantri i hino
Rakryan mahamantri i halu
Rakryan mahamantri i sirikan
-
Tanda
Rakryan Ring Pakira-kiran:
1.
Rakryan
mapatih
2.
Rakryan
kanuruhan
3.
Rakryan
juru
4.
Rakryan
knep
5.
Rakryan
rangga
6.
Samgat
langka
7.
Samgat
wadihati
8.
Samgat
makudur
9.
Dyah
kabayan
E. KEADAAN SOSIAL MASYARAKAT KEDIRI
Kehidupan sosial kemasyarakatan pada zaman Kerajaan Kadiri dapat
dilihat dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang disusun oleh Chou Ku-Fei. Kitab
tersebut menyatakan bahwa di Kerajaan Kadiri orang yang bersalah didenda
sejumlah emas. Keluarga-keluarga yang kaya dapat menimbun padinya di lumbung
hingga sepuluh ribu pikul. Negeri ramai dengan perdagangan dan makanan
berlimpah. Adapun keadaan yang khas dari lingkungan thani, seperti yang
digambarkan dalam kitab Sumanasantaka bahwa lumbung penduduknya kecil-kecil.
Dari data prasasti kiranya dapat diamil sutau pemahaman mengenai
penataan wilayah pada zaman kerajaan kadiri yang berbeda dengan masa-masa
sebelumnya. Pembagian wilayah dapat dibagi menjadi tiga, yaitu (1) wilayah
rajya atau nagara, disini tinggal masyarakat yang terdapat dalam lingkungan
raja dan bberpa kaum kerabatnya serta elompo pelayannya, (2) wilayah wiyasa
(semacam federasi desa), yang terdiri dari unsur-unsur wilayah, (3) thani (desa,
serta di dalam wilayah thni bnyak pengurus duwan (didug sama dengan
pengurus kampung).
Dari data berita China dapat disebutkan antara lain bahwa
masyarakat Kadiri dalam kesehariannya memakai kain sampai lutut dan rambutnya
diurai. Rumah-rumahnya ata-rata sangat bersih dan rapi. Lantainya dibuat dari
ubin yang berwarna kuning dan hijau. Pemeritahannya sangat memperhtaikan
keadaan rakyatnya sehingga pertanian, peternakan, dan perdagangan mengakami
kemajuan yang cukup pesat. Selain golongan masyarakat yang tersebut diatas
terdapat pula olongan masyarakat yang tidak mempunyai kedudukan dan hubungan
dengan pemerintaha secara resmi atau msyarakat wiraswasta.
Pelukisan mengenai kehidupan di pedesaan kiranya dapat diketahui
dari uraian karya sastra zaman Kadiri, misalnya dalam Sumanasantaka [upuh
XXVIII, baris 5-6 disebutkan bahwa rakyat sibuk membajak dan menanam, sedangkan
anak-anak menggembalakan kerabu. Beberpa dusun di daerah pegunungan
mengesankan kesederhanaanya dengan
adanya lumbung-lumbng yang kecil, dengan lembunya yang kurus-kurus. Dusun-dusun
yang makmur biasanya di dekat pertpaan. Mereka memiliki lampu dan memiliki
pencucian serta pembuatan periuk. Selain itu terdapat pemukiman pertapaan dekat
pantai dengan dusun-dusun tempat pembuatan garam, mereka memiliki tambak-tambak
ikan (Ferdinandus, 2006:119).
Sisipan :dari zaman Kadiri dapat kenali beberapa pujngga dengan
karya sastranya. Pu Sedah dan Pu Panuluh mengubah kitab Bharatayuddha dalam
masa pemerintah Raja Jayabhaya. Pu Panuluh sendiri mengubah kitab Hariwangsa
pada masa Raja Jayabhaya dan kitab Ghatotkacasraya pada masa Raja Jayakerta
(Jayamerta). Pu Dharmaja mengubah kitab Smaradahana pada masa Raja Kameswara,
Pu Monaguna mengubah kitab Sumantasaka, dan Pu Triguna mengubah kitab
Kresnayana, keduanya pada masa Raja Warsajaya (Jayawarsa). Masih ada lagi kitab
yaitu, Bhomantaka, tetapi tidak diketahui siapa pengarangnya, dan pada masa
kerajaan siapa.[3]
F.
KERUNTUHAN
KERAJAAN KEDIRI
Kediri
mendapatkan masa kejayaannya pada masa Raja Jayabaya. Sang Raja yang terkenal
sakti mandraguna dan dapat mengatasi masalah dengan prediksinya yang dikenal
selalu ‘waskita’ dan ‘ngerti sak durunge winarah. Bahkan
sampai sekarangpun banyak yang mengenal dan masih mempercayai apa yang
dinamakan Jangka Jayabaya.[4] Sebesar
apapun kejayaan sebuah kerajaan di nusantara, pada akhirnya juga akan mengalami
keruntuhan. Demikian halnya yang terjadi pada Kerajaan Kediri, meski pernah
mengalami masa keemasan, akhirnya juga mengalami keruntuhan.
Keadaan
menjadi berangsur-angsur berbalik sejak Raja Kediri diperintah oleh Raja
Ketajaya sebagai penerus Raja Jayabaya. Saat itu masyarakat Kediri sebagai
penganut Hindu yang taat diprovokasi oleh para agen yang sengaja
dikirimkan oleh Ken Arok dari Tumapel. Permainan Ken Arok sangat rapi sekali
sehingga para Brahmana di Kediri tidak mengenali akan berita yang tersebar di
masyarakat bahwa Kertajaya memerintahkan masyarakat untuk menyembahnya
sebagai Dewa.
Para
Brahmana Kediri menganggap bahwa sang raja Kertajaya telah melecehkan agama di
saat itu. Beberapa kali upaya dilakukan untuk bicara dengan Kertajaya. Namun
karena Kertajaya sendiri tidak merasa memerintahkan seperti itu, maka Kertajaya
menanggapinya dengan anggapan bahwa itu semua tidak benar.
Merasa dipermainkan oleh Kertajaya,
para Brahmana yang merasa membela keyakinannya menyusun kekuatan sendiri dengan
merencanakan meminta bantuan kepada Tumapel yang saat itu merupakan daerah
bawahan kerajaan Kediri. Pemimpin Tumapel adalah akuwu (Jabatan setara camat
saat ini) Ken
Arok.
Ken
Arok menyambut baik keinginan para Brahmana untuk melawan Kertajaya, karena memang
inilah yang diharapkannya. Para Brahmana saat itu melihat bahwa Ken Arok sangat
berpihak kepada Brahmana dan ingin mengembalikan kemuliaan agama yang dianggap
dilecehkan oleh Kertajaya saat itu.1 Kemudian terjadilah perang
antara rakyat Tumapel yang dipimpin Ken Arok dgn Kerajaan Kediri. Akhirnya pd
tahun 1222 Masehi, Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya dan Kerajaan Kediri
menjadi wilayah bawahan Tumapel atau Singhasari.[5]
Namun
di luar dugaan para Brahmana, ternyata niat baik Ken Arok membantu yang tadinya
dikatakan berdasarkan atas keyakinan yang sama ternyata membawa misi
terselubung, yaitu ingin memerdekakan Tumapel yang tadinya di bawah kekuasaan
Kediri. Rencana Ken Arok yang memang sudah disusunnya jauh-jauh hari melibatkan
emosi keagamaan para Brahmana ini berhasil dengan mulus. Ia mengadu domba para
Brahmana dengan rajanya sendiri, yaitu Kertajaya. Kediri mengalami
kemunduran sejak Kertajaya dikalahkan dan meninggal.
Ken
Arok kemudian memproklamirkan kerajaan Tumapel dengan bergelar Sri Rajasa
Bhatara Sang Amurwabhumi. Berdasarkan prasasti Kudadu,
nama resmi Kerajaan Singasari yang sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel.
Menurut Nagarakertagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu
kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Di
sinilah ambisi berdirinya kerajaan Singasari dibangun dengan memanfaatkan
sebuah kelicikan pemberontakan yang mengambil sentimen agama saat itu di mana
para Brahmana terpengaruh dan kemudian berani memberontak rajanya. Kediri
yang tadinya besar dengan nama Rajanya yang sangat terkenal, Prabu
Jayabaya, kini porak-poranda dan hancur hanya dikarenakan
provokasi dan rencana licik Ken Arok.[6]
DAFTAR PUSTAKA
Widiyatmoko.staff.gunadarma.ac.id.
Kerajaan Kediri.
Suwardono. Sejarah Indonesia Masa Hindu Budha. Yogyakarta: Ombak,
2013 hlm 138.
Suwardono. 2013. Sejarah Indonesia Hindu-Buddha. Malang: Penerbit
Ombak.
[2]
Suwardono. Sejarah Indonesia Masa Hindu Budha. Yogyakarta: Ombak, 2013
hlm 138.
[3]
Suwardono. 2013. Sejarah Indonesia Hindu-Buddha. Malang:
Penerbit Ombak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar