Peninggalan-peninggalan Kerajaan Banten
1. Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten adalah salah satu bangunan peninggalan kerajaan Banten yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid ini terletak di Desa Banten lama, 10 km utara Kota Serang. Masjid ini memiliki beberapa keunikan corak.
2. Istana Keraton Kaibon Banten
Istana ini dulunya adalah tempat tinggal ibunda Sultan Syaifuddin yakni Bunda Ratu Aisyah.
3. Istana Keraton Surosowan Banten
Kerajaan Banten di masa silam juga meninggalkan bangunan istana lainnya, yaitu istana Keraton Surosowan. Istana ini adalah tempat tinggal dari Sultan Banten dan menjadi kantor pusat kepemerintahan.
4. Benteng Speelwijk
Kerajaan Banten juga meninggalkan bangunan berupa benteng dan mercusuar. Benteng Speelwijk di bangun tahun 1585, benteng peninggalan kerajaan Banten berfungsi selain sebagai pertahanan kerajaan dari serangan laut juga berfungsi untuk mengawasi aktifitas pelayaran disekitar Selat Sunda.
blog ini berisikan makalah makalah kami jurusan sejarah peradaban islam kelas B iain surakarta. makalah ini adalah karya karya kami spi-B
Rabu, 25 April 2018
Peninggalan kerajaan banten
Makalah KERAJAAN PAJANG
KERAJAAN PAJANG
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd. M.A.‘
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia Sampai Abad Ke-16
Disusun Oleh :
Nur Afni Sedyowati Naufal Hanif Atik Septiani Ahmad Farhan
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN PAJANG
Kerajaan Pajang merupakan kerajaan penerus Demak. Setelah kerajaan Demak mengalami kekacauan akibat perebutan tahta kepemimpinan Demak. Sepeninggal Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik tahta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang (Bojonegoro). Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal. Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang.
Jaka Tingkir menjadi pewaris tahta Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang. Jaka Tingkir adalah menantu dari Sultan Trenggana. Penyerangan terhadap Arya Penangsang itu, Jaka Tingkir dibantu oleh Ki Ageng Pamanahan. Atas jasa Ki Ageng tersebut, Jaka Tingkir memberikan hutan kepada Ki Ageng Pemanahan tepatnya di hutan Mentoak yang kelak menjadi Mataram.
Pengesahan Jaka Tingkir sebagai sultan Kerajaan Pajang (Boyolali) disahkan oleh Sunan Giri dan segera mendapat pengakuan dari seluruh kadipaten di Jawa tengah dan Jawa Timur. Sementara Demak dijadikan Kadipaten dengan adipatinya Arya Pengiri putra Sunan Prawoto. Kalau kerajaan Demak berada dipesisir akan tetapi kerajaan Pajang diletakkan di pedalaman yaitu Pajang.
Peletakan Kerajaan itu, menuai kritik dari Sunan Kudus karena menurutnya di daerah pedalaman telah menganut kepercayaan Islam yang berbeda dengan kepercayaan Islam pesisir. Sunan Kudus menduga aliran kepercayaan Islam yang berbeda diprakarsai oleh Syekh Siti Jenar. Namun harapan Sunan Kudus agar tidak memindahkan ibu kota kerajaan ke pedalaman itu tidak dihiraukan, maka terjadilah pemindahan ibu kota kerajaan Demak ke Pajang dan lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajang.
Jadi, ketika Sultan Trenggana masih menjabat sebagai raja Demak, Mas Karebet atau sering disebut Jaka Tingkir (Putra Kebo Kenanga) diangkat sebagai mantu dan dinobatkan sebagai adipati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya. Namun ketika Sunan Prawata (pengganti Sunan Trenggana) mangkat, Hadiwijaya yang telah menyingkirkan Arya Panangsang (Jipang) dengan dukungan juru Mrentani tersebut menobatkan diri sebagai raja Pajang. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa pendiri Kesultanan Pjang adalah Hadiwijaya.
Usia Kesultanan Pajang tidak lebih dari setengah abad yakni dari tahun 1549 hingga 1587. Karenanya tidak heran bila dalam waktu 38 tahun itulah, kesultanan Pjang hanya melahirkan tiga orang raja, yakni: Sultan Hadiwijaya (1549-1582), Arya Pangiri (1583-1587), dan Pangeran Banawa atau Sultan Prabuwijaya (1586-1587).
Bila menilik sejarah Kesultanan Pajang tidak diketahui masa kejayaanya. Mengingat sejk berdiri hingga masa keberakhiran riwayatnya, Pajang tidak bisa dibilang pernah mengalami puncak kejayaan. Bahkan selama pemerintahan Pajang berlangsung hanya diwarnai konflik politik di lingkup keluarga yang merupakan penyebab hancurnya kerajaan tersebut.
Konflik Sultan Hadiwijaya dengan Panembahan Senopati
Di masa Sultan Hadiwijaya, wilayah Mataram yang semula dianugerahkan pada Pemanahan atau Ki Ageng Mataram merupakan bawahan Pajang. Sesudah Pemanahan meninggal, Raden Bagus yang menggantikan kedudukannya berhasrat membebaskan Mataram dari bayang-bayang Pajang. Namun, hasrat Raden Bagus tidak pernah mendapatkan restu dari Juru Mrentani.
Ketika 40 mantri pamajekan Mataram merebut Tumenggung Mayang yang akan dibuang Hadiwijaya ke Semarang dari pasukan Pjang. Penyerangan orang-orang Mataram terhadap pasukan Pajang di Jatijajar itu diyakini Hadiwijaya sebagai bentuk perlawanan Raden Bagus terhadap raja Pajang. Karenanya, Hadiwijaya bertekad untuk menangkap Raden Bagus, hingga terjadilah perang besar antara Pajang dengan Mataram.
Sesudah peristiwa perang Pajang versus Mataram, Sultan Hadiwijaya yang dalam perjalanan pulang itu jatuh sakit. Tidak berapa lama akhirnya wafat. Sepeninggal Hadiwijaya, Sunan Kudus membuat kebijaksanaan. Di mana tahta kekuasaan Pajang diserahkan pada Adipati Demak – Arya Pangiri (putra Sunan Prawata) yang merupakan menantu Hadiwijaya. Sementara pangeran Banawa hanya dinobatkan sebagai Adipati di Kadipaten Jipang.
Konflik Arya Pangiri dengan Pangeran Banawa
Sebagai penguasa Pajang Arya Pangiri mempunyai banyak kelemahan dalam memimpin pajang. Selain sifatnya yangmudah curiga, Arya Pangiri tidak peduli pada kesejahteraan rakyatnya. Arya Pangiri hanya berfokus untuk menaklukkan Mataram.
Selain kelemahan di muka, Arya Pangiri memiliki kelemahan lain yakni mendatangkan banyak penduduk dari Demak dan menyingkirkan penduduk asli Pajang. Kebiasaan Arya Pangiri ini membuat sebagian warga Pajang kehilangan pekerjaan kemudian merampok dan mencuri. Sementara sebagian warga Pajang lainnya berpindah ke Jipang untuk menghamba pada Pangeran Banawa.
Sesudah mengetahui tata pemerintahan Arya Pangiri yang cenderung menggencet nasib warga asli Pajang, Pangeran Banawa mengutus duta ke Mataram. Duta tersebut menyampaikan maksud Pangeran Banawa agar Raden Bagus bersedia menjadi Raja Pajang menggantikan Arya Pangiri.
Raden Bagus menolak untuk dijadikan Raja di Pajang. Raden Bagus justru menyampaikan kepada Duta Jipang agar Banawa bersedia menjadi Raja di Pajang dan berpesan agar Pangeran Banawa pergi ke Mataram bersama pasukannya dengan melalui Gunungkidul.
Duta Jipang meninggalkan Mataram.Mengahadap Pangeran Banawa dan menyampaikan pesan Raden Bagus. Sesudah menangkap maksud tersirat dari Raden Bagus, Banawa dan pasukannya berangkat ke Mataram melalui Gunungkidul. Setiba di Weru, Banawa disambut Raden Bagus, pasukan Mataram, dan orang-orang Pajang anti Arya Pangiri.
Hasil pembicaraan antara Pangeran Banawa dan Raden Bagus adalah menyerbu Pajang dan menurunkan Arya Pangiri dari tahta kekuasaan. Dari Weru, berangkatlah pasukan gabungan Jipang, Mataram, dan orang-orang Pajang menuju Ibukota Pajang. Perang pasukan Arya Pangiri yang terdiri dari orang-orang Demak dan Kudus dengan pasukan gabungan yang dipimpin Pangeran Banawa dan Raden Bagus itu tak dapat dihindari. Dari perang tersebut, Pajang dapat ditaklukkan. Arya pangiri yang diturunkan dari tahta kekuasannya dipulangkan ke Demak. Kemudian Pangeran Banawa dinobatkan sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Prabuwijaya.
Masa Surut Kerajaan Pajang
Pangeran Banawa naik tahta sebagai raja Pajang ke-3. Hubungannya dengan Raden Bagus semakin erat saat Prabuwijaya menikahkan putrinya bernama Dyah Banowati dengan Raden Mas Jolang. Kelak pernikahan antara Dyah Banowati dengan Raden Mas Jolang melahirkan Raden Mas Rangsang (Sultan Agung).
Beberapa naskah babad memberitakan dengan versi yang berbeda tentang akhir pemerintahan Sultan Prabuwijaya di Pajang. Versi pertama menyebutkan , Sultan Prabuwijaya meninggal karena meninggal pada tahun 1587. Versi kedua menyatakan, Sultan Prabuwijaya turun tahta karena menjadi ulama di Gunung Kulakan bergelar Sunan Parakan. Versi ketiga mengabarkan, Sultan Prabuwijaya minggalkan tahta Pajangv karena membangun pemerintahan di Pemalang.
Sepeninggal Sultan Prabuwijaya, Raden Bagus menobatkan Pangeran Gagak Baning sebagai adipati di Pajang. Karena status hanya sebagai kadipaten bawahan Mataram, maka riwayat kesultanan Pajang dianggap berakhir. Sungguhpun belum bisa disebut bahwa Pajang mengalami kehancuran.
Perkembangan manuskrip pada zaman Pajang merupakan perkembangan yang tidak bisa dipisahkan dari zaman Demak. Namun tampaknya agak sulit megidentifikasi secara secara mandiri dan perperiode kerajaan. Satu karya manuskrip yang banyak dianggap berasal dari zaman ini adalah Serat Nitisruti.
Metode Penyebaran Agama Islam/ Islamisasi
Jaka Tingkir adalah seorang Kampiun Perdamaian, yang berkeinginan mendinginkan panasnya api persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan suku Jawa yang bibitnya telah ditabur sejak zaman Majapahit dan Pajajaran. Bisa dikatakan pula bahwasanya ikatan Sumedang-Cirebon-Pajang yang dibangun lewat hubungan guru-murid-saudara seperguruan, adalah prestasi terbesar Jaka Tingkir sebagai Raja Pajang dalam arena diplomasi regional yang bahkan tak bias dilakukan oleh para penguasa Demak.
Selain itu, Jaka Tingkir juga membalas budi kepada Sutawijaya yang telah berhasil membunuh Arya Penangsang. Sutawijaya dan ayahnya, Ki Ageng Pamanahan diberi hadiah tanah mentaok yang sekarang berlokasi di sekitar Kotagede, inilah cikal bakal dari Kesultanan Islam terkuat di Tanah Jawa, yaitu Mataram.
Sebagai Murid dari salah satu anggota Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga. Jaka Tingkir merasa berkewajiban melanjutkan dakwah sesuai dengan cara yang pernah dipergunakan oleh sang guru. Sunan Kalijaga selama ini telah merancang proyek kebudayaan Islam lokal dalam rangka menyebarkan nilai-nilai religius yang senafas dengan tradisi Jawa (pengadatan Jowo) melalui proses asimilasi dan akulturasi yang panjang. Sunan Kalijaga terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif menciptakan karangan cerita-cerita pewayangan yang kemudian dikumpulkan dalam kitab-kitab cerita wayang yang sampai sekarang masih ada.
Cerita-cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Hindu Jawa dengan corak kehidupannya yang ada, tetapi sudah dimasuki unsur-unsur ajaran Islam sebanyak mungkin. Hal semacam inilah yang ingin dilanjutkan oleh Jaka Tingkir dengan Kerajaan Pajang sebagai Laboratorium Dakwahnya.
Tokoh lain selain Sunan Kalijaga yang ajarannya dijadikan panutan oleh Jaka Tingkir dalam perkembangan Dakwah Islamiyah pada masa Kesultanan Pajang, adalah Malang Sumirang. Saking kuat pengaruhnya, namanya diabadikan dengan tinta emas di dalam Babad Jaka Tingkir. Malang Sumirang kadang tidak sepaham dengan Dewan Wali Songo, ia pernah berkata “tanpa melihat besar atau kecilnya dosa dan kesalahan, namun langsung mencap buruk terhadap suatu ajaran, cara pandang seperti ini tidaklah tepat dan benar”. Statement Malang Sumirang menunjukkan realitas sejarah di mana Dewan Wali Songo tak menyetujui cara dakwah Malang Sumirang yang menekankan aspek Tasawuf Ahlaki. Dalam rangka menangkal stigma tersebut, Malang Sumirang menjelaskan bahwa Tasawuf yang ia anut tidak menentang Syariat Islam tetapi justru memperdalam penghayatan dalam beragama. Malang Sumirang juga berkata, “Orang yang sudah memahami hakikat dirinya sendiri, sembahyangnya tidak akan melihat waktu,
ibarat air mengalir; berdoa selalu siang malam tanpa henti. Memuji Allah kapan saja dan dimana saja”. Bagi Malang Sumirang, shalat yang merupakan representasi syariat merupakan ritual yang penting namun seharusnya tak terbatasi oleh lima waktu saja. Allah dapat dan harus senantiasa diingat di dalam hati setiap saat dan dimana pun.
Dalam Babad Jaka Tingkir, di pupuh ke XXII, untaian tembang Mijil, dituliskan dengan nada memuji bahwa Malang Sumirang ikhlas menerima usulan Sunan Bonang yang menghendaki dirinya menjalani hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup di tumangan (api unggun). Hukuman mati terhadap Malang Sumirang membuktikan bahwa situasi ketika itu tidak memungkinkan seseorang mengambil sikap bersebrangan dengan cara, pemikiran maupun pemahaman keagamaan yang diikuti oleh penguasa, alhasil kekuasaan dari pemegang otoritas untuk melakukan interpretasi dalam bidang agama bertindak dengan memberangus tubuh siapapun yang menurut mereka mencoba menafsirkan agama sesuka hatinya.
Jaka Tingkir juga merekrut seorang pujangga besar bernama Pangeran Karanggayam, penulis karya filosofis berjudul Serat Nitisruti yang berisi ajaran moral dan mistisme Islam Jawa. Salah satu ungkapannya yang merepresentasikan struktur nalar mistik adalah, “bersumpahlah atas nama mati dan mempraktikkan cara bertapa ala leluhur. Tak henti melihat segala hal di muka bumi. Langit seisinya semuanya adalah hamba Allah. Teks ini dapat ditafsirkan sebagai hasrat untuk menjauhkan kebutuhan-kebutuhan duniawi. Kebutuhan utama adalah menghadirkan Allah di dalam jiwanya. Apabila Allah sudah hadir dalam jiwa manusia, secara otomatis kebutuhan apapun sudah tercukupi, manusia tidak akan menjadi serakah dan haus akan harta benda maupun kekuasaan yang dapat merugikan orang lain.
Dalam Lingkungan Istana, Jaka Tingkir berusaha menciptakan atmosfer yang Islami, yang ditandai dengan adanya tata tertib, sensitifitas dan estetika dengan memanfaatkan Adat Budaya Jawa seperti yang dicontohkan Sunan Kalijaga. Dikalangan istana terdapat adat walon, yakni tata krama yang diberikan sejak kecil. Misal : cara berpakaian, cara makan, cara bergaul dengan keluarga, tetangga, orang lain, dan sebagainya. Untuk memperhalus perasaan diberikan pelajaran kesenian dan sejumlah pendidikan seperti Pendidikan kasatupan, yaitu pendidikan pembentukan karakter yang ditempuh dengan melalui laku atau cara-cara tertentu. Hal itu sesuai dengan upacara ngelmu iku kelakone kanthi laku artinya ilmu pengetahuan itu dapat diperoleh dengan cara yang tidak mudah. Pendidikan itu bersifat lahirah dan batiniah. Pendidikan ini meliputi ngelmu jaya kawijayan, yakni pendidikan bertujuan agar seseorang memiliki kesaktian. Untuk mendapat tujuan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti bertapa, berpantang, dan berpuasa. Ngelmu pangawikan, yakni pendidikan yang bertujuan agar seseorang menguasai berbagai ilmu, misalnya, ilmu tentang menjinakkan kuda, harimau, buaya, burung perkutut, dan benda pusaka. Ngelmu kasantikan, yakni pendidikan yang bertujuan agar seseorang memiliki kebijaksanaan dan kesempurnaan hidup. Dengan metode semacam itulah, pada akhirnya Jaka Tingkir sebagai Penguasa Kerajaan Pajang berdakwah dengan memberi panutan kepada masyarakat bagaimana cara hidup sebagai seorang Muslim yang baik.
Transisi Maritim ke Agraris
Pada masa Kesultanan Demak, Islamisasi banyak terjadi di wilayah Pesisir. Hal ini disebabkan karena Pantai menjadi tempat bertemunya berbagai macam kebudayaan dari luar Nusantara. Hal tersebut berakibat pada tumbuhnya perkampungan pedagang Arab di Pesisir Utara Jawa. Dalam perkembangan selanjutnya, koloni dagang para pedagang Arab ini mulai memberikan kontribus dalam penyebaran Islam . Hal ini mempengaruhi pula perkampungan pedagang lain yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan Asia Tenggara.
Disadari atau tidak, tumbuhnya Bandar-bandar baru itu dimana banyak Saudagar asing yang datang untuk berdagang, turut memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Kesultanan Demak pada awal masa Kekuasaanya.
Bukan hanya menyumbang devisa terhadap negara, makin intensnya komunikasi yang terjalin antara para penyebar islam baik itu mubaligh, kiai maupun sufi dengan para pedagang menciptakan hubungan Patron-Client, bahkan banyak diantara para saudagar yang menduduki jabatan penting di kerajaan. Tidak salah jika dikatakan bahwa, berdirinya Kesultanan Demak adalah kemenangan kelas saudagar dari Kerajaan Maritim terhadap Aristokrat Feodal pedalaman yang menguasai Imperium Majapahit.
Tidak hanya berhenti menjadi Penguasa Bandar Dagang, Demak bertransformasi menjadi Penguasa Lautan dengan menjalin Kerjasama militer bersama Kerajaan Aceh dan Kepangeranan Jepara. Pada tahun 1513, berkoalisi dengan angkatan laut Aceh, Demak melakukan penyerangan melawan Portugis di Malaka. Mereka membawa sekitar 100 kapal perang dengan kekuatan
12.000 kelasi. Kapal laksamana pemimpin perangnya diberi panser dari kapur. Meriam yang dibawa untuk menggempur Portugis di Malaka ini semua berasal dari Jawa. Begitu pun dengan Jepara. Dibawah pimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara mengirimkan bantuan militer kepada Kerajaan Aceh yang berperang melawan Portugis di Malaka.
Setelah Demak runtuh, kekuasaan pindah ke Pajang, di mana pusat kekuasaan beralih dari kawasan pesisir ke kawasan pedalaman. Peralihan pusat kekuasaan tersebut memberi dampak terhadap corak pemerintahan, lambat laun kehilangan taring khas bangsa maritim dan terkungkung dalam eksotisme budaya agraris.
Jaka Tingkir memiliki inovasi baru untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi lewat menggalakan perniagaan berbasiskan pengembangan komoditas seni-budaya yang sofistikatif. Hal itu dapat terlihat dari bandar laweyan dimana Jaka Tingkir mendukung berdirinya kampung kerajinan seperti Kampung Batik Laweyan, kampung mutihan dan beberapa kampung kerajinan lainnya yang membuat Pajang menjadi kerajaan yang terkenal kala itu. Seni budaya masa Jaka Tingkir juga mendapat perhatian tatkala Demak saat itu menjadi kadipaten dibawah kekuasaan Pajang. Selanjutnya keraton Kerajaan Pajang diperindah oleh Hadiwijaya, membangun masjid beserta makam dikampung Laweyan dan kemajuan dibidang lainnya
Kehidupan Kerajaan Pajang dari Berbagai Aspek
Kehidupan Politik Kerajaan Pajang
Kerajaan Pajang ini bisa dikatakan sebagai kerajaan bekas dari Demak. Hal ini karena sejarah berdirinya Kerajaan Pajang tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Demak. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Joko Tingkir yang kala itu berhasil menumpas Aryo Penangsang. Aryo Penangsang sendiri adalah raja di Demak yang tidak diinginkan oleh peihak keluarga besar Demak. Dari sini kemudian keluarga meminta bantuan Joko Tingkir untuk menyingkirkan Aryo Penangsang. Setelah berjalannya waktu, Kerajaan Demak runtuh maka Joko Tingkir kemudian menggeser pusat pemerintahan di Demak ke Pajang yang sekaligus menjadi penanda berdirinya Kerajaan Islam Pajang.
Kehidupan politik Kerajaan Pajang ini sebenarnya mulai mapan dan stabil. Namun disayangkan perjalanan Kerajaan Islam Pajang tidak cukup lama karena beberapa konflik yang terjadi. Kerajaan Pajang sendiri berpusat di Jawa Tengah bekas Kerajaan Demak lebih tepatnya yaitu di daerah Kartasura dekat Surakarta atau Solo. Kerajaan Pajang ini sebenarnya meski muncul belakangan, pernah juga disebut oleh Hayam Wuruk dalam kitab Negarakertagama. Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, kerajaan Pajang dan kerajaan Demak sudah disinggung di dalam kitab tersebut.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Pajang
Meski merupakan kerajaan baru jika dibanding dengan Kerajaan Demak, namun secara ekonomi Kerajaan Pajang sangatlah baik. Kesejahteraan rakyatnya cukup terjamin dengan berbagai hasil bumi yang dihasilkan. Ketika Kerajaan Demak masih berkuasa, bahkan Kerajaan Pajang ini sudah berhasil mengekspor beras ke beberapa daerah melalui perniagaan dengan memanfaatkan Bengawan Solo sebagai jalur transportasi. Pada umumnya, masyarakat Pajang mengandalkan hasil kebun dan pertanian untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan Pajang berhasil menjadi lumbung beras pada sekitar abad ke 16 dan ke 17. Hal ini karena irigasi di daerah Pajang sangat bagus dengan adanya Bengawan Solo sehingga irigasi lancar yang kemudian membuat hasil pertanian melimpah.
Kelemahan masyarakat Pajang pada saat itu adalah ketidakmampuan dalam bidang perniagaan. Sehingga meski memiliki hasil agraris yang sangat melimpah, kedigdayaan ekonomi Kerajaan Pajang ini tidak berlangsung lama. Terlebih lagi perniagaan dengan basis laut atau maritim yang sedang ngetrend pada saat itu, semakin membuat Kerajaan Pajang tertinggal dengan kerajaan lain di bidang ekonomi perniagaan. Karena masyarakat pajang kurang ahli dalam masalah kelautan, padahal pada saat itu semua perdagangan hampir dilakukan di lautan.
Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Pajang
Meski kerajaan Pajang merupakan salah satu Kerajaan Islam di Jawa, namun pengaruh tradisi Hindu masih kentara. Sehingga beberapa kebudayaan pun masih ada yang menggunakan tradisi-tradisi Hindu. Masyarakat di Pajang juga masih banyak yang menjalankan beberapa tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Pada masa kejayaan Kerajaan Pajang, terjadi akulturasi budaya antara Hindu dan Islam yang kuat. Bahkan, kemunculan Kerajaan Pajang ini juga banyak yang menafsirkan kembalinya kekuasaan Islam kejawen dari Islam ortodok.
Demikian sedikit informasi mengenai Sejarah Kerajaan Pajang, Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya Kerajaan Islam Pajang yang bisa kami sampaikan untuk Anda semua. Semoga sedikit informasi mengenai sejarah Kerajaan Pajang dan kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya Kerajaan Pajang di atas bisa menambah pengetahuan kita semua mengenai sejarah Kerajaan Pajang.
Peninggalan Kerajaan Pajang
Berikut merupakan peninggalan-peninggalan kerajaan Pajang, yaitu:
Masjid Laweyan
Masjid Laweyan berada di daerah Solo tepatnya di kampung Batik, tepatnya di Dusun Pajang Rt 4 Rw 4, laweyan Solo. Masjid ini didirikan pada tahun 1546 M yang sampai sekarang masih ada dan digunakan para masyarakat setempat. Pada masa raja Joko Tingkir yang memerintah di kerajaan Pajang, masjid ini didirikan dan masjid ini kental dengan unsure tradisional jawa. Masjid ini pun menjadi letak sejarah tentang keberadaan Ki Ageng Henis karena masjid ini dekat dengan makam-makam raja dan kerabat kasunanan.
Masjid ini sangat dipengaruhi oleh kerajaan Surakarta yang sangat terlihat dari bangunan yang berubah-ubah. Pada salah satu komplek daerah masjid ini terdapat ada pemakaman untuk para bangsawan keraton Solo. Gerbang makamnya pun terdiri dari Betari Durga dan terdapat suatu simbolisme penjagaannya dari Betari Durga. Makam ini pun pernah direnovasi oleh Paku Buwono X bersama dengan renovasi Keraton Kasunanan.
Berikut nama-nama Raja kerajaan Pajang yang dikuburkan di komplek masjid Laweyan:
Ki Ageng Henis
Susuhunan Paku Buwono II
Permaisuri Paku Buwono V
Pangeran Widjil I Kadilangu
Nyai Ageng Pati
Nyai Pandanaran
Prabuwinoto
Dalang keraton kasunanan Surakarta
Kyai Ageng Proboyekso
Bandar Kabanaran
Bandar ini merupakan suatu pelabuhan yang terkenal. Pada saat Kyai Ageng henis tinggal di daerah Laweyan dengan dakwahnya beliau pun juga mengadakan bisnis perdagangan, yaitu karya yang terkenal adalah teknik pembuatan batik pada penduduk setempat. Perdagangan semakin ramai dan berkembang sangat pesat, karena itu arus lalu lintas yang padat sangat mendukung perkembangan perdagangan tersebut. Bandar kabanaran ini merupakan pelabuhan yang menghubungkan kerajaan Pajang dengan Bandar Besar Nusupan yang ada di tepi sungai bengawan Solo.
Pasar Laweyan
Pasar ini merupakan pusat perdagangan bahan pakaian dan kain tenun. Semenjak tahun 1546 M pasar ini banyak sekali memproduksi jenis batik yang berasal dari para masyarakat kampung tersebut. seperti halnya dengan tradisi membatik di masyarakat Laweyan. Teknik membatik ini pada awalnya dikenalkan oleh Ki Ageng Henis yang merupakan penasihat spiritual di Kerajaan Pajang. Pasar ini terletak di timur kampung Setono, di selatan Kampung Lor Pasar dan di utara Kampung Kidul Pasar.
Tidak jauh dari Bandar Kabanaran ada sebuah pasar yang di namai Pasar Laweyan. Pasar itu dahulu kala merupakan pendorong utama kegiatan perdagangan di Bandar Kabanaran. Hingga sampai kini, pasar Laweyan masih di pakai masyarakat untuk melakukan transaksi perdagangan. Namun demikian, tidak ada sisa benda bersejarah yang menceritakan bagaimana sejarah peradaban bangunan pasar itu di bangun.
Kesenian Batik
Kerajaan pajang pada masa lampau juga mewariskan kesenian batik tulis. Batik yang selama ini di kenal oleh masyarakat. ternyata sejarah awalnya pembuatan batik pertama kali yang membuat adalah masyarakat laweyan saat masa kerajaan pajang.Meskipun kesenian batik Laweyan pernah pudar karena perkembangan batik printing yakni pada tahun 1980. namun kini ke populeran kain batik tulis ini kembali naik daun berkat minat masyarakat yang semakin besar terhadap kain batik tulis ini.
BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya yang merupakan penerus keturunan dari kerajaan Demak. Sultan Hadiwijaya mendirikan kerajaan Pajang pada tahun 1549 sampai 1582 dan diteruskan oleh Arya Pangiri pada tahun 1583 sampai 1587, dan diakhiri oleh Pangeran Banawa atau biasa dipanggil Sultan Prabuwijaya (1586-1587). Kesultanan Pajang berusia tidak lebih dari setengah abad dikarenakan adanya konflik-konflik politik di lingkup keluarga.
Keadaan ekonomi kesultanan Pajang yaitu menggunakan pertemuan aliran sungai Pepe dan Dengkeng dengan Bengawan Solo untuk digunakan sebagai irigasi pertanian. Keadaan sosial budaya di kerajaan Pajang sangatlah Islami, karna adanya tata tertib, sensitifitas, dan estetika Adat Budaya Jawa seperti yang dicontohkan Sunan Kalijaga.
Kerajaan Pajang runtuh saat Pangeran Banawa naik tahta sebagai raja Pajang ke-3 saat beliau menikahkan dengan Dyah Bonawati dengan Raden Mas Jolang dan melahirkan Raden Mas Rangsang (Sultan Agung). Banyak versi yang mengatakan Pangeran Banawa lari dari kerajaan Pajang untuk mengurus sesuatu. Sepeninggalan beliau, Raden Bagus dinobatkan sebagai adipati Pajang. Karena statusnya seorang kadipaten bawahan Mataram, maka riwayat kesultanan Pajang dianggap berakhir, dan hal ini belum bisa dikatakan bahwa Pajang mengalami kehancuran. Walaupaun kerajaan Pajang berakhir, kita masih bisa melihat peninggalan-peninggalan Kejaraan Pajang , seperti Masjid Laweyan, Bandar Kabanaran, dan Pasar Laweyan.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Sri Winata. Sejarah Islam di Tanah Jawa. Yogyakarta: Araska. 2017.
Arswendo Atmowiloto. Kitab Solo. (Surakarta : Pemerintah Kota Surakarta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,2009), dari Skripsi Dede Maulana. Peran Jaka Tingkir Dalam Merintis Kerajaan Pajang 1546-1586. UIN Syarif Hidayatullah: 2015.
Hermawati, dkk. Peninggalan Masa Islam Di Jawa Tengah Abad XV-XVIII M. Semarang: Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Prov. Jawa Tengah. 2007
Sudewa. Serat Panaitisastra : Tradisi, Resepsi dan Transformasi.(Yogjakarta : Disertasi Pascasarjana UGM, 1989), dari Skripsi Dede Maulana. Peran Jaka Tingkir Dalam Merintis Kerajaan Pajang 1546-1586. UIN Syarif Hidayatullah.2015.
http://dapurilmiah.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-kerajaan-demak-pajang-dan.html
https://pintasilmu.com/peninggalan-kerajaan-pajang-islam/
http://sejarahindonesiadahulu.blogspot.co.id/2017/03/sejarah-kerajaan-pajang-kehidupan.html
Makalah KERAJAAN BANTEN
KERAJAAN BANTEN
Makalah ini kami buat untuk memenuhi mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad-16
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.
NAMA KELOMPOK
Afrizal Mukhlisin (173231051)
Aviana Pramesti (173231052)
Hafizan Pramanda P (173231053)
Ainy Musthofiyah (173231057)
Nur Khasanah (173231073)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
SEJARAH PERADABAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur terhadap Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga kelompok kami dapat menyusun makalah Kerajaan Banten ini dengan tiada suatu masalah yang berarti. Dan semoga makalah ini dapat berguna bagi pembelajaran mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad-16.
Makalah ini disusun oleh mahasiswa yang tergabung dalam kelompok, untuk itu terimakasih atas kontribusinya dan kerja sama serta kekompakan dalam penyusunan makalah demi terpenuhinya tugas kami bersama.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dalam sejarah Kerajaan Banten. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Surakarta, April 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di ProvinsiBanten,Indonesia dan juga merupakan bagian dari kerajaan Sunda yang dikenal dengan Banten Girang.Sekitar tahun 1526 kedatangan pasukan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin putera Sunan Gunung Jati ke kawasan tersebut dengan tujuan untuk perluasan wilayah dan menyebarkan dakwah Islam. Maulana Hasanuddin mulai melakukan penaklukan dan membuat benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan dan menjadi pusat pemerintahan setelah Banten berhasil mendirikan kesultanan sendiri. Pada tahun 1527 Banten menjadi kerajaan yang penting dan dapat diperhitungkan di Nusantara karena Kerajaan Banten memiliki pengaruh yang besar terhadap perdagangan rempah-rempah dan menjadi pemasok rempah-rempah ke Negara Eropa seperti Inggris, Portugis, Belanda.
Fatahillah merupakan seorang perintis berdirinya Kesultanan Banten. Agar Banten berkembang dengan baik, maka Fatahillah berupaya memperluas kekuasaan dan wilayahnya ke berbagai daerah sekitar kekuasaannya. Setelah Banten berkembang dengan baik, Fatahillah kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya yang bernama Sultan Maulana Hasanudin untuk menjadi Kesultanan Banten yang pertama. Sultan Maulana Hasanudin berhasil mendirikan kerajaan Islam di Banten sehingga masyarakat Banten yang saat itu berada dibawah kepemimpinannya mulai memeluk agama Islam.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah awal Kerajaan Banten?
Bagaimana peran dan kedudukan ulama di Kesultanan Banten
Bagaimana masa kejayaan Kerajaan Banten?
Bagaimana proses kemunduran Kerajaan Banten?
TUJUAN PENULISAN
Mengetahui sejarah awal terbentuknya Kerajaan Banten
Mengetahui peran dan kedudukan ulama di Kesultanan Banten
Mengetahui masa kejayaan Kerajaan Banten
Mengetahui proses kemunduran Kerajaan Banten
BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Awal Kerajaan Banten
Sejak sebelum zaman islam, ketika masih berada dibawah kekuasaan raja-raja Sunda, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten, sebuah kota pelabuhan diujung barat pantai utara Jawa. Pada tahun 1525, Sunan Gunung jati dan Cirebon, meletak dasar bagi pengemban islam serta bagi perdagangan orang-orang islam disana.
Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Demak dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin, selain perluasan wilayah juga penyebaran dakwah islam, ia juga melakukan perluasan ke Lampung, selain itu dia juga melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabau.
Letak Banten berada didekat selat Sunda menjadikan kedudukan yang startegis. Selat Sunda menjadi pintu masuk utama ke Nusantara bagian Timur lewat pantai Barat Sumatra bagi pedagang-pedagang muslim. Dan kemudian bagi para pedagang Eropa yang datang dari arah ujung selatan Afrika dan Samudra Hindia. Masuknya pedagang-pedagang asing terutamma pedagang muslim yang datang ke Banten telah banyak mengakibatkan perubahan dalam pemerintahan. Maulana Hasanuddin telah berhasil berdakwahdari satu tempat ke daerah yang lain mulai dari Gunung Polusari, Gunung Karang, Gunung Aseupan sampai ke Pulau Panaitan Ujung Kulon.
Kerajaan Islam Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Setelah Sunan Gunungjati. Setelah Sunan Gunungjati menakhlukan Banten pada tahun 1525, ia kembali ke Cirebon, dan kekuasaannya diserahkan kepada anaknya yaitu Sultan Hasanuddin. Hasanuddin kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam meluaskan wilayah islam, yaitu ke Lampung. Hubungan perdagangan dari hasil bumi ini terus berlanjut dan berkembang. Pada akhirnya Sultan Hasanuddin mulai menyebarkan Agama Islam didaerah Lampung. Mulailah rakyat Banten bermigrasi kedaerah Lampung untuk mencari lahan dan sumber penghasilan untuk perkebunan dan penjualannya. Sejak masuknya Masyarakat Banten ke Lampung, banyak perkampungan orang Banten yang membentuk kampung-kampung sendiri dan membuat ladang di Lampung. Misalnya penduduk di Lampung yang mayoritas dari Banten yaitu warga gang damai kampung Baru Rajabaa Bandar Lampung. Pengaruh Banten di Lampung tidak hanya berdagang saja, melainkan dalam berbagai bidang itu semua dapat dilihat dari masuk dan berkembangnya Islam di Lampung, yang dibawa dan disebarkan oleh Kesultanan Banten, lebih lagi pada masa itu pemerintahan, kebudayaan dan perekonomian Banten jauh lebih maju daripada Lampung. Banten cukup banyak memberikan pengaruh kepada para ketua adat Lampung untuk melakukan perpindahan ke Banten. Semua itu merupakan tanda akan pengakuan masyarakat Lampung terhadap hubungan persahabatan dengan Banten dan sebagai tanda pengakuan masyarakat Banten terhadap Lampung, Sultan Banten memberikan piagam kepada pemimpin Lampung yaitu piagam yang ditulis diatas lempengan tembaga yang ditulis dengan huruf arab dan huruf Lampung serta mempergunakan bahasa jawa Banten.
Pada tahun 1568 M, ketika kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Sultan Hasanuddin memerdekakan Banten. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai raja Islam pertama dari Banten. Beliau memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). ia telah memberikan Andil besar dalam meletakkan pondasi Islam di Nusntara. Selain dengan mendirikan masjid dan pesantrenn tradisional, juga mengirim ulama ke berbagai daerah yang telah dikuasainya sebagai upaya penyebarluasan Islam untuk pembangunan mental spiritual Banten. Keberhasilannya membangun istana yang selanjutnya dinamai Surosuwan dan menjadi ibukota kerajaan Banten.
Ketika ia meninggal pada tahun 1570 M, kedudukan digantikan oleh putranya yaitu pangeran Yusuf. Pangeran Yusuf menakhlukkan Pakuan pada tahun 1579 M sehingga banyak para bangsawan Sunda yang masuk islam. Ia juga berhasil memperluas wilayah penyebaran Islam ke daerah Banten selatan, bahkan berhasil menduduki ibu kota Kerajaan Pajajaran-Sunda di Pakwan pada tahun 1580.
Setelah pangeran Yusuf meninggal pada tahun 1580 M, ia digantikan oleh putranya yaitu Maulana Muhammad yang masih muda. Maulana Muhammad bergelar Kanjeng Ratu Banten. Selama kekuasaan dipegang oleh Qadhi bersama empat pembesar istana lainnya. Maulana Muhammad meninggal pada tahun 1596 M dalam usia 25 tahun. Setelah itu kedudukannya digantikan oleh anaknya yang amsih kecil bernama Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir. ia memerintah secara resmi pada tahun 1638 M.
Pada masa Sultan Abdul Fatah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1659 M) terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dengan VOC karena Sultan Ageng Tirtayasa anti Belanda. Sikapnya yang anti Belanda itu mendapat dukungan dari seorang alim berpengaruh yaitu Syaikh Yusuf yang berasal dari Makasar. perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberika dukungan kepada Sultan Haji sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. sementara dalam memperkuat posisinya Sultan Haji mengirimkan 2 orang utusan untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan. Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah kekawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia. Dan VOC tetap mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada tanggal 14 Desember 1683 mereka berhasil menahan Syekh Yusuf, setelah itu berhasil menahan Purbaya.Kemudian Untung Surapati disuruh pleh kapten Johan Ruis untuk menjemput Pangeran Purbaya dan dalam perjalanan membawa pangeran Purbaya ke Batavia, namun mereka ketemu pada pasukan VOC. Puncaknya pada 28 Januari 1864, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC Sikap anti Belanda ini tidak disetujui oleh anaknya yaitu Abdul Kahar yang bergelar Sultan Haji, ia lebih suka bekerja sama dengan belanda.
Peran dan Kedudukan Ulama di Kesultanan Banten
Peran dan kedudukan kyai di Banten memiliki status yang dihormati oleh masyarakat. kehidupan masyarakat yang religius didasarkan kepada suatu kesakralan Tuhan, sehingga keamanan pun dipandang memiliki hubungan yang erat dengan kekuasaan di atasnya, menjadikan masyarakat Banten memiliki ikatan lebih erat terhadap tokoh agama dalam memandu kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat.
kyai Banten dibedakan menjadi kyai kitab dan kyai hikmah. kyai kitab adalah istilah yang ditunjukkan kepada kyai atau guru yang banyak mengajarkan ilmu-ilmu secara tekstual islam khususnya yang dikenal dengan kitab kuning. sedangkan kyai hikmah adalah kyai yang mempraktekan ilmu magis islam yakni wirid,zikr dan ratib.
peran keagamaan kyai Banten, sebagai berikut :
Guru Ngaji, peran awal yang dilakukan adalah membaca Al-Qur’an dengan ilmu tajwid. kemudian mengajarkan metode membaca Al-Qur’an dengan suara merdu dan lagu yangindah untuk para qari’ dan qari’ah.
Guru Kitab, santri yang sudah lancar membaca Al-Qur’an dilanjut dengan membaca kitab islam klasik yaitu kitab kuning. Ini merupakan tugas utama kyai pesantren terutama kalangan ulama fiqh yang bermazhab syafi’i.
Guru Tarekat, seorang kyai yang kharismatik. bimbingan seorang guru yang berasal dari arab bernama Syaikh Ibrahim bin Abu Bakar, yang dikenal sebagai Ki Ageng Karang.
Guru Ilmu Hikmah. para kyai yang menjadi mursyid suatu tarekat tidak hanya dikenal sebagai pemimpin atau guru tarekat, tapi juga sebagai guru ilmu hikmah.
Mubaligh, seorang kyai tidak hanya mengajarkan kitab klasik di pesantren, tapi juga melakukan ceramah agama dan khutbah kepada masyarakat dengan berkeliling. cara ini memberikan pengaruh besar meningkatkan kehidupan keagamaan rakyat Banten. kedudukan mereka tidak hanya sebagai orang yang dihormati tetapi juga sebagai orang yang berkuasa di Kesultanan Banten.
Puncak Kejayaan Kesultanan Banten
Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Abu Fath Abdul Fatah atau lebih di kenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Yang menjadi kerajaan Banten menjadi berjaya, pada saat itu Pelabuhan Banten menjadi pelabuhan internasional, sehingga perekonomian kesultanan menjadi maju pesat. Wilayah kekuasaan juga semakin luas meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut Kesultanan Mataram serta wilayah sekarang yang menjadi Lampung. Selain dari segi pelabuhan dan luasnya wilayah, kesultanan banten juga mengadakan hubungan dengan negara lain melalui jalur laut. Pengiriman pejabat ke berbagai negara sering kali dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
Sultan Ageng Tirtayasa sempat mengirimkan dua orang utusannya ke Inggris sebagai duta besar yang ditugasi juga membeli senjata, sementara itu Sultan juga menjaga hubungan baik dengan negara dan kota besar yang ada di Indonesia, seperti Aceh, Makasar, India, Mongol, Turki dan Arab. Para penguasa Banten pergi ke Arab untuk menunaikan haji dan ke Inggris untuk menunaikan tugas sebagai utusan, milik pedagang inggris. Sebagai sultan ke-6 Sultan Ageng Tirtayasa, tegas menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya. Beliau tidak pernah mempunyai keinginan untuk berkompromi dengan Belanda sejak tahun 1645 hubungan Banten dengan Belanda semakin panas.
Pada 1656 pasukan Banten bergerilya di sekitar Batavia. Setahun kemudia Belanda menawarkan perjanjian damai, namun perjanjian itu hanya menguntungkan pihak Belanda dan Sultan Ageng menolaknya kemudian tahun 1580 meletuslah perang besar antara Banten dan Belanda dan berakhir pada tanggal 10 Juli 1659 dengan ditandatangani perjanjian gencatan senjata. Pada tanggal 16 Februari 1671 diangkatlah putra mahkota oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Abdul Kohar dengan gelar Sunan Abu’n Nasr Abdul Kohar yang dikenal dengan nama Sultan Haji. Putera mahkota inilah yang menjadi jalan Belanda untuk mengadu domba antara Sultan Agung dan puteranya sendiri. Sultan Haji menginginkan untuk berdamai dengan Belanda dengan mengirimkan surat pada tahun 1680 dan menyatakan bahwa ia adalah penguasa Banten sepenuhnya dan bukan lagi Sultan Ageng Tirtayasa.
Pada tahun 26 Februari 1682, SultanAgeng Titayasa menyerbu Surosowan tempat Sultan Haji berkedudukan. Serangan tersebut berhasil namun Surosowan direbut oleh Belanda di bawah pimpinan Kapten Tack. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Sultan Haji. Setelah Sultan Hai meninggal terjadilah perebutan kekuasaan antara anak-anaknya dan pihak Belanda. Sejak saat itu terjadilah gonta-ganti sultan dan Kesultanan Banten mengalami kemunduran. Puncak kemunduran Kesultanan Banten diperintah ole Muhammad Syarifudin. Ia dipaksa turun tahta dan Kesultanan Banten dihapus oleh pemerintahan Inggris dan digantikan oleh Belanda di Banten dibawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Sejak itulah Kesultanan Banten dan hanya meninggalkan jejaknya.
Kemunduran kerajaan Banten
Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik di dalam istana. Sultan Ageng Tirtayasa yang berusaha menentang VOC, kurang disetujui oleh Sultan Haji sebagai raja muda. Keretakan di dalam istana ini dimanfaatkan VOC dengan politik devide et impera. VOC membantu Sultan Haji untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya kekuasaan VOC di Banten. Raja-raja yang berkuasa berikutnya, bukanlah raja-raja yang kuat. Hal ini membawa kemunduran kerajaan Banten. Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam kerajaan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sejak sebelum zaman islam, ketika masih berada dibawah kekuasaan raja-raja Sunda, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten, sebuah kota pelabuhan diujung barat pantai utara Jawa. Pada tahun 1525, Sunan Gunung jati dan Cirebon, meletak dasar bagi pengemban islam serta bagi perdagangan orang-orang islam disana. Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Demak dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin. Selain itu dia juga melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabau. Hasanuddin kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam meluaskan wilayah islam, yaitu ke Lampung. Pada tahun 1568 M, ketika kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Sultan Hasanuddin memerdekakan Banten. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai raja Islam pertama dari Banten. Beliau memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). Ketika ia meninggal pada tahun 1570 M, kedudukan digantikan oleh putranya yaitu pangeran Yusuf. Pangeran Yusuf menakhlukkan Pakuan pada tahun 1579 M sehingga banyak para bangsawan Sunda yang masuk islam
DAFTAR PUSTAKA
http://sumatera-utara.silaturahim.web.id/id3/1824-1710/Kesultanan-Banten_41793_sumatera-utara-silaturahim.html
http://eprints.uny.ac.id/21617/10/RINGKASAN.pdf
http://digilib.unila.ac.id/16287/100/BAB%20I.pdf
https://media.neliti.com/.../131857-ID-sejarah-masuknya-islam-dan-pendidikan-is.pdf
Amin,Samsul Munir.2010.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:AmzahYatim,Badri.2017.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sejarah Indonesia karangan Muhammad Nuh. Jakarta : kementerian dan Kebudayaan, 2014. Hal : 61-65
http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/29/me846i-inilah-puncak-kejayaan-kesultanan-banten
Makalah SEJARAH FILSAFAT ISLAM
SEJARAH FILSAFAT ISLAM
Makalah ini kami buat untuk memenuhi mata kuliah filsafat ilmu
Dosen Pengampu : Fuad Muh.Zein, M.UD.
NAMA KELOMPOK
Yaser Pratama (173231035)
Hesti Dwi Palupi (173231044)
Rita Purnamasari
Ainy Musthofiyah (173231057)
Wahyu Indra Widyasmoko (173231063)
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Sejarah Peradaban Islam
Institut Agama Islam Negeri Surakarta
Tahun Ajaran 2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Aqidah bagi setiap muslim merupakan salah satu aspek ajaran Islam yang wajib diyakini. Dalam Al qur’an, aqidah disebut al-iman (percaya) yang sering digandengkan dengan al-amal shalih (perbuatan baik). Tampaknya kedua unsur ini menggambarkan suatu integritas dalam ajaran islam. Dasar-dasar aqidah islam telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW melalui pewahyuan Al Qur’an dan kumpulan sabdanya untuk umat manusia. Generasi muslim awal binaan Rasulullah SAW telah meyakini dan menghayati aqidah ini meski belum diformulasikan sebagai ilmu lantaran rumusan tersebut belum diperlukan. Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memikirkan dengan logika tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafat. Dasar-dasar aqidah yang termaktub dalam Al Qur’an dianalisa dan dibahas lebih lanjut dengan filsafat untuk mendapatkan keyakinan yang kokoh. Pembahasan tentang filsafat, terutama tentang filsafat islam akan dibahas dalam makalah ini.
Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan filsafat Islam?
Apa yang melatarbelakangi munculnya filsafat Islam?
Apa saja karakteristik dari filsafat Islam?
Bagaimana Perkembangan Ilmu-Ilmu Keislaman Klasik?
Apa saja objek filsafat?
Apa saja isu-isu penting dalam filsafat Islam?
Tujuan
Mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat Islam.
Mengetahui apa yang melatarbelakangi munculya filsafat Islam.
Mengetahui apa karakteristik dari filsafat Islam.
Mengetahui perkembangan ilmu-ilmu keislaman klasik.
Mengetahui apa saja objek filsafat.
Mengetahui apa saja isu-isu penting dalam filsafat Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Filsafat
Secara etimologi, kata filsafat diambil dari perkataan Yunani : Philo (suka, cinta) dan shopia (kebijaksanaan). Jadi “philosopia” berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Jadi dalam penelitian ini, seorang yang ahli filsafat adalah orang yang dalam hidupnya sangat mencintai kebijaksanaan, kebenaran dan pengetahuan.
Kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam kehidupan manusia. Dengan kebijaksanaan orang akan bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi. Predikat “kebijaksanaan” sebagaimana arti diatas setidaknya dapat diperoleh jika orang harus melakukan hal-hal berikut : pertama, orang harus membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap kepercayaan dan sikap yang selama ini sangat kita junjung tinggi. Kedua, memadukan temuan sains dengan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam semesta dan isinya. Ketiga, mencermati jalan pemikiran para filsuf dan menempatkannya sebagai piasu analisis untuk memecahkan masalah kehidupan. Keempat, mempelajari butir-butir hikmah yang terkandung dalam ajaran agama.
Beberapa deinisi filsafat, yaitu :
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.
Filsafat adalah sebuah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
Filsafat berusaha memadukan temuan sains dengan pengalaman kemanusiaan
Usaha menafsirkan segala sesuatu berdasarkan akal pikiran dan seluruh alam semesta secara sistematis.
Selain definisi tersebut, ada juga menurut Plato yang mengartikan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yangg ada. Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, estetika. Pengertian filsafat yang umum yang digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba. Menurutnya, filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah, atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Filsuf adalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh dan mendalam. Filsafat merupakan hasil akal seseorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya.
Pengertian Filsafat Islam
Filsafat Islam merupakan gabungan dari dua kata yaitu filsafat dan islam. Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah, dan dengan menyerahkan diri kepada Allah maka akan memperoleh keselamatan dan kedamaian. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaittu philo dan sophia yang artinya cinta kebijaksanaan. Secara terminologi filsafat merupakan kontemplasi atau mempelajari pertanyaan penting mengenai eksistensi kehidupan yang berakhir dengan pencerahan. Jadi filsafat islam adalah berfikir secara bebas dan radikal namun tetap berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak, serta karakter yang menyelamatkan dan memberi kedamaian hati.
Filsafat Islam tidaklah semata-mata bersifat rasional yang hanya bersandar pada analisis logis terhadap suatu peristiwa, tetapi juga jejak spiritual untuk memasuki dimensi kegaiban. Rasionalitas filsafat Islam terletak pada kemampuannya menggunakan potensi berfikir secara bebas, radikal dan berrada pada tataran makna unuk menganalisis fakta empirik dari suatu kejadian dalam suatu bangunan sistem pengetahuan yang ilmiah. Sedangkan trandensinya terletak pada kesanggupan mendayagunakan kalbu dan intuisi imajinatif, untuk menembus dan menyatu dalam kebbenarran gaib secara langsung dan menjadi saksi kehadiran Allah dalam realitas kehidupan.
Latar Belakang Munculnya Filsafat Islam
Munculnya filsafat di dunia Islam dilatar belakangi oleh dua faktor yaitu pertama faktor eksternal. Ketika Alexsander datang ke Timur Tengah pada abad IV SM, ia tidak hanya datang membawa kaum militer untuk meluaskan daerah kekuasaannya keluar Mesodonia, tetapi juga membawa kaum sipil untuk menanamkan kebudayaan Yunani yang dibawanya dengan penduduk setempat. Dari situlah filsafat berkembang di Timur Tengah.
Penduduk yang kini berada dibawah kekuasaan Islam kemudian diperlakukan dengan cara yang baik. Mereka tidak melakukan pemaksaan dalam beragama, sehingga penduduk daerah tersebut tidak dipaksa para sahabat untuk masuk islam.
Diantara warga Non-Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan islam dan oleh karena itu ingin memajukan islam. Mereka menyerang agama islam dengan mengetengahkan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dai Yunani. Dari pihak umat islam sendiri timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen filosofis pula. Karena itu mereka mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani.
Kedua faktor internal. Menurut Olivier Leaman, Louis Gardet, C.A Qadir dan Al-Jabiri, pemikiran rasional yang tumbuh dan berkembang dalam dunia islam tidak semata-mata bersumber dari filsafat Yunani. Al-Qur’an dan Hadis juga mengandung ajaran-ajaran yang sangat menghormati kemampuan akal.
Penghormatan Islam terhadap fungsi akal didasarkan pada beberapa alasan : pertama, akal merupakan salah satu fakttor yang menjadikan manusia dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah terbaik. Kedua, dengan akalnya, manusia dapat mencapai peradaban dan kebudayaan yang sangat tinggi. Ketiga, dengan akal manusia juga dapat menjadi pengemban tugas sebagai khalufah dimuka bumi.. keempat, Allah sendiri memerintahkan manusia untuk menggunakan akal, termasuk dalam memahami al-qur’an.
Karakteristik Filsafat Islam
Identitas suatu filsafat tidak mungkin bisa dilandaskan pada kemurnian rasionalitas semata, sebab rasionalitas hanyalah syarat lazim bagi filsafat dan bukan syarat yang mencukupi.
Peran agama, keunikan budaya lokal, karakter bahasa dan perkembangan sains adalah beberapa faktor penentu yang dapat mempengaruhi bagaimana identitas filsafat diarahkan. Ada banyak faktor yang menentukan sehingga identitas filsafat dapat terwujud dalam ruang sejarah. Karena itu dalam sejarah muncul istilah filsafat Barat, filsafat Timur, filsafat Kristen, Filsafat Islam dan sebagainya. Adanya beragam ajektif tersebut akan menentukan bagaimana format dan arah filsafat tumbuh dan berkembang dalam buaiannya. Filsafat islam hanyalah perpanjangan dari filsafat Yunani.
Al-Kindi adalah poiner pertama filosof islam yang mencoba mendamaikan filsafat dengan agama. Farabi berusaha membuktikan bahwa filsafat dan agama adalah hakikat yang satu namun terjelma dalam dua berbahasa yang berbeda. Ibnu Sina dan filsof muslim lainnya yang berusaha dengan gigih untuk membuktikan wajibul-wujud melalui berbaggai versi burhan sidiqin-nya. Puncaknya pada Mula Shadra yang berusaha mengharmonisasikan burhan (filsafat), Qur’an (aama) dan irfan. Semua itu merupakan beberapa indikator utama akan nuansa keislaman pada filsafat sehingga kesan Yunani yang melatarinya telah luntur dengan ruh monoteisme (tauhid) yang ditiupkan para filsof muslim dalam karya-karya luhur filsafatnya.
Selain itu yang terpenting lainnya yang sarat akan nuansa islam seperti : mad jismani dan mad ruhani, khudusul-zati dunia (keterbaruan subtansial dunia), hakikat ruh manusia, pembuktian nubuwat merupakan beberapa topik kajian yang cukup membuktikan betapa Islam telah mampu mewarnai bangunan filsafat yang tumbuh dalam asuhannya, tanpa harus melunturkan kemurnian rasionalitas sebagai jati diri filsafat.
Perkembangan Ilmu-Ilmu Keislaman Klasik
Era klasik merupakan era penyusunan, pembentukan pemantapan dan pemapanan ajaran-ajaran doktrinal dan normatif setiap agama kharismatik. Dalam upaya, ulama yang diklaim sebagai pewaris yang memiliki peran yan sentral dan signiffikan. Pada perkembangan berikunya, jawaban dan respon ulama disusun dan diklarifikasikan sesuai denan bidang dan wilayah kajian dan ojek pemasalahan yang dihadapi sehinggga melahirkan klarifikasi ilmu-ilmu keislaman kedalam tiga medan episimologi : teologi, tasawuf, dan hukum.
Dalam batas ini, epistimologi pemikir Islam yang ketat sudah mulai dikenal dan dalam batas-batas ini pula terdapat suatu konsep yang menjadi landasan intelekual dalam studi berbagai disiplin ilmu. Dalam masing-masing disiplin ini dan dapat menemukan istilah sama: baik-buruk (hasan-qabih), benar-betul ( mustaqim-sahih), status (manzilah), diperkenankan (jaizz), analogi (qiyas), sebab (illah), bukti (hujjah), argumen (dalil), definisi (had) dan lain-lain.
Pada dasanya sistem kognitif mendasari ilmu keislaman yang merupakan pengembangan dari fenomena sekterianisme yang tumbuh pada awal perkembangan islam. Lahirrnya fenomena sekterianisme sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor polittik yakni peristiwa terbunuhnya usman. Dan berpengaruh mewarnai kekuasaan dinasti Umayyah dan awal kekuasaan Abbasiyah.
Obyek Filsafat
Fase pertama dari pengenalan (pengetahuan) adalah pengenalan inderawi. Pada penggenalan ini, indera mencata semua persoalan menurut urutan yang datang pada indera dengan bentuk, warna, besar, letak dan sebagainya. Orang yang berpengalaman adalah orang yang mengetahui bahwa kesamaan dan korelasi tersebut mempunyai sebab yang tetap yaitu subtansi. Jika manusia melihat awan yang menebal maka ia menanti hujan. Jika seseorang dilingkungannya sakit, maka ia tidak ragu untuk memberikan resep jamu ramuan sebagai hasil kegunannya dimasa yang lalu. Hubungan tersebut baru diketahui ketika subtansi sesuatu yaitu sistematika dan ciri khasnya.
Kemudian pembahasan obyek baru lagi yaitu pengetahuan (pengenal) itu sendiri, cara dan syarat kebenaran atau kesalahan. Dari sinilah maka lahirlah ilmu logika (mantiq) yang tidak sama dengan ilmu positif lainnya.
Kemudian kita melihat pada akhlak. Akhlak berbeda dengan ilmu sosiologi yang lebih menekankan pada pengertian tentang gejala kemasyarakatan dan hubungan-hubungan tanpa meneliti apa yang seharusnya terjadi. Sumber akhlak berasal dari Al-Qur’an dan hadis serta hasil pemikiran hukama dan filosof. Ruang lingkup akhlak meliputi akhlak terhadap Khaliq dan akhlaq terhadap makhluk.
Isu-Isu Penting dalam Filsafat Islam
Keesaan Tuhan ( Tauhid)
Pemikiran islam lahir teologi rasional dipelopori oleh kaum Mu’tazilah. Menurut sudut pandang teologi rasional, kedudukan akal menempati posisi yang tinggi sehingga ketika menafsirkan wahyu mereka tidak mau tunduk kepada arti harrfiah dan mengambil arti majazinya. Mereka meninggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. bagi Mu’tazilah akal menunjukkan kekuatan manusia. Teologi rrasional Mu’tazilah ini selanjutnya melahirkan perkembangan intelektual islam, khususnya fallsafat.
Filsof besar yaitu Al-Kindi mengatakan bahwa antara falsafat dan agama taka ada pertentangan. Filsafat membahas tentang yang benar seperti halnya agama juga menjelaskan yang benar. Jadi kedua nya membahas kebenaran. Dalam pemikiran filsafat kalau ada yang benar pasti ada yang benar pertama( al-haqq al-awwal) , menurut Al-Kindi yang benar pertama adalah Tuhan.
Dengan itu Al-Kindi berusaha memurnikan keesaan Tuhan. Bagi Al-Kindi kebenaran mengandung arti kesesuaian antara aapa yang ada didalam akal dengan apa yang ada diluarnya atau kesesuaian antara konsep yang tertuang dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada diluar akal.
Dalam Pemikiran Al-Farrabi, kalau Tuhan pencipta alam semesta berhubungan langsung dengan ciptaan-Nya yang tak terhitung jumlahnya berarti dalam diri Tuhan terdapat arti banyaak. Bagi Al-Farabi, Tuhan Yang Maha Esa agar menjadi Esa harus berhubungan dengan yang Esa. Jadi Yang Maha Esa menciptakan yang esa. Dalam akal I pemikiran tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan langit pertama. Akal II juga mempunyai obyek yaitu dirinya sendiri. Pemikirannya tentang tuhan menghasilkan akal III dan menghasilkan bintang. Begitulah akal dan menghasilkan akal dan berfikir tentang dirinya sendiri dan meghasilkan planet-planet.
Tema lain yang berhubungan dengan filsafat adalah penciptaan alams semestaa. Dalam pandangan filsafat, alam semesta diciptakan bukan dari tiada atau nihil, tetapi dari materi asal yaitu api, udara, air dan tanah. Maka materi asal timbul bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan dari pemikiran Tuhan.
Karena Tuhan berfikir semenjak zaman qadim (zaman tak bermula), maka akal I,II,III dan seterusnya serta materi asal yaitu api , udara, air, dan tanah juga bersifat qadim.
Jiwa Manusia
Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia terbagi dalam tiga hal yaitu pertama, jiwa dan tumbuhan yang mempunyai daya makan, tumbuh dan bergerak biak. Kedua, jiwa binatang yang mempunyai daya gerak, pindah dari tempat ke tempat dan daya menangkap dengan panca indera, baik berupa indera luar atau indera dalam. Ketiga, jiwa manusia yan mempunyai daya akal unuk berfikir yaiu akal,akal menjadi “akal praktis” yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang, dan “akal teoritis” yang menangkap arti-arti murni yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, Roh dan Malaikat. akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedangkan akal teoritis lebih kepada metafisik.
Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana yang berpengaruh pada dirinya. manusia yang dipengaruhi jiwa binatang, maka sifat orang itu akan menyerupai binatang, begitu juga sebaliknya orang yang dipengaruhi jiwa manusia akan lebih menyerupai malaikat. setelah tubuh manusia mati, jiwa yang akan tinggal menghadapi perhitungan dihadapan Tuhan adalah jiwa manusia. sementara itu jiwa tumbuhan dan jiwa binatang akan lentap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah, sebab kedua jiwa ini hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. berbeda dengan dua jiwa diatas, jiwa manusia bersifat abstrak dan rohani. karena itu balasan yang diterimanya bukan didunia namun diakhirat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Filsafat merupakan suatu hal yang dipelajari untuk memperoleh suatu kebenaran. Dasar-dasar aqidah yang termaktub dalam Al Qur’an juga dianalisa dan dibahas lebih lanjut dengan filsafat untuk mendapatkan keyakinan yang kokoh. Ajaran filsafat berdasar akal fikiran manusia, sedangkan agama berdasarkan wahyu. Meskipun jalan yang ditempuh agama dan filsafat berbeda, namun tujannya sama yaitu mendapat kebenaran yang hakiki. Ilmu filsafat juga mempelajari hakikat kebenaran suatu ilmu dan berdasarkan pada ajaran dan nilai-nilai agama islam disebut sebagai ilmu filsafat islam. Meskipun diadaptasi dari nilai-bilai budaya barat atau Yunani, ilmu filsafat islam tetap memiliki kaidah tersendiri. Hal yang biasanya dipikirkan atau dibahas dalam filsafat islam adalah mengenai ketauhidan atau ketuhanan, kerasulan, kitab, hubungan manusia dan sesamanya, lingkungan dan juga ,mencakup ilmu tasawuf atau kebatinan.
Peran agama, keunikan budaya lokal, karakter bahasa dan perkembangan sains adalah beberapa faktor penentu yang dapat mempengaruhi bagaimana identitas filsafat diarahkan. Filsafat Islam berlandaskan Qur’an Hadits dan Keimanan, sementara filsafat Yunani mengandalkan rasio semata. Dalam sejarah perkembangan filsafat Islam, filosof pertama yang lahir dalam dunia Islam adalah al-Kindi (796-873 M). Filosof besar kedua dalam sejarah perkembangan filsafat Islam ialah al-Farabi (872-950 M). Dia banyak menulis buku-buku tentang logika, etika, ilmu jiwa dan sebagainya. Selanjutnya, filosof setelah al-Farabi adalah Ibnu Sina (980-1037 M). Filosof selanjutnya adalah Ibnu Miskawaih ( 1030 M) dan lain sebagainya. Qur’an dan Hadits menjadi sumber inspirasi bagi para filosuf Islam dalam mengembangkan kajiannya.
Saran
Makalah ini merupakan gerbang awal untuk memotivasi kita agar selalu rajin membaca khususnya tentang Filsafat Islam. Makalah ini tentunya banyak sekali kekurangan dan literature atau buku sumber yang kami kutif dalam makalah ini belumlah cukup untuk mencapai kesempurnaan Oleh karena itu kami meminta kritik dan saran dari pembaca pada umumnya dan khususnya kepada dosen pengampu dan rekan-rekan.
Daftar Pustaka
Supena,Ilyas.2013.Filsafat Islam.Yogyakata: Penerbit Ombak
Maftukhin.2012.Filsafat Islam.Yogyakarta: Teras
Zaprulkhan.2014.Filsafat Islam.Jakarta: PT Grafindo Persada
Makalah KERAJAAN CIREBON
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Perjalanan sejarah Cirebon mulai dari sebuah daerah kecil hingga menjadi wilayah kesultanan yang memiliki otoritas tidak lepas kaitannya dengan kerajaan Padjajaran saat itu. Hal ini juga menjadi menarik mengingat kerajaan Islam di Cirebon dengan pemimpin pertama adalah Syarif Hidayatullah yang merupakan seorang wali sembilan sekaligus sebagai seorang raja.
Posisi Syarif Hidayatullah yang kemudian akan dikenal sebagai Sunan Gunung Djati yang menempati peran ganda, yakni sebagai wali atau ulama sekaligus sebagai raja yang memimpin rakyatnya pada saat itu menjadi menarik untuk dikaji. Bagaimanakah beliau memainkan kedua peran itu, strategi dakwah apa digunakan dimana seseorang duduk sebagai raja sekaligus sebagai wali. Peran yang seperti itu jarang dialami oleh wali yang sembilan lainnya. Selain itu Sunan Gunung Djati juga termasuk wali yang wilayah dakwahnya cukup luas mencakup luar wilayah Cirebon hingga Banten yang kerajaanya berdiri tidak lepas dari campur tangan seorang Syarif Hidayatullah.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah berdirinya Kesultanan Cirebon?
Bagaimana Proses penyebaran Islam di Kesultanan Cirebon?
Bagaimana kehidupan politik, masyarakat dan masa kejayaan Kesultanan Cirebon?
Bagaimana sejarah keruntuhan Kesultanan Cirebon?
Apa saja yang termasuk peninggalan Kesultanan Cirebon?
TUJUAN
Mengetahui sejarah berdirinya Kesultanan Cirebon.
Mengetahui proses penyebaran Islam di Kesultanan Cirebon.
Mengetahui kehidupan politik, masyarakat dan masa kejayaan Kesultanan Cirebon.
Mengetahui sejarah keruntuhan Kesultanan Cirebon.
Mengetahui benda-benda yang termasuk peninggalan Kesultanan Cirebon.
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH BERDIRINYA KESULTANAN CIREBON
Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Berdirinya Kesultanan Cirebon tidak bisa dilepaskan dari empat proses yang berurutan empat proses itu adalah sebagai berikut :
Cirebon sebagai sebuah desa didirikan oleh Ki Danu Sela atau Ki Gedeng Alang-Alang pada sekitar tahun 1420-1430 Masehi.
Cirebon sebagai Keadipatian dibawah kekuasaan Pajajaran didirikan oleh Walangsungsang (Cakrabuana) pada sekitar 1460 Masehi.
Cirebon sebagai Kerajaan Islam yang merdeka dari Pajajaran didirikan oleh Cakrabuana dan keponakannya, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), pada tahun 1482 Masehi.
Sesuai dengan timeline perjalanan Sejarah Kabupaten Cirebon dikatakan bahwa Cirebon memisahkan diri dari Pajajaran terjadi pada Tahun 1482 Masehi dengan waktu titi mangsa Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi.
Pemproklamiran Cirebon sebagai Negara merdeka, didukung oleh Kesultanan Demak dan para Tumenggung dan Adipati pesisir utara Jawa yang sudah menerima Islam. Sementara itu Gelar yang disematkan kepada Syarif Hidayataullah selaku Raja Cirebon adalah Kanjeng Sinuhun Jati.
Selain memproklamirkan diri menjadi sebuah Kerajaan Islam yang merdeka dari Pajajaran, Cirebon juga kemudian meneguhkanya dengan perbuatan, dibuktikan mulai setelah itu kemudian Cirebon memutuskan untuk tidak lagi mengirimkan pajak tahunan berupa garam dan terasi ke Pajajaran.
Pemproklamiran kemerdekaan Cirebon dan penghentian pengiriman pajak yang dilakukan Cirebon ini kemudian membuat marah Pajajaran, dengan segera Pajajaran mengirimkan 100 prajurit pilih tanding yang dilengkapi Bedhil guna memberi pelajaran pada Cirebon, penyerangan tersebut dipimpin oleh Patih Jagabaya. Namun demikian, penyerangan tersebut kemudian dapat dipatahkan Cirebon, seluruh tentara dan bahkan Patihnya kemudian justru membelot dan masuk Islam.
Peristiwa pemproklamiran kemerdekaan Cirebon dari Pajajaran serta penyerangan yang dilakukan oleh Pajajaran tercatat dalam Naskah Mertasinga, meskipun tidak secara spesifik menjelaskan latar belakangnya. Selain hal tersebut juga dikatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi ketika Prabu Siliwangi selaku Kakek Syarif Hidayatullah masih hidup. Tidak berselang lama, setelah peristiwa tersebut kemudian Prabu Siliwangi meninggal dunia. Inilah yang menjadi sebab kemudian antara Pajajaran dan Cirebon selanjutnya menjadi tegang dan berlawanan melihat sang Prabu selaku penengah sudah wafat.
Cirebon mulai mengalami kehancuran ketika Cirebon dibagi menjadi 3 Kesultanan, Yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Kerato Kacirebonan. Sehingga kerajaan Cirebon menjadi terpecah-pecah. Disamping itu adanya perebutan kekuasaan sepeninggal Panembahan Gerilya pada tahun 1702. Adanya campur tangan VOC dalam kerajaan yang mengadu domba mereka juga menjadi penyebab hancurnya Kesultanan Cirebon.
PROSES PENYEBARAN ISLAM DI KESULTANAN CIREBON
Sebelum Cirebon melepaskan diri dari Padjajaran, Cirebon yang saat itu dipimpin Oleh Walangsungsang merupakan seorang muslim yang taat maka aturan-aturan dalam wilayah kekuasaannyapun kemudian mengikuti agama pemimpinnya, inilah sebab kemudian Cirebon menjelma menjadi keadipatian Islam pertama sekaligus menjadi pusat Dakwah Islam di Pasundan.
Peran dari Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah dalam penyebaran Islam di Cirebon dimulai ketika beliau pulang dari Arab Saudi ke Pulau Jawa dan menemui pamannya, Raden Walasungsang atau Cakrabuana yang saat itu menjabat sebagai adipati cirebon. Cara dakwah dari beliau juga bisa dibilang unik, kerena beliau memerankan peran ganda, yakni sebagai seorang ulama atau waliyullah yang mendapat gelar Sayidin Panatagama atau dalam Tradisi Jawa dianggap sebagai wakil Tuhan di dunia, serta memerankan peran sebagai seorang raja yang memimpin setelah Walasungsang meninggal. Ia menggantikan pamannya hingga mampu melepaskan diri dari pengaruh Padjajaran.
Setelah meninggalnya Walasungsang, yang menggantikan untuk penyebaran Islam di daerah Cirebon tentu adalah Syarif Hidayatullah. Setelah berhasil mengislamkan masyarakat Cirebon, beliau memperluas daerah penyebaran Islam hingga Majalengka, Kuningan, Kawali, Sunda Kelapa, dan Banten. Sampai akhirnya pada tahun 1525, Sunan Gunung Djati berhasil menjadikan Banten sebagai Banten sebagai kerajaan Islam di Jawa Barat. Beliau lalu kembali ke Cirebon, dan menyerahkan Bnaten kepada puntranya yang bernama Sultan Maulana Hasanuddin yang dikemudian hari akan melahirkan raja-raja Banten.
Jalan dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Djati ini terbilang cukup lama atau perlahan karena tidak memaksakkan kehendak, tidak melakukan kekerasan, beliau murni menyebarkan Islam sebagai Ulama, serta menjadi seorang raja yang menumpas ketamakan. Sosk pemimpin yang seperti itulah yang selama itu ditunggu oleh rakyat Cirebon, sehingga tidak heran pula bahwa masa kejayaan Cirebon juga terjadi di masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati.
Hubungan Cirebon dengan Negeri-negeri Islam di Nusantara terjalin baik berkat Syarif Hidayatullah seperti hubungan dengan Demak, Campa, Malaka dan Pasai. Hubungan Cirebon dengan Pusat Kerajaan Pajajaran kemudian menjadi buruk setelah peristiwa perjanjian Pajajaran dan Portugis pada Tanggal 21 Agustus 1522 Masehi.
KEHIDUPAN POLITIK, MASYARAKAT, DAN MASA KEJAYAAN
Cirebon menjadi pusat perdagangan karena letaknya di daerah pesisir utara pulau Jawa. Perdagangan ini melalui 2 jalur yaitu jalur darat dan jalur laut. Pedagang dari luar negara yang mendukung perekonomian di Cirebon adalah Cina dengan barang dagangannya yaitu sutra dan keramik. Masyarakat Cirebon dibedakan berdasarkan status sosialnya yang dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu golongan Raja, golongan Elite, golongan Nonelite, dan golongan Budak. Mereka mempunyai kedudukan didalam lingkungan kerajaan.
Masa Kejayaan atau Kememasan Cirebon sebagai Sebuah Kerajaan berdaulat dimulai sejak diangkatnya Syarif Hidayatullah sebagai Sultan Cirebon I sampai dengan berakhirnya pemerintahan Sultan Cirebon ke II yaitu Pangeran Agung atau Panembahan Ratu yakni dari mulai tahun 1479-1649 Masehi. Masa Syarif Hidayatullah, Cirebon banyak melakukan gebrakan-gebrakan politik dengan menjalin persahabatan dengan kesultanan-kesultanan di Nusantara terutamanya dengan Demak.
Pada Masa kepemimpinan Syarif Hidatullah, Ia memberlakukan pajak yang jumlah, jenis, dan besarnya disederhanakan sehingga tidak memberatkan rakyat yang baru terlepas dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran. Dalam posisinya sebagai Raja ini pula, pengembangan agama Islam melalui dakwah lebih diprioritaskan dengan menyediakan sarana ibadat keagamaan dengan mempelopori pembangunan Masjid Agung, dan masjid-masjid Jami’ di wilayah bawahnya.
Masa kejayaan selama kepemimpinan Syarif Hidayatullah juga ditandai dengan melakukan pembangunan besar-besaran, seperti Pembangunan Istana, Masjid Agung serta insfrastruktur lainnya, pada awal-awal menjadi Sultan Cirebon, urusan administrasi Pemerintahan sepertinya masih dipegang oleh uwaknya Pangeran Cakrabuana, sedangkan Syarif Hidayatullah sendiri aktif dalam mendakwahkan Islam dipelosok-pelosok Pasundan. Barulah setelah uwaknya wafat kemudian Syarif Hidayatullah mengurusi keduanya.
Dalam masa Syarif Hidayatullah juga Cirebon tercatat dapat menaklukan Galuh (Pajajaran Timur) dengan dibantu oleh Demak. Sementara itu Cirebon juga kemudian berhasil menaklukan Pajajaran Barat (Pakwan) melalui Kesultanan Banten yang juga pendiriannya digagas oleh Syarif Hidayatullah. Pada masa ini juga Cirebon berhasil mengislamkan negeri-negeri bawahan Pajajaran, seperti Sindangkasih, Singaphura, Surantaka, Indramayu, Talaga, dan masih banyak yang lainnya.
Pada masa Syarif Hidayatullah memerintah sebenarnya ada dua Pangeran yang digadang-gadang menggantikan jabatan beliau sebagai sultan, yaitu Pangeran Pasarean dan Pangeran Carbon atau Pangeran Sedang Kemuning (1495-1552) akan tetapi keduanya wafat sebelum dinobatkan menjadi Sultan.
Dalam masa tuanya Syarif Hidayatullah banyak menghabiskan waktu untuk mengajar Agama di Pesantrennya yang berada di Gunung Jati, dalam masa ini urusan pemerintahan kemudian diserahkan kepada Fatahillah atau Fadilah Khan yang merupakan menantunya sendiri.
Pada tahun 1568 Masehi Syarif Hidayatullah wafat dalam usia yang sangat sepuh, dan setelah kewafatan Sultan Cirebon I ini kemudian, pada Tahun yang sama diangkatlah Pangeran Agung yang bergelar Panembahan Ratu menjadi Sultan Cirebon ke II, Panembahan Ratu tersebut merupakan Cicit dari Syarif Hidayatullah, yang merupakan anak Pangeran Sedang Kemuning Bin Pangeran Pasarean Bin Syarif Hidayatullah.
Pada masa Panembahan Ratu memerintah, terjadi beberapa pemberontakan, diantaranya pemberontakan Arya Kuningan, Pemberontakan Datuk Pardun Murid Syekh Siti Jenar Menuntut Balas atas Kematian Gurunya yang di hukum mati di Cirebon dan pada masa ini juga terjadi peristiwa terbakarnya Masjid Kasultanan Cirebon, namun masalah tersebut dapat ditangani oleh Sultan. Panembahan Ratu berkuasa dan menjadi Sultan Cirebon dari mulai tahun 1568-1649 Masehi.
Dalam tahun 1649 Masehi Panembahan Ratu Wafat, sementara itu ternyata sebelumnya Pangeran yang digadang-gadang menggantikan beliau yaitu Pangeran Sedang Gayam (Pangeran Dipati Anom Carbon II) ternyata wafat sebelum dinobatkan, dengan demikian selanjutnya yang menjadi Sultan Cirebon ke III yaitu Pangeran Putra dengan Gelar Panembahan Girilaya yang merupakan anak Pangeran Sedang Gayam. Pangeran Sedang Gayam memerintah dari mulai Tahun 1649-1662 Masehi. Pada masa Panembahan Girilaya inilah awal mula benih-benih kemunduran Kerajaan Cirebon muncul kepermukaan.
KERUNTUHAN KESULTANAN CIREBON
Benih-benih kemuduran Kerajaan Cirebon dimulai pada Tahun 1649-1662 Masehi ketika Cirebon dipimpin oleh Panembahan Girilaya, sebab-sebab kemunduran Cirebon ini ditenggarai karena bangkitnya tiga kekuatan Politik besar di pulau Jawa yaitu Kesultanan Mataram yang terletak di Timur Cirebon, dan VOC Belanda serta Kesultanan Banten yang terletak di Barat Cirebon.
Mataram, Banten dan VOC dalam tahun itu menggenjot ekonominya untuk membiyayai Militer besar-besaran, sementara Cirebon sendiri cenderung fakum dalam memperbesar kekuatan ekonomi dan militernya, hal ini wajar sebab Cirebon memang dalam waktu itu lebih banyak melakukan dakwah-dakwah Islam ke Pelosok Pasundan.
Pada Tahun 1649 Sampai dengan 1662 terjadi gesekan kepentingan di Cirebon, Mataram pada waktu itu menginginkan Cirebon tetap dibawah kendalinya, pun Juga dengan Banten merasa perlu menarik Cirebon untuk bergabung dengan Banten agar membangkang dari Mataram, Dalam Istana Cirebon terpecah menjadi dua kubu, ada yang condong ke Mataram dan adapula yang Condong ke Banten.
Puncaknya, pada tahun 1660-1661 Ketika Panembahan Girilaya berkunjung ke Mataram untuk seba ke Sultan Mataram yang sekaligus juga sebagai mertuanya, dimana dalam kunjungannya itu Sultan Mataram Menekan Cirebon Agar tegas menolak Banten dan tetap berada dibawah Mataram, namun demikian ternyata kemudian Panembahan Girilaya menolaknya hingga kemudian atas peristiwa penolakan tersebut Panembahan Girilaya ditawanan Kesultanan Mataram, dan tidak boleh pulang ke Cirebon hingga kewafataanya pada tahun 1662.
Setelah Kewafatan Panembahan Girilaya, terjadi kegoncangan di Cirebon, di Cirebon selama 16 tahun setelah kewafatan Sultan Cirebon ke III tersebut tidak mempunyai Seorang Sultan, Urusan Pemerintahan dipegang oleh Pejabat Pengganti Sultan yang pada waktu itu terpecah menjadi dua Kubu, Kubu Pro Mataram dan Banten.
Menghadapai hal tersebut Kubu Pro Mataram kemudian melantik Pangeran Merta Wijaya (Sultan Sepuh Raja Syamsudin) menjadi Sultan Cirebon atas restu Mataram dan Pernyataan Setia kepada Mataram, pelantikan tersebut kemudian ternyata memperparah perseteruan didalam Istana, karena kubu pro Banten tidak menerimanya.
Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Pangeran Wangsakerta yang bertanggung jawab atas pemerintahan di Cirebon selama ayahnya tidak berada di tempat,khawatir atas nasib kedua kakaknya. Kemudian ia pergi ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Ageng Tirtayasa (anak dari Pangeran Abu Maali yang tewas dalam Perang Pagarage), beliau mengiyakan permohonan tersebut karena melihat peluang untuk memperbaiki hubungan diplomatic Banten-Cirebon. Dengan bantuan Pemberontak Trunojoyo yang disupport oleh Sultan Ageng Tirtayasa, kedua Pangeran tersebut berhasil diselamatkan.
Namun rupanya, Sultan Ageng Tirtayasa melihat ada keuntungan lain dari bantuannya pada kerabatnya di Cirebon itu, maka ia mengangkat kedua Pangeran yang ia selamatkan sebagai Sultan, Pangeran Mertawijaya sebagai Sultan Kasepuhan & Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Kanoman, sedangkan Pangeran Wangsakerta yang telah bekerja keras selama 10 tahun lebih hanya diberi jabatan kecil, taktik pecah belah ini dilakukan untuk mencegah agar Cirebon tidak beraliansi lagi dengan Mataram.
Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi kerajaan Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya.
Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
a. Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
b. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
c. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.
Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).
Sesudah kejadian tersebut, pemerintah kolonial belanda pun semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga peranan istana-istana kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya semakin surut. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, ketika kekuasaan pemerintahan kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon.
PENINGGALAN-PENINGGALAN KESULTANAN CIREBON
Kesultanan Cirebon merupakan salah satu kerajaan islam yang pernah jaya di Indonesia, sebagai salah stau kerajaan islam Kesultanan Cirebon memiliki beberapa peninggalan diantaranya :
Istana
Di Kessultanan Cirebon terdapat empat istana termasuk pecahanya, diantaranya yaitu :
Istana Pakungwati/Istana Kasepuhan
Istana ini merupakan istana awal Kesultanan Cirebon yang di bangun pada tahun 1482 M. Istana ini dikenal dengan Istana Kasepuhan tetapi juga di kenal dengan Istana Pakungwati, dimana Pakungwati merupakan nama istri Syarif Hidayatullah ( Raja Pertama Kesultanan Cirebon ).
Istana Kasepuhan dibangun oleh Aristek Majapahit yang bernama Raden Sepat maka tidaklah mengeharankan jika Istana ini bentuknya sama précis dengan struktur model Istana Majapahit, total kelseuruhan Istana Kasepuhan ini terbilang luas yaitu sekitar 20 hektar, didalam Istana ini terdapat tempat tinggal Raja, Pintu Gerbang atau Gapura, tempat tunggu tamu kerajaan (Siti Hinggil), sampai pada hutan dalam dalam Istana, untuk pengamanan istana ini dibangun pula tembok tinggi yang mengeliling Istana, diperkirakan tembok yang mengelilingi Istana Cirebon ini pada mulanya memiliki tinggi 10-15 meter.
Istana Kanoman
Istana Kanoman adalah Istana kedua yang ada di Cirebon, Istana ini dibangun pada tahun 1678, pembangunan Istana ini diakibatkan oleh perpecahan kerajaan Cirebon, sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 1677-1678 Kerajaan Cirebon terpecah menjadi dua kerajaan, Kerajaan Induk dengan waris istana lama (Istana Pakung Wati), sementara kerajaan Cirebon yang baru kemudian membuat istana sendiri, istana baru itulah kemudian yang belakangan dikenal dengan sebutan Istana atau Keraton Kanoman. Luas Istana ini kurang lebih 6 Hektar. Didalamnya terdapat tempat tinggal Raja, Pintu dan Pintu Gerbang Kerajaan. Gaya bangunan keratin ini mengikuti perpaduan gaya bangunan Jawa dan Eropa, dengan ciri khas tembok batu bercat putih, selain itu ada juga sedikit unsure pernak-pernik Cinanya.
Istana Keprabonan
Istana Keprabonan adalah Istana ke III yang berada di Cirebon, dibangun pada tahun 1696, dibangun oleh Putera Mahkota Sultan Kanoman I, ia menyerahan tahta kerajaan ke adiknya, karena ia lebih suka untuk memperdalam agama dan menjadi pemuka agama, beliau kemudian membangun sebuah isatana yang dikenal dengan Istana Keprabonan, Istana ini adalah istana yang paling kecil dari Istana-istana yangt ada di Kerajaan Cirebon, karena memang istana ini pada mulanya didedikasikan sebagai tempat belajar keagamaan.
Istana Kacirebonan
Istana Kacirbonan adalah istana ke tiga warisan Kerajaan Cirebon, Istana ini dibangun pada tahun 1800, pembangunan Istana ini disebabkan oleh terpecahnya Kerajaan Cirebon yang semula dua kerajaan (Kasepuhan dan Kanoman) menjadi tiga kerajaan, Kerajaan Cirebon yang didirikan tahun 1800 itu dinamakan Kerajaan Kacirebonan, maka Istananyapun kemudian disebut juga dengan Istana Kacirebonan. Istana ini secara keseluruhan memiliki luas 46.500 meter persegi, didalamnya terdapat tempat tinggal raja, mushala dan pintu gerbang.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah Masjid Kerajaan Cirebon yang didirkan pada tahun 1482 hampir bersamaan dengan pendirian Istana Pakungwati, arsiteknya Sunan Kalijaga dan Raden Sepat dari Majapahit, Dizamannya Masjid ini merupakan Masjid terbesar dipulau Jawa, mengalahkan Masjid Agung Demak. Karena masjid ini diarsiteki oleh Sunan Kalijaga maka model arsitekturnya tidak terlampau jauh dengan Masjid Agung Demak, hanya saja masjid ini tidak memiliki kubah kerucut sebagamana lazimnya Masjid-masjid di Jawa yang diarsiteki Sunan Kalijaga.
Masjid Merah Panjunan
Masjid Panjunan adalah Masjid terawal sebelum didirikannya Masjid Agung Sang Ciptarasa, Masjid ini didirikan oleh Syarif Abdurahman transmigran dari Irak (Bagdad) yang kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati, Masjid ini didirikan dengan menggunakan Arsitektur lokal, bangunannya menyerupai bangunan Istana maupun Masjid Agung Kesultanan Cirebon
Pelabuhan
Sebagai sebuah Kerajaan Pesisir sudah barang tentu Kerajaan Cirebon memiliki pelabuhan Kerajaan, Pelabuhan Kerajaaan Cirebon bernama pelabuhan Muara Jati, pelabuhan ini sebenarnya telah ada sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Kondisi pelabuhan Muara Jati sekarang sudah berubah dari bangunan asalnya, mengingat pelabuhan ini hingga sekarang masih berfungsi sebagai pelabuhan di Cirebon.
Taman
Pada tahun 1690-1703 Pangeran Arya Carbon berhasil mendirikan suatu taman air, yang dikelilingi hutan rindang, taman ini merupakan taman kerajaan terbesar dijamanya di Indonesia, taman ini juga nantinya yang menjadi inspirasi Kesultanan Yogyakarta untuk membuat tamansari.
Naskah
Ada beberapa Naskah peninggalan Kerajaan Cirebon, jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan, akan tetapi naskah-naskah Cirebon yang paling terkenal dan sudah menjadi referensi para sejarawan Cirebon adalah adalah sebagai berikut:
Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Naskah Wangsakerta, dan Naskah Mertasinga
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Proses berdirinya Kesultanan Cirebon tidak bisa lepas dari tiga proses penting yaitu saat Cirebon sebagai desa, lalu berkembang menjadi Kadipaten dengan Adipatinya yang bernama Walasugsang, serta saat Cirebon berhasil merdeka dari pengaruh Padjajaran dengan raja atau sultan pertamanya yaitu Syarif Hidayatullah yang memerankan peran ganda yakni sebagai ulama atau wali yang menyebarkan ajaran Islam serta sebagai raja yang mengayomi rakyatnya.
Posisi sebagai raja itu dimanfaatkan oleh Syarif Hidayatullah dengan baik. Dengan menjadi figur raja, ia menyebarkan Islam dengan penuh kedamaian, tanpa kekerasan, dan pemaksaa. Ia juga dikenal sebagai raja yang tidak suka memberatkan rakyatnya, diantaranya dengan praktik pemberlakuan pajak yang ringan. Hasilnya, Ia begitu disayangi oleh rakyatnya hingga wafatnya dan dimakamkan di Gunung Djati. Pada masa kepemimpinannya pula, Kesultanan Cirebon berada di masa kejayaannya.
Cirebon mulai mengalami kehancuran ketika Cirebon dibagi menjadi 3 Kesultanan, Yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Kerato Kacirebonan. Sehingga kerajaan Cirebon menjadi terpecah-pecah. Disamping itu adanya perebutan kekuasaan sepeninggal Panembahan Gerilya pada tahun 1702. Adanya campur tangan VOC dalam kerajaan yang mengadu domba mereka juga menjadi penyebab hancurnya Kesultanan Cirebon.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. “Sejarah Berdirinya Cirebon dan Perkembangannya”. http://kuliahkucatatandankehidupan.blogspot.co.id/2015/12/sejarah-berdirinya-perkembangan.html. Diakses pada 21 April 2018 Pukul 18.52 WIB
Rakhman, Dnany. 2016. “ Kesultanan Cirebon “. https://dhanyarrakhman.blogspot.co.id/2016/10/makalahkesultanancirebondhanyblogspot.html. Diakses pada 21 April 2018 Pukul 18.43 WIB
Anonim. 2017. “ Kerajaan Cirebon”. http://www.historyofcirebon.id/2017/05/kerajaan-cirebon-masa-pendirian.html?m=1. Diakses pada 12 April 2018 Pukul 10.43 WIB
Burhanudin, Jajat. 2012. Ulama Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia. Jakarta: Mizan Publika
Makalah KERAJAAN DEMAK
KERAJAAN DEMAK
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia Abad 16
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi S.pd., M.A.
Disusun oleh :
Deva Oktaviana Putri
173231042
Dino Aditya Tantowi
173231045
Hesti Dwi Palupi
173231044
Muhammad Muamar Khadafi
173231047
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Demak adalah kerajaan Islam pertama di pulau jawa. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah (1478-1518) pada tahun 1478, Raden Patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang menjabat sebagai adipati kadipaten Bintara, Demak.
Letak kerajaan Demak berada di tepi pantai utara Pulau Jawa. Kerajaan ini sering dikunjungi pedagang-pedagang Islam dan pedagang asing untuk membeli beras, madu, lilin, dan lain-lain. Sampai abad ke 15, Demak di bawah kekuasaan Majapahit akan tetapi setelah Majapahit mundur, Demak pun mengalami perkembangan yang cukup pesat sebagai kerajaan Islam di Jawa.
Kami karena sesuai dengan jurusan kami yakni Sejarah Peradaban Islam maka dari itu sebuah sejarah islam di dunia maka harus tahu khususnya di Indonesia. Sehingga kami tertarik dengan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa ini sehingga kami membuat makalah ini selain sebagai tugas dan kami berharap makalah ini dapat bermanfaat.
Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah kerajaan Demak?
Bagaimana kehidupan politik pada kerajaan Demak?
Bagaimana perkembangan di bidang sosial dan ekonomi pada kerajaan Demak?
Bagaimana runtuhnya kerajaan Demak?
Apa saja peninggalan kerajaan Demak?
Tujuan Penulisan
Mengetahui bagaimana sejarah kerajaan Demak.
Mengetahui siapa saja yang pernah memerintah kerajaan Demak.
Mengetahui bagaimana perkembangan ekonomi dan sosial budaya pada kerajaan Demak.
Mengetahui bagaimana kemunduran kerajaan Demak.
Mengetahui apa saja peninggalan dari kerajaan Demak.
BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Awal Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Demak sebelumnya adalah sebuah daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di Bintoro.
Secara geografis Kerajaan Demak terletak di daerah Jawa Tengah, tetapi pada awal kemunculannya kerajaan Demak mendapat bantuan dari para Bupati daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menganut agama Islam. Pada sebelumnya, daerah Demak bernama Bintoro yang merupakan daerah bawahan Kerajaan Majapahit. Kekuasaan pemerintahannya diberikan kepada Raden Fatah (dari kerajaan Majapahit. Letak Demak sangat menguntungkan, baik untuk perdagangan maupun pertanian. Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi selat di antara Pegunungan Muria dan Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya agak lebar dan dapat dilayari dengan baik sehingga kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke Rembang.
Kerajaan Demak itu didirikan oleh Raden Fatah. Menurut sejarah, dia adalah putera raja Majapahit yang terakhir dari garwa Ampan, dan Raden Fatah dilahirkan di Palembang. Karena menolak untuk menjadi adipati di Palembang, maka Raden Fatah berlayar ke Jawa dengan menaiki kapal dagang menuju Surabaya dan kemudian menjadi santri di pesantren Ampel Denta (Ngampel Denta) untuk memperdalam ilmu agama di bawa asuhan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan akhirnya Raden Fatah mendirikan pesantren yang diberi nama Glagahwangi lalu mengajarkan agama Islam dan juda Raden Fatah diangkat menjadi menantu oleh Sunan Ampel yang dinikahkan dengan cucu perempuannya kawin dengan cucu beliau. Dan akhirnya Raden Fatah menetap di Demak (Bintoro).
Pada kira-kira tahun 1475 M, Raden Fatah mulai melaksanakan perintah gurunya dengan jalan membuka madrasah atau pondok pesantren di daerah tersebut. Rupanya tugas yang diberikan kepada Raden Fatah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Lama kelamaan Desa Gelagahwangi ramai di kunjungi orang-orang. Tidak hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan dan agama, tetapi kemudian menjadi pusat perdagangan apalagi munculnya Kerajaan Demak juga dipercepat dengan melemahnya pusat Kerajaan Majapahit sendiri, akibat pemberontakan serta perang perebutan kekuasaan di kalangan keluarga raja-raja sehingga bahkan akhirnya menjadi pusat kerajaan Islam pertama di Jawa.
Kehidupan Politik
Ketika kerajaan Majapahit mulai mundur, banyak bupati yang ada di daerah pantai utara Pulau Jawa melapaskan diri. Bupati-Bupati itu membentuk suatu persekutuan di bawah pimpinan Demak. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, berdirilah kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama dipulau Jawa.
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Demak adalah sebagai berikut :
Raden Fatah
Nama kecil Raden Fatah adalah pangeran Jimbun. Raden Fatah memerintah Demak dari tahun 1500-1518 M. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Demak berkembang dengan pesat,karena memiliki daerah pertanian yang luas sebagai penghasil bahan makanan, terutama beras. Kerajaan Demak dijuluki kerajaan agraria-maritim. Daerah kekuasaan kerajaan Demak ialah (Jepara, Tuban, Sedayu, Palembang, Jambi, beberapa daerah di Kalimantan). Namun di sisi lain berkembangnya Demak menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang dapat menjadi ancaman bagi kekuasaan Demak karena pasti akan menjadi perhatian Portugis. Oleh karena itu sebelum Portugis datang ke Demak, pada tahun 1513 Demak terlebih dulu mengirimkan armadanya untuk menyerang Portugis di Malaka dibawah pimpinan Pati Unus.
Adipati Unus
Setelah Raden Fatah wafat, Demak di pegang oleh Adipati Unus yang tidak lain adalah putera Raden Fatah itu sendiri. Ia memerintah Demak dari tahun 1518-1521 M. Adipati Unus meninggal usia muda, jadi memerintah kerajaan Demak tidak lama. Sejak tahun 1509 Adipati Unus anak dari Raden Fatah, telah bersiap untuk menyerang Malaka. Namun pada tahun 1511 telah didahului Portugis tapi adipati unus tidak mengurungkan niatnya, pada tahun 1512 Demak mengirimkan armada perangnya manuju Malaka. Adipati Unus berhasil mengadakan perluasan wilayah kerajaan. Adipati Unus (patih yunus) wafat tahun 938H/ 1521 M. Pati Unus terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan juga pemimpin perlawanan terhadap Portugis di Malaka dengan ratusan kapal dari Jawa, karena keberaniannya itulah ia mendapatkan julukan Pangeran Sabrang Lor.
Sultan Trenggana
Pati Unus tidak memiliki putra, ketika beliau wafat tahta kerajaan pun digantikan oleh adiknya sendiri yang bernama Sultan Trenggana. Sultan Trenggana memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. Dibawah pemerintahannya, kerajaan Demak mencapai masa kejayaan. Ia dikenal sebagai raja yang bijaksana dan gagah berani. Wilayah kekuasaan yang berhasil ditaklukannya bahkan terbilang sangat luas dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya. Sultan Trenggana berusaha memperluas daerah kekuasaannyaa hingga ke daerah Jawa Barat. Tahun 1522 M kerajaan Demak mengirim pasukannya ke Jawa Barat di bawah pimpinan Fatahillah. Daerah-daerah yang berhasil di kuasainnya antara lain Banten, Sunda Kelapa, Cirebon. Penguasa di daerah itu bertujuan untuk menggagalkan hubungan orang-orang Portugis. Armada portugis dapat dihancurkan oleh armada Demak pimpinan Fatahillah. Fatahillah adalah seorang ulama terkemuka dari Pasai yang sempat melarikan diri dari kepungan orang Portugis, dalam pelariannya ke Demak dia diterima baik oleh Trenggana dam kemudian dinikahkan dengan adiknya.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak
Kerajaan Demak terletak di daerah yang strategis yang di jalur perdagangan nusantara atau nasional. Hal ini memungkinkan Demak berkembang menjadi kerajaan Maritim. Demak berperan sebagai penghubung daerah penghasil rempah-rempah di wilayah Indonesia bagian timur dan barat, maka tak heran jika Demak terus mengalami perkembangan. Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil rempah-rempah Indonesia bagian Barat. Deemak memiliki produksi andaalannya yakni seperti beras, garam dan kayu jati. Dengan demikian perdagangan Demak semakin berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasa Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan didarah pesisir pantai pulau Jawa.
Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian,sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi.
Kejayaan kerajaan Demak
Kerajaan Demak mengalami masa kejayaan di bawah pimpinan Sultan Trenggono. Untuk mnjadikan Demak sebagai saalah satu pusat penyebaran agama islam, Sultan Trenggono membantu penyiaran agama islam dan berhasil membawa Demak sebagai pusat kekuasaan di Jawa. Untuk menjadikan Demak sebagai pusat kekuasaan di Jawa. Mula-mula daerah-daerah Jawa ditaklukkan, kekuasaan Demak yang saat itu dipimpin oleh Sultan Trenggono akhirnya meliputi sebagai Jawa Barat (Banten, Cirebon), Jakarta, Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Sultan Trenggana memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M.
Berikut faktor-faktor yang mendorong kemajuan Demak :
Letaknya strategis di daerah pantai
Pelabuhan bergota di Semarang,merupakan pelabuhan ekspor-impor yang paling penting bagi kerajaan Demak
Memiliki sungai sebagai penghubung dengan darah pedalaman ,sehingga membantu pengangkutan hasil pertanian berupa beras sebagai komoditas ekspor utama Demak
Runtuhnya kerajaan Majapahit oleh Demak membuat Demak berkembang pesat dengan leluasa tanpa ada ancaman dari kerajaan besar lainnya di pulau Jawa.
Kemunduran Kerajaan Demak
Setelah wafatnya Sultan Trenggono, menimbulkan kekacauan politik yang cukup hebat pun terjadi daerah-daerah kekuasaan Demak pun berusaha melepaskan diri dan tidak mengakui lagi kekuasaan Demak dan terjadi perebutan kekuasaan di kerajaan Demak, antara Pangeran Seda ing Lepen dan Sunan Prawoto (putra sultan trenggono). Pangeran sekar sedo Lepen yang seharusnya menggantikan Sultan Trenggono dibunuh oleh Sunan prawoto dengan harapan ia dapat mewarisi tahta kerajaan. Putra Pangeran Seda lapen yang bernama Arya penangsang dari Jipang menuntut balas kematian ayahnya dengan membunuh Pangeran Hadiri (suami Ratu Kalinyamat, adik Sunan Prawoto).
Pangeran Hadiri dianggap sebagai penghalang Arya Penangsang untuk menjadi sultan Demak. Setelah berhasil membunuh Sunan Prawoto dan beberapa pendukungnya. Naiknya Arya Penangsang ke tahta kerajaan tidak disenangi oleh Pangeran Adiwijoyo atau Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono. Arya Penangsang dapat dikalahkan oleh Joko Tingkir yang selanjutnya memindahkan pusat ke kerajaan Pajang. Setelah Kerajaan Demak lemah maka muncul Kerajaan Pajang. Kerajaan Demak berakhir pada tahun 1546 yang hanya bertahan selama 68 tahun sejak berdirinya kerajaan Demak.
Peninggalan Kerajaan Demak
Pintu Bledek
Pintu Bledek atau pintu petir merupakan pintu yang di lengkapi dengan pahatan yang dibuat tahun 1466 Oleh Ki Ageng Selo. Dari Cerita yang beredar,pintu Bledek dibuat oleh Ki Ageng Selo Dengan petir yang dimilikinnya yang ia tangkap saat ada di tengah sawah. Pintu tersebut lalu dibawa pulang dan dibawa ke Raden Patah kemudian pintu ini dipakai untuk pintu masuk utama Masjid Agung Demak yang keadaannya sudah mulai rusak sehingga di simpan dalam museum dalam masjid agung demak tersebut.
Masjid Agung Demak
Peninggalan kerajaan demak selanjutnya adalah Masjid Agung didirikan tahun 1479 masehi yang kini sudah berumur skitar 6 abad tetapi masih berdiri dengan kokoh sebab sudah dilakukan renovasi sebanyak beberaaapa kali. Masjid Agung Demak ini tidak hanya sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Demak saja, akan tetapi dulunya merupakan pusat dari pengajaran serta syiar Islam. Masjid Agung memiliki luas 31x31 meter persegi yang di bagian sisi masjid agung inijuga terdapat serambi berukuran 31x15 meter persegi dengan panjang keliling 35x3 meter.
Soko Guru atau Soko Tatal
Soko Guru atau Soko tatal merupakan tiang penyangga dari masjid agung demak yangterbuat dari material kayu dengan diameter 1 meter dan berjumlah sebanyak 4 buah soko guru dan masjid agung demak sudah dibangun serta sudah mulai masukdalam tahapan pemasangan atap. Sehingga karena dikejar waktu,Sunan kalijaga kemudian mengumpulkan tatal atau kulit kayu yang berasal dari sisa pahatan dan 3 soko guru untuk dibuat menjadi 1 soko guru baru memakai kekuatan spiritual yang dimiliki Sunan Kalijaga dan inilah yang menyebabkan soko guru diberi istilah soko tatal.
Makam Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari 9 sunan Walisanga yang berdakwah di sekitar wilayah Jawa. Sunan Kalijaga wafat tahun 1520 lalu dikebumikan di Desa Kadilangu berdkatan dengan kota demak. Banyak orang berkunjung untuk berziarah dan juga berdoa,semoga diberikan kemudahan dan juga keberkahan lewat doa.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Demak sebelumnya adalah sebuah daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di Bintoro, serta dipimpin dengan tiga raja kerajaan Demak. Diantaranya Raden Fatah, Pati Unus dan Sultan Trenggana. Raja pertama mereka adalah raden Fatah, yang berhasil menjadikan negerinya sebagai sebuah negara independen pada masanya. Setelah itu pemerintahannya dilanjutkan oleh anaknya, Pati Unus (Adipati Unus) berkuasa. Dia berhasil mengadakan perluasan wilayah kerajaan.
Setelah wafatnya Adipati Unus atau Pati Unus pada tahun 938 H/1531 M, kemudian kerajaan Demak diambil alih atau dipimpin oleh Raden Trenggono (Sultan Trenggana). Kejayaan paling besar dibawah pemerintahannya. Perluasan wilayah yang beliau lakukan sudah cukup luas di beberapa daerah-daerah yang berhasil beliau taklukan. Dia wafat pada tahun 953 H/1546 M. Setelah beliau wafat, mulailah konflik-konflik atau kekacauan politik hingga kerajaan Demak mengalami kemunduran dan kemudian berakhir.
Kebudayaan yang berkembang di kerajaan Demak identik bercorak islam. Hal tersebut tampak dari peninggalan sejarahnya berupa masjid ataupun makam-makam yang sampai sekarang Demak di kenal sebagai pusat pendidikan Islam. Seperti Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga, dsb.
DAFTAR PUSTAKA
Amarseto, Binuko. 2015. Ensiklopedia Kerajaan Islam Di Indonesia. Yogyakarta: Istana Media.
Anisa, Fitri, dkk. 2016. “Kerajaan-Kerajaan Islam dan Peran Para Ulama di Nusantara,” Makalah Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Djakariah. 2014. Sejarah Indonesia II.Yogyakarta: Ombak.
Yatim, Badri. 2017. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Mira Triani “Sumber Ilmu” (Online)
http://miratriani.blogspot.co.id/2012/01/makalah-kerajaan-demak.html?m=1 diakses pada 15 April 2018
Maressa “SejarahLengkap.com”
http://sejarahlengkap.com/indonesia/kerajaan/peninggalan-kerajaan-demak diakses pada tanggal 15 April 2018.
Minoritas islam di thailand
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...
-
HASIL PENELITIAN SITUS PURBAKALA SANGIRAN Diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia sampai abad ke-14 Dosen pengampu Irma A...
-
KERAJAAN SRIWIJAYA Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia sampai Abad IX Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi,...