BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perkembangannya, Islam memunculkan banyak imperium dan kerajaan yang ada di Asia Tenggara. Menurut Geerz, Islam hadir dengan mengambil alih suatu peradaban yang sudah ada pada perbatasan paling timur dari kekuasaan mereka. Pengaruh Islam hanya mengenai penduduk ras Melayu yang ada di Asia Tenggara. Sebelum Islam menyebar secara merata di seluruh benua Asia, kolonialisme yang ada dikawasan Asia telah mempersulit perkembangannya.
Bagian selatan Negeri Thailand, merupakan daerah penduduk ras Melayu dan tempat perkembangan agama Islam. Di bagian selatan Muangthai, orang-orang Melayu-Muslim merupakan dari kebudayaan Melayu. Di Muangthai terdapat perkumpulan beberapa kerajaan kecil yang pada perkembangannya menjadi kerajaan Patani. Kerajaan Patani merupakan kerajaan Islam yang cukup besar dalam sejarah Islam di Asia Tenggara.
BAB II
PEMBAHASAN
Asal Mula Nama Dari Thailand
Kerajaan Thai (nama resmi bahasa Thai), yang lebih sering disebut Thailand dalam bahasa Inggris, atau dalam bahasa aslinya Mueang Thai (Negeri Thai), adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja di timur, Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dan Myanmar dan Laut Andamandi di Barat. Kata “Thai” berarti “kebebasan” dalam bahasa Thai, namun juga dapat merujuk kepada suku Thai, sehingga menyebabkan nama Siam masih digunakan di kalangan warga negara Thai terutama kaum minoritas Tionghoa.
Asal mula Thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, kerajaan Sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kebudayaan Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara Eropa, meski pengaruh barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang Britania.
Selatan, dulu bukan bagian dari Thailand. Sebenarnya Semenanjung Malaya berpenduduk Melayu yang dikelola dalam negara-negara kecil. Orang-orang Melayu ini memeluk Islam sepanjang abad-15, sebagaimana halnya dilakukan oleh hampir semua orang Melayu lainnya. Sejak abad-14 Thailand memulai serangan dan penaklukan Semenanjung Malaya yang memuncak pada 1767 M. Dengan penaklukan semua negara Muslim sampai ke Ligor (Nachom Sri Thammarat), jadi memasukkan negara-negara Muslim Jays(Chaiya), Grahi (Surat-Tsani) dan Ligor ke dalam Imperium Thai. Dari Ligor, orang Thai memperluas penaklukannya ke selatan menaklukan lebih banyak negara-negara Muslim, seperti Bedelung (Pathalung), Senggora (Songkhla) dan Setul (Satun). Sepanjang abad-19, persaingan untuk menaklukkan sisa Semenanjung Malaya meletus antara inggris dan Thailand. Pada 1832 M. Thai menaklukkan egara Muslim Pattani, dan penaklukan ini diakui oleh Inggris pada 1909. Pertamanya negara-negara Muslim yang ditaklukkan oleh Thailand, dibolehkan untuk diurus oleh para Sultan mereka sendiri. Namun pada 1902 para pejabat (administrator) Muslim diturunkan; tanah-tanah Muslim kehilangan semua otonomi, kemudian diurus langusng oleh Thai.
Dari Jumlah enam juta Muslim di Thailand pada 1982 sekitar empat juta adalah Muslim Melayu yang hidup di provinsi-provinsi selatan. Muslim di Bangkok berjumlah sekitar 800.000 orang keturunan para tawanan yang dibawa dari negara-negara Melayu. Misalnya, pada 1979, empat ribu Muslim Pattani ditawan dan dibawa ke Bangkok. Para imigran paksaan ini kemudian bercampur dengan para imigran Muslim lainnya. Dalam proses ini, mereka kehilangan bahasa Melayunya lalu mereka berbahasa Thai. Muslim lain di Thailand Tengah juga keturunan para tawanan yang bercampur dengan Muslim mwallaf setempat Jumlah mereka sekitar satu juta orang, Muslim di timur laut dan sebagian wilayah utara adalah keturunan Champa yang dibawa dari Kamboja ketika ditaklukkan oleh Thailand. Banyak muallaf Thai tinggal di dua wilayah ini. Akhirnya di utara, banyak Musim keturunan imigran Muslim dari Yunan (China) yang harus mengungsi ketika pemberontakan Muslim ditumpas pada 1875. Jika sensus 1976 diperhitungkan dengan estimasi yang diberikan oleh Muslim, diperoleh hasil yang ditunjukkan dalam Tabel 6.3 yang juga memberikan jumlah masjid terdaftar oleh wilayah.
Tabel ini menunjukkan bahwa ada 5.250.000 Muslim di Thailand pada 1976. Muslim merupakan separuh penduduk wilayah selatan, satu dari empat wilayah kerajaan. Di wilayah ini (luas daerahnya 72.961 kilometer perseg), sebenarnya Muslim merupakan mayoritas di provinsi-provinsi Narathiwat, Yala, Pattani, Satun, Songkhla, Trang, dan Krabi.
Harusnya ada sekitar 2.500 masjid di Thailand, tetapi pada 1976, hanya 2.078 masjid terdaftar menurut Dekrit Raja 1947 mengenai masjid. Ada 414 masid seperti itu di Provinsi Pattani, Tabel 6.3. Muslim di Thailand, 1976.
Wilayah
Penduduk dalam ribuan
Masjid
terdaftar
Jumlah
Muslim
Wilayah Selatan
Wilayah Tengah
Wilayah Timur
Wilayah Utara
5,534
13,459
15,584
9,696
2,820
1,210
930
290
51,0%
9.0%
6.0%
3.0%
1695
364
18
1
Jumlah
44,273
5,250
11,9%
2078
339 di Provinsi Narathiwat, 213 di Provinsi Songkhla, 196 di Provinsi Yala dan 139 masjid di ibu kota Bangkok. Berdasarkan wilayah, ada 1.965 masjid di selatan, 364 masjid di Provinsi tengah, 18 masjid di timur-laut dan hanya satu masjid terdaftar di provinsi timur. Namun sangat sedikit imam kualified. Kitab suci Alqur-an telah diterjemhkan ke dalam bahasa thai. Satu versi Oleh Haji Ibrahim Qureshi telah diterbitkan. Versi lain oleh Shek-ul Islam Haji Ismail.
Naskah-naskah terjemahan Melayu juga diimpor dari tetangga, Malaysia. Muslim terpelajar mengetahui bahasa Arab, dan Kitab suci Alquran secara tetap dicetak di negeri itu (dalam bahasa Arab). Namun literatur Islam dalam bahasa Thai sangat sedikit.
Akar Sejarah Minoritas Muslim Thailand
Etnis Melayu-Muslim di negara ini merupakan kelompok minoritas. Karena menurut data pada tahun 1979 jumlah mereka yang berada di Muangthai hanya 2.85% atau 977.282 jiwa dari 46 juta jiwa. Akan tetapi di daerah selatan, yang berbatasan dengan Malaysia, yaitu provinsi Pattani, Yala, Satun, dan Narathiwat. Melayu-Muslim merupakan kelompok mayoritas, yaitu mencapai 74% dari seluruh penduduk di keempat provinsi tersebut.
Secara historis, keempat provinsi tersebut merupakan satu kerajaan yang disebut sebagai kerajaan Patani Raya yang menjadikan Islam sebagai agama resminya. Kapan tepatnya kerajaan Patani beralih ke agama Islam hingga kini belum diketahui dengan pasti. Namun proses Islamisasi di kalangan penduduknya secara lebih intensif terjadi pada abad ke-12 hingga ke-15 oleh Syekh Said dari Kampong Pasai yang memainkan peranan yang sngat menentukan bagi proses Islamisasi kerajaan Patani yang berikutnya berubah menjadi kesultanan.
Kehadiran Islam di Pattani dimulai dengan kedatangan Syakh Said, mubaligh dari Pasai, yang berhasil menyembuhkan Raja Pattani bernama Phaya Tu Nakpa yang sedang sakit parah. Phaya Tu Nakpa (1686-1530 M) beragama Budha, kemudian masuk Islam dan bergelar Sultan Ismail Syah. Kesultanan Pattani kemudian menjadi pusat perdaganan dan pelabuhan, terutama bagi pedagang dari Cina dan India.
Dengan berdirinya kesultanan Pattani, wilayah ini kemudian tidak hanya meneguhkan diri sebagai pusat kekuasaan politik dan dunia dagang, namun juga menjadi tempat persemaian agama dan intelektual. Dengan ketiga unsur tersebut, Patani pada zaman kesultanan termasuk satu wilayah yang kosmopolit.
Institusi politik kesultanan setidaknya telah berupayah menopang proses Islamisasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun usaha lebih lanjut untuk mempertajam akar Islamisasi masyarakat ini terhalang oleh Instabilitas politik kesultanan, terutama setelah Patani masuk dalam periode “Ratu-ratu Patani” (1568-1688M) instabilitas tersebut berawal ketika raja Kali berusaha memberontak dan mengambil alih dari raja Lela.
Dalam perjalan historis berikutnya, Patani disamping mengalami konflik internal juga harus berhadap dengan gencarnya upaya kerajaan Thai-budha di Chao phraya (Bangkok ibukota Thailand) yang berusaha menyatukan kesultanan [atani dalam wilayah kekuasaannya. Usaha ini berhasil dengan jatuhnya kesultanan patani pada tahun 1706M. Meskipun kesultanan Patani telah jatuh, namun kebijakan Invasi damai oleh kerajaan Thai sedikit membantu, sehingga tidak membuat kaum muslim patani hanya tinggal sejarah. Mobilitas ulama Kedan dari wilayah Patani masih tetap berlangsung. Dalam taraf tertentu Patani masih dijadikan daerah tujuan berkunjung, dan tempat mengenyam pendidikan dini bagi anak-anak muslim.
Akan tetapi pada akhir abad ke-18, kerajaan Syiam menaklukan kerajaan Patani Raya tersebut. Meskipun ia menjadi daerah jajahan kerajaan Syiam, yang tunduk dan selalu mengirimkan upeti kepada Syiam, namun secara administratif segala tata cara pemerintahan dan pengaturan kehidupan sosial rakyat Patani Raya berdasarkan pada kultur dan budaya Islam. Barulah setelah terjadi perjanjian perbatasan antara wilayah jajahan Inggris di Semananjung Malaya dan kerajaan Syiam. Sehingga secara devinitif menjadi bagian dari Syiam. Dari sinilah lalu keberadaan budaya dan kultur rakyat Patani mulai “terusik”. Karena pemerintahan Syiam melakukan pembaharuan yang bertujuan untuk menggantikan identitas cultural dan agama orang melayu Muslim dengan identitas cultural Thai.
Minoritas Muslim di Thailand tinggal di 4 provinsi bagian Selatan: Patani, Yala, Satun, dan Narathiwat, juga termasuk sebagian dari provinsi Songkhla. Seluruh provinsi ini dulunya termasuk wilayah kesultanan Patani. Namun demikian, disisi lain, tradisi dan peradaban Hindhu-Budha cenderung menguat setelah kesultanan Patani mengalami masa kemundurannya hingga institusi politik kesultanan tersebut benar-benar jatuh ke kekuasaan Thai-Budha pada abad ke-18. Kekuatan dan keunggulan Thai-Budha atas Patani Islam semakin terbukti ketika Budha berhasil menempel pada institusi politik modern, yang kemudian juga berhasil menempel pada ideologi negara Thailand.
Minoritas Muslim Thailand dan Kebijakan Pemerintah
Secara kultural, baik dari segi agama, bahasa dan budaya, minoritas Muslim Muangthai yang tinggal di Thailand Selatan, merupakan bagian dari bangsa Melayu, apalagi tempat tinggalnya secara geografis berbatasan dengan negara- negara Melayu Malaysia. Namun dari segi politik, mereka merupakan bagian dari bangsa Muangthai, sejak mereka secara devinitif dimasukkan kedalam kerajaan Thai, dibawah kekuasaan Chulalongkorn atau Rama V pada tahun 1902 letak geografis ke-empat provinsi itu serta ikatan-ikatan budayanya telah membantu memupuk suatu rasa keterasingan dikalangan mereka terhadap lembaga sosial, budaya dan politik Thai.
Sebenarnya Muslim Thailand lebih memilih untuk memisahkan diri dari kerajaan Muangthai atau bergabung dengan Malaysia, meskipun berada di bawah pemerintahan Inggris, karena dengan begitu mereka dapat hidup bersama masyarakat yang seagama, sebahasa, sebudaya dan sebangsa. Dibawah pemerintahan Muangthai yang menganut agama Budha sebagai agama resmi negara, mereka merasa diperlakukan tidak adil sebagai minoritas. Disamping itu, mereka terisolasi dari birokrasi negara pemerintahan, bukan saja karena pusat pemerintahan jauh dari daerah itu, dan perasaan terasing dari birokrasi negara, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan agama, bahasa, dan kebudayaan. Sehingga asimilasi dan integrasi yang diharapkan pemerintah menjadi sulit tercapai. Kaum Muslim Thailand sebaliknya terkesan cenderung mengisolasi diri, hal itu karena mengalami kesulitan beradabtasi.
Pertama, karena kebanyakan mereka (terutama yang tinggal di daerah Rural seperti Patani Yala dan Narathiwat) hanya dapat berbicara sedikit bahasa Thai atau tidak bisa sama sekali. Ini membuat mereka tidak mampu berkomunikasi dengan kaum Cina dan Thai Budha.
Kedua, berdasarkan keyakinan agama, kaum Muslim Thailand secara militan menolak perilaku sosial yang berkaitan dengan kedua kelompok tersebut. Misalnya mereka tidak dibolehkan menghadiri perayaan agama lain atau menikah dengan penganut agama lain.
Ketiga, ketakutaan kaum Muslim Thailand bahwa interaksi denga Thai Budhis akan mengakibatkan anak-anak mereka menerima budaya Thai, melalui proses asimilasi dan berakibat mengikis tradisi Melayu serta nilai-nilai ajaran agama Islam.
Selain itu, proses isolasi terhadap kaum Muslim Thai, sebagian disebabkan oleh self infossed, sebagian juga disebabkan oleh tekanan orientasi media. Televisi lokal dan beberapa stasiun radio diwilayah tersebut khusus untuk melayani pemirsa Native Spaking Thai. Siaran banyak menggunakan bahasa Thai dan memfokuskan diri pada soal-soal yang menjadi kepentingan populus Thai, Budhis dan Cina. Sangat sedikit program dan waktu siaran dalam bahasa Melayu. Siaran radio Bangkok yang juga jelas diterima di provinsi-provinsi tersebut hanya menggunakan bahasa Thai dan tidak menggunakan bahasa Melayu sama sekali.
Karena itu yang menjadi persoalan masyarakat minoritas Muslim di Thailand sejak dulu adalah: bagaimana mereka seharusnya berpartisipasi dalam proses politik sebuah negara yang didasarkan atas kosmologi Budhis, birokrasi yang mewakili negara didominasi oleh orang Thai-Budhis. Berbagai upacara dan ritual kenegaraan seluruhnya Budhis dari segi bentuk dan isinya, dan yang paling penting adalah bahwa birokrasi memiliki kekuasaan untuk mengubah nilai-nilai dan lembaga-lembaga sosial dan budaya, termasuk nilai-nilai keagamaan untuk disesuaikan dengan kebutuhan negara.
Dengan demikian, tujuan pertama gerakan minoritas Muslim ini adalah membebaskan Melayu-Muslim Patani dari kekuasaan Muangthai dan bersatu dengan Negara Malaysia. Tetapi setelah dirasa sulit dicapai maka tujuan perjuangan mereka diubah yaitu untuk mendapatkan otonomi menegakkan agama Islam didalam masyarakat Melayu-Muslim Patani.
Bentuk perlawanan dari minoritas Muslim-Thailand kepada pemerintahannya senantiasa mengalami perubahan berawal dari perlawanan pasif dimasa raja Chulalongkron dan raja Wachiravut; perlawanan berbentuk partisipasi terbatas dalam proses politik negara; berbentuk pemberontakan, gerakan-gerakan bawah tanah dan gerakan separatis.
Minoritas muslim Thailand tergabung dalam kelompok organisasi seperti Pattani United Liberation Organization (PULO), Barisan Nasional Pembebasan Pattani (BNNP), Barisan Revolusi Nasional dll. Keinginan untuk memisahkan diri dari kerajaan Thai lebih dikarenakan karena kaum Muslimin melihat adanya keenganan pemerintah untuk memberikan kebebasan dalam mengamalkan ajaran agamanya dan mengungkapkan aspirasi budaya mereka. Hal ini dimaknai kaum Muslim sebagai penjauhan mereka dari agamanya dan pelumpuhan budaya umat Islam. Selain itu juga tindakan birokrat lokal yang tidak simpatik seringkali menimbulkan banyak kesulitan.
Perkembangan Kontemporer Minoritas Muslim di Thailand
Secara garis besar masyarakat Muslim di Thailand, dibedakan menjadi dua: pertama, masyarakat muslim Thailand-imigran (pendatang), yang biasanya berada di kota Bangkok dan Chiang Mai (Thailand Utara dan Tengah) dan kedua, masyarakat muslim penduduk asli Thailand, biasanya berada di Patani (Thailand Selatan).
Dalam beberapa tahun terakhir hubungan antara pihalk kerajaan Thai dengan masyarakat Melayu Muslim tampak membaik. Putera Mahkota Kerajaan sering berkunjung ke provinsi-provinsi yang berbatasa dengan Malaysia itu. Pembangunan jalan dan gedung-gedung sekolah menandai adanya perhatian yang serius dari pihak kerajaan. Dan yang tak kala pentingnya bagi Melayu Muslim adalah bahwa sejak tahun 1990-an mereka mulai mendapat kebebasan dalam menjalankan syariat Islam namun, keinginan urntuk memberlakukan hukum Islam di wilayah mereka itu tetap terus mereka perjuangkan.
Hubungan pemerintah dan Melayu Muslim yang mulai membaik ini tak dapat dipisahkan dan semakin segarnya angin demokrasi yang bertiup di negara-negara sedang berkembang termasuk Thailand. Seperti dikemukakan Abdul Rojak seorang tokoh Pattani, bahwa perubahan sikap pemerintahan Thailand itu agaknya lebih karena tekanan Internasional (OKI) sehubungan dengan sedang menghangatnya isu hak azazi manusia (HAM). Akan tetapi, meski pemerintahan mencoba memperbaiki hubungannya dengan Melayu Muslim, mereka masih belum bisa menghilangkan trauma masa lalunya terutama kalangan generasi tua. "kami masih ingat beberapa tahun yang lalu untuk pakai kopiah dan sarung saja tidak diperbolehkan. Sehari-haripun kami diharuskan menggunakan bahasa Thai", ujar seorang bapak di Narathivat mengenang pahitnya masa lalu. Kuatnya kesadaran akan masa lalu yang pahit, diitambah oleh kenyataan masih adanya "kaki tangan kerajaan yang menganggap umat Islam dikawasan selatan Thai seperti api dalam sekam" membuat Melayu Muslim tetap menjaga jarak dengan pemerintahan Thailand. Hal ini antara lain terindikasi dari cara mereka yang menjaga kemandirian financial lembaga pendidikan tradisional pesantren. Dengan menolak menerima bantuan pemerintah mereka bisa terbebas dari sikap pemerintah untuk mendikte mereka.
Konflik di Thailand Selatan sangat kental dengan nilai- nilai agama. Mereka melihat konflik ini adalah pertarungan anatara Muslim Melayu dan Budhis Thai. Kata 'Muslim dan Budhis mengerahkan pada kuatnya pengaruh agama dalam masing-masing masyarakat. Apabila dilihat lebih dekat, identitas Muslim Melayu di Selatan memang sangat kuat. Masyarakat khususnya 3 provinsi: Pattani, Yala, dan Narathiwat memiliki identitas keislaman dan kemelayuan yang tidak bisa dipisahkan. Masyarakat lebih welcome dengan orang Melayu daripada dengan etnis lain, terutama Thai.
Dengan demikian dapat disimpulkan, tumbuhnya sikap anti pemerintah pusat yang dilakukan oleh Muslim di Selatan Thailand diakibatkan banyak hal. Kesenjangan ekonomi menjadi kunci atas terus berlangsungnya gerakan separatisme atas dominasi kolonialisme internal Thailand. Kesenjangan ini telah berlangsung puluhan tahun. Akibatnya masyarakat Muslim yang mendapat tekanan politis dan keamanan dari pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Sebagian dari mereka secara diam-diam mendukung gerakan anti pemerintah bahkan beberapa diantara mereka aktif terlibat dalam aksi kekerasan.