Senin, 16 April 2018

MAKALAH MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB


                                         Manusia dan Tanggung Jawab
            Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Ilmu Pengantar Budaya
                                                Dosen :  Marsus,M.Hum.
            
                
                                            Disusun Oleh :
                              Muhammad Mu’ammar Khadafi (173231047)                
                              Ana Sulistiyo Wati (173231065)
                             Puput Tri Lestari (173231040)

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
                                                 BAB I           
                                              PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pada dasarnya manusia dan tanggung jawab saling berdampingan. Tanggung jawab adalah suatu keaadatan manusia akan tingkah laku atau perbuatannya baik sengaja maupun tidak sengaja. Setiap manusia memiliki tanggung jawab masing-masing. Diantaranya, pelajar tanggung jawabnya adalah belajar, tanggung jawab dosen terhadab mahasiswa/ mahasiswi, tanggung jawab presiden kepada rakyatnya dan tanggung jawab manusia kepada tuham yang telah menciptakan kita.
     Manusia di dalam hidupnya di samping sebagai makhluk Tuhan,                    makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Di mana di dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan    kewajiban, di tuntut pengabdian dan pengorbanan. Maka dari itu kami membuat makalah ini untuk bahan diskusi.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Tanggung Jawab ?
2.      Apa saja macam-macam Tanggung Jawab ?
3.      Apa pengertian Pengabdian ?
4.      Apa pengertian Pengorbanan ?

C.     TUJUAN
1.      Mengetahui dan memahami Tanggung Jawab.
2.      Memahami macam-macam Tanggung Jawab.
3.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan  Pengabdian.
4.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan Pengorbanan.





                                                BAB II
                                       PEMBAHASAN
A. Pengertian Tanggung Jawab
menurut WJS. Poerwodarminto tanggung jawab adalah sesuatu yang menjadi kewajiban (keharusan) untuk di laksanakan, di balas dan sebagainya.. Sedangkan menurut ensklopedia bebas pengertian tanggung jawab adalah kewajiban dalam melakukan tugas. Sebuah tanggung jawab timbul dari seseorang yang memiliki kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab tersebut.
B. Macam-Macam Tanggung Jawab
Sesuai dengan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu dan makhluk sosial.maka terdapat beberapa macam-macam tanggung jawab dapat di bedakan sebagai berikut:
1. Tanggung Jawab Terhadap dirinya sendiri
Tuhan menciptakan manusia di bumi tidak hanya untuk hidup saja. Manusia diberi tanggung jawab untuk mengolah alam agar manusia dapat berkembang dengan seiring berjalanya  waktu. Agar manusia mempunyai nilai dalam kehidupannya manusia sendiri harus dibebani sebuah tanggung jawab. Sebab apabila tidak ada tanggung jawab terhadap dirinya sendiri maka tindakannya tidak akan terkontrol lagi,artinya tidak ada artinya sebuah hidup ini.
Pada hakekatnya manusia lahir di dunia di tuntut untuk memilih sebuah pilihan,  menjadi orang baik atau menjadi orang jahat dan sebagainya tergantung dari tindakan selama di dunia. Itu semua dituntut adanya 6anggung jawab dari masing-masing individu.
2. Tanggung jawab Terhadap keluarga
Seperti makhluk tuhan yang lainnya,maka manusia secara naluri juga mengembangkan keturunannya agar sejarah kehidupannya tidak terputus. Untuk melangsungkan keturunanya, manusia di beri tanggung jawab agar anggota keluarganya tidak menderita atau dapat hidup sesuai dengan keberadaannya. Manusia berani mempunyai istri dan anak harus berani bertanggung jawab mengatarkan keturunanya secara layak ke tingkat hidup yang lebih tinggi bagi generasi selanjutnya, agar keluarga tersebut mempunyai nilai dalam hidup baik secara individu terhadap masyarakat mauoun terhadap tuhan sebagai pencipta.
3. Tanggung jawab terhadap Masyarakat
Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lainnya, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Dengan demikian manusia merupakan anggota masyarakat yang mempunyai tanggung jawab sama dengan anggota masyarakat lainnya.agar dapat melangsungkan kehidupan, manusia harus berkomunikasi dengan manusia lain.
4. Tanggung Jawab Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Tuhan menciptakan manusia di bumi bukanlah tanpa adanya tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung kepada tuhan. Segingga manusia tidak lepas dengan adanya hukum-hukum tuhan.jika hukum tersebut dilangga,pastinya memiliki sebuah sanksi tuhan yaitu dengan sebuah kutukan sebagai hukumannya. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah tuhan beratti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya di lakukan manusia terhadap tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi sebuah tanggung jawabnua manusia perlu melakukan sebuah pengorbanan.

C.  Pengabdian
     Wujud tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian dan pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri. Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih sayang, norma, atau satu ikatan dari semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakikatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencapai kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga. Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan merupakan perwujudan tanggung jawab kepada Tuhan.
D.  Pengorbanan
      Pengorbanan berasal dari kata korban atau korban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata. Perbedaan antara pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan sulit dikatakan pengabdian karena kata pengabdian karena kata pengabdian mengandung arti lebih rendah tingkatannya, tetapi untuk kata pengorbanan dapat juga diterapkan sesama teman.
        Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran dan perasaan bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk pada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada pemberian suatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya. Dalam pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
        Tanggung jawab adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu , sebuah tanggung jawab timbul akibat adanya keharusan atau kewajiban yang harus di laksanakan guna memenuhi tanggung jawab tersebut, sebagai makhluk sosial manusia memiliki beberapa tanggung jawab yang harus di penuhi diantaranya : tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga, tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat ,serta tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengabdian merupakan salah satu wujud dari tanggung jawab. Sedangkan Pengabdian adalah suatu perbuatan baik yang berdampak pada kepentingan manusia itu sendiri baik itu berupa akal ,pendapat,serta  tenaga yang diberikan sebagai wujud dari kesetiaan dan cinta kasih ,norma ,atau suatu ikatan  dari semua itu  yang di lakukan secara suka rela,sementara itu pengorbanan adalah akibat dari pengabdian tersebut.

                                    DAFTAR PUSTAKA
M.Habib Mustopo.1983.Ilmu Dasar Budaya.SURABAYA: USAHA NASIONAL.


MAKALAH PROBLEMATIKA SIFAT TUHAN


                                  PROBLEMATIKA SIFAT TUHAN
             Dosen : Ali Mashar, S.Pd., M.A.

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Budaya
 
Disusun Oleh :
Lisan Nul Hasannah                (173231039)
Ade Muis Ashari                     (173231045)
Rita Purnamasari                     (173231048)
Nur Afni Sedyowati               (173231062)
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Dalam Islam diajarkan mengenai pokok pokok ajaran islam yang didalamnya mencakup semua berbagai ajaran yang perlu kita ketahui. Salah satu pokok ajarannya ialah Iman Kepada Allah swt, yang artinya kita mengimami dan menyakini akan adanya Allah dan mempercayainya dengan sepenuh hati. Selain mempercayai adanya Allah kita juga harus mempercayai akan sifat sifat yang terdapat pada-Nya baik itu sifat wajib, jaiz, dan mustahil bagi Allah.
Sifat Allah menurut aliran Kalam memiliki artian yang luas dan memiliki problematika dalam setiap alairan ilmu kalam. Aliran aliran ini memiliki pandangan yang cukup berbeda dalam dan kompleks bagi setiap alirannya. Perbedaan pendapat sering terjadi anatara aliran aliran ilmu kalam sehingga menimbulkan berbagai pendapat mengenai sifat sifat tuhan.
Disini kita akan mempelajari secara dalam mengenai problematika sifat tuhan berdasarkan aliran ilmu kalam dan ahli hadist. Sehingga kita akan mengetahui bagaimana pendapat mereka dan perbedaan mengenai sifat sifat tuhan baik menurut aliran ilmu kalam atau ahli  hadits. Pembahasan mengenai problematika ini dirasa sangat perlu dibahas lebih mendalam dan mendetail agar kita bisa membedakan yang mana sifat yang mutlak terdapat pada Allah.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana pendapat Aliran Maturidi mengenai sifat Tuhan?
2.    Bagaimana pendapat Ahlu Hadist mengenai sifat Tuhan?
3.    Bagaimana pendapat Aliran Mu’tazilah mengenai sifat Tuhan?
4.    Bagaimana pendapat Aliran Asy-‘Ariyah mengenai sifat Tuhan?

C.  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pendapat Aliran Maturidiyah mengenai sifat Tuhan
2.      Untuk mengetahui pendapat Ahlu Hadist mengenai sifat Tuhan
3.      Untuk mengetahui pendapat Aliran Mu’tazilah mengenai sifat Tuhan
4.      Untuk mengetahui pendapat Aliran Asy-‘Ariyah mengenai sifat Tuhan



BAB 2
                                                    PEMBAHASAN

A.  AL- MATURIDI
Paham Al-Maturidi tentang makna sifat Tuhan cenderung mendekati paham Mu’tazilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
Maturidiah Bukhara yang mempertahankan kekuasaan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Persoalan banyak yang kekal mereka selesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu juga dengan mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu tidak kekal.
Maturidiah Samarkand sependapat dengan Mu’tazilah dalam menghadapi ayat-ayat yang memberi gambaran Tuhan bersifat dengan menghadapi jasmani ini. Al-Maturidi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, mata, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.
Demikian pula, Maturidiah Bukhara sependapat dengan Asy’ariah dan Maturidiah Samarkand bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Al- Bazdawi (421-493) mengatakan bahwa Tuhan kelak memperlihatkan diri-Nya untuk kita lihat dengan mata kepala, menurut apa yang ia kehendaki.
Aliran Maturidiah Bukhara dan Maturidiah samarkand berpendapat bahwa Al-Qur’an itu kekal tidak diciptakan. Maturidiah Bukhara berpendapat sebagaimana dijelaskan oleh Bazdawi , kalamullah ( Al-Qur’an ) adalah sesuatu yang berdiri dengan Dzat-Nya. Adapun yang tersusun dalam bentuk surat yang mempunyai akhir dan awal , jumlah dan bagian-bagian, bukan kalamullah secara hakikat, melainkan Al-Qur’an dalam pengertian kiasan ( majaz ).

    
B.  Sifat Allah Menurut Ahlu Hadis
Pandangan Ibnu Taimiyah tentang sifat-sifat Allah
1.    Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah disampaikan oleh Allah atau Rasulnya. Sifat yabg dimaksud tersebut yaitu:
a.    Sifat salabiyah, yaitu qidam, baqa, mukhalafatul lil hawadisi, qiyamuhu binafsihi dan wahdaniyat.
b.    Sifat Ma’ani, yaitu qadrah, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam.
c.    Sifat khabariah (sifat yabg diterangkan Al-Qur’an dan Al-Hadist walaupun akal bertanya-tanya tentang maknanya), seperti keterangan yang menyatakan bahwa Allah berada di langit, Allah berada di Arrasy, Allah turun kelangit dunia, Allah dilihat oleh orang yang beriman disurga kelak, wajah, tangan dan mata Allah.
d.   Sifat Idhafah, yaitu sifat Allah yang disandarkan kepada makhluk seperti Rabbiul’alamin, khaliqul kaum, dll.
2.    Percaya sepenuhnya terhadap nama-nama-Nya, yang Allah dan Rasul-Nya disebutkan seperti Al-Awwal, Al-Akhir dll.
3.    Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah tersebut dengan:
a.    Tidak mengubah maknanya kepada makna yang tidak dikehendaki
b.    Tidak menghilangkan pengertian
c.    Tidak mengingkarinya
d.   Tidak menggambar-gambarkan betuk Tuhan, baik dalam pikiran maupun hati, apalagi dengan indra
e.    Tidak menyerupakan sifat-sifat-Nya dengan sifat Makhluk-Nya.
Berdasarkan penjelasan diatas, Ibnu Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat Mutasyabihat. Menuntutnya ayat atau hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, denhgan catatan tidak men-jastimkan, tidak menyerupai dengan makhluk.
                    i.     Sifat Alloh Menurut Pandangan Ahlu Hadis (Imam Ahmad Ibn Hambal)
Menurut pemikiran Ahmad Ibn Hambal, (164-241 H), Imam Mazhab termuda dan temannya Dawud ibn Ali al-Ishfahani, mengikuti paham para ahhal inili Hadis pada zaman Nabi dan sahabat. Mengenai sifat Alloh ini, keduanya mengambil cara yng aman yakni dengan beriman kepada apa yang disebutkan al-Quran dan Sunnah Rasul SAW., tanpa memberikan ta’wil. Alloh memiliki sifat seperti yang dijelaskan al-Qur’an, yaitu Maha Esa dalam segala segi, tidak ada bilangan, tidak ada bagian. Ia juga menjelaskan bahwa orang yang tidak mengakui Tuhan mempunyai sifat adalah keluar dari agama. Ia juga mengakui bahwa ayat-ayat mutasyabihat yang menyebutkan Alloh memiliki tangan, wajah, mata, setiap mukmin harus mengakui bagaimana Alloh menyifati diri-Nya dengan sifat itu. Tetapi ia tidak mau membahas itu secara mendalam karena tidak ada penjelasan Alloh yang lebih jelas.
           
C.  SIFAT ALLAH MENURUT MU’TAZILAH
Kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Definisi mereka tentang Tuhan, sebagaimana telah dijelaskan oleh Asy’ari, bersifat negatif. Tuhan tidak mempunyai  pengetahuan, tidak mempunyai kekuasaan, tidak mempunyai hajat dan sebagainya. Ini tidak berarti bahwa Tuhan bagi mereka tidak mengetahui, berkuasa dan sebagainya, tetapi bukan dengan sifat dalam arti sebenarnya. Artinya “Tuhan mengetahui dengan pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah Tuhan.” Menurut kaum Mu’tazilah, sifat adalah sesuatu yang melekat. Apabila sifat Tuhan yang qadim, ada dua yang qadim, yaitu dzat dan sifat-Nya. Washil Bin Atha’ seperti dikutip uleh Asy-Syahrastani berkata, “Siapa yang mengatakan sifat yang qadim berarti telah menduakan Tuhan.” Ini tidak dapat diterima karena merupakan perbuatan yang syirik. Dan apa yang disebut sebagai sifat menurut Mu’tazilah adalah dzat Tuhan.
Kaum Mu’tazilah sendiri memiliki lima doktrin populer yang disebut sebagai al Ushul al Khomsah. Kelima doktrin itu adalah sebagai berikut ini.
1.      Al Tauhid
Yang berarti mengesakan Tuhan. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat sendiri yang berada diluar Dzat, karena akan berakibat banyaknya yang qodim. Mereka juga menolak sifat jasmaniah (antropomorfisme) bagi Tuhan karena akan membawa tajsim dan tasybih.
2.      Al ‘Adlu
Yaitu keadilan Tuhan. Keadilan yang dimaksud Mu’tazilah mengandung arti bahwa Tuhan wajib berbuat baik dan terbaik bagi hamba-Nya (Al Shalah wal Ashlah) Tuhan wajib berbuat sesuai norma dan aturan yang ditetapkanNya, dan Tuhan tidak memberi beban diluar kemampuan hamba.
3.      Al Wa’d wa al Wa’id
Yakni janji dan ancaman Tuhan untuk membalas perbuatan hambaNya pasti akan terlaksana. Ini bagian dari keadilan Tuhan.
4.      Al Manzilah Bain al Manzilatain
Berarti tempat diantara dua tempat. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar statusnya tidak lagi mukmin dan juga tidak kafir, ia berada diantara keduanya.
5.      Al Amr bin al Ma’ruf wa al Nahyu ‘an al Munkar
Yaitu perintah untuk berbuat baik dan larangan perbuatan munkar. Ini merupakan kewajiban dakwah bagi setiap orang Mu’tazilah 
Dari kelima doktrin Mu’tazilah diatas dapat diambil kesimpulan mengenai pandangan Mu’tazilah mengenai sifat-sifat Tuhan. Dari doktrin nomor satu yang berbunyi al Tauhid, Mu’tazilah jelas memandang bahwa Tuhan tidak memiliki sifat  yang melekat diluar dzatNya. Karena apabila hal itu ada akan berakibat banyaknya yang Qodim. Mereka juga menolak Jasmaniyah bagi Tuhan, karena akan timbul pengumpamaan dan pemiripan dengan zat yang lain.

D.  SIFAT ALLAH MENURUT ASY-‘ARIYAH
Al-asy’ariyah mempunyai pendapat tentang sifat-sifat Allah di antaranya al-alim,al-qudurat,al-sama,al-basar,al-hayah,iradah,dan lainnya.alasy’ariyah juga meyakini sifat Allah yang bersifat khobaruyah,khobariyah itu di artikan bahwa allah mempunyai tangan,kaki,wajah,betis,dan yang lainnya tanpa di tentukan bagaimananya.
Al-asy’ari,Allah mempunyai ilmu karena alam yang di ciptakan demikian teratur,alam tidak ada nada kecuali di ciptakan  oleh Allah yang memiliki ilmu.Argumrn ini di perkuat dalam quran Nisa surah 4 ayat 166.
Terjemahannya:tetapi allah menjadi saksi atas (al-quran) yang di turunkan kepadamu,(Muhammad)allah menurunkan dengan ilmu.menurut asyaari ayat tersebut menunjukan bahwa allah mengetahui dengan ilmu.Oleh karena itu,mustahil ilmu Allah itu zatnya.jika Allah mengetahui dengan zatnya,maka zatnya itu merupakan pengetahuan.
Dan mustahil al-alim(pengetahuan)merupakan alim(yang mengetahui)atau zatnya allah yang di artikan sifat sifatnya.mustahil jika allah mengetahui dengan zatnya sendiri karena demikian zatnya adalah prngetahuan,dalam paham al-asy’ariah sifat-sifat allah adalah sebagaimana yang tertera dalam quran dan hadis.sifat-sifat tersebut merupakan sifat-sifat yang sesuai dengan zat allah sendiri dan sekali-kali tidak menyerupai sifat-sifat makhluk.Allah melihat tidak seperti makhluk begitu pula allah mendengar tidak seperti makhluk.








                          
     BAB 3
KESIMPULAN

Sifat Allah menurut aliran Kalam memiliki artian yang luas dan memiliki problematika dalam setiap aliran ilmu kalam. Aliran aliran ini memiliki pandangan yang cukup berbeda dalam dan kompleks bagi setiap alirannya. Perbedaan pendapat sering terjadi anatara aliran aliran ilmu kalam sehingga menimbulkan berbagai pendapat mengenai sifat sifat tuhan.
Menurut Kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Kaum Mu’tazilah memiliki lima doktrin populer yang disebut sebagai al Ushul al Khomsah. Kelima doktrin itu adalah Al Tauhid, Al ‘Adlu, Al Wa’d wa al Wa’id, Al Manzilah Bain al Manzilatain, Al Amr bin al Ma’ruf wa al Nahyu ‘an al Munkar.
Paham Al-Maturidi tentang makna sifat Tuhan cenderung mendekati paham Mu’tazilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan. Maturidiyah dibagi menjadi dua yaitu Maturidiah Bukhara  dan Maturidiah Samarkand.
Al-asy’ariyah mempunyai pendapat tentang sifat-sifat Allah di antaranya al-alim,al-qudurat,al-sama,al-basar,al-hayah,iradah,dan lainnya.alasy’ariyah juga meyakini sifat Allah yang bersifat khobaruyah,khobariyah itu di artikan bahwa allah mempunyai tangan,kaki,wajah,betis,dan yang lainnya tanpa di tentukan bagaimananya.
Sedangkan menurut ah Pandangan Ibnu Taimiyah tentang sifat-sifat Allah Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah disampaikan oleh Allah atau Rasulnya. Ibnu Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat Mutasyabihat. Menuntutnya ayat atau hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, denhgan catatan tidak men-jastimkan, tidak menyerupai dengan makhluk.
Menurut pemikiran Ahmad Ibn Hambal, (164-241 H), mengenai sifat Alloh ini, mengambil cara yng aman yakni dengan beriman kepada apa yang disebutkan al-Quran dan Sunnah Rasul SAW., tanpa memberikan ta’wil. Alloh memiliki sifat seperti yang dijelaskan al-Qur’an, yaitu Maha Esa dalam segala segi, tidak ada bilangan, tidak ada bagian.
.


DAFTAR PUSTAKA


Hasil Review 4 Tugas Ilmu Kalam SPI 2B 2018.



MAKALAH SEJARAH KERAJAAN SAMUDRA PASAI


Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
Tugas ini disusun untuk memenuhi matakuliah Sejarah Indonesia
Dosen pengampu: Irma Ayu Kartika Dewi, M.A.


Disusun Oleh:
Atta Bhika Khoir                    (173231037)
Ade Muis Ashari                     (173231043)
Puput Tri Lestari                     (173231040)
Rahmatika Amaylia Samawi (173231041)





PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Sistem kepemimpinan pada suatu masyarakat sudah ada sejak manusia ini ada di dunia.  Sistem kepimpinan memiliki fungsi untuk mengatur kehidupan masyarakat. Selain itu suatu kepemimpinan juga mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pada umumnya masyarakat kerajaan akan mengikuti perintah dan pandangan hidup dari raja.
Pemimpin masyarakat merupakan seseorang yang memiliki jasa. Sehingga orang tersebut memiliki pengaruh dan pengikut. Orang yang berjasa pada masa kerajaan merupakan seseorang yang dianggap sakti oleh masyarakat. Kisah jasa orang sakti atau raja ditulis dan diabadikan dalam hikayat.
Samudera Pasai merupakan suatu kerajaan Islam kedua setelah kerajaan Islam. Pada mulanya Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaa Islam yang beraliran syiah. Kemudian datang alim ulama dari Mesir untuk mengajak raja Pasai agar memeluk Islam Sunni. Akhirnya raja Pasai mau memeluk Islam Sunni dan aktif berdakwah kepada masyarakat untuk memeluk Islam Sunni.
Raja merupakan seseorang yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Seorang raja yang memeluk suatu keyakinan juga akan diikuti oleh masyarakat. Maka pada makalah ini kita berusaha untuk membahas sejarah tentang pengaruh raja kerajaan Pasai dalam penyebaran agama Islam.  Selain itu dalam makalah ini juga membahas tentang sejarah kerajaan  Pasai secara umum.




  1. Rumusan Masalah
1.      Rumusan Masalah.
2.      Apa arti nama Samudera Pasai.
3.      Bagaimana Kerajaan Samudera Pasai berdiri.
4.      Bagaiaman peran raja Samudera Pasai dalam penyebaran Islam.
5.       Bagaimana kehidupan masyarakat Samudera Pasai.
6.      Mengapa Kerajaan Samudera Pasai dapat runtuh.
  1. Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui  arti nama Samudera Pasai.
2.      Mengetahui sejarah Kerajaan Samudera Pasai berdiri.
3.      Mengetahui peran raja Samudera Pasai dalam penyebaran Islam.
4.       Mengetahui kehidupan masyarakat Samudera Pasai.
5.      Mengetahui faktor keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai.















BAB I
PEMBAHASAN

A. Etimologi Nama Kerajaan Samudera Pasai
Nama lengkap Kerajaan Samudera Pasai adalah Samudera Aca Pasai yang berarti Kerajaan Samudera yang baik. (Daliman: 101). Namun penelusuran etimologi kata-kata Samudera Pasai itu sendiri sekiranya akan lebih memperjelas mengapa justru negeri itu bernama demikian. Nama Pasai berasal dari kata "sai", "tasi", "tasik", "tahi" berarti laut. Jadi Negeri Pasai adalah negeri yang terletak di tepi laut. Ini pun artinya sama dengan Samudera yang keduanya berarti negeri laut. Maka Negeri Pasai sama artinya dengan negeri Samudera yang keduanya berarti negeri yang di tepi laut, yang kemudian digabungkan menjadi Samudera Pasai. (Daliman: 102).
Kembali kepada nama Samudera Aca Pasai. Kata Samudera inilah yang kiranya kemudian dijadikan nama Sumatera seperti kita jumpai sekarang ini. Kata Sumatera mula-mula diperkenalkan oleh orang-orang Portugis. Nama sebelumnya ialah Pulau Perca. Musafir-musafir Cina menyebutnya Chin-Chou yang berarti Pulau Emas seperti dapat kita ketahui dari tulisan-tulisan pendeta I-tsing. Raja Kertanegara menamakan Pulau Sumatera itu sebagai Suwarnabhumi yang juga bermakna sebagai Pulau Emas. Sedang sebutan Aca yang artinya baik. (Daliman: 102).
B. Pendiri Kerajaan Samudera Pasai
Pendiri Kerajaan Samudera Pasai adalah Sultan Malik Al Saleh. Hal ini diketahui dengan prasasti yang terdapat dalam batu nisan makamnya yang menyatakan bahwa Sultan Malik Al Saleh ini meninggal pada bulan Ramadhan, tahun 676 H. Tradisi dari Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan asal-usul Sultan Malik Al Saleh. Sebelum menjadi raja dan bergelar sultan, raja ini semula adalah seorang marah yang bernama Marah Silu. Ayah Marah Silu yaitu Marah Gajah dan nama ibunya yaitu Putri Betung. Putri Betung meninggalkan dua orang putera yaitu Marah Sum dan Marah Silu. Mereka berdua meninggalkan tempat kediamanya dan mulai hidup mengembara. Marah Sum kemudian menjadi raja di Birun. Sedang Marah Silu akhirnya dapay merebut Rimba Jiran dan menjadi raja di situ.

C.  Letak Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai beribu kota di Pasai. Ibu Kota Pasai sendiri sekarang tidak ada lagi bekas-bekasnya. Kira-kira letak Pasai adalah di sekitar Negeri Blang Me sekarang. (Daliman: 101). Letak kerajaan ini lebih kurang 15 KM di sebelah timur Lhoksumawe, Nanggroe Aceh. (Abdul Haidi: 22). Salah satu sisi Kerarajaan Pasai berbatasan dengan Kerajaan Pirada. Di sisi lain kerajaan ini berbatasan dengan Negeri Batak. Wilayah Pasai tetbentang di sepanjang pesisir pantai. Perbatasannya yang terletak di pedalaman bersinggungan dengan wilayah Raja Manicopa,  yang memiliki akses ke laut di sisi yang berlawanan. Kedua wilayah ini kerap berperang satu sama lain. (Tome Pires: 201).
Tumbuhnya Kesultanan Samudera Pasai tidak dapat dipisahkan dari letak geografisnya yang senantiasa tersentuh pelayaran dan perdagangan internasional melalui Selat Malaka. Sejak abad VII-VIII para pedagang muslim dari Semenanjung Arabia, Persia, dan negeri-negeri di Timur Tengah lainnya mulai memegang peranan penting. Turut serta dalam jaringan pelayaran dan perdagangan internasional yang jaraknya lebih jauh yaitu dari Teluk Aden dan Teluk Persia, melalui Samudera Hindia dan Selat Malaka sampai Laut Cina Selatan. Perkembangan jaringan pelayaran dan perdagangan melalui Selat Malaka sejak berabad-abad tersebut disebabkan pula oleh upaya-upaya perkembangan kekuasaan di Asia Barat di bawah Dinasti Umayyah (661 M - 750 M). Asia Timur di bawah Dinasti Tang (618 M - 907 M). Asia Tenggara di bawah Kerajaan Sriwijaya (Abad VII - XIV). (Abdul Haidi: 21-22). Dengan timbulnya Kerajaan Samudera pasai maka Kesultanan Perlak mengalami banyak kemunduran. (Daliman: 105).
D.  Pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai
Raja pertama Kerajaan Pasai yaitu Marah Silu. Semula, Marah Silu adalah penganut agama Islam aliran Syiah. Kemudian Dinasti Mameluk di Mesir yang beraliran mazhab Syafii mengirimkan Syekh Ismail ke pantai timur Sumatera Utara bersama Fakir Muhammad pada tahun 1254. Di Samudera Pasai, Syekh Ismail berhasil menemui Marah Silu dan berhasil pula membujuknya untuk memeluk agama Islam mazhab Syafii. Kemudian Syekh Ismail menobatkan Marah Silu sebagai sultan pertama di Kerajaan Samudera Pasai dan bergelar Sultan Malik Al Saleh. Setelah Sultan Malik Al Saleh meninggal pada 1297, ia digantikan oleh puteranya yaitu Sultan Muhammad yang lebih dikenal dengan nama Sultan Malik Al Tahir. Sultan ini memerintah sampai tahun 1326. Kemudian ia digantikan oleh Sultan Ahmad Bahian Syah Malik Al Tahir. Pada tahun 1349, Sultan Ahmad Bahian Syah Malik Al Tahir meninggal dunia dan digantikan oleh puteranya yang bernama Sultan Zainal Abidin Bahian Syah Malik Al Tahir. Pada mulanya pemerintahan Sultan Zainal Abidin, Samudera Pasai banyak didapati suasana kekacauan. (Daliman: 106).


Para sultan Kesultanan Samudera Pasai yang memerintah kerajaan dari awal sampai runtuh yaitu:
1. Sultan Malik Al Saleh, wafat tahun 1297;
2. Sultan Muhammad Malik Zahir (1297-1326);
3. Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1383);
4. Sultan Zainal Abidin Malik Zahir (1383-1405);
5. Sultanah Nahriyah (1405-1412);
6. Abu Zain Malik Zahir (1412-?); dan
7. Mahmud Malik Zahir (1513-1524).
E. Kehidupan di Kerajaan Samudera Pasai
1. Sosial
Penduduk Kota Pasai tidak kurang dari 20.000 jiwa. Kota-kota yang lebih besar terletak di pedalaman. (Tome Pires: 201). Agama Islam yang berpengaruh pada waktu itu di pantai timur Sumatera Utara adalah agama Islam aliran Syiah. Untuk melenyapkan pengaruh Syiah dan mengganti Islam mazhab Syafii. Marah Silu kemudian mengganti nama menjadi Sultan Malik Al Saleh. Ia juga aktif berdakwah untuk memberantas aliran Syiah di Sumatera.
Pada masa pemerintahan Sultan Malik Al Saleh, kesultanan Samudera Pasai mungkin sudah mempunyai hubungan dengan Cina. Sebagaimana diberitakan dalam sejarah Dinasti Yuan bahwa pada tahun 1282 duta Cina bertemu dengan salah seorang menteri Kerajaan Sumatera yang meminta agar raja Sumatera (Samudera) mengirim dutanya ke Cina. Ternyata pada tahun itu ada dua orang utusan Samudera yang bernama Sulaiman dan Syamsuddin. Hubungan dengan negeri-negeri Timur Tengah selalu ada, bahkan pada sekitar tahun 1346 berdasarkan berita Ibnu Batutah (1304-1377), pengembara dari Maroko yang berkunjung pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik Zahir. (Abdul Hadi: 21).

                2. Ekonomi
Kehidupan Eknomi masyakarat Kerajaan Samudera Pasai berkaitan dengan perdagangan dan pelayaran. Hal itu disebabkan karena letak Kerajaan Samudera Pasai yang dekat dengan Selat Malaka yang menjadi jalur pelayaran dunia saat itu. Samudra Pasai memanfaatkan Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Pasai – Arab – India – Cina. Samudra Pasai juga menyiapkan bandar-bandar dagang yang digunakan untuk menambah perbekalan untuk berlayar selanjutnya, mengurus masalah perkapalan, mengumpulkan barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri, dan menyimpan barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia.
F. Kemunduran Kerajaan Pasai
Kemunduran kerajaan Samudera Pasai terjadi karena beberapa faktor antara lain:
1.      Faktor intern
a.       Tidak ada pengganti yang cakap dan terkenal setelah Sultan Malik At Thahrir.
Kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Malik At Tahrir, sistem pemerintahan Samudera Pasai sudah teratur baik, Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan internasional. Pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, China, dan Eropa berdatangan ke Samudera Pasai. Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin erat. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada.
Setelah Sultan Malik At Tahrir wafat tidak ada penggantinya yang cakap dalam meminmpin kerajaan Samudra Pasai dan terkenal, sehingga peran penyebaran agama Islam diambil alih oleh kerajaan Aceh. Kerajaan Samudera Pasai semakin lemah ketika di Aceh berdiri satu lagi kerajaan yang mulai merintis menjadi sebuah peradaban yang besar dan maju. Pemerintahan baru tersebut yakni Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Kesultanan Aceh Darussalam sendiri dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Aceh pada masa pra Islam, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura. Pada 1524, Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah menyerang Kesultanan Samudera Pasai. Akibatnya, pamor kebesaran Kerajaan Samudera Pasai semakin meredup sebelum benar-benar runtuh. Sejak saat itu, Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah kendali kuasa Kesultanan Aceh Darussalam.
b.      Terjadi perebutan kekuasaan
Pada tahun 1349 Sultan Ahmad Bahian Syah malik al Tahir meninggal dunia dan digantikan putranya yang bernama Sultan Zainal Abidin Bahian Syah Malik al-Tahir. Bagaimana pemerintahan Sultan Zainal Abidin ini tidak banyak diketahui. Rupanya menjelang akhir abad ke-14 Samudra Pasai banyak diliputi suasana kekacauan karenaa terjadinya perebutan kekuasaan, sebagai dapat diungkap dari berita-berita Cina. Beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Samudra Pasai, yaitu pemberontakan yang dilakukan sekelompok orang yang ingin memberontak kepada pemerintahan kerajaan Samudra Pasai. Karena pemberontakan ini, menyebabkan beberapa pertikaian di Kerajaan Samudra Pasai. Sehingga terjadilah perang saudara yang membuat pertumpahan darah yang sia-sia. Untuk mengatasi hal ini, Sultan Kerajaan Samudra Pasai waktu itu melakukan sesuatu hal yang bijak, yaitu meminta bantuan kepada Sultan Malaka untuk segera menengahi dan meredam pemberontakan. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun1521 yang sebelumnya telah menaklukan Malaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.
2.      Faktor Ekstern
a.       Berdirinya Bandar Malaka yang Letaknya Lebih Strategis
Tercatat, selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.
Letak geografis kerajaan samudera pasai terletak di Pantai Timur Pulau Sumatera bagian utara berdekatan dengan jalur pelayaran internasional (Selat Malaka). Letak Kerajaan Samudera Pasai yang strategis, mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Namun Setelah kerajaan Samudra Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Malaka. Dengan beralihnya pusat perdagangan ke Bandar Malaka maka perekonomian di Bandar Malaka menjadi ramai karena letaknya yang lebih strategis dibanding bandar-bandar di Samudra Pasai.
b.      Kerajaan Samudera Pasai berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Aceh
Pasai ditaklukan dan di masukkan ke dalam wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan Lonceng Cakra Donya hadiah dari Raja Cina untuk Kerajaan Islam Samudera Pasai dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh). Namun demikian dari perjalanan sejarah Pasai antara akhir abad ke 13 sampai awal abad ke 16 memang menunjukkan Kerajaan Samudera Pasai muncul dan berkembang. Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai itu sendiri, tetapi lebih di titik beratkan dalam kesatuan zona Selat Malaka walaupun Kerajan Islam Samudera Pasai berhasil ditaklukan oleh Sultan Asli Mughayat Syah.



















BAB III
Penutup
  1. Kesimpulan
Kerajan Samudera Pasai merupakan kerajaan yang bercorak Islam kedua di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, kemudian Marah Silu mengganti namanya menjadi Sultan Malik Al Saleh. Sultan Malik Al Saleh aktif mengutus para dai untk menyebarkan Islam ke pelosok Sumatera. Dalam kepimpinan Sultan Malik Al Saleh, Kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat studi Islam di Nusantara karena berdatangan berbagai alim ulama dari timur tengah. Sealain itu kemudian Kerajaan Samudera Pasai mengalami perkembangan yang sangat pesat karena letaknya yang strategis yaitu di tepi laut sehingga menjadi Bandar perdagangan internasional. Namun pada akhirnya Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Setelah itu akhirnya Kerajaan Samudera Pasai runtuh akibat serangan dari Kerajaan Aceh.
  1. Saran
Dari sejarah Kerajaan Samudera Pasai dapat kita ambil pelajaran untuk saran kita pribadi dan orang lain yaitu tentang betapa pentingnya persatuan, baik persatuan dalam Negara maupun persatuan antar pemeluk agama. Kerajaan Pasai dapat runtuh Karena lemahnya persatuan. Bahkan kerajaan ini ditaklukan oleh kerajaan lain yang memiliki agama yang sama yaitu Islam. Maka sebagai generasi muda kita perlu memilki rasa persatuan yang kuat. Persatuan antar warga Negara Indonesia dan persatuan sebagai seorang muslim.





Daftar Pustaka


Daliman. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Ombak.
Hadi, Abdul. dkk. 2013.  Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid III. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.

Pires, Tome dan Fransisco Rodrigues. 2014. Suma Oriental Karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merake Cina dan Buku Fransisco Rodrigues. Yogyakarta: Ombak.


Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...