KERAJAAN SRIWIJAYA
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia sampai Abad IX
Dosen
: Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd, M.A
Disusun
oleh :
1. Sigit Yogatama (173231046)
2. Aviana Pramesti (173231052)
3. Erlin Fatmawati (173231067)
4. Muhammad Alfani Ilham (173231068)
JURUSAN SEJARAH
PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Wilayah Indonesia
terdiri dari pulau besar dan kecil yang dihubungkan oleh selat dan laut, hal
ini menyebabkan sarana pelayaran merupakan lalu lintas utama penghubung antar
pulau. Pelayaran ini dilakukan dalam rangka mendorong aktivitas perdagangan.
Pelayaran perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia, bukan hanya dalam wilayah
Indonesia saja, tetapi telah jauh sampai ke luar wilayah Indonesia.
Pelayaran dan
perdagangan di Asia semakin ramai setelah ditemukan jalan melalui laut antara
Romawi dan China. Rute jalur laut yang dilalui dalam hubungan dagang China
dengan Romawi telah mendorong munculnya hubungan dagang pada daerah-daerah yang
dilalui, termasuk wilayah Indonesia. Karena posisi Indonesia yang strategis di
tengah-tengah jalur hubungan dagang China dengan Romawi, maka terjadilah
hubungan dagang antara Indonesia dan China beserta India.
Agama Hindu-Budha
diperkirakan masuk ke Indonesia pada awal penanggalan Masehi, dibawa oleh para
musafir dari India. Raja-raja dan para bangsawan yang pertama kali menganut
agama ini kemudian membangun kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha
seperti Kerajaan Kutai yang terletak di Kalimantan Timur, Kerajaan Tarumanegara
di Jawa Barat, Kerajaan Holing, Kerajaan Melayu di Sumatra Selatan dan berpusat
di Jambi, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Kediri, Kerajaan
Singasari, Kerajaan Bali dan Pajajaran, serta Kerajaan Majapahit.
Masing-masing kerajaan
tentu memiliki sejarah dan peninggalan-peninggalan yang harus kita ketahui.
Salah satunya adalah Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan yang terletak di Sumatera
Selatan dan beribukota di Palembang ini memiliki nilai sejarah yang tinggi
untuk kita ketahui, sejarah berdirinya, lokasi kerajaan, prasasti-prasasti
peninggalan, masa kejayaannya, maupun masa kemunduran
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah berdirinya Kerajaan Sriwijaya
beserta letaknya ?
2.
Pada masa siapa Kerajaan Sriwijaya mengalami
Kejayaan?
3.
Siapa saja raja yang berkuasa?
4.
Apa saja kemajuan di bidang ekonomi dan agama?
5.
Apa yang menyebabkan kerajaan Sriwijaya
mengalami kemunduran?
6.
Apa yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan?
7.
Apa sajakah peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya?
C. Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui sejarah berdiri dan letak Kerajaan
Sriwijaya.
2.
Mengetahui
raja yang menyebabkan sriwijaya mencapai kejayaan.
3.
Mengetahui raja-raja yang berkuasa.
4.
Mengetahui kemajuan di bidang ekonomi dan agama.
5.
Mengetahui factor yang menyebabkan kemunduran.
6.
Mengetahui penyebab runtuhnya Kerajaan
Sriwijaya.
7.
Mengetahui peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya
merupakan kerajaan yang berdiri di timur Sumatera pada abad VII. Kerajaan
Sriwijaya merupakan kerajaan Budha di Indonesia. Dalam bahasa Sanskerta, Sri
berarti “kemenangan” atau “kejayaan”, arti Sriwijaya adalah “kemenangan yang
gemilang”. Pusat kerajaan Sriwijaya berada di Palembang, di tepian Sungai Musi.
Ini menurut pendapat yang paling banyak berkembang di masyarakat. Perkembangan
kerajaan ini sangatlah pesat karena bisa menguasai hampir seluruh Asia
Tenggara. Ini karena beberapa factor yaitu (1) Kemajuan pelayaran dan
perdagangan antara India dan Cina melalui Selat Malaka, (2) letak Sriwijaya
yang strategis, berada di Sumatera Selatan terletak di tengah jalan laut India
dan Cina dan langsung berhadapan dengan Selat Malaka. Ini membuat Sriwijaya
menjadi kerajaan maritim terbesar di Indonesia pada waktu itu. (3) hancurnya
kerajaan Fu-nan di Indo-Cina pada awal abad VII, kerajaan ini dulunya termasuk
kerajaan penguasa maritim di kawasan Asia Tenggara.
B.
Masa Kejayaan Sriwijaya
Sriwijaya
mencapai kejayaan pada masa Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Sri Jayanaga terkenal
pandai dalam menyusun taktik perang dan ia sangat peduli dengan rakyatnya. Ia
sangat disegani oleh rakyatnya. Saat Dapunta Hyang Sri Jayanaga memerintah.
Kerajaan Sriwijaya meluas hampir seluruh Asia Tenggara. Ia pernah melakukan
ekspansi selama 8 tahun dengan 20.000 pasukan, tujuannya untuk memperluas
wilayah kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya terkenal dengan armada lautnya
sangat kuat, tak ada yang menandinginya pada masa itu.
C.
Struktur Pemerintahan beserta Raja-raja
Struktur
pemerintahan melalui beberapa prasasti adalah sebagai berikut :
1. Dapunta
Hyang (raja).
2.
Yuwaraja, pratiyuwaraja, raja kumara.
3. Samwarddhi
: pengangkatan menjadi datuk atau pegawai tinggi.
4. Rajaputra,
samantaraja : pegawai lain baik yang dipusat
atau pegawai daerah.
5. Senapati,
nayaka, pratyaya, hajipratyaya dandanoyaka
(hakim), murdaka : pegawai pelaksana hakim dan panglima perang.
6. Kumaramatya,cathachata,
adhikarana : martabat menteri (amatya).
7.
Kayastha, sthapaka (arsitek), puhawam, vaniyoga,
pratisara, marsi haji, hulun haji : pegawai
teknik.
Adapun raja-raja
yang berkuasa adalah :
1. Dapunta Hyang Sri Jayanaga (671)
2. Sri Indrawarman (702)
3. Rudra Vikraman (728)
4. Sri Maharaja (775)
5. Dharanindra (778)
6. Samaragrawira (782)
7. Samaratungga (792)
8. Balaputradewa (856)
9. Sri Udayaditya Warmadewa (960)
10. Sri Cudamani Warmadewa (988)
11. Sri Maravijayottungawarman (1008)
12. Sangramavijayottungawarman (1025)
13. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana
Warmadewa (1183)
D.
Bidang Ekonomi dan Agama
Bidang
ekonomi, sistem ekonomi yang digunakan sistem perekonomian dimana pendapatan
kerajaan diperoleh dari biaya penyebrangan dan bea cukai barang dagangannya.
Sriwijaya juga sering disebut gudang penitipan barang yang dibeli di Jawa, oleh
saudagar India dan Cina. Disini ekspor impor sangatlah mudah untuk dilakukan.
Selain itu, Sriwijaya juga memiliki hasil bumi yang lain seperti kapur barus,
cengkeh, kayu cendana, kayu gaharu, pala, gambir, kapulaga, dan masih banyak
lagi.
Bidang
agama, kebudayaan Sriwijaya semua bercirikan budha, sering sekali diadakan
acara persembahyangan untuk meminta kemakmuran. Sriwijaya sangat menghormati
keberagaman dan pengadilan yang tegas. Tidak ada yang bisa lolos dari hukuman
jika melakukan kesalahan, meskipun mereka yang bersalah merupakan kerabat
kerajaan.
E.
Kemunduran Kerajaan Sriwijaya
Kemunduran
kerajaan ini dipengaruhi karena factor politik dan ekomomi.
1.
Factor
politik
Muncul
kerajaan-kerajaan baru, ini membuat kerajaan Sriwijaya semakin terdesak.
Kerajaan-kerajaan ini juga mengembangkan perdagangan, dan menjadi saingan
kerajaan Sriwijaya. Seperti kerajaan Siam, di semanjung Malaka dan kerajaan ini
juga menguasai wilayah kerajaan Sriwijaya. Ini menjadikan kekuasaan Sriwijaya
berkurang. Ada juga kerajaan Singosari yang pada waktu itu dipimpimn oleh Raja
Kertanegara, ia melakukan ekspedisi di seluruh Nusantara. Ekspedisi ini disebut
sebagai Ekspedisi Pamalayu.
2.
Factor
Ekonomi
Banyak
pedagang-pedagang yang mengalihkan pusat dagangan mereka di kerajaan-kerajaan
lain, ini menyebabkan kerajaan Sriwijaya banyak pedagang berkurang. Mereka
berdagang di pesisir di kerajaan lain dan tidak melewati kerajaan Sriwijaya
lagi.
Dua
factor ini yang menyebabkan kerajaan Sriwijaya semakin sempit dan menjadi
kerajaan kecil. Hanya mencakup Palembang.
F. Runtuhnya
Kerajaan Sriwijaya
Runtuhnya
kerajaan ini karena adanya serangan dari kerajaan Cola (India) pada tahun 1024.
Tidak ada sebab apa-apa tiba-tiba menyerang begitu saja. Pada tahun 1030 mereka
menyerang kembali, dan membuat armada laut Sriwijaya lemah. Kekuatan militer
yang lemah ini menyebabkan juga banyak wilayah-wilayah yang melepaskan diri
dari Sriwijaya. Ditambah lagi, banyak pedagang yang tidak lagi singgah di
kerajaan Sriwijaya.
Pada
tahun 1377 M, tidak ada lagi kabar tentang Sriwijaya. Sriwijaya menjadi
kerajaan kecil sangat kecil hanya di Palembang. Pada saat itu bebarengan dengan
berdirinya kerajaan Majapahit yaitu kerajaan yang paling perkasa di Jawa.
G.
Bukti-bukti adanya kerajaan Sriwijaya
Pernah diketahui bahwa para
pedagang dari Negeri Cina seringkali singgah dan menyandarkan kapal-kapal
dagang mereka di perairan Kerajaan Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke
India dan Arab. Berita Cina yang juga menyebutkan pada abad ke-7 di Sumatra
telah terdapat beberapa kerajaan, antara
lain adalah : Kerajaan Tulang Bawang yang ada di Sumatra Selatan, Kerajaan
Melayu berada di Jambi, dan Kerajaan Sriwijaya.
Keberadaan
Kerajaan Sriwijaya ini tentu dapat diperoleh informasinya, misalnya, dari
cerita-cerita para pendeta Buddha dari Tiongkok, I-tsing. Pada tahun 671, Ia
pernah berangkat dari Kanton ke India, kemudian singgah terlebih dahulu di
Kerajaan Sriwijaya selama kurang lebih enam bulan untuk belajar bagaimana tata
bahasa Sanskerta. Pada tahun 685, dia kembali ke Kerajaan Sriwijaya dan menetap
selama empat tahun hanya untuk sekedar menterjemahkan berbagai kitab suci
Buddha dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Tionghoa. Karena dalam
kenyataannya, dia tidak dapat menyelesaikan sendiri pekerjaan itu, maka pada
tahun 689, dia pergi ke Kanton untuk mencari pembantu dan segera kembali lagi
ke Kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya, baru pada tahun 695, I-tsing pulang lagi ke
Tiongkok.
Diketahui
bahwa Kerajaan Sriwijaya pernah juga menjalin hubungan dengan Kerajaan dari
India, seperti Nalanda dan Colamandala bahkan Kerajaan Nalanda pernah
mendirikan prasasti yang menjelaskan tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya.
Berita
dari bangsa Arab pun menguatkan perihal keberadaan kerajaan Sriwijaya,
diceritakan dalam berbagai sejarah bahwa bangsa Arab seringkali berdagang
dipinggiran Sungai Musi. Bahkan ada beberapa pedagang yang menikahi para wanita
didaerah pesisir Sungai Musi, hingga kini pun masih ada beberapa perumahan atau
lebih dikenal dengan sebutan Kampung Arab disekitar perairan Sungai Musi.
Beberapa
peninggalan lainnya berupa candi, prasasti, artefak kuno, dan sebagainya
mengukuhkan keberadaan kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai Asia Tenggara.
Berikut beberapa peninggalan kerajaan Sriwijaya yang telah ditemukan;
1.
Gapura
Sriwijaya
Gapura Sriwijaya terletak di Dusun
Rimba, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Dalam situs
Gapura Sriwijaya ini terdapat 9 Gapura akan tetapi sampai saat ini baru
ditemukan sebanyak 7 gapura saja. Keadaan gapura pada situs ini sudah dalam
keadaan roboh karena kemungkinan disebabkan oleh faktor alam seperti erosi,
gempa dan lainnya. Reruntuhan Gapura Sriwijaya ini berbentuk bebatuan segi lima
memanjang dengan tanda cekungan bentuk oval ke dalam pada salah satu bagian
sisi batu. Tanda cekungan ini merupakan pengunci supaya batu bisa disatukan
atau ditempel.
2.
Candi Muara Takus
Berdasarkan dari hasil studi dan penelitian
yang dilakukan oleh J.L. Moens, Kerajaan Sriwijaya pada awalnya berpusat di
Kedah, lalu dipindahkan ke daerah pertemuan antara sungai Kampar Kanan dan
Batang Mahat di daerah Muara Takus. Di tempat itulah, terdapat adanya situs
Sriwijaya yang berupa Candi Muara Takus.
Dari Berita Negeri Cina diceritakan
bahwa pada ibukota Kerajaan Sriwijaya, saat orang yang sedang berdiri di tanah
lapang di tengah hari, maka ia tidak akan memiliki bayangan. Hal ini berarti
bahwa ibukota Sriwijaya berada tepat di daerah khatulistiwa. Karena Muara Takus
berada di daerah khatulistiwa. Moens menduga di situlah situs ibukota Kerajaan
Sriwijaya.
Arsitektur dari Candi Muara Takus
ini sangat unik sebab tidak ditemukan pada wilayah Indonesia yang lain dan
memiliki kesamaan bentuk dengan Stupa Budha di Myanmar, Vietnam serta Sri Lanka
sebab pada stupa mempunyai ornamen roda serta kepala singa yang hampir
ditemukan juga di semua kompleks Candi Muara Takus.
3.
Candi Muaro Jambi
Kompleks Candi Muaro Jambi
merupakan kompleks candi terluas di Asia Tenggara yakni seluas 3981 hektar dan
kemungkinan besar adalah peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya serta Kerajaan
Melayu. Candi Mauaro Jambi terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro
nJambi, Jambi, indonesia di tepi Batang Hari. Kompleks candi ini pertama kali
dilaporkan pada tahun 1824 oleh letnan inggris bernama S.C. Crooke saat
melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk keperluan militer. Kemudian pada
tahun 1975, pemerintah Indonesia melakukan pemugaran serius dipimpin oleh R.
Soekmono. Dari aksara Jawa Juno yang terdapat dari beberapa lempengan yang juga
ditemukan, seorang pakar epigrafi bernama Boechari menyimpulkan jika candi
tersebut merupakan peninggalan dari abad ke-9 sampai 12 Masehi.
Dalam
kompleks candi ini terdapat 9 buah candi yang baru mengalami proses pemugaran
yakni Gedong Satu, Kembar Batu, Kotomahligai, Gedong Dua, Tinggi, Gumpung,
Candi Astano, Kembang Batu, Telago Rajo dan juga Kedaton. Dalam kompleks Candi
Muaro Jambi tidak hanya ditemukan beberapa buah candi saja, namun juga
ditemukan parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam penampungan air dan juga
gundukan tanah yang pada bagian dalamnya terdapat struktur bata kuno. Dalam
kompleks candi ini setidaknya terdapat 85 buah menapo yang dimiliki oleh penduduk
setempat.
4.
Candi Bahal
Candi Bahal, Candi Portibi atau
Biaro Bahal merupakan kompleks candi Buddha dengan aliran Vajrayana yang ada di
Desa Bahal, kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera
Utara.
Candi ini terbuat dari material
bata merah yang pada bagian kaki candi terdapat hiasan berupa papan berkeliling
dengan ukiran tokoh yaksa berkepala hewan yang sedang menari. Wajah penari
tersebut memakai topeng hewan seperti upacara di Tibet dan diantara papan
tersebut ada hiasan berupa ukiran singa yang sedang duduk.
5.
Prasasti
Kedukan Bukit
Berpusat dari Muara Takus, dengan
kekuatan yang besar, tentara raja Kerajaan Sriwijaya menyerbu ke daerah
Palembang dan menguasainya. Hal itu diberitakan dalam prasasti Kedukan Bukit (tahun
682 Masehi). Kedukan Bukit berada di tepi sungai Talang dekat Palembang.
Prasasti tersebut berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno.
Prasati ini ditemukan di kota
Palembang pada tahun 605 SM/683 M. Sedangkan isi dari prasasti tersebut adalah
ekspansi 8 hari yang dilakukan oleh Raja Dapunta Hyang dengan 20.000 tentara
yang berhasil menaklukkan beberapa daerah sehingga Sriwijaya menjadi sangat
makmur.
6.
Prasasti Karang Brahi
Prasasti Karang Brahi yang
ditemukan di tepi Sungai Merangin, anak Sungai Batang Hari di Jambi Hulu tahun
686 Masehi, berisi tentang kutukan kepada mereka yang berani menentang titah
raja, seperti yang terdapat pada Prasasti Kota Kapur. Prasasti itu dibuat
setelah Kerajaan Sriwijaya menaklukkan Melayu pada tahun 685 Masehi, seperti
yang diceritakan oleh I-tsing.
7. Prasasti Talang Tuo
Prasasti yang ditemukan pada tahun
606 SM/684 M ini yang ditemukan di sebelah barat Palembang.Berbahasa Melayu
Kuno dengan huruf Pallawa (tahun 684 M) yang isinya menceritakan tentang
pembuatan Taman Sriksetra atas perintah Punta Hyang Sri Joyanasa demi
kemakmuran semua makhluk yang berada di Kerajaan Sriwijaya.Di samping itu juga
masih terdapat doa dan harapan yang menunjukkan sifat dan karakter dari ajaran
agama Buddha.
8.
Prasasti Kota
Kapur
Prasasti Kota Kapur yang ditemukan
dekat Sungai Menduk di Pulau Bangka bagian barat dan berangka tahun 686 Masehi
(pada tahun 608 SM/686 M). Prasasti Kota Kapur ini juga berisi sebuah kutukan
kepada mereka yang berbuat jahat, tidak tunduk dan jika tidak setia kepada raja
maka akan celaka. Pada prasasti tersebut juga dikatakan bahwa Kerajaan
Sriwijaya akan menghukum Bhumi Jawa yang tidak bersedia tunduk kepada Kerajaan
Sriwijaya.
Adapun
yang dimaksud dengan Bhumi Jawa adalah kerajaan Tarumanegara yang merupakan
saingan bagi Kerajaan Sriwijaya dalam dunia perniagaan. Berita dari Negeri Cina
selanjutnya telah menyatakan bahwa sejak tahun 666-669 Masehi Tarumanegara
mengirim utusan lagi kepada Kerajaan Cina. Hal itu karena batas lautan telah
dengan sengaja diblokir oleh Kerajaan Sriwijaya.
9.
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Telaga Batu, dekat kota
Palembang yang berbahasa Melayu Kuno dan bertuliskan Pallawa. Isinya adalah
berupa kutukan-kutukan terhadap siapa saja yang berani melakukan kejahatan dan
tidak taat kepada perintah raja Kerajaan Sriwijaya.
Kesimpulan
yang dapat diambil dari 1 candi dan dua prasasti lainnya adalah setelah Raja
Sriwijaya menguasai daerah Palembang, maka raja berusaha untuk mendapatkan
simpati para penduduk wilayah baru ini dengan cara mendirikan taman yang dapat
menyenangkan hati para penduduknya.
Namun,
pada akhirnya masih tetap saja terdapat rasa ketidak adilan dan mereka berusaha
untuk menentang politik sang raja Kerajaan Sriwijaya itu, sehingga raja menjadi
sangat marah dan mengeluarkan ancaman terhadap siapa saja yang berani menentang
titah raja dan kepada siapa saja yang tidak taat kepada perintahnya.
Prasasti
ini sama sekali tidak terdapat angka tahunnya. Prasasti Telaga Batu ini berisi
tentang adanya ancaman atau kutukan terhadap para pelaku kejahatan dan para
pelanggar perintah dari sang raja.
10.
Prasasti Palas di Pasemah
Prasasti Palas Pasemah yang
ditemukan di tepi anak Sungai Sekampung, Lampung Selatan, diperkirakan dibuat
pada akhir abad ke-7. Isi dari Prasasti Palas Pasemah adalah hampir sama
seperti Prasasti Kota Kapur dan Karang Brahi, yaitu berisi tentang keberhasilan
Kerajaan Sriwijaya dalam menduduki Lampung Selatan dan berupa kutukan dan
peringatan. Dengan demikian, daerah Lampung Selatan sudah benar-benar dikuasa
oleh Kerajaan Sriwijaya.
11.
Prasasti Hujung Langit
Prasasti
Hujung Langit, yang lebih dikenal juga dengan nama Prasasti Bawang ini adalah
sebuah prasasti batu yang telah ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung,
Indonesia. Aksara yang digunakan pada prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa
Melayu Kuno. Tulisan pada prasasti ini sudah sangat tidak jelas, namun masih
tetap bisa teridentifikasi angka tahunnya 919 Saka atau 997 Masehi.
12.
Prasasti Ligor
Prasasti Ligor adalah prasasti yang
terdapat di Ligor (sekarang Nakhon Si Thammarat, selatan atau Thailand).
Prasasti ini berupa batu pahatan yang ditulis pada dua sisi, bagian pertama
disebutkan bahwa prasasti Ligor sisi depan atau dikenal juga dengan nama
manuskrip Viang Sa sedangkan pada bagian lainnya disebut dengan prasasti Ligor
sisi belakang.
13.
Prasasti
Leiden
Prasasti
Leiden juga menjadi peninggalan bersejarah Kerajaan Sriwijaya yang ditulis pada
lempengan tembaga dalam bahasa Sansekerta serta Tamil dan pada saat ini
Prasasti Leiden ada di museum Belanda dengan isi yang menceritakan tentang
hubungan baik dari dinasti Chola dari Tamil dengan dinasti Sailendra dari
Sriwijaya, india Selatan.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Kerajaan
Sriwijaya merupakan kerajaan yang berdiri di timur Sumatera (Palembang) pada
abad VII. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Budha di Indonesia. Mengalami
kemajuan pada masa Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Kerajaan ini merupakan kerajaan
maritim terbesar di Asia Tenggara. Hasil ekonomi didapat dari biaya
penyebrangan dan bea cukai barang dagangan. Banyak juga hasil bumi yang mereka
miliki sendiri seperti kapur barus, cengkeh, kayu cendana, kayu gaharu, pala,
gambir, kapulaga, dan masih banyak lagi. Kerajaan ini juga mempunyai armada
yang begitu kuat dan memiliki wilayah yang begitu luas.
14.
Kerajaan
Sriwijaya mengalami kemunduran karena diserang kerajaan Cola yang dulunya
bersahabat. Armada laut pun melemah dan banyak wilayah-wilayah yang memisahkan
diri dari Kerajaan Sriwijaya. Factor lainnya adalah ada banyak kerajaan baru
yang muncul seperti kerajaan Siam dan kerajaan Majapahit di Jawa. Bukti-bukti
peninggalan kerajaan Sriwijaya sangat banyak seperti Gapura
Sriwijaya, Candi
Muara Takus, Candi Muaro Jambi, Candi Bahal, Prasasti
Kedukan Bukit, Prasasti Karang Brahi, Prasasti Talang Tuo, Prasasti Kota Kapur,
Prasasti Telaga Batu, Prasasti Palas di Pasemah, Prasasti Hujung
Langit, Prasasti Ligor, Prasasti Leiden, dll
DAFTAR PUSTAKA
Suwardono. 2013. Sejarah Indonesia Masa Hindu Budha.Yogyakarta
: Penerbit Ombak.
No Name. 2017. “Berita dan Bukti Sejarah Peninggalan
Kerajaan Sriwijaya di Nusantara”. http://sejarahlengkap.com/indonesia/kerajaan/peninggalan-kerajaan-sriwijaya
akses jam 22:00, Sabtu 03 Maret 2018
Maressa. 2017. “13 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya Beserta Ganbarnya”. https://warisansejarahnusantara.blogspot.co.id/2017/08/berita-dan-bukti-sejarah-peninggalan.html
akses jam 22:00, Sabtu 03 Maret 2018
Widyatmoko.
“Kerajaan Sriwijaya”. https://widyatmoko.staff.gunadarma.ac.id/
akses jam 08:38, Jum’at 02 Maret 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar