Jumat, 09 Maret 2018

MAKALAH KERAJAAN TARUMANEGARA


KERAJAAN TARUMANEGARA
Dosen Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.

Disusun Oleh :
Ade Muis Ashari                     173231043
Hendri                                     173231058
Atik Septiani                           173231060
Apriska Trifiana .R.                173231069

Jurusan Sejarah Peradaban Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Institut Agama Islam Negeri Surakarta
 2018



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kerajaan-kerajaan di Indonesia mengalami perlembangan yang mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat. Perkembangan tersebut karena adanya kerajaan-kerajaan Hindu, Buddha, maupun Islam. Pada saat kerajaan-kerajaan tetsebut berkembang, agama yang pertama masuk ke Indonesia adalah agama Hindu, kemudian mulai dan terus berkembang sampai kerajaan-kerajaan Islam muncul.
Ada banyak kerajaan-kerajaan baik itu Hindu, Buddha, maupun Islam sendiri. Pada kerajaan Hindu salah satunya yaitu kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini berdiri sekitar abaf kelima dan keenam. Banyak hal yang perlu diketahui tentang kerajaan tersebut, agar kita faham bagaimana kehidupan pada masa kerajaan-kerajaan dahulu, peninggalannya, sejarah berdirinya, dan sebagainya.
B. Rumusan Masalah
        A. Bagaimanakah Masa Awal Kerajan Tarumanegara
        B.Siapa sajakah Raja-Raja Kerajaan Tarumanegara
         C. Apa sajakah Sumber (peninggalan) Kerajaan Tarumanegara
         D. Bagaimanakah Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara

C. Tujuan Masalah
A. Dapat mengetahiu Masa Awal Kerajan Tarumanegara
B. Dapat mengetahui Raja-Raja Kerajaan Tarumanegara
C. Dapat mengetahui Sumber (peninggalan) Kerajaan Tarumanegara
D. Dapat mengetahui Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Awal masa Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan kedua tertua yang terdapat di Indonesia setelah kerajaan kutai Kerajaan ini berdiri dari abad ke-4 sampai abad ke-7. Menurut catatan sejarah Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan beraliran agama Hindu.
Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Kerajaan ini adalah kelanjutan sejarah Kerajaan Salakanegara yang berdiri antara tahun 130 M sampai 362 M. Pada saat Kerajaan Tarumanegara berdiri diawali dengan pemindahan ibukota negara dari Salakanegara ke Tarumanegara. Sedangkan Salakanegara menjadi kerajaan daerah dibawah Kerajaan Tarumanegara.
Kerajaan Tarumanegara terletak di daerah Salakanegara. Lebih detailnya berada di daerah Banten dan Bogor. Ibukotanya Sundapura. Menurut prasasti Tugu pada tahun 417 M daerah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara meliputi Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.
B.     Raja-Raja Kerajaan Tarumanegara
Adapun Raja-Raja yang pernah memimpin Kerajaan Tarumanegara, yaitu sebagai berikut ;
1. Jayasingawarman (mp. 358-382 M)
Pendiri kerajaan Tarumanagara, dengan gelar Rajadirajaguru Jayasingawarman Gurudharmapurusa, yang memerintah selama 24 tahun (358-382 M).
Pada awalnya ia merupakan pewaris tahta Salakanagara, menggantikan mertuanya, raja DewawarmanVIII. Tetapi setelah ia berkuasa pusat pemerintahan dipindahkan dari Rajatapura ke Tarumanagara, sehingga kemudian nama salakanagara berubah menjadi Tarumanagara. DanSa lakanagarapun secara  otomatis menjadi negara bawahan Tarumanagara.
Jayasaingawarman merupakan  seorang maharesi dari Salankayana di India, yang mengungsi ke daerah pasundan, karena daerahnya diserang dan ditaklukan  maharaja Samudragupta dari kerajaan magada, yang mengungsi ke wilayah tanah Sunda.
Tidak seperti penguasa-penguasa salakanagara, keberadaan Jayasingawarman jelas tertulis dalam prasasti Tugu, yang ditemukan di desa Cilincing Jakarta.  Pada parsasti ini ia disebut gelarnya saja, Rajadi  rajaguru, bersama  dua raja sesudahnya, Rajarsi dan Purnawarman.
Berdasar keterangan prasasti Tugu, setelah wafat pad tahun 382 M, Abu jenazahnya dilarungkan (dihanyutkan)  di sungai Gomati (sekitar bekasi), maka itu kemudian dikenal sebagai Sang Lumahing Gomati. Ia lalu digantikan oleh anaknya, Rajarsi (rajaresi) Dharmayawarmanguru.
2. Dharmayawarman (mp. 382-395 M)
Dharmayawarman atau lengkapnya Rajarsi (Rajaresi) Dharmayawarmanguru yang  berkuasa di Tarumanagara dari tahun 382-395 M, menggantikan ayahnya, Jayasingawarman. Dinamakan Rajarsi  dan guru karena ia juga pemimpin agama.
Setelah meninggal ia dikenal  dengan nama Lumah  ri Chandrabaga karena dipusarakan di sungai Chandrabaga. Ia mempunyai  2 orang anak laki-laki dan seorang perempuan,. Putra pertamanya bernama  Purnawarman, yang kemudian menggantikannya
3. Purnawarman (395-434 M)
Purnawarman merupakan raja ke-3 dan Raja terbesar Tarumanagara, yang memerintah selama 39 tahun (antara tahun 395 hungga 434 M). Ia naik tahta Tarumanagara menggantikan ayahnya, Dharmayawarman, dengan gelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaarakrama Suryamahapurusa Jagatati atau Sang Pramdara Saktipurusa.
Zaman Purnawarman merupakan zaman keemasan tarumanagara. Banyak prasasti memuat kebesaran namanya. Setidaknya ada 7 prasasti yag berkaitan dengannya.
Dalam memerintah ia dibantu adiknya, Cakrawarman, yang menjadi panglima perang (didarat). Sedangkan pamanya, Nagawarman menjadi panglima angkatan laut. Dari prameswarinya, ia mempunyai beberapa anak laki-laki dan perempuan. Diantaranya Wisnuwarman, yang kemudian menggantikannya.
Setelah meninggal, ia digelari Sang Limahing  Tarumanadi, karena abu jenazahnya di larungkan di Sungai Citarum, dan tahta selalunjutnya jatuh kepada anak sulungnya, Wisnuwarman.
4. Wisnuwarman (434-455 M
Wisnuwarman menggantikan ayahnya, Purnawarman dan berkuasa  di tarumanagara dari tahun 434 sampai dengan 455 M, dengan gelar  Sri Maharaja Wisnuwarman Iswara Digwijaya  Tunggal Jagatpati.
Wisnuwarman dinobatkan pada tanggal 14 paro terang bulan posdya tahun 356 saka (434 M). Tiga tahun setelah penobatannya, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh pamannya,  Cakrawarman, mahapatih di era ayahnya, (adik Purnawarman).  Cakrawarman merasa bahwa dirinya yang lebih pantas dari Wisnuwarman sehingga memberontak selama 28 hari dari tanggal 14 parogelap bulan asuji sampai dengan 11 parogelap bulan kartika 350 saka atau bertepatan dengan 21 okteober sampai 18 november 437 M, tetapi gagal, dan dapat ditumpas.
Wisnuwarman berkuasa selama 21 tahun (dari tahun 434-455 M). Prameswarinya bernama Suklawarmandewi, adik raja Bakulapura. Suklawarmandewi tidak memberinya keturunan,karena keburu meninggal akibat sakit. Yang menjadi prameswari selanjutnya adalah Suklawatidewi, putri Wiryabanyu yang terkenal kecantikaannya. Dari Suklawatidewi ini, Wisnuwarman  memiliki beberapa putra. Putra sulungnya, yang bernaa Indrawarman kemudian menggantikannya.




5. Indrawarman (mp. 455-515 M)
Idrawarman mennjadi penguasa Tarumanagara ke-6, menggantikan ayahnya, Wisnuwarman, yang bergelar  Sri Maharaja Indrawarman Sang paramartha Saktimahaprabhawa lingga Triwikrama bhuwanatala, dan berkuasa selama 60 tahun (dari tahun 455- 515 M).
Setelah meninggal, ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Canrawarman.
6. Candrawarman (mp. 515-535 M)
Merupakan penguasa ke-6 Tarumanagara, menggantikan ayahnya, Indrawarman, dengan gelar Sri Maharaja Chandrawarman Sang Hariwangsa Purusasakti Suralagawageng Paramartha, yang bertahta dari tahun 515-535 M.
Pada masanya menurut naskah Wangsakerta  (pustaka Jayadhipa), banyak memberikan keleluasaan penguasa daerah dalam mengelola daerahnya (otonomi).  Pada masa Candrawarman ini banyak penguasa yang menerima kekuasaanya didaerahnya sendiri karena kesetiaanya kepada Tarumanagara.
Candrawaran kemudian digantikan oleh anaknya, Suryawarman.
7. Suryawarman (535-561 M)
Merupakan penguasa Tarmunagara yang ke-7, menggantikan ayahnya, Candrawarman. Ia banyak mengikuti kebijakan ayahnya dalam memberikan otonomi yang luas kepada daerah kekuasaanya.
Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja-raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan  perhatiannya ke daerah timur.
Misalnya pada tahun 526 M, Manikmaya, menantunya, mendirikan kerajaan baru di daerah kendan (daerah Nagreg, suatu daerah antara Bandung dan Garut). Sedang putra Manikmaya yang bernama Suraliman, tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumanagara, dan kemudian menjadi panglima angkatan perang kerajaan.
Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika  cicit (bao) Manikmaya, Wretikandayun, mendirikan kerajaan galuh., pada tahun 612 M.
8. Kertawarman (561-628 M)
Kertawarman naik tahta Tarumanagara menggantikan maharaja Suryawarman. Ia berkuasa dari tahun 561 hingga 628 M. Ia kemudian digantikan oleh sudhawarman
9. Sudhawarman (628-639 M)
Sudhawarman menjadi penguasa Tarumanagara ke-9, yang berkuasa dari tahun 628-639 M. Pada masanya diwilayah timur mulai berkembang kerajaan Galuh, yang didirikan oleh cicit Suryawarman, Wretikandayun.
Pada Sudhawarman sudah nampak kemunduran dari tarumanagara, hal ini diperparah oleh penggantinya, Dewamurti yang terkenal sebagai pengauasa yang kejam, dan tanpa belas kasih.
10. Hariwangsawarman (639-640 M)
Hariwangsawarman atau dewamurti naik tahta Tarumanagara ke10, menggantikan Sudhawarman.  Dewamurti dianggap sebagai penguasa yang kasar dan tanpa belas kasih (kejam), hingga akhirnya ia dibunuh oleh Brajagiri, anak angkat Kertawarman, raja tarmanagara ke-8, yang ia permalukan. Brajagiri sendiri tewas dibunuh oleh Sang Nagajaya menantu Dewamurti.
11. Nagayawarman (640-666 M)
Nagajaya mewarisi tahta  dari mertuanya, dEwamurti  hariwangsawarman, dengan gelar Maharaja Nagajayawarman Darmastya Cupjayasatru. Ia berasal dari Cupunagara, kerajaan bahahan Tarumanagara.
Nagajayawarman memerintah  Tarumanagara  sejak tahun 562-588 saka (640-666 M). Setelah ia wafat kemudian digantikan oleh Linggawarman.  
12. Linggawarman (mp. 666-669 M)
Linggawarman  dinobatkan sebagai raja Traumanagara ke-12, menggantikan Nagajayawarman, dengan gelar Srimaharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi. Ia merupakan raja terakhir Tarumanagara, yang memerintah hanya 3 tahun  dari tahun 666 hingga 669 M.
Ia menikah dengan Dewi Ganggasari dari Indraprahasta, suatu kerajaan otonom di daerah Cirebon sekarang. Dari Ganggasari, ia memiliki  2 anak, yang keduanya perempuan. Yang pertama, Dewi Manasih, menikah dengan Tarusbawa dari Sundasambawa. Sedang yang kedua, Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri Jayanasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya.
Setelah ia meninggal dunia, kekuasaan jatuh ke tangan  menantunya, tarusbawa. Dan tarausbawa ini kemudian memidahkan ibukotanya, di sekitar sungai Pakancilan.

Transisi Tarumanagara ke Kerajan Sunda
Tarumanagara hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Raja terakhir Linggawarman tidak mempunyai  anak laki-laki. Ia mempunyai 2 anak laki-laki. Ia mempunyai 2 anak perempuan, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua, Subakancana menjadi istri Depuntahyang Srijayanasa, pendiri kerajaan Sriwijaya.
Tarusbawa (mp. 669-723 M), yang berasal dari kerajaan Sunda Sumbawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa  tarumanagara ke-13. Karena pamor Tarumanagara, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dengan demikian sejak tahun 670 M, nama kerajaan Tarumanagara berubah menjadi kerajaan Sunda.
 C. Sumber (peninggalan) Kerajaan Tarumanegara
            Ada dua sumber sejarah yang digunakan bagi kerajaan Tarumanegara, yakni sumber sejarah dan juga sumber berita dari Cina yaitu sebagai berikut :
1.      Sumber sejarah
Sumber sejarah yang dapat digunakan oleh Kerajaan Tarumanegara ada 2 macam, yaitu ;
a.      Sumber Prasasti
Prasasti-prasasti dari kerajaan Tarumanegara berjumlah 7 buah, yaitu ;
·         Prasasti Ciaruteun (Ciampea-Bogor)
·         Prasasti Tugu (dekat Tanjung Priok)
·         Prasasti Cianghiang (Kampung Lebak-Munjul)
·         Prasasti Tapak Pasir awi dan Muara Cianten (daerah Ciampea Bogor)
·         Prasasti Kebon Kopi (Muara Hilir-Cibungbulang)
·         Prasasti Pasir Koleangkak (sebelah barat Bogor)
Huruf yang dipakai dalam prasati Tarumanegara adalah huruf Pallapa dan bahasa Sansekerta dalam bentuk Metrum (syair). Berikut ini sedikit penjelasan peninggalan prasasti- prasasti Kerajaan Tarumanegara beserta gambarnya :
PRASASTI CIENTEUN
Prasasti Cienteun ditemukan di Sungai Ciaruteun. Yang menarik perhatian dari prasasti ini adalah adanya likusan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan di sebelah atas hurufnya, adapun pendapat sebagian sarjana itu adalah tulisan nama Raja yaitu Purnawarman, tulisan yang berbentuk puisi terdiri dari 4 baris yang ditulis dalam bentuk metrum india, yang berbunyi ;
Vikkantasyavanipateh
Srimatah purnnavarmmanah
Tarumanegarendrasya
Vishnoriva padadvayam
Artinya : “ini (bekas) 2 kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang mulia sang Purnawarman, raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia (Poerbatjaraka, 1952:12)”









PRASASTI TUGU
Prasasti terpanjang sepanjang ditemukan mengenai Kerajaan Tarumanegara. Prasasti ini ditemukan di Tugu, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Dioahat pada batu bulat panjang melingkar.
pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau// pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana// prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka// pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//.
Artinya : “Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) dia pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan Caitra,jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”.



PRASASTI CIANGHIYANG
Prasasti Cianghayang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.
Isi teks dari Prasasti Cidanghiyang tersebut kurang lebih seperti ini.
Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya
Parakramah narendra ddhvajabhutena/
Srimatah purnnawvarmanah
Artinya :“Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan
Keberanian yang sesungguhnya dari raja
dunia, yang mulia Purnawarman yang
menjadi panji sekalian raja-raja”

PRASASTI TAPAK PASIR ALWI
Prasasti Muara Cianten atau  Prasasti Tapak Pasir Alwi, ditemukan di Bojong Honje Sukamakmur Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
PRASASTI KEBON KOPI
Prasasti Kebon Kopi ditemukan di Kampung Cibungbulan Bogor tepatnya di Kampung Muara Hilir. Istimewanya prasasti ini karena terdapat sepasang tapak kaki gajah. Tapak kaki gajah ini digambarkan sebagai tapak kaki Maharaj Purnawarman. Gajah adalah hewan yang disakralkan dan dekat dengan Dewa Wisnu yang konon diibaratkan adalah pencitraan Maharaj Purnawarman.
PRASASTI KOLEANGKAK
Prasasti Pasir Koleangkak juga disebut Prasasti Jambu karena di temukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu. Tepatnya 30 km sebelah barat kota Bogor. Isinya tertulis memuji kebesaran Raja Purnawarman beserta gambar telapak kaki.
2. Sumber Berita Cina
a. Berita dari Fa-Hsien, seorang musafir Cina yang terdampar di Yepoti (Yawadhipa/Jawa) tepatnya Tolomo (Taruma) pada tahun 414.
b. Berita dari Dinasti Song Awal (Liu Song) yang menyatakan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari negeri Tolomo (Taruma) yang terletak disebelah selatan.
c. Berita dari Dinasti Tang Muda yang menyebutkan tahun 666 dan tahun 669 datang lagi utusan dari Tolomo (Taruma).

D. Masa Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara
Keruntuhan Kerajaan tarumanegara jarang diketahui. Bahkan dalam berbagai prasasti hanya menyebutkan nama Maharaja Purnawarman. Hal yang paling memungkinkan adalah ketika Raja Linggawarman turun tahta. Beliau digantikan oleh menantunya Tarusbawa. Tarusbawa yang saat itu naik tahta ketika pamor Kerajaan Tarumanegara sudag turun berniat untuk membangkitkan nama besar kerajaan mertuanya. Namun Langkah yang diambil justru menghilangkan Kerajaan Tarumanegara.
Dalam tahun 670 M. Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa, merubah nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa itu membuat Wretikandayun, cicit Manikmaya yang saat itu menjadi Raja Kerajaan Galuh memisahkan negaranya dari Tarusbawa.
Pemisahan ini juga mendapat dukungan dari Kerajaan Kalingga. Karena saat itu putera mahkota Kerajaan Galuh Sanna menikah dengan Sanaha Puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga, Jepara Jawa Tengah. Dukungan tersebut membuat Wretikandayun meminta untuk wilayah Kerajaan Tarumanegara dibagi dua. Karena ingin menghindari perang saudara, maka Raja Tarusbawa memecah wilayah Kerajaan Tarumanegara menjadi wilayah Kerajaan Sunda dan wilayah Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batasnya.
Jadi disimpulkan Kerajaan Tarumanegara hanya memiliki 12 Raja sampai Kerajaan Tarumanegara berubah menjadi Kerajaan Sunda.







BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua kedua di Indonesia setelah kerajaan Kutai. Kerajaan Hindu ini berdiri dari abad ke 4 sampai abad ke 7. Kerajaan Tarumanegara didirikam oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Dan setiap kerajaan pastilah mempunyai pemimpin dalam setiap periodenya.
Adapun raja-raja yang pernah memimpin kerajaan Tarumamegara yaitu Raja Jayasingawarman, Raja Dharmayawarman, Raja Purnawarman, Raja Wisnuwarman, Raja Indrawarman, Raja Candrawarman, Raja Suryawarman, Raja Kertawarman, Raja Sudhawarman, Raja Hariwangsawarman, Raja Nagayawarman, dan Raja Linggawarman. Setelah raja Linggawarman ini turun tahta, beliau digantikn oleh menantunya, Tarusbawa. Tarusbawa yang berniat ingin membangkitkan nama kerajaan Tarumanegara yang pada waktu itu sudah agak turun, ternyata lamgkah yang diambil oleh Tarusbawa ini justru malah menghilangkan kerajaan Tarumanegara tersebut. Tarusbawa yang berasal dari Sunda Sambawa ini merubah nama kerajaan Tarumanegara menjadi kerajaam Sunda.
Sumber-sumber kerajaan Tarumanegara ada dua yaitu sumber prasasti dan sumber berita cina. Sumber prasasti yaitu terdiri dari tujuh prasasti, yakni prasasti ciateureun, prasasti jambu, prasasti kebon kopi, prasasti muara cianten, prasasti pasir awi, prasasti cidanghayang, dan prasasti tugu. Adapun sumber berita dari cina yaitu berita dari Fa-Hsien, dari Dinasti Song Awal, dan dari Dinasti Tang Muda.


Daftar Pustaka

Suwardono.2013. Sejarah Indonesia Masa Hindhu-Buddha.Yogyakarta: Penerbit Ombak.
http://sundalangeografi.blogspot.co.id/2015/11/raja-raja-tarumanegara-yang-                                      pernah.html?m=1 diakses tanggal 3 Maret 2018




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...