KERAJAAN TARUMANEGARA
Dosen Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.
Disusun
Oleh :
Ade
Muis Ashari 173231043
Hendri 173231058
Atik
Septiani 173231060
Apriska
Trifiana .R. 173231069
Jurusan Sejarah Peradaban Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Institut Agama Islam Negeri Surakarta
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kerajaan-kerajaan di Indonesia
mengalami perlembangan yang mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Perkembangan tersebut karena adanya kerajaan-kerajaan Hindu, Buddha, maupun
Islam. Pada saat kerajaan-kerajaan tetsebut berkembang, agama yang pertama
masuk ke Indonesia adalah agama Hindu, kemudian mulai dan terus berkembang
sampai kerajaan-kerajaan Islam muncul.
Ada banyak kerajaan-kerajaan baik
itu Hindu, Buddha, maupun Islam sendiri. Pada kerajaan Hindu salah satunya
yaitu kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini berdiri sekitar abaf kelima dan
keenam. Banyak hal yang perlu diketahui tentang kerajaan tersebut, agar kita
faham bagaimana kehidupan pada masa kerajaan-kerajaan dahulu, peninggalannya,
sejarah berdirinya, dan sebagainya.
B.
Rumusan Masalah
A. Bagaimanakah Masa Awal Kerajan
Tarumanegara
B.Siapa sajakah Raja-Raja
Kerajaan Tarumanegara
C. Apa sajakah Sumber (peninggalan) Kerajaan
Tarumanegara
D. Bagaimanakah Runtuhnya Kerajaan
Tarumanegara
C.
Tujuan Masalah
A. Dapat mengetahiu Masa Awal Kerajan Tarumanegara
B. Dapat mengetahui Raja-Raja Kerajaan Tarumanegara
C. Dapat
mengetahui Sumber (peninggalan) Kerajaan Tarumanegara
D. Dapat
mengetahui Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Awal masa Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan
Tarumanegara adalah kerajaan kedua tertua yang terdapat di Indonesia setelah
kerajaan kutai Kerajaan ini berdiri dari abad ke-4 sampai abad ke-7. Menurut catatan
sejarah Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan beraliran agama Hindu.
Kerajaan
Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M.
Kerajaan ini adalah kelanjutan sejarah Kerajaan Salakanegara yang berdiri
antara tahun 130 M sampai 362 M. Pada saat Kerajaan Tarumanegara berdiri
diawali dengan pemindahan ibukota negara dari Salakanegara ke Tarumanegara.
Sedangkan Salakanegara menjadi kerajaan daerah dibawah Kerajaan Tarumanegara.
Kerajaan
Tarumanegara terletak di daerah Salakanegara. Lebih detailnya berada di daerah
Banten dan Bogor. Ibukotanya Sundapura. Menurut prasasti Tugu pada tahun 417 M
daerah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara meliputi Banten, Jakarta, Bogor dan
Cirebon.
B.
Raja-Raja Kerajaan Tarumanegara
Adapun Raja-Raja yang pernah memimpin
Kerajaan Tarumanegara, yaitu sebagai berikut ;
1.
Jayasingawarman (mp. 358-382 M)
Pendiri kerajaan Tarumanagara, dengan
gelar Rajadirajaguru Jayasingawarman Gurudharmapurusa, yang memerintah selama
24 tahun (358-382 M).
Pada awalnya ia merupakan pewaris tahta
Salakanagara, menggantikan mertuanya, raja DewawarmanVIII. Tetapi setelah ia
berkuasa pusat pemerintahan dipindahkan dari Rajatapura ke Tarumanagara,
sehingga kemudian nama salakanagara berubah menjadi Tarumanagara. DanSa lakanagarapun
secara otomatis menjadi negara bawahan
Tarumanagara.
Jayasaingawarman merupakan seorang maharesi dari Salankayana di India,
yang mengungsi ke daerah pasundan, karena daerahnya diserang dan
ditaklukan maharaja Samudragupta dari kerajaan
magada, yang mengungsi ke wilayah tanah Sunda.
Tidak seperti penguasa-penguasa
salakanagara, keberadaan Jayasingawarman jelas tertulis dalam prasasti Tugu,
yang ditemukan di desa Cilincing Jakarta.
Pada parsasti ini ia disebut gelarnya saja, Rajadi rajaguru, bersama dua raja sesudahnya, Rajarsi dan Purnawarman.
Berdasar keterangan prasasti Tugu,
setelah wafat pad tahun 382 M, Abu jenazahnya dilarungkan (dihanyutkan) di sungai Gomati (sekitar bekasi), maka itu
kemudian dikenal sebagai Sang Lumahing Gomati. Ia lalu digantikan oleh anaknya,
Rajarsi (rajaresi) Dharmayawarmanguru.
2.
Dharmayawarman (mp. 382-395 M)
Dharmayawarman atau lengkapnya Rajarsi
(Rajaresi) Dharmayawarmanguru yang
berkuasa di Tarumanagara dari tahun 382-395 M, menggantikan ayahnya,
Jayasingawarman. Dinamakan Rajarsi dan
guru karena ia juga pemimpin agama.
Setelah meninggal ia dikenal dengan nama Lumah ri Chandrabaga karena dipusarakan di sungai
Chandrabaga. Ia mempunyai 2 orang anak
laki-laki dan seorang perempuan,. Putra pertamanya bernama Purnawarman, yang kemudian menggantikannya
3.
Purnawarman (395-434 M)
Purnawarman merupakan raja ke-3 dan Raja
terbesar Tarumanagara, yang memerintah selama 39 tahun (antara tahun 395 hungga
434 M). Ia naik tahta Tarumanagara menggantikan ayahnya, Dharmayawarman, dengan
gelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaarakrama
Suryamahapurusa Jagatati atau Sang Pramdara Saktipurusa.
Zaman Purnawarman merupakan zaman
keemasan tarumanagara. Banyak prasasti memuat kebesaran namanya. Setidaknya ada
7 prasasti yag berkaitan dengannya.
Dalam memerintah ia dibantu adiknya,
Cakrawarman, yang menjadi panglima perang (didarat). Sedangkan pamanya,
Nagawarman menjadi panglima angkatan laut. Dari prameswarinya, ia mempunyai
beberapa anak laki-laki dan perempuan. Diantaranya Wisnuwarman, yang kemudian
menggantikannya.
Setelah meninggal, ia digelari Sang
Limahing Tarumanadi, karena abu
jenazahnya di larungkan di Sungai Citarum, dan tahta selalunjutnya jatuh kepada
anak sulungnya, Wisnuwarman.
4.
Wisnuwarman (434-455 M
Wisnuwarman menggantikan ayahnya,
Purnawarman dan berkuasa di tarumanagara
dari tahun 434 sampai dengan 455 M, dengan gelar Sri Maharaja Wisnuwarman Iswara Digwijaya Tunggal Jagatpati.
Wisnuwarman dinobatkan pada tanggal 14
paro terang bulan posdya tahun 356 saka (434 M). Tiga tahun setelah
penobatannya, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh pamannya, Cakrawarman, mahapatih di era ayahnya, (adik
Purnawarman). Cakrawarman merasa bahwa
dirinya yang lebih pantas dari Wisnuwarman sehingga memberontak selama 28 hari
dari tanggal 14 parogelap bulan asuji sampai dengan 11 parogelap bulan kartika
350 saka atau bertepatan dengan 21 okteober sampai 18 november 437 M, tetapi
gagal, dan dapat ditumpas.
Wisnuwarman berkuasa selama 21 tahun
(dari tahun 434-455 M). Prameswarinya bernama Suklawarmandewi, adik raja
Bakulapura. Suklawarmandewi tidak memberinya keturunan,karena keburu meninggal
akibat sakit. Yang menjadi prameswari selanjutnya adalah Suklawatidewi, putri
Wiryabanyu yang terkenal kecantikaannya. Dari Suklawatidewi ini,
Wisnuwarman memiliki beberapa putra.
Putra sulungnya, yang bernaa Indrawarman kemudian menggantikannya.
5.
Indrawarman (mp. 455-515 M)
Idrawarman mennjadi penguasa
Tarumanagara ke-6, menggantikan ayahnya, Wisnuwarman, yang bergelar Sri Maharaja Indrawarman Sang paramartha
Saktimahaprabhawa lingga Triwikrama bhuwanatala, dan berkuasa selama 60 tahun
(dari tahun 455- 515 M).
Setelah meninggal, ia kemudian
digantikan oleh putranya yang bernama Canrawarman.
6.
Candrawarman (mp. 515-535 M)
Merupakan penguasa ke-6 Tarumanagara,
menggantikan ayahnya, Indrawarman, dengan gelar Sri Maharaja Chandrawarman Sang
Hariwangsa Purusasakti Suralagawageng Paramartha, yang bertahta dari tahun
515-535 M.
Pada masanya menurut naskah Wangsakerta (pustaka Jayadhipa), banyak memberikan
keleluasaan penguasa daerah dalam mengelola daerahnya (otonomi). Pada masa Candrawarman ini banyak penguasa
yang menerima kekuasaanya didaerahnya sendiri karena kesetiaanya kepada
Tarumanagara.
Candrawaran kemudian digantikan oleh
anaknya, Suryawarman.
7.
Suryawarman (535-561 M)
Merupakan penguasa Tarmunagara yang
ke-7, menggantikan ayahnya, Candrawarman. Ia banyak mengikuti kebijakan ayahnya
dalam memberikan otonomi yang luas kepada daerah kekuasaanya.
Suryawarman tidak hanya melanjutkan
kebijakan ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja-raja
daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah timur.
Misalnya pada tahun 526 M, Manikmaya,
menantunya, mendirikan kerajaan baru di daerah kendan (daerah Nagreg, suatu
daerah antara Bandung dan Garut). Sedang putra Manikmaya yang bernama
Suraliman, tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumanagara, dan kemudian
menjadi panglima angkatan perang kerajaan.
Perkembangan daerah timur menjadi lebih
berkembang ketika cicit (bao) Manikmaya,
Wretikandayun, mendirikan kerajaan galuh., pada tahun 612 M.
8.
Kertawarman (561-628 M)
Kertawarman naik tahta Tarumanagara
menggantikan maharaja Suryawarman. Ia berkuasa dari tahun 561 hingga 628 M. Ia
kemudian digantikan oleh sudhawarman
9.
Sudhawarman (628-639 M)
Sudhawarman menjadi penguasa
Tarumanagara ke-9, yang berkuasa dari tahun 628-639 M. Pada masanya diwilayah
timur mulai berkembang kerajaan Galuh, yang didirikan oleh cicit Suryawarman,
Wretikandayun.
Pada Sudhawarman sudah nampak kemunduran
dari tarumanagara, hal ini diperparah oleh penggantinya, Dewamurti yang
terkenal sebagai pengauasa yang kejam, dan tanpa belas kasih.
10.
Hariwangsawarman (639-640 M)
Hariwangsawarman atau dewamurti naik
tahta Tarumanagara ke10, menggantikan Sudhawarman. Dewamurti dianggap sebagai penguasa yang
kasar dan tanpa belas kasih (kejam), hingga akhirnya ia dibunuh oleh Brajagiri,
anak angkat Kertawarman, raja tarmanagara ke-8, yang ia permalukan. Brajagiri
sendiri tewas dibunuh oleh Sang Nagajaya menantu Dewamurti.
11.
Nagayawarman (640-666 M)
Nagajaya mewarisi tahta dari mertuanya, dEwamurti hariwangsawarman, dengan gelar Maharaja
Nagajayawarman Darmastya Cupjayasatru. Ia berasal dari Cupunagara, kerajaan
bahahan Tarumanagara.
Nagajayawarman memerintah Tarumanagara
sejak tahun 562-588 saka (640-666 M). Setelah ia wafat kemudian
digantikan oleh Linggawarman.
12.
Linggawarman (mp. 666-669 M)
Linggawarman dinobatkan sebagai raja Traumanagara ke-12,
menggantikan Nagajayawarman, dengan gelar Srimaharaja Linggawarman
Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi. Ia merupakan raja terakhir Tarumanagara,
yang memerintah hanya 3 tahun dari tahun
666 hingga 669 M.
Ia menikah dengan Dewi Ganggasari dari
Indraprahasta, suatu kerajaan otonom di daerah Cirebon sekarang. Dari
Ganggasari, ia memiliki 2 anak, yang
keduanya perempuan. Yang pertama, Dewi Manasih, menikah dengan Tarusbawa dari
Sundasambawa. Sedang yang kedua, Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri
Jayanasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya.
Setelah ia meninggal dunia, kekuasaan
jatuh ke tangan menantunya, tarusbawa.
Dan tarausbawa ini kemudian memidahkan ibukotanya, di sekitar sungai
Pakancilan.
Transisi Tarumanagara ke Kerajan Sunda
Tarumanagara hanya mengalami masa
pemerintahan 12 orang raja. Raja terakhir Linggawarman tidak mempunyai anak laki-laki. Ia mempunyai 2 anak
laki-laki. Ia mempunyai 2 anak perempuan, yang sulung bernama Manasih menjadi
istri Tarusbawa dan yang kedua, Subakancana menjadi istri Depuntahyang
Srijayanasa, pendiri kerajaan Sriwijaya.
Tarusbawa (mp. 669-723 M), yang berasal
dari kerajaan Sunda Sumbawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa tarumanagara ke-13. Karena pamor
Tarumanagara, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang
berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dengan demikian sejak tahun 670
M, nama kerajaan Tarumanagara berubah menjadi kerajaan Sunda.
C. Sumber
(peninggalan) Kerajaan Tarumanegara
Ada
dua sumber sejarah yang digunakan bagi kerajaan Tarumanegara, yakni sumber
sejarah dan juga sumber berita dari Cina yaitu sebagai berikut :
1. Sumber sejarah
Sumber sejarah yang dapat digunakan oleh
Kerajaan Tarumanegara ada 2 macam, yaitu ;
a.
Sumber Prasasti
Prasasti-prasasti
dari kerajaan Tarumanegara berjumlah 7 buah, yaitu ;
·
Prasasti
Ciaruteun (Ciampea-Bogor)
·
Prasasti
Tugu (dekat Tanjung Priok)
·
Prasasti
Cianghiang (Kampung Lebak-Munjul)
·
Prasasti
Tapak Pasir awi dan Muara Cianten (daerah Ciampea Bogor)
·
Prasasti
Kebon Kopi (Muara Hilir-Cibungbulang)
·
Prasasti
Pasir Koleangkak (sebelah barat Bogor)
Huruf
yang dipakai dalam prasati Tarumanegara adalah huruf Pallapa dan bahasa
Sansekerta dalam bentuk Metrum (syair). Berikut ini sedikit penjelasan
peninggalan prasasti- prasasti Kerajaan Tarumanegara beserta gambarnya :
PRASASTI CIENTEUN

Prasasti
Cienteun ditemukan di Sungai Ciaruteun. Yang menarik perhatian dari prasasti
ini adalah adanya likusan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan di sebelah atas
hurufnya, adapun pendapat sebagian sarjana itu adalah tulisan nama Raja yaitu
Purnawarman, tulisan yang berbentuk puisi terdiri dari 4 baris yang ditulis
dalam bentuk metrum india, yang berbunyi ;
Vikkantasyavanipateh
Srimatah purnnavarmmanah
Tarumanegarendrasya
Vishnoriva padadvayam
Artinya
: “ini (bekas) 2 kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang mulia sang
Purnawarman, raja di Negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia (Poerbatjaraka,
1952:12)”
PRASASTI TUGU

Prasasti
terpanjang sepanjang ditemukan mengenai Kerajaan Tarumanegara. Prasasti ini
ditemukan di Tugu, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Dioahat pada batu bulat
panjang melingkar.
pura rajadhirajena guruna pinabahuna
khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau// pravarddhamane dvavingsad
vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana// prarabhya
phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais
siddhaikavingsakaih ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi
ramya gomati nirmalodaka// pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim
brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//.
Artinya : “Dahulu sungai yang bernama
Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan
kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah
kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun
ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena
kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja,
(maka sekarang) dia pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang
permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut
mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta
Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8
paro-gelap bulan dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan
Caitra,jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian
tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana
disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”.
PRASASTI
CIANGHIYANG

Prasasti Cianghayang
dikenal oleh masyarakat lokal sebagai prasasti Lebak, ditemukan di kampung
lebak di tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten.
Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk
puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut
mengagungkan keberanian raja Purnawarman.
Isi teks dari Prasasti Cidanghiyang
tersebut kurang lebih seperti ini.
Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya
Parakramah narendra ddhvajabhutena/
Srimatah purnnawvarmanah
Artinya :“Inilah (tanda) keperwiraan,
keagungan, dan
Keberanian yang sesungguhnya dari raja
dunia, yang mulia Purnawarman yang
menjadi panji sekalian raja-raja”
PRASASTI
TAPAK PASIR ALWI

Prasasti Muara Cianten atau Prasasti Tapak Pasir Alwi,
ditemukan di Bojong Honje Sukamakmur Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang
belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
PRASASTI KEBON KOPI

Prasasti Kebon Kopi
ditemukan di Kampung Cibungbulan Bogor tepatnya di Kampung Muara Hilir.
Istimewanya prasasti ini karena terdapat sepasang tapak kaki gajah. Tapak kaki
gajah ini digambarkan sebagai tapak kaki Maharaj Purnawarman. Gajah adalah
hewan yang disakralkan dan dekat dengan Dewa Wisnu yang konon diibaratkan
adalah pencitraan Maharaj Purnawarman.
PRASASTI KOLEANGKAK

Prasasti Pasir Koleangkak juga disebut Prasasti
Jambu karena di temukan di bukit Koleangkak
di perkebunan jambu. Tepatnya 30 km sebelah barat kota Bogor. Isinya tertulis
memuji kebesaran Raja Purnawarman beserta gambar telapak kaki.
2.
Sumber Berita Cina
a. Berita dari Fa-Hsien, seorang musafir
Cina yang terdampar di Yepoti (Yawadhipa/Jawa) tepatnya Tolomo (Taruma) pada
tahun 414.
b. Berita dari Dinasti Song Awal (Liu
Song) yang menyatakan bahwa pada tahun 528 dan 535 datang utusan dari negeri
Tolomo (Taruma) yang terletak disebelah selatan.
c. Berita dari Dinasti Tang Muda yang
menyebutkan tahun 666 dan tahun 669 datang lagi utusan dari Tolomo (Taruma).
D.
Masa Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara
Keruntuhan
Kerajaan tarumanegara jarang diketahui. Bahkan dalam berbagai prasasti hanya
menyebutkan nama Maharaja Purnawarman. Hal yang paling memungkinkan adalah
ketika Raja Linggawarman turun tahta. Beliau digantikan oleh menantunya
Tarusbawa. Tarusbawa yang saat itu naik tahta ketika pamor Kerajaan
Tarumanegara sudag turun berniat untuk membangkitkan nama besar kerajaan
mertuanya. Namun Langkah yang diambil justru menghilangkan Kerajaan
Tarumanegara.
Dalam
tahun 670 M. Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa, merubah nama
Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa itu membuat
Wretikandayun, cicit Manikmaya yang saat itu menjadi Raja Kerajaan Galuh
memisahkan negaranya dari Tarusbawa.
Pemisahan
ini juga mendapat dukungan dari Kerajaan Kalingga. Karena saat itu putera
mahkota Kerajaan Galuh Sanna menikah dengan Sanaha Puteri Maharani Sima dari
Kerajaan Kalingga, Jepara Jawa Tengah. Dukungan tersebut membuat Wretikandayun
meminta untuk wilayah Kerajaan Tarumanegara dibagi dua. Karena ingin
menghindari perang saudara, maka Raja Tarusbawa memecah wilayah Kerajaan
Tarumanegara menjadi wilayah Kerajaan Sunda dan wilayah Kerajaan Galuh dengan
Citarum sebagai batasnya.
Jadi disimpulkan Kerajaan Tarumanegara
hanya memiliki 12 Raja sampai Kerajaan Tarumanegara berubah menjadi Kerajaan
Sunda.
BAB
III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
Kerajaan Tarumanegara merupakan
kerajaan tertua kedua di Indonesia setelah kerajaan Kutai. Kerajaan Hindu ini
berdiri dari abad ke 4 sampai abad ke 7. Kerajaan Tarumanegara didirikam oleh
Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Dan setiap kerajaan pastilah
mempunyai pemimpin dalam setiap periodenya.
Adapun raja-raja yang pernah
memimpin kerajaan Tarumamegara yaitu Raja Jayasingawarman, Raja Dharmayawarman,
Raja Purnawarman, Raja Wisnuwarman, Raja Indrawarman, Raja Candrawarman, Raja
Suryawarman, Raja Kertawarman, Raja Sudhawarman, Raja Hariwangsawarman, Raja
Nagayawarman, dan Raja Linggawarman. Setelah raja Linggawarman ini turun tahta,
beliau digantikn oleh menantunya, Tarusbawa. Tarusbawa yang berniat ingin
membangkitkan nama kerajaan Tarumanegara yang pada waktu itu sudah agak turun,
ternyata lamgkah yang diambil oleh Tarusbawa ini justru malah menghilangkan
kerajaan Tarumanegara tersebut. Tarusbawa yang berasal dari Sunda Sambawa ini
merubah nama kerajaan Tarumanegara menjadi kerajaam Sunda.
Sumber-sumber kerajaan Tarumanegara
ada dua yaitu sumber prasasti dan sumber berita cina. Sumber prasasti yaitu
terdiri dari tujuh prasasti, yakni prasasti ciateureun, prasasti jambu,
prasasti kebon kopi, prasasti muara cianten, prasasti pasir awi, prasasti
cidanghayang, dan prasasti tugu. Adapun sumber berita dari cina yaitu berita
dari Fa-Hsien, dari Dinasti Song Awal, dan dari Dinasti Tang Muda.
Daftar Pustaka
Suwardono.2013. Sejarah Indonesia Masa
Hindhu-Buddha.Yogyakarta: Penerbit Ombak.
http://sejarahlengkap.com/indonesia/kerajaan/sejarah-kerajaan-tarumanegara diakses
tanggal 3 Maret 2018
http://sundalangeografi.blogspot.co.id/2015/11/raja-raja-tarumanegara-yang- pernah.html?m=1 diakses
tanggal 3 Maret 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar