Jumat, 09 Maret 2018

MAKALAH KERAJAAN MATARAM KUNO


KERAJAAN MATARAM  KUNO
Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Sejarah Indonesia Sampai Abad 16
Dosen Pengampu : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.


Disusun oleh :
Klompok 5
1. Ilham Ade Kurniawan                  (173231050)
2. Rahmatika Amaylia Samawi         (173231041)
3. Puput Tri Lestari.                          (173231040)
4. Saiful Haq                                     (173231072)


PROGRAM STUDI SEJARAH PERADAPAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
            Masuk nya agama hindhu-budha di indonesia membawa pengaruh yang sangat besar baik dari segi norma kehidupan,kebudayaan, kepercayaan ,bahkan memengaruhi sistem pemerintahan bangsa indonesia, dari sistem kebudayaan masuknya agama hindu budha di indonesiamemunculkan berbagai alkulturasi budaya  perpaduan antara budaya asli dari leluhur tanah nusantara dengan kebudayaan hindubudha, dari sistem pemerintahanya sendiri yang mana sebelum datangnya hindhu-budha masyarakat indonesia yang dahulunya menganut sistem kelompok suku ,seletahmasuknya hindhu-budha beralih menjadi kerajaan.
          Banyak sekali kerajaan hindubudha yang berdiri di nusantara ini, setelah meluasnya ajaran agama hindubudha di nusantara salah satu kerajaan hindu yang ada di nusantara adalah kerajaan mataram kuno.
         Mataram kuno adalah salah satu kerajaan hinduYang ada di tanah jawa, yang daerah kekuasaanya Meliputi jawa timur dan jawa tengah, kerajaan ini di kuasai oleh 2 dinasti besar yaitu wangsa sanjaya dan wangsa  syailendra,banyak sekali hal - hal menarik utuk kita bahas mengenai kerajaan mataram kuno ini ,mulai dari sistem pemerintahanya,hingga peninggalan dari kerajaan mataram kuno itu sendiri
         Maka dari itu dalam makalah ini akan di sajikan sedikit profil tentang kerajaan mataram kuno ,mulai dari ,sisitem politiknya, kebudayaanya, sistem ekonominya bagaimana, siapa yang memimpin di kerajaan ini ,dan apa saja yang peninggalan dari kerajaan mataraminjsemua akan di bahas sedikit dalam makalah yang kami susun ini.


B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah  berdiri nya kerajaan mataram kuno ?
2. Bagaimana perkembangan politik di kerajaan mataram kuno ?
3. Bagaimana sistem Birokrasi pemerintahanya ?
4. Bagaimana kondisi sosial masyarakatnya ?
5. Apa yang menjadi penyebab runtuhnya kerajaan mataram kuno ?
6. Apa saja peninggalan dari kerajan mataram kuno ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui sejarah berdirinya kerajaan mataram kuno.
2. Mengetahui perkembangan politik di kerajaan mataram kuno.
3. Mengetahui sistem birokrasi pemerintahannya.
4. Mengetahui kondisi sosial masyarakatnya.
5. Mengetahui penyebab runtuhnya kerajaan mataram kuno.
6. Mengetahui peninggalan dari kerajaan mataram kuno.








BAB II
PEMBAHASAN
A.  SEJARAH  BERDIRINYA  KERAJAAN  MATARAM  KUNO
Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan medang periode jawa tengah) merupakan kelanjutan dari kerajaan kalingga di jawa tengah sekitar abad ke 8 M, yang selanjutnya pindah ke propinsi jawa timur pada abad 10. Penyebutan Mataram kuno atau mataram hindu berguna untuk membedakan kerajaan ini dengan kerajaan mataram islam yang berdiri sekitar abad ke 16.
 Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama Medang sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah. Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.
Kemudian, Prasasti Mantyasih tahun 907 M atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha, saudara perempuan Sanna.
Sanna, juga dikenal dengan nama "Sena" atau "Bratasenawa", merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716 M). Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam tahun 716 M.
Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah Tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik Sanna. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat Sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama istrinya. Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.
Dari prasasti Canggal, bisa diperoleh informasi jika Kerajaan Mataram Kuno telah berdiri dan berkembang sekitar abad ke-7 M dengan raja yang pertama adalah Sanjaya yang memiliki gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
B.  PERKEMBANGAN  POLITIK KERAJAAN  MATARAM  KUNO
1.      Pemerintahan Rakai Panangkaran
Ketika memeluk agama Budha, Rakai Panangkaran mendirikan bangunan agama Buddha yang pertama, yaitu Candi Kalasan (778 M), Candi Borobudur, Candi Plaosan Lor dan Candi Sewu (782 M), serta bangunan wihara di bukit Ratu Baka. Sebagai seorang pemeluk baru agama Buddha, dengan wajah barunya pula ia memerintah Kerajaan Sanjaya yang diwariskan kepadanya dengan berlandaskan ajaran agama Buddha. Dalam prasasti Kalasan ia disebut Maharaja Tejahpurnna Panangkaran. Maka wajarlah ia dimata keturunan-keturunannya yang beragama Buddha mendapat sebutan Sailendrawamsatilaka (permata dari keluarga Sailendra), sebagaimana yang tersebut dalam prasasti-prasasti(Kalasan, Kelurak, Ligor B, Kayuwungan, dan Nalanda). Menurut prasasti Nalanda, Sailendrawamsatilaka beranak Samaragrawira, yang mungkin dapat disamakan dengan Samaratungga di dalam prasasti Kayumwungan (874 M). Samaragrawira dalam prasasti Nalanda memiliki anak bernama Balaputradewa, sementara prasasti Kayumwungan menyebutkan bahwa Samaratungga memiliki seorang putri mahkota bernama Pramodhawardani.
2.      Pemerintahan Rakai Panaraban
Rakai Panangkaran turun takhta dan digantikan oleh saudaranya yaitu Rakai Panaraban (prasasti Wanura Tengah III), bukan oleh anaknya Samaragrawira (Samaratungga). Juga perlu kiranya mendappat perhatian bahwa jika diperhatikan sederet nama dalam prasasti Wanua Tengah III, maka nama-nama raja tersebut jumlahnya lebih banyak dibanding dengan yang ada pada prasasti Mantyasih (907 M). Terdapat nama raja, yaitu Rakai Panunggalan, yang tidak terdapat pada prasasti Wanua Tengah III. Demikian pula nama Rakai Panaraban dalam prasasti Mantyasih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa   Rakai Panunggalan sama dengan Rakai Panaraban.
3.      Pemerintahan Rakai Warak/Samaratungga
Baru setelah Rakai Panaraban turun takhta menurut prasasti Wanua Tengah III, ia digantikan oleh Rakai Warak Dyah Manara (803 M) hingga 827 M. Akan tetapi menurut prasasti Kayumwungan (824 M) maharaja di kerajaan Mataram adalah Sammaratungga.
4.      Pemerintahan Dyah Gula
Nama Dyah Gula hanya didapati dalam prasasti Wanua Tengah III, yang naik takhta pada 26 Juli 827. Dyah Gula hanya bertakhta selama dua tahun, karena pada tahun 829 M yang naik takhta adalah Rakai Garung. Ia duduk  di atas takhta Kerajaan Mataram tanpa memakai gelar karakaiannya (tanah lungguhnya). Sehingga tidak diketahui ia berasal dari penguasa daerah mana.
5.      Pemerintahan Rakai Garung
Casparis pernah mengidentifikasikan bahwa Rakai Garung ini sama dengan Rakarayan Patapan Pu Palar, dengan alasan bahwa setelah Rakai Garung, yang naik takhta adalah Rakai Pikatan. Dalam prasasti Garung (819 M) Rakai Garung tidak memakai gelar sri maharaja. Akan tetapi dikatakan bahwa perintahnya diturunkan kepada sang Pamgat Amrati Pu Mananggungi, agar daerah Mamrati dibebaskan dari beberapa jenis pungutan. Apapun jabatannya yang pasti ia adalah serang penguasa daerah (raja). Kiranya dapat dipahami mengapa Rakai Garung pada 819 tidak memakai gelar sri maharaja dari prasasti Wanua Tengah III. Dalam prasasti tersebut jelas bahwa Rakai Garung baru naik takhta pada tanggal 14 Februari 829 M. Jadi gelar sri maharaja baru ia sandang sejak tanggal tersebut.
6.      Pemerintahan Rakai Pikatan
Karena Rakarayan Patapan Pu Palar, yang juga termasuk keluarga Sailendra yang tetap menganut agama Hindu, berambisi pula untuk menjadi maharaja. Maka dilakukan perkawinan antara anak Rakarayan Patapan, yaitu Rikai Pikatan dengan Pramodhawardhani, anak Samaratungga turun takhta penggantinya adalah Rakai Pikatan yang naik takhta karena perkawinannya dengan Pramodhawardhani. Namun naiknya Rakai Pikatan diatas takhta kerajaan Mataram agaknya tidak semudah apa yang dia bayangkan. Terjadi suatu pemberontakan yang dilakukan oleh keluarga Sailendra yang lain yang merasa lebih berhak. Seperti yang disinggung dalam prasasti Siwagraha (856 M) terhadap adanya serangan masa pemerintahan Rukai Pikatan.
7.      Pemerintaha Rakai Kayuwangi
Rakai Kayuwangi adalah putra bungsu Rakai Pikatan. Nama garbopatinya adalah Dyah Lokapala (prsasti Siwagraha). Menurut prasasti Siwagerha (856 M), Dyah Lokapala naik takhta menggantikan ayahnya yang mengundurkan diri dengan sebutan sang Jadingrat. Menurut Prasasti Wanua Tengah III, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, naik takhta pada 27 April 855 M. Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini didasarkan pada jasa kepahlawanan Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, Rakai Pikatan. Rakai Kayuwangi bertakhta di Medand di Mamratipura
8.      Pemerintahan Dyah Tagwas
Rupanyya intrik dalam keraton tidak sebatas pada masa Rakai Pikatan. Pada masa pemerinta Rakai Kayuwangi pun terjsdi terjadi saling menggulingkn takhta. Terbukti pengganti Rakai Kayuwangi bukan putra mahkotanya, yaiti Rakai Hino Pu Aku, melainkaan Dyah Tagwae. Nama Dyah Tagwas terdapat pada prasasti Wanua Tengah III. Ia naik takhta pada 17 Februari 885 M. Namun pemerintahannya tidak lama. Setelauh itu  ia terusir dari kraton.
9.      Pemerintahan Rakai Panumwangan Dyah Dewendra
Naik takhta pada 25 Agustus 885 M. Namun dalam pemerintahan yang singkat selama 2 tahun, ia pun kemudian terusir dari istana. Tokoh ini mengingatkan kepada tokoh yang disebut di dalam prasasti Poh Dulus (890 M). Disana disebut seorang maharaja, yaitu Rakai Limus Dyah Dawindra yang karena terusir dari istana, akhirnya ia melarikan diri ke daerah Limus dan berkuasa di sana dengan tetap menganggap ia masih maharaja Mataram, sehingga tetap menggunakan gelar maharaja.
10.  Pemerintahan Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra
Naik takhta 18 Januari 887, tetapi pada tanggal 14 Februari 887 ia melarikan diri (minggat) dari istana.
11.  Pemerintahan Rakai Wungkalhumalang Dyah Jbang
Naik takhta pada 21 November 894, sebelum beliau naik takhta terjadi kekosongan takhta selama 7 tahun lamanya. Beliau mengeluarkan Prasasti yaitu prasasti Panunggalan (896 M).

12.  Pemerintahan Watukura Dyah Balitung
Naik takhta pada 10 Mei 898. Padaa masa pemerintahannya, diduga ia telah meluaskan pengaruhnya ke Jawa bagian timur. Hal ini dapat disebutkan dalam prasasti Kubu-kubu (905 M). Yang pasti bahwa dengan adanya prasasti Kubu-kubu itu ada petunjuk bahwa Rakai Watukura Dyah Balitung telah meluaskan kekuasaannya kedaerah Jawa bagian timur. Pemerintahannya berlangsung selama kurang lebih 12 tahun.
13.  Pemerintahan Sri Daksottama Bahubajra
Mpu Daksa naik takhta menggantikan Dyah Balitung yang merupakan saudara iparnya. Dyah Balitung diperkirakan naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya, sehingga secara otomatis Mpu Daksa pun disebut sebagai putra raja tersebut. Kemungkinan besar raja itu ialah Rakai Watuhumalang yang memerintah sebelum Balitung menurut prasasti Mantyasih. Menurut prasasti Talahap, Mpu Daksa, adalah cucu dari Rakryan Watan Mpu Tamer, yang merupakan seorang istri raja yang dimakamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Dengan demikian Daksa dapat disebut sebagai cicu dari Rakai Pikatan.
C.  STRUKTUR BIROKASI KERAJAAN
Dalam struktur pemerintah kerajaan mataram kuno, penguasa tertinggi disebut sri maharaja. Sesuai dengan landasan kosmogonis, raja adalah penjelmaan dewa di dunia. Hal itu ternyata dari gelar abhiseka dan puji-pujian kepada raja di dalam berbagai prasasti dan kitab-kitab sastra Jawa Kuno sejak masa Airlangga. Di bawah struktur sri maharaja adalah gelar rakai hino atau rakarayan mapatih i hino. Namun, perlu dicatat bahwa jabatan ini tidak harus dipegang oleh putra raja yang memerintah. Bisa juga dijabat oleh adik raja, kemenakan, paman, atau kerabat dekat yang lain, asal masih seketurunan secara langsung. Dengan perkataan lain, dengan diterimanya institusi kerajaan sebagai bentuk ketatanegaraan oleh nenek moyang kita, timbul pula pengertian wangsa atau dinasti.
Struktur kerajaan mataram kuno masa pemerintahan Rakai Kayuwangi menurut prasasti Bungur (860 M) dan prasasti Kwak (879 M):
1.  Sri maharaja
2.  Rakarayan mapatih i hino
3.  Rakarayan mapatih i hulu
4.  Rakarayan mapatih i sirikan
5.  Rakarayan watu tihang
6.  Samgat bawang
7.  Rakarayan sirikan
8.  Rakai wka
§ Pejabat Pemerintahan:
a)    Rake halaran
b)   Rake panggil hyang
c)    Rake dolinan
d)   Pangkur
e)    Tawan atau hanangan
f)      Tirip
g)   Pamgat manghuri
h)   Pamgat wadihati
i)     Pamgat makudur
Struktur Birokasi masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung menurut prasasti Penggumulan (902 M):
1. Sri maharaja
2. Rakryan mapatih i hino
3. Rakryan i hulu
4. Rakryan i sirikan
5. Rakai wka
6. Rakai pagarwasi
7. Pamgat tiruan

§ Pejabat Pemerintahan:
a)    Rakai halaran
b)   Rakai palarhyang
c)    Rakai dolinan
d)   Rakai wlahan
e)    Pamgat manghuri
f)    Pangkur
g)   Tawan/hanangan
h)   Tirip
i)     Pamgat wadihati
j)     Pamgat makudur
Jalanya perintah raja dengan struktur yang demikian, ditinjau dari berbagai prasasti yang ada adalah seorang raja menjatuhkan keputusan dengan pertimbangan para pejabat kerajaan, juga dengan pendeta purohita, yaitu pendeta kerajaan yang berhubungan dengan hukum keagamaan (Dalam hal ini dijabat oleh seorang pamgat tiruan). Ketika raja menjatuhkan putusan, titah raja tersebut pertama-tama diterima oleh ketiga pangeran yang menyandang gelar rakarayan mapatih, yang kemudian perintah tersebut disampaikan kepada para pejabat eksekutif pemerintahan.
Dalam penataan birokrasi pemerintahan keraj
aan, pada umumnya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara mempunyai suatu landasan kosmogonis yaitu kepercayaan akan adanya kesesuaian antara dunia manusia (Jagat kecil-mikrokosmos) dengan alam semesta (Jagat raya/ makrokosmos).
D. KEADAAN SOSIAL MASYARAKAT  KERAJAAN  MATARAM  KUNO
Dalam masyarakat Mataram Kuno banyak dijumpai pejabat-pejabat di tingkat watak ( Daerah) yang jumlahnya ratusan. Dari nama tersebut tentunya dapat diprediksi bagaiman keadaan sosial masyarakat pada saat itu. Jabatan-jabatan tersebut antara lain :
1.    Rama magman ( Pejabat desa yang masih memegang perintah ).
2.    Tuha wanua ( Orang yang tertua di suatu desa disebut kepala desa ).
3.    Hulu-air ( Pejabat yang mengurusi masalah pengairan di desa ).
4.    Tuha alas ( Pejabat yang mengurusi hutan yang ada di wilayah desanya ).
5.    Wariga ( Pejabat yang bertugas menghitung hari-hari baik untuk suatu pekerjaan di suatu desa ).
6.    Tuha wereh ( Pemimpin para pemuda mudi di desa ).
7.    Parujar ( Semacam juru bicara ).
8.    Winekas ( Pejabat yang bertugas menyampaikan berita kepada penduduk ).
9.    Hulu wras ( Pejabat yang mengurusi lumbung padi ).
10.     Mapkan ( Pejabat yang mengurusi pasar ).
11.     Mataman ( Pejabat yang mengurusi pertamanan ).
12.     Tuha buru ( Pejabat yang mengurusi masalah perburuan binatang ).
13.     Tuha gusali ( Pejabat yang mengurusi para pandai logam ).
14.     Hulu wuatan ( Pejabat yang mengurusi jembatan atau penyebrangan ).
15.     Hulu turus ( Pejabat yang mengurusi batas-batas tanah penduduk ).
Dari segi ekonomi dapat diketahui bahwa masyarakat Mataram Kuno pada waktu itu sudah melakukan perdagangan individu dan pasar. Dagangan mereka ada yang dipikul dan ada pula yang di angkut dengan pedati. Ada pula yang dibawa dengan prahu. Perahu sebagai sarana transportasi perdagangan, dapat dibayangkan adanya perdagangan antar desa dan antar wilayah di luar desa.
Prasasti-prasasti menyebutkan istilah-istilah untuk alat pembayaran yang terdiri dari mata uang emas yaitu : suwarno, masa, dan kupang. Sedangkan mata uang perak dengan satuan dharana, masa, dan kupang.
Dalam masalah hukum, karena dari zaman kerajaan Mataram kuno tidak ditemukan naskah hukum. Oleh karena itu, semua pelanggar hukum dikenai denda dalam uang emas yang besarnya sesuai dengan berat ringanya pelanggaran. Hanya perampok dan pencuri yang dihukum mati. Sementara prasasti-prasasti yang ditemukan hanya menyebut masalah hukum yang berhubungan dengan sengketa tanah, maka keputusan pengadilan yang ditulis dalam prasasti dinamakan jayapatra.

Masalah kesenian rakyat, pada masa Mataram kuno dapat diketahui dari berbagai relief yang terdapat di candi Borobudur maupun Prambanan. Prasasti Wukajana menyebutkan adanya sebuah permainan wayang dan juga pertunjukan tarian, seperti : tuwung, bungkuk, ganding, rawanahasta, dan matapukan (tari topeng). Selain pertunjukan wayang, juga dikenal istlah mamirus dan mabanal. Mamirus berhubungan dengan lawakan dengan kata-kata, sedangkan mabanol berhubungan dengan gerak tubuh. Seni pertunjukan adalah suatu seni yang memiliki sifat kerakyatan.
E. PENYEBAB RUNTUHNYA KERAJAAN MATARAM KUNO
     Runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh beberapa faktor:
1.      Disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar tersebut menimbun candi-candi yang didirikan tersebut menjadi rusak.
2.      Rutuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M.
3.      Runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak terdapatnya pelabuhan strategis. Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan daerah sumber penghasilan komoditi perdagangan.
Mpu Sindok mempunyai jabatan sebagai Rake I Hino ketika Wawa menjadi raja di Mataram, lalu pindah ke Jawa Timur dan mendirikan dinasti Isyana disana dan menjadikan. Walunggaluh sebagai pusat kerajaan. Mpu Sindok yang membentuk dinasti baru, yaitu Isanawangsa berhasil membentuk Kerajaan Mataram sebagai kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yang berpusat di Jawa Tengah. Mpu Sindok memerintah sejjak tahun 929 M sampai dengan 948 M.         
F. PENINGGALAN-PENINGGALAN KERAJAAN MATARAM KUNO
a)      Prasasti Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun 778 M, ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta.
b)      Prasasti Klurak ditemukan di desa Prambanan berangka tahun 782 M ditulis dalam huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan pembuatan arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya
c)      Prasasti Canggal, prasasti ini di temukan di halaman Candi Guning Wukir di wilayah desa Canggal mempunyai angka tahun 732 Masehi. ditulis dengan huruf pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasati ini berisi tentang cerita pendirian Lingga (atau lambang Syiwa) di wilayah desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya selain itu prasasti ini juga menceritakan bahwa terdapat seorang raja yang memimpin pulau jawa sebelum dirinya yang bernama Sanna yang kemudian digantikan oleh Sanjaya.
d)     Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih Kedu, Jawa tengah, berangka tahun 907 M yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah daftar silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality yaitu Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Untuk itu prasasti Mantyasih/Kedu ini juga disebut dengan prasasti Belitung.







BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Kerajaan Mataram kuno adalah salah satu kerajaan hinduYang ada di tanah jawa, yang daerah kekuasaanya Meliputi jawa timur dan jawa tengah, kerajaan ini di kuasai oleh 2 dinasti besar yaitu wangsa sanjaya dan wangsa  syailendra.
System birokrasi dari kerajaan matram kuno pada masa pemerintahan Rakai dyah balitung tediri sri mahapatih sampai struktur birokrasi yang paling bawah yaitu pamgat makudur
Keadaan sosial masyarakat pada masa itu terdapat pejabat, Dalam masyarakat Mataram Kuno banyak dijumpai pejabat-pejabat di tingkat watak ( Daerah ) yang jumlahnya ratusan. Dari nama tersebut tentunya dapat diprediksi bagaiman keadaan sosial masyarakat pada saat itu.
Kemudian kerajaan mataram kuno mengalami keruntuhan di karenakan beberapa faktor berikut :
1.      Disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar tersebut menimbun candi-candi yang didirikan tersebut menjadi rusak.
2.      Rutuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M.
3.      Runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak terdapatnya pelabuhan strategis. Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan daerah sumber penghasilan komoditi perdagangan.


DAFTAR PUSTAKA
§  Buku :
Suwardono.2013.Sejarah Indonesia Masa Hindhu-Budha.Yogyakarta:Penerbit Ombak.
§  Internet:
Widiyatmiko. Staf. Gunadarma . ac. Id. “ Kerajaan Mataram Kuno ” PDF.
Diakses pada hari Minggu, 4 Maret 2018 jam 19.30 WIB.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...