KERAJAAN KALINGGA ATAU HOLING
Makalah
dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad 16
Dosen
: Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.
Disusun
oleh:
Hafizhan Pramanda Putra (173231053)
Ahmad Farchan Saputra (173231056)
Wahyu
Indra Widyasmoko (173231063)
Nur Khasanah (173231073)
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kerajaan
Kalingga merupakan kerajaan yang bercorak Budha. Pusat pemerintahannya
diperkirakan di Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Lebih tepatnya terletak di
Jawa Tengah, di Kecamatan Keling sebelah utara gunung muria, sekarang letaknya di
dekat Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Dalam berita Cina kerajaan ini disebut
Holing, dijelaskan bahwa Kerajaan Kalingga diperkirakan mulai abad ke 6 hingga
ke 7. Perekonomian Kerajaan Kalingga bertumpu pada perdagangan dan pertanian.
Dikarenakan letaknya yang dekat dengan pesisir pantai utara Jawa Tengah
sehingga Kalingga mudah diakses oleh perdagangan luar negeri. Kehidupan sosial
Kerajaan Kalingga yaitu tentram, tertib, dan teratur berkat kepemimpinan Ratu
Sima. Pada abad ke 7 Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Sima, hukum yang
ditegakkan di Kerajaan Kalingga dengan baik sehingga ketertiban dan ketentraman
di Kerajaan Kalingga berjalan sangat baik. Kerajaan Kalingga memiliki pertalian
dengan Kerajaan Galuh. Masa kejayaan Kerajaan Kalingga yaitu pada masa
kepemimpinan Ratu Sima karena dalam bercocok tanam Ratu Sima mengadopsi sistem
pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Dan masa kehancuran Kerajaan Kalingga
yaitu Kerajaan Kalingga mengalami kemunduran akibat serangan dari Sriwijaya
yang menguasai perdagangan, serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan Kijen
menyingkir ke Jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman Jawa bagian tengah
antara tahun 742-755 Masehi.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa latar belakang berdirinya Kerajaan
Kalingga?
2. Bagaimana masa politik dan kehidupan
sosial di Kerajaan Kalingga?
3. Bagaimana masa perekonomian di Kerajaan
Kalingga?
4. Bagaimana masa kejayaan Kerajaan
Kalingga?
5. Apa saja peninggalan-peninggalan
Kerajaan Kalingga?
6. Apa yang menyebabkan kemunduran Kerajaan
Kalingga?
C.
TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui latar belakang berdirinya
Kerajaan Kalingga.
2. Mengetahui masa politik dan kehidupan
sosial di Kerajaan Kalingga.
3. Mengetahui masa perekonomian di Kerajaan
Kalingga.
4. Mengetahui masa kejayaan Kerajaan
Kalingga.
5. Mengetahui peninggalan-peninggalan Kerajaan
Kalingga.
6. Mengetahui penyebab kemunduran Kerajaan
Kalingga.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar belakang berdirinya Kerajaan
Kalingga/Holing
Kerajaan
Kaling (Holing) atau Kalingga berdiri pada abad ke 7 hingga abad ke 9. Kerajaan
ini terletak di Jawa Tengah, di Kecamatan Keling sebelah utara gunung muria,
sekarang letaknya di dekat Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Nama Kalingga
sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kalinga, nama sebuah
kerajaan di India Selatan. Menurut berita Cina, di sebelah timur Kalingga ada
Po-li (Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga terdapat To-Po-Teng (Sumatra)
sementara di sebelah utara Kalingga terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah
selatan berbatasan dengan samudra. Yang
didirikan oleh beberapa kelompok orang lain dari India yang berasal dari Orissa
mereka melarikan diri karena daerah Orissa dihancurkan oleh Maharaga Asoka. Bukan
hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi
juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka. Salah satu tempat yang
dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan
Jepara. Jepara dicurigai karena adanya Kabupaten Keling di pantai utara Jepara,
sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya
kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno.
Pada
tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Sima yang digambarkan sebagai
seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku di
dalam kerajaan, sehingga hal tersebut memaksa orang-orang Kalingga menjadi
jujur dan selalu memihak pada keamanan. Diceritakan bahwa pada suatu hari
seorang raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantong yang
berisi dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran
dan kebenaran dari orang-orang Kalingga yang terkenal. Dalam sejarahnya
tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantong emas yang bukan milik
mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anggota dari istana secara
tidak sengaja menyentuh kantong tersebut dengan kakinya. Mengdengar hal
tersebut, Sima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anggota dari istana
tersebut. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Sima, akan tetapi atas usul persidangan para menteri. Akhirnya hukuman itu
diperingan dengan hukuman potong kaki.
Dalam
salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik
dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan
beberapa utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan
islam kepada daerah asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim
beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan
utusan yang terjadi pada masa setelah Ratu Sima turun dan digantikan oleh Jay
Sima ini menyebabkan sang raja memeluk agama islam dan juga diikuti jejaknya
oleh beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli mereka dan
menganut islam.
Kerajaan
Kalingga juga pernah mengalami ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh.
Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan adalah 2 candi yaitu candi
Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan candi Bubrah merupakan dua candi yang
ditemukan di Keling, yang tepatnya di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan nama
karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tua dari candi Borobudur.
Di sisi lain, candi Bubrah merupakan sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi
umumnya sama dengan candi Angin.
B. Masa
kehidupan sosial dan pemerintahan kerajaan Kalingga
Masa
kehidupan sosial di kerajaan Kalingga yaitu teratur, berkat kepemimpinan ratu
Sima. Ketentraman dan ketertiban di kerajaan Kalingga berlangsung dengan baik,
dalam menegakkan hukum ratu Sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan
kerabatnya sendiri. Berita tentang ketegasan ratu Sima, pada suatu hari ada
anggota keluarga istana yang sedang jalan-jalan, kemudian tidak sengaja
menyentuh kantong yang berisi emas dengan kakinya. Hal ini diketahui oleh Ratu
Sima, anggota keluarga istana itu dinilai salah dan harus diberi hukuman mati.
Akan tetapi atas usul persidangan para menteri, hukuman itu diperingan dengan
hukuman potong kaki. Kisah ini menunjukkan begitu tegas dan adilnya Ratu Sima
dan ia tidak membedakan antara rakyat dan anggota kerabatnya sendiri. Agama
utama yang dianut oleh penduduk Kalingga pada umumnya adalah Budha. Agama Budha
berkembang pesat bahkan pendeta Cina yang bernama Hwi-ning datang di Kalingga
dan tinggal selama tiga tahun. Selama di Kalingga, ia menerjemahkan kitab suci
agama Budha Hinayanake dalam bahasa Cina. Dalam usaha menerjemahkan kitab itu
Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta bernama Janabadra. Dan pada masa
kehidupan politik kerajaan Kalingga yaitu pada abad ketujuh masehi kerajaan
Kalingga dipimpin oleh ratu Sima, hukum di Kalingga ditegakkan dengan baik sehingga
ketertiban dan ketentraman di Kalingga berjalan dengan baik. Kepemimpinan raja
yang adil, menjadikan rakyat hidup teratur, aman dan tentram. Mata pencaharian
penduduk pada umumnya adalah bertani, karena wilayah Kalingga subur untuk
pertanian. Di samping itu, penduduk juga melakukan perdagangan. Menurut naskah
parahhayang, ratu Sima memiliki cucu bernama Sanaha yang menikah dengan raja
Brantasenawa dari kerajaan Galuh. Sanaha memiliki anak bernama Sanjaya yang
kelas akan menjadi raja Mataram Kuno. Sepeninggalan ratu Sima, kerajaan
ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya.
C. Masa perekonomian di kerajaan Kalingga
Perekonomian
di kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Karena
letaknya yang dekat dengan pesisir pantai utara Jawa Tengah menyebabkan
Kalingga mudah di akses oleh perdagangan luar negeri. Dan pada umumnya mata
pencaharian penduduk yaitu bertani karena wilayahnya subur untuk pertanian. Di
samping itu, penduduk juga melakukan perdagangan. Kalingga merupakan daerah
penghasil kulit penyu, emas, perak, dan gading gajah untuk dijual. Penduduk
Kalingga dikenal pandai membuat minuman yang berasal dari bunga kelapa dan
bunga aren.
D. Masa kejayaan kerajaan Kalingga
Pada
masa kepemimpinan ratu Sima menjadi masa keemasan bagi kerajaan Kalingga
sehingga membuat raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum, sekaligus
penasaran. Pada masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan
apapun. Agama budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di
sekitar kerajaan sebagai tempat bersatunya dua kepercayaan hindu dan budha. Perekonomian
di kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Dalam bercocok tanam ratu Sima mengadopsi
sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang pengairan yang
diberi nama subak, kebudayaan baru ini yang melahirkan istilah Tanibhala atau
masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok
tanam.
E. Peninggalan-peninggalan kerajaan
Kalingga
1. Prasasti Tukmas
a. Ditemukan di lereng barat Gunung Merapi,
tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa
Tengah.
b. Bertuliskan huruf pallawa yang berbahasa
sanskerta.
c. Isi prasasti menceritakan tentang mata
air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut
disamakan dengan sungai Gangga di India.
d. Pada prasasti itu ada gambar-gambar
seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang
merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.
2. Candi Bubrah, Jepara
a. Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur,
Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
b. Candi Bubrah adalah salah satu candi
Budha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di
antara percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu. Secara administratif, candi
ini terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten
Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
c. Dinamakan Bubrah karena keadaan candi
ini rusak (bubrah dalam bahasa jawa) sejak ditemukan. Menurut perkiraan, candi
ini dibangun pada abad ke 9 pada zaman kerajaan Mataram Kuno, satu periode
dengan candi Sewu.
d. Candi ini memiliki ukuran 12 m × 12 m
terbuat dari jenis batu andesit, dengan sisa reruntuhan setinggi 2 meter. Saat
ditemukan masih terdapat beberapa arca Budha, walaupun tidak utuh lagi.
3. Candi Angin
a. Candi Angin terdapat di Desa Tempur,
Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Karena letaknya yang tinggi tapi tidak
roboh terkena angin, maka dinamakan Candi Angin.
b. Menurut para penelitian candi Angin
lebih tua dari pada candi Borobudur. Bahkan ada yang beranggapan kalau candi
ini buatan manusia purba dikarenakan tidak terdapat ornament-ornamen
Hindu-Budha.
4. Prasasti Sojomerto
a. Ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan
Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
b. Prasasti ini beraksara Kawi dan
berbahasa Melayu Kuno.
c. Berasal dari sekitar abad ke 7 masehi.
d. Bersifat keagamaan Siwais.
e. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh
utmanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama santanu, ibunya bernama
Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat
bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja
keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di kerajaan Mataram Hindu.
f. Bahan prasasti ini adalah batu andesit
dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11
baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
F. Masa kemunduran kerajaan Kalingga
Kerajaan
Kalingga mengalami kemunduran karena akibat serangan dari sriwijaya yang
menguasai perdagangan, serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan kijen
menyingkir ke Jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman Jawa bagian tengah
antara tahun 742-755 masehi. Bersama melayu dan tarumanegara yang sebelumnya
telah ditaklukan kerajaan sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing
kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Budha.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Kerajaan
Kaling (Holing) atau Kalingga berdiri pada abad ke 7 hingga abad ke 9. Kerajaan
ini terletak di Jawa Tengah, di Kecamatan Keling sebelah utara gunung muria,
sekarang letaknya di dekat Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Nama Kalingga
sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kalinga, nama sebuah
kerajaan di India Selatan. Menurut berita Cina, di sebelah timur Kalingga ada
Po-li (Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga terdapat To-Po-Teng (Sumatra)
sementara di sebelah utara Kalingga terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah
selatan berbatasan dengan samudra. Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh
Ratu Sima yang digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat
terhadap peraturan yang berlaku di dalam kerajaan, sehingga hal tersebut
memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada keamanan. Masa
kehidupan sosial di kerajaan Kalingga yaitu teratur, berkat kepemimpinan ratu
Sima. Ketentraman dan ketertiban di kerajaan Kalingga berlangsung dengan baik,
dalam menegakkan hukum ratu Sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan
kerabatnya sendiri. Agama utama yang dianut oleh penduduk Kalingga pada umumnya
adalah Budha. Agama Budha berkembang pesat bahkan pendeta Cina yang bernama
Hwi-ning datang di Kalingga dan tinggal selama tiga tahun. Selama di Kalingga,
ia menerjemahkan kitab suci agama Budha Hinayanake dalam bahasa Cina. Dalam
usaha menerjemahkan kitab itu Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta bernama
Janabadra. Perekonomian di kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan
dan pertanian. Pada masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan
apapun. Agama budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di
sekitar kerajaan sebagai tempat bersatunya dua kepercayaan hindu dan budha. Dan
ada juga peninggalan-peninggalan di kerajaan Kalingga seperti parsasti Tukma,
candi Angin, candi Bubrah dan prasasti Sojomerto. Kerajaan Kalingga mengalami
kemunduran karena akibat serangan dari sriwijaya yang menguasai perdagangan.
DAFTAR PUSAKA
Dwi Amurwani L, Restu Gunawan, dkk.
2014. Sejarah Indonesia. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Widiyatmiko. “Kerajaan Kalingga”. Staff gunadarma, http://widiyatmiko.staff.gunadarma.ac.id/Download/files/51869/Kerajaan+Kalingga.pdf,
diakses tanggal 2 Maret 2018 jam 20.00 WIB.
Eko Permana. 2016. “Sejarah Kerajaan
Kalingga”, http://tentangsejarahgua.blogspot.co.id/2016/09/sejarah-kerajaan-kalingga-kerajaan.html,
diakses tanggal 2 Maret 2018 jam 20.00 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar