Jumat, 09 Maret 2018

MAKALAH KERAJAAN KALINGGA ATAU HOLING



KERAJAAN KALINGGA ATAU HOLING
Makalah dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad 16
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.


Disusun oleh:
          Hafizhan Pramanda Putra   (173231053)
          Ahmad Farchan Saputra     (173231056)
Wahyu Indra Widyasmoko (173231063)
          Nur Khasanah                     (173231073)

SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kerajaan Kalingga merupakan kerajaan yang bercorak Budha. Pusat pemerintahannya diperkirakan di Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Lebih tepatnya terletak di Jawa Tengah, di Kecamatan Keling sebelah utara gunung muria, sekarang letaknya di dekat Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Dalam berita Cina kerajaan ini disebut Holing, dijelaskan bahwa Kerajaan Kalingga diperkirakan mulai abad ke 6 hingga ke 7. Perekonomian Kerajaan Kalingga bertumpu pada perdagangan dan pertanian. Dikarenakan letaknya yang dekat dengan pesisir pantai utara Jawa Tengah sehingga Kalingga mudah diakses oleh perdagangan luar negeri. Kehidupan sosial Kerajaan Kalingga yaitu tentram, tertib, dan teratur berkat kepemimpinan Ratu Sima. Pada abad ke 7 Kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Sima, hukum yang ditegakkan di Kerajaan Kalingga dengan baik sehingga ketertiban dan ketentraman di Kerajaan Kalingga berjalan sangat baik. Kerajaan Kalingga memiliki pertalian dengan Kerajaan Galuh. Masa kejayaan Kerajaan Kalingga yaitu pada masa kepemimpinan Ratu Sima karena dalam bercocok tanam Ratu Sima mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Dan masa kehancuran Kerajaan Kalingga yaitu Kerajaan Kalingga mengalami kemunduran akibat serangan dari Sriwijaya yang menguasai perdagangan, serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan Kijen menyingkir ke Jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman Jawa bagian tengah antara tahun 742-755 Masehi.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa latar belakang berdirinya Kerajaan Kalingga?
2.      Bagaimana masa politik dan kehidupan sosial di Kerajaan Kalingga?
3.      Bagaimana masa perekonomian di Kerajaan Kalingga?
4.      Bagaimana masa kejayaan Kerajaan Kalingga?
5.      Apa saja peninggalan-peninggalan Kerajaan Kalingga?
6.      Apa yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Kalingga?

C.     TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui latar belakang berdirinya Kerajaan Kalingga.
2.      Mengetahui masa politik dan kehidupan sosial di Kerajaan Kalingga.
3.      Mengetahui masa perekonomian di Kerajaan Kalingga.
4.      Mengetahui masa kejayaan Kerajaan Kalingga.
5.      Mengetahui peninggalan-peninggalan Kerajaan Kalingga.
6.      Mengetahui penyebab kemunduran Kerajaan Kalingga.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Latar belakang berdirinya Kerajaan Kalingga/Holing
Kerajaan Kaling (Holing) atau Kalingga berdiri pada abad ke 7 hingga abad ke 9. Kerajaan ini terletak di Jawa Tengah, di Kecamatan Keling sebelah utara gunung muria, sekarang letaknya di dekat Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Nama Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Selatan. Menurut berita Cina, di sebelah timur Kalingga ada Po-li (Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga terdapat To-Po-Teng (Sumatra) sementara di sebelah utara Kalingga terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra.  Yang didirikan oleh beberapa kelompok orang lain dari India yang berasal dari Orissa mereka melarikan diri karena daerah Orissa dihancurkan oleh Maharaga Asoka. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka. Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya Kabupaten Keling di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno.  
Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Sima yang digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku di dalam kerajaan, sehingga hal tersebut memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada keamanan. Diceritakan bahwa pada suatu hari seorang raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantong yang berisi dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orang-orang Kalingga yang terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantong emas yang bukan milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anggota dari istana secara tidak sengaja menyentuh kantong tersebut dengan kakinya. Mengdengar hal tersebut, Sima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anggota dari istana tersebut. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Sima, akan tetapi atas usul  persidangan para menteri. Akhirnya hukuman itu diperingan dengan hukuman potong kaki.
Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan islam kepada daerah asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi pada masa setelah Ratu Sima turun dan digantikan oleh Jay Sima ini menyebabkan sang raja memeluk agama islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli mereka dan menganut islam.

Kerajaan Kalingga juga pernah mengalami ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan adalah 2 candi yaitu candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling, yang tepatnya di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan nama karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tua dari candi Borobudur. Di sisi lain, candi Bubrah merupakan sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi umumnya sama dengan candi Angin.
                                                                                                
B.      Masa kehidupan sosial dan pemerintahan kerajaan Kalingga
Masa kehidupan sosial di kerajaan Kalingga yaitu teratur, berkat kepemimpinan ratu Sima. Ketentraman dan ketertiban di kerajaan Kalingga berlangsung dengan baik, dalam menegakkan hukum ratu Sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan kerabatnya sendiri. Berita tentang ketegasan ratu Sima, pada suatu hari ada anggota keluarga istana yang sedang jalan-jalan, kemudian tidak sengaja menyentuh kantong yang berisi emas dengan kakinya. Hal ini diketahui oleh Ratu Sima, anggota keluarga istana itu dinilai salah dan harus diberi hukuman mati. Akan tetapi atas usul persidangan para menteri, hukuman itu diperingan dengan hukuman potong kaki. Kisah ini menunjukkan begitu tegas dan adilnya Ratu Sima dan ia tidak membedakan antara rakyat dan anggota kerabatnya sendiri. Agama utama yang dianut oleh penduduk Kalingga pada umumnya adalah Budha. Agama Budha berkembang pesat bahkan pendeta Cina yang bernama Hwi-ning datang di Kalingga dan tinggal selama tiga tahun. Selama di Kalingga, ia menerjemahkan kitab suci agama Budha Hinayanake dalam bahasa Cina. Dalam usaha menerjemahkan kitab itu Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta bernama Janabadra. Dan pada masa kehidupan politik kerajaan Kalingga yaitu pada abad ketujuh masehi kerajaan Kalingga dipimpin oleh ratu Sima, hukum di Kalingga ditegakkan dengan baik sehingga ketertiban dan ketentraman di Kalingga berjalan dengan baik. Kepemimpinan raja yang adil, menjadikan rakyat hidup teratur, aman dan tentram. Mata pencaharian penduduk pada umumnya adalah bertani, karena wilayah Kalingga subur untuk pertanian. Di samping itu, penduduk juga melakukan perdagangan. Menurut naskah parahhayang, ratu Sima memiliki cucu bernama Sanaha yang menikah dengan raja Brantasenawa dari kerajaan Galuh. Sanaha memiliki anak bernama Sanjaya yang kelas akan menjadi raja Mataram Kuno. Sepeninggalan ratu Sima, kerajaan ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya.








C.     Masa perekonomian di kerajaan Kalingga
Perekonomian di kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Karena letaknya yang dekat dengan pesisir pantai utara Jawa Tengah menyebabkan Kalingga mudah di akses oleh perdagangan luar negeri. Dan pada umumnya mata pencaharian penduduk yaitu bertani karena wilayahnya subur untuk pertanian. Di samping itu, penduduk juga melakukan perdagangan. Kalingga merupakan daerah penghasil kulit penyu, emas, perak, dan gading gajah untuk dijual. Penduduk Kalingga dikenal pandai membuat minuman yang berasal dari bunga kelapa dan bunga aren.

D.    Masa kejayaan kerajaan Kalingga
Pada masa kepemimpinan ratu Sima menjadi masa keemasan bagi kerajaan Kalingga sehingga membuat raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum, sekaligus penasaran. Pada masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan sebagai tempat bersatunya dua kepercayaan hindu dan budha. Perekonomian di kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian.  Dalam bercocok tanam ratu Sima mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang pengairan yang diberi nama subak, kebudayaan baru ini yang melahirkan istilah Tanibhala atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam.

E.     Peninggalan-peninggalan kerajaan Kalingga
1.      Prasasti Tukmas
a.       Ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah.
b.      Bertuliskan huruf pallawa yang berbahasa sanskerta.
c.       Isi prasasti menceritakan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan sungai Gangga di India.
d.      Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.





2.      Candi Bubrah, Jepara
a.       Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
b.      Candi Bubrah adalah salah satu candi Budha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di antara percandian Roro Jonggrang dan Candi Sewu. Secara administratif, candi ini terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
c.       Dinamakan Bubrah karena keadaan candi ini rusak (bubrah dalam bahasa jawa) sejak ditemukan. Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada abad ke 9 pada zaman kerajaan Mataram Kuno, satu periode dengan candi Sewu.
d.      Candi ini memiliki ukuran 12 m × 12 m terbuat dari jenis batu andesit, dengan sisa reruntuhan setinggi 2 meter. Saat ditemukan masih terdapat beberapa arca Budha, walaupun tidak utuh lagi.
3.      Candi Angin
a.       Candi Angin terdapat di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Karena letaknya yang tinggi tapi tidak roboh terkena angin, maka dinamakan Candi Angin.
b.      Menurut para penelitian candi Angin lebih tua dari pada candi Borobudur. Bahkan ada yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba dikarenakan tidak terdapat ornament-ornamen Hindu-Budha.
4.      Prasasti Sojomerto
a.       Ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
b.      Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno.
c.       Berasal dari sekitar abad ke 7 masehi.
d.      Bersifat keagamaan Siwais.
e.       Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utmanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di kerajaan Mataram Hindu.
f.       Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.



  
F.      Masa kemunduran kerajaan Kalingga
Kerajaan Kalingga mengalami kemunduran karena akibat serangan dari sriwijaya yang menguasai perdagangan, serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan kijen menyingkir ke Jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman Jawa bagian tengah antara tahun 742-755 masehi. Bersama melayu dan tarumanegara yang sebelumnya telah ditaklukan kerajaan sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Budha.





















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Kerajaan Kaling (Holing) atau Kalingga berdiri pada abad ke 7 hingga abad ke 9. Kerajaan ini terletak di Jawa Tengah, di Kecamatan Keling sebelah utara gunung muria, sekarang letaknya di dekat Kabupaten Pekalongan dan Jepara. Nama Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kalinga, nama sebuah kerajaan di India Selatan. Menurut berita Cina, di sebelah timur Kalingga ada Po-li (Bali sekarang), di sebelah barat Kalingga terdapat To-Po-Teng (Sumatra) sementara di sebelah utara Kalingga terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra. Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Sima yang digambarkan sebagai seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku di dalam kerajaan, sehingga hal tersebut memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada keamanan. Masa kehidupan sosial di kerajaan Kalingga yaitu teratur, berkat kepemimpinan ratu Sima. Ketentraman dan ketertiban di kerajaan Kalingga berlangsung dengan baik, dalam menegakkan hukum ratu Sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan kerabatnya sendiri. Agama utama yang dianut oleh penduduk Kalingga pada umumnya adalah Budha. Agama Budha berkembang pesat bahkan pendeta Cina yang bernama Hwi-ning datang di Kalingga dan tinggal selama tiga tahun. Selama di Kalingga, ia menerjemahkan kitab suci agama Budha Hinayanake dalam bahasa Cina. Dalam usaha menerjemahkan kitab itu Hwi-ning dibantu oleh seorang pendeta bernama Janabadra. Perekonomian di kerajaan Kalingga bertumpu pada sektor perdagangan dan pertanian. Pada masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan sebagai tempat bersatunya dua kepercayaan hindu dan budha. Dan ada juga peninggalan-peninggalan di kerajaan Kalingga seperti parsasti Tukma, candi Angin, candi Bubrah dan prasasti Sojomerto. Kerajaan Kalingga mengalami kemunduran karena akibat serangan dari sriwijaya yang menguasai perdagangan.
                                                                                                                                        






DAFTAR PUSAKA
Dwi Amurwani L, Restu Gunawan, dkk. 2014. Sejarah Indonesia. Jakarta: Kementerian                                  Pendidikan dan Kebudayaan.
Widiyatmiko. “Kerajaan Kalingga”. Staff gunadarma,             http://widiyatmiko.staff.gunadarma.ac.id/Download/files/51869/Kerajaan+Kalingga.pdf, diakses tanggal 2 Maret 2018 jam 20.00 WIB.
Eko Permana. 2016. “Sejarah Kerajaan Kalingga”,    http://tentangsejarahgua.blogspot.co.id/2016/09/sejarah-kerajaan-kalingga-kerajaan.html, diakses tanggal 2 Maret 2018 jam 20.00 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...