Kamis, 11 April 2019

Makalah NEGARA ISLAM DAN GERAKAN OPOSISI: MAROKO DAN LIBYA 6b


Disusun Oleh:
David Khoiri Azhar 163231037
Salma Tiara Rahmani 163231062
PROGRAM STUDI SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN BAHASA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2019

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Agama Islam masuk ke daratan Afrika pada masa Khalifah Umar bin Khattab, waktu Amru bin Ash memohon kepada Khalifah untuk memperluas penyebaran Islam ke Mesir lantaran dia melihat bahwa rakyat Mesir telah lama menderita akibat ditindas oleh penguasa Romawi dibawah Raja Muqauqis. Sehingga mereka sangat memerlukan uluran tangan untuk membebaskannya dari ketertindasan itu. Muqauqis sesungguhnya tertarik hendak masuk Islam setelah menerima surat dari Rasulullah SAW. Namun, karena lebih mencintai tahtanya maka sebagai tanda simpatinya beliau kirimkan hadiah kepada Rasulullah SAW.Maka dengan restu Khalifah Umar bin Khattab dia membebaskan Mesir dari kekuasaan Romawi pada tahun 19 H (640 M).
Setelah pintu masuk Islam terbuka lewat Mesir. Mulailah muncul beberapa kerajaan Islam di Afrika. Kerajaan-kerajaan ini banyak mengadopsi budaya Timur tengah. Mereka berbentuk seperti kesultanan. Lalu beberapa kerajaan ini juga mencoba membebaskan negara-negara lain di Afrika yang pada saat itu ditindas pemerintahan Bizantium. Hingga akhirya Islam mulai berkembang di berbagai kawasan Afrika.
Pembahasan mengenai masuk dan berkembangnya Islam di Afrika mencakup beberapa wilayah negara yaitu Mesir, Libia, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Nigeria, Mali, Pantai Gading, Sudan, Ethiopia, Kenya, Zambia dan lain-lainnya. Namun pada makalah ini kami akan membahas Islam di Maroko dan Libya, mulai dari proses masuknya Islam di Maroko dan Libya hingga gerakan oposisi di Maroko dan Libya.

Rumusan Masalah
Bagaimana Proses masuknya Islam di Maroko dan Libya? 
Bagaimana Gerakan oposisi di Maroko dan Libya?

BAB II
PEMBAHASAN

Proses Masuknya Islam Di Maroko dan Libya
Maroko
Maroko adalah negeri yang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Afrika Utara. Yang tak kalah pentingnya, negeri berjuluk ‘Tanah Tuhan’ itu merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke Spanyol, Eropa. Dari Maroko inilah Panglima tentara Muslim, Tariq bin Ziyad menaklukan Andalusia dan mengibarkan bendera Islam di daratan Eropa.
Maroko memasuki babak baru setelah Islam menancapkan benderanya di wilayah Afrika Utara. Ajaran Islam tiba di Maroko pada 683 M. Adalah pasukan yang dipimpin Uqba Ibnu Nafi — seorang jenderal dari Dinasti Umayyah — yang kali pertama membawa ajaran Islam ke wilayah itu. Islam benar-benar menguasai Maroko pada tahun 670 M.
Setelah Maroko jatuh ke dalam genggaman Dinasti Umayyah, Musa bin Nusair mengangkat Tariq bin Ziyad untuk memerintah Maroko. Dari wilayah itulah, Tariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Maroko dan Eropa menuju ke gunung yang dikenal dengan Jabal Tariq (Gibraltar). Maroko menjadi wilayah penyangga bagi umat Islam untuk melakukan ekspansi ke daratan Spanyol, Eropa.
Maroko modern pada abad ke-7 M merupakan sebuah wilayah Barbar yang dipengaruhi Arab. Bangsa Arab yang datang ke Maroko membawa adat, kebudayaan dan ajaran Islam. Sejak itu, bangsa Barbar pun banyak yang memeluk ajaran Islam. Ketika kekuasaan Dinasti Umayyah digulingkan Dinasti Abbasiyah, Maroko pun menjadi wilayah kekuasaan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Pada masa kepemimpinan Abu Ya’kub Yusuf bin Abdul Mu’min (1163 M – 1184 M), kota Marrakech menjadi salah satu pusat peradaban Islam dalam bidang sains, sastra, dan menjadi pelindung kaum Muslimin untuk mempertahankan Islam dari serangan dan ambisi Kristen Spanyol. Dinasti ini juga ikut membantu Salahudin Al-Ayubi melawan tentara Kristen dalam Perang Salib.
Pasca runtuhnya kekuasaan Dinasti Al-Muwahhidun, Maroko dikuasai beberapa dinasti seperti; Dinasti Marrin, Dinasti Wattasi (1420 M – 1554 M), Syarifiyah Alawiyah (1666 M), Abdul Qadir Al-Jazairy (1844 M), dan Sultan Hasan I (1873 M – 1894 M).
Libya
Libya adalah Negara republik rakyat yang terletak di tepi laut tengah Afrika utara. Rebublik ini termasuk Negara nomor empat terluas di benua afrika. Sebelah selatan berbatasan dengan Chad, sebelah barat dengan Aljazair , barat laut dengan Tunisia, barat daya dengan Niger, timur dengan  Mesir dan tenggara dengan sudan. Luas: 1.757.000 km,2. Jumlah penduduk: 4.206.000 (1990). Kepadatan penduduk: 2,4/km2. ibukota: Tripoli. Bahasa resmi adalah bahasa Arab. Agama: Islam (97 persen, merupakan agama resmi): lain-lain (3 persen). Satuan mata uang adalah Dinar Libya (LD).
Serangkaian invasi pada abad ke-7 menimbulkan proses Arabisasi dan Islamisasi penduduk negeri di sekitar dataran benua Afrika utara, tetapi    tetapi hal ini  tidak diiringi pembentukan rejim yang memusat. Otoritas Almohad bersifat nominal (sekedar nama; Mamluk Mesir bersekutu dengan suku-suku di Cyrenaica sehingga mengantarkan klaim mereka sebagai menguasa nereni di dataran Afrika Utara tersebut.. Klaim ini diwarisi oleh Usmani yang menaklukkan Mesir pada tahun 1517 dan Tripoli pada tahun 1551. sejak tahun 1551-1711 tripoli diperintah oleh pasha usmani dan tentara Jenisari  Pemerintahan Usmani juga mendirikan rezim pertama di wilayah Tripolitania, cyrenaica, dan fezzan yang mana pada masa modrn ini Negara-negara tersebut membentuk sebuah Negara yang dikenal sebagai Negara libya.

Wilayah libiya, sepanjang sejarahnya banyak mengalami masa pendudukan dari luar; Phoenician, Carthagin Romawi, yunani, Fandals, Byzantines. sementara itu Islam masuk ke Libya lewat penaklukan tentara Islam dari Arab pada abad ke-7 masehi. Islam kemudian diterima dengan sukarela oleh masyarakat libiya, bahkan mayoritas rakyat  Libya beragama Islam dan mengadopsi bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari rakyat Libya. Sampai abad ke-16 Libiya masih merupakan bagian dari khalifah Ustmaniyah. Tahun 1911 Tentara Itali masuk ke Libiya dan menjadikannya sebagai salah satu daerah koloninya. Pada tahun 1943 Itali maengadopsi nama Libya (nama yang digunakan oleh orang Yunani untuk maenyebut daerah Afrika Utara, kecuali Inggris) sebagai nama resmi daerah koloninya. Wilayah libiya meliputi propinsi Cyrenaica, Tripoltania, dan Fezzan. Raja Idris, pemimpin daerah Cyrenaica, memimpin perlawanan rakyat Libiya terhadap penjajah Itali sepanjang perang dunia I dan II.
Dari tahun 1943 sampai 1951 Tripolitania dan Cyrenaica berada di bawah jajahan Inggris sementara Fezzan berada di bawah pengontrolan penjajah Prancis,. Tahun 1944, raja Idris kembali dari pengasingannya di kairo, mesir, dan kembali di Cyrenaica. Di bawah perjanjian damai dengan sekutu Itali menarik diri dari Libiya. Pada tanggal 21 Nopember 1949, sidang umum PBB mengeluarkan resolusi yang mengumumkan Libiya harus menjadi Negara  merdeka sebelum tanggal 1 Januari 1952. Raja Idris saat itu mewakili Libya dalam negosiasi PBB. Ketika Libya merdeka tanggal 24 Desember 1951, Libya merupakan Negara pertama di dunia yang merdeka di bawah desakan PBB. Libya memproklamasikan diri sebagai Negara monarki konstitusional di bawah pimpinan Raja Idris. Berkat penemuan sumber minyak tahun 1959, Libya menjadi Negara kaya di dunia dilihat dari perkapita GDP-nya. Padahal sebelumnya, Libya merupakan Negara miskin.
Sebelumnya, dalam bidang ekonomi Libya mengandalakan sector pertanian seperti jelai (makanan rakyat), kurma, zaitun, dan buah-buahan peras. Meskipun banyak mengalami kerugian akibat embargo yang diterapkan PBB, ekonomi Libya relative tetap stabil. Hal ini karena Libya masi biya mempertahankan volume eksport minyaknya sekitar1,5 juta barel perhari. Minyak merupakan 90 persen sumber devisa Negara ini. Tentu saja, minyak libya mengundang perusahan-perusahan kapitalis yang haus minyak.
Raja Idris memerintah Libya sampai tanggal 1 September 1969. lewat kudeta militer. Rezim baru Libya dipimpin oleh dewan komando revolusi yang membubarkan sistem monarki dan memproklamasikan Negara Republik Arab yang baru.
Kolonel  Muammar khadafi menjadi pimpinan dewan komando revolusi yang secara defakto sekaligus sebagai pemimpin Negara Libya. Lewat dewan komando revolusi ini, terjadilah perubahan arah Negara Libya. Dengan moto,  kebebasan, sosialisme, dan persatuan, Libya bersemangat untuk melepaskan diri dari keterbelakangan, mengambil peran aktif dalam kasus Palestina, mempromosikan persatuan Arab, serta menekankan kebijakan domestic yang berdasarkan  kesejahteraan sosial, non –eksploitasi dan pendistribusian kesejahteraan yang sama. Saat itu juga, pemerintah baru ini maenuntut pengunduran diri seluruh instalasi militer asing di Libya.   Sejak mengambil alih pada tahun 1969 lewat kudeta militer, Kolonel Muammar Khadafi telah membentuk sistim polotiknya sendiri, yang diklaimnya sebagai gabungan dari sosialismae dan Islam, yang disebut oleh Khadafi sebagai teori internasional ketiga (the third internationale theory). Kadafi membentuk dirinya sebagai pemimpin  revolusi.

Gerakan oposisi
Libya
Gerakan Sanusyyah: Kerajaan Libya
Gerakan tareqat Sanusyyah dibentuk pada tahun 1837 oleh Muhammad bin Ali al-Sanusyyah (1787-1859), yang dilahirkan di Al-Jazair tepatnya di al-Wasitah  dekat mustaghanim. Dia adalah salah seorang keturunan nabi dari Al-Hasan, anak laki-laki dari fatimah. nama lengkapnya adalah Al-Sanusi Al-Khattab Al-Hasani. Pendiri gerakan tarekat ini telah mempelajari berbagai ilmu agama dan bahkan pernah bergabung dengan gerakan-gerakan terkait lannya yang ada di Afrika Utara.

Tidak puas dengan ilmu-ilmu yang telah dipelajari di daerah kelahirannya seperti ilmu Al-Qur'an , Tauhid, dan fiqih, dia kemudian meninggalkan kota kelahirannya untuk memperdalam ilmu-ilmu yang sudah dimiliki. Dia pergi menuju kota Fas untuk mempelajari tafsir Al-Qur'an , Hadits , sejarah dan ilmu-ilmu tradisional lainnya di mesjid dan universitas Karawiyyin.
Gerakan Sanusyyah dibentuk dengan tujuan untuk menyatukan ikhwanul muslimin yang ada dan untuk menyebar luaskan dan merevitalisasikan Islam. Bahkan ditegaskan bahwa Gerakan Sanusyyah dibentuk untuk menghindari dan mempertahankan Islam dari agresi bangsa asing. Untuk tujuan ini, gerakan sanusiah memilih daerah terpencil yaitu; Cyrenaica, satu daerah yang berada diluar pengaruh bangsa Eropa dan hanya secara nominal dibawah rezim Usmanyyah.
Dengan demikian tempat tersebut di atas cukup cocok untuk suatu gerakan keagamaan. Pondok-pondok Sanusyyah menjadi pusat misi dan pendidikan agama Islam dan juga menjadi perkampungan, pertanian dan perdagangan. Pondok-pondok itu dihubungkan dengan rute-rute perdagangan. Selama hampir sembilan dasawarsa, Gerakan Sanusyyah memiliki asas Islam yang kuat, yang memadukan unsur-unsur ekonomi dan agama. Tersebar di sepanjang wilayah Cyrenaica, Fazzan dan sebagian wilayah dari orang-orang badui setempat. Ini akibat usaha gerakan menggalang persaudaraan di kalangan mereka. Mendapat otoritas untuk urusan kerjasama niaga, menjadi mediator dalam berbagai konflik, dan untuk urusan-urusan pengajaran agama dan representasi politik.
Thariqat ini secara progresif mendapatkan otoritas semi politik dikalangan masyarakat badui di wilayah ini melalui negosiasi kerjasama dibidang perdagangan, melalui peran mediasi perselisihan, dan melalui pengadaan tugas-tugas perkotaan seperti pengajaran keagamaan, pertukaran barang produksi, darma bakti, dan perwakilan politik.

PBB tahun 1951 menetapkan seorang pemimpin Sanusyyah, Amir Idris menjadi raja dan memerintah negeri ini atas dasar legitimasi keagamaan keluarganya dan atas dasar pengabdiannya dalam perjuangan melawan pemerintahan asing, bila pada akhir abad ke-19 gerakan Sanusyyah telah mampu membangun satu koalisi kesukuan yang cukup luas, sebelah barat Mesir dan Sudan. Pada awal abad ke-20, hanya beberapa ulama di pusat perkotaan yang berpotensi menjadi ancaman bagi hegemoni Sanusyyah. Meskipun kepemimpinan Sanusyyah akhirnya beralih ke Mesir, penggantinya Syekh Umur Al-Mukhtar meneruskan perjuangan melawan Italia hinga tahun 1927, perjuangan Sanusyyah tidak berhenti, gerakan ini menjalin persekutuan dengan Inggris dalam perang dunia II dengan tujuan agar Libya lepas dari pengawasan Italia. Selanjutnya libya sebagai sebuah kerajaan, diproklamasikan pada tahun 1951, dan raja Idrus Al-Sanusyyah, cucu dari pendiri gerakan Sanusyyah sebagai raja pertama Libya.
Tarikat Sanusiah berusaha menyatukan seluruh umat muslim dalam persaudaraan, bahkan juga memberikan konstribusi bagi penyebaran dan revitalisasi Islam. Tujuan dakwanya telah mengantarkan Al-Sanusyyah ke cyrenaiica, disinilah ia mendirikan sejumlah jawiah sebelum kematiannya pada tahun 1859. jawiah sanusiah tersebut menjadi pusat-pusat misi dan pengajaran keagamaan, bahkan juga menjadi pemukiman pertanian dan perdagangan. Jawiah Sanusyyah tersebut, yang mengembangkan sejumlah rute perdagangan yang menghubungkan Cyrenaica  dengan Kufrah dan Waday, turut membantu dalam menggorganisir karafan dan perdagangan.
Dalam perjalanan kepemimpinan Raja Idris dalam memimpin Libya dipandang kurang akomodatif dan aspiratif terhadap berbagai kemauan rayatnya terutama dari kalangan generasi muda Libya.

Ini menyebabkan dia tidak sanggup mengghadapi tuntutan generasi muda yang terimbas oleh perasaan nasionalisme yang sedang tumbuh dan oleh perkembangan ekonomi minyak yang begitu fenomenal semenjak pemasarannya pada tahun 1961. Akhirnya pada tahun 1969 Khadafi melakukan kudeta terhadapnya.
Pada tahun 1973 revolusi Libya mengalami perubahan yang sangat radikal, dengan memberhentikan sejumlah pejabat, dan musuh-musuh politiknya yang potensial dan membentuk komite untuk menjalankan pemerintahan negara, sekolah, dan sejumlah perusahaan besar. Pada akhir dekade 1970 negara mengambil alih kekuasaan atas seluruh fungsi ekonomi yang penting.  dampak politik populisme ini adalah penghapusan seluruh pusat kekayaan independent dan pembentukan sebuah sistem pengedalian terhadap fungsionari publik sehingga meminimalkan prospek oposisi terhadap Khadafi. Khadafi sangat terkenal sebagai tokoh idiologi arab dan islam radikal. Doktrin revolisionernya yang pertama merupakan kopi dari idiologi naseria dan ba'thiyah dan menyerukan persatuan arab menentang kolonialisme dan zionisme dan kepemimpinan bangsa libya dalam menggalang persatuan dan perjuangan arab dalam menggahadapi Israel.
Gerakan Khadafi dan Islam Libya
Di mata barat khususnya As, Libya di bawa kepemimpinan muamar Khadafi merupakan sosok Negara teroris. Kasus-kasus terorisme kerap dikaitkan dengan  Khadafi.  Libya termasuk dalam daftar negara sponsor terorisme internasional versi AS, antara lain karena kebijakan pemerintahan Khadafi yang menyokong apa yang disebutnya; gerakan-gerakan pembebasan di sejumlah negara. Sejak berkuasa tahun 1969, Khadafi telah membantu gerakan pembebasan sekitar 45 negara , antara lain pemberontakan di Chad dengan mengirim legion Islam yang dilatih di Libya,


gerilyawan muslim moro di Filipina, dan tentara republik Irlandia tiap tahun, Khadafi bahkan menggelar konfrensi gerakan-gerakan pembebasan sedunia alias pertemuan tahunan para aktifis kelompok-kelompok pergerakan radikal di Tripoli,ibu kota Libya.
Pada awal tahun 1970 Khadafi menambahkan satu dimensi baru dalam pandangan teoritisnya dimana ia mengusulkan misi Arab Islam sebagai memproklamirkan sebuah skripturalisme Islam yang ektrem di mana Al-Qur'an dijadikan satu-satunya sumber otoritas bagi rekonstruksi masyarakat Islam, namun hal yang sama tidak diberlakukan terhadap hadits nabi Muhammad. Skripturalisme Islam sejalan dengan populisme yang menghancurkan otoritas ulama, syaikh sufi, kalangan birokrat dan teknokrat, dan menjadikan Khadafi sendiri sebagai figure sentral dalam versi modernisme islamiah. Demikian juga moralitas Al-Qur'an di libya mengharamkan praktik perjudian , alkohol dan bentuk —bentuk kejahatan barat yang sedang menggejala.
Khadafi selama ini senantiasa memberangus aktifitas keislaman yang mengancamnya dengan berbagai cara antara lain lewat eksekusi, penghancuran rumah , dan hukuman massal. Dia sendiri memiliki hari istimewa untuk menggantung mahasiswa yang dianggapnya melawan dirinya di dalam kampus, yakni setiap tanggal 7 april setiap tahunnya.
Anggapan bahwa Khadafi merupakan cerminan perlawanan ideologi Islam jelas sangat keliru. Khadafi sesungguhnya tidak lebih dari pada penganut idiologi sosialisme. Namun demikian, sama seperti  pemimpin sosialis Arab lainnya, Khadafi memanipulasi Islam untuk mendapat dukungan dari rakyat libya yang mayoritas muslim. Bahkan, Khadafi banyak melakukan pembantaian terhadap aktifis Islam yang dia anggap mengancam kedudukannya.

Untuk menampakkan citra Islamnya, Khadafi memberangus seluruh peninggalan kolonial Kristen eropa di Libya, gereja-gereja ditutup, aktifitas misionaris dilarang, serta basis-basis militer dan amerika dan Inggris ditutup. Khadafi juga menerapkan sebagian hukum Islam seperti melarang meminum alcohol dan penutupan tempat hiburan malam.
Pemikiran sosialisme lebih tampak pada saat ia menerbitkan buku hijau. Buku ini tidak jauh berbeda dengan buku merahnya Mao Tse-tung. Buku ini sendiri terdiri dari 3 jilid: The solution to-the-problem of democeracey (1975), the solution of the economic problem: socialism (1977), dan social basis of the third international theory (1979). Khadafi kemudian menjadikan buku ini sebagai bacaan wajib bagi rakyat libya yang diajarkan di sekolah-sekolah. Khadafi sering mengatakan bahwa bukunya itu didasarkan pada nilai-nilai Islam. Bahkan, dia menyatakan bahwa kaum muslimin harus berpegang teguh pada al-Qur,an. Padahal bukunya itu justru memberikan pemecahan yang tidak sesuai dengan Islam. Dalam politik, ia memberikan solusi demokrasi, padahal ide demokrasi yang mendasarkan diri pada kedaulatan rakyat brertentangan dengan Islam. Khadafi sendiri, dalam prakteknya adalah seorang diktator. Sementara itu, dalam ekonomi justru dia memberikan solusi sosialisme yang bertentangan dengan Islam.
Permusuhan AS dan sekutunya terhadap Libya sendiri telah berlangsung sejak Khadafi mengambil alih kekuasaan melalui kudeta tak berdarah terhadap Raja Idris I pada 1 september 1969. Awal ketegangan hubungan AS-Libya adalah ketika Khadafi memaksa AS membongkar pangkalan militernya di Wheelus Fied bulan juni 1970, setelah tiga bulan sebelumnya mengusir tentara Inggris dari pangkalan militernya di Tobruk. Hal itu dilakukan Khadafi dalam rangka menjadikan Libya sebagai wilayah bebas dan berdaulat untuk selamanya.

Tindakan Khadafi mempermalukan sang Negara adikuasa (AS) tersebut tentu saja menimbulkan amarah dan dendam dari Washington, apalagi tindakan tidak bersahat Khadafi terhadap Barat tidak berhenti sampai di sana. Dalam tahun 1970 itu,Khadafi juga menyita harta benda dan mengusir sekatar 25.000 pemukim Yahudi dan Italia serta menasionalisasi beberapa perusahaan minyak asing. Hubungan AS-Libya semakin buruk ketika AS menghentikan bantuan militernya ke Libya, ditandatanganinya perjanjian persahabatan Libya-Uni Soviet (1973), diusirnya para diplomat Libya dari Washington (1981). Barat kian membenci ketika ia berobsesi mewujudkan “persatuan Arab”yang di mata Barat berarti”persekutuan dunia Islam” Khadafi pernah berupayah membangun federasi dengan Mesir, Sudan, dan Suriah (1969-1970), lalu dengan mesir saja (1973), Tunisia (1974) Suriah (1980), Chad (1980-1981), dan Maroko (1985).
Sejauh ini, Khadafi tampak tetap tegar dalam posisinya sebagai penguasa Libya, meski badai ancaman pendongkelan kekuasaannya datang dari berbagai penjuru. Secara internal, kemungkinan kudeta terhadap Khadafi semakin membara, terutama dari kalangan militer yang tidak puas atas kebijakan Khadafi selama ini. Belum lagi ancaman dari berbagai kelompok oposisi yang hampir semuanya berbasis di luar negeri (Khadafi melarang adanya kelompok oposisi).
Meskipun Khadafi dianggap musuh, namun di sisi lain, ia pun dianggap “sekutu” oleh barat karna ternyata ia pun melakukan hal yang menyenangkan Barat, yaitu membasmi gerakan Islam. Khadafi tidak mentolerir adanya gerakan Islam. Kekuatan militer kerap digunakan Khadafi untuk menumpas habis para aktivis gerakan Islam. Bentrok senjata antara pasukan pemerintah dan para aktivispun kerap terjadi, terutama pada awal tahun 1989.

Tahun 1987 muncul organisasi Jihad Islam dan Hizbullah. Khadafi pun tetap mengahadapinya dengan bahasa kekerasan. Enam anggota Jihad digantung dan diprosesnya di siarankan TV Libya ke seluruh negeri. Dua tahun kemudian para aktivis gerakan Islam bergabung dan melakukan pemberontakan di Universitas Al-Fatah. Lagi-lagi diatasi dengan kekuatan militer.
Khadafi bukanlah sosok Islami yang hendak menegakan syariat Islam dan Libya bukanlah Negara fundamentalis Islam sebagaimana sering dikatakan media masa Barat. Khadafi berpaling ke Islam hanya demi peningkatan legitimasi kekuasaannya dan untuk menyebarkan pengaruhnya di dunia Arab dan Muslim. “Politik Islam” Khadafi tertuang dalam buku hijau yang mempromosikan sosialisme Arab atas nama Islam.. Buku hijau ini menggantikan peran syariat Islam. Al-Quran hanya dibatasi untuk kehidupan pribadi (seperti Shalat,Puasa,Zakart), sedangkan buku hijau mengatur politik dan masyarakat.
Libya di bawah kepemimpinan Khadafi di manfaatkan Barat untuk mendiskreditkan Islam. Identifikasi awal Libya sebagai sebagai Negara fundamentalis Islam karena seruan-seruan Khadafi tentang kembali ke jalan Islam, antik kolonialisme Barat, dan penghancuran Israel menjadikan Khadafi dan terorisme diidentikan dengan Islam dan semua aktivis Islam disamakan dengan radikalisme dan ekstremesme.

B. Maroko

Sahara Barat adalah wilayah yang berada di kawasan Afrika Utara. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Mauritania, Maroko, dan Aljazair. Dan hingga saat ini wilayah Sahara Barat belum memiliki pemerintahan yang sah. PBB mempunyai kontrol penuh di daerah ini karena belum ada pemerintahan yang sah dan dilegitimasi di wilayah ini. Di Sahara Barat terdapat organisasi Frente pular de Liberación de Saguia y el Hamra Ri o de Oro yang secara resmi dibentuk pada 10 mei 1973. Polisario ini awalnya dibentuk sebagai gerakan perlawanan mesyarakat Sahrawi terhadap kekuatan kolonial Spayol. Tetapi setelah Spanyol pergi, tujuan Polisario berubah menjadi memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat dan menolak integrasi Sahara Barat ke Maroko.
Polisario adalah kelompok yang mengklaim sebagai pemilik sah Sahara Barat atau Provinsi Sahara milik Kerajaan Maroko. Polisario didirikan di kamp Tindouf yang berada di kawasan barat daya Aljazair dekat perbatasan dengan Maroko. Dewasa ini gerakan separatisme telah menjamur di beberapa negara, mulai dari polemik agama, masalah kebangsaan, perbedaan pandangan, perbedaan cara berfikir, bahkan yang paling parah adalah perbedaan kepentingan yang mengatasnamakan suatu perubahan sehingga menghalalkan berbagai cara dalam mencapai tujuan dari gerakan mereka. Gerakan separatis biasanya berbasis nasionalisme atau kekuatan religius. Selain itu, separatisme juga bisa terjadi karena perasaan kurangnya kekuatan politis dan ekonomi suatu kelompok.
Gerakan separatisme Front Polisario tersebut muncul di Sahara Barat, dimana Sahara Barat adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan merupakan salah satu negara yang memiliki lahan perikanan terbaik di dunia, namun Sahara Barat merupakan salah satu negara yang paling jarang dihuni di dunia, bahkan beberapa data mencatat bahwa Sahara Barat merupakan negara yang paling rendah tingkat penduduknya.
Hingga saat ini sebagian besar wilayah Sahara Barat dibawah kontrol Maroko yang terbagi menjadi beberapa provinsi dan dianggap sebagai bagian integral dari kerajaan. Pemerintah Republik Demokratik Arab Sahrawi memproklamirkan diri sebagai bentuk partai tunggal dari sistem parlementer dan presidensial, akan tetapi menurut konstitusi, ini akan berubah menjadi sitem multipartai jika telah mencapai kemerdekaan.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Maroko adalah negeri yang memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Afrika Utara. Yang tak kalah pentingnya, negeri berjuluk ‘Tanah Tuhan’ itu merupakan pintu gerbang masuknya Islam ke Spanyol, Eropa. Dari Maroko inilah Panglima tentara Muslim, Tariq bin Ziyad menaklukan Andalusia dan mengibarkan bendera Islam di daratan Eropa. Maroko memasuki babak baru setelah Islam menancapkan benderanya di wilayah Afrika Utara. Ajaran Islam tiba di Maroko pada 683 M. Adalah pasukan yang dipimpin Uqba Ibnu Nafi — seorang jenderal dari Dinasti Umayyah — yang kali pertama membawa ajaran Islam ke wilayah itu. Islam benar-benar menguasai Maroko pada tahun 670 M.
Libya adalah Negara republik rakyat yang terletak di tepi laut tengah Afrika utara. Rebublik ini termasuk Negara nomor empat terluas di benua afrika. Sebelah selatan berbatasan dengan Chad, sebelah barat dengan Aljazair , barat laut dengan Tunisia, barat daya dengan Niger, timur dengan  Mesir dan tenggara dengan sudan. Luas: 1.757.000 km,2. Jumlah penduduk: 4.206.000 (1990). Kepadatan penduduk: 2,4/km2. ibukota: Tripoli. Bahasa resmi adalah bahasa Arab. Agama: Islam (97 persen, merupakan agama resmi): lain-lain (3 persen). Satuan mata uang adalah Dinar Libya (LD). Gerakan oposisi di Libya meliputi: Gerakan Sanusyyah: Kerajaan Libya, Gerakan Khadafi dan Islam Libya.



DAFTAR PUSTAKA
Minabari, Khalid. “Sejarah Perkembangan Islam Di Libya”. Diakses pada tanggal 8 april 2019 melalui https://independent.academia.edu/PetualangAndi
Junaidi, Rikin. “faktor-faktor penolakan front polisario terhadap integrasi sahara barat ke Maroko”, skripsi Universitas Airlangga, (2010).
Nursya’bani, Fira. “Maroko tuduh kelompok separatis langgar gencatan senjata”. 5 April 2018. Diakses melalui https://m.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/18/04/05/p6p5ty382-maroko-tuduh-kelompok-separatis-langgar-gencatan-senjata pada tanggal 8 April 2019

Sejarah Islam di Afrika Negara Islam di Tunisia dan Algeria dan gerakan Oposisi 6b

Disusun Oleh :
Resqi Meirawati : 153231031
Pramai Shela Widiastuti : 163231058

SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB  DAN BAHASA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
TAHUN 2019/2020

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Benua Afrika adalah benua terbesar ketiga di dunia setelah Asia dan Amerika. Walau mempunyai wilayah yang luas, Afrika selalu diidentikkan dengan wilayah yang mempunyai tingkat kemiskinan yang tinggi, serta tempat berbagai macam penyakit seperti gizi buruk, virus ebola, dan lain-lain. Hal ini linear dengan masyarakat yang miskin, sehingga mereka tidak mampu untuk membeli obat-obatan. Wilayah yang gersang juga menjadi penyebab Afrika menjadi benua yang miskin, curah hujan yang sedikit menyebabkan sulitnya menanam berbagai sayuran dan kebutuhan nabati di sana. Di Afrika terdapat gurun Sahara yang merupakan gurun pasir terbesar, yang meliputi seperempat dari Benua Afrika itu sendiri. Dalam makalah ini, akan membahas tentang Islam di Afrika Utara (Tunisia dan Algeria).
Afrika Utara merupakan wilayah strategis yang menjadi jalur menuju benua Eropa dari  benua Asia. Oleh karena itu, Afrika Utara merupakan daerah yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di daratan Eropa. Dari Afrika Utara lalu ke Spanyol yang termasuk benua Eropa. Penyebaran Islam ke Afrika Utara sudah dimulai sejak Khulafaur Rasyidin, yaitu pada masa Umar bin Khattab. Pada tahun 640 M Panglima Amr bin Ash berhasil memasuki Mesir.
Wilayah Afrika Utara ini, meliputi Libia, Aljazair, Tunisia dan Maroko. Secara umum karakteristik wilayah Afrika Utara ini, yakni: pertama, Aljazair. Populasi penduduknya berjumlah sekitar 12. 300. 000 jiwa, luas wilayah 919. 325 mil (2. 331. 123 KM), posisi tanahnya berada pada ketinggian 167 kaki (51 M) dibawah permukaan laut sampai pada 91. 150 kaki (3. 002 M), bahasa yang digunakan adalah Arab, Perancis, dan Barbar. Mata uang dinar Aljazair (Tohir, 2009: 299)
Rumusan Masalah
Masuknya Islam di Algeria dan Tunisia
Keadaan umat Islam di Algeria dan Tunisia
Gerakan Oposisi di Tunisia
BAB II
PEMBAHASAN
Islam di Tunisia
Pada 439 M, Tunisia dikuasai oleh bangsa Vandal (Jerman kuno), 534 M oleh bangsa Bizantium, 670 M oleh bangsa Arab, 1574 M oleh para penjarah Turki dari Asia Kecil dan pada 1881 Prancis menjadikannya sebagai daerah protektorat sampai memperoleh kemerdekaan pada 20 Maret 1956.  Masuknya bangsa Arab ke Tunisia berarti masuknya Islam ke negara tersebut pada 670 M, di bawah pimpinan panglima Uqbah bin Nafi. Pada tahun itu pula dia mendirikan Qairawan sebagai pusat operasinya. Selanjutnya, perkembangan Islam di Tunisia ini ditandai dengan berdirinya tiga kerajaan, yaitu Banu Ziri, Banu Hafs, dan Husainiyah.
Pada 698 M, pasukan Islam yang dipimpin Hassan bin an-Nu’man dan Musa bin Nashr berhasil menaklukkan Carthage. Kemudian, Islam berkembang pesat di Tunisia. Bahkan pada tahun 711 M, masa keemasan Dinasti Umawiyah, agama Islam telah tersebar ke daratan Eropa dengan berhasil menaklukkan Andalusia di Spanyol.
Kemudian, pada tahun 748 M, Dinasti Umawiyah runtuh dan digantikan oleh Dinasti Abbasiah. Peristiwa ini menyebabkan Tunisia terlepas dari pengawasan pusat ke-khalifahan, namun, dapat dikuasai lagi oleh Dinasti Abbasiah pada tahun 767 M. Pada tahun 800 M, Ibrahim Ibn Aghlab ditunjuk sebagai Gubernur Afrika Utara yang berkedudukan di Kairouan.
Tunisia memiliki peranan besar dalam sejarah perkembangan Islam. Melalui Masjid Zaituna yang bertransformasi sebagai sebuah universitas, sebuah lembaga pendidikan penting di Tunisia, telah dilatih kader-kader ulama yang menjadi ulama-ulama besar. Perguruan tersebut kini berubah menjadi semacam Institut Ilmu-ilmu Islam yang berada dalam pengarahan dan kontrol pemerintah Tunisia.
Karena itulah, Kairouan dan Mahdia kini menjadi kota tujuan wisata sejarah Islam terpenting di Tunisia, selain Masjid Ezzitouna di kota Tunis. Di Kairouan dan Mahdia, kita bisa mengunjungi masjid-masjid tua, benteng, makam para ulama serta istana sisa peninggalan peradaban Islam.
Tunisia, dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, sekitar 99,5 % dari 10,8 juta jiwa, menjadikan agama Islam sebagai agama negara dalam konstitusinya. Madzhab yang paling banyak digunakan adalah madzhab Maliki, walaupun ada juga Madzhab Hanafi yang diadopsi dari Turki Usmani yang mempunyai pengaruh dalam pengembangan agama Islam di Tunisia, namun belum dapat menggantikan sistem hukum Madzhab Maliki.
Negara ini, oleh banyak pakar dinilai paling progresif, liberal dan radikal dari Negara-negara Muslim dalam kepeduliannya terhadap masalah hak-hak perempuan, konsistensinya dalam pelarangan poligami melalui UU selama lebih dari setengah abad, dan keberpihakan dan pengembangan terhadap kepentingan kaum perempuan.
Tahir Mahmood ber pendapat bahwa beberapa pembaruan yang di masuk kan dalam hokum keluarga di Tunisia cukup revolusioner dan distingtif dari negara-negara di kawasan Arab
M. Atho Mudzhar menyebut bahwa Tunisia adalah salah satu negara setelah Turki yang paling radikal melarang poligami, dan keberanjakannya dari konsep tradisional dalam bidang hukum perkawinan Islam adalah yang paling radikal
Mounira M. Charrad dan Amina Zarrugh mengatakan bahwa Hukum Keluarga Tunisia, liberal dan berada di barisan terdepan dalam hal hak-hak asasi perempuan di Dunia Arab, serta membawa perubahan cukup signifikan.
Sebuah studi tentang hak-hak asasi perempuan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang dilakukan oleh Freedom House menyebutkan bahwa Tunisia merupakan Negara yang paling berhasil dalam hal pemberian kebebasan terhadap kaum perempuan di kawasan itu, diikuti oleh Maroko, Aljazair, Lebanon, Mesir, Yordania, Palestina, Kuwait, Bahrain, Syria, Libya, Uni Emirat Arab, Irak, Qatar, dan Iran. Negara Arab lain seperti Arab Saudi dan Yaman dinilai Negara yang paling terbelakang dalam hal pemberian kebebasan terhadap kaum perempuan. Dari pemaparan tersebut dapat ditarik bahwa, Tunisia adalah negara yang radikal mengenai hak-hak perempuan.
Kemudian di ranah Politik Islam memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam pasang surut pergolakan politik di Tunisia, Mesir dan Libya terutama pasca fenomena Arab Spring yang berawal di Tunisia dan berdampak luas terhadap konstelasi politik di sejumlah negara Timur Tengah. Di Tunisia, menguatnya pengaruh politik Islam tidak muncul dalam tataran elite politik saja tetapi juga dalam tataran grass roots dengan bermunculannya gerakan politik berbasis massa Islam. Tunisia merupakan negara yang menjadi pelopor lahirnya gerakan protes yang menentang otoritarianisme dan ketidakadilan.
Arab Spring di Tunisia bermula pada Desember 2010, ketika seorang pedagang buah bernama Boazizi melakukan aksi bakar diri sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan rezim yang berkuasa. Aksi protes yang dilakukan Boazizi pada akhirnya memicu amarah rakyat di seluruh santereo negeri yang kemudian menjelma menjadi gerakan revolusi menuntut mundurnya rezim Zainal Abidin Ben Ali. Lebih dari itu, aksi yang dilakukan Boazizi menginspirasi gerakan protes serupa di negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Setelah rezim dari Ben Ali jatuh, di Tunisia dengan mudah dapat melalui proses transisi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebaran Islam oleh beberapa penguasa muslim telah membuat bahasa Arab menjadi bahasa resmi yang dipakai oleh masyarakat muslim di berbagai wilayah, khususnya Afrika Utara. Seperti dikemukakan oleh Abu Suud dalam bukunya “Islamogi” bahwa aspek awal perkembangan Islam, bahasa Arab telah digunakan untuk penulisan karya keagamaan. Setelah Nabi wafat bahasa Arab telah mampu menjadi bahasa masyarakat Persia, Palestina, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko. Sejak itu jenis jihad dalam Islam tidak lagi menggunakan pedang, tetapi juga menggunakan bahasa atau sastra dalam Bahasa Arab.

Islam di Algeria
Aljazair atau Republik Demokratis Rakyat Aljazair, merupakan sebuah negara di pesisir Laut Tengah, Afrika Utara. Nama negara ini yang berarti kepulauan (al-jazā’ir, dalam bahasa Arab) mungkin mengacu kepada 4 buah pulau yang terletak berdekatan dengan ibu kota sekaligus pusat pemerintahan negara ini, Aljir. Aljazair adalah republik semi-presidensial yang terdiri dari 48 provinsi dan 1.541 komune. Dengan jumlah penduduk lebih dari 37 juta jiwa, Aljazair merupakan negara berpenduduk terbanyak ke-34 di Bumi. Sebagian besar adalah warga Muslim Sunni. Dengan ekonomi yang mengandalkan sumber-sumber minyak. Aljazair memiliki tentara terbesar kedua dengan anggaran pertahanan terbesar di Afrika. Aljazair memiliki Program Nuklir damai sejak dasawarsa 1990-an.
Dengan luas keseluruhan 2.381.741 kilometer persegi, Aljazair merupakan negara terluas ke-10 di dunia dan terluas di Afrika, dan di Mediterania. Negara ini berbatasan dengan Tunisia di sebelah timur-laut, Libya di sebelah timur, Maroko di sebelah barat, Sahara Barat, Mauritania, dan Mali di sebelah barat-daya, Niger di sebelah tenggara, dan Laut Tengah di sebelah utara.
Wilayah yang kini bernama Aljazair pernah menjadi rumah bagi banyak kebudayaan prasejarah kuno, termasuk kebudayaan Ateria dan Kapsia. Wilayah ini dikenali memiliki banyak imperium dan wangsa, termasuk Numidia Barbar, Kartaginia, Romawi, Vandal, Bizantium, Umayyah Arab, Fatimiyah Barbar, Muwahidun Barbar, dan terakhir Turki Usmani.
Pada masa kedudukan Romawi, Aljazair bernama Numidia. Kala itu kedudukan Romawi masih mengalami pasang surut, hingga pada akhirnya Romawi berhasil mengukuhkan kekuasaannya pada abad ke-6 dibawah kemimpinan Justinian, kaisar Romawi saat itu. Namun masa kedudukan Romawi atas Aljazair berlangsung tidak lama. Pada abad ke-7 orang-orang Arab menyerang Afrika Utara, membawa serta sebuah agama baru, yaitu Islam. Di Aljazair mereka dilawan Kusayla dan Kahina, pemimpin spiritual suku Barbar. Namun akhirnya, orang-orang Barbar tunduk pada Islam dan otoritas Arab, dan Aljazair menjadi salah satu provinsi di bawah kekhalifahan Umayyah. Setelah kemenangan tersebut, banyak orang-orang Arab yang menetap di Aljazair, pada waktu itu mereka menjadi golongan elit di Aljazair.
Pada abad ke-8, Abbasiyah merebut kekhalifahan dari Umayyah. Dalam situasi peralihan seperti ini, suku Barbar Aljazair mengambil kesempatan seperti, mendirikan kerajaan Islam otonom mereka sendiri. Pada abad ke-11 sampai ke-13 dua dinasti Barbar berkuasa berturut-turut, yaitu Almoravid dan Almohads, mereka membawahi Afrika barat laut dan selatan Spanyol di bawah satu otoritas pusat. Kota Tlemcen menjadi pusat peradabannya, masjid dan sekolah Islam yang bagus didirikan di sana, dan Tlemcen juga menjadi pusat kesenian kerajinan tangan. Pelabuhan Aljazair seperti Bejaïa, Annaba, dan kota Aljir yang sedang berkembang pada waktu itu melakukan perdagangan yang besar dengan kota-kota di Eropa, memasok kuda Barbary yang terkenal, lilin, kulit hewan berkualitas, dan kain-kain ke pasar Eropa.
Pada abad ke-16 orang-orang Spanyol Kristen menduduki berbagai pelabuhan di Afrika Utara. Aljir diblokade dan dipaksa membayar upeti. Muslim yang putus asa meminta bantuan dari Sultan Ottoman, khalifah umat Islam pada saat itu. Dua bersaudara corsair, kakak beradik Barbarossa (yang berarti “Janggut Merah”), membujuk Sultan untuk mengirim bantuan berupa armada perang ke Afrika Utara. Kemudian dengan bantuan armada Ottoman mereka mengusir orang-orang Spanyol dari sebagian besar wilayah baru mereka, dan pada tahun 1518 Barbarossa muda (si adik), yang bernama Khairuddin, ditunjuk sebagai beylerbey (bahasa Turki, artinya “pemimpin”/admiral), dan menjadi perwakilan Sultan di Aljazair.
Karena jaraknya yang begitu jauh dari ibukota Ottoman, yakni Konstantinopel (sekarang İstanbul), Aljir sebagai salah satu provinsi Ottoman diperintah secara otonom. Secara eksternal, kelihaian corsair mengemudikan kapal di laut tengah menjadikan Aljazair sebagai kekuatan besar di wilayah tersebut, para perompak corsair telah mendominasi laut tengah! Negara-negara Eropa memberi upeti secara teratur untuk memastikan perlindungan bagi kapal mereka. Operasi “pembajakan” juga tetap berlangsung, dan uang tebusan untuk sandera membawa pendapatan yang besar bagi provinsi tersebut. Untuk keamanan internal, Aljazair dikelola oleh tentara Ottoman yang bernama yeniçeri,  (bahasa Turki, artinya “pasukan khusus baru”).
Pada akhir abad ke-18, saat Kekaisaran Ottoman melemah, orang-orang Kristen Eropa justru menguat. Dengan senjata api dan konstruksi kapal yang modern, Eropa mampu menantang dominasi corsair di Laut Tengah. Perjanjian internasional untuk melarang pembajakan membuat tindakan kolektif melawan Aljazair menjadi memungkinkan. Pada tahun 1815 Amerika Serikat mengirim skuadron angkatan laut melawan kota tersebut. Tahun berikutnya sebuah armada Anglo-Belanda hampir menghancurkan pertahanan Aljazair, dan pada tahun 1830, akhirnya Aljir ditundukan oleh tentara Prancis.
Sejak berhasil diduduki, Aljazair ingin dijadikan sebagai titik tolak perluasan wilayah di Benua Afrika setelah gagal mempertahankan koloni-koloninya di India dan Benua Amerika. Aljazair dijajah Prancis selama 132 tahun dan merdeka pada 1962 setelah perang yang menyakitkan. Salah satu tokoh yang terkenal melakukan perlawanan terhadap Prancis, yaitu Abdul Qadir al-Jaza'iri. Pada saat menjajah Aljazair, rezim kolonial Prancis merusak kebudayaan tradisional Muslim Aljazair yang telah ada sejak kedatangan Islam di Afrika Utara.
Sebagian besar sekolah Al-Qur’an tradisional dianggap membahayakan dan ditutup Prancis. Mereka mengganti sekolah berbasis Islam menjadi sekolah Prancis dengan sistem pembelajaran berbahasa Prancis dan mengajarkan tentang kebudayaan Prancis. Mereka juga berusaha menghapus bahasa Arab sebagai bahasa resmi yang digunakan masyarakat Barbar. Seluruh warga Aljazair diperintahkan menggunakan bahasa Prancis dalam kehidupan sehari-hari.
Pada 1847, Prancis membuat peraturan code de i'indengenat. Peraturan ini menelan banyak korban dari umat Islam.  Hukuman ini diberlakukan karena pihak Prancis beranggapan masyarakat Muslim ini banyak yang tidak patuh dengan melakukan pengkhianatan terhadap Prancis. Namun, kondisi Aljazair terbalik 180 derajat ketika mereka berhasil meraih kemerdekaan. Ben Bellah, seorang sosialis didaulat sebagai presiden Aljazair pertama dan berkuasa selama 25 tahun. Pascakemerdekaan, pemerintah Aljazair langsung menegaskan, kontrol negara atas kegiatan keagamaan untuk tujuan konsolidasi nasional dan kontrol politik.
Pascakemerdekaan, Pemerintah Aljazair langsung menegaskan, kontrol negara atas kegiatan keagamaan untuk tujuan konsolidasi nasional dan kontrol politik. Islam menjadi agama negara dalam konstitusi baru (Pasal 2), dan menjadi agama pemimpinnya. Negara memonopoli pembangunan masjid, dan Departemen Agama mengendalikan 5.000 masjid publik pada pertengahan 1980-an. Para Imam dilatih, ditunjuk, dan di bayar oleh negara. Sedangkan, khutbah yang disampaikan harus mendapatkan per setujuan dari Departemen Agama.
Kementerian juga memberikan pendidikan agama dan pelatihan di sekolah-sekolah, dan menciptakan lembaga khusus untuk belajar Islam. Prinsip hukum Islam (syariah) diperkenalkan ke dalam hukum keluarga khususnya. Seperti pelarangan bagi Muslimah untuk menikah dengan non-Muslim. Namun, kebijakan yang diterapkan pemerintah ini tidak disetujui semua pihak. Pada awal 1964 gerakan Militan Islam, yang disebut al-Qiyam muncul dan menjadi pendahulu dari partai Islam pada 1990-an.
Al-Qiyam menyerukan peran Islam yang lebih dominan di dalam sistem hukum dan politik Aljazair dan menentang praktik Barat dalam kehidupan sosial dan budaya Aljazair. Meskipun keberadaan Militan Islam sempat ditekan, keberadaan mereka muncul kembali pada 1970-an dengan nama dan organisasi baru. Gerakan ini mulai menyebar ke kampus-kampus pada 1980- an. Gerakan menjadi lebih kuat dan bentrokan berdarah terjadi di Universitas Ben Aknoun pada November 1982.
Gerakan Oposisi di Tunisia
Gerakan oposisi keagamaan yang digagas kaum Muslim Tunisia terhadap kebijakan pemerintah, menurut John P. Entelis, tertuangkan ke dalam tiga bentuk. Pertama, Non-politis dan tanpa kekerasan. Gerakan ini menggagas ide-ide reformasi pemerintahan yang bersifat bottom-up melalui pendidikan, kebudayaan dan aktivitas social. Kedua, Gerakan politik damai yang mengupayakan transisi pemerintahan melalui jalur politik- mendirikan parpol, mobilisasi dan partisipasi- dengan agenda reformasi negara dan masyarakat. Ketiga,gerakan radikal yang memakai cara-cara kekerasan untuk tujuan reformasi. pemerintahan melalui jalur politik- mendirikan parpol, mobilisasi dan partisipasi- dengan agenda reformasi negara dan masyarakat. Ketiga,gerakan radikal yang memakai cara-cara kekerasan untuk tujuan reformasi. Gerakan yang ketiga dipandang sebagai fenomena yang muncul kemudian. Banyak pengamat menganalisa lahirnya gerakan ini sebagai akibat dari politik domestic yang liberal dan repressif terhadap gerakan keagamaan dan sebagai efek wacana internasional yang menimpa dunia Islam. Walaupun pemerintah menunjukkan aksi repressifnya, semangat keagamaan di kalangan rakyat Tunisia tidaklah memudar. Jumlah orang yang berusaha menunjukkan. identitas ke-Muslim-annya melalui pemakaian gamis, hijab dan menumbuhkan janggut semakin bertambah. Ini menimbulkan kesan bahwa pemerintah setengah hati dalam menerapkan kebijakannya. Dan ketika revolusi berhasil menumbangkan pemerintahan Ben Ali, semangat keIslaman di ruang public pun semakin bergairah. Salah satu fenomena yang mencolok adalah kembali ramainya mesjid oleh kegiatan-kegiatan keagamaan dan terbuka tanpa batasan waktu setelah sebelumnya hanya diijinkan ‘beroperasi’ sesaat sebelum dan sesudah ibadah wajib. Partai keIslaman juga diberi ruang bebas untuk berpartisipasi secara luas dipanggung politik.

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dari penjelasan materi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Tunisia dan Aljazair memiliki sejarah yang hampir sama. Mereka pernah dijajah oleh bangsa Eropa, bahkan mereka dijajah oleh bangsa yang berbeda-beda. Jika dilihat dari letaknya, kedua negara ini saling berdekatan. Mungkin hal ini juga memiliki pengaruh terhadap keadaan dua negara ini. Dan keadaan dalam negeri mereka juga pernah merasakan pergolakan antara pemerintah dengan masyarakatnya.


DAFTAR PUSTAKA
e-Journal :
Ghafur, Muhammad Fakhry. 2014. AGAMA DAN DEMOKRASI : MUNCULNYA KEKUATAN POLITIK ISLAM DI TUNISIA, MESIR DAN LIBYA. Jakarta : Peneliti Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Volume 11 No. 2 Desember 2014.
Hawi, Akmal. 2016. Pengembangan Islam di Afrika Utara dan Peradabannya. Palembang: Medina-Te, Jurnal Studi Islam. Volume 14, Nomor 1, Juni 2016.
Juliandi, Budi. 2015. WAKAF DAN POLITIK DI TUNISIA. Langsa-Aceh: IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa-Aceh. Ahkam: Vol. XV, No. 2, Juli 2015.

Website :
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/03/07/omftw7313-islam-di-negeri-seribu-syahid (Islam di Negeri seribu Syahid, Selasa 07 March 2017 16:19 WIB, Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko) diakses pada 3 April 2019.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-Islam/Islam-digest/17/04/04/onvnec313-tunisia-berperan-besar-dalam-sejarah-perkembangan-Islam (Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko, diunggah Selasa 04 April 2017 16.15 WIB) diakses pada 3 April 2019 pukul 15.35 WIB.
http://www.angelfire.com/planet/ppitunisia/tunisia/sejarahIslam.htm ( diakses pada 3 April 2019 pukul 16.05 WIB).
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/dunia/18/02/01/p3gmv9313-islamisme-di-aljazair (Islamisme di Aljazair, Kamis 01 Februari 2018 14:16 WIB, Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko) diakses pada 3 April 2019.

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...