Minggu, 13 Mei 2018

Makalah Teologi

Makalah Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi, Pembebasan Asghar Ali Engginer, Teologi Alam atau Ekologi

BAB I
PENDAHULAN
Latar Belakang
Dalam menjalani kehidupan suatu hal yang kita mantapkan adalah aqidah/kayakinan kepada allah SWT. Seolah aktifitas sehari-hari tak ada gunanya jika tidak di dasari dengan keimanan yang kuat. Dalam kajian ini kita telah mengenal Teologi Islam yang membahas tentang pemikiran dan kepercayaan tentang ketuhanan. Teologi Islam ini sudah sepantasnya kita ketahui agar dalam menjalani kehidupan ini kita mengetahaui dan menjadi idealnya orang Islam. Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai perbedaan-perbedaan pemikiran dan aqidah yang mengiringi, dan kita harus pandai dalam memilih dan memilahnya dengan berlandaskan Al-qur’an dan Al-hadist. Sang Revolusioner umat islam mengingatkan  oleh Rasulullah bahwa “ umatku akan berpecah menjadi tujuh pulu tiga dan hanya satu yang benar.”
Pemikiran yang berbeda merupakan penyebab saling menyalahkannya  antara lain yang kita ketahui adalah: Ahlussunnah Wal Jama’ah, Mu’tazilah Qodariyah dll. Yang semuanya memiliki pendapat masing-masing tentang tauhid/keyakinan atau tentang hal ketuhanan. Dan kita sebagai orang yang memegang agama Allah harus mengetahui manakah pemikiran yang benar dal yang salah, dalam memandangnya kita harus berpegang teguh pada Al-qur’an dan Al-hadist. Hal ini merupakan hal penting yang harus di pelajari agar apa yang menjadi keyakinan kita tentang Allah tidak salah, dan seaandainya apabila keyakinan kita salah tentang-Nya maka kita bisa saja kita di anggap orang keluar agama Islam. Teologi Islam merupakan salah satu dari tiga pondasi Islam dan pemahamanya harus ada dalam diri manusia yang beriman. Sedangkan iman itu di nyatakan  pertama nutqun bil lisan (menyatakan keislam secaralisan) harus berlandaskan ilmu yang kuat yang di antaranya adalah ilmu kalam ini. Kedua, a’malu bil arkan(melaksanakan keislaman secara fisik) dengan berlandaskan ilmu yang hak di antaranya ilmu fiqh. Ketiga tashdiqu bil qolbi (membenarkan islam dengan hatinya). Harus berpangkkal dengan ilmu batin yang benar dan yang membenarkan adalah ilmu tasawuf. Dari itu, mempelajari ilmu teologi sangat penting karena dapat memberikan landasan kuat bagi kebenaran keyakina atau keberagamaan seseorang. Dalam hal ini menjadi kekuatan keimanan seseorang muslim.

Rumusan Masalah
Bagaimana pemikiran Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi?
Bagaimana pemikiran Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer?
Apa Pengertian Teologi Alam atau Ekologi?
Tujuan
Mengetahui seperti apa pemikiran Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi.
Mengetahui Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer.
Memahami Teologi Alam atau Ekologi.

BAB II
PEMBAHASAN
Teologi Anthroposentrisme Hasan Hanafi
Biografi Hasan Hanafi
Hasan Hanafi lahir di kota Kairo Mesir pada tanggal 13 Februari 1935. Ia menamatkan pendidikan dasar pada tahun 1948. Kemudian ia melanjutkan studimya ke madrasah Khalil Agha, Kairo sampai pada tahun 1952. Di sekolah inilah ia mulai berkenalan dengan pemikir dan gerakan Ikhwanul Muslimin, dan ia semakin aktif dalam gerakan ini sewaktu kuliah di Universitas Cairo sampai gerakan tersebut dibubarkan.
Setelah mendapatkan gelar kesarjanaan dalam bidang filsafat dari Universitas Cairo 1956, ia melanjutkan studinya di Doktorat d’etat, La Sorbonne Perancis dan memperoleh gelar doktor pada tahun 1966. Sekembalinya dari Perancis pada tahun 1966, Hasan Hanafi segera ditugaskan mengajar mata kuliah filsafat di Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat Universitas Cairo Mesir.
Hasan Hanafi, disamping seorang pemikir keislaman, ia juga penulis yang produktif. Banyak karya karya tulisan yang dihasilkannya dalam tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Perancis yang dikuasainya. Selain menghasilkan tulisan-tulisannya juga banyak artikel di beberapa ilmiah berbahasa Arab, mentahqiq teks teks klasik Arab dan menerjemahkan beberapa buku tentangadama dan filsafat dalam bahsa Arab.
Teologi Islam
Teologi dalam Islam atau teologi islam yang biasa juga disebut ushuluddin, akidah, atau tauhid, merupakan penegasan bahwa Tuhan itu satu, menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dengan tujuan menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Tujuan penciptaan manusia mencakup tugas manusia sebagai wakil Tuhan di bumi dalam segala aspeknya.
Dalam hubungan keluarga misalnya, tauhid merupakan pegangan hidup. Keluarga merupakan bagian dari unit ummah universal. Ia berada ditengah tengah antara unit kecil individu pada satu sisi dan unit ummah pada sisi lain. Tata hubungan unit keluarga telah ditekankan oleh al Qur’an. Islam tidak mengutuk seks; ia menganggap suci, penting dan baik bahkan menganjurkan laki-laki dan perempuan memenuhi kebutuhan seksual (QS. Albaqaroh). Akan tetapi, Islam tidak menganggap seks sebagai statusnya tujuan perkawinan semata-mata, melainkan sebagai mengabdi kepada-Nya.
Selanjutnya dalam tata ekonomi, menjadi perhatian yang tak terpisahkan dari tauhid. Al-Faruqi mengatakan “tindakan ekonomi merupakan ungkapan spiritualitas Islam. Oleh karena itu, ekonomi ummah, kesehatan dan lain sebagainya merupakan esensi Islam.Hal ini juga berlaku bagi pengetahuan. Dalam pandangan Islam, tauhid merupakan prinsip pengetahuan. Tauhid adalah pengakuan bahwa Alloh adalah hak (kebenaran), ada, dan Esa. Pengakuan seperti ini berimplikasi pada keyakinan bahwasemua keraguan bisa disampaikan kepada Nya dan bahwa tidak ada pernyataan yang tidak boleh diuji, yang tidak boleh dinilai secara pasti. Tauhid adalah pengakuan bahwa kebenaran dapat diketahui dan manusia mampu mencapainya. Itulah tauhid sebagai prinsip pengetahuan. Memperoleh pengetahuan dengan cara yang benar adalah salah satu tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagai sarana mengabdi kepada-Nya.
Konsep Teologi Humanisme Hasan Hanafi
Konsep teologi Humanis Hasan Hanafi merupakan teologi yang berpusat pada manusia. Menurutnya, manusia adalah sentral segala kehidupan. Konsep teologi humanis atau teologi antroposentris ini dijelaskannya melalui tiga premis teori; (1) tentang ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana aku mengetahui? (2) tentang eksistensi sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku ketahui? Dan (3) tentang aksiologi (teori nilai) sebagai jawaban atas pertanyaan yang aku pikirkan?.
Yang pertama, bagaimana proses epistemologi itu diperoleh. Untuk mendapatkan pengetahuan Hasan Hanafi memulainya dengan menolak keberadaan ketidaktahuan (jahl), kebimbangan (wahm), dugaan (zan), keraguan (syak), inspirasi (ilham), dan taklid. Kemudian, ia berusaha membangun paradigma paradigma kognisi, yaitu : sense (his), rasio, dan mutawatir. Dengan demikian epistemologi berangkat dari kognisi historis. Gambaran epistemologi tersebut merupakan kognisi umum manusia yang banyak diambil sebagai sumber ketetapan, seperti yang ditetapkannya dalam tradisi tradisi, hikmah hikmah, dan perumpamaan perumpamaan yang kemudian direalisasikan kepada manusia.
Kedua, “apa yang aku ketahui”. Tentang ontologi, Hasan Hanafi menjelaskannya melalui cara asasi, didasarkan pada pemikiran tentang yang diketahui (al ma’lum), yaitu eksistensi eksternal untuk analogi terhadap benda lain. Eksistensi mempunyai makna dan setiap benda mempunyai implikasi tekstual (dalalah). Eksistensi merupakan sesuatu yang baru yang baru atau mungkin yang memiliki kontekstual (maknawy). Premis kedua tentang ontologi ini mengisyarakatkan untuk mengetahui kandungan makna hukumhukum alam agar manusia menjalankan manfaatnya.
Ketiga mengenai masalah “apa yang aku pikirkan”. Dalam kaitan aksiologi (teori nilai), Hasan Hanafi memberikan gambaran tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Oleh karena nilai nilai itu adalah kemanusiaan murni, maka ia mengekspresikan tuntutan manusia sebagai jawaban atas pertanyaan, “apa yang aku pikirkan?” yang dipikirkan adalah kebenaran, karena ia tuntutan kemanusiaan, kebaikan karena ia kecenderungan kemanusiaan dan keindahan karena ia perasaan kemanusiaan. Maka dari itu, objek tauhid menurutnya merupakan objek-objek kemanusiaan yang dipandang sebagai ekspresi dari ketiga nilai tersebut dalam bentuk khusus.
Dengan memperhatikan penjelasan premis ketiga diatas, tampak bahwa bangunan konsep teologi Humanis Hasan Hnanafi berangkat dari dan untuk manusia. Untuk memperkokoh bangungan teologi tersebut ia menggunakan dua pilar utama, masing masing dari kedua pilar tersebut memiliki beberapa aspek. Pilar pertama meliputi keharusan merumuskan ideologi yang memiliki identitas yang jelas ditengah tengah pergumulan ideologi ideologi kontemporer yang berpijak diatas realitas. Kecuali itu, diperlukan analisa psikologi masyarakat sehingga dapat mengenal faktor faktor yang bisa mendorong perilaku manusia. Kedua pandangan ini berujung pada keharusan merumuskan kembali formulasi ushuluddin dan cabangcabang ilmunya.  Selain daripada itu, juga diperlukan formulasi baru tentang ilmu ushuluddin yang tidak memfokuskan persoalanpersoalan teoritis semata, melainkan lebih memfokuskan kepada persoalan praktis, seperti gerakan sejarah setelah proses penyadaran masyarakat.
Pilar kedua sebagai langkah menyempurnakan bangunan teologi, dimana menurut Hasan Hanafi terdiri dari beberapa aspek seperti kebebasan dan toleransi.
Konsep Kebebasan
Kebebasan merupakan salah satu aspek yang penting dalam konsep teologi Antroposentris Hasan Hanafi. Kebebasan disini adalah bebas tidak terikat dengan atribut atribut keimanan. Kebebasan menurutnya, merupakan kebutuhan mendasar manusia, oleh karena itu kegiatan kemanusiaan dapat terbagi dalam dua hal: kebebasan akal dan kerja keras. Semua kegiatan manusia akan berjalan apabila kebebasan telah ditetapkan sebagai ketetapan cara berpikir dan bekerja. Tanpa adanya kebebasan, maka keberhasilan sulit untuk diraih.
Konsep Toleransi
Toleransi atau solidaritas kemanusiaan, bagi Hasan Hanafi merupakan salah satu isu humanisme yang perlu disebarluaskan. Menurutnya, toleransi merupakan petunjuk bagi kegiatan sosial sebagai manifestasi dari kesatuan. Oleh karena  itu, secara epistemologi toleransi bisa dilaksanakan, tidak hanya dalam teori tapi juga dalam praktik, sebagai undang-undang universal tentang etika. Untuk kesatuan, ia menawarkan sikap toleransi dan dialog sebagaimana dipahami umum yang berangkat dari etika universal. Dialog merupakan cara yang dapat menyelesaikan maslah-masalah Mesir sekarang dan masa yang akan datang. Maka, semua unsur gerakan yang ada hendaknya meninggalkan kepentingannya yang terbatas dan mengutamakan kepentingan nasional.
Aplikasi Teologi Antroposentris
Dalam agenda pembaharuan Hasan Hanafi, teologi Antroposentris merupakan roh yang menjiwai. Pembaharuan yang berjiwakan teologi Antroposentris ini diharapkan meraih sukses besar. Adapun program pembaharuan Hasan Hanafi, dapat diklasifikasikan menjadi tiga agenda. Pertama, pembaharuan pemikiran atau usaha untuk merekontruksi tradisi yang sudah usang menjadi suatu konstruk pemikiran Islam yang sangat sesuai dengan perkembangan zaman.Kedua, melawan superioritas peradaban Barat. Menurutnya, peradaban Barat harus dikembalikan pada tingkat kewajaran. Barat yang selama ini dikesankan oleh umum sebagai peradaban yang super berkat keberhasilan studi-studi mereka, kini harus dipelajari menurut versi lain di luar Barat, dengan tujuan untuk membatasi bahwa Barat adalah segala galanya. Ia mengingatkan kaum Muslim akan bahaya imperialisme kultural Barat. Untuk melawan kultur Barat, secara khusus ia menulis oksidentalisme yang dimaksudkan sebagai cara orang timur mempelajari Barat dan upaya melawan serta langkah-langkah mengikis habis peradaban Barat.
Ketiga, menafsirkan kembali serta merekontruksi realitas kebudayaan manusiadalam skala global. Dalam realitas sosial, umat Islam dimungkinkan untuk menafsirkan teks dalam rangka merespon perkembangan zaman. Hasan Hanafi mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks dan mengusulkan metode heremeneutika untuk menerangkan wahyu Tuhan, agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dirinya sendiri.
2. Teologi Pembebasan Asghar Ali Engginer
Riwayat  Singkat  Asghar  Ali  Engginer
Engineer dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1939 di Rajasthan di daratan India, dalam sebuah keluarga yang berafiliasi kepada paham Syiah Ismailiyah4. Engineer lahir dari keluarga santri, Dia belajar bahasa Arab dari ayahnya, syekh Qurban Husin dan mendapatkan pendidikan sekuler hingga memperoleh gelar sarjana teknik sipil dari Unversitas of Indore. Dalam perjalanan hidupnya Engineer sendiri pernah menjadi pemimpin komunitas Syiah Ismailiyah Bohra yang cukup terkenal di India. Di samping itu, Engineer pernah menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Komunitas Daudi Bohras (1977), pendiri Institut of Islamic Studies di Mumbai (1980), dan ikut mendirikan Center for the Study of Society and Secularism (1993).
Untuk lebih memahami latar belakang keagamaan Engineer, ada baiknya diketahui sepintas tentang kelompok Daudi Bohras ini. Para pengikut Daudi Bohras dipimpin oleh Imam sebagai pengganti Nabi yang dijuluki Amir al-Mukminin. Mereka mengenal 21 orang Imam. Imam mereka yang terakhir adalah Mawlana Abu al-Qasim al-Thayyib yang menghilang pada tahun 526 H. Akan tetapi mereka masih percaya bahwa ia masih hidup hingga sekarang. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh para Dai (berasal dari ungkapan Daudi) yang selalu berhubungan dengan Imam terakhir itu. Untuk diakui sebagai Dai tidaklah mudah. Ia harus mempunyai 94 kualifikasi yang disimpulkan menjadi 4 kualifikasi, yaitu, pendidikan, administrasi, moral dan teoritikal, keluarga dan kepribadian. Yang menarik bahwa di antara kualifikasi itu seorang Dai harus tampil sebagai pembela umat yang tertindas dan berjuang melawan kezaliman. Untuk itu Engineer diakui sebagai seorang Dai.
Engineer yang diakui sebagai Dai, juga sebagai seorang ilmuan terkenal yang menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Urdu, Arda, Persia, Gujarat, Hindu dan Marathi. Dan dia banyak memberikan kuliah di berbagai universitas terkenal, seperti di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Swiss, Thailand, Malaysia, Srilangka, Pakistan, Yaman, Mesir dan Hongkong.7 Pada bulan Agustus tahun 2008, Engineer pernah berkunjung ke Indonesia, dan menyampaikan ceramah tentang Islam dan Negara Bangsa, serta bertemu dengan sejumlah cendekiawan Islam Indonesia, antara lain mantan presiden Abdurrahman Wahid.
Djohan Effendi tampak sangat tertarik terhadap pemikiran Engineer, menurut Djohan, Engineer adalah seorang mukmin sejati bukanlah sekedar orang yang percaya kepada Allah akan tetapi juga ia seorang mujahid yang berjuang menegakkan keadilan, melawan kezaliman dan penindasan.
Sebagai seorang pemikir, Engineer telah menerbitkan puluhan buku dengan berbagai tema. Di antara karya-karya tersebut antara lain: Islam and Its Relevance to Our Age, The Oringin and Development of Islam, Islam and Muslims: Critical Perspectives, The Bohras, The Islamic State, Islam and Liberation Theology, On Developing Liberation Theology in Islam, Islam in South-East Asia, Seminar on Sufism and Communal Harmony, The Spirituality of Social Movement, Rights of Women in Islam, Communalism and Communal Violence in India, Ethnic Problem in South Asia, The Quran, dan Women and Modern Society. Selain itu Engineer juga menulis beberapa artikel beberapa surat kabar terkemuka di India, seperti Times of India, Indian Express, The Hindu Daily, Telegraph, dan Indian Jurnal of Secularism.
Di luar aktivitas intelektual, Engineer adalah seorang aktivis sosial, di antara jabatan penting yang dipercayakan kepadanya, antara lain: Wakil Presiden pada Peoples Union for Civil Liberties, Pemimpin Rikas Adhyayan Kendra (Centre for Development Studies), Pemimpin EKTA, (Committee for Communal Harmony), Ketua pendiri pada Centre for Study of Society and Secularism, Mantan Dewan Eksekutif Universitas of Jawaharlal New Selhi, dan Sekretaris Umum pada Central Board of Dewood di Bohra Community and Cenvenor Asian Muslim Action Network (AMAN).11 Dan tercatat pula Engineer pernah memberikan kuliah di Universitas berbagai Negara seperti Amerika, Kanada, Inggris, Swiss, Thailand, Malaysia, Indonesia, Sri Lanka, Pakistan, Yaman, Hongkong, dan Mesir.
Karena pemikiran dan aktivitas sosialnya Engineer memperoleh beberapa penghargaan, antara lain: Gelar kehormatan D.Lit. dari Universitas Calcuta, National Communal Harmony Award dari National Foundation for Communal Harmony, Harmony Award dari New Leaders Commitee, Chennai, dan Hakim Khan Sur Award dari Maharana Mewar Foundation, Udaipur, Rajasthan.
Adapun metode pemikiran Engineer bersifat normatif kontekstual dan transendental. Bersifat normatif, karena dia selalu mendasarkan pada ayat-ayat al-Quran sebagai sumber rujukan terhadap kasus-kasus sosial politik maupun teologi. Sedangkan kontekstual dimaksudkan untuk menafsirkan ajaran-ajaran agama yang bersifat normatif yang belum mengenal waktu dan tempat ke dalam sosio kultural yang ada, yaitu dengan cara membaca kondisi sosio masyarakat yang berlaku. Adapun yang bersifat transendental, karena ayat-ayat tersebut memerlukan pengetahuan yang cukup mendalam dan memahami antara teks dengan konteksnya.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang teori yang ditetapkan oleh Engineer tersebut adalah teori sosio historis, dengan selalu membaca realita yang ada dengan mengaitkan sejarah, tentang pemikiran-pemikiran masa lalu dengan masa modern. Pemikiran Engineer banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Mark tentang pembebasan berpikir dan juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal yang modern.
Dari sini dapat dipahami ada dua aspek fundamental yang mempengaruhi konstruksi pemikiran Engineer yaitu: Pertama, realitas sosiopolitik yang dialami oleh masyarakat India, disamping karena pengaruh pemikiran pembaharuan dan progresivitas para pemikir pendahulu, seperti Muhammad Iqbal. Kedua, paham keberagamaan yang dimilikinya sebagai pemimpin Syiah Ismailyah yang menekankan pembelaan dan pembebasan terhadap kaum tertindas.

b. Pemikiran Engginer tentang teologi kebebasan
Dalam sebuah artikel yang berjudul What I Belive (Mumbay: 1999), Engineer mengemukakan tiga pokok persoalan yang mendasari pemikiranpemikirannya. Pertama, mengenai hubungan antara akal dan wahyu yang saling menunjang. Kedua, mengenai pluralitas dan diversitas agama sebagai keniscayaan. Ketiga, mengenai watak keberagamaan yang tercermin dalam sensitivitas dan simpati terhadap penderitaan kelompok masyarakat lemah.
Pokok-pokok pemikiran di atas inilah yang melandasi Engineer dalam mengkonstruksi teologi pembebasan dalam Islam sebagaimana yang ia tunjukkan dalam bukunya Islam and Liberation Theology (1990). Menurut Engineer, teologi klasik cenderung kepada masalah-masalah yang abstrak dan elitis, berbeda dengan teologi pembebasan lebih cenderung kepada hal-hal yang konkret dan historis, dimana tekanannya ditujukkan kepada realitas kekinian, bukan realitas di alam maya. Bagi Engineer, teologi itu tidak hanya bersifat transendental, tetapi juga kontekstual. Teologi yang hanya berkutat pada wilayah metafisik akan tercerabut dari akar sosialnya. Baginya, teologi adalah refleksi dari kondisi sosial yang ada, dan dengan demikian suatu teologi adalah dikonstruksi secara sosial. Lebih lanjut
menurut Engineer tidak ada teologi yang bersifat eternal yang selalu cocok dalam setiap kurun waktu dan sejarah.
Menurut Engineer, pandangan teologi itu juga tidak netral. Ia mempunyai keberpihakan, apakah kepada status quo atau kepada perubahan. Dengan kata lain, teologi itu dapat menjadi instrument pembebas atau pembelenggu manusia. Semua itu tergantung kepada siapa yang mengkonstruksi dan menggunakannya. Keberpihakan teologi pembebasan sangat jelas, yaitu kepada mereka yang lemah dan tertindas. Ia diproyeksikan untuk perubahan, bukan untuk mengabdi kepada
kekuasaan dan status quo.
Jadi teologi pembebasan yang dipelopori Engineer ini merupakan usulan kreatif yang mengaitkan antara pentingnya paradigma baru dalam teologi yang memerangi penindasan dalam struktur sosio-ekonomi. Paradigma ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena arogansi kekuasaan, ketidak adilan, penindasan terhadap kaum lemah, pengekangan terhadap aspirasi masyarakat banyak, diskriminasi kulit, bangsa atau jenis kelamin, penumpukan kekayaan dan pemusatan kekuasaan dalam realitas masyarakat kontemporer.
Lebih lanjut menurut Engineer, Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sebagai pendorong revolusi sosial yang memerangi struktur yang menindas. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality) dan keadilan sosial (social justice).22 Oleh sebab itu teologi pembebasan dilatarbelakangi oleh masalah sosio-ekonomi, dan juga membicarakan masalah psiko-sosial. Struktur sosial saat ini sangat menindas dan harus diubah, sehingga menjadi lebih adil dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, optimis, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, dan keyakinan yang kuat. Sebab secara psikologis, masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang menindas akan cenderung frustrasi, pesimis, suka jalan pintas, dan lemah keyakinan. Kondisi psikis semacam ini harus diatasi dengan munculnya keyakinan teologis yang kuat agar mendorong mereka untuk giat mengubah nasibnya sendiri tanpa rasa frustrasi, dan menjadikan sumber motivasi kaum tertindas untuk mengubah keadaan mereka dan menjadikan kekuatan spiritual untuk mengomunikasikan dirinya secara berarti dengan memahami aspek-aspek spiritual yang lebih tinggi.
Untuk itulah, teologi pembebasan sangat menekankan pada aspek praksis, yaitu kombinasi antara refleksi dan aksi, iman dan amal. Ia merupakan produk pemikiran yang diikuti dengan praksis untuk pembebasan. Jadi teologi pembebasan berupaya untuk menjadikan mereka yang lemah dan tertindas menjadi makhluk yang independen dan aktif. Karena hanya dengan menjadikan manusia yang aktif dan merdeka mereka dapat melepaskan diri dari belenggu penindasan.
Sumber inspirasi teologi pembebasan menurut Enginer adalah al- Quran dan sejarah para rasul dan nabi Allah. Keberpihakan kedua sumber ini kepada kaum lemah tidak diragukan lagi. Al-Quran dengan jelas mengajarkan untuk menyatuni anak-anak yatim, orang-orang lemah, menegakkan keadilan, dan menekankan agar kapital itu tidak hanya berputar- putar disegelitir orang. Penekanan demikian persis yang dipraktekkan oleh para rasul dan nabi Allah.
Dalam pandangan Engineer, para sejarawan membuktikan bahwa nabi Muhammad sebagai utusan Allah menggulirkan tantangan yang membahayakan saudagar-saudagar kaya suku Quraisy, yang berasal dari suku yang berkuasa di Mekah. Penolakan masyarakat Quraisy terhadap dakwah nabi Muhammad, menurut Engineer lebih dikarenakan faktor ekonomi daripada faktor agama. Masyarakat Quraisy yang menentang takut jika hegemoni ekonomi yang ada di genggaman mereka terganggu. Mereka menyombongkan diri dan mabuk dengan kekuasaan, melanggar normanorma kesukuan, dan tidak menghargai fakir miskin.27 Mengikuti pemikir Mesir Taha Husein, Engineer mengatakan bahwa jika nabi Muhammad hanya mendakwahkan Islam tentang keesaan Tuhan, tanpa menyerang sistem sosial-ekonomi, mengabaikan perbedaan antara yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, tuan dan budak serta tidak mendesak para konglomerat Mekah untuk mendistribusikan sebagian kekayaan mereka kepada kaum lemah dan fakir miskin, maka mayoritas masyarakat Quraisy akan menerima kehadiran Islam yang di dakwahkan oleh nabi Muhammad saw. pada saat itu.
Dalam semangat teologi pembebasan ini, Engineer mentransformasikan tiga konsep kerangka praksis teologi pembebasan, yaitu: Pertama, konsep tauhid. Bagi Engineer, tauhid tidak hanya mengacu pada keesaan Allah, namun juga pada kesatuan manusia (unity af mankind). Kesatuan bukan saja mengenai perkara akidah, tetapi adalah kesatuan dalam keadilan yang melintasi batas-batas keyakinan. Untuk itulah, dalam masyarakat tauhidi, tidak akan membenarkan dikriminasi, baik dalam bentuk ras, agama, kasta ataupun kelas sosial, sebab pembagian kelas, secara tidak langsung, menegaskan dominasi yang kuat atas yang lemah, kelas yang satu menindas yang lain, ketidakadilan, tirani, dan penindasan. Dominasi inilah yang menghalangi upaya pembentukan masyarakat yang adil. Lebih lanjut menurut Engineer, persoalan penindasan itu bukanlah persoalan antar pemeluk agama, akan tetapi lebih merupakan persoalan persoalan antara penindas dengan yang tertindas. Sosok penindas dan yang ditindas itu bisa berasal dari agama manapun, ras apapun dan suku manapun. Dengan demikian, tauhid itu tidak hanya berdimensi sosialekonomi. Kafir tidak hanya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga termasuk mereka yang melawan segala usaha yang sungguh-sungguh untuk menata ulang struktur masyarakat agar lebih adil dan egaliter, tidak ada konsentrasi kekayaan di segelintir orang, serta tidak ada eksploitasi manusia atas manusia yang lain.30 Konsep tauhid inilah menurut Engineer yang sangat dekat dengan semangat al-Quran untuk menciptakan keadilan dan kebajikan (al-adl wa al-ihsân).
Kedua, konsep iman. Menurut Engineer kata iman berasal dari kata amn yang berarti selamat, damai, perlindungan, dapat diandalkan, terpercaya dan yakin. Untuk itu, iman tidak hanya soal kepercayaan kepada Allah, tetapi orang yang beriman harus dapat dipercaya, berusaha menciptakan kedamaian dan ketertiban, dan menyakini nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Iman kepada Allah akan mengantarkan manusia pada perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Jadi iman tidak hanya berkutat pada wilayah keyakinan an sich, tetapi juga mengandung dimensi sosiologis dan ekonomis. Lebih lanjut menurut Engineer, orang kafir (kufr), adalah orang yang tidak hanya menampik eksistensi Allah, tetapi juga yang menantang usaha-usaha jujur untuk membentuk masyarakat, menghapus akumulasi dalam segala bentuknya. Seseorang yang secara formal beriman kepada Allah, tetapi memperturutkan hawa nafsu dengan menimbun kekayaan dengan menindas orang lain, dan gemar melakukan konsumtif yang menyolok mata, sementara yang lain menderita kelaparan, juga termasuk kafir (kufr). tegas Engineer.
Ketiga, konsep jihad. Jihad makna literernya perjuangan. Teologi pembebasan memaknai jihad sebagai perjuangan menghapus eksploitasi, korupsi, dan berbagai bentuk kezaliman. Perjuangan yang harus dilakukan secara dinamis dan istiqamah, agar kelaliman yang dilakukan manusia sirna dari muka bumi. Untuk itu teologi pembebasan tidak memaknai jihad sebagai perang militer, tetapi aktivitas dinamis progresif untuk melakukan pembebasan masyarakat dari realitas penindasan yang menimpa mereka. Jihad untuk pembebasan, bukan jihad untuk berperang (aggression). Dengan demikian, menurut Engineer struktur sosial yang sangat menindas harus dirubah, sehingga menjadi lebih adil dengan perjuangan yang sungguhsungguh, yang sering kali meminta pengorbanan. Perjuangan tidak mudah, karena membutuhkan keyakinan, optimisme dan kesabaran yang luar biasa. Sebab keyakinan, optimisme dan kesabaran merupakan hal yang fundamental dalam dakwah Islam. Jadi kesabaran dimaksud adalah kesabaran yang ditujukkan selama mengadakan perjuangan untuk menciptakan perubahan sosial, merupakan sebuah senjata psikologis yang sangat kuat dalam menghadapi segala kesulitan.
E.  Teologi Alam atau Ekologi
Ekologi dalam bahasa Inggris ditulis “ecology” diambil dari bahasa Yunani dari kata “oikos” dan “logos”. Oikos berarti tempat tinggal dan logos berarti ilmu. Ekologi merupakan cabang dari biologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme-organisme dan hubungan antara organisme-organisme itu dengan lingkungannya.
Dalam pengertian yang lebih luas, oikos tidak dipahami hanya sekedar tempat tinggal manusia. Oikos juga dipahami sebagai keseluruhan alam semesta dan seluruh interaksi saling pengaruh yang terjalin di dalamnya diantara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan keseluruhan ekosistem atau habitat. Dengan demikian, oikos bermakna rumah bagi semua maakhluk hidup yang sekaligus menggambarkan interaksi keadaan seluruhnya yang berlangsung di dalamnya.
Dalam bahasa Arab, ekologi dikenal dengan istilah ‘ilm al-bī ‘ ah. Secara etimologi, kata bī ‘ ah diambil dari kata kerja (fi’il) bawa’a yang terdiri dari huruf bā-wau-hamzah yang memiliki arti tinggal, berhenti, dan menetap. Bentuk isim (masdar) dari kata bawa’a ini adalah al-bī ‘ ah yang berarti rumah atau tempat tinggal.
Dari uraian di atas, definisi ekologi dapat kita pahami sebagai sebuah ilmu yang mempelajari pola relasi antara semua makhluk hidup di alam semesta danserta seluruh interaksi yang saling mempengaruhi dan terjadi di dalamnya. Sementara itu, kata teologi atau yang ditulis dalam bahasa Inggris (theology) berasal dari bahasa Yunani (theologia). Teologi berasal dari kata “theos” yang berarti Tuhan atau Allah, dan “logos” yang artinya wacana atau ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan atau ilmu yang membicarakan tentang zat Tuhan dari segala seginya dan hubungan-Nya dengan alam.
Teologi dalam khazanah Islam, dipadankan dengan “ilmu kalam”. Penggunaan istilah ini setidaknya didasarkan pada asumsi bahwa keduanya mengarahkan pembahasannya pada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Sebutan lain untuk ilmu kalam adalah ilmu ‘Aqā ‘ id (ilmu aqidah-aqidah, yakni simpul-simpul kepercayaan), ilmu Tauhid (ilmu tentang kemaha Esaan Allah), dan ilmu Usuluddin (ilmu pokok-pokok agama).
Dengan memaknai teologi sebagai the intellectual expresion of religion, maka teologi menjadi lebih luas pengertiannya dan relevan untuk merespon berbagai tantangan kontemporer yang senaantiasa hadir setiap waktu. Pembahasan mengenai persoalan kemanusiaan dan alam yang ditinjau dari perspektif teologis menjadi sebuah kebutuhan sekaligis keniscayaan untuk masa kini.
Dalam pengertiaan teologi tersebut di atas, muncul kajian baru dalam studi agama (Islam) yang berhubungan dengan ekologi, yang disebut teologi lingkungan Islam atau eko-teologi. Eko-teologi merupakan teologi kreatif dan produktif dari dinamika teologi dalam studi Islam.
Dalam ajaran Islam, eko-teologi dapat dipahami sebagai konsep keyakinan agama yang berkaitan dengan persoalan lingkungan yang didasarkan pada ajaran agama Islam. Rumusan teologi dapat digunakan sebagai panduan teologis berwawasan lingkungan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.
Melalui eko-teologi, dapat dipahami hubungan harmonis antara Tuhan alam dan manusia. Lebih jauh dapat dijelaskan, hubungan antara Tuhan, alam dan manusia mengacu pada hubungan sistemik, yaitu Tuhan sebagai pencipta manusia dan alam raya, Tuhan sebagai pemilik manusia serta alam raya sekaligus secara fungsional Tuhan sebagai pemelihara manusia dan alam raya.
Ada seorang tokoh bernama Bardiuzzaman Said Nursi dia adalah seorang ulama dan pejuang yang lahir di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi. Beliau lahir dan besar dalam lingkungan keluarga yang taat terhadap ajaran agama. Beliau adalah salah satu tokoh yang menjelaskan hubungan ontologis antara Tuhan dengan alam, beliau menguraikan hakikat alam sebagai berikut:
Pertama; alam semesta merupakan buku. Membaca dan memahami buku alam sama seperti dia membaca Al-Qur’an yang merupakan kitab yang diwahyukan oleh Allah. Bagi Nursi, alam semesta merupakan sebuah buku besar sedangkan Al-Qur’an adalah tafsir atau penjelasnya.
Kedua;karena alam merupakan buku yang diciptakan oleh Allah, ia bukanlah buku biasa. Alam semesta adalah maha karya seni yang sangat indah, agung dan hebat. Dengan demikian, buku ini sangat penuh dengan makna. Nursi merumuskan dalam bahasa yang singkat “Alam adalah sebuah maha karya seni yang sangat indah. Karena alam itu sebuah maha karya, ia tak bisa menjadi pencipta maha karya seni.”
Ketiga; alam semesta adalah cermin yang merefleksikan keindahan nama-nama Tuhan. Dalam bahasa yang lugas, Nursi menulis: “Alam semesta adalah cermin. Begitu juga halnya hakikat setiap makhluk, merupakan cermin.” Dengan demikian, alam yang merefleksikan keindahan nama Tuhan pada dasarnya memiliki makna dan dimensi sakral pada dirinya sendiri.
Keempat; seluruh makhluk hidup tidak bekerja sendiri-sendiri sesuai dengan kehendaknya, melainkan ia telah berada dalam tatanan serta keteraturan yang salin terkait satu sama lainnya sebagaimana yang telah ditetatapkan Tuhan. Alam semesta mengetahui keberadaan Tuhan dengan baik melalui aspek ini.
Kelima; hubungan antara alam eksternal (zahir) dengan alam yang tersembunyi (batin) pada dasarnya sangat nyata. Namun hal itu tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Hanya mata kekasih Tuhan yang mampu melihatnya.
Uraian tersebut di atas menjelaskan bahwa alam semesta memiliki kesucian serta dimensi sakrral. Oleh karena itu, siapapun sangat dilarang merusak alam. Pemahaman oleh Nursi, menurut Davud Ayduz, merupakan landasan metafisik dari Islamic Environmentalisme, dimana seorang muslim akan selalu bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Siapapun yang melawan pandangan tersebut, sesungguhnya ia telah menentang Tuhan.
Persoalan penting lainnya dalam gagasan ekoteologi Nursi adalah pandangannya tentang manusia. Refleksi mengenai hakikat manusia dalam konteks ekologis sangat penting diuraikan mengingat konsepsi manusia sering kali disalahartikan. Manusia selama ini dipahami sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan alam semesta. Karena khalifah lebih tinggi sedangkan alam semesta lebih rendah, maka manusia seolah-olah memiliki legitimasi teologi untuk mengeksploitasi alam demi memenuhi kebutuhan manusia tanpa batas.  Nursi menjelaskan hakikat manusia sebagai manifestasi (tajalli) atau cermin dari nama-nama dan sifat-sifat Allah sekalogus khalifah-Nya di muka bumi. Selanjutnya, manifestasi nama-nama Allah dalam diri manusia dapat dilihat dalam tiga hal penting sebagai berikut:
Pertama, sebagaimana kegelapan malam menunjukkan adanya cahaya, semua manusia melalui kelemahan, ketidakberdayaan, kefakiran, kemiskinan, kekurangan, dan segala cacatnya menunjukkan adanya kekuatan, keperkasaan, kekayaan, kemuliaan, kecukupan serta kesempurnaan Allah. Melalui lisan Allah dengan panggilan al-Qadir wa al-Qahhar. Lewat bahasa kefakiran dan kemiskinan, secara alami kita selalu memanggil Allah dengan panggilan al-Razzaq wa al-Ghaniyy. Dan begitulah seterusnya, dengan segala sifat-sifat kekurangannya, manusia selalu bergantung kepada Allah yang maha sempurna.
Kedua, manusia memiliko potensi-potensi seperti kekuatan, kemampuan, kekuasaan, pemilikan, pendengaran, penglihatan, pengetahuan, dan juga pemikiran. Semua itu pada hakikatnya bersumber dari Allah yang maha kuat, maha kuasa, maha melihat, maha mendengar, maha mengetahui, dan maha memiliki segala-galanya. Semua potensi manusia merupakan manifestasi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Ketiga, potensi manusia bukan hanya bersifat teoritis, melainkan juga berada dalam tataran praktis, bukan cuma dalam tataran subjektif tetapi juga objektif, tidak saja secara normatif bahkan pula secara empirik. Dalam bahasa tasawuf, hal ini dinamakan tahaqquq, yakni merealisasikan siffat-sifat mulia sang Pencipta pada tataran faktual-empiris. Di sini seorang manusia benar-benar mencintai Allah dan Dia pun mencintainya, sehingga dia akan memberikan secercah kehebatannya terhadap manusia tersebut.
Melalui uraian di atas, Nursi ingin menjelaskan bahwa posisi khalifah yang diberikan kepada manusia merupakan kepercayaan dan kehormatan yang telah diberikan Allah. Namun, sebagian manusia menyalahgunakan kepercayaan tersebut dengan cara merusak tatanan alam dan keseimbangan ekologis yang telah diciptakan Allah. Tak sedikit, kerusakan di daratan dan di lautan begitu mudah ditemukan.
Dengan demikian, kekhalifahan bukanlah legitimasi teologis untuk mengeruk dan mengeksploitasi alam sebanyak-banyaknya, melainkan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga dan memeliharanya. Berdasarkan hal itu, Nursi sebagaimana dikutip Abdul Azis Barghuth menyatakan bahwa kekhalifahan memiliki empat prinsip utama, yaitu; pertama, prinsip keesaan Tuhan; kedua, prinsip kosmik yang menuntut manusia sebagai khalifah untuk senantiasa merenungkan posisinya di alam semesta dan bertindak sesuai dengan porsi dan posisinya; ketiga, prinsip peradaban dimana manusia dituntut untuk senantiasa membangun keseimbangan antara kekuatan personal sekaligus sosial dan kultural, kekuatan material sekaligus spiritual, kekuatan ilmiah sekaligus kultural, serta kesehatan jasmani sekaligus rohani; keempat, prinsip eskatologis yang menjelaskan tindakan manusia sebagai khalifah yang dilakukan selama hidupnya akan mendapatkan balasan di akhirat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hasan Hanafi merupakan teologi yang berpusat pada manusia. Menurutnya, manusia adalah sentral segala kehidupan. Konsep teologi humanis atau teologi antroposentris ini dijelaskannya melalui tiga premis teori; (1) tentang ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana aku mengetahui? (2) tentang eksistensi sebagai jawaban atas pertanyaan apa yang aku ketahui? Dan (3) tentang aksiologi (teori nilai) teori yang ditetapkan oleh Engineer tersebut adalah teori sosio historis, dengan selalu membaca realita yang ada dengan mengaitkan sejarah, tentang pemikiran-pemikiran masa lalu dengan masa modern. Pemikiran Engineer banyak dipengaruhi oleh pemikiran Karl Mark tentang pembebasan berpikir dan juga dipengaruhi oleh pemikiran Muhammad Iqbal yang modern.
Dari sini dapat dipahami ada dua aspek fundamental yang mempengaruhi konstruksi pemikiran Engineer yaitu: Pertama, realitas sosiopolitik yang dialami oleh masyarakat India, disamping karena pengaruh pemikiran pembaharuan dan progresivitas para pemikir pendahulu, seperti Muhammad Iqbal. Kedua, paham keberagamaan yang dimilikinya sebagai pemimpin Syiah Ismailyah yang menekankan pembelaan dan pembebasan terhadap kaum tertindas.
ekologi dapat kita pahami sebagai sebuah ilmu yang mempelajari pola relasi antara semua makhluk hidup di alam semesta danserta seluruh interaksi yang saling mempengaruhi dan terjadi di dalamnya. Sementara itu, kata teologi atau yang ditulis dalam bahasa Inggris (theology) berasal dari bahasa Yunani (theologia). Teologi berasal dari kata “theos” yang berarti Tuhan atau Allah, dan “logos” yang artinya wacana atau ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan atau ilmu yang membicarakan tentang zat Tuhan dari segala seginya dan hubungan-Nya dengan alam.

DAFTAR PUSTAKA
Arroisi, Jarman. 2014. “Catatan atas Teologi Humanis Hasan Hanafi”. Jurnal Kalimah, Vol. 12 No. 2 : 173-193.
Jurnal Ilmu Ushuluddin, Teologi Pembebasan Dalam Islam : Telaah Pemikiran Asghar Ali Engineer. Vol.10, No.1, Januari 2011. ( Halaman 51-65 )
Ridwanuddin, Parid. 2017. “Ekologi dalam pemikiran Badiuzamman  Said Nursi”. Vol. 1 : 44-58

Makalah PERUBAHAN SOSIAL

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Perubahan sosial merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan. Perubahan sudah, sedang, dan akan terus terjadi, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan masyarakat. Sesuai dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat saat ini, perubahan  sosial sudah berlangsung sangat pesat, baik itu perubahan yang sengaja direncanakan oleh para Agent of change maupun perubahan yang tidak direncanakan. Terjadinya perubahan social di kalangan masyarakat adalah hal yang wajar yang dialami oleh seluruh masyarakat di dunia. Akan tetapi tidak semua orang mempunyai kesepakatan sama dalam mengartikan proses perubahan sosial. Dalam perkembangannya pun para ahli memperlihatkan perbedaan dalam memahami perubahan sosial. Menurut Thorsten Veblen, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi. Namun demikian, sulit untuk dibantahkan bahwa teknologi sangat memengaruhi sikap dan prilaku manusia. Namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi di masyarakat selalu berdampak positif, akan tetapi disisi lain pasti memiliki dampak negatif. Hal ini dapat kita lihat dalam realitas kehidupan masyarakat disekitar kita. Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas mengenai perubahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar.
Tidak ada masyarakat yang tidak mengalami perubahan, sebab kehidupan sosial adalah dinamis. Perubahan sosial merupakan bagian dari gejala kehidupan sosial, sehingga perubahan soaial merupakan gejala sosial yang normal. Perubahan sosial tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi, sebab perubahan ini mengakibatkan perubahan disektor-sektor lain. Ini berarti perubahan sosial selalu menjalar ke berbagai bidang-bidang lainnya. Perubahan sosial dapat dilihat dari system nilai yang pada suatu saat berlaku akan tetapi disaat yang lain tidak berlaku. Misalnya, dahulu kantor pos memegang peranan penting untuk mengantar surat sampai ke tempat tujuan, kini kantor pos mengalami penurunan fungsi sejak ditemukan telepon genggam yang bisa menyampaikan pesan berbicara ataupun pesan SMS dengan lebih cepat.
Perubahan sosial tidak berarti kemajuan, tetapi tidak pula kemunduran, meskipun meskipun dinamika sosial selalu diarahkan pada gejala transformasi (pergeseran). Perubahan sosial ada yang direncanakan, seperti program pembangunan, dan perubahan sosial yang tidak direncanakan, seperti bencana alam, dll.

RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian dari perubahan sosial ?
Apa saja faktor yang menyebabkan perubahan sosial ?
Bagaimana teori yang muncul pada konsep perubahan sosial ?
TUJUAN
Megetahui pengertian dari perubahan sosial.
Mengetahui  faktor yang menyebabkan perubahan sosial.
Mengetahui teori yang muncul pada konsep perubahan sosial.

BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL
Para sosiolog dan antropolog telah banyak mempersoalkan mengenai pembatasan pengertian perubahan sosial dan kebudayaan. Dengan demikian, diinventarisasi rumusan-rumusan seperti dibawah ini.
Maciver
Perubahan-perubahan sosial dikatakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.
Gillin dan Gillin
Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografi, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Secara singkat Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun ekstern.
Selo Soemardjan
Perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada definisi tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian memengaruhi segi-segi struktur masyarakat.
Kingsley Davis
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.
FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL
Untuk mempelajari perubahan sosial, perlu diketahui terlebih dahulu sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Apabila diteliti lebih mendalam mengenai sebab terjadinya suatu perubahan mungkin dikarenakan adanya sesuatu yang dianggap tidak memuaskan. Mungkin saja perubahan terjadi karena ada faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa demi menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah lebih dulu mengalami perubahan.
Pada umumnya diketahui faktor-faktor penyebab perubahan itu dapat berasal dari dari dalam masyarakat itu sendiri, namun dapat pula berasal dari luar masyarakat itu.
Faktor Internal
Bertambah dan berkurangnya penduduk
Pertambahan penduduk yang sangat cepat seperti di pulau Jawa menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga-lembaga kemasyarakatannya. Misal, orang lantas mengenal hak milik individual atas tanah, sewa tanah, gadai tanah, bagi hasil dan selanjutnya, yang sebelumnya tidak dikenal.
Berkurangnya penduduk dapat disebabkan oleh berpindahya penduduk dari desa ke kota atau dari daerah satu ke daerah lain seperti transmigrasi. Perpindahan penduduk dapat menyebabkan kekosongan pada daerah yang ditinggalkan serta mempengaruhi perubahan struktur masyarakat dan lembaga masyarakat.
Penemuan-penemuan baru
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan sosial dapat dibedakan dalam pengertian-pengertian discovery dan invention. Discovery adalah penemuan unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat, ataupun ynag berupa gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. Discovery baru menjadi invention kalau masyarakat sudah mengakui, menerima serta menerapkan penemuan baru itu. Seringkali proses dari discovery menjadi invetion membutuhkan suatu rangkaian pencipta-pencipta.
Didalam setiap masyarakat tentu ada individu yang sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan masyarakat. Di antara orang-orang tersebut banyak yang menerima kekurangan-kekurangan tersebut sebagai suatu hal yang harus diterima saja. Sedangkan ada individu yang tidak puas dengan keadaan, tetapi tidak mampu memperbaiki keadaan tersebut. Mereka inilah yang kemudian menjadi pencipta-pencipta baru. Keinginan akan kualitas juga merupakan pendorong bagi terciptanya penemuan-penemuan baru. Keinginan untuk mempertinggi kualitas suatu karya merupakan pendorong untuk meneliti kemungkinan-kemungkinan ciptaan baru.
Disamping penemuan-penemuan baru di bidang-bidang unsur jasmaniah, terdapat pula penemuan-penemuan baru di bidang unsur-unsur kebudayaan rohaniah. Misalnya ideologi baru, aliran baru, kepercayaan baru, sistem hukum yang baru dan seterusnya. Akan tetapi, yang terpenting adalah akibatnya terhadap lembaga –lembaga masyarakat, dan akibat lanjutnya pada bidang-bidang kehidupan lain. misalnya, dengan dikenalnya nasionalisme di Indonesia pada awal abad 20 melalui mereka yang pernah mengalami pendidikan barat , maka timbullah gerakan-gerakan yang menginginkan kemerdekaan politik yang kemudian menimbulkan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang baru dikenal, yaitu partai politik.
Pertentangan (conflict) masyarakat
Pertentangan atau konflik masyarakat dapat mnyebabkan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Pertentangan mungkin terjadi antar individu atau antar kelompok. Umumnya masyarakat tradisional di Indonesia bersifat kolektif. Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan masyarakat. Kepentingan individu walaupun diakui tetapi tidak mempunyai fungsi sosial. Tidak jarang timbul pertentangan antara kepentingan individu dengan kepentingan kelompoknya, yang dalam hal-hal tertentu dapat menyebabkan perubahan sosial.
Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri
Revolusi yang meletus pada oktober 1917 di Rusia telah menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar bagi Negara Rusia yang mula-mula mempunyai bentuk kerajaan absolut berubah menjadi diktator proletarian yang dilandaskan pada doktrin marxis. Segenap lembaga kemasyarakatan, mulai dari bentuk negara sampai keluarga batih, mengalami perubahan mendasar. Revolusi yang menghasilkan perubahan sosial tidak hanya yang terjadi di Rusia saja, contoh lain adalah Revolusi Perancis yang tidak hanya menhasilkan perubahan sosial di negaranya, namun juga berdampak pada perubahan sosial di negara-negara lainnya yang ikut terdampak.
Faktor Eksternal
Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia
Terjadinya gempa bumu, angin topan, banjir besar, dan lain-lain dapat menyebabkan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggalnya yang baru, mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam dari lingkungan baru mereka. Hal tersebut dapat menyebabkan perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebagai contoh, bagi suatu masyarakat yang biasanya hidup dari berburu, kemudian menetap di suatu daerah pertanian, perpindahan itu akan melahirkan perubahan-perubahan dalam masyarakat tersebut, misalnya timbul lembaga kemasyarakatan baru yakni pertanian.
Sebab yang bersumber dari pada lingkungan alam fisik terkadang juga ditimbulkan oleh tindakan para warga masyarakat itu sendir. Misalnya, penggunaan tanah secara sembrono tanpa memperhitungkan kelestarian humus tanah, penebangan hutang tanpa memikirkan penanaman kembali, dan lain sebagainya.
Peperangan dengan negara lain
Peperangan dengan negara lain dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan karena biasanya negara yang menang akan memakskan kebudayaannya pada negara yang kalah. Contohnya, adalah negara yang kalah pada Perang Dunia Kedua banyak sekali yang mengalami perubahan dalam lembaga kemasyarakatan. Negara-negara yang kalah dalam perang tersebut seperti Jerman dan Jepang mengalami perubahan besar dalam masyarakat.
Pengaruh kebudayaan masyarakat
Apabila sebab-sebab perubahan bersumber pada masyarakat lain, itu dapat terjadi karena kebudayaan dari masyarakat lain melancarkan pengaruhnya. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan timbal balik. Artinya, masing-masing masyarakat memengaruhi masyarakat lainnya, tetapi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang lain.
Namun, apabila hubungan tersebut berjalan melalui alat-alat komunikasi masaa, ada kemungkinan pengaruh itu hanya datang dari satu pihak saja, yaitu masyarakat pengguna alat-alat komunikasi tersebut. Sementara itu, pihak tersebut hanya berkesempatan menerima pengaruh tanpa memiliki kesempatan untuk memberikan pengaruh balik.
Di dalam pertemuan dua kebudayaan tidak selalu akan terjadi proses saling memnegaruhi. Kadangkala pertemuan dua kebudayaan semacam itu yang tidak seimbang keduanya justru akan saling menolak. Keadaan semacam ini itu dinamakan cultural animosity.
TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Ilmu sosiologi banyak dipengaruhi oleh beberapa ilmu pengetahuan lain baik itu biologi, geologi, dan banyak lagi. Oleh karena itu jangan heran kalau beberapa teori perubahan sosial yang akan dijelaskan menyebutkan beberapa pemikiran yang bukan orang sosiolog bahkan bukan orang dalam ilmu pengetahuan sosial. Hal ini tentu saja, seperti dijelaskan sebelumnya, perubahan sosial terjadi karena semua faktor yang ada dalam masyarakat baik dari dalam ataupun luar. Adapun faktor faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dari dalam seperti keadaan ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, agama dan lainnya lalu faktor dari luar seperti bencana.
Lalu ada berapa teori perubahan sosial yang harus anda ketahui? Berikut macam macam teori perubahan sosial dibawah ini:
Teori Evolusi (Evolutionary Theory) 
Teori evolusi sepertinya sudah dengan dari mata pelajaran ataupun mata kuliah Biologi. Memang benar, teori perubahan sosial yang satu ini bersumber dari pemikiran Darwin yang kemudian dipelajari oleh ahli sosiolog Herbert Spencer sebagai patokan dalam teori perubahan sosial yang kemudian dikembangkan oleh Emile Durkheim (keren namanya kan) dan Ferdinand Tonnies.
Dalam teori perubahan sosial ini dijelaskan bahwa evolusi memengaruhi cara pengorganisasi masyarakat, utamanya yang berhubungan dengan sistem kerja. Berdasarkan pandangan tersebut, Tonnnies berpendapat bahwa masyarakat berubah dari tingkat peradapan sederhana ke tingkat peradapan yang lebih kompleks. 
Dalam teori perubahan sosial evolusi dapa dilihat terjadinya transformasi dari masyarakat. Mulai dari masyarakat tradisional yang memiliki pola pola sosial komunal yaitu pembagian dalam masyarakat yang didasarkan oleh siapa yang lebih tua atau senioritas bukan pada prestasi personal individu dalam masyarakat. Kemudian hal tersebut berubah ke arah yang lebih kompleks. 
Dalam teori perubahan sosial ini, sudah tentu dipengaruhi oleh waktu. Oleh karena itu, teori ini terbagi atas dua yaitu perubahan secara lambat atau evolusioner  dan secara cepat atau revolusioner.
Pengertian perubahan secara lambat atau evolusioner adalah perubahan yang terjadi dalam interval waktu yang cukup lama dan disertai dengan perubahan perubahan kecil dan terjadinya pergeseran sosial secara perlahan dan jarang menimbulkan konflik dalam masyarakat dan lembaga. 
Dalam perubahan sosial secara lambatlah yang membagi  beberapa teori perubahan sosial menjadi:
Unilinier Theories of Evolution
Teori evolusi unilinear adalah teori yang beranggapan bahwa manusia dan masyarakat serta kebudayaannya akan selalu mengalami perubahan sesuai dengan tahapan tahapan tertentu dari bentuk kehidupan yang sederhana ke bentuk kehidupan yang lebih komples. Teori perubahan sosial dikemukakan oleh beberapa ahli seperti August Comtee, Herbert Spencer, Vilfredo Pareto (Melakukan modifikasi menjadi teori siklus) dan Pitiim A. Sorokin. 
Sorokin sebagai pendukung teori perubahan sosial ini beranggapan bahwa masyarakat berkembang melalui tahap tahap yang masing masing didasarkan pada suatu kepercayaan sebagai tahap pertama; indera manusia sebagai tahap kedua; dan kebenaran sebagai tahap terakhir. Dalam teori ini, Spencer beranggapan bahwa tidak perlu melalui tahapan tertentu untuk masyarakat mengalami perubahan sosial, pasti terjadi. Dia menambahkan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan kelompok homogen ke kelompok heterogen baik sifat maupun susunannya.
Multilined Theories Of Evolution 
Teori perubahan sosial ini lebih menekankan pada ketidaksepakatan tentang teori evolusi non linear. Hal ini dikarenakan masyarakat yang mengalami perubahan sosial tidak dapat ditentukan mengalami kemajuan (dengan kata lain linear). Dalam teori ini dijelaskan bahwa masyarakat bisa saja mengalami perubahan sosial berupa kemunduran. Dengan munculnya teori ini, para ahli sepakat bahwa perubahan sosial yang terjadi tidak dapat disamakan proses suksesi pada biologi, yang akan selalu mengalami kemajuan akan tetapi bersifat naik turun. Oleh karena itu teori evolusi unilinear tidak lagi dipergunakan.
Teori Konflik (Conflict Theory)
Teori perubahan sosial ini dipengaruhi oleh pandangan beberapa ahli seperti Karl Marx, Frederict Engle, dan Ralf Dahrendorft. Dalam teori perubahan sosial ini tentu saja memandang konflik sebagai sumber terjadinya perubahan dalam masyarakat. 
Teori ini melihat masyarakat dua kelompok atau kelas yang saling berkonflik yaitu kelas borjuis dan kelas proletariat. Kedua kelompok sosial dalam masyarakat ini dapat dianggap sebagai majikan dan pembantunya. Penderitaan merupakan sumber utama konflik yang ada dalam masyarakat menurut teori ini. Dengan kepemilikan harta dan hak hidup yang lebih banyak oleh kaum borjuis dan minimnya bagi kaum proletariat akan memicu konflik sosial dalam masyarakat sehingga terjadi revolusi sosial yang berakibat pada terjadinya perubahan sosial. Berdasarkan teori perubahan sosial ini, dijelaskan bahwa pada akhir revolusi, akan tercipta masyarakat yang hidup tanpa pembagian kelas, sama rata (betul betul utopia [editor]). Ditambahkan juga bahwa perubahan sosial terjadi pada dasarnya disebabkan oleh adanya konflik, dan konflik akan selalu ada di sembarang waktu dan tempat.
Teori Perubahan Sosial Dahrendorft
Teori perubahan sosial oleh Dahrendortf berisi tentang hubungan stabilitas struktural sosial dan adanya perubahan sosial dalam masyarakat. Perubahan perubahan yang terjadi dalam struktur kelas sosial akan berakibat pada dua hal yaitu normatif ideologi atau nilai dan faktual institusional. Kepentingan dalam hal ini dapat menjadi nilai serta realitas dalam masyarakat. 
Sesuai dengan teori konflik, persamaan atau equality merupakan hak bagi setiap warga negara. Apabila ada kepentingan suatu kelompok untuk menekankan persamaan tersebut, maka akan terjadi dua hal atau dua skenario dalam masyarakat yaitu:
Nilai persamaan yang diinginkan akan diterima dan dihayati (ideologis) oleh sebagian penduduk, yang berarti penduduk akan semakin tergila gila dengan persamaan tersebut dengan kata lain bersifat normatif ideologis.
Persamaan yang diinginkan tersebut akan diwujudkan dalam pengaturan kelembagaan seperti JAMKESMA bagi warga negara Indonesia, dan BOS Pendidikan 12 Tahun dan lainnya dengan kata lain bersifat faktual institusional.
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti yang dijelaskan dalam teori ini, dapat terjadi bersamaan dan dapat juga terjadi salah satunya terlebih dahulu. 
Dalam teori perubahan sosial lebih lanjut (jika anda ingin pelajari yang lebih silahkan cari bukunya) menjelaskan tentang hubungan antara perubahan sosial pengaruhnya terhadap mobilitas sosial, dimana berbagai perubahan sosial telah memengaruhi status dan peranan sosial seseorang ataupun sekelompok orang. 
Teori Fungsionalis
Teori perubahan sosial ini melihat ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi sosial yang berlaku saat itu menjadi penyebab dari perubahan sosial. Dalam teori ini, Ogburn menambahkan tentang adanya bagian dalam masyarakat yang tidak ikut berubah, atau statis. Dengan kata lain, tidak semua segi dalam masyarakat dan kebudayaannya berubah dalam perubahan sosial yang terjadi.
Dalam teori ini, Ogburn mengkritik kelompok masyarakat yang menganggap kelompok lain yang tidak mengikuti perubahan sosial yang sebagai ketimpangan kebudayaan ataupun kesenjangan. Contoh perbandingan antara masyarakat Kajang Pedalaman dan masyarakat Bulukumba bagian perkotaan. Tentu saja hal ini dikarenakan perkembangan teknologi yang memberikan “loncatan” pada budaya yang ada. Teori perubahan sosial ini beranggapan bahwa kelompok yang masih merasa nyaman dengan yang telah ada, tidak akan ikut berubah, dan kelompok yang merasa tidak nyaman dengan kondisi saat itu akan berubah.
Teori Siklus
Teori perubahan sosial ini menjelaskan tentang perubahan sosial yang bagaikan roda yang sedang berputar, artinya perputaran zaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dielak oleh manusia siapapun dan tidak dapat dikendalikan oleh siapapun. Bangkit dan mundurnya suatu peradapan merupakan bagian dari sifat alam yang tidak dapat dikembalikan. 
Teori ini diperkuat Ibnu Khaldun dalam bukunya yang terkenal sejagat “Muqadimah” (pembukaan paling tebal [Editor]) dan dan dijadikan sumber oleh Arnold Tonybee dalam mempelopori teori perubahan sosial ini.
Teori ini berhubungan dengan tantangan dan tanggapan. Apabila suatu masyarakat mampu memberikan tanggapan terhadap tantangan yang ada dalam peradapannya maka  masyarakat tersebut akan mengalami kemajuan. Akan tetapi, bila tidak mampu, maka akan terjadi kemunduran bahkan kehancuran. 
Teori Revolusi
Ini merupakan teori perubahan sosial yang terakhir dan tercepat. Seluruh masyarakat akan mengalaminya dan ikut berpartisipasi dalam peristiwa tersebut. Revolt merupakan asal katanya yaitu pemberontakan. Apabila sudah tidak ada kesesuaian dan kesepakatan antara masyarakat dan institusi yang ada (pemerintah) terhadap kondisi sosial dan struktur sosial maka skenario terburuk yang terjadi adalah pemberontakan atau revolusi.
Tentu saja, ada api maka ada asap. Syarat syarat terjadinya revolusi yaitu adanya keinginan untuk mengadakan perubahan dari mayoritas rakyat atau masyarakat yang ada. Kemudian adanya pemimpin yang siap mewadahi dan merumuskan perubahan sosial yang diharapkan. Selanjutnya yaitu waktu yang tepat untuk terjadinya revolusi, tentu saja perencanaan yang menyeluruh terhadap peristiwa revolusi.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Terjadinya perubahan social di kalangan masyarakat adalah hal yang wajar yang dialami oleh seluruh masyarakat di dunia. Akan tetapi tidak semua orang mempunyai kesepakatan sama dalam mengartikan proses perubahan sosial. Dalam perkembangannya pun para ahli memperlihatkan perbedaan dalam memahami perubahan sosial. Menurut Thorsten Veblen, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi. Namun demikian, sulit untuk dibantahkan bahwa teknologi sangat memengaruhi sikap dan prilaku manusia. Namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi di masyarakat selalu berdampak positif, akan tetapi disisi lain pasti memiliki dampak negatif. Hal ini dapat kita lihat dalam realitas kehidupan masyarakat disekitar kita. Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas mengenai perubahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar.
terjadinya suatu perubahan mungkin dikarenakan adanya sesuatu yang dianggap tidak memuaskan. Mungkin saja perubahan terjadi karena ada faktor baru yang lebih memuaskan masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat mengadakan perubahan karena terpaksa demi menyesuaikan suatu faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah lebih dulu mengalami perubahan.

DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Anonim. 2015. “Pengertian Perubahan Sosial dan Teori Perubahan Sosial”. http://hariannetral.com/2015/09/pengertian-perubahan-sosial-dan-teori-perubahan-sosial.html. Di Unduh Pada Hari Kamis, 26 April 2018 Jam 16.39 WIB.

Makalah MANUSIA DAN KEYAKINAN

MANUSIA DAN KEYAKINAN
Makalah Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Budaya
Dosen Pengampu Marsus, M.Hum

Disusun oleh :
Aviana Pramesti   (173231052)
Hafizhan Pramanda Putra  (173231053)
Apriska Trifiana Rusadi    (173231069)

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

Manusia dalam hidupnya memiliki keyakinan atas suatu hal karena manusia memiliki keyakinan dan cita-cita untuk apa manusia itu sendiri hidup di bumi ini. Manusia selalu berusaha untuk mewujudkan cita-cita pengharapan dan keyakinan itu sendiri. Keyakinan merupakan hal yang penting bagi manusia dan dapat juga dikatakan sebagai syarat kehidupannya di dunia. Manusia tanpa keyakinan akan diliputi rasa bimbang akan kemana arah manusia hidup. Keyakinan adalah sesuatu yang seharusnya dibela oleh orang-orang yang memilikinya, tidak peduli apapun yang akan terjadi atau menimpa dirimya. Misal kita kenal sebagai ibu kandung kita sesungguhnya diterima atas keyakinan kita sendiri tanpa adanya keyakinan karena tidak merasa perlu membuktikan dengan kita sudah berpegang teguh dengan keyakinan itu sendiri.
Keyakinan tidak lepas dari akal manusia sebagai pangkal pikiran. Keyakinan antara individu manusia satu dengan manusia lain sering berbeda dan perbedaan itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Misal di Indonesia terdiri dari berbagai macam agama dan kebudayaan hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia banyak keyakinan yang berkembang. Tidak jarang sering terjadi pertikaian antara golongan yang memiliki keyakinan yang berbeda untuk membela keyakinannya sendiri. Keyakinan merupakan hak diri pribadi dan tidak boleh di ganggu selagi keyakinan tersebut tidak mengganggu masyarakat umum. Manusia memerlukan suatu bentuk keyakinan dalam hidupnya karena keyakinan akan melahirkan tata nilai guna menompang hidup budayanya. Dengan keyakinan yang sempurna hidup manusia tidak akan ragu. Keyakinan manusia yang dianut harus merupakan kebenaran sehingga cara berkeyakinan harus benar pula. Menganut keyakinan yang salah atau dengan cara yang salah dapat membahayakan. Apalagi keyakinan itu berbeda satu dengan yang lain. Keyakinan yang benar haruslah bersumber dari yang benar pula

RUMUSAN MASALAH
Apakah definisi manusia dan definisi keyakinan ?
Bagaimana pebedaan kepecayaan dan keyakinan ?
Apasaja factor-faktor pembentuk kepercayaan ?
Apakah makna manusia dan keyakinan ?

TUJUAN
Mengetahui definisi manusia dan keyakinan
Mengetahui perbedaan kepercayaan dan keyakinan
Mengetahui faktor-faktor pembentuk kepercayaan
Mengetahui makna manusia dan keyakinan

BAB II
PEMBAHASAN

Definisi Manusia dan Definisi Keyakinan
Manusia
Menurut Narwoko, Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis,rohani dan istilah kebudayaan, atau secara campuran.Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya.
Manusia adalah mahluk yang luar biasa kompleks, dimana merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.
Keyakinan
Menurut kamus Ensiklopedia Umum Bahasa Indonesia “Keyakinan” adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Contoh: orang-orang terdahulu yang menyembah atau berkeyakinan animisme dan dinamisme seperti gunung,yaitu mereka menganggap gunung yang memberinya kesejahteraan sedang murka atau marah pada penduduk sekitar sehingga dilakukannya persembahan kepada gunung tersebut dengan tujuan gunung tersebut setelah dikramatkan atau disucikan akan memberi berkah kepada penduduk yang tinggal disekitarnya, tetapi kita tahu bahwa yang patut disembah hanyalah Allah semata. Keyakinan yang menjadi dasar pandangan hidup manusia adalah sebuah pemikiran yang mendasar dan mendalam terhadap suatu hal yang kemudian di anut untuk menjadi pedoman hidup mereka.
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran Naturalisme, aliran Intelektualisme, dan aliran Gabungan (Naturalisme dan Intelektualisme).Aliran Naturalisme adalah hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Aliran Intelektualisme adalah dasar aliran ini adalah logika / akal.Manusia mengutamakan akal.Dengan akal manusia berpikir.Aliran Gabungan adalah dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal.kekuatan gaib Minya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.
Jadi, Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. 
Manusia terdiri atas dimensi fisik dan non-fisik yang bersifat potensial.Dimensi non-fisik ini terdiri atas berbagai domain rohaniah yang saling berkaitan, yaitu jiwa (psyche), fikiran (ratio), dan rasa (sense). Yang dimaksud rasa di sini adalah kesadaran manusia akan kepatutan(sense of ethic), keindahan (sense of aesthetic), dan kebertuhanan (sense of theistic).
Rasa kebertuhanan (sense of theistic) adalah perasaan pada diri seseorang yang menimbulkan keyakinan akan adanya sesuatu yang Mahakuasa di luar dirinya (transendence) yang menentukan segala nasib yang ada.
Keyakinan akan adanya Tuhan dicapai oleh manusia melalui tiga pendekatan, yaitu:
Material experience of humanity; argumen membuktikan adanya Tuhan melalui kajian terhadap fenomena alam semesta.
Inner experience of humanity, argumen membuktikan adanya Tuhan melalui kesadaran batiniah dirinya.
Spiritual experience of humanity, argumen membuktikan Tuhan didasarkan pada wahyu yang diturunkan oleh Tuhan melalui utusan-Nya.
Keyakinan akan adanya Tuhan ini menimbulkan suatu kecenderungan pada manusia untuk berhubungan dengan-Nya dan kerinduan untuk mendapatkan perlindungan dan bantuan-Nya. Oleh karena itu, manusia membutuhkan sarana untuk menyabarkan kecenderungan dan kerinduan ini.Dalam hal ini, agama merupakan sarana yang paling representatif untuk kepentingan ini. Dalam menyalurkan dan mengembangkan fitrah keberagamaan ini, manusia secara individual mengadopsi salah satu agama yang telah terlembagakan, baik melalui proses pewarisan orang tua atau pilihan sendiri secara sadar. Meskipun demikian, ada juga segolongan manusia yang membunuh fitrah keagamaan ini dengan menolak segala ajaran agama dan menafikan adanya Tuhan.
Pebedaan Kepecayaan dan Keyakinan
Kepercayaan adalah keyakinan yang kita miliki di orang lain. Kepercayaan dapat memiliki dasar pemikiran dalam beberapa kasus, tetapi di orang lain, cenderung mempercayai orang lain tanpa alasan apapun. Dalam hubungan dan persahabatan, kepercayaan diperlakukan sebagai elemen inti. Hal ini karena teman-teman atau mitra yang bersedia menerima lain tanpa pertanyaan apapun.
Ketika hubungan tidak memiliki kepercayaan, menyebabkan banyak masalah.Kepercayaan tidak dapat dibangun di atas skenario masa lalu atau pengalaman mungkin datang dari dalam diri individu.
Adapun 4 garis besar Perbedaan antara Kepercayaan dan Keyakinan, yaitu;
Keyakinan mengacu pada jaminan yang kita miliki pada seseorang.
 Kepercayaan mengacu pada keyakinan bahwa seseorang pada individu lain.
 Keyakinan dibangun di atas pengalaman, tapi kepercayaan tidak.
 Seseorang dapat memiliki dasar alasan untuk mempercayai lain. Lain seseorang secara membabi buta bisa mempercayai orang lain. Kualitas ini tidak dapat dilihat pada Keyakinan.
Faktor-faktor Pembentuk Kepercayaan
Pendekatan yang juga perlu dilakukan untuk membentuk kepercayaan dan hubungan adalah dengan mendengarkan, yang merupakan kunci membangun kepercayaan karena tiga faktor penting :
Manusia lebih cenderung mempercayai seseorang yang menunjukkan rasa hormat dan apa yang dikatakannya.
Manusia cenderung lebih mempercayai seseorang bila seseorang mendengarkan dan membantu masalah-masalahnya.
Semakin banyak manusia memberitahu maksudnya, semakin besar rasa kepercayaannya.
Makna Manusia dan Keyakinan
Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbangan manusia dilandasi kepercayaan beragama.
Agama memberikan penjelasan bahwa manusia adalah mahluk yang memilki potensi untuk berahlak baik (takwa) atau buruk (fujur) potensi fujur akan senantiasa eksis dalam diri manusia karena terkait dengan aspek instink, naluriah, atau hawa nafsu, seperti naluri makan/minum, berkuasa dan rasa aman. Apabila potentsi takwa seseorang lemah, karena tidak terkembangkan (melalui pendidikan), maka prilaku manusia dalam hidupnya tidak akan berbeda dengan hewan karena didominasi oleh potensi fujurnya yang bersifat instinktif atau implusif (seperti berzina, membunuh, mencuri, minum-minuman keras, atau menggunakan narkoba dan main judi). Agar hawa nafsu itu terkendalikan (dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran agama), maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu melalui pendidikan agama dari sejak usia dini. Apabila nilai-nilai agama telah terinternalisasi dalam diri seseorang maka dia akan mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia yang bertakwa, yang salah satu karakteristiknya adalah mampu mengendalikan diri (self control) dari pemuasan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
Peran yang paling pertama dan utama dalam hidup dan kehidupan manusia itu tidak lain adalah agama, dengan kata lain hanya dengan agamalah manusia hidup teratur dan terkendali juga sebagai penggerak atau pendorong untuk semangat  hidup yang lebih baik didunia ini dan untuk kembali ketempat yang lebih kekal yaitu diakhirat kelak. Keimanan dan ketaqwaan terhadap ajaran agam adalah merupakan kunci dan kendali segala pemuas kebutuhan manusia yang tidak ada batasnya, hal itu merupakan pengawasan interen yang ada pada diri kita sedang pengawasan ekterennya adalah norma atau aturan
Fungsi-fungsi agama dari segi soaial, yaitu :
Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia karena ia sentiasanya memberipenerangan kepada dunia (secara keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia.Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikitpenerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwadunia adalah ciptaan Allah SWT dan setiap manusia harus menaati Allah(s.w.t). begitu jugauntuk yang beragama lain dengan kepercayaan kepada Tuhan yg di miliki.
Menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia
Sebagian pertanyaan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya pertanyaan kehidupan setelah mati, tujuan hidup,soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk menjawab persoalan-persoalan ini.
Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah karena sistemagama menimbulkan keseragaman bukan saja kepercayaan yang sama, melainkan tingkah laku,pandangan dunia dan nilai yang sama.
Memainkan fungsi peranan social
Kebanyakan agama di dunia ini menyarankan kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendirisebenarnya telah menggariskan kode etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka inidikatakan agama memainkan fungsi peranan social.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia adalah mahluk yang luar biasa kompleks, dimana merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya. Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Keyakinan akan adanya Tuhan dicapai oleh manusia melalui tiga pendekatan, yaitu Material experience of humanity, Inner experience of humanity, Spiritual experience of humanity. Peran yang paling pertama dan utama dalam hidup dan kehidupan manusia itu tidak lain adalah agama, dengan kata lain hanya dengan agamalah manusia hidup teratur dan terkendali juga sebagai penggerak atau pendorong untuk semangat  hidup yang lebih baik didunia ini dan untuk kembali ketempat yang lebih kekal yaitu diakhirat kelak. Keimanan dan ketaqwaan terhadap ajaran agam adalah merupakan kunci dan kendali segala pemuas kebutuhan manusia yang tidak ada batasnya, hal itu merupakan pengawasan interen yang ada pada diri kita sedang pengawasan ekterennya adalah norma atau aturan.

DAFTAR PUSTAKA
Arrahman, Alman : 2016. http://almanarrahman.blogspot.co.id/2016/06/makalah-ilmu-budaya-dasar-manusia-dan.html?m=1. 12 Mei 2018, 20.35
Ramli.2015. “Agama dan Kehidupan Manusia”. Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, Volume 2: 134-143.

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...