PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum
tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang penduduknya terbelakang. Masa itu
disebut Dark Age atau yang lebih dikenal dengan zaman kegelapan. Eropa
mengalami zaman kegelapan sebab pada watu itu masyarakat sangat terkekang
dengan gereja. Seorang pimpinan gereja memegang otoritas tertinggi dalam
masyarakat Eropa dan sabda pimpinan gereja dianggap sebagai suatu kebenaran.
Saat kerajaan Byzantium runtuh, orang-orang
Byzantium berbondong-bondong pindah ke Italia, di sana mereka bermukim dan
berinteraksi dengan penduduk Italia lokal. Saat itu ilmu pengetahuan di Italia
baru giat-giatnya dipelajari. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu dari warisan
leluhur mereka yaitu Yunani dan Romawi Kuno. Orang Itali dan penduduk Byzantium
yang tinggal di Itali giat menggali dan mempelajari lagi ilmu-ilmu peninggalan
klasik.
Dari proses belajar itulah memunculkan
ilmuwan-ilmuwan yang berpikir rasionalis. Mereka mulai memikirkan tentang
segala apapun yang ada di alam ini. Mereka tidak lagi langsung percaya terhadap
kebenaran otoritas gereja. Mereka mulai melakukan penelitian-penelitian. Bahkan
terkadang gereja malah menghukum ilmuwan karena dia menentang kebenaran gereja.
Keadaan gereja yang selalu kolot membuat
seorang kebangsaaan Jerman yang bernama Marthin Luther, memberanikan diri untuk
memprotes gereja. Aliran Marthin Luther ini akhirnya memunculkan aliran baru
yaitu Kristen Protestan. Renaisans adalah kunci untuk melangkah dalam zaman
modern ini, maka dalam makalah ini kami selaku sebagai pemateri berusaha
menyampaikan semaksimal mungkin tetang Renaisans.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
keadaan Eropa sebelum Renaisans?
2. Bagaimana
zaman Renaisans bisa ada?
3. Capaian
kemajuan apa yang ada pada zaman Renaisans
C.
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui
keadaan Eropa sebelum Renaisans.
2. Mengetahui
proses zaman Renaisans bisa terjadi.
3. Mengeahui
capaian kemajuan yang ada pada zaman
Renaisans.
BAB III
Pembahasan
A. Keadaan
Sebelum Zaman Renaisans
Runtuhnya imperium Romawi Barat, yang pernah
menguasai bagian Barat dan Selatan Eropa, menimbulkan beberapa akibat yang
langsung dan tidak langsung berpengaruh terhadap perkembangan Eropa di masa
feodal. Beberapa akibat itu ialah:
1. Beberapa
suku jermania, suku Goth dan suku Vandal berusaha mencari tempat kediaman baru
untuk menetap dan kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan.
2. Kebudayaan
dan peradaban Romawi punah sama sekali, kecuali di wilayah kerajaan Romawi
Timur. Hal ini mengakibatkan kemunduran bagi Eropa umumnya.
3. Hubungan
perdagangan dengan Timur Tengah dan Asia lainnya, yang telah berlangsung berabad-abad,
hampir putus asa sama sekali selama 7 abad. Hal ini berakibat kemunduran di bidang
perekonomian.
4. Sejak Roma menjadi pusat agama Katolik, kepala
Gereja ada dibawah kaisar, setelah kaisar tiada lagi, kepala Gereja di Roma
berdaulat penuh dan sejak itu menjadi Sri Paus atau Bapak Suci, yang menjadi
pemimpin tertinggi umat Katolik Roma. Sebagai kepala Gereja sejak itu Sri
Pauslah yang menobatkan raja-raja. Dengan demikian dua hal dapat di capai oleh
Sri Paus, yaitu:
a. Meluaskan
agama Katolik Roma dengan bantuan para raja-raja.
b. Menempatkan
dirinya di atas para raja-raja selaku kepala Gereja.
Feodalisme adalah suatu keadaan
tata-masyarakat yang mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
1. golongan
bangsawan yang sangat berkuasa
2. perikehidupan
yang agraris dengan kaum petani Tak bebas(tidak mempunyai tanah sendiri) yang
sangat besar jumlahnya
3. tidak
umum di pergunakannya mata-mata dalam perdagangan
4. kedudukan
raja-raja lemah
5. sering sekali terjadi peperangan-peperangan
antara sesama bangsawan
Feodalisme juga disebut sistem-pinjam. Para
raja, yang di anggap menjadi pemilik tunggal tanah seluruh kerajaan,
meminjamkan bidang-bidang tanah yang luas kepada mereka yang dianggap berjasa
terhadap raja, pinjaman ini bersifat turun temurun dan pinjaman pertama ini disebut
raja vazal, yang tergolong bangsawan tinggi. Para vazal atas namanya sendiri meminjamkan
bagian dari tanahnya kepada bawahannya langsung dan seterusnya. Dengan demikian
maka terbentuklah golongan bangsawan atau kaum feodal, Keadaan-keadaan khas
lainnya dalam masyarakat feodal Eropa ialah:
a. para
vazal menjadi lebih berkuasa daripada raja
b. kaum
gereja menduduki peranan yang sangat penting
c. timbulnya
semacam kasta prajurit atau knight
(Sutrisno,
1976: 164-171)
B. Zaman
Renaisans
Zaman Renaisans (abad 14-16) adalah satu abad
keemasan (Golden Age) dalam sejarah peradaban barat. Zaman ini merupakan fase
transisi yang menjebatani zaman kegelapan (Dark Ages) dengan zaman pencerahan
(Enlightenment Age). Dengan lahirnya Renaisans, peradaban barat mulai bersinar.
Tanpa Renaisans, Eropa mungkin tidak akan menapaki abad-abad modern dengan
begitu cepat. Secara etimologis (bahasa Prancis) Renaisans, berasal dari kata
Re, (kembali) dan Neitre (lahir) berarti “kelahiran kembali.” Dalam konteks sejarah
barat, istilah ini mengacu pada terjadinya kebangkitan kembali minat yang
sangat besar dan mendalam terhadap kekeyaan warisan Yunani dan Romawi kuno
dalam berbagai aspeknya. Manusia Renaisans begitu bersemangat mempelajari
karya-karya pemikir agung Yunani Kuno seperti Plato, Plotinus dan Aristoteles. (Hasyim
Asy’ari, 2018: 2-4)
1. Perdagangan Eropa dan Jalan Menuju Kekayaan
Bangsa penjelajah
Viking mulai memasuki Eropa pada 1.000 M. Mereka itu berasal dari daerah
Skandiavia Utara. Sebagian dari mereka adalah orang-orang barbar, penjarah,
perampok dan pembunuh. Akan tetapi, sebagian lagi adalah pedagang-pedagang yang
giat. Mereka berperan besar dalam membangkitkan perdagangan di Eropa.
Para pedagang Italia
juga begitu, mereka berdagang di seluruh Eropa dan juga ke Konstantinopel yang
sangat makmur. Italia berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan karena
letaknya di tengah-tengah antara Eropa dan kota-kota di Timur. Dari perdagangan
itu, di Italia muncul kota-kota baru. Venesia, Pisa dan Genoa yang berada di
tepi jalur perdagangan laut mulai merasakan kemakmuran. Perdagangan dan
kemakmuran Eropa mengalami kebangkitan yang lebih hebat lagi setelah terjadinya
salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah dunia yakni Perang Salib.
(Eko Laksono, 2010: 142)
2. Penemuan Warisan Ilmu
Pada 1333,seorang
Italia bernama Petrarch menemukan harta karun yang sudah berabad-abad terpendam
dan dianggap hilang. Harta itu adalah rahasia kemegahan zaman klasik Yunani dan
Romawi. Karya pertama yang ia temukan adalah milik Cicero, sang politisi dan
orator besar Romawi. Lalu karya-karya Homer dan Virgil. Mahakarya dari zaman
penuh kemegahan itu membuat Petrarch mulai berpikir bahwa manusia tidak boleh
lagi memasrahkan dirinya pada nasib, tidak boleh lagi terbelenggu dalam
kegelapan dan keterbelakangan. Manusia harus berusaha dengan aktif mencari
jawaban-jawaban atas eksistensinya di dunia dan menemukan keagungannya.
Pengaruh Petrarch
kemudian membuat ilmu-ilmu klasik mulai kembali ramai dicari. Ini adalah awal
mula dari peristiwa besar yang akan segera terjadi di Italia yaitu Renaisans. (Eko
Laksono, 2010: 153)
3. Byzantium Runtuh
Pada 1453 setelah
berdiri selama ribuan tahun, peradaban Byzantium akhirnya juga runtuh. Setelah
digempur pasukan Ottoman, Turki. Menjelang kejatuhannya, orang-orang Byzantium
melarikan diri ke Italia. Mereka terdiri dari para bangsawan, pedagang,
pengrajin, juga para tentara. Di antara mereka juga terdapat ribuan orang
cerdas, kaum intelektual dan sarjana yang mencari tempat aman dan bisa menerima
mereka dangan baik. Tempat itu adalah kota-kota di Italia, seperti Venesia dan
Florens. (Eko Laksono, 2010: 154)
4. Renaisans, Italia Bangkit Menjadi Pusat Dunia
Sejak berkembangnya
perdagangan pada masa Perang Salib, kota-kota Italia, seperti Venesia, Pisa,
Genoa dan Florence telah menjadi pusat-pusat perdagangan yang makmur. Akan
tetapi, ketika peradaban hebat sebelumnya seperti Bagdad, Konstantinopel dan
Andalusia Spanyol telah mundur, kota-kota di Eropa, khusunya Italia tidak lagi
punya saingan. Venesia, Genoa dan Florence kemudian menjadi pusat dunia seta
pusat perdagangan dan perkembangan ilmu. (Eko Laksono, 2010: 157)
Majunya kemakmuran
dan perdagangan membuat mereka semakin butuh pendidikan. Supaya nanti bisa
berdagang dan berusaha, anak-anak tentu harus belajar membaca dan berhitung.
Sekolah-sekolah pun bermunculan. Sejak kontak dengan Byzantium, para tokoh
Italia sudah berlomba-lomba untuk mempelajari peradaban klasik Yunani dan
Romawi kuno. Buku-buku didatangkan dari Timur dengan biaya yang sangat besar.
Para bangsawan dan pedagang-pedagang kaya saling berlomba untuk mendapatkan
ilmu. Salah satunya adalah Keluarga Medici.
Keluarga Medici
tinggal di Florence Italia, salah satu kota terkaya di Eropa. Florence mejadi
sangat kaya karena memilki industri tekstil yang besar dan terus berkembang.
Kemajuan perdagangan dan industri di kota itu juga membuat Florence kemudian
menjadi kota pusat keuangan dan perbankan.
Kota utama dari
Renaisans yakni Florence (Provinsi dari wilayah Tuscan) yang merupakan kota
yang terkemuk. Para seniman dan penulis Florentine membuat negara kota mereka
sebagai pusat Renaisans masa awal. Pada masa ini mereka berhasil mencapai
prestasi yang gemilang dalam berbagai bidang, seperti bidang seni, filsafat,
literatur, sains, politik, pendidikan, agama, perdagangan dan lain-lain.
Renaisans juga telah dapat membangkitkan kembali cita-cita, alam pemikiran,
filsafat hidup yang kemudian menstrukturisasi standar-standar dunia modern
seperti optimisme, hedonisme, naturalisme dan individualisme.
Keluarga Medici menjadi keluarga yang paling berpengaruh pada masa
Renaisans Italia. Keluarga itu mempunyai kekayaan yang besar hasil dari usaha
perbankannya yang sangat sukses. Dua orang pemimpinnya yang paling terkenal
adalah Casimo de Medici dan cucunya, Lorenzo de Medici.
a. Casimo de Medici (1389-1464) adalah tokoh yang sangat haus ilmu
pengetahuan. Semasa hidupnya, ia dengan sekuat tenaga mendirikan dan
memperbesar beberapa perpustakaan di kota-kota Italia. Saat itu mesin cetak
Gutenberg belum ditemukan dan sebuah buku saja harganya sangat mahal. Untuk
mendirikan sebuah perpustakaan, biaya yang diperlukan tidak main-main besarnya.
Belum lagi biaya yang ia keluarkan untuk membayar para penerjemah dan tukang
kopi buku yang jumlahnya mencapai puluhan. Akan tetapi, Cosimo adalah seorang
bangsawan yang juga tidak main-main perhatiannya pada ilmu. Pada tahun 1462, ia
juga mendirikan Akademi Florentine, tempat para sarjana dan kaum intelektual
berkumpul dan membahas karya-karya besar pemikir Yunani.
b. Lorenzo de Medici (1449-1492) membangun perpustakaan besar Medici.
Seperti para bangsawan lainnya saat itu, ia bersaing untuk mendapatkan buku-buku
terbaik dari Timur dan mengopinya untuk kemudian disebarkan ke seluruh Eropa.
Upaya-upaya Lorenzo dalam menyebarkan ilmu juga mendorong berkembangnya
pemikiran rasionalis humanis di seluruh Eropa.
(Eko Laksono, 2010: 158)
5. Penemuan Mesin Cetak Menciptakan Revolusi Kecerdasan Eropa
Sekitar tahun
1400-an, di Jerman hidup seorang pengusaha miskin yaitu Johan Gutenberg. Selama hidupnya, ia
bercita-cita membuat mesin yang bisa mencetak buku dalam jumlah yang banyak dan
murah. Saat itu, buku bisa dibuat dengan dua cara, yakni ditulis tangan atau
dicetak melalui ukiran. Membuat buku dengan tulis tangan atau cetak ukiran kayu
jelas sangat lama dan tidak efisien. (Eko
Laksono, 2010: 159)
Setelah mencoba selama puluhan tahun, akhirnya pada tahun 1450 M
Gutenberg menemukan cara untuk mencetak buku dengan cepat dan banyak. Ia
membuat mesin pencetak baru dari balok-balok metal yang huruf-hurufnya bisa dipindah-pindahkan
dengan mudah. Tanpa memakan waktu lama, penemuan Gutenberg itu tersebar dengan
cepat ke mana-mana. Buku mulai diproduksi besar-besaran di seluruh Eropa.
Percetakan-percetakan baru tumbhuh dengan sangat cepat di kota-kota besar
seperti Venesia, Florence, London, Paris Cologne dan lain-lain. Karena buku
menjadi sangat murah, biaya untuk sekolah-sekolah maupun tempat-tempat
pendidikan lainnya menjadi lebih terjangkau, minimal bagi kalangan menengah
Eropa. Jumlah orang yang bersekolah pun segera meningkat dengan cepat.
Universitas-universitas semakin berkembang. Julmlah perpustakaan yang dibangun
bertambah banyak. Berkat Gutenberg, saat itu Eropa mulai berubah menjadi
peradaban yang cerdas. (Eko Laksono, 2010: 160)
C. Pencapaian Kemajuan pada Zaman Renaisans
1. Seni Renaisans
Arti penting
Renaisans disampaikan melalui seninya, khususnya arsitektur, seni pahat, dan
snei lukis. Dari contoh-contoh seni tersebut kemudian mencerminkan suatu gaya
yang menekankan proporsi, keseimbangan serta harmoni, selain itu juga
mencerminkan nilai-nilai humanisme Renaisans : suatu gerak kembali ke
model-model klasik di bidang arsitektur, ke pembuatan tokoh telanjang dan ke
visi heroik manusia. Di bidang seni, seperti di bidang filsafat, orang-orang
Florentin memainkan peran yang menonjol. Penyumbang pertama yang utama bagi
seni lukis Renaisans ialah pelukis Florentin Giotto. Selain itu para seniman
besar termasuk Leonardo da Vinci, Michaelangelo Bounarroti dan Raphael Santi.
Semua mereka terkait erat dengan Florence. Leonardo adalah seorang ilmuwan dan
ahli mesin, dan juga seorang seniman besar. Diantara yang cukup penting yakni
The Last Supper (Perjamuan terakhir) dan La Giconda atau Mona Lisa. Untuk
Michaelangelo Bounarroti ciptaannya tentang artistik yang berasal dari
penguasaan anatomi dan seni lukis. Modelnya dalam melukis adalah patung. Ia
seorang pemahat yang pandai. Diantara patung yang terbesar adalah Daud, Musa,
dan Budak yang Sekarat. Selain itu ia juga merupakan arsitek. (Marvin Perry.
2012, 308-309)
2. Ilmu Astronomi
Copernicus
(1473-1543) adalah ilmuwan Polandia yang belajar di Italia. Ia bisa membuktikan
bahwa bukan matahari yang mengelilingi Bumi, justru Bumilah bersama
planet-planet lain yang berputar-putar mengelilingi Matahari. Corpenicus
mengamati pergerakan benda-benda langit, bulan, bintang dan matahari. Ini
dilakukan dengan mata telanjang karena teleskop belum ditemukan. Dengan
perhitungan matematis yang teliti, pola pergerakan planet dan bintang yang
akurat bisa dikira-kira, termasuk bahwa bumi pada dasarnya mengelilingi
matahari, bukan sebaliknya. Teori Copernicus belum sempurna, tetapi cara
pandangnya terhadap alam semesta menjadi salah satu titik awal yang sangat
penting bagi ilmu astronomi.
Setelah itu muncul
Galileo Galilei (1564-1642). Teleskop juga sudah ditemukan. Dengan pengamatan
yang lebih teliti yang dibantu dengan alat baru, teori Copernicus makin
diperkuat oleh Galileo. Formula-formula matematik yang digunakan untuk
mendukungnya juga semakin kukuh. Ide bahwa matahari adalah pusat alam semesta
semakin populer di masyrakat Eropa. (Eko Laksono, 2010: 164)
3. Reformasi Gereja Zaman Pertengahan dalam Krisis
Renaisans telah
merevitalisasi kehidupan intelektual Eropa dan dalam perjalanannya membuang
keasyikan abad pertengahan dengan teologi. Demikian pula reformasi menandai
permulaan suatu cara pandang religius yang baru. Akan tetapi reformasi
protestan, tidak berasal di dalam lingkaran elit sarjana humanistik. Lebih
tepatnya, ia dicetuskan oleh Martin Luther, seorang biarawan Jerman yang tak
kenal dan teolog yang brilian. Luther memulai suatu pemberontakan melawan
otoritas gereja yang kurang dalam satu dasawarsa menceraiberaikan tanpa
terpulihkan kesatuan religius dunia kristen. Dimulai pada 1517 Reformasi
mendominasi sejarah Eropa selama sebagian besar pada abad keenam belas. Gereja
Katolik Roma berpusat di Roma adalah suatu lembaga Eropa yang melampaui
batas-batas nasional. Geografis, teknis dan bahasa. Selama beradab-abad, ia
telah memperluas pengaruhnya ke dalam setiap aspek kemasyarakatan dan
kebudayaan Eropa. Hasilnya, kekayaan sangat besar dan kekuasaannya tampak lebih
menonjol daripada komitmennya untuk mencari kesucian di dunia ini dan
keselamatan untuk masa yang akan datang. Dibebani oleh kekayaan, candu kepada
kekuasaan internasioan dan sangat melindungi kepentingan-kepentingan sendiri,
kaum pendeta, mulai dari Paus hingga seterusnya, menjadi pusat badai kritik,
dimulai sejak akhir Zaman Pertengahan.
Pada abad keempat
belas, ketika raja meningkatkan kekuasaan serta kemajuan pusat perkotaan,
rakyat mulai mempertanyakan otoritas gereja internasional dan kaum pendetanya.
Ide sentral dunia Kristen pada abad pertengahan-suatu persemakmuran Kristen
yang dipimpin oleh kepausan semakin tidak dihargai. Para teoritisi sedang
mengargumenkan bahwa gereja hanyalah suatu badan spiritual dan oleh karena itu
kekuasaannya tidak boleh diperluas kepada ranah politik. Mereka mengatakan
bahwa Paus tidak mempunyai otoritas terhadap raja, sehingga negara tidak
membutuhkan bimbingan dari kepausan, dan bahwa kaum pendeta tidak berada di
atas hukum sekuler. Selama akhir abad keempat belas, dunia Kristen menyaksikan
serangan-serangan yang pernah dilancarkan terhadap gereja. Kebobrokan gereja
seperti penjualan seperti surat pengampunan dosa (praktik pengangkatan kerabat
untuk menjadid pejabat), pemilikan tanah oleh keuskupan, dan pemuasan hawa
nafsu seks kaum pendeta, hal tersebut bukanlah hal yang baru.
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan
Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum
tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang penduduknya terbelakang. Masa itu disebut
Dark Age atau yang lebih dikenal dengan zaman kegelapan. Eropa mengalami zaman
kegelapan sebab pada watu itu masyarakat sangat terkekang dengan gereja.
Seorang pimpinan gereja memegang otoritas tertinggi dalam masyarakat Eropa dan
sabda pimpinan gereja dianggap sebagai suatu kebenaran.
Saat kerajaan Byzantium runtuh, orang-orang
Byzantium berbondong-bondong pindah ke Italia, di sana mereka bermukim dan
berinteraksi dengan penduduk Italia lokal. Saat itu ilmu pengetahuan di Italia
baru giat-giatnya dipelajari. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu dari warisan
leluhur mereka yaitu Yunani dan Romawi Kuno. Orang Itali dan penduduk Byzantium
yang tinggal di Itali giat menggali dan mempelajari lagi ilmu-ilmu peninggalan
klasik. Penemuan mesin cetak membuat ilmu-ilmu semakin tersebar luas karena
buku menjadi lebih murah dan mudah didapat
Dari proses belajar itulah memunculkan
ilmuwan-ilmuwan yang berpikir rasionalis. Mereka mulai memikirkan tentang
segala apapun yang ada di alam ini. Mereka tidak lagi langsung percaya terhadap
kebenaran otoritas gereja. Mereka mulai melakukan penelitian-penelitian. Bahkan
terkadang gereja malah menghukum ilmuwan karena dia menentang kebenaran gereja.
Keadaan gereja yang selalu kolot membuat
seorang kebangsaaan Jerman yang bernama Marthin Luther, memberanikan diri untuk
memprotes gereja. Maka dari situlah otoritas gereja tidak terlalu mengekang
lagi seperti zaman kegelapan. Eropa kini menjadi peradaban yang rasionalis dan
mempunyai ilmu pengetahuan yang maju.