Jumat, 26 Oktober 2018

MAKALAH DINASTI ILKHAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap bangsa pastilah mempunyai sejarahnya masing-masing, beserta hasil peradabannya kala itu. Termasuk peradapan Bangsa Mongol yang mempunyai banyak cabang dinasti diantaranya, Dinasti Chaghtai (1227-1359      M), Dinasti Golden Horde (1256-1391 M), dan yang terakhir Dinasti Ilkhan (1256-1335 M). Dinasti Ilkhan merupakan salah satu cabang rumpung dari bangsa Mongol, yang berada di daratan Asia Timur. Pada abad ke-7 M Sentral Asia (Asia Tengah) dihuni oleh suku-suku yang liar lagi biadab dari pegunungan Altai. Di sebelah Barat, mereka digolongkan sebagai orang-orang Turki. Sedangkan di sebelah Timur digolongan sebagai orang-orang Mongol. Orang-orang Turki setelah berpindah dan memasuki daerah kerajaan Islam di bagian Barat dan memeluk agama Islam, menjadi suku yang berbudaya. Pada tahun1206 M, Suatu suku kecil dari bangsa Mongol berkumpul di Laut Baikal.
Tahun 1207-1215 M merupakan pergerakan Jengis Khan dalam melakukan perluasan wilayah. Kejeniusan Jengis Khan dan keberanian orang-orang yang loyal padanya menjadikan dominasi kekuasaannya meluas secara cepat keseluru Mongolia dan daerah-daerah tetangganya, sehingga daerah kekuasaannya terlihat diperbatasan Iran, Khawarizn di Asia Tengah, yang luasnya meliputi Persia hingga Transoxiana. Karena kekagumannya akan kekuatan militer (khususnya senjata) dan majunya kebudayaan bangsa Iran yang pada saat itu berdirinya Dinasti Abbasiyah di Baghdad, maka Jengis Khan mengirim pada duta dalam berdagang. Disinilah awal sejarah hubungan bangsa Mongol dengan umat Islam hingga berakhir pada kehancuran kerajaan-kerajaan Islam. Pasukan Mongol dibawa pimpinan Jengis Khan dan Hulagu Khan, meluluh lantahkan Transoxania dan Khurasan (1219-1231) kemudian menumbangkan kekuasaan Saljuk Rum (1235-1236 M) Bahgdad hancur lebur dan Khalifah Abbasiyah dibunuh (1258 M). Pasukan kencana kumpulan dari beberapa suku Mongol menyapu wilayah Kota-kota, budaya, perdagangan, ilmu agama dan filsafat selama setenga abad di bantai dan di hancurkan dengan tingkat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnnya. Bangsa mongol berhasil menguasai Baghdad pada tahun 1258 M yang menandakan kehancuran bagi peradaban Islam.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti Ilkhan ?
2.      Bagaimana perkembangan pemerintahan Dinasti Ilkhan ?
3.      Bagaimana periode disintegrasi dan keruntuhan Dinasti Ilkhan ?
C.    TUJUAN
1.      Memahami sejarah berdirinya Dinasti Ilkhan.
2.      Memahami perkembangan pemerintahan Dinasti Ilkhan.
3.      Memahami  periode disintegrasi dan keruntuhan Dinasti Ilkhan.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ILKHAN
Hulagu Khan dikenal dengan sebutan Hülegü, Hulegu and Halaku. adalah Khan pertama dari dinasti Khan yang menguasai wilayah Persia, Kehancuran kota Bgahdad yang merupakan pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan Islam telah dihancurkan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M. melakukan peperangan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk yang ada di daerah Perisa. Ada beberapa faktor yang menjadikan Hulagu Khan berkeinginan menguasai wilayah Islam diantaranya : Ibu Hulagu, istri dan sahabat dekatnya, Kitbuq aadalah seorang Kristen fanatik yang memendam kebencian mendalam terhadap orang muslim, dan para penasehatnya banyak yang berasal dari Persia yang memang berharap dapat membalas dendam atas kekalahan mereka satu abad sebelumnya ketika Persia ditaklukan oleh pasukan muslim pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Keberhasilan ekspansi yang dilakukan oleh Hulagu Khan terutama kehancuran Baghdad tahun 1258 M, telah mendirikan suatu kerajaan Mongol dengan gelar Ilkhan. Dinasti Ilkhan berdiri pada tahun 1259, pada saat Hulagu Khan berhasil memantapkan kekuasaannya di Baghdad. Ilkhan dalam bahasa Mongol adalah kepala suku, dalam makna khusus dikalangan Mongol juga disebut sebagai perwakilan dari pusat kekuasaan Khan Agung, yang memiliki wilaayah yang sangat luas. Ilkhan merupakan gelar yang diberikan kepada Hulaghu Khan sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi-prestasinya yang diperolehnya ketika sukses melakukan ekspansi wilayah dan mengalahkan setiap musuh-musuhnya. Dinasti Ilkhan yang didirikan oleh Hulagu Khan memliki kekuasaan meliputi dari lembah sungai Amu Daria sampai Syam dan dari Kawkasus sampai Hidukush. Kehadiran dinasti Ilkhan yang menegakkan ajaran Islam sebagai agama resmi kenegaraan, merupakan terobosan baru bagi peradaban Islam di tangan bangsa Mongol.
 Baghdad  dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu Khan telah diperintah oleh Dinasti Ilkhan, Ummat Islam yang masi menetap di daerah Baghdad telah dipimpin oleh Hulagu Khan seorang raja yang beragama Syamanisme. Hulagu Khan sangat membenci Ummat Islam, kebencian itupu menjadi-jadi dikarenakan istrinya merupakan seorang Kristen yang mendorong untuk melakukan pembantaian terhadap kaum Muslimin. Akan tetapi di akhir-akhir kehidupan Hulagu Khan telah mempercayakan pendidikan putra keduannya, Teguder kepada seorang pendidik Mualim. Hulagu khan Mneinggal pada tahun 663 H/1265 M. Kebencian Hulagu Khan terhadap Ummat Islam dikarenakan adanya dukungan dari Istrinya yang beragama kristen. 
Keberhasilan Hulagu Khan menguasai Persia dan Irak, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspansi di berbagai negara lain, Hulagu bergerak untuk memerangi Syiria dan daerah-daerah lain yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk. Hulagu sangat tertarik menguasai Mesir, akan tetapi pasukan Mamluk lebih kuat dan lebih cerdik.  Pada tahun 1260 M pasukan Mongol berhasil menduduki  Nablus dan Gaza. Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan Qutuz penguasa dinasti Mamluk menyerahkan diri. Permintaan tersebut ditolak utuzan bangsa Mongol telah dibunuh oleh penguasa Dinasti Mamluk, Tindakan Qutuz ini menimbulkan kemarahan dikalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi Yordania menuju Galilie Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamluk yang dipimpin langsung oleh Qutuz dan Baybras di Ain Jalut. Pertempuran dasyat terjadi, pasukan Mamluk berhasil menghancurkan tentara Mongol, 3 September 1260 M.
Mamluk memiliki keuntungan pengetahuan tentang medan perang. Taktik yang dipakai oleh panglima Baibars adalah dengan memancing keluar pasukan berkuda Mongol yang terkenal hebat sekaligus kejam ke arah lembah sempit sehingga terjebak, kemudian pasukan kuda mereka melakukan serangan balik dengan kekuatan penuh yang sebelumnya memang sudah bersembunyi di dekat lembah tersebut. Taktik ini menuai sukses besar. Pihak Mongol terpaksa mundur dalam kekacauan bahkan panglima perang mereka, Kitbuqa berhasil ditawan dan akhirnya dihukum mati.
Keruntuhan kota Baghdad sampai ke Negara-negara Islam yang lain, rasa kesedihan menyelimuti mereka semua. Meskipun khalifa Abbasiyah sudah tidak lagi memiliki kekuasaan secara menyeluruh kepada Negara-negara tersebut tetapi ummat Islam masih tetap menjadi symbol bagi agama Islam. dia masih memiliki kedudukan maknawi yang kuat didalam jiwa seluruh ummat Islam.[1]
B.     PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN
Dinasti Ilkhan memerintah di wilayah yang memanjang dari Asia Kecil di barat dan India di timur dengan ibukota Tabriz. Di wilayah itu sekarang membentang Turki, Syiria, Irak, Iran, Uzbekistan, dan Afghanistan. Selama dinasti ini berdiri. Terdapat 16 raja yang pernah berkuasa[2]. Diantara raja-raja tersebut yang pertama adalah Hulagu Khan yang sekaligus pendiri dinasti ini. Hulagu adalah putra dari Tuli Khan, cucu Jenghis khan, seorang Syamanism. Masa kekuasaan dari Hulagu Khan cukup singkat, yaitu hanya selama kurang lebih tujuh tahun.
Semasa kepemimpinannya, kehidupan agama cukup toleran, meskipun diawal berdiri Dinasti Ilkhan diketahui bahwa Hulagu menghancurkan Kekhalifahan Abbasiyah dengan sangat keji. Akan tetapi meskipun kehidupan agama yang toleran, Islam dan perkembangannya sangat lambat dibanding perkembangan agama Budha dan Kristen di negeri-negri Ilkhan. Demi memperkuat posisinya terhadap kemungkinan dari serangan Berke Khan (Golden Horde) dan sekutunya Sultan Mamluk (Mesir), Hulagu menjalin hubungan dengan kaum Kristen. Ia menjalin persekutuan dnegan Kristen Timur dengan Raja Armenia serta pasukan Salib dari Konstatinopel. Persekutuan antara Hulagu dengan pihak Kristen ini dapat terjadi karena dari istrinya yang beragama Kristen. Selain itu menurut Hulagu, kaum Kristen sudah mampu membangun pertahanan mereka dari serangan luar dengan sangat baik. Masa kekuasaan Hulagu berakhir saat ia wafat pada 1265 atau tujuh tahun setelah ia meresmikan Ilkhan sebagai dinasti. Hulagu dimakamkan di Pulau Kaboudi yang terletak di Danau Urmia.[3]
Periode selanjutnya, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Abaga Khan, putra Hulagu. Ia adalah salah satu diantara penguasa Ilkhan yang berkuasa paling lama, yaitu selama 17 tahun, dimulai dari tahun 1265 M sampai 1281 M. Berbeda dari ayahnya yang memeluk Syamanism, Abaga adalah seorang Kristen Nestorian. Abaga menjalankan kekuasaannya dengan penuh semangat dan memperhatikan kondisi negara dengan cukup baik. Pada masa pemerintahannya Abaga menjalin kerjasama dengan kaum Kristen. Ia mengirimkan duta-duta ke beberapa pangeran di Eropa diantaranya, Louis dari Prancis, Charles di Sicilia, dan James Aragon, hal itu dilakukan dalam rangka meminta persekutuan untuk membantu melawan Muslim. Mirip dengan ayahnya, faktor yang menimbulkan kebencian Abaga pada muslim juga ikut dipengaruhi oleh istrinya, yang merupakan putri dari Kaisar Konstatinopel.
Masa pemerintahan Abaga ini lagi-lagi disibukkan dengan peperangan yang terjadi antar keluarga mongol, diantaranya peperangan dengan Berke khan atau dinasti Golden Horde dengan sudah berlangsung sejak masa Hulagu, peperangan dengan Dinasti Mamluk pada 679 H, dan perseteruan dengan Mongkay Khan di timur. Abaga Khan berusaha merebut negeri Syam akan tetapi berhasil digagalkan oleh Sutan Qalawun pada 680 H. Selanjutnya pada masa pemerintahannya Abaga memfokuskan diri pada penyerangan terhadap daerah-daerah di Mongol Utara dan Dinasti Mamluk. Abaga Khan meninggal pada 680 H, tahtanhyapun diwariskan kepada Tegudar, yakni saudaranya sendiri.[4]
Penguasa ketiga Dinasti Ilkhan adalah Ahmad Teguder yang memerintah pada 1282 M-1284 M. Ahmad Teguder dibesarkan sebagai seorang Kristen yang sudah dibabptis dengan nama Nicola atau Nicholas. Ketika ia mencapai dewasa, ia memleuk Islam sebagai akibat dari pergaulan dengan teman-temannya yang beragama Islam. Ahmad Teguder adalah raja Dinasti Ilkhan pertama yang memeluk Islam atas dasar hubungan dan didikan dari seorang Muslim sehingga berkeinginan membela dan melindungi umat Islam.
Ahmad Teguder berkeinginan mengislamkan seluruh Mongol, akan tetapi banyak diantara masyarakat yang enggan masuk ke agama Islam. Ahmad Teguder mengupayakan berbagai cara salah satunya dengan upaya memberikan hadiah, anugerah, pangkat, dan kehormatan bagi sejumlah orang Mongol yang masuk Islam. Ia juga mengirim surat kepada Sultan Mamluk di Mesir, dengan isi berupa pernyataan bahwa ia telah memeluk Islam dan mengharapkan hubungan perdamaian dengan Dinasti Mamalik di Mesir. Akan tetapi usaha persahabatan yang coba dijalin oleh Teguder tidak berlangsung lama, dikemudian muncul konspirasi hebat dari kalangan Mongol yang terkemuka untuk menurunkan Teguder dari tahtanya. Konspirasi yang dilakukan oleh keluarganya sendiri itu salah satunya didasari karena keislaman Teguder. Teguder dihabisi oleh Argun, yang kemudian naik tahta setelah Teguder wafat.
Raja keempat, Argun, memimpin Ilkhan sejak 1284 M hingga 1291 M. Ia adalah seorang penganut Kristen Nestorian militan, yang karena kefanatikannya itu, Arghun banyak melakukan tindakan refresif dengan mengusir dan membunuh orang-orang Islam. Di masa kepemimpinannya, ia banyak melakukan penindasan terhadap Umat Islam di negerinya dan memecat seluruh pejabat Muslim yang terkait dalam peradilan dan ekonomi. Arghu khan juga mengadakan persekutuan dengan pasukan Salib dan bangsa Armenia untuk melawan Dinasti Mamluk serta kerajaan Mongol yang telah memeluk Islam. Ia wafat pada 691 H dan tahtanya diwariskan kepada saudaranya, Gayghatu.
Gayghatu memerintah Ilkhan selama empat tahun pada 1291 M – 1295. Ia kemudian digantikan oleh Baydu yang memerintah dalam periode yang singkat pul, yakni kurang lebih selama satu tahun dan masih di tahun 1295 M. Dari masa Hulagu hingga Baydu, kecuali Ahmad Teguder, seluruh penguasa Dinasti Ilkhan adalah non-Muslim. Pada periodeini tidak ada perkembangan yang cukup berarti bagi masyarakat Muslim terutama yang menyangkut perkembangan Islam dan peradabannya.[5]
Ghazana Khan naik tahta pada tahun 1295 M. Ia merupakan pemimpin ketujuh Ilkhan. Pada awalnya Ghazan adalah seorang pemeluk Budha, sejak kecil ia sudah dekat dengan kakeknya, Abaga, yang beragama Budha. Ketika usianya 10 tahun Dia diangkat menjadi gubernur Khurasan pada masa pemerintahan ayahnya, Argun khan. Pendamping dan penasehatnya ialah Amir Nawruz, yang telah memerintah selama 39 tahun di beberapa provinsi di Persia. Amir Nawruz merupakan pembesar Mongol awal yang memeluk Islam secara diam-diam. Atas usaha Amir beserta salah seorang penasehat Ghazan yang bernama Shekh Sadr al-Din Inilah Ghazan Khan memeluk Islam.
Setelah pemimpin dinasti ini masuk Islam, masyarakat dari kalangan Bangsa Mongol dapat menerima dan masuk agama Islam. Hal ini juga didukung oleh faktor adanya asimilasi dan pergaulan dengan masyarakat Muslim dalam jangka waktu yang lama. Para penguasa pada masa Ghazan Khan ini mulai memperhatikan Islam dan kepentingan masyarakat Muslim. Selain itu Ghazan Khan juga menetapkan bahwa pemerintahannya menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan.[6]
Dalam catatan sejarah masa kepemimpinan Ghazan Khan adalah masa dimana Dinasti Ilkhan dan muslim mencapai punca kejayaannya. Ghazan Khan melakukan gebrakan dan pembaharuan pada banyak sektor pemerintahan dan masyarakat. Sehingga kemajuan dan sumbangsih terhadap Islam dapat dilihat pada beberapa aspek kejayaan dinasti ini. Sultan Ghazan dikenal sebagai Raja Mongol pertama yang mencetak uang dinar dengan inskripsi Islam. Ghazan menyebut dirinya sebagai Ruler by the grace of God [7]sehingga syari’at Islam kemudian kembali ditegakkan dan undang-undang kerajaan digantikan dengan undang-undag baru yang berasaskan Islam. Reformasi lain yang ia lakukan ialah pengurangan pajak terutama bagi petani dan penyusutan jumlah pelacuran di seluruh negeri. Walaupun beberapa perubahan yang dilakukan oleh Ghazan menyebabkan orang Mongol yang masih beragam Budha tidak puas namun pemeritahan Ghazan relatif stabil.[8] Selain itu pemerintahan Ghazan juga terkenal bebas dari KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), negaranya aman, bebas dari kelaliman, pemaksaan, dan Ia juga dikenal sebagai sahabat rakyat yang selalu mengunjungi masyarakat baik langsung maupun dengan menyamar. Kemakmuran negerinya dibuktikan dengan banyaknya kepala negara yang berdatangan ke istananya di Tabriz, bahkan India, Spanyol, Mesir, Inggris, dan beberapa negara lain mengadakan hubungan bilateral. Para duta tersebut meramaikan ibukota semasa Ghazan yang sering disebut sebagai The Golden Age Of Islam Post Baghdad.[9]
Sultan Ghazan wafat pada tahun 1304 M pada usia 32 tahun. Wafatnya Ghazan disebabkan oleh konspirasi yang dilakukan oleh orang-orang Mongol yang bertujuan mengangkat Alanfran, putra saudara sepupunya yakni Gayghaitu. Selanjutnya Uljaytu Khudabanda naik tahta pada 1304 M-1316 M. Ia adalah seorang yang taat beragama Islam, seorang penganut dan pembela madzhab Syi’ah. Ia mengendalikan pemerintahan Dinasti Ilkhan selama kurang lebih 14 tahun, sampai kemudian digantikan oleh Abu Said yang memerintah pada 1317 M sampai 1335 M. Dinasti Ilkhan mengalami kemunduran pasca pemerintahan Abu Said. Pada masa-masa setelahnya Ilkhan dipimpin oleh Arpha, Musa, Muhammad, Jahan Timur, Sati Bek dan Suleman. Ketuju figur raja tersebut adalah raja yang lemah. Pada masa ketujuh raja itu Dinasti Ilkhan mulai mengalami perpecahan dan pertikaian.[10]   
C.    PERIODE DISINTEGRASI DAN KEHANCURAN
Setelah wafatnya Ghazan (1304) akibat serangan jantung setelah penaklukan ke Syam. Kemudian Uljaytu menggantikan posisi saudara kandungnya menjadi pemimpin Dinasti Ilkhan. Pada mulanya Uljaytu beragama Kristen kemudian Buddha dan akhirnya memeluk agama islam. Setelah masuk islam, Uljaytu berganti nama yaitu Muhammad Khuda Bandah
Pada pemerintahan Bandah ini terdapat peistiwa penting yaitu kemenangan Gilan. Saat itu Mongol-Chagthai menyerang Khurasan tetapi Bandah dapat mengalahkannya. Kemudian ia banyak menjalin persahabatan dengan bangsa-bangsa Eropa Barat dengan catatan jika mereka membantu Bandah maka memberikan Palestina kepada mereka. Perjanjian ini dilakukan demi kepentingan mereka untuk menghadapi Mamluk. Namun, perjanjian ini tidak berjalan. Hal ini tidak membuat Uljaytu putus asa, dia mengumpulkan tentara tanpa bantuan Eropa. Uljaytu termakan kata-kata manis dari para gubernur yang membangkang dari Mamluk yang kemudian diangkat menjadi gubernur dibawah kekuasaan Ilkhan. Saat terjadi serangan balasan dari Mamluk, tentara Ilkhan tidak tahan menghadapi medan perang dan memilih mundur dari peperangan tersebut. Sejak saat itu tidak ada penguasa Mongol yang berani menyerang daerah Mamluk.
Dalam menjalankan kepemimpinannya, Uljaytu meneruskan kebijakan dari Ghazan. Ia menjadi penguasa dinasti Ilkhan selama kurang lebih 14 tahun. Setelah itu, kepemimpinan Uljaytu diambil alih oleh Abu Sa’id (1317-1335). ia banyak mengalami kendala politik karena ia naik tahta saat ia masih remaja. Hal itu juga memicu banyaknya pemberontakan dan penolakan terhadap Abu Sa’id. Abu Sa’id mempercayakan kepemimpinannya kepada Cupan. Cupan adalah seorang yang sewenang-wenang dan lalim. Karena sifat itulah banyak tentara Ilkhan yang memberontak.
Saat pemerintahan Abu Sa’id terdapat musuh dalam selimut yaitu Timur Tash, putra dari Cupan, tetapi hal itu dapat mereka tumpas. Permusuhan dengan Dinasti Mamluk dapat mereka atasi dengan perdamaian. Cupan memiliki andil besar atas kekuasaan Abu Sa’id dan dalam menjaga kestabilan negara saat itu. Setelah Abu Sa’id wafat, Dinasti Ilkhan terbagi menjadi beberapa dinasti kecil.Selanjutnya muncul Timur Lenk yang membangun pemerintahannya diatas puing-puing Dinasti Ilkhan. Dengan demikian, berakhirlah riwayat Dinasti Ilkhan.[11]




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Karim, Abdul.2006. Islam di Asia Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam.Yogyakarta: BAGASKARA
Suryanti. 2017.Bangsa Mongol Mendirikan Dinasti Ilkhan. Jurnal NALAR Vol 1. No 2


[1] Suryanti, 2017, Bangsa Mongol Mendirikan Dinasti Ilkhan, Jurnal NALAR Vol 1, No 2, hlm. 147-149
[2] Ibid, hlm. 150
[3] Ibid,
[4] Ibid, hlm. 152
[5] Ibid, hlm. 152-153
[6] Abdul Karim, Islam di Asia Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam, hlm  85
[7] Ibid, hlm 89
[8] Opcit, hlm. 155
[9] Opcit, hlm. 91-92
[10] Suryanti, 2017, Bangsa Mongol Mendirikan Dinasti Ilkhan, Jurnal NALAR Vol 1, No 2, hlm. 156
[11] Abdul Karim, Islam di Asia Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam, hlm. 92-94

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...