BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Setiap bangsa pastilah mempunyai
sejarahnya masing-masing, beserta hasil peradabannya kala itu. Termasuk
peradapan Bangsa Mongol yang mempunyai banyak cabang dinasti diantaranya,
Dinasti Chaghtai (1227-1359 M),
Dinasti Golden Horde (1256-1391 M), dan yang terakhir Dinasti Ilkhan (1256-1335
M). Dinasti Ilkhan merupakan salah satu cabang rumpung dari bangsa Mongol, yang
berada di daratan Asia Timur. Pada abad ke-7 M Sentral Asia (Asia Tengah)
dihuni oleh suku-suku yang liar lagi biadab dari pegunungan Altai. Di sebelah
Barat, mereka digolongkan sebagai orang-orang Turki. Sedangkan di sebelah Timur
digolongan sebagai orang-orang Mongol. Orang-orang Turki setelah berpindah dan
memasuki daerah kerajaan Islam di bagian Barat dan memeluk agama Islam, menjadi
suku yang berbudaya. Pada tahun1206 M, Suatu suku kecil dari bangsa Mongol
berkumpul di Laut Baikal.
Tahun 1207-1215 M merupakan pergerakan
Jengis Khan dalam melakukan perluasan wilayah. Kejeniusan Jengis Khan dan
keberanian orang-orang yang loyal padanya menjadikan dominasi kekuasaannya
meluas secara cepat keseluru Mongolia dan daerah-daerah tetangganya, sehingga
daerah kekuasaannya terlihat diperbatasan Iran, Khawarizn di Asia Tengah, yang
luasnya meliputi Persia hingga Transoxiana. Karena kekagumannya akan kekuatan
militer (khususnya senjata) dan majunya kebudayaan bangsa Iran yang pada saat
itu berdirinya Dinasti Abbasiyah di Baghdad, maka Jengis Khan mengirim pada
duta dalam berdagang. Disinilah awal sejarah hubungan bangsa Mongol dengan umat
Islam hingga berakhir pada kehancuran kerajaan-kerajaan Islam. Pasukan Mongol
dibawa pimpinan Jengis Khan dan Hulagu Khan, meluluh lantahkan Transoxania dan
Khurasan (1219-1231) kemudian menumbangkan kekuasaan Saljuk Rum (1235-1236 M)
Bahgdad hancur lebur dan Khalifah Abbasiyah dibunuh (1258 M). Pasukan kencana
kumpulan dari beberapa suku Mongol menyapu wilayah Kota-kota, budaya,
perdagangan, ilmu agama dan filsafat selama setenga abad di bantai dan di
hancurkan dengan tingkat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnnya. Bangsa
mongol berhasil menguasai Baghdad pada tahun 1258 M yang menandakan kehancuran
bagi peradaban Islam.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah berdirinya Dinasti
Ilkhan ?
2. Bagaimana perkembangan pemerintahan
Dinasti Ilkhan ?
3. Bagaimana periode disintegrasi dan
keruntuhan Dinasti Ilkhan ?
C.
TUJUAN
1. Memahami sejarah berdirinya Dinasti
Ilkhan.
2. Memahami perkembangan pemerintahan
Dinasti Ilkhan.
3. Memahami
periode disintegrasi dan keruntuhan Dinasti Ilkhan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ILKHAN
Hulagu Khan dikenal dengan sebutan
Hülegü, Hulegu and Halaku. adalah Khan pertama dari dinasti Khan yang menguasai
wilayah Persia, Kehancuran kota Bgahdad yang merupakan pusat kebudayaan dan ilmu
pengetahuan Islam telah dihancurkan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M.
melakukan peperangan dan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk yang ada
di daerah Perisa. Ada beberapa faktor yang menjadikan Hulagu Khan berkeinginan
menguasai wilayah Islam diantaranya : Ibu Hulagu, istri dan sahabat dekatnya,
Kitbuq aadalah seorang Kristen fanatik yang memendam kebencian mendalam
terhadap orang muslim, dan para penasehatnya banyak yang berasal dari Persia
yang memang berharap dapat membalas dendam atas kekalahan mereka satu abad
sebelumnya ketika Persia ditaklukan oleh pasukan muslim pada masa Khalifah Umar
bin Khattab.
Keberhasilan ekspansi yang dilakukan
oleh Hulagu Khan terutama kehancuran Baghdad tahun 1258 M, telah mendirikan
suatu kerajaan Mongol dengan gelar Ilkhan. Dinasti Ilkhan berdiri pada tahun
1259, pada saat Hulagu Khan berhasil memantapkan kekuasaannya di Baghdad.
Ilkhan dalam bahasa Mongol adalah kepala suku, dalam makna khusus dikalangan
Mongol juga disebut sebagai perwakilan dari pusat kekuasaan Khan Agung, yang
memiliki wilaayah yang sangat luas. Ilkhan merupakan gelar yang diberikan
kepada Hulaghu Khan sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi-prestasinya
yang diperolehnya ketika sukses melakukan ekspansi wilayah dan mengalahkan
setiap musuh-musuhnya. Dinasti Ilkhan yang didirikan oleh Hulagu Khan memliki
kekuasaan meliputi dari lembah sungai Amu Daria sampai Syam dan dari Kawkasus
sampai Hidukush. Kehadiran dinasti Ilkhan yang menegakkan ajaran Islam sebagai
agama resmi kenegaraan, merupakan terobosan baru bagi peradaban Islam di tangan
bangsa Mongol.
Baghdad
dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu Khan telah diperintah oleh
Dinasti Ilkhan, Ummat Islam yang masi menetap di daerah Baghdad telah dipimpin
oleh Hulagu Khan seorang raja yang beragama Syamanisme. Hulagu Khan sangat
membenci Ummat Islam, kebencian itupu menjadi-jadi dikarenakan istrinya
merupakan seorang Kristen yang mendorong untuk melakukan pembantaian terhadap
kaum Muslimin. Akan tetapi di akhir-akhir kehidupan Hulagu Khan telah
mempercayakan pendidikan putra keduannya, Teguder kepada seorang pendidik
Mualim. Hulagu khan Mneinggal pada tahun 663 H/1265 M. Kebencian Hulagu Khan
terhadap Ummat Islam dikarenakan adanya dukungan dari Istrinya yang beragama
kristen.
Keberhasilan Hulagu Khan menguasai
Persia dan Irak, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspansi di berbagai
negara lain, Hulagu bergerak untuk memerangi Syiria dan daerah-daerah lain yang
berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk. Hulagu sangat tertarik menguasai
Mesir, akan tetapi pasukan Mamluk lebih kuat dan lebih cerdik. Pada tahun 1260 M pasukan Mongol berhasil
menduduki Nablus dan Gaza. Panglima
tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan Qutuz
penguasa dinasti Mamluk menyerahkan diri. Permintaan tersebut ditolak utuzan
bangsa Mongol telah dibunuh oleh penguasa Dinasti Mamluk, Tindakan Qutuz ini
menimbulkan kemarahan dikalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintasi
Yordania menuju Galilie Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamluk yang dipimpin
langsung oleh Qutuz dan Baybras di Ain Jalut. Pertempuran dasyat terjadi,
pasukan Mamluk berhasil menghancurkan tentara Mongol, 3 September 1260 M.
Mamluk memiliki keuntungan pengetahuan
tentang medan perang. Taktik yang dipakai oleh panglima Baibars adalah dengan
memancing keluar pasukan berkuda Mongol yang terkenal hebat sekaligus kejam ke
arah lembah sempit sehingga terjebak, kemudian pasukan kuda mereka melakukan
serangan balik dengan kekuatan penuh yang sebelumnya memang sudah bersembunyi
di dekat lembah tersebut. Taktik ini menuai sukses besar. Pihak Mongol terpaksa
mundur dalam kekacauan bahkan panglima perang mereka, Kitbuqa berhasil ditawan
dan akhirnya dihukum mati.
Keruntuhan kota Baghdad sampai ke
Negara-negara Islam yang lain, rasa kesedihan menyelimuti mereka semua.
Meskipun khalifa Abbasiyah sudah tidak lagi memiliki kekuasaan secara
menyeluruh kepada Negara-negara tersebut tetapi ummat Islam masih tetap menjadi
symbol bagi agama Islam. dia masih memiliki kedudukan maknawi yang kuat didalam
jiwa seluruh ummat Islam.[1]
B.
PERKEMBANGAN PEMERINTAHAN
Dinasti Ilkhan memerintah di wilayah
yang memanjang dari Asia Kecil di barat dan India di timur dengan ibukota
Tabriz. Di wilayah itu sekarang membentang Turki, Syiria, Irak, Iran,
Uzbekistan, dan Afghanistan. Selama dinasti ini berdiri. Terdapat 16 raja yang
pernah berkuasa[2].
Diantara raja-raja tersebut yang pertama adalah Hulagu Khan yang sekaligus
pendiri dinasti ini. Hulagu adalah putra dari Tuli Khan, cucu Jenghis khan,
seorang Syamanism. Masa kekuasaan dari Hulagu Khan cukup singkat, yaitu hanya
selama kurang lebih tujuh tahun.
Semasa kepemimpinannya, kehidupan agama
cukup toleran, meskipun diawal berdiri Dinasti Ilkhan diketahui bahwa Hulagu
menghancurkan Kekhalifahan Abbasiyah dengan sangat keji. Akan tetapi meskipun
kehidupan agama yang toleran, Islam dan perkembangannya sangat lambat dibanding
perkembangan agama Budha dan Kristen di negeri-negri Ilkhan. Demi memperkuat
posisinya terhadap kemungkinan dari serangan Berke Khan (Golden Horde) dan
sekutunya Sultan Mamluk (Mesir), Hulagu menjalin hubungan dengan kaum Kristen.
Ia menjalin persekutuan dnegan Kristen Timur dengan Raja Armenia serta pasukan
Salib dari Konstatinopel. Persekutuan antara Hulagu dengan pihak Kristen ini dapat
terjadi karena dari istrinya yang beragama Kristen. Selain itu menurut Hulagu,
kaum Kristen sudah mampu membangun pertahanan mereka dari serangan luar dengan
sangat baik. Masa kekuasaan Hulagu berakhir saat ia wafat pada 1265 atau tujuh
tahun setelah ia meresmikan Ilkhan sebagai dinasti. Hulagu dimakamkan di Pulau
Kaboudi yang terletak di Danau Urmia.[3]
Periode selanjutnya, tampuk kepemimpinan
dipegang oleh Abaga Khan, putra Hulagu. Ia adalah salah satu diantara penguasa
Ilkhan yang berkuasa paling lama, yaitu selama 17 tahun, dimulai dari tahun
1265 M sampai 1281 M. Berbeda dari ayahnya yang memeluk Syamanism, Abaga adalah
seorang Kristen Nestorian. Abaga menjalankan kekuasaannya dengan penuh semangat
dan memperhatikan kondisi negara dengan cukup baik. Pada masa pemerintahannya
Abaga menjalin kerjasama dengan kaum Kristen. Ia mengirimkan duta-duta ke
beberapa pangeran di Eropa diantaranya, Louis dari Prancis, Charles di Sicilia,
dan James Aragon, hal itu dilakukan dalam rangka meminta persekutuan
untuk membantu melawan Muslim. Mirip dengan ayahnya, faktor yang menimbulkan
kebencian Abaga pada muslim juga ikut dipengaruhi oleh istrinya, yang merupakan
putri dari Kaisar Konstatinopel.
Masa pemerintahan Abaga ini lagi-lagi
disibukkan dengan peperangan yang terjadi antar keluarga mongol, diantaranya
peperangan dengan Berke khan atau dinasti Golden Horde dengan sudah berlangsung
sejak masa Hulagu, peperangan dengan Dinasti Mamluk pada 679 H, dan perseteruan
dengan Mongkay Khan di timur. Abaga Khan berusaha merebut negeri Syam akan
tetapi berhasil digagalkan oleh Sutan Qalawun pada 680 H. Selanjutnya pada masa
pemerintahannya Abaga memfokuskan diri pada penyerangan terhadap daerah-daerah
di Mongol Utara dan Dinasti Mamluk. Abaga Khan meninggal pada 680 H, tahtanhyapun
diwariskan kepada Tegudar, yakni saudaranya sendiri.[4]
Penguasa ketiga Dinasti Ilkhan adalah
Ahmad Teguder yang memerintah pada 1282 M-1284 M. Ahmad Teguder dibesarkan
sebagai seorang Kristen yang sudah dibabptis dengan nama Nicola atau Nicholas.
Ketika ia mencapai dewasa, ia memleuk Islam sebagai akibat dari pergaulan
dengan teman-temannya yang beragama Islam. Ahmad Teguder adalah raja Dinasti
Ilkhan pertama yang memeluk Islam atas dasar hubungan dan didikan dari seorang
Muslim sehingga berkeinginan membela dan melindungi umat Islam.
Ahmad Teguder berkeinginan mengislamkan
seluruh Mongol, akan tetapi banyak diantara masyarakat yang enggan masuk ke
agama Islam. Ahmad Teguder mengupayakan berbagai cara salah satunya dengan
upaya memberikan hadiah, anugerah, pangkat, dan kehormatan bagi sejumlah orang
Mongol yang masuk Islam. Ia juga mengirim surat kepada Sultan Mamluk di Mesir,
dengan isi berupa pernyataan bahwa ia telah memeluk Islam dan mengharapkan
hubungan perdamaian dengan Dinasti Mamalik di Mesir. Akan tetapi usaha
persahabatan yang coba dijalin oleh Teguder tidak berlangsung lama, dikemudian
muncul konspirasi hebat dari kalangan Mongol yang terkemuka untuk menurunkan
Teguder dari tahtanya. Konspirasi yang dilakukan oleh keluarganya sendiri itu
salah satunya didasari karena keislaman Teguder. Teguder dihabisi oleh Argun,
yang kemudian naik tahta setelah Teguder wafat.
Raja keempat, Argun, memimpin Ilkhan
sejak 1284 M hingga 1291 M. Ia adalah seorang penganut Kristen Nestorian
militan, yang karena kefanatikannya itu, Arghun banyak melakukan tindakan
refresif dengan mengusir dan membunuh orang-orang Islam. Di masa
kepemimpinannya, ia banyak melakukan penindasan terhadap Umat Islam di
negerinya dan memecat seluruh pejabat Muslim yang terkait dalam peradilan dan
ekonomi. Arghu khan juga mengadakan persekutuan dengan pasukan Salib dan bangsa
Armenia untuk melawan Dinasti Mamluk serta kerajaan Mongol yang telah memeluk
Islam. Ia wafat pada 691 H dan tahtanya diwariskan kepada saudaranya, Gayghatu.
Gayghatu memerintah Ilkhan selama empat
tahun pada 1291 M – 1295. Ia kemudian digantikan oleh Baydu yang memerintah dalam
periode yang singkat pul, yakni kurang lebih selama satu tahun dan masih di
tahun 1295 M. Dari masa Hulagu hingga Baydu, kecuali Ahmad Teguder, seluruh
penguasa Dinasti Ilkhan adalah non-Muslim. Pada periodeini tidak ada
perkembangan yang cukup berarti bagi masyarakat Muslim terutama yang menyangkut
perkembangan Islam dan peradabannya.[5]
Ghazana Khan naik tahta pada tahun 1295
M. Ia merupakan pemimpin ketujuh Ilkhan. Pada awalnya Ghazan adalah seorang pemeluk
Budha, sejak kecil ia sudah dekat dengan kakeknya, Abaga, yang beragama Budha.
Ketika usianya 10 tahun Dia diangkat menjadi gubernur Khurasan pada masa
pemerintahan ayahnya, Argun khan. Pendamping dan penasehatnya ialah Amir
Nawruz, yang telah memerintah selama 39 tahun di beberapa provinsi di Persia.
Amir Nawruz merupakan pembesar Mongol awal yang memeluk Islam secara diam-diam.
Atas usaha Amir beserta salah seorang penasehat Ghazan yang bernama Shekh Sadr
al-Din Inilah Ghazan Khan memeluk Islam.
Setelah pemimpin dinasti ini masuk
Islam, masyarakat dari kalangan Bangsa Mongol dapat menerima dan masuk agama
Islam. Hal ini juga didukung oleh faktor adanya asimilasi dan pergaulan dengan
masyarakat Muslim dalam jangka waktu yang lama. Para penguasa pada masa Ghazan
Khan ini mulai memperhatikan Islam dan kepentingan masyarakat Muslim. Selain
itu Ghazan Khan juga menetapkan bahwa pemerintahannya menjadikan Islam sebagai
agama resmi kerajaan.[6]
Dalam catatan sejarah masa kepemimpinan
Ghazan Khan adalah masa dimana Dinasti Ilkhan dan muslim mencapai punca kejayaannya.
Ghazan Khan melakukan gebrakan dan pembaharuan pada banyak sektor pemerintahan
dan masyarakat. Sehingga kemajuan dan sumbangsih terhadap Islam dapat dilihat
pada beberapa aspek kejayaan dinasti ini. Sultan Ghazan dikenal sebagai Raja
Mongol pertama yang mencetak uang dinar dengan inskripsi Islam. Ghazan menyebut
dirinya sebagai Ruler by the grace of God
[7]sehingga
syari’at Islam kemudian kembali ditegakkan dan undang-undang kerajaan
digantikan dengan undang-undag baru yang berasaskan Islam. Reformasi lain yang
ia lakukan ialah pengurangan pajak terutama bagi petani dan penyusutan jumlah
pelacuran di seluruh negeri. Walaupun beberapa perubahan yang dilakukan oleh
Ghazan menyebabkan orang Mongol yang masih beragam Budha tidak puas namun
pemeritahan Ghazan relatif stabil.[8]
Selain itu pemerintahan Ghazan juga terkenal bebas dari KKN (korupsi, kolusi,
dan nepotisme), negaranya aman, bebas dari kelaliman, pemaksaan, dan Ia juga
dikenal sebagai sahabat rakyat yang selalu mengunjungi masyarakat baik langsung
maupun dengan menyamar. Kemakmuran negerinya dibuktikan dengan banyaknya kepala
negara yang berdatangan ke istananya di Tabriz, bahkan India, Spanyol, Mesir,
Inggris, dan beberapa negara lain mengadakan hubungan bilateral. Para duta
tersebut meramaikan ibukota semasa Ghazan yang sering disebut sebagai The Golden Age Of Islam Post Baghdad.[9]
Sultan Ghazan wafat pada tahun 1304 M
pada usia 32 tahun. Wafatnya Ghazan disebabkan oleh konspirasi yang dilakukan
oleh orang-orang Mongol yang bertujuan mengangkat Alanfran, putra saudara sepupunya
yakni Gayghaitu. Selanjutnya Uljaytu Khudabanda naik tahta pada 1304 M-1316 M.
Ia adalah seorang yang taat beragama Islam, seorang penganut dan pembela
madzhab Syi’ah. Ia mengendalikan pemerintahan Dinasti Ilkhan selama kurang
lebih 14 tahun, sampai kemudian digantikan oleh Abu Said yang memerintah pada
1317 M sampai 1335 M. Dinasti Ilkhan mengalami kemunduran pasca pemerintahan
Abu Said. Pada masa-masa setelahnya Ilkhan dipimpin oleh Arpha, Musa, Muhammad,
Jahan Timur, Sati Bek dan Suleman. Ketuju figur raja tersebut adalah raja yang
lemah. Pada masa ketujuh raja itu Dinasti Ilkhan mulai mengalami perpecahan dan
pertikaian.[10]
C.
PERIODE DISINTEGRASI DAN KEHANCURAN
Setelah wafatnya Ghazan (1304) akibat
serangan jantung setelah penaklukan ke Syam. Kemudian Uljaytu menggantikan
posisi saudara kandungnya menjadi pemimpin Dinasti Ilkhan. Pada mulanya Uljaytu
beragama Kristen kemudian Buddha dan akhirnya memeluk agama islam. Setelah
masuk islam, Uljaytu berganti nama yaitu Muhammad Khuda Bandah
Pada pemerintahan Bandah ini terdapat
peistiwa penting yaitu kemenangan Gilan. Saat itu Mongol-Chagthai menyerang
Khurasan tetapi Bandah dapat mengalahkannya. Kemudian ia banyak menjalin
persahabatan dengan bangsa-bangsa Eropa Barat dengan catatan jika mereka membantu
Bandah maka memberikan Palestina kepada mereka. Perjanjian ini dilakukan demi
kepentingan mereka untuk menghadapi Mamluk. Namun, perjanjian ini tidak
berjalan. Hal ini tidak membuat Uljaytu putus asa, dia mengumpulkan tentara
tanpa bantuan Eropa. Uljaytu termakan kata-kata manis dari para gubernur yang
membangkang dari Mamluk yang kemudian diangkat menjadi gubernur dibawah
kekuasaan Ilkhan. Saat terjadi serangan balasan dari Mamluk, tentara Ilkhan
tidak tahan menghadapi medan perang dan memilih mundur dari peperangan
tersebut. Sejak saat itu tidak ada penguasa Mongol yang berani menyerang daerah
Mamluk.
Dalam menjalankan kepemimpinannya,
Uljaytu meneruskan kebijakan dari Ghazan. Ia menjadi penguasa dinasti Ilkhan
selama kurang lebih 14 tahun. Setelah itu, kepemimpinan Uljaytu diambil alih
oleh Abu Sa’id (1317-1335). ia banyak mengalami kendala politik karena ia naik
tahta saat ia masih remaja. Hal itu juga memicu banyaknya pemberontakan dan
penolakan terhadap Abu Sa’id. Abu Sa’id mempercayakan kepemimpinannya kepada
Cupan. Cupan adalah seorang yang sewenang-wenang dan lalim. Karena sifat itulah
banyak tentara Ilkhan yang memberontak.
Saat pemerintahan Abu Sa’id terdapat
musuh dalam selimut yaitu Timur Tash, putra dari Cupan, tetapi hal itu dapat
mereka tumpas. Permusuhan dengan Dinasti Mamluk dapat mereka atasi dengan
perdamaian. Cupan memiliki andil besar atas kekuasaan Abu Sa’id dan dalam
menjaga kestabilan negara saat itu. Setelah Abu Sa’id wafat, Dinasti Ilkhan
terbagi menjadi beberapa dinasti kecil.Selanjutnya muncul Timur Lenk yang
membangun pemerintahannya diatas puing-puing Dinasti Ilkhan. Dengan demikian,
berakhirlah riwayat Dinasti Ilkhan.[11]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Karim,
Abdul.2006. Islam di Asia Tengah; Sejarah
Dinasti Mongol-Islam.Yogyakarta: BAGASKARA
Suryanti. 2017.Bangsa Mongol Mendirikan Dinasti Ilkhan. Jurnal
NALAR Vol 1. No 2
[2] Ibid, hlm. 150
[3] Ibid,
[4] Ibid, hlm. 152
[5] Ibid, hlm. 152-153
[6] Abdul Karim, Islam di Asia
Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam, hlm
85
[7] Ibid, hlm 89
[8] Opcit, hlm. 155
[9] Opcit, hlm. 91-92
[11] Abdul Karim, Islam di Asia
Tengah; Sejarah Dinasti Mongol-Islam, hlm. 92-94
Tidak ada komentar:
Posting Komentar