Jumat, 26 Oktober 2018

MAKALAH RENAISANS EROPA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang penduduknya terbelakang. Masa itu disebut Dark Age atau yang lebih dikenal dengan zaman kegelapan. Eropa mengalami zaman kegelapan sebab pada watu itu masyarakat sangat terkekang dengan gereja. Seorang pimpinan gereja memegang otoritas tertinggi dalam masyarakat Eropa dan sabda pimpinan gereja dianggap sebagai suatu kebenaran.
Saat kerajaan Byzantium runtuh, orang-orang Byzantium berbondong-bondong pindah ke Italia, di sana mereka bermukim dan berinteraksi dengan penduduk Italia lokal. Saat itu ilmu pengetahuan di Italia baru giat-giatnya dipelajari. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu dari warisan leluhur mereka yaitu Yunani dan Romawi Kuno. Orang Itali dan penduduk Byzantium yang tinggal di Itali giat menggali dan mempelajari lagi ilmu-ilmu peninggalan klasik.
Dari proses belajar itulah memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang berpikir rasionalis. Mereka mulai memikirkan tentang segala apapun yang ada di alam ini. Mereka tidak lagi langsung percaya terhadap kebenaran otoritas gereja. Mereka mulai melakukan penelitian-penelitian. Bahkan terkadang gereja malah menghukum ilmuwan karena dia menentang kebenaran gereja.
Keadaan gereja yang selalu kolot membuat seorang kebangsaaan Jerman yang bernama Marthin Luther, memberanikan diri untuk memprotes gereja. Aliran Marthin Luther ini akhirnya memunculkan aliran baru yaitu Kristen Protestan. Renaisans adalah kunci untuk melangkah dalam zaman modern ini, maka dalam makalah ini kami selaku sebagai pemateri berusaha menyampaikan semaksimal mungkin tetang Renaisans.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana keadaan Eropa sebelum Renaisans?
2.      Bagaimana zaman Renaisans bisa ada?
3.      Capaian kemajuan apa yang ada pada zaman Renaisans
C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui keadaan Eropa sebelum Renaisans.
2.      Mengetahui proses zaman Renaisans bisa terjadi.
3.      Mengeahui capaian kemajuan  yang ada pada zaman Renaisans.
















BAB III
Pembahasan

A.    Keadaan Sebelum Zaman Renaisans
Runtuhnya imperium Romawi Barat, yang pernah menguasai bagian Barat dan Selatan Eropa, menimbulkan beberapa akibat yang langsung dan tidak langsung berpengaruh terhadap perkembangan Eropa di masa feodal. Beberapa akibat itu ialah:
1.      Beberapa suku jermania, suku Goth dan suku Vandal berusaha mencari tempat kediaman baru untuk menetap dan kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan.
2.      Kebudayaan dan peradaban Romawi punah sama sekali, kecuali di wilayah kerajaan Romawi Timur. Hal ini mengakibatkan kemunduran bagi Eropa umumnya.
3.      Hubungan perdagangan dengan Timur Tengah dan Asia lainnya, yang telah berlangsung berabad-abad, hampir putus asa sama sekali selama 7 abad. Hal ini berakibat kemunduran di bidang perekonomian.
4.       Sejak Roma menjadi pusat agama Katolik, kepala Gereja ada dibawah kaisar, setelah kaisar tiada lagi, kepala Gereja di Roma berdaulat penuh dan sejak itu menjadi Sri Paus atau Bapak Suci, yang menjadi pemimpin tertinggi umat Katolik Roma. Sebagai kepala Gereja sejak itu Sri Pauslah yang menobatkan raja-raja. Dengan demikian dua hal dapat di capai oleh Sri Paus, yaitu:
a.       Meluaskan agama Katolik Roma dengan bantuan para raja-raja.
b.      Menempatkan dirinya di atas para raja-raja selaku kepala Gereja.





Feodalisme adalah suatu keadaan tata-masyarakat yang mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut:
1.      golongan bangsawan yang sangat berkuasa
2.      perikehidupan yang agraris dengan kaum petani Tak bebas(tidak mempunyai tanah sendiri) yang sangat besar jumlahnya
3.      tidak umum di pergunakannya mata-mata dalam perdagangan
4.      kedudukan raja-raja lemah

5.       sering sekali terjadi peperangan-peperangan antara sesama bangsawan
Feodalisme juga disebut sistem-pinjam. Para raja, yang di anggap menjadi pemilik tunggal tanah seluruh kerajaan, meminjamkan bidang-bidang tanah yang luas kepada mereka yang dianggap berjasa terhadap raja, pinjaman ini bersifat turun temurun dan pinjaman pertama ini disebut raja vazal, yang tergolong bangsawan tinggi. Para vazal atas namanya sendiri meminjamkan bagian dari tanahnya kepada bawahannya langsung dan seterusnya. Dengan demikian maka terbentuklah golongan bangsawan atau kaum feodal, Keadaan-keadaan khas lainnya dalam masyarakat feodal Eropa ialah:
a.       para vazal menjadi lebih berkuasa daripada raja
b.      kaum gereja menduduki peranan yang sangat penting
c.       timbulnya semacam kasta prajurit atau knight
(Sutrisno, 1976: 164-171)




B.     Zaman Renaisans
Zaman Renaisans (abad 14-16) adalah satu abad keemasan (Golden Age) dalam sejarah peradaban barat. Zaman ini merupakan fase transisi yang menjebatani zaman kegelapan (Dark Ages) dengan zaman pencerahan (Enlightenment Age). Dengan lahirnya Renaisans, peradaban barat mulai bersinar. Tanpa Renaisans, Eropa mungkin tidak akan menapaki abad-abad modern dengan begitu cepat. Secara etimologis (bahasa Prancis) Renaisans, berasal dari kata Re, (kembali) dan Neitre (lahir) berarti “kelahiran kembali.” Dalam konteks sejarah barat, istilah ini mengacu pada terjadinya kebangkitan kembali minat yang sangat besar dan mendalam terhadap kekeyaan warisan Yunani dan Romawi kuno dalam berbagai aspeknya. Manusia Renaisans begitu bersemangat mempelajari karya-karya pemikir agung Yunani Kuno seperti Plato, Plotinus dan Aristoteles. (Hasyim Asy’ari, 2018:  2-4)
1.      Perdagangan Eropa dan Jalan Menuju Kekayaan
Bangsa penjelajah Viking mulai memasuki Eropa pada 1.000 M. Mereka itu berasal dari daerah Skandiavia Utara. Sebagian dari mereka adalah orang-orang barbar, penjarah, perampok dan pembunuh. Akan tetapi, sebagian lagi adalah pedagang-pedagang yang giat. Mereka berperan besar dalam membangkitkan perdagangan di Eropa.
Para pedagang Italia juga begitu, mereka berdagang di seluruh Eropa dan juga ke Konstantinopel yang sangat makmur. Italia berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan karena letaknya di tengah-tengah antara Eropa dan kota-kota di Timur. Dari perdagangan itu, di Italia muncul kota-kota baru. Venesia, Pisa dan Genoa yang berada di tepi jalur perdagangan laut mulai merasakan kemakmuran. Perdagangan dan kemakmuran Eropa mengalami kebangkitan yang lebih hebat lagi setelah terjadinya salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah dunia yakni Perang Salib. (Eko Laksono, 2010: 142)


2.      Penemuan Warisan Ilmu
Pada 1333,seorang Italia bernama Petrarch menemukan harta karun yang sudah berabad-abad terpendam dan dianggap hilang. Harta itu adalah rahasia kemegahan zaman klasik Yunani dan Romawi. Karya pertama yang ia temukan adalah milik Cicero, sang politisi dan orator besar Romawi. Lalu karya-karya Homer dan Virgil. Mahakarya dari zaman penuh kemegahan itu membuat Petrarch mulai berpikir bahwa manusia tidak boleh lagi memasrahkan dirinya pada nasib, tidak boleh lagi terbelenggu dalam kegelapan dan keterbelakangan. Manusia harus berusaha dengan aktif mencari jawaban-jawaban atas eksistensinya di dunia dan menemukan keagungannya.
Pengaruh Petrarch kemudian membuat ilmu-ilmu klasik mulai kembali ramai dicari. Ini adalah awal mula dari peristiwa besar yang akan segera terjadi di Italia yaitu Renaisans. (Eko Laksono, 2010: 153)
3.      Byzantium Runtuh
Pada 1453 setelah berdiri selama ribuan tahun, peradaban Byzantium akhirnya juga runtuh. Setelah digempur pasukan Ottoman, Turki. Menjelang kejatuhannya, orang-orang Byzantium melarikan diri ke Italia. Mereka terdiri dari para bangsawan, pedagang, pengrajin, juga para tentara. Di antara mereka juga terdapat ribuan orang cerdas, kaum intelektual dan sarjana yang mencari tempat aman dan bisa menerima mereka dangan baik. Tempat itu adalah kota-kota di Italia, seperti Venesia dan Florens. (Eko Laksono, 2010: 154)
4.      Renaisans, Italia Bangkit Menjadi Pusat Dunia
Sejak berkembangnya perdagangan pada masa Perang Salib, kota-kota Italia, seperti Venesia, Pisa, Genoa dan Florence telah menjadi pusat-pusat perdagangan yang makmur. Akan tetapi, ketika peradaban hebat sebelumnya seperti Bagdad, Konstantinopel dan Andalusia Spanyol telah mundur, kota-kota di Eropa, khusunya Italia tidak lagi punya saingan. Venesia, Genoa dan Florence kemudian menjadi pusat dunia seta pusat perdagangan dan perkembangan ilmu. (Eko Laksono, 2010: 157)
Majunya kemakmuran dan perdagangan membuat mereka semakin butuh pendidikan. Supaya nanti bisa berdagang dan berusaha, anak-anak tentu harus belajar membaca dan berhitung. Sekolah-sekolah pun bermunculan. Sejak kontak dengan Byzantium, para tokoh Italia sudah berlomba-lomba untuk mempelajari peradaban klasik Yunani dan Romawi kuno. Buku-buku didatangkan dari Timur dengan biaya yang sangat besar. Para bangsawan dan pedagang-pedagang kaya saling berlomba untuk mendapatkan ilmu. Salah satunya adalah Keluarga Medici.
Keluarga Medici tinggal di Florence Italia, salah satu kota terkaya di Eropa. Florence mejadi sangat kaya karena memilki industri tekstil yang besar dan terus berkembang. Kemajuan perdagangan dan industri di kota itu juga membuat Florence kemudian menjadi kota pusat keuangan dan perbankan.
Kota utama dari Renaisans yakni Florence (Provinsi dari wilayah Tuscan) yang merupakan kota yang terkemuk. Para seniman dan penulis Florentine membuat negara kota mereka sebagai pusat Renaisans masa awal. Pada masa ini mereka berhasil mencapai prestasi yang gemilang dalam berbagai bidang, seperti bidang seni, filsafat, literatur, sains, politik, pendidikan, agama, perdagangan dan lain-lain. Renaisans juga telah dapat membangkitkan kembali cita-cita, alam pemikiran, filsafat hidup yang kemudian menstrukturisasi standar-standar dunia modern seperti optimisme, hedonisme, naturalisme dan individualisme.
Keluarga Medici menjadi keluarga yang paling berpengaruh pada masa Renaisans Italia. Keluarga itu mempunyai kekayaan yang besar hasil dari usaha perbankannya yang sangat sukses. Dua orang pemimpinnya yang paling terkenal adalah Casimo de Medici dan cucunya, Lorenzo de Medici.
a.       Casimo de Medici (1389-1464) adalah tokoh yang sangat haus ilmu pengetahuan. Semasa hidupnya, ia dengan sekuat tenaga mendirikan dan memperbesar beberapa perpustakaan di kota-kota Italia. Saat itu mesin cetak Gutenberg belum ditemukan dan sebuah buku saja harganya sangat mahal. Untuk mendirikan sebuah perpustakaan, biaya yang diperlukan tidak main-main besarnya. Belum lagi biaya yang ia keluarkan untuk membayar para penerjemah dan tukang kopi buku yang jumlahnya mencapai puluhan. Akan tetapi, Cosimo adalah seorang bangsawan yang juga tidak main-main perhatiannya pada ilmu. Pada tahun 1462, ia juga mendirikan Akademi Florentine, tempat para sarjana dan kaum intelektual berkumpul dan membahas karya-karya besar pemikir Yunani.
b.      Lorenzo de Medici (1449-1492) membangun perpustakaan besar Medici. Seperti para bangsawan lainnya saat itu, ia bersaing untuk mendapatkan buku-buku terbaik dari Timur dan mengopinya untuk kemudian disebarkan ke seluruh Eropa. Upaya-upaya Lorenzo dalam menyebarkan ilmu juga mendorong berkembangnya pemikiran rasionalis humanis di seluruh Eropa.
(Eko Laksono, 2010: 158)
5.      Penemuan Mesin Cetak Menciptakan Revolusi Kecerdasan Eropa
Sekitar tahun 1400-an, di Jerman hidup seorang pengusaha miskin  yaitu Johan Gutenberg. Selama hidupnya, ia bercita-cita membuat mesin yang bisa mencetak buku dalam jumlah yang banyak dan murah. Saat itu, buku bisa dibuat dengan dua cara, yakni ditulis tangan atau dicetak melalui ukiran. Membuat buku dengan tulis tangan atau cetak ukiran kayu jelas sangat lama dan tidak efisien.  (Eko Laksono, 2010: 159)


Setelah mencoba selama puluhan tahun, akhirnya pada tahun 1450 M Gutenberg menemukan cara untuk mencetak buku dengan cepat dan banyak. Ia membuat mesin pencetak baru dari balok-balok metal yang huruf-hurufnya bisa dipindah-pindahkan dengan mudah. Tanpa memakan waktu lama, penemuan Gutenberg itu tersebar dengan cepat ke mana-mana. Buku mulai diproduksi besar-besaran di seluruh Eropa. Percetakan-percetakan baru tumbhuh dengan sangat cepat di kota-kota besar seperti Venesia, Florence, London, Paris Cologne dan lain-lain. Karena buku menjadi sangat murah, biaya untuk sekolah-sekolah maupun tempat-tempat pendidikan lainnya menjadi lebih terjangkau, minimal bagi kalangan menengah Eropa. Jumlah orang yang bersekolah pun segera meningkat dengan cepat. Universitas-universitas semakin berkembang. Julmlah perpustakaan yang dibangun bertambah banyak. Berkat Gutenberg, saat itu Eropa mulai berubah menjadi peradaban yang cerdas. (Eko Laksono, 2010: 160)
C.     Pencapaian Kemajuan pada Zaman Renaisans
1.      Seni Renaisans
Arti penting Renaisans disampaikan melalui seninya, khususnya arsitektur, seni pahat, dan snei lukis. Dari contoh-contoh seni tersebut kemudian mencerminkan suatu gaya yang menekankan proporsi, keseimbangan serta harmoni, selain itu juga mencerminkan nilai-nilai humanisme Renaisans : suatu gerak kembali ke model-model klasik di bidang arsitektur, ke pembuatan tokoh telanjang dan ke visi heroik manusia. Di bidang seni, seperti di bidang filsafat, orang-orang Florentin memainkan peran yang menonjol. Penyumbang pertama yang utama bagi seni lukis Renaisans ialah pelukis Florentin Giotto. Selain itu para seniman besar termasuk Leonardo da Vinci, Michaelangelo Bounarroti dan Raphael Santi. Semua mereka terkait erat dengan Florence. Leonardo adalah seorang ilmuwan dan ahli mesin, dan juga seorang seniman besar. Diantara yang cukup penting yakni The Last Supper (Perjamuan terakhir) dan La Giconda atau Mona Lisa. Untuk Michaelangelo Bounarroti ciptaannya tentang artistik yang berasal dari penguasaan anatomi dan seni lukis. Modelnya dalam melukis adalah patung. Ia seorang pemahat yang pandai. Diantara patung yang terbesar adalah Daud, Musa, dan Budak yang Sekarat. Selain itu ia juga merupakan arsitek. (Marvin Perry. 2012, 308-309)
2.      Ilmu Astronomi
Copernicus (1473-1543) adalah ilmuwan Polandia yang belajar di Italia. Ia bisa membuktikan bahwa bukan matahari yang mengelilingi Bumi, justru Bumilah bersama planet-planet lain yang berputar-putar mengelilingi Matahari. Corpenicus mengamati pergerakan benda-benda langit, bulan, bintang dan matahari. Ini dilakukan dengan mata telanjang karena teleskop belum ditemukan. Dengan perhitungan matematis yang teliti, pola pergerakan planet dan bintang yang akurat bisa dikira-kira, termasuk bahwa bumi pada dasarnya mengelilingi matahari, bukan sebaliknya. Teori Copernicus belum sempurna, tetapi cara pandangnya terhadap alam semesta menjadi salah satu titik awal yang sangat penting bagi ilmu astronomi.
Setelah itu muncul Galileo Galilei (1564-1642). Teleskop juga sudah ditemukan. Dengan pengamatan yang lebih teliti yang dibantu dengan alat baru, teori Copernicus makin diperkuat oleh Galileo. Formula-formula matematik yang digunakan untuk mendukungnya juga semakin kukuh. Ide bahwa matahari adalah pusat alam semesta semakin populer di masyrakat Eropa. (Eko Laksono, 2010: 164)
3.      Reformasi Gereja Zaman Pertengahan dalam Krisis
Renaisans telah merevitalisasi kehidupan intelektual Eropa dan dalam perjalanannya membuang keasyikan abad pertengahan dengan teologi. Demikian pula reformasi menandai permulaan suatu cara pandang religius yang baru. Akan tetapi reformasi protestan, tidak berasal di dalam lingkaran elit sarjana humanistik. Lebih tepatnya, ia dicetuskan oleh Martin Luther, seorang biarawan Jerman yang tak kenal dan teolog yang brilian. Luther memulai suatu pemberontakan melawan otoritas gereja yang kurang dalam satu dasawarsa menceraiberaikan tanpa terpulihkan kesatuan religius dunia kristen. Dimulai pada 1517 Reformasi mendominasi sejarah Eropa selama sebagian besar pada abad keenam belas. Gereja Katolik Roma berpusat di Roma adalah suatu lembaga Eropa yang melampaui batas-batas nasional. Geografis, teknis dan bahasa. Selama beradab-abad, ia telah memperluas pengaruhnya ke dalam setiap aspek kemasyarakatan dan kebudayaan Eropa. Hasilnya, kekayaan sangat besar dan kekuasaannya tampak lebih menonjol daripada komitmennya untuk mencari kesucian di dunia ini dan keselamatan untuk masa yang akan datang. Dibebani oleh kekayaan, candu kepada kekuasaan internasioan dan sangat melindungi kepentingan-kepentingan sendiri, kaum pendeta, mulai dari Paus hingga seterusnya, menjadi pusat badai kritik, dimulai sejak akhir Zaman Pertengahan.
Pada abad keempat belas, ketika raja meningkatkan kekuasaan serta kemajuan pusat perkotaan, rakyat mulai mempertanyakan otoritas gereja internasional dan kaum pendetanya. Ide sentral dunia Kristen pada abad pertengahan-suatu persemakmuran Kristen yang dipimpin oleh kepausan semakin tidak dihargai. Para teoritisi sedang mengargumenkan bahwa gereja hanyalah suatu badan spiritual dan oleh karena itu kekuasaannya tidak boleh diperluas kepada ranah politik. Mereka mengatakan bahwa Paus tidak mempunyai otoritas terhadap raja, sehingga negara tidak membutuhkan bimbingan dari kepausan, dan bahwa kaum pendeta tidak berada di atas hukum sekuler. Selama akhir abad keempat belas, dunia Kristen menyaksikan serangan-serangan yang pernah dilancarkan terhadap gereja. Kebobrokan gereja seperti penjualan seperti surat pengampunan dosa (praktik pengangkatan kerabat untuk menjadid pejabat), pemilikan tanah oleh keuskupan, dan pemuasan hawa nafsu seks kaum pendeta, hal tersebut bukanlah hal yang baru.

BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan
Eropa adalah sebuah benua yang dimana sebelum tahun 1400-an merupakan sebuah benua yang penduduknya terbelakang. Masa itu disebut Dark Age atau yang lebih dikenal dengan zaman kegelapan. Eropa mengalami zaman kegelapan sebab pada watu itu masyarakat sangat terkekang dengan gereja. Seorang pimpinan gereja memegang otoritas tertinggi dalam masyarakat Eropa dan sabda pimpinan gereja dianggap sebagai suatu kebenaran.
Saat kerajaan Byzantium runtuh, orang-orang Byzantium berbondong-bondong pindah ke Italia, di sana mereka bermukim dan berinteraksi dengan penduduk Italia lokal. Saat itu ilmu pengetahuan di Italia baru giat-giatnya dipelajari. Ilmu yang dipelajari adalah ilmu dari warisan leluhur mereka yaitu Yunani dan Romawi Kuno. Orang Itali dan penduduk Byzantium yang tinggal di Itali giat menggali dan mempelajari lagi ilmu-ilmu peninggalan klasik. Penemuan mesin cetak membuat ilmu-ilmu semakin tersebar luas karena buku menjadi lebih murah dan mudah didapat
Dari proses belajar itulah memunculkan ilmuwan-ilmuwan yang berpikir rasionalis. Mereka mulai memikirkan tentang segala apapun yang ada di alam ini. Mereka tidak lagi langsung percaya terhadap kebenaran otoritas gereja. Mereka mulai melakukan penelitian-penelitian. Bahkan terkadang gereja malah menghukum ilmuwan karena dia menentang kebenaran gereja.
Keadaan gereja yang selalu kolot membuat seorang kebangsaaan Jerman yang bernama Marthin Luther, memberanikan diri untuk memprotes gereja. Maka dari situlah otoritas gereja tidak terlalu mengekang lagi seperti zaman kegelapan. Eropa kini menjadi peradaban yang rasionalis dan mempunyai ilmu pengetahuan yang maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...