Jumat, 26 Oktober 2018

MAKALAH BANGSA MONGOL


BANGSA MONGOL
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Islam Asia Tengah
Dosen Pembimbing : Eka Yudha Wibowo, M.A.


Disusun Oleh
Lisan Nulhasanah (173231039)
Aviana Pramesti (173231052)

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tahun 1258-1500 M merupakan masa kemunduranperadaban Islam dengan mulainya serangan bangsa Mongol ke seluruh wilayah kawasan Islam yang dimulai dari pegunungan Mongolia, Cina, Turki, Samarkand, Afganistan, Bukhara, Khawarizm, samoai dengan Baghdad. Bangsa Mongol merupakan keturunan yang berasal dari nenek moyang Alanja Khan di pegunungan Mongoia yang membentang dari Asia tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Mansyuria barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernam Alanja Khan, yang mempunyai Putera Kembar, Tartar dan Mongol. Kedua Putera itu melahirkan dua suku besar Mongol dan Tartar. Bangsa Mongol mempunyai tradisi yang dikenal dengan istilah nomaden dari satu tempat ke tempat lain mencari tempat yang strategis untuk memperluas wilayah kekuasaan dengan cara menjarah dan menduduki tempat yang dituju, mereka membentuk kemah-kemah persinggahan sementara meluncur ke tempat strategis sambil menggembala mencari binatang buruan selanjutnya dimakan dan kulitnya dijual belikan menghidupi diri dan keluarganya.Bangsa mongol juga dikenal dengan suka berperang karena dari mulai kecil laki-laki perempuan tanpa kecuali dilatih mempertahankan diri, keluarga dan marganya melalui pendidikan kemiliteran secara tradisional.
 Bangsa Mongol dikenal dengan mempunyai undang-undang Alyasak dan kepercayaan yang dikenal dengan Samanism artinya menyembah matahari ketika terbit dan meninggalkannya ketika tenggelam. Dengan kepercayaan itulah mereka berusaha memperluas kekuasaan dengan menduduki wilayah strategis dengan paksa tanpa memperhatikan nilai nilai kemanusiaan. Bangsa Mongol terkenal di panggung sejaraj dalam penguasaan setiap wilayah-wilayah islam semenjak dipimpin oleh Yasuki Bahadur Khan dimana pelopor bangsa Mongol ini dapat berhasil menyatukan tiga belas kelompok suku yang tersisa kemudia  diteruskan puteranya yang bernama Temujin dalam rentan waktu 13 tahun berhasil menyatukan bangsa Mongol dengan bangsa lain dalam posisi mapan dan tangguh.  Pada tahun 1206 M Temujin mendapatkan gelar raja perkasa (Jengis Khan), dimana dengan kegigihan dan keberanian serta ketangguhan kelompok yang dipimpinnya berhasil menang dalam berbagai perang.

RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana sejarah awal kemunculan bangsa Mongol?
2.      Bagaiman peran Jengis Khan dalam Bangsa Mongol?
3.      Bangaimana kehidupan Bangsa Mongol pasca Jengis Khan?


TUJUAN
1.      Mengenal asal-usul Bangsa Mongol
2.      Mengetahui peran Jengis Khan dalam Bangsa Mongol
3.      Mengetahui kehidupan Bangsa Mongol Pasca Jengis Khan




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Mengenal Bangsa Mongol
Bangsa mongol mulai dikenal dalam sejarah dunia pada akhir abad ke 6 Hijriyah atau abad ke 12 Masehi.Tidak lama dari itu mereka menjelma menjadi bangsa yang sangat dikenal secara global dengan kekuatan dan, meskipun berada di luar Tanah Airnya, yaitu Mongolia.
Dalam rangka waktu dan decade saja, tepatnya pada abad ke 7 hijriyah atau abad ke 13 Masehi, mereka sudah mampu membangun kekaisaran terbesar di seluruh dunia yang pernah tercatat dalam sejarah kehidupan manusia. Wilayah yang tercatat (plus tiga decade selanjutnya) dapat mereka taklukan antara lain ; Kepulauan Jepang dan wilayah samudra pasifik dari sisi timur, sampai pedalaman benua Eropa dari sisi Barat, lalu ke Siberia dan kawasan Baltic dari sisi Utara, hingga sampai bagian utara Jazirah Arab, Palestina, dan Syam dari sisi selatan.
Para ahli sejarah banyak yan mengatakan bahwa bangsa Arab terdahulu menyebut bangsa Mongol sebagai bangsa Tatar (Tartar).Bahkan sebutan itu juga masih digunakan oleh sebagian besar ahli sejarah yang lebih modern.Tak hanya itu, ahli sejarah dari Erpa pun banyak yang menggunakannya, semisal berthold dari Rusia.Spuler dari Jeran, Boyle idari Inggris, dan beberapa sejarawan lainnya. Mereka menguraikan dengan lugas perbedaan antara Tatar dan Mongol, sebagaimana ditulis oleh ahli sejarah muslim, Rasyiduddin, pada bukunya yang terkenal jami’At-Tawari, sepertikh. Begitu juga dengan penjelsan yang diuraikan oleh para ahli sejarah Cina, yang kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Rusia, Jerrman, Prancis, Inggris, dan bahasa lainnya. Sebagaimana dijelaskan juga oleh orientalis dalam buku-buku mereka yang menggunakan bahasa Mongol.Semua itu diuraikan secara mendetail dalam kitab At-Taikh As-Sirri li Al-Mughul aw Tarikh Al-Mughul As-Sirri.
Dari beberapa keterangan diatas itu kita tahu bahwa bangsa Tatar dan bangsa Mongol itu berbeda. Tapi kedua bangsa tersebut memiliki satu hubungan, sedangkan bangsa Mongol belum tentu oran Tatar. Dengan kata lain, Tatar adalah bagian dari mongol, dan Mongol nukanlah bagian dari Tatar. Sebab yang menjadi pangkal di sini adalah bangsa Mongol, dan Tatar bukanlah pangkal dari bangsa Mongol.
Meskupun Tatar adalah pecahan dari sebuah pangkal, yaitu Mongolia dan Tatar kemudian memuliki negara terpisah dar Mongol, namun demikian Tatar sekali waktu pernah nguasai Mongolia, hanya saja di jaman yang sedang kita bahas ini, Mongol di bawah kepemimpian jenghis khan telah berhasil mengalahkan Tatar dan semua kaum Jenghis membunuh semua kaum pria, menawan kaum wanita, dan memeperbudak anal mereka.
Begitulah hingga Tatar musnah di bangsa Mongol yang agung, Jenghis Khan.Dan, akhirnya bangsa Mongol mendirikan negara besar dalam sejarah kekaisarannya, sejarah mencatat bahwa kekaisaran itu adalah kekaisaran Mongol, bukan kekaisaran Tatar.
B.     Tanah Air Bangsa Mongol
Suku bangsa Mongol hidup di wilayah bagian benua Asia, tepatnya di antara sungai Sayhoun atau seihun (Syr Darya) dan sungai Jayhoun (Amu Darya) dari sisi barat hingga perbatasan Cina. Dan dari sisi timur wilayah bangsa Mongol terbentang hingga laut Adriatik, Sementara untuk bagian dataran tinggi, bangsa Mongol serin menempati gunung Tian Shan, pegunungan Altsi, dan juga bukit-bukit di sekitarnya. Begitu juga dengan bagian padang pasir di daerah gurun selatan, serta di sekitar danau Baikal dan jajaran sungai-sungai di daerah tersebut di atas.
Tempat utama bangsa Mongol kala itu sebenarnarnya tergantung musimnya.Untuk musim dingin mereka biasanya tinggal di daerah bukit di bawah pegunungan, agar mendapat kehangatan bagi diri mereka sendiri dan juga hewan ternak mereka. Sedangkan pada musim panas, mereka biasanya lebih tinggal ke atas, yaitu di puncak gunung, untuk menetap selama kurang lebih dua atau tiga bulan, agar mereka mendapatkan air yang cukup banyak dan udara yang lebih dingin.
Wilayah bangsa Mongol yang jauh dari sisi lautan dan di sisi lain juga cukup tinggi membuat daerah itu memiliki iklim yang unik, yaitu iklim kontinnta derajat panas paling tinggi di sana berada di kisaran 38 derajat celcius, sedangkan derajat dinginnya bisa mencapai minus 42 di bawah nol derajat.
Jika cuaca sedang dingin sungai-sungai dan danau pun bisa mmbeku untuk waktu yang lama, belum lagi angina kencang yang bertiu dari wilayah selatan Siberia yang terltak di bagian utara daerah tersebut menambah dinginnya di daerah tersebut. Dengan lingkungan yang sulit bangsa Mongol yang bermata pencaharian dari mengembala  dan berburu, harus kesulitan pula mencari air di sekitar gurun Gobi, padahal Gobi sendiri bermakana kekeringan dan kemiskinan. Kemudian jika mereka tinggal di dataran rendah antara gunung-gunun mereka akan diam di ladang yang banyak rumputnya untuk memberi makan ternak mereka. Oleh karena itu, setiap kali air telah mongering, atau rumput sudah menipis, mereka pindah ke wilayah lain agar dapat tetap memberi makan ternak mereka.
Begitulah kebiasaan paling mendasar dalam kehidupan mereka. Karena itu jika hujan tak kunjung turun hingga rerumputan sulit didapatkan, atau ternak mereka diserang suatu penyakit, maka mereka akan dihadapi dengan kenyataan bahwa mereka harus kehilangan ternak, padahal ternak itula satu-satunya sumber rezeki bagi mereka. Jika sudah demikian maka kelaparan akan melanda mereka yang kemudian keadaan itu akan memaksa mereka untuk mencuri, menjarah, atau merampok orang-orang di daerah pertanian yang bertetanggaan dengan mereka. Itulah yang menyebabkan sering terjadinya peperangan, pedudukan, penyerangan, ataupun perampasan oleh mereka.
C.     Suku-Suku yang Membentuk Bangsa Mongol
Pada pertengahan abad ke 12 Masehi atau abad ke 6 Hijiah, ada sejumlah kelompok terbelakang dari etnik pedalaman menempati bagian utara Manchura, Mongolia dan Turkistan, yang bermata pencaharian dengancara ternak dan berbury. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari tempat yang lebih banyak rerumputan.
Suku-suku ini dalam segi bahasa dapat dikelompokkan menjadi beberapabangsa, yaitu bangsa Turki, bangsa Mongolia, dan bangsa Cina.Sulit sekali ahli sejarah untuk memilah denga pasti kolompo-kelompok tersebut, karena ikatan tertentu yang membuat mereka sangat mirip sebutannya, tradisinya, dan juga bahasanya.
Di antara kelompok etnik bangsa Mongol adalah :
a)      Etnik Turki
Suku Turki ini adalah suku yang paling dikenak di bagian barat Mongolia.Para pemimpin mereka diberi jukukan Khan. Suku ini berhasil ditaklukan oleh bangsa Nashr bin Syiar, salah eorang pemimpin oasukan pada kekhalifahan Umawiyah, pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, tahun 739 Masehi atau 121 Hijriyah
·         Suku Kyrgyz
Suku ini juga termasuk suku etnik Turki, namun menetap di sekitar sungai Yenise.Para pemimpin mreka diberi julukan Khagan.Suku ini mulai dikenal dalam peta politik pada tahun 840 Masehi atau 250 Hijriyah, ketika mereka berhasil mengalahkan Uighur dari Mongolia.Namjun mereka kemudian di kalahkan oleh suku Khitai dan diusir keluar dari Mongolia pada awal abad ke 4 Hijriyah.Setelah itu mereka beralih profesi menjadi petani, di kemudian hari mereka tunduk kepada kekaisaran Mongol di bawah kepemimpinan jenghia khan pada tahun 1218.
·         Suku Karluk
Suku ini mulai di erhitungkan dalam peta politik pada tahun 149 H/766 M, ketika mereka menempati sungai jaw setelah runtuhnya kekaisaran Khagan, di bagian barat wilaya Turki.Suku ini tidak menggunakan julukan Khagan untuk pemimpin mereka, melainkan menggunakan Yabgu.
b)      Etnik non Turki
·         Suku Khitai
Masyarakat yang menempati wilayah timur Mongolia ini tidak lain adalah suku Mongol juga, namun yang paling benar adalah suku ini termasuk keturunan darimbangsa Cina. Mereka ini adalah musuh dari suku Turki bada awal abad k2 4 Hijriyah, khitai melalukan oprasi militer agar wilayah mereka semakin luas. Setelah mereka melakukan agresi, mereka berhasil menduduki wilayah utara Cina, wilayah selatan Cina, dan wilayah utara Manchura atau Manyura.Setelah itu mereka memperluas kekuasaannya hingga dapat menduduki wilayah Kyrgyz dari mulai bagian utara hingga bagian selatan.Dari bagian barat mereka juga menguasangai kerajaan khawarizma, dan dibagian timur mereka menguasai daerah Uighur.Ibukota mereka kala ini adalah Asghan.Dan raja mereka di juluki dengan Kur Khan.
·         Suku Tatar
Pada abad ke 2 Hijriyah suku Tatar terbagi menjadi dua bagian, yang pertama  ada sembilan suku, dan bagian ke dua ada tiga puluh suku. Mereka tinggal di barat daya danaju Baikal hinga ke sungai Kerulen, secara garis besar suku ini terbagi menjadi tiga :
Ø  Tatar Putih, yaitu mereka yang tinggal du luar garis Cina
Ø  Tatar Hitam, yait mereka yang tinggal di uatara gurun Gobi. Mereka adalah kaum Badui yang sering berpindah-pindah tempat
Ø  Tatar Hutan, yaitu mereka yang hidup di sekitar pesisir sungai Onon dan sungai Kerulen. Mata pencaharian mereka adalah berburu.
Meskipun yang melalukan peperangan dan pendudukan ada abad ketujuh Hijriyah terkadang dikenal dengan suku Tatar , dan nama itu diambil dari garis keturunan Jenghis Khan atau Naiman, amun Tatar adalah suku yang berbeda dengan bangsa Mongol. Seentara Mongol adalah nama dapat di gunaka di semua uku yang pernah tunduk kepada Jenghis Khan setelah di taklukan olehnya.
·         Suku Khereit
Suku ini menempati wilayah yang terbetang dari sungai Arkoun, gunung Kantari, hingga tembok Cina. Sku ini berhasl mengalahkan suku Mongolia, dan kemudian bertranformasi menjadi Nestorian di sekitar tahun 400 hingga 402 hijriyah-1009 Masehi melalui seorang Uskup Neostrian yang tinggal di Maru.Sejak itula suku ini menganut agama Nestroinisme.Lalu pada abad ke 6 kepala sukunya mulai menggunakan nama-nama Kristen kepala suku mereka yang paling terkenal adalah Tughrul. Ia adalah yang mengalahkan pamannya senidri ketka memeperubtkan tahta kepemimpinan, dengan di bantu kepemimpinan ertinggi di Mongol , Yesugei yang tidak lain adalah ayah dari Jenhis Khan. Dengan kemudian Taughrul mengalahkan duku Tartar sehingga menjadi pengiuasa terbesar di Mongol.
·         Suku Naiman
Nama-nama yang d gunakan oleh suku ini adalah nama-nama Mongoll, kaena nama sendiri dalam bahasa Mongol berarti delapan. Namun gelar yang dilekatkan kepada mereka adalah gelar dari suku Turki. Suku naiman tinggal di wilayah barat pemukiman suku Khereit, dn luasnya mencapai sungai Irtysh. Agama yang dianut oleh mereka adalah agama Shamanisme, namun agama Nestorianisme juga di terapakan anatara mereka.
D.    Kehidupan Sosial Bangsa Mongol
Masyarakat Mongol terbagi dalam kasta-kasta. Ada tiga kasta yang memisahkan kehidupan mereka, pertama adalah kasta kaum paling terhormat, yaitu mereka yang menyandang gelar Bahadir yang artimya adalah Pemberani atau gelar Tuban yang artinya adalah Terhormat, atau gelar Stassen yan artimya Bijaksana.
Yang kedua biasa di sebut dengan kasta Nokor yang bermakna “kaum merdeka”.Kasta ini biasanya menyusun siasat dan mengatur pasukan Mongolia.Namun pada masa Jenghis Khan, ada satu kasta yang khusus dalam membidangi peperangan, yaitu kasta kaum prajurit, dan adapin kasta yang ke tiga adalah kasta kaum awam dan kaum budak belian.
Setiap kelompok atau keturunana Mongol mempunyai pemimpin masing-masing, di beri gelar Khan bila sudah menjadi kaisar, atau hanya Baki untuk pemimpin yang lebih rendah. Gelar terakhir itulah yang lebih dikenal melekat para pemimpin kam Tatar hutan, semisal Awirat ndan Murkyt. Kadang mereka suku-suku kecil memilh unguk di pimpin suku yang lebih besar, sbagaimana berlaku pul pada kaum badui di tempat lain. Hal itu dikarenakan mereka tidak mampu untuk mempertahankan wilayah oleh diri mereka sendiri, seperti yang terjadi pada suku Jalaer yang di pimpin langun oleh kakek moyang Jenghis Khan.Dan suku Qanaqaran dan Awirat, yang tinduk pada kepemimpinan Jnghuskhan.
Kehidupan yang dijalani oleh suku-suku tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial dan ekonomi meeka. Iklim continental yang unik juga mempengaruhi kehidupan mereka yang selalu mengejar pang rumput, agar mereka dapat mengembalakan kambing dan hewan trnak lainnya.Hingga akhirnya mereka berada di titik jenuh yan luar biasa.
Sementara orang Turki-Mongol yang tinggal di wilayah hutan di sekitar danau Baikal dan danau Amur, hidup secara keras. Kebutuhan hidupnya dengan cara memburu hewan, dan latihan secara terus menerus oelh para pengembala untuk menunggang kuda, juga perjalanan yang merka lakukan untuk mencari lading dan air, atau juga peggunaan senjata untuk melawan musuh mereka ataupun membela diri mereka senidiri, dengan kekuatan dan keberaniannya. Dengan semua yang mereka miliki, mereka sudah seperti prajurit yang mahir dan mereka juga bahwa mereka siap untu berperang kappan saja, karena itu ketika datan jenghis Khan dengan kemampuannya memepersatukan suku-suku itu di bawah peraturannya.
Lalu Jenghis Khan membuat sebuah buku perundang-undangan yang diberinama El-Yasa/Ilyasa/Ilyasiq. Buku ini dibuat untuk mempersatukan bangsa Mongol menjadi satu kesatuan.Ia bertekad untuk mempersatukan bangsa Mongol dan juga bangsa Mongol agar tunduk kepadanya, eredam emosi dibawah kekuasaannya, dan menaati semua aturan ysng di perintahkan olehnya. Oleh karena itu undang-undangnya di uat dengan hukuman yang sangat berat bagi sipa saja yang melanggarnya, hingga tidak ada lagi kerusuhan di antara mereka dan mengembalikan rasa aman kepada mereka.Keingnan Jwngs Khan pun berjalan dengan lancar. Ia mampu memperatukan angsa Mongol dan mengubah mereka menjadi pasukan yang tertera dengan baik.
Makanna yang menjadi santapan bangsa Mongol ketoka iyu adalah daging hewan dari jenis apapun, baik itu dagng kuda, anjing, srigala, musang, tikus atau daging hewan lainnya. Dan mereka mempunyaicara unik untuk menjaga daging tetap segar awet dan tahan lama yakni dengan memotongnya tipis-tipis lau mereka menjemurnya di bawah sinar matahari, agar daging itu menjadi kering dan tidak mengeluarkan bau busuk. Sementara dalam berpakaian mereka mengenakan pakaian yang sangat sederhana, dan menyesuakan musim dan kondisinya.Namun pada umumnya mereka memakai pakaian dari bulu domba, bulu unta atau kulit hewan lainnya.
Dan mereka tidak pernah mengganti pakain mereka pada musim dingin, mereka juga hanya menggant pakain satu kali dalam satu bulan. Dan mereka juga tidak mengenal mencuci pakaian, mereka hanya memakainya sampai using dan mereka sering memberi lumuran lemak pada tubuh mereka untuk memberi kehangat dan menjaga tubuhnya agar tetap hangat.[1]




B. Kemunculan Jengis Khan di Kancah Sejarah Dunia
1.      Profil Jengis Khan
Menurut penuturan sebagian besar ahli sejarah, Jengis Khan dilahirkan di bantaran Sungai Onon pada tahun 1155 Masehi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ia dilahirkan pada tahun 1167 Masehi.
Ayahnya yang bernama Yasugei sedang tidak ada di rumah saat Jengis Khan dilahirkan. Sang ayah saat itu sedang bertempur melawan bangsa Tartar. Saat itu Yesugeu mendapat kesempatan untuk melawan salah satu pemimpin Tartar yang bernama Temujin, dan ia berhasil memenangkannya dan membawa pulang cerita kemenangan ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia mendapatkan kejutan dari sang istri, Yolun, yang baru saja melahirkan putra. Ketika ia menamati anaknya, ia melihat segumpal darah yang digenggam oleh anaknya yang berbentuk seperti batu merah, lalu Yasugei menanyakan hal tersebut kepada seseorang yang percaya dengan hal-hal mistik. Ia diberitahu bahwa hal tersebut berhubungan dengan kemenangannya mengalahkan pemimpin Tartar. Karena itu Yesugei memberi nama kepada anaknya dengan nama pemimpin Tartar yang dikalahkannya.
Kemudian saat Temujin menginjak usia sembilan tahun, ia diajak oleh ayahnya Yesugei ke rumah pamannya. Namun dalam perjalanan ia bertemu dengan salah satu pembesar Mongol Onggirat, dan berkata bahwa Temujin akan memiliki masa depan yang cerah. Dan pembesar itu meminta dengan sangat untuk menikahkan Temujin dengan putrinya yang bernama Borte, padahal saat itu Borte masih berusia sepuluh tahun. Tidak lama kemudian Yesugei meninggal di tengah perjalanan ke rumahnya. Rumor yang beredar kematian Yesugei karena diracuni oleh Bangsa Tartar pada tahun 1176. 71
A.    Kepribadian Jengis Khan
Jengis Khan memiliki nomor wahid untuk memimpin pasukan hingga ia dapat mengalahkan siapapun musuh yang ada di hadapannya, dari suku apapun, bangsa apapun di dunia. Di awal abad ke-13 hampir seluruh wilayah dunia yang dikenal pada saat itu berada di wilayah kekuasaanya. Siapapun yang mendengar nama Jengis Khan akan takut dan bergindik, baik masa hidup ataupun telah mati.
Semasa kanak-kanak ia bernama Tamujin, yang artinya “Manusia Baja.” Sementara sejarah lebih mengenalnya dengan nama Jengis Khan. Panglima tertinggi bangsa Mongol itu memiliki kecerdasan luar biasa dalam hal-hal berikut
-          Membentuk dan membangun pasukan
-          Taktik
-          Mengenal anak buahnya
-          Strategi
-          Perencanaan
-          Memiliki kaki tangannya
-          Menyikap titik lemah oranng lalin dan memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya
Semua kelebihan ini sangat penting untuk dimiliki oleh siapapun, baik seorang anggota militer maupun rakyat sipil. 72
                        Pemimpin tertinggi bangsa Mongol ini memiliki perawakan yang tinggi, badannya tegap , kepalanya botak, kecuali di bagian belakang yang tersisa sedikit rambutnya berwarna abu-abu, dan matanya mirip dengan mata kucing. Ia tidak berbicara bahasa lain kecuali bahasa Mongol, dengan sedikit kalimat sehari-hari berbahasa Cina. Kehidupan sehari-harinya sederhana oleh karena itu tubuh dan akalnya dapat terjaga aktifitasnya, hingga akhir hayatnya. Para peneliti kehidupannya ia juga tidak berlebihan dalam urusan seksualnya, kesenangannya yaitu permainan Polo dan petualangan Berburu. Ia juga terbiasa menegak minuman keras bersama teman-temannya
-          Keberainiannya
Jengis Khan memiliki keberanian yang luar biasa yang diakui oleh kaawan maupun lawan. Ia menempuh jalan menuju mahkota kekaisarannya juga dengan menampilkan keberaniannya untuk menghadapi siapapun lawannya. Salah satu pengakuan kebenarannya ketika di akhir peperangan ia mendapatkan kemenangan atas  Sultan Khawarisma, Jalaluddin, di sungai Indus tahun 1221 M. Sultan tersebut sangat kagum dengan keberanian musuhnya yang masih muda. Walaupun sangat dissayangkan, ia lari menyelamatkan diri dengan melompat ke sungai bersama kudanya, saat iru Jengis Khan belajaar, “Seperti inilah seharusnya para ibu mengasuh anaknya” begitulah Jalaluddin refleksi dirinya dalam hal keberanian.
-          Kemurahan Hatinya
jengis Khan adalah orang yang sangat murah hati terhadap perwiranya, terutama jika di antara mereka ada yang melakukan aksi yang sangat berani. Ia juga dikenal dengan kedermawanan dan kebaikannya. Ketika membahas tentang sifat ini Al-Juaini mengisahkan, “Suatu ketika Jengis Khan kedatangan tamu petani dari Cina, mereka ingin bertemu dengannya dengan membawa tiga buah semangka sebagai buah tangan. Namun kedatangan mereka tidak tepat larena Jengis Khan sedang menerima tamu agung. Meskipun demikian jengis Khan berkata kepada istrinya, Khatun, ‘berikan kedua antingmu itu kepada mereka,’ istrinya agak keberatan dengan permintaan tersebut karena permata anting itu sangat mahal harhanya. Lalu istrinya berkata “Mengapa tidak diberi hal lain saja, karena mereka tidak tahu betapa berharganya anting-anting ini” Jengis Khan tetap pada pendiriannya ia berujar, ‘berikanlah anting-anting itu pada mereka, karena kamu sudah sering mengenakannya, sedangakn orang-orang itu tidak mungkin kita suruh pergi dengan kejengkelan hatinya karena tidak mendapatkan apa-apa. Mungkin saja ia tidak memiliki apapun lagi untuk di jual kecuali buah-buahan ini. Lagipula tidak mungkin mereka dapat menjual anting-anting ini kepada siapapun kecuali akan datang kepadamu jua.” Lalu istrinya mengalah dengan berat hati dan melepaskan kedua antingnya. Setelah itupun ia mengembalikan anting-anting itu kepada istri Jengis Khan.
-          Sifat Cemburunya
Jengis Khan termasuk orang yang berlebihan dalam sifat cemburunya, ia selalu cemburu terhadap sesuatu yang ia anggap miliknya namun berada pada genggaman orang lain. Contohnya adalah ketika Kota Urganch berhasil ditaklukkan pada tahun 1221 M. Saat itu anak-anak Jengis Khan, Jochi Changtai, dan Ogadai, membagi rata semua harta rampasan perang diantara mereka saja, tanpa melaporkan dan atau membaginya kepada ayah mereka. Kemudian ketia mereka kembali ke pusat kekaisaran, mereka melihat ayah mereka dalam keadaan marah luar biasa, bahkan mereja sama sekali tidak mendapatkan izin untuk menemuinya. Melihat keadaan itu, para khan yang lain merasa perlu untuk ikut andil menyelesaikan permasalahan antara ayah dan anak-anaknya tersebut. Mereka pun pergi menemui Jengis Khan dan mengecam tindakannya dan mengatakan, “kita telah berhasil mengalahkan bangsa Khawarizma, semua di kota itu bersama anak-anakmu adalah milikmu jua. Kita mendapatkan kemenangan dalam perang itu dengan bantuan langit dan bumi, kami saja yang hanya sebagai perwira-perwiramu merasa sangat gembira saat ini, mengaca dirimu justru marah-marah seperti itu? Padahal anak-anakmu sudah mengakuo kedalahan mereka dan mereka saat ini merasa sangat ketakutan. Pengalaman itu sudah memberikan mereka pembelajaran untuk tidak melakukannya lagi di masa yang akan datang. Maafkanlah mereka dan izinkanlah mereka untuk menemuimu.” Amarah Jengis Khan sedikit mereda setelah mendengar nasehat tersebut, ia pun bersedia ditemui anak-anaknya. Namun amarahnya bangit lagi setelah melihat anak-anaknya, dan para perwira dibuat bingung olehnya. Lalu dengan berpeluh keringat mereka mencoba menenangkan lagi dengan berkata, “Anak-anakmu ini seperti rajawali yang baru belajar terbang. Ini adalah perang pertama mereka. Jika kamu bersikap seperti ini pada mereka, maka bisa jadi perasaan mereka akan hancur menjauh darimu di kemudian hari. Di luar sana banyak sekali musuh kita, dari ujung barat sampai ujung timur, utuslah kami untuk memerangi mereka, maka kami akan mengamuk dan menumpas mereka seperti anjing Tibet. Apabila langit merestui memberikan kemenangan, maka kami akan menyerahkan semua yang mereka miliki kepadamu; entah itu emas, perak ataupun sutera. Di wilayah barat sana ada seorang khilafah yang memimpin kota Baghdad utuslah kami memeranginya.” Jengis Khan pun tersentuh dan luruh amarahnya. Ia kemudian mengampuni kesalahan anak-anakya.
-          Kesadisan dan Kebengisannya
Semasa hidupnua Jengis Khan telah melakukan berbagai perbuatan keji, mengerikan, dan membuat bulu kuduk merinding bila diceritakan. Namun perbuatan itu di kalangan Mongol sudah biasa. Dalam sebuah literatur tentang Jengis Khan disebutkan sebuah keterangan tentang kesadisan tersebut, diantaranya pernyataan Jengis Khan sendiri yang mengatakan “Suatu kepuasan tersendiri bagi seseorang jika ia dapat mengalahkan musuh-musuhnnya lalu mengusirnya dari Tanah Airnya, menguasai semua yang dimilikinya, melihat orang-orang yang dikasihinya menangis, merampas kudanya, serta memeluk istri dan anak perempuannya.” Pernyataan yang keluar dari mulut Jengis Khan itu merupakan ganbaran yang mewakili perasaan kaumnya, dan kebiasaan yang dilakukan oleh mereka.
-          Ketulusan Terhadap Teman
Jengis Khan adalah sosok yang tulus dengan orang yang tulus kepadanya juga, kisah di atas tentang hubungan antara dirinya dengan perwiranya adalah contoh yang paling nyata terkait perlakuannya kepada teman. Bahkan ia juga sering memberikan nasehat berharga kepada teman-temannya salah satunya adalah, pesan yang disampaikan kepada Subutai ketika ia mengutusnya untuk memerangi suku Merkit tahun 1212 M. Ia mengatakan, “Dalam merintis jalan untuk mencapai cita-cita, kamu nanti akan menghadapi banyak rintangan, entah mengarungi seluasnya samudra, mendaki gunung, melintasi sungai, ataupun kesulitan lainnya. Semakin panjang jalan yang kamu tempuh, maka semakin banyak perjuangan menguras daya imajinasimu dan kerelaanmu untuk kekurangan bekal asal kudamu nanti tidak terlalu letih untuk menghadapi musuh nanti. Dan kamu harus bisa memberi perhatian krpada kudamu agar tidak ada pelana atau angkatan kuda yang dapat melukainya. Apabila nanti ada seseorang yang tidak patuuh kepadamu, maka utuslah orang itu untuk menghadapku, kecuali jika aku tidak mengenalnya, maka hukumlah ia oleh dirimu sendiri.” Kemungkinan besar kalimat terskhir ditunjukkan kepada anak tertuanya, Jochi yang ikut bersama rombongan pasukan Mongol sebagai putra mahkota dan panglima istimewa.
Begitulah Jengis Khan terhadap anak buahnya, ia memberikan kepercayaan dan tak sungkan memberikan pujian, dan sama sekali tidak dengki ataupun iri hati terhadap bawahannya. Kedua sifat buruk terakhir inilah biasanya membahayakan hubungan antara seorang pemimpin dengan para jenderalnya, seperti yang terjadi pada Alexander Agung dan Napoleon Bonaparte.
-          Memonitoring dan Memimpin Langsung Peperangan
Jengis Khan memiliki kemampuan lebih dalam memimpin para panglima dan bawahannya, oleh sebab itu kekaisaran Mongol memiliki panglima-panglima perang yang luar biasa yang berhasil memenangkan berbagai peperangan besar baik dibawahi langsung oleh Jengis Khan ataupun tidak. Jika dilihat bagaimana peperangan yang dilakukan oleh kekaisaran Mongol sejak tahun 1221 M hingga 1222 M, saat jenderal-jenderal besarnya jauh dari dirinya, Mungalai di China, Subutai dan Gebe di Rusia dan Eropa Timut, namun Jengis Khan tidak hanya berdiam diri di wilayah tugasnya saja, yaitu Khawarizma dan Khurasan, ia tetap memantau pekerjaan mereka, meski harus berjalan memalui pegunungan Afghanistan yang menakutkan. Tak heran jika pencapaiannya tak bisa ditandingi bahkan oleh anak-anak dan penerusnya sekalipun, yang mana saat Jengis Khan wafat, tongkat kekuasaan diserahkan kepada anak-anak dan para jendralnya, namun mereka tidak dapat meraih pencapaian seperti yang mereka raih saat Jengis Khan hidup.
Bukti lain yang menunjukkan bahwa Jengis Khan sangat mengenal bawahannya semasa hidupnya adalah bagaimana ia memilih orang yang menggantikannya setelah wafat. Pilihan itu juga menunjukkan bagaimana bijaksana dan luasnya pengetahuan Jengis Khan.
-          Politikus dan Negarawan
Jengis Khan bukanlah hanya orang yang hebat dalam hal berperang saja, karena selain itu ia juga hebat dalam berpolitik dan bernegara. Salah satu cirinya adalah tekadnya yang tidak pernah pupus dan pikiran yang tidak terlalu muluk hingga melewati batas kemampuan dirinya. Namun batasan tersebut ia tetap memiliki ambisi yang kuat, itu sebabnya ia tidak pernah mengalami kekalahan ataupun ditimpa kemalangan. Jika dibandingkan antara Jengis Khan dengan sejumlah pemimpin besar dalam sejarah manusia, maka akan dapat kita lihat perbedaan yang cukup besar, misal Napoleon Bonaparte yang menjadi pemimpin paling besar seantero Eropa, yang mana ia dapat dipukul mundur ketika menghadapi sebuah kota kecil di mesir. Lalu ia juga melakukan kebodohan di Spanyol, lalu ia meninggalkan pasukannya yang besar di Rusia, kemudian berakhir mengenaskan saat kalah di medan Waterloo. Serelah itu ia wafat di dalam penjara sebuah pulau kecil oleh musuh bebuyutannya. Kekuasaanya sudah runtuh saat ia masih hidup segala undang-undang telah hancur tercabik-cabik, dan anaknya tidak mendapatkan hak warisan apapun.
Lalu dibandingkan dengan Alexander Agung, seorang pemuda yang dapat menaklukkan dunia di zamannya dengan kecerdasannya. Namun setelah ia wafat, para jenderal yang menjadi penolongnya dulu malah memperebutkan warisan peninggalannya dan membuat putra mahkota yang kecil harus menyelamatkan diri bersama ibu dan neneknya untuk memperjuangkan haknua.
Sementara Jengis Khan, ia membuat dirinya menjadi pemimpin sejati di atas muka bumi, mulai dari Korea sampai Armenia, dan Tibet yang disebut sebagai atap dunia hingga  ke sungai Volga, sungai terpanjang di Eropa. Lalu setelah ia wafat ia mewariskan tahtanya kepada putranya tanpa kerusuhan apapun. Bahkan cucunya, Kubilai Khan, menjalanu kehidupannya sebagai penguasa hingga hampir sebagian wilayah muka bumi. [2]

Peradaban Islam di bawah Pemerintahan Dinasti Ilkhan Pasca Kehancuran Baghdad Tahun 1258-1347 M

Dinasti Ilkhan merupakan salah satu cabang rumpun dari bangsa Mongol, bangsa Mongol yang berada di dataran Asia Timur, berbatasan dengan Rusia di sebelah utara dan Republik Rakyat Cina di Selatan, mempunyai nilai keutamaan yang berbeda dibanding dengan bangsa-bangsa yang lain.
Jengis Khan menganugrahkan kekuasaan kepada Tolio Putranya atas Negeri Persia dan Khurasan beserta seluruh negeri Arab dan Asia Kecil yang bisa dicakupnya. Dinasti Touli merupakan dinasti yang paling luas wilayah kekuasaannya. Sosok Hulagu merupakan putera dari Touli telah mengambil kekuasaan wilayah tersebut. Peperintahan Hulagu Khan yang dikenal sebagai Dinasti Ilkhan. Adapun silsilah keturunan Hulagu Khan yaitu : Hancurnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengkhiri Khilafah Abbasiyah akan tetapi juga awal dari masa kemunduran politik dan Peradaban Islam, karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan peradaban Iddlam yang sangat kaya khazanah ilmu pengetahuan ikut pula dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yanng dipimpin Hulagu Khan. Akan tetapi satu yang menarik dalam diri Hulagu Khan, dia adalah seorang pencinta Ilmu Pengetahuan dan pendidikan serta kegiatan ilmiah. Hulagu Khan mendirikan sebuah observatium di Maragha, Ajarbzyan untuk mendeteksi angkasa luar yang bertahan disana sampai berapa abad. Dengan melihat keterangan diatas bahwa Binasti Abbasiyah merupakan pusat ilmu pengetahuan telah dihancurkan oleh Hulagu Khan, akan tetapi setelah ia mengambil tempat tersebut dijadikan sebagai tempat para ahli teologi islam. Berkaitan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kebencian Hulagu Khan terhadap Umat Islam itu memang disebabkan karena sifat serta kehidupan bangsa Mongol yang nomaden serta salah satunya adalah balas dendam kepada umat islam atas perlakuan dan penghinaan yang diberikan oleh Raja Kawarizm kepada Bangsa Mongol, sehingga berkeinginan menjadi yang lebih tinggi dari kristen tang menghasut Mongol untuk menghancurkan umat islam.
Kondisi kehidupan keberagaman pada masa Hulagu Khan sangatlah Toleran akan tetapi kemajuan islam di antara bangsa Mongol sangat lamban dibanding Kristen dan Budha. Kepemimpinan Hulagu Khan digantikan oleh anaknya yang bernama Abaga Khan. Ia merupakan salah satu penguasa diantara Dinasti Ilkhan memerintah paling lama yaitu 17 tahun, Abaga Khan meninggal pada tahun 680 H, tahtanya diwariskan kepada Teghudar, saudaranya sendiri.
Pada masa pemerintaha Teguder sedikit mebih membaik, sehingga jabatan-jabatan penting dipemerintahan telah dipercayakan oleh sebagian yang beragama Islam. Ahmad Teguder merupakan raja dinasti Ilkhan pertama yang memeluk islam sehingga berkeinginan membela dan melindungi umay muslim. Ahmad Teguder berkeinginan mengislamkan seluruh bangsa Mongil dan membawa mereka pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi banyak diantara masyarakat Mongol memberikan penolakan tidak ingin meninggalkan agama yang sudah dianutnya, namun Ahmad teguder tetap mengupayakan bagi mereka yang mau memeluk Islam diberikan hadiah, anugerah, pangkat, kehormatan, sehingga sejumlah besar masyarakat Mongol masuk Islam pada masanya. Ahmad teguder mengirimkan surat kepada para sultan di Mesir bahwa dirinya telah masuk Islam dan berkeinginan membantu dan melindungi perkembangan Islam hidup dalam kedamaian dan persahabatan dengan semua Umat Islam. Berupaya mengikat perjanjian dengan Sultan Qalaun di Mesir (Dinasti Mamluk) serta mengirim para duta ke Mesir untuk melakukan kerja sama. Akan tetapi keinginan Ahmad Teguder tidak berlangsung lama karena munculnya konspirasi hebat di kalangan Mongol yang terkemuka untuk menurunkan Ahmad Teguder dari tahtanya yang telah beralih memeluk agama islam. Sehingga Ahmad Teguder dibunuh oleh Argun, yang kemudian menggantikannya menjadi raja Dinasti Ilkhan (1284-1291). Raja yang keempat ini adalah penganut agama Kristen Nestoria  militan yang karena kefanatikannya banyak melakukan tindakan refresif dengn mengusir dan membunuh umat islam. Arghu Khan meninggal pada tahun 691 M. Tahta diwariskan kepada saudaranta Gaygathu, ia memerintah selama empat tahun dari 1291-1295 M. Kemudian digantikan oleh Baydu yang memerintah kurang lebih setahun yakni masih dalam tahun 1295.
Dari masa Hulagu Khan sampai Baydu, kecuali Ahmad Taguder, seluruh penguasa Dinasti Ilkhan adalah Non Muslim, dengan demikian umat muslim yang ada di kawasan tersebut diperintah dan dikuasai oleh Dinasti Ilkhan non-Muslim pada periode ini tidak ada perkembangan yang berarti dalam masyarakat muslim terutama peradaban dan perkembangannya. Gaygatu dan Baydu yang waktunya cukup singkat tidak melakukan perubahan dan perbaikan apapun hanya meneruskan bentuk pemerintahan sebelumnya.
Gazana Khan dinobatkan sebagai penguasa Dinasti Ilkhan pada tanggal 3 November 1295 M. Merupakan penguasa ke VII Ilkhan yang menganut agama budha. Ketika Gazana Khan berusia 10 tahun ia diangkat menjadi gubernur Khurasan pada masa pemerintahan ayahnya Argu Khan, penasehatnya adalah Amir Nawruz yang telah memerintah selama 39 tahun di beberapa propinsi Persia di bawah pengawasan langsung Jengis Khan dan penggantinya. Amir Nawruz merupakan pembesar mongol awal yang memeluk agama islam. Ajakan memeluk Islam itu berawal ketika Ghazan sedang merebut tahta kerajaan dari saingan utamanya, panglima jendral Nawruz membantu perjuangannya melawan saudaranya Baydu, Ghazan Khan berjanji bahwa ia akan memenangkan pertempuran dengan Baydu, maka ia akan menerima agama Nabi Muhammad SAW. Atas nasihat Amir Nawruz itulah Ghazan berhasil mengalahkan Baidu dan naik tahta pada tanggal 29 Juni 1295 (4 Sya’ban 644 H) pada usianya ke 24 tahun. Berkata keberhasilan pertempuran yang dilakukannya sehingga Gazana Khan menepati janji memeluk islam. Gazana Khan bertanya sedetail-detailnya mengenai ajaran islam, dan Syekh Sadr al-Din menjelaskan bahwa islam adalah agama yang sangat uat dan jelas terdiri dari semua peraturan jalan hidup. Beliau juga menjelaskan kebesaran Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan keutamaan Muhammad sebagai Rasul Allah, dengan tanda-tanda kerasullannya yang dapat dengan jelas dilihat dan pasti kebenarannya sepanjang jaman. Janjinya memeluk islam dipenuhi hari itu juga bersama 10.000 orang Mongol lain, termasuk sejumlag pembesar dan jenderal dia mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan Syekh Sadruddin Ibrahim, putra tabib terkemuka al-Hamawi. Setelah 4 bulan memerintah sultan Ghazan memerintahkan tentaranya untuk menghancurkan kuil Budha, gereja dan sinagor di seluruh kota Tbriz. Kemudian dibangun kembali masjid dan madrasah, sebab di tempat yang sama itulah dahulu Hulagu menghancurkan puluhan madrasah dan masjid yang megah. Dengan berbuat demikian dia telah menebus dosa leluhurnya kepada kaum muslimin.[3]
C. MONGOL PASCA JENGHIS KHAN
1.      Pembagian Kekuasaan
Jenghis khan wafat dengan banyak sekali meninggalkan istri dan selir, dan jenghiskan memiliki 9 anak dari seluruh istrinya, empat di antaranya ia dapatkan dari istri pertama, istrinya yang bernama Borte. Keempat anaknya tersebut adalah : Jochi, Chagatal, Ogodel, dan Tolui.
Jenghis Khan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada mereka untuk mengurus kekaisaran mereka yang terbentang sangat luas. Misalnya kepada putra paling sulung, Jochi, ia diberikan kehormatan untukmengurus pelatihan perang, penataan istana dan pengaturannya. Untuk putra kedua, Chagatai, ia diberii kepercayaan untuk mengatur urusan peradilan dan mengawasi pelaksanaan hukum dan perundang-undangan yang telah diterapkan oleh ayahnya sendiri, lalu menerapkan sangsi dan hukumnya kepada siapapun yang melanggarnya.
Untukanak ketiga, Ogodei, ia diberikan tugas untuk mengatur sisi finansial dan administrasi kekaisaran, ia mengatur segala yang berkaitan denngan keperluan kaisar dan mengelola kepentingan rakyat. Dan untukanak yang keempat, Tolui, ia ditugaskan untuk urusan pertahanan negara dan persiapan pasukan. Hingga kemudian Tolui mendapat julukan sebagai “The Great Noyan”(Panglima Besar).
Jnghis Khan memandang bahwa cara terbaik melatih putra-putranya pada fungsi dan tanggung jawab adalah dengan membagikan kekuasaan kekaisarannya pada mereka.
·         Jochi anak sulung Jenghis Khan mendapat bagian untuk memerintah wilayah
yang terletakantara sungai Irtysh hingga dataran rendah bagian Laut Kaspita. Yang di huni oleh suku Turki Kipchak yang sering disebut gerombolan emas, namun karena Jochi telah meninggal dahulu sebelum Jenghis Khan maka seluruh wilayah yang di jatuhkan untuknya di berikan kepada anaknya, Batu, yang dikenal memilih perasaan yang lembut, gaya berbicara yang santun, dan pemikiran yang tajam. Ia juga diangkat sebagai kepala rumah tangga istana yang berperan penting menangani perselisihan yang terjadi karena perebutan kekuasaan.
·         Chagai mendapat bagian untuk memerintah di negri Uighur wialayah Transoxiana, Kasghar, dan Gazma.
·         Ogodei mendapat keistimewaan yang lebih karena ia dijadikan putra mahkota yang akan meneruskan posisi Khan tertinggi setelah Jenghis Khan tiada. Maka dari itu ia dinerikan wilayah yang lebih banyak, hanya terbatas wilayah pegunungan Tar Bajaye, daerah pesisir danau Alagoul, daerah di sisi sungai Yamil, yang semuanya terletak di bagian barat Mongolia.
·         Tolui, menjadi tanggung jawab di sungai Kerulen, sungai Onon, sungai Arkoun, dan ibukota Karakorum. Dan ia juga menjabat sebagai kaisar interen selama dua tahu, sejak 624-626 atau 122-1229 M, dengan dibantu oleh tiga orang penasihat, sebagaimana tradisi di Mongol.[4]
2.      Pengangkatan Ogodei Sebagai Kaisar Mongol
Setelah Jenghis Khan meninggal tahta kekaisaran belum memiliki penggangti selama dua tahun lamanya, kemudian para pejabat dab pembesar kekaisaran agar segera diadakan pemilihan Khan yang baru, dan mereka mengutus sejumlah pegawai ke berbagai daerah untuk mengunda para petinggi daerahdan para panglima agar datang ke ibukota guna mengadakan rapat musyawarah  tertinggi “Kurultai”.
Para delegasipun berdatangan ke ibukota dan mereka di berikan peristirahatan selama tiga hari dan menikmati pelayanan yang begitu menyenangkan..lalu mereka bertukar pikiran tentang pemilihan Khan yang baru, dan mereka bersepakat untuk mengangkat Ogdei sebagai kaisar. Namun Ogdei menolak dengan alasan bahwa dia tidak memenuhi syarat untuk mendudukiposisi yang sangat penting, dan dia berpendapat bahwa adiknyalah yang lebih pantas, karena sesuai dengan tradisi bahwa yang menggantikan kekaisaran itu anak bungsu.
Namun semua sadura dan kerabatnya menutup pintu alasan bagiOgdei dan bersikeras agar ia dapat menerima pengankatan tersebut, dan kerabatnya mengingatkan tentang warisan ayahnya terkait halini. Hingga akhirnya Ogdei menerika keputusan majelis tersebut.pengankatan tersebut diresmikan di Kurultai (dewan umum) pada musim semi tahun 626 H/1229 M.
Lalu Ogdeimenaruh perhatian yang lebih besar untuk menyempurbakan invesi yang dimulaioleh ayahnya. Ia pun langsung membentuk pasukan yang diperlukan menyerang wilayah Iran, Eropa, dan Cina.
3.      Melanjutkan Invasi ke wilayah Islam
Sebenarnya sebelum itu pasukan Mongol yang masih menduduki wilayah Transoxiana sudah beberapa kali melakukan agresinya terhadap pasukan sultan Jalaluddin Mangbarni, terkadang di menangkan oleh pasukan Jalaluddin terkadang juga di menangkan oleh bangsa Mongol. Hingga pada akhirnya Ogdei mengangkat panglimanya yang terkenal, Chormaqan Noyan, untuk memimpin serangan ke wilayah Iran, ia membawapasukan besar yang berjumlah 50 ribu prajurit. Mereka menuju ke arah Turkmenistan. Di bantu oleh pemimpin otoritas mongol di wilayah Khawarizma.
Pada tahun 632-633 H/1234-1235 M bangsa Mongol telah memasuki wilayah Arbil dan menyerang ibu kotanya. Pada tahun 634 H/1237 M, mereka mulai menyisir ke arah timur hingga sampai ke daerah Samarra. Pada tahun 635 H/1237 M, perbatasan itu tetap dapat di tembus dan kaum muslimin dipaksa menyerah setelah pasukan mereka banyak terbunuh. Dan pada tahun 640 H/1234 M, ,mereka juga berhasil menguasai Saljuk Rum setelah mereka memenangkan pertempuran yang cukup sengit.
a.       Menguasai Wilayah Cina Bagian Utara
Setelah kematian Jenghis Khan. Dinasti jin berhasil mengembalikan sejumlah besar wilayah kerajajan mereka. Lalu menetapkan kota Kaifeng di Henan menjadi ibukota mereka. Namun setelah kekuasaannya di aluhkan kepada Ogodei, ia langsung memeprsiapkan pasukan untuk menyerang wilayah tersebut.
Pasukannya mualai bergerak menuju kawasan tersebut pada tahun 627 H/1229 M. Ogodei memimpin senidiri pasukannya untuk menyerang Dinasti Jin bersama kedua saudarnya, Chagtai dan Tolui. Mereka mulai bergerak ke arah sungai Kuning ( Huang Wa). Mereka membagi dua pasukan, pasukan yang pertama bertugas untuk menyerang bagian utara di bawah kepemimpinan Ogodei, dan pasukan kedua bertugas untuk menyerang bagian selatan di bawah kepemimpinan Tolui. Semua pertempurang dimenangkan oleh bangsa Mongol. Kota besar tersebut pun akhirnya jatuh ke tangan pasukan Mongol dengan menyisakan sedikit penduduk di sana, karena sebagian besar dari mereka tidak bisa meloloskan diri dari serangan bangsa Mongol. Peristiwa itu terjadi pada tahun 631 H/1233 M.[5]
b.      Kematian Ogodei Khan
Ogodei sangat gemar meminum minuman keras dan menjadi pecandu beratnya. Minuman itu membuatnya semakin lemah dari hari ke hari. Tidak aa yang mampu mencegahnya meskupun dari orang terdekatnya. Ia terbua selama tujuh tahun penuh dengan kesenangannya terutama pada minuman keras, hingga pada akhirnya berpengaruh pada kesehatannya. Lalu pada suatu malam, ia sangat berlebihan meminumnya, hingga datanglah ajalnya saat ia sedang tertidur tak sadarkan diri. Peristiwa itu terjadi pada tahun 539 H/1241 M..
c.       Perbaikan Sistem Pada Masa Ogodei
Meskipun tidak terlalu lama menjabat sebagai kaisar Mongol, Ogodei mampu melakukan sejumlah perbaikan di negaranya. Ia mempercayakan mentri yang bijaksana Yelu Chucai untuk menjalankan roda pemerintahan di wilayah Cina. Yelu berhasil membangun wilayah tersebut dengan buku Ilyasa.
Ia juga berhasil mengatur keungan dengan baik urusan keungan negara serta menyelesaikan setiap oprasional di dalam ataupun luar negri, menjalankan angagaran negara dimana ia mengharuskan orang-orang Cina membayar pajak dalam jumlah tertentu secara tunai dan sesuai jenisnya untuk penghasul kain sutera dan makanan pokok. Sedangkan unttuk pemilik hewan ternak, kuda dan kambing diharuskan untuk membayar sepuluh persen dari jumlah keseluruhannya. Dan ia juga mendirikan sekolah-sekiolah di Beijing untuk menelurkan bibit-bibit masa muda  depan yang cukup pengalaman dan pengetahuan.
Ogodei cenderung membangun dan merekontruksi setiap wilayahnya. Pada tahun 631 H/1234 M ia mulai membangun ibukota  baru untuk pemerintahnya. Ia memrinthakan ibukota baru itu dibangin sebuah istana sangat besar. Pada masa itu juga Ogidei memprakasai sistem pengiriman surat melalui pos, dan ia juga menginisasi pembuatan sumur-sumur di sepanjang jalan setapak gurun sahara di wilayah Asia Tengah.[6]
4.      Guyuk Khan (644-647 H/1246-1249 M)

Wafatnya Ogodei Khan membuat keadaan bangsa Mongol kembali kalut. Banyak pendapat yang bermunculan tentang siapa orang yang berhak menggantikan Ogodei untuk duduk di singgasana kekaisaran. Karena terlalu lamanya waktu yang di habiskan tanpa kesepakatan menunjuk siapa pengganti Ogodei untuk menjadi Khan yang teragung di Mongol., apalagi anak tertua Ogodei, Guyuk, tidak berada di sana waktu itu, maka terbukalah ksempatan untuk menemoatu kedukuan tersebut salah satunya adalah Temuge Otchigen, adik kandung Jenghis Khan. Ia berkeinginan untuk mengambil singgasana kekaisaran dengan cara paksa.
Untuk mencapai tujuan tersebut , Temuge mndatangi perkemahan Gayuk Khan bersama pasukannya yang bersenjata lengkap. Ketika Toregene (ibunda Gayuk) mengetahui perencanaan tersebut, ia langsung mengirim utusannya untuk bertemu dengan Temuge, dan mencegah Temuge apa yang ia akan perbuat kepada Gayuk. Dan hendak merayu Temuge untuk mengubahnya keinginanya dan berbalik mendukung untuk memilih anaknya. Ternyata rencana Toregene berjalan dengan lancar bahkan Temuge meminta maaf dan menyesal apa yang ia akan lakukan. Toregene yang bersikerar ingin menjadikan anaknya untuk menjadi kaisar menggantikan sang ayah. Ia berusaha keras selama empat tahun membujuk para kerabatnya. Dan ketika iti ia memiliki seorang pelayan terdekatnya bernama Fatima yang berasal dari Mahad Tous. Ia berbeda dengan pelayan lain, ia sangat cerdas, dan pandai menjaga rahasia sang Khatun(gelar bangsawan wanita bangsa Mongol), setelah ia mempunyai informasi kelamahan para anggota kerajaan, an memegang rahasia semua orang, dan ia melihat keadaaan sudah sangat mendukung untuk meyukseskan rencananya, maka iapun mengirim utusan ke sulur pejabat untyuk melantik anaknya Guyuk Khan menjadi Khagan tertinggi.
Pada tahun 644 H/1246 M, Majelis Kurultai dilangsungkan di tepi danau bagian barat Mongolia. Di mulai pelantikan, tetapi Guyuk menolak karena keadaanya yang lemah dan sering sakiy-sakitan, namun para pejaba memaksanya akhirnya Guyuk Khan menerima jabatan tinggi itu, dengan syarat agar pewaris tahtanya nanti harus berasal dari keturunannya.Khagnan sendiri memperlakukan utusan khalifah dengan sangat baik, namun surat yang diteimanya isinya hanya ancaman dan intimidasi
Giyuk Khan adalah petualang sejati dan pejuang yang senang bertempur di medan perang atau menaklukan bangsa lain. Sifatnya nsangat mirip dengan kakeknya, Jenghis khan. Tidak lama setelah ia di amanatkan untuk menjadi kaisar Mongol, ia langsung menekankan kepada para pejabat, pemimpin daerah, panglima, dan bangsawan lain ungtuk memperhatikan undang-undang yang terdapat pada Ilyasa untuk tidak melanggarnya.
Guyuk Khan Wafat, ketika Ogodei wafat, setelah Guyuk resmi sebagai kaisar Mongol, maka ia merasa berkewajiban untuk menundukan Batu guna menyelesaikan masalah pertentangan antara Batu dengan dirinya secara personal dan dengan keluarga Ogodei secara lebih umum. Namun belum sampai ia menjejakkan kaki di perbatasan Samarkand, ia meninggal dunia pada bulan Rabiul Tsani 647 H/1249 M.[7]

5.      Monke Khan
Setelah Guyuk Khan wafat, maka ada pengganti selanjutnya untuk memimpin kekaisaran banghsa Mongol, anank-anak Goedei menyerukan bahwa yang harus menjadi pemimpin kaisar adalah Shiremun, namun untuk itu mereka harus meminta ijin kepada Amir Batu karena Amir Batu adalah amir yang tertua dan paling tinggi derajatnya. Ketika Amir di jemput oleh anak-anak Goedei, untuk hadir dalam Majlis Permusyawaratan krulturan dan penobatan, namun jawaban Amir Batu adalah tidak bisa hadir karena sakit yang dideritanya. Dengan gantinya ia mengirim undangan kepada para petinggi negara, namun para petinggi negara t=sebagian tidak ada yang datang, maka pemilihan itu di ulang untuk ke dua kalinya di awal tahin baru yang dihadiri oleh seluruh petinggi negara dan panglima untuk meresmikan Monke Khan teragung yang baru. Majlis itu berlangsung pada bulan Dzulhijjah 648 H/1260 M, di ibukota Karakorukum.[8]
6.      Hulagu Khan
Setelah bangsa Mongol berhasil menguasai wilayah Khawarizm maka tidak ada yang menghalanginya jalan mereka menuju arah barat. Penguasa negri Islam sebenarnya sudah tau betapa pentingnya kesultanan kHwarizm bagi mereka untuk menjadi tembok penghalang yang kuat antara mereka dengan pasukan Mongol, namun tidak ada gerakan dari mereka untuk membantu kekuatan pertahanan Khawarizm.
Sebagaimana Monke yang telah memprediksi akan membawa keberhasilan yang gemilang. Dan dia telah mengutus beberapa petunjuk jalan untuk mengetahui kondisi jalan yang akan dilalui oleh pasukan Mongol yang di pimpin oleh Hulagu, mulai dari karakorum hingga pesisir sungai laihun. Bahkan mereka mebuat jembatan untuk menyebrangi sungai tersebut. Hulagu ,setelah ia mendengar petuah dari kakaknya, maka Hulagu pun mulai membawa pasukannya berangkat meninggalkan ibukota Mongol Karakorum, pada tahun 651 H/1253 M. Di perjalanan Hulagu mendapatkan bala bantuan, dan pasukan Hulagu telah membawa kapal-kapal besar untuk menyebrangi sungai-sungai yang cukup besar. Bantuan personil pun diberikan oleh pemerintah setempat untuk ikut bergabung dengan Hulagu.
Pada bulkan Sya’ban 653 H/1255 M, Pasukan Hulagu sampai di Samarkand, dan mereka menetap disana selama empat puluh hari, lalu mereka melanjutkan jalan menuju kota kesh (Shahrisbz), di sana mereka disambut oleh gubernur dan para pembesar Khurasan dengan mempersembahkan beberapa hadiah sebagi ketundukan mereka kepada bangsa Mongol. Hulagu berada dikota tersebut selama satu bulan, disana Hulagu mengirimkan surat kepada para Raja dan sultan untuk membantu menghancurkan benteng-benteng Ismailya, jika mereka menolak maka mereka mendapat ancaman dari Hulago, bahwa nasib mereka akan sama seperti Ismailiyah.
Setelah itu Hulagu Khan menaklukan Syiah Ismailiyah, pada bulan Dzulhijjah 653 H/ 1256 M, Hulahu mengintruksikan untuk menghentikan kapalnya yang melintasi sungai Jaihun agar mereka membangun jembatan untuk dilintasi oleh bangsa Mongol, melanjutkan jalannya ke benteng-benteng Ismailiyah, dibenteng tersebut ada yang di taklukan dengan akal bulus ada juga yang taklukan dengan cara penyeranagn. Satu persatu bentenf tersebut dikuasai hingga benteng Almout yang berada di paling akhir akhirnya mereka dapat menaklukannya pada tahun 654 H/1257 M.[9]



BAB III
PENUTUPAN

KESIMPULAN

Bangsa Mongol mulai dikenal di akhir abad ke 6 Hijriah, bangsa yang dikenal dengan kekiatannya. Mereka juga dalam tiga decade dapat menguasai Kepulauan jepang, benua pasifik, dan benua eropa. Bangsa mongol tinggal di benua bagian Asia di anatara sungai Sayhoun dan Sungai Joyhoun di sisi barat hingga perbatasan Cina. Tempat utama bangsa Mongol kala itu mereka menyesuaikan musim, dimusim dingin mereka tinggal didaerah bawah bukit gununh, jika pada musim panas mereka tinggal ke atas puncak gunung, agar merasa tetap aman bagi diri mereka dan ternak mereka.
Suku-suku yang mebentuk bangsa Mongol, Dari suku etnik turkinya, ada suku Kirgyz dan suku Karluk,sedangkan pada suku etnin non turki ada Suku Khitai, suiu Tatar, suku kehereit dan suki Naiman. Dalam kehidupan banhsa mongol mereka muali mebabagi ksta menjadi tiga bagian akasta yakni yang pertama kaum paling terhormat, yang ke dua kaum Nokor, dan yang ke tiga kaum awam dan kaum budak belian.
Menurut penuturan sebagian besar ahli sejarah, Jengis Khan dilahirkan di bantaran Sungai Onon pada tahun 1155 Masehi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ia dilahirkan pada tahun 1167 Masehi. Jengis Khan memiliki nomor wahid untuk memimpin pasukan hingga ia dapat mengalahkan siapapun musuh yang ada di hadapannya, dari suku apapun, bangsa apapun di dunia. Di awal abad ke-13 hampir seluruh wilayah dunia yang dikenal pada saat itu berada di wilayah kekuasaanya. Siapapun yang mendengar nama Jengis Khan akan takut dan bergindik, baik masa hidup ataupun telah mati.
Semasa kanak-kanak ia bernama Tamujin, yang artinya “Manusia Baja.” Sementara sejarah lebih mengenalnya dengan nama Jengis Khan. Panglima tertinggi bangsa Mongol itu memiliki kecerdasan luar biasa dalam hal-hal berikut. Jenghis khan wafat dengan banyak sekali meninggalkan istri dan selir, dan jenghiskan memiliki 9 anak dari seluruh istrinya, empat di antaranya ia dapatkan dari istri pertama, istrinya yang bernama Borte. Keempat anaknya tersebut adalah : Jochi, Chagatal, Ogodel, dan Tolui.







DAFTAR PUSTAKA

Dodi Rosyadi. Lc(Penerjemah), Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol,(jakarta Timur:AL-Kautsar,2017)
Suryanti, Peranan Dinasti Ilkhan (Bangsa Mongool) Terhadap peraddaban Islam Pasca Kehancuran Dinasti Abbasiyah Di Baghdad Tahun 1258-1343 M, Makasar.



[1] Dodi Rosyadi. Lc(Penerjemah), Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol,(jakarta Timur:AL-Kautsar,2017)hlm.33-44
[2] Dodi Rosyadi. Lc(Penerjemah), Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol,(jakarta Timur:AL-Kautsar,2017)hlm.72-108
[3] Suryanti, Peranan Dinasti Ilkhan (Bangsa Mongool) Terhadap peraddaban Islam Pasca Kehancuran Dinasti Abbasiyah Di Baghdad Tahun 1258-1343 M, Makasar., hal., 83-91
[4] Dodi Rosyadi. Lc(Penerjemah), Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol,(jakarta Timur:AL-Kautsar,2017)hlm.280-287
[5]Dodi Rosyadi Lc.(penerjemah),Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol,(jakarta Timur, Al-Kautsar,2017)hlm.288
[6]Dodi Rosyadi Lc.(Penerjemah), Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol(Jakarta Timur:Al-Kautsar,2017)Hlm.291-292
[7]Dodi Rosyadi Lc.(Penerjemah),Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol(Jakarta Timur:Al-Kautsar,2017)hlm.295-300
[8]Dodi Rosyadi Lc.(Penerjemah),Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol(Jakarta Timur:Al-Kautsar,2017)hlm.300-302
[9]Dodi Rosyadi Lc.(Penerjemah),Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol,(Jakarta Timur:Al-Kautsar,2017)hlm.208-212

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...