KERAJAAN KUTAI
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad 16
Dosen
Pembimbing : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd.,M.A
Disusun
oleh :
Ainy
Musthofiyah (173231057)
Wahyu
Angga Afrizal (173231059)
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Indonesia
sangat mudah menerima masuknya kebudayaan Hindu-Budha dimana kebudayaan itu
berasal dari Indi yang dibawa ke Indonesia. Masuknya agama Hindu-Budha sangat
berpengaruh dengan kebudayaan Indonesia yang membawa perubahan diberbagai aspek
kehidupan baik sosial, ekonomi, budaya, dan juga pemerintahan.
Di
Indonesia banyak peninggalan Hindu seperti Candi, Yupa, Prasasti dan Kerajaan.
Yang salah satunya adalah Kerajaan Kutai. Kerajaan Kutai merupakan kerajaan
tertua di Indonesia yang muncul pada abad ke 5 masehi yang terletak di tepi
sungai Mahakam kabupaten Muara Kaman,Kalimantan Timur.
Keberadaan
kerajaan tersebut dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang berbentuk yupa
berjumlah 7, yang bertulis dengan huruf palawa dan bahasa sansekerta. Pengaruh
ajaran kerajaan tersebut membuktikan bahwa telah masuknya pengaruh ajaran hindu
dalam kerajaan kutai.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
sumber sejarah kerajaan Kutai?
2. Bagaimana
keadaan sosial Masyarakat?
3. Apa
saja peninggalan kerajaan Kutai?
C. Tujuan
Penulisan
1. Mahasiswa
dapat mengetahui sejarah kerajaan Kutai
2. Mahasiswa
dapat memahami keadaan sosial masyarakat
3. Mahasiswa
dapat mengetahui peninggalan Kerajaan Kutai
4. Mahasiswa
dapat mengambil pelajaran dari sejarah kerajaan Kutai
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Berdirinya Kerajaan Kutai
Kerajaan
kutai berberada di Hulu sungai Mahakam Kabupaten Muara Kaman , Kalimantan
Timur, yang merupaka kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Dibuktikan dengan
adanya prasasti atau Yupa yang berbentuk tugu batu, bertuliskan huruf pallawa
dan bahasa sansekerta yang diperkirakan dari tahun 400 M(abad ke-5).
Pengguna
nama kerajaan Kutai tersebut diambil dari tempat ditemukannya prasasti Yupa
tersebut. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang
dibuat oleh para Brahmana atas kedermawanan raja Mulawarman. Raja Mulawarman
merupakan raja yang baik, putra dari Aswawarman dan merupakan cucu dari
Kudungga. Sebagian ada yang menduga bahwa kata kutai dicocokan dengan berita
Cina “kho-thay” yang mana “kho” berarti kerajaan dan “thay” berarti besar.
Selain Cina, sebagian ahli berpendapat bahwa nama Kutai berasal dari kata
“quettaire” yang memikliki makna hutan belantara. Akan tetapi para peneliti
lebih condong ke India disebabkan pengaruh budaya India yang lebih banyak
menyebar, misalnya bahasa sansekerta dan huruf pallawa.
Memang
tidak terdapat prasasti yang menjelaskan
secara detai mengenai hal tersebut. Hingga sekarang masih sedikit bukti
yang telah ditemukan untuk menelusuri jejak kerajaan Kutai ini. Kerajaan Kutai
terlihat ekstensinya berkat ditemukannya prasasti yang berjumlah tujuh buah.
Dari
prasasti yang didapat, pendiri kerajaan Kutai adalah Kudungga dilanjut oleh
anaknya yaitu Aswawarman dan mencapai puncak kejayaan pada amsa Mulawarman.
Menurut ahli sejarah nama Kudungga merupakan nama asli pribumi yang belum
terpengaruh oleh kebudayaan Hindu. Namun anaknya Aswawarman diduga telah masuk
Hindu atas dasar kata “warman” pada namanya yang merupakan berasal dari bahasa
sansekerta.
Diyakini
dan dipercayai bahwa kerajaan Kutai memiliki kekuasaan wilayah yang luas.
Terdapat tiga kabupaten yaitu kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kertanegara,
dan Kutai Timur.
Raja-raja
yang merupakan raja yang pernah memimpin Kerajaan Kutai, yaitu Maharaja
Kudungga, Maharaja Aswawaman, Maharaja Mulawarman, Maharaja Gajayana Warman,
Maharaja Marawijaya Warman,dll.
B. Sumber
Sejarah
a. Sumber
Prasasti
Didalam
kerajaan Kutai ada 7 Prasasti yang disebut prasasti Yupa. Yupa adalah sebutan
bagi tiang dari batu digunakan untuk mengikatkan korban (hewan) yang akan di
persembahkan kepada dewa-dewa.
Bahasa
yang dipakai didalam prasasti Kutai tersebut adalah bahasa sansekerta dan
disususn dalam bentuk syair. Huruf yang dipakai adalah huruf pallawa. Pallawa
adalah nama sebuah dinasti di India Selatan yang abjadnya bnyak dipakai di
Indonesia.
Prasati
kutai tidak berangka tahun, tetapi dengan membandingkan huruf-hurufnya dengan
Pallawa yang dipakai di India. Dapat diperkirakan bahwa prasasti kutai berasal
dari abad V.
b. Sumber
Temuan Arkeologi
Dikota
bangun Kalimantan Timur, ditemukan arca Buddha yang memperlihatkan langgam seni
arca Gandhara. Ciri seni arca ini tampak pada sikap tangan dan hiasan jala pada
telapak tangan arca Buddha dari Kota Bangun. Selainitu ada juga arca yang
memperlihatkan sifat sifat kehidupan , diantaranya mukhalingga yang ditemukan
di Sepauk dan arca Ganesya yang ditemukan di Serawak. Di Bukit Brubus Muara
Kaman, tempat ditemukannya prasati Yupa, banyak ditemukan arca-arca perunggu
oleh para penggali liar sekitar tahun 1990. Sayangnya rac tersebut tidak
tersimpan di museum sehingga tidak dapat mengetahui jenis arca tersebut.
Ditanjung
serai ditemukan sebuah kotak yang berbentuk pipih yang sudah kosong, ditemukan
juga sisa-sisa bangunan pondasi dari batu kapur, serta beberapa struktur bata
yang sudah tertimbun dengan tanah. Juga ada manik-manik dari kaca,karnelian dan
tanah bakar (terakota). Gelombang ditemukannya tugu Yupa panjangnya 260cm,
disebutnya lesung batu.
Tidak
banyak data yang didapat dari penemuan tersebut namun dapat diperkirakan adanya
kegiatan keagamaan ditempat tersebut pada masa Mulawarman. Sementara sejumlah
arca Hindu-Buddha yang ditemukan didalam Gunung Kombeng Kabupaten Kutai Timur ,
diperkirakan berasal dari masa yang lebih muda dari masa Mulawarman adanya
sistem Mandala yang sama dengan yang ada di Jawa Tengah dari abad VII-IX.
C. Kehidupan
Sosial,Politik,Budaya, Ekonomi dan Agama
Berdasarkan
prasasti Kutai bahwa pada abad V didaerah Kutai terdapat suatu masyarakat
Indonesia yang telah menerima pengaruh Hindu sehingga dapat mendirikan kerajaan
yang teratur menurut pola pemerintahan di Indi. Dengan demikian, dapat
diperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan bagi akulturasi antara budaya
India dan Indonesia dalam masa awal tersebut.
Dari
prasasti Kutai pula adanya suatu dinasti. Terlihat jelas dari nama yang memakai
dan yang dipakai bagi raja-raja India. Hanya raja pertama yang namanya merupakan
nama asli yaitu Kudungga.
Dari
dua prasasti Mulawarman menyebutkan adanya tempat suci yaitu Waprakeswara.
Menurut Krom, Waprakeswara merupakan suatu tempat yang berpagar, semacam punden
desa. Menurut Poerbatjaraka, Wapraskeswara merupakan nama lain dari Agastya
atau Haricandana. Agastya adalah pendeta (resi) murid yang utama dari dewa Siwa
serta dianggap menjadi perantara dewa dengan manusia.
Menurut
Hariani Santiko, Waprakeswara merupakan lapangan suci untuk bersaji sesuai
dengan aturan kitab Weda dan Brahma. Dengan keterangan dalam prasasti dapat
dipastikan bahwa agama yang dianut oleh mulawarman adalah agama Siwa, yang
sangat umun di Jawa dan Bali.
Tentang
susunan masyarakat, Kutai sudah terdapat strata sosial berdasarkan keagamaan.
Bahasa Sanksekerta merupakan bahasa resmi bagi golongan Brahmana. Golongan
Kasatria dari keluarga Mulawarman. Golongan Waisya dari golongan pedagang. Pola
pemukiman menggambarkan adanya perkotaan yang benar-benar mantap. Hal ini
mengacu pada tempat tinggal Mulawarman yang letaknya tidak jauh dari tempat
yang sangat disucikan yang sudah di Indiakan. Pura hanya dikelilingi oleh
perumahan para brahmin serta tempat yang dihuni oleh anggota garis keturunan
keluarga kerajaan. Agak jauh dengan tempat tersebut ada tempat-tempat kecil dan
tanah raja serta daerah yang dihuni oleh para tetua desa dan keluarganya yang
merupakan daerah kekuasaan tepi sirinya (pinggirannya). Raja Mulawarman sendiri
mempercayai tiga dewa besar yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa.
Kehidupan
politik kerajaan Kutai ini memiliki turun temurun artinya kepemimpinan akan
terus berlanjut kepada anak, cucu, hingga cicitnya. Sistem pemerintahan
tersebut sudah diterapkan sejak kepemimpinan Aswawarman.
Melihat
letak kerajaan Kutai pada jalur perdagangan dan pelayaran antara Barat dan
Timur, maka aktivitas perdagangan menjadi mata pencarian yang utama. Rakyat
Kutai sudah aktif terlibat dalam perdagangan internasional, dan tentu saja
mereka berdagang pula sampai ke perairan Laut Jawa dan Indonesia Timur untuk mencari barang-barang dagangan
yang laku dipasaran Internasional.
D. Masa
Kejayaan dan Kemunduran Kerajaan Kutai
Pada
salah satu Yupa yang ditemukan dikawasan kerajaan Kutai, didapat sebuah
informasi yang menyebutkan cikal bakal lahirnya kerajaan Kutai adalah berkat
seorang Kudungga yang kemudian digantikan oleh Mulawarman, kemudian Aswawarman
(putra dari Mulawarman). Pada era Mulawarman inilah Kutai mengalamu masa
kejayaan. Ketika itu daerah teritorial diperluas lagidan rakyatnya pun sejahtera.
Bukti lain adalah dari kegiatan ekonomi. dalam salah satu Yupa yang disebutkan
bahwa Mulawarman telah mengadakan sebuah upacara korban emas dengan jumlah yang
sangat banyak. Kemajuan tersebut datang dari munculnya golongan terdidik yaitu
golongan kasatria dan brahma. Mereka golongan yang diprediksi telah bepergian
jauh sampai ke India menuju pusat penyebaran agama Hindu di Asia.
Adapun
mata pencarian utama kerajaan kutai adalah beternak sapi,bercocok tanam, dan
berdagang. Kondisi kerajaan yang berada ditepian sungai mahakam yang menjadikan
tanah didaerah tersebut sangat subur untuk bercocok tanam. Kegiatan perdagangn
tersebut susdah menjalin hubungan dagang ke beberapa daerah seperti China dan
India melalui selat Makasar.
Kerajaan
kutai runtuh pada saat seorang raja terakhir tewas terbunuh yaitu bernama
Maharaja Dharma Setia ditangan raja dari kerajaan Kutai Kertanegara ke-13 yang
bernama Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Setelah itu kerajaan kutai kertanegara
berevolusi sehingga menjadi sebuah kerajaaan islam yang diberi nama Kesultanan
Kutai Kertanegara.
E. Peninggalan-Peninggalan
Kerajaan Kutai
1. Prasasti
Yupa
2. Ketopong
Sultan
3. Kalung
Ciwa
4. Kura-Kura
Emas
5. Pedang
Sultan Kutai
6. Keris
Bukit Kang
7. Singgasana
Sultan
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Suwardono.2013.Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha.Yogyakarta:Penerbit
Ombak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar