Senin, 16 April 2018

MAKALAH PROBLEMATIKA SIFAT TUHAN


                                  PROBLEMATIKA SIFAT TUHAN
             Dosen : Ali Mashar, S.Pd., M.A.

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Budaya
 
Disusun Oleh :
Lisan Nul Hasannah                (173231039)
Ade Muis Ashari                     (173231045)
Rita Purnamasari                     (173231048)
Nur Afni Sedyowati               (173231062)
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Dalam Islam diajarkan mengenai pokok pokok ajaran islam yang didalamnya mencakup semua berbagai ajaran yang perlu kita ketahui. Salah satu pokok ajarannya ialah Iman Kepada Allah swt, yang artinya kita mengimami dan menyakini akan adanya Allah dan mempercayainya dengan sepenuh hati. Selain mempercayai adanya Allah kita juga harus mempercayai akan sifat sifat yang terdapat pada-Nya baik itu sifat wajib, jaiz, dan mustahil bagi Allah.
Sifat Allah menurut aliran Kalam memiliki artian yang luas dan memiliki problematika dalam setiap alairan ilmu kalam. Aliran aliran ini memiliki pandangan yang cukup berbeda dalam dan kompleks bagi setiap alirannya. Perbedaan pendapat sering terjadi anatara aliran aliran ilmu kalam sehingga menimbulkan berbagai pendapat mengenai sifat sifat tuhan.
Disini kita akan mempelajari secara dalam mengenai problematika sifat tuhan berdasarkan aliran ilmu kalam dan ahli hadist. Sehingga kita akan mengetahui bagaimana pendapat mereka dan perbedaan mengenai sifat sifat tuhan baik menurut aliran ilmu kalam atau ahli  hadits. Pembahasan mengenai problematika ini dirasa sangat perlu dibahas lebih mendalam dan mendetail agar kita bisa membedakan yang mana sifat yang mutlak terdapat pada Allah.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana pendapat Aliran Maturidi mengenai sifat Tuhan?
2.    Bagaimana pendapat Ahlu Hadist mengenai sifat Tuhan?
3.    Bagaimana pendapat Aliran Mu’tazilah mengenai sifat Tuhan?
4.    Bagaimana pendapat Aliran Asy-‘Ariyah mengenai sifat Tuhan?

C.  TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pendapat Aliran Maturidiyah mengenai sifat Tuhan
2.      Untuk mengetahui pendapat Ahlu Hadist mengenai sifat Tuhan
3.      Untuk mengetahui pendapat Aliran Mu’tazilah mengenai sifat Tuhan
4.      Untuk mengetahui pendapat Aliran Asy-‘Ariyah mengenai sifat Tuhan



BAB 2
                                                    PEMBAHASAN

A.  AL- MATURIDI
Paham Al-Maturidi tentang makna sifat Tuhan cenderung mendekati paham Mu’tazilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
Maturidiah Bukhara yang mempertahankan kekuasaan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Persoalan banyak yang kekal mereka selesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu juga dengan mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu tidak kekal.
Maturidiah Samarkand sependapat dengan Mu’tazilah dalam menghadapi ayat-ayat yang memberi gambaran Tuhan bersifat dengan menghadapi jasmani ini. Al-Maturidi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, mata, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.
Demikian pula, Maturidiah Bukhara sependapat dengan Asy’ariah dan Maturidiah Samarkand bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Al- Bazdawi (421-493) mengatakan bahwa Tuhan kelak memperlihatkan diri-Nya untuk kita lihat dengan mata kepala, menurut apa yang ia kehendaki.
Aliran Maturidiah Bukhara dan Maturidiah samarkand berpendapat bahwa Al-Qur’an itu kekal tidak diciptakan. Maturidiah Bukhara berpendapat sebagaimana dijelaskan oleh Bazdawi , kalamullah ( Al-Qur’an ) adalah sesuatu yang berdiri dengan Dzat-Nya. Adapun yang tersusun dalam bentuk surat yang mempunyai akhir dan awal , jumlah dan bagian-bagian, bukan kalamullah secara hakikat, melainkan Al-Qur’an dalam pengertian kiasan ( majaz ).

    
B.  Sifat Allah Menurut Ahlu Hadis
Pandangan Ibnu Taimiyah tentang sifat-sifat Allah
1.    Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah disampaikan oleh Allah atau Rasulnya. Sifat yabg dimaksud tersebut yaitu:
a.    Sifat salabiyah, yaitu qidam, baqa, mukhalafatul lil hawadisi, qiyamuhu binafsihi dan wahdaniyat.
b.    Sifat Ma’ani, yaitu qadrah, iradah, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam.
c.    Sifat khabariah (sifat yabg diterangkan Al-Qur’an dan Al-Hadist walaupun akal bertanya-tanya tentang maknanya), seperti keterangan yang menyatakan bahwa Allah berada di langit, Allah berada di Arrasy, Allah turun kelangit dunia, Allah dilihat oleh orang yang beriman disurga kelak, wajah, tangan dan mata Allah.
d.   Sifat Idhafah, yaitu sifat Allah yang disandarkan kepada makhluk seperti Rabbiul’alamin, khaliqul kaum, dll.
2.    Percaya sepenuhnya terhadap nama-nama-Nya, yang Allah dan Rasul-Nya disebutkan seperti Al-Awwal, Al-Akhir dll.
3.    Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah tersebut dengan:
a.    Tidak mengubah maknanya kepada makna yang tidak dikehendaki
b.    Tidak menghilangkan pengertian
c.    Tidak mengingkarinya
d.   Tidak menggambar-gambarkan betuk Tuhan, baik dalam pikiran maupun hati, apalagi dengan indra
e.    Tidak menyerupakan sifat-sifat-Nya dengan sifat Makhluk-Nya.
Berdasarkan penjelasan diatas, Ibnu Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat Mutasyabihat. Menuntutnya ayat atau hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, denhgan catatan tidak men-jastimkan, tidak menyerupai dengan makhluk.
                    i.     Sifat Alloh Menurut Pandangan Ahlu Hadis (Imam Ahmad Ibn Hambal)
Menurut pemikiran Ahmad Ibn Hambal, (164-241 H), Imam Mazhab termuda dan temannya Dawud ibn Ali al-Ishfahani, mengikuti paham para ahhal inili Hadis pada zaman Nabi dan sahabat. Mengenai sifat Alloh ini, keduanya mengambil cara yng aman yakni dengan beriman kepada apa yang disebutkan al-Quran dan Sunnah Rasul SAW., tanpa memberikan ta’wil. Alloh memiliki sifat seperti yang dijelaskan al-Qur’an, yaitu Maha Esa dalam segala segi, tidak ada bilangan, tidak ada bagian. Ia juga menjelaskan bahwa orang yang tidak mengakui Tuhan mempunyai sifat adalah keluar dari agama. Ia juga mengakui bahwa ayat-ayat mutasyabihat yang menyebutkan Alloh memiliki tangan, wajah, mata, setiap mukmin harus mengakui bagaimana Alloh menyifati diri-Nya dengan sifat itu. Tetapi ia tidak mau membahas itu secara mendalam karena tidak ada penjelasan Alloh yang lebih jelas.
           
C.  SIFAT ALLAH MENURUT MU’TAZILAH
Kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Definisi mereka tentang Tuhan, sebagaimana telah dijelaskan oleh Asy’ari, bersifat negatif. Tuhan tidak mempunyai  pengetahuan, tidak mempunyai kekuasaan, tidak mempunyai hajat dan sebagainya. Ini tidak berarti bahwa Tuhan bagi mereka tidak mengetahui, berkuasa dan sebagainya, tetapi bukan dengan sifat dalam arti sebenarnya. Artinya “Tuhan mengetahui dengan pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah Tuhan.” Menurut kaum Mu’tazilah, sifat adalah sesuatu yang melekat. Apabila sifat Tuhan yang qadim, ada dua yang qadim, yaitu dzat dan sifat-Nya. Washil Bin Atha’ seperti dikutip uleh Asy-Syahrastani berkata, “Siapa yang mengatakan sifat yang qadim berarti telah menduakan Tuhan.” Ini tidak dapat diterima karena merupakan perbuatan yang syirik. Dan apa yang disebut sebagai sifat menurut Mu’tazilah adalah dzat Tuhan.
Kaum Mu’tazilah sendiri memiliki lima doktrin populer yang disebut sebagai al Ushul al Khomsah. Kelima doktrin itu adalah sebagai berikut ini.
1.      Al Tauhid
Yang berarti mengesakan Tuhan. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat sendiri yang berada diluar Dzat, karena akan berakibat banyaknya yang qodim. Mereka juga menolak sifat jasmaniah (antropomorfisme) bagi Tuhan karena akan membawa tajsim dan tasybih.
2.      Al ‘Adlu
Yaitu keadilan Tuhan. Keadilan yang dimaksud Mu’tazilah mengandung arti bahwa Tuhan wajib berbuat baik dan terbaik bagi hamba-Nya (Al Shalah wal Ashlah) Tuhan wajib berbuat sesuai norma dan aturan yang ditetapkanNya, dan Tuhan tidak memberi beban diluar kemampuan hamba.
3.      Al Wa’d wa al Wa’id
Yakni janji dan ancaman Tuhan untuk membalas perbuatan hambaNya pasti akan terlaksana. Ini bagian dari keadilan Tuhan.
4.      Al Manzilah Bain al Manzilatain
Berarti tempat diantara dua tempat. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar statusnya tidak lagi mukmin dan juga tidak kafir, ia berada diantara keduanya.
5.      Al Amr bin al Ma’ruf wa al Nahyu ‘an al Munkar
Yaitu perintah untuk berbuat baik dan larangan perbuatan munkar. Ini merupakan kewajiban dakwah bagi setiap orang Mu’tazilah 
Dari kelima doktrin Mu’tazilah diatas dapat diambil kesimpulan mengenai pandangan Mu’tazilah mengenai sifat-sifat Tuhan. Dari doktrin nomor satu yang berbunyi al Tauhid, Mu’tazilah jelas memandang bahwa Tuhan tidak memiliki sifat  yang melekat diluar dzatNya. Karena apabila hal itu ada akan berakibat banyaknya yang Qodim. Mereka juga menolak Jasmaniyah bagi Tuhan, karena akan timbul pengumpamaan dan pemiripan dengan zat yang lain.

D.  SIFAT ALLAH MENURUT ASY-‘ARIYAH
Al-asy’ariyah mempunyai pendapat tentang sifat-sifat Allah di antaranya al-alim,al-qudurat,al-sama,al-basar,al-hayah,iradah,dan lainnya.alasy’ariyah juga meyakini sifat Allah yang bersifat khobaruyah,khobariyah itu di artikan bahwa allah mempunyai tangan,kaki,wajah,betis,dan yang lainnya tanpa di tentukan bagaimananya.
Al-asy’ari,Allah mempunyai ilmu karena alam yang di ciptakan demikian teratur,alam tidak ada nada kecuali di ciptakan  oleh Allah yang memiliki ilmu.Argumrn ini di perkuat dalam quran Nisa surah 4 ayat 166.
Terjemahannya:tetapi allah menjadi saksi atas (al-quran) yang di turunkan kepadamu,(Muhammad)allah menurunkan dengan ilmu.menurut asyaari ayat tersebut menunjukan bahwa allah mengetahui dengan ilmu.Oleh karena itu,mustahil ilmu Allah itu zatnya.jika Allah mengetahui dengan zatnya,maka zatnya itu merupakan pengetahuan.
Dan mustahil al-alim(pengetahuan)merupakan alim(yang mengetahui)atau zatnya allah yang di artikan sifat sifatnya.mustahil jika allah mengetahui dengan zatnya sendiri karena demikian zatnya adalah prngetahuan,dalam paham al-asy’ariah sifat-sifat allah adalah sebagaimana yang tertera dalam quran dan hadis.sifat-sifat tersebut merupakan sifat-sifat yang sesuai dengan zat allah sendiri dan sekali-kali tidak menyerupai sifat-sifat makhluk.Allah melihat tidak seperti makhluk begitu pula allah mendengar tidak seperti makhluk.








                          
     BAB 3
KESIMPULAN

Sifat Allah menurut aliran Kalam memiliki artian yang luas dan memiliki problematika dalam setiap aliran ilmu kalam. Aliran aliran ini memiliki pandangan yang cukup berbeda dalam dan kompleks bagi setiap alirannya. Perbedaan pendapat sering terjadi anatara aliran aliran ilmu kalam sehingga menimbulkan berbagai pendapat mengenai sifat sifat tuhan.
Menurut Kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Kaum Mu’tazilah memiliki lima doktrin populer yang disebut sebagai al Ushul al Khomsah. Kelima doktrin itu adalah Al Tauhid, Al ‘Adlu, Al Wa’d wa al Wa’id, Al Manzilah Bain al Manzilatain, Al Amr bin al Ma’ruf wa al Nahyu ‘an al Munkar.
Paham Al-Maturidi tentang makna sifat Tuhan cenderung mendekati paham Mu’tazilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan. Maturidiyah dibagi menjadi dua yaitu Maturidiah Bukhara  dan Maturidiah Samarkand.
Al-asy’ariyah mempunyai pendapat tentang sifat-sifat Allah di antaranya al-alim,al-qudurat,al-sama,al-basar,al-hayah,iradah,dan lainnya.alasy’ariyah juga meyakini sifat Allah yang bersifat khobaruyah,khobariyah itu di artikan bahwa allah mempunyai tangan,kaki,wajah,betis,dan yang lainnya tanpa di tentukan bagaimananya.
Sedangkan menurut ah Pandangan Ibnu Taimiyah tentang sifat-sifat Allah Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah disampaikan oleh Allah atau Rasulnya. Ibnu Taimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat Mutasyabihat. Menuntutnya ayat atau hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan sebagaimana adanya, denhgan catatan tidak men-jastimkan, tidak menyerupai dengan makhluk.
Menurut pemikiran Ahmad Ibn Hambal, (164-241 H), mengenai sifat Alloh ini, mengambil cara yng aman yakni dengan beriman kepada apa yang disebutkan al-Quran dan Sunnah Rasul SAW., tanpa memberikan ta’wil. Alloh memiliki sifat seperti yang dijelaskan al-Qur’an, yaitu Maha Esa dalam segala segi, tidak ada bilangan, tidak ada bagian.
.


DAFTAR PUSTAKA


Hasil Review 4 Tugas Ilmu Kalam SPI 2B 2018.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...