BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Perjalanan sejarah Cirebon mulai dari sebuah daerah kecil hingga menjadi wilayah kesultanan yang memiliki otoritas tidak lepas kaitannya dengan kerajaan Padjajaran saat itu. Hal ini juga menjadi menarik mengingat kerajaan Islam di Cirebon dengan pemimpin pertama adalah Syarif Hidayatullah yang merupakan seorang wali sembilan sekaligus sebagai seorang raja.
Posisi Syarif Hidayatullah yang kemudian akan dikenal sebagai Sunan Gunung Djati yang menempati peran ganda, yakni sebagai wali atau ulama sekaligus sebagai raja yang memimpin rakyatnya pada saat itu menjadi menarik untuk dikaji. Bagaimanakah beliau memainkan kedua peran itu, strategi dakwah apa digunakan dimana seseorang duduk sebagai raja sekaligus sebagai wali. Peran yang seperti itu jarang dialami oleh wali yang sembilan lainnya. Selain itu Sunan Gunung Djati juga termasuk wali yang wilayah dakwahnya cukup luas mencakup luar wilayah Cirebon hingga Banten yang kerajaanya berdiri tidak lepas dari campur tangan seorang Syarif Hidayatullah.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah berdirinya Kesultanan Cirebon?
Bagaimana Proses penyebaran Islam di Kesultanan Cirebon?
Bagaimana kehidupan politik, masyarakat dan masa kejayaan Kesultanan Cirebon?
Bagaimana sejarah keruntuhan Kesultanan Cirebon?
Apa saja yang termasuk peninggalan Kesultanan Cirebon?
TUJUAN
Mengetahui sejarah berdirinya Kesultanan Cirebon.
Mengetahui proses penyebaran Islam di Kesultanan Cirebon.
Mengetahui kehidupan politik, masyarakat dan masa kejayaan Kesultanan Cirebon.
Mengetahui sejarah keruntuhan Kesultanan Cirebon.
Mengetahui benda-benda yang termasuk peninggalan Kesultanan Cirebon.
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH BERDIRINYA KESULTANAN CIREBON
Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Berdirinya Kesultanan Cirebon tidak bisa dilepaskan dari empat proses yang berurutan empat proses itu adalah sebagai berikut :
Cirebon sebagai sebuah desa didirikan oleh Ki Danu Sela atau Ki Gedeng Alang-Alang pada sekitar tahun 1420-1430 Masehi.
Cirebon sebagai Keadipatian dibawah kekuasaan Pajajaran didirikan oleh Walangsungsang (Cakrabuana) pada sekitar 1460 Masehi.
Cirebon sebagai Kerajaan Islam yang merdeka dari Pajajaran didirikan oleh Cakrabuana dan keponakannya, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), pada tahun 1482 Masehi.
Sesuai dengan timeline perjalanan Sejarah Kabupaten Cirebon dikatakan bahwa Cirebon memisahkan diri dari Pajajaran terjadi pada Tahun 1482 Masehi dengan waktu titi mangsa Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi.
Pemproklamiran Cirebon sebagai Negara merdeka, didukung oleh Kesultanan Demak dan para Tumenggung dan Adipati pesisir utara Jawa yang sudah menerima Islam. Sementara itu Gelar yang disematkan kepada Syarif Hidayataullah selaku Raja Cirebon adalah Kanjeng Sinuhun Jati.
Selain memproklamirkan diri menjadi sebuah Kerajaan Islam yang merdeka dari Pajajaran, Cirebon juga kemudian meneguhkanya dengan perbuatan, dibuktikan mulai setelah itu kemudian Cirebon memutuskan untuk tidak lagi mengirimkan pajak tahunan berupa garam dan terasi ke Pajajaran.
Pemproklamiran kemerdekaan Cirebon dan penghentian pengiriman pajak yang dilakukan Cirebon ini kemudian membuat marah Pajajaran, dengan segera Pajajaran mengirimkan 100 prajurit pilih tanding yang dilengkapi Bedhil guna memberi pelajaran pada Cirebon, penyerangan tersebut dipimpin oleh Patih Jagabaya. Namun demikian, penyerangan tersebut kemudian dapat dipatahkan Cirebon, seluruh tentara dan bahkan Patihnya kemudian justru membelot dan masuk Islam.
Peristiwa pemproklamiran kemerdekaan Cirebon dari Pajajaran serta penyerangan yang dilakukan oleh Pajajaran tercatat dalam Naskah Mertasinga, meskipun tidak secara spesifik menjelaskan latar belakangnya. Selain hal tersebut juga dikatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi ketika Prabu Siliwangi selaku Kakek Syarif Hidayatullah masih hidup. Tidak berselang lama, setelah peristiwa tersebut kemudian Prabu Siliwangi meninggal dunia. Inilah yang menjadi sebab kemudian antara Pajajaran dan Cirebon selanjutnya menjadi tegang dan berlawanan melihat sang Prabu selaku penengah sudah wafat.
Cirebon mulai mengalami kehancuran ketika Cirebon dibagi menjadi 3 Kesultanan, Yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Kerato Kacirebonan. Sehingga kerajaan Cirebon menjadi terpecah-pecah. Disamping itu adanya perebutan kekuasaan sepeninggal Panembahan Gerilya pada tahun 1702. Adanya campur tangan VOC dalam kerajaan yang mengadu domba mereka juga menjadi penyebab hancurnya Kesultanan Cirebon.
PROSES PENYEBARAN ISLAM DI KESULTANAN CIREBON
Sebelum Cirebon melepaskan diri dari Padjajaran, Cirebon yang saat itu dipimpin Oleh Walangsungsang merupakan seorang muslim yang taat maka aturan-aturan dalam wilayah kekuasaannyapun kemudian mengikuti agama pemimpinnya, inilah sebab kemudian Cirebon menjelma menjadi keadipatian Islam pertama sekaligus menjadi pusat Dakwah Islam di Pasundan.
Peran dari Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah dalam penyebaran Islam di Cirebon dimulai ketika beliau pulang dari Arab Saudi ke Pulau Jawa dan menemui pamannya, Raden Walasungsang atau Cakrabuana yang saat itu menjabat sebagai adipati cirebon. Cara dakwah dari beliau juga bisa dibilang unik, kerena beliau memerankan peran ganda, yakni sebagai seorang ulama atau waliyullah yang mendapat gelar Sayidin Panatagama atau dalam Tradisi Jawa dianggap sebagai wakil Tuhan di dunia, serta memerankan peran sebagai seorang raja yang memimpin setelah Walasungsang meninggal. Ia menggantikan pamannya hingga mampu melepaskan diri dari pengaruh Padjajaran.
Setelah meninggalnya Walasungsang, yang menggantikan untuk penyebaran Islam di daerah Cirebon tentu adalah Syarif Hidayatullah. Setelah berhasil mengislamkan masyarakat Cirebon, beliau memperluas daerah penyebaran Islam hingga Majalengka, Kuningan, Kawali, Sunda Kelapa, dan Banten. Sampai akhirnya pada tahun 1525, Sunan Gunung Djati berhasil menjadikan Banten sebagai Banten sebagai kerajaan Islam di Jawa Barat. Beliau lalu kembali ke Cirebon, dan menyerahkan Bnaten kepada puntranya yang bernama Sultan Maulana Hasanuddin yang dikemudian hari akan melahirkan raja-raja Banten.
Jalan dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Djati ini terbilang cukup lama atau perlahan karena tidak memaksakkan kehendak, tidak melakukan kekerasan, beliau murni menyebarkan Islam sebagai Ulama, serta menjadi seorang raja yang menumpas ketamakan. Sosk pemimpin yang seperti itulah yang selama itu ditunggu oleh rakyat Cirebon, sehingga tidak heran pula bahwa masa kejayaan Cirebon juga terjadi di masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati.
Hubungan Cirebon dengan Negeri-negeri Islam di Nusantara terjalin baik berkat Syarif Hidayatullah seperti hubungan dengan Demak, Campa, Malaka dan Pasai. Hubungan Cirebon dengan Pusat Kerajaan Pajajaran kemudian menjadi buruk setelah peristiwa perjanjian Pajajaran dan Portugis pada Tanggal 21 Agustus 1522 Masehi.
KEHIDUPAN POLITIK, MASYARAKAT, DAN MASA KEJAYAAN
Cirebon menjadi pusat perdagangan karena letaknya di daerah pesisir utara pulau Jawa. Perdagangan ini melalui 2 jalur yaitu jalur darat dan jalur laut. Pedagang dari luar negara yang mendukung perekonomian di Cirebon adalah Cina dengan barang dagangannya yaitu sutra dan keramik. Masyarakat Cirebon dibedakan berdasarkan status sosialnya yang dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu golongan Raja, golongan Elite, golongan Nonelite, dan golongan Budak. Mereka mempunyai kedudukan didalam lingkungan kerajaan.
Masa Kejayaan atau Kememasan Cirebon sebagai Sebuah Kerajaan berdaulat dimulai sejak diangkatnya Syarif Hidayatullah sebagai Sultan Cirebon I sampai dengan berakhirnya pemerintahan Sultan Cirebon ke II yaitu Pangeran Agung atau Panembahan Ratu yakni dari mulai tahun 1479-1649 Masehi. Masa Syarif Hidayatullah, Cirebon banyak melakukan gebrakan-gebrakan politik dengan menjalin persahabatan dengan kesultanan-kesultanan di Nusantara terutamanya dengan Demak.
Pada Masa kepemimpinan Syarif Hidatullah, Ia memberlakukan pajak yang jumlah, jenis, dan besarnya disederhanakan sehingga tidak memberatkan rakyat yang baru terlepas dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran. Dalam posisinya sebagai Raja ini pula, pengembangan agama Islam melalui dakwah lebih diprioritaskan dengan menyediakan sarana ibadat keagamaan dengan mempelopori pembangunan Masjid Agung, dan masjid-masjid Jami’ di wilayah bawahnya.
Masa kejayaan selama kepemimpinan Syarif Hidayatullah juga ditandai dengan melakukan pembangunan besar-besaran, seperti Pembangunan Istana, Masjid Agung serta insfrastruktur lainnya, pada awal-awal menjadi Sultan Cirebon, urusan administrasi Pemerintahan sepertinya masih dipegang oleh uwaknya Pangeran Cakrabuana, sedangkan Syarif Hidayatullah sendiri aktif dalam mendakwahkan Islam dipelosok-pelosok Pasundan. Barulah setelah uwaknya wafat kemudian Syarif Hidayatullah mengurusi keduanya.
Dalam masa Syarif Hidayatullah juga Cirebon tercatat dapat menaklukan Galuh (Pajajaran Timur) dengan dibantu oleh Demak. Sementara itu Cirebon juga kemudian berhasil menaklukan Pajajaran Barat (Pakwan) melalui Kesultanan Banten yang juga pendiriannya digagas oleh Syarif Hidayatullah. Pada masa ini juga Cirebon berhasil mengislamkan negeri-negeri bawahan Pajajaran, seperti Sindangkasih, Singaphura, Surantaka, Indramayu, Talaga, dan masih banyak yang lainnya.
Pada masa Syarif Hidayatullah memerintah sebenarnya ada dua Pangeran yang digadang-gadang menggantikan jabatan beliau sebagai sultan, yaitu Pangeran Pasarean dan Pangeran Carbon atau Pangeran Sedang Kemuning (1495-1552) akan tetapi keduanya wafat sebelum dinobatkan menjadi Sultan.
Dalam masa tuanya Syarif Hidayatullah banyak menghabiskan waktu untuk mengajar Agama di Pesantrennya yang berada di Gunung Jati, dalam masa ini urusan pemerintahan kemudian diserahkan kepada Fatahillah atau Fadilah Khan yang merupakan menantunya sendiri.
Pada tahun 1568 Masehi Syarif Hidayatullah wafat dalam usia yang sangat sepuh, dan setelah kewafatan Sultan Cirebon I ini kemudian, pada Tahun yang sama diangkatlah Pangeran Agung yang bergelar Panembahan Ratu menjadi Sultan Cirebon ke II, Panembahan Ratu tersebut merupakan Cicit dari Syarif Hidayatullah, yang merupakan anak Pangeran Sedang Kemuning Bin Pangeran Pasarean Bin Syarif Hidayatullah.
Pada masa Panembahan Ratu memerintah, terjadi beberapa pemberontakan, diantaranya pemberontakan Arya Kuningan, Pemberontakan Datuk Pardun Murid Syekh Siti Jenar Menuntut Balas atas Kematian Gurunya yang di hukum mati di Cirebon dan pada masa ini juga terjadi peristiwa terbakarnya Masjid Kasultanan Cirebon, namun masalah tersebut dapat ditangani oleh Sultan. Panembahan Ratu berkuasa dan menjadi Sultan Cirebon dari mulai tahun 1568-1649 Masehi.
Dalam tahun 1649 Masehi Panembahan Ratu Wafat, sementara itu ternyata sebelumnya Pangeran yang digadang-gadang menggantikan beliau yaitu Pangeran Sedang Gayam (Pangeran Dipati Anom Carbon II) ternyata wafat sebelum dinobatkan, dengan demikian selanjutnya yang menjadi Sultan Cirebon ke III yaitu Pangeran Putra dengan Gelar Panembahan Girilaya yang merupakan anak Pangeran Sedang Gayam. Pangeran Sedang Gayam memerintah dari mulai Tahun 1649-1662 Masehi. Pada masa Panembahan Girilaya inilah awal mula benih-benih kemunduran Kerajaan Cirebon muncul kepermukaan.
KERUNTUHAN KESULTANAN CIREBON
Benih-benih kemuduran Kerajaan Cirebon dimulai pada Tahun 1649-1662 Masehi ketika Cirebon dipimpin oleh Panembahan Girilaya, sebab-sebab kemunduran Cirebon ini ditenggarai karena bangkitnya tiga kekuatan Politik besar di pulau Jawa yaitu Kesultanan Mataram yang terletak di Timur Cirebon, dan VOC Belanda serta Kesultanan Banten yang terletak di Barat Cirebon.
Mataram, Banten dan VOC dalam tahun itu menggenjot ekonominya untuk membiyayai Militer besar-besaran, sementara Cirebon sendiri cenderung fakum dalam memperbesar kekuatan ekonomi dan militernya, hal ini wajar sebab Cirebon memang dalam waktu itu lebih banyak melakukan dakwah-dakwah Islam ke Pelosok Pasundan.
Pada Tahun 1649 Sampai dengan 1662 terjadi gesekan kepentingan di Cirebon, Mataram pada waktu itu menginginkan Cirebon tetap dibawah kendalinya, pun Juga dengan Banten merasa perlu menarik Cirebon untuk bergabung dengan Banten agar membangkang dari Mataram, Dalam Istana Cirebon terpecah menjadi dua kubu, ada yang condong ke Mataram dan adapula yang Condong ke Banten.
Puncaknya, pada tahun 1660-1661 Ketika Panembahan Girilaya berkunjung ke Mataram untuk seba ke Sultan Mataram yang sekaligus juga sebagai mertuanya, dimana dalam kunjungannya itu Sultan Mataram Menekan Cirebon Agar tegas menolak Banten dan tetap berada dibawah Mataram, namun demikian ternyata kemudian Panembahan Girilaya menolaknya hingga kemudian atas peristiwa penolakan tersebut Panembahan Girilaya ditawanan Kesultanan Mataram, dan tidak boleh pulang ke Cirebon hingga kewafataanya pada tahun 1662.
Setelah Kewafatan Panembahan Girilaya, terjadi kegoncangan di Cirebon, di Cirebon selama 16 tahun setelah kewafatan Sultan Cirebon ke III tersebut tidak mempunyai Seorang Sultan, Urusan Pemerintahan dipegang oleh Pejabat Pengganti Sultan yang pada waktu itu terpecah menjadi dua Kubu, Kubu Pro Mataram dan Banten.
Menghadapai hal tersebut Kubu Pro Mataram kemudian melantik Pangeran Merta Wijaya (Sultan Sepuh Raja Syamsudin) menjadi Sultan Cirebon atas restu Mataram dan Pernyataan Setia kepada Mataram, pelantikan tersebut kemudian ternyata memperparah perseteruan didalam Istana, karena kubu pro Banten tidak menerimanya.
Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Pangeran Wangsakerta yang bertanggung jawab atas pemerintahan di Cirebon selama ayahnya tidak berada di tempat,khawatir atas nasib kedua kakaknya. Kemudian ia pergi ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Ageng Tirtayasa (anak dari Pangeran Abu Maali yang tewas dalam Perang Pagarage), beliau mengiyakan permohonan tersebut karena melihat peluang untuk memperbaiki hubungan diplomatic Banten-Cirebon. Dengan bantuan Pemberontak Trunojoyo yang disupport oleh Sultan Ageng Tirtayasa, kedua Pangeran tersebut berhasil diselamatkan.
Namun rupanya, Sultan Ageng Tirtayasa melihat ada keuntungan lain dari bantuannya pada kerabatnya di Cirebon itu, maka ia mengangkat kedua Pangeran yang ia selamatkan sebagai Sultan, Pangeran Mertawijaya sebagai Sultan Kasepuhan & Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Kanoman, sedangkan Pangeran Wangsakerta yang telah bekerja keras selama 10 tahun lebih hanya diberi jabatan kecil, taktik pecah belah ini dilakukan untuk mencegah agar Cirebon tidak beraliansi lagi dengan Mataram.
Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi kerajaan Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya.
Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
a. Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
b. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
c. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).
Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.
Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).
Sesudah kejadian tersebut, pemerintah kolonial belanda pun semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga peranan istana-istana kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya semakin surut. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, ketika kekuasaan pemerintahan kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon.
PENINGGALAN-PENINGGALAN KESULTANAN CIREBON
Kesultanan Cirebon merupakan salah satu kerajaan islam yang pernah jaya di Indonesia, sebagai salah stau kerajaan islam Kesultanan Cirebon memiliki beberapa peninggalan diantaranya :
Istana
Di Kessultanan Cirebon terdapat empat istana termasuk pecahanya, diantaranya yaitu :
Istana Pakungwati/Istana Kasepuhan
Istana ini merupakan istana awal Kesultanan Cirebon yang di bangun pada tahun 1482 M. Istana ini dikenal dengan Istana Kasepuhan tetapi juga di kenal dengan Istana Pakungwati, dimana Pakungwati merupakan nama istri Syarif Hidayatullah ( Raja Pertama Kesultanan Cirebon ).
Istana Kasepuhan dibangun oleh Aristek Majapahit yang bernama Raden Sepat maka tidaklah mengeharankan jika Istana ini bentuknya sama précis dengan struktur model Istana Majapahit, total kelseuruhan Istana Kasepuhan ini terbilang luas yaitu sekitar 20 hektar, didalam Istana ini terdapat tempat tinggal Raja, Pintu Gerbang atau Gapura, tempat tunggu tamu kerajaan (Siti Hinggil), sampai pada hutan dalam dalam Istana, untuk pengamanan istana ini dibangun pula tembok tinggi yang mengeliling Istana, diperkirakan tembok yang mengelilingi Istana Cirebon ini pada mulanya memiliki tinggi 10-15 meter.
Istana Kanoman
Istana Kanoman adalah Istana kedua yang ada di Cirebon, Istana ini dibangun pada tahun 1678, pembangunan Istana ini diakibatkan oleh perpecahan kerajaan Cirebon, sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 1677-1678 Kerajaan Cirebon terpecah menjadi dua kerajaan, Kerajaan Induk dengan waris istana lama (Istana Pakung Wati), sementara kerajaan Cirebon yang baru kemudian membuat istana sendiri, istana baru itulah kemudian yang belakangan dikenal dengan sebutan Istana atau Keraton Kanoman. Luas Istana ini kurang lebih 6 Hektar. Didalamnya terdapat tempat tinggal Raja, Pintu dan Pintu Gerbang Kerajaan. Gaya bangunan keratin ini mengikuti perpaduan gaya bangunan Jawa dan Eropa, dengan ciri khas tembok batu bercat putih, selain itu ada juga sedikit unsure pernak-pernik Cinanya.
Istana Keprabonan
Istana Keprabonan adalah Istana ke III yang berada di Cirebon, dibangun pada tahun 1696, dibangun oleh Putera Mahkota Sultan Kanoman I, ia menyerahan tahta kerajaan ke adiknya, karena ia lebih suka untuk memperdalam agama dan menjadi pemuka agama, beliau kemudian membangun sebuah isatana yang dikenal dengan Istana Keprabonan, Istana ini adalah istana yang paling kecil dari Istana-istana yangt ada di Kerajaan Cirebon, karena memang istana ini pada mulanya didedikasikan sebagai tempat belajar keagamaan.
Istana Kacirebonan
Istana Kacirbonan adalah istana ke tiga warisan Kerajaan Cirebon, Istana ini dibangun pada tahun 1800, pembangunan Istana ini disebabkan oleh terpecahnya Kerajaan Cirebon yang semula dua kerajaan (Kasepuhan dan Kanoman) menjadi tiga kerajaan, Kerajaan Cirebon yang didirikan tahun 1800 itu dinamakan Kerajaan Kacirebonan, maka Istananyapun kemudian disebut juga dengan Istana Kacirebonan. Istana ini secara keseluruhan memiliki luas 46.500 meter persegi, didalamnya terdapat tempat tinggal raja, mushala dan pintu gerbang.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah Masjid Kerajaan Cirebon yang didirkan pada tahun 1482 hampir bersamaan dengan pendirian Istana Pakungwati, arsiteknya Sunan Kalijaga dan Raden Sepat dari Majapahit, Dizamannya Masjid ini merupakan Masjid terbesar dipulau Jawa, mengalahkan Masjid Agung Demak. Karena masjid ini diarsiteki oleh Sunan Kalijaga maka model arsitekturnya tidak terlampau jauh dengan Masjid Agung Demak, hanya saja masjid ini tidak memiliki kubah kerucut sebagamana lazimnya Masjid-masjid di Jawa yang diarsiteki Sunan Kalijaga.
Masjid Merah Panjunan
Masjid Panjunan adalah Masjid terawal sebelum didirikannya Masjid Agung Sang Ciptarasa, Masjid ini didirikan oleh Syarif Abdurahman transmigran dari Irak (Bagdad) yang kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati, Masjid ini didirikan dengan menggunakan Arsitektur lokal, bangunannya menyerupai bangunan Istana maupun Masjid Agung Kesultanan Cirebon
Pelabuhan
Sebagai sebuah Kerajaan Pesisir sudah barang tentu Kerajaan Cirebon memiliki pelabuhan Kerajaan, Pelabuhan Kerajaaan Cirebon bernama pelabuhan Muara Jati, pelabuhan ini sebenarnya telah ada sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Kondisi pelabuhan Muara Jati sekarang sudah berubah dari bangunan asalnya, mengingat pelabuhan ini hingga sekarang masih berfungsi sebagai pelabuhan di Cirebon.
Taman
Pada tahun 1690-1703 Pangeran Arya Carbon berhasil mendirikan suatu taman air, yang dikelilingi hutan rindang, taman ini merupakan taman kerajaan terbesar dijamanya di Indonesia, taman ini juga nantinya yang menjadi inspirasi Kesultanan Yogyakarta untuk membuat tamansari.
Naskah
Ada beberapa Naskah peninggalan Kerajaan Cirebon, jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan, akan tetapi naskah-naskah Cirebon yang paling terkenal dan sudah menjadi referensi para sejarawan Cirebon adalah adalah sebagai berikut:
Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Naskah Wangsakerta, dan Naskah Mertasinga
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Proses berdirinya Kesultanan Cirebon tidak bisa lepas dari tiga proses penting yaitu saat Cirebon sebagai desa, lalu berkembang menjadi Kadipaten dengan Adipatinya yang bernama Walasugsang, serta saat Cirebon berhasil merdeka dari pengaruh Padjajaran dengan raja atau sultan pertamanya yaitu Syarif Hidayatullah yang memerankan peran ganda yakni sebagai ulama atau wali yang menyebarkan ajaran Islam serta sebagai raja yang mengayomi rakyatnya.
Posisi sebagai raja itu dimanfaatkan oleh Syarif Hidayatullah dengan baik. Dengan menjadi figur raja, ia menyebarkan Islam dengan penuh kedamaian, tanpa kekerasan, dan pemaksaa. Ia juga dikenal sebagai raja yang tidak suka memberatkan rakyatnya, diantaranya dengan praktik pemberlakuan pajak yang ringan. Hasilnya, Ia begitu disayangi oleh rakyatnya hingga wafatnya dan dimakamkan di Gunung Djati. Pada masa kepemimpinannya pula, Kesultanan Cirebon berada di masa kejayaannya.
Cirebon mulai mengalami kehancuran ketika Cirebon dibagi menjadi 3 Kesultanan, Yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Kerato Kacirebonan. Sehingga kerajaan Cirebon menjadi terpecah-pecah. Disamping itu adanya perebutan kekuasaan sepeninggal Panembahan Gerilya pada tahun 1702. Adanya campur tangan VOC dalam kerajaan yang mengadu domba mereka juga menjadi penyebab hancurnya Kesultanan Cirebon.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. “Sejarah Berdirinya Cirebon dan Perkembangannya”. http://kuliahkucatatandankehidupan.blogspot.co.id/2015/12/sejarah-berdirinya-perkembangan.html. Diakses pada 21 April 2018 Pukul 18.52 WIB
Rakhman, Dnany. 2016. “ Kesultanan Cirebon “. https://dhanyarrakhman.blogspot.co.id/2016/10/makalahkesultanancirebondhanyblogspot.html. Diakses pada 21 April 2018 Pukul 18.43 WIB
Anonim. 2017. “ Kerajaan Cirebon”. http://www.historyofcirebon.id/2017/05/kerajaan-cirebon-masa-pendirian.html?m=1. Diakses pada 12 April 2018 Pukul 10.43 WIB
Burhanudin, Jajat. 2012. Ulama Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia. Jakarta: Mizan Publika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar