Rabu, 25 April 2018

Makalah KERAJAAN PAJANG

       KERAJAAN PAJANG
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd. M.A.‘ 
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Indonesia Sampai Abad Ke-16

Disusun Oleh :
Nur Afni Sedyowati Naufal Hanif    Atik Septiani    Ahmad Farhan
BAB II
PEMBAHASAN

SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN PAJANG
Kerajaan Pajang merupakan kerajaan penerus Demak. Setelah kerajaan Demak mengalami kekacauan akibat perebutan tahta kepemimpinan Demak. Sepeninggal Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik tahta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang (Bojonegoro). Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal. Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang.
Jaka Tingkir menjadi pewaris tahta Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang. Jaka Tingkir adalah menantu dari Sultan Trenggana. Penyerangan terhadap Arya Penangsang itu, Jaka Tingkir dibantu oleh Ki Ageng Pamanahan. Atas jasa Ki Ageng tersebut, Jaka Tingkir memberikan hutan kepada Ki Ageng Pemanahan tepatnya di hutan Mentoak yang kelak menjadi Mataram.
Pengesahan Jaka Tingkir sebagai sultan Kerajaan Pajang (Boyolali) disahkan oleh Sunan Giri dan segera mendapat pengakuan dari seluruh kadipaten di Jawa tengah dan Jawa Timur. Sementara Demak dijadikan Kadipaten dengan adipatinya Arya Pengiri putra Sunan Prawoto. Kalau kerajaan Demak berada dipesisir akan tetapi kerajaan Pajang diletakkan di pedalaman yaitu Pajang.
Peletakan Kerajaan itu, menuai kritik dari Sunan Kudus karena menurutnya di daerah pedalaman telah menganut kepercayaan Islam yang berbeda dengan kepercayaan Islam pesisir. Sunan Kudus menduga aliran kepercayaan Islam yang berbeda diprakarsai oleh Syekh Siti Jenar. Namun harapan Sunan Kudus agar tidak memindahkan ibu kota kerajaan ke pedalaman itu tidak dihiraukan, maka terjadilah pemindahan ibu kota kerajaan Demak ke Pajang dan lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajang.
Jadi, ketika Sultan Trenggana masih menjabat sebagai raja Demak, Mas Karebet atau sering disebut Jaka Tingkir (Putra Kebo Kenanga) diangkat sebagai mantu dan dinobatkan sebagai adipati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya. Namun ketika Sunan Prawata (pengganti Sunan Trenggana) mangkat, Hadiwijaya yang telah menyingkirkan Arya Panangsang (Jipang) dengan dukungan juru Mrentani tersebut menobatkan diri sebagai raja Pajang. Dengan demikian dapat disebutkan bahwa pendiri Kesultanan Pjang adalah Hadiwijaya.
Usia Kesultanan Pajang tidak lebih dari setengah abad yakni dari tahun 1549 hingga 1587. Karenanya tidak heran bila dalam waktu 38 tahun itulah, kesultanan Pjang hanya melahirkan tiga orang raja, yakni: Sultan Hadiwijaya (1549-1582), Arya Pangiri (1583-1587), dan Pangeran Banawa atau Sultan Prabuwijaya (1586-1587).
Bila menilik sejarah Kesultanan Pajang tidak diketahui masa kejayaanya. Mengingat sejk berdiri hingga masa keberakhiran riwayatnya, Pajang tidak bisa dibilang pernah mengalami puncak kejayaan. Bahkan selama pemerintahan Pajang berlangsung hanya diwarnai konflik politik di lingkup keluarga yang merupakan penyebab hancurnya kerajaan tersebut.

Konflik Sultan Hadiwijaya dengan Panembahan Senopati
Di masa Sultan Hadiwijaya, wilayah Mataram yang semula dianugerahkan pada Pemanahan atau Ki Ageng Mataram merupakan bawahan Pajang. Sesudah Pemanahan meninggal, Raden Bagus yang menggantikan kedudukannya berhasrat membebaskan Mataram dari bayang-bayang Pajang. Namun, hasrat Raden Bagus tidak pernah mendapatkan restu dari Juru Mrentani.
Ketika 40 mantri pamajekan Mataram merebut Tumenggung Mayang yang akan dibuang Hadiwijaya ke Semarang dari pasukan Pjang. Penyerangan orang-orang Mataram terhadap pasukan Pajang di Jatijajar itu diyakini Hadiwijaya sebagai bentuk perlawanan Raden Bagus terhadap raja Pajang. Karenanya, Hadiwijaya bertekad untuk menangkap Raden Bagus, hingga terjadilah perang besar antara Pajang dengan Mataram.
Sesudah peristiwa perang Pajang versus Mataram, Sultan Hadiwijaya yang dalam perjalanan pulang itu jatuh sakit. Tidak berapa lama akhirnya wafat. Sepeninggal Hadiwijaya, Sunan Kudus membuat kebijaksanaan. Di mana tahta kekuasaan Pajang diserahkan pada Adipati Demak – Arya Pangiri (putra Sunan Prawata) yang merupakan menantu Hadiwijaya. Sementara pangeran Banawa hanya dinobatkan sebagai Adipati di Kadipaten Jipang.
Konflik Arya Pangiri dengan Pangeran Banawa 
Sebagai penguasa Pajang Arya Pangiri mempunyai banyak kelemahan dalam memimpin pajang. Selain sifatnya yangmudah curiga, Arya Pangiri tidak peduli pada kesejahteraan rakyatnya. Arya Pangiri hanya berfokus untuk menaklukkan Mataram.
Selain kelemahan di muka, Arya Pangiri memiliki kelemahan lain yakni mendatangkan banyak penduduk dari Demak dan menyingkirkan penduduk asli Pajang. Kebiasaan Arya Pangiri ini membuat sebagian warga Pajang kehilangan pekerjaan kemudian merampok dan mencuri. Sementara sebagian warga Pajang lainnya berpindah ke Jipang untuk menghamba pada Pangeran Banawa.
Sesudah mengetahui tata pemerintahan Arya Pangiri yang cenderung menggencet nasib warga asli Pajang, Pangeran Banawa mengutus duta ke Mataram. Duta tersebut menyampaikan maksud Pangeran Banawa agar Raden Bagus bersedia menjadi Raja Pajang  menggantikan Arya Pangiri.
Raden Bagus menolak untuk dijadikan Raja di Pajang. Raden Bagus justru menyampaikan kepada Duta Jipang agar Banawa bersedia menjadi Raja di Pajang dan berpesan agar Pangeran Banawa pergi ke Mataram bersama pasukannya dengan melalui Gunungkidul.
Duta Jipang meninggalkan Mataram.Mengahadap Pangeran Banawa dan menyampaikan pesan Raden Bagus. Sesudah menangkap maksud tersirat dari Raden Bagus, Banawa dan pasukannya berangkat ke Mataram melalui Gunungkidul. Setiba di Weru, Banawa disambut Raden Bagus, pasukan Mataram, dan orang-orang Pajang anti Arya Pangiri.
Hasil pembicaraan antara Pangeran Banawa dan Raden Bagus adalah menyerbu Pajang dan menurunkan Arya Pangiri dari tahta kekuasaan. Dari Weru, berangkatlah pasukan gabungan Jipang, Mataram, dan orang-orang Pajang menuju Ibukota Pajang. Perang pasukan Arya Pangiri yang terdiri dari orang-orang Demak dan Kudus dengan pasukan gabungan yang dipimpin Pangeran Banawa dan Raden Bagus itu tak dapat dihindari. Dari perang tersebut, Pajang dapat ditaklukkan. Arya pangiri yang diturunkan dari tahta kekuasannya dipulangkan ke Demak. Kemudian Pangeran Banawa dinobatkan sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Prabuwijaya.

Masa Surut Kerajaan Pajang
Pangeran Banawa naik tahta sebagai raja Pajang ke-3. Hubungannya dengan Raden Bagus semakin erat saat Prabuwijaya menikahkan putrinya bernama Dyah Banowati dengan Raden Mas Jolang. Kelak pernikahan antara Dyah Banowati dengan Raden Mas Jolang melahirkan Raden Mas Rangsang (Sultan Agung).
Beberapa naskah babad memberitakan dengan versi yang berbeda tentang akhir pemerintahan Sultan Prabuwijaya di Pajang. Versi pertama menyebutkan , Sultan Prabuwijaya meninggal karena meninggal pada tahun 1587. Versi kedua menyatakan, Sultan Prabuwijaya turun tahta karena menjadi ulama di Gunung Kulakan bergelar Sunan Parakan. Versi ketiga mengabarkan, Sultan Prabuwijaya minggalkan tahta Pajangv karena membangun pemerintahan di Pemalang.
Sepeninggal Sultan Prabuwijaya, Raden Bagus menobatkan Pangeran Gagak Baning sebagai adipati di Pajang. Karena status hanya sebagai kadipaten bawahan Mataram, maka riwayat kesultanan Pajang dianggap berakhir. Sungguhpun belum bisa disebut bahwa Pajang mengalami kehancuran.
Perkembangan manuskrip pada zaman Pajang merupakan perkembangan yang tidak bisa dipisahkan dari zaman Demak. Namun tampaknya agak sulit megidentifikasi secara secara mandiri dan perperiode kerajaan. Satu karya manuskrip yang banyak dianggap berasal dari zaman ini adalah Serat Nitisruti.
Metode Penyebaran Agama Islam/ Islamisasi
Jaka Tingkir adalah seorang Kampiun Perdamaian, yang berkeinginan mendinginkan panasnya api persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan suku Jawa  yang  bibitnya  telah ditabur sejak zaman Majapahit dan Pajajaran. Bisa dikatakan pula bahwasanya ikatan Sumedang-Cirebon-Pajang yang dibangun lewat hubungan guru-murid-saudara seperguruan, adalah prestasi terbesar Jaka Tingkir sebagai Raja Pajang dalam arena diplomasi regional yang bahkan tak bias dilakukan oleh para penguasa Demak.
Selain itu, Jaka Tingkir juga membalas budi kepada Sutawijaya yang telah berhasil membunuh Arya Penangsang. Sutawijaya dan ayahnya, Ki Ageng Pamanahan diberi hadiah tanah mentaok yang sekarang berlokasi di sekitar Kotagede, inilah cikal bakal dari Kesultanan Islam terkuat di Tanah Jawa, yaitu Mataram.

Sebagai Murid dari salah satu anggota Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga. Jaka Tingkir merasa berkewajiban melanjutkan dakwah sesuai dengan cara yang pernah dipergunakan oleh sang guru. Sunan Kalijaga selama ini telah merancang proyek kebudayaan Islam lokal dalam rangka  menyebarkan  nilai-nilai  religius  yang  senafas  dengan  tradisi  Jawa (pengadatan Jowo) melalui proses asimilasi dan akulturasi yang panjang. Sunan Kalijaga terkenal sebagai seorang   pujangga   yang   berinisiatif  menciptakan  karangan  cerita-cerita   pewayangan   yang kemudian  dikumpulkan  dalam  kitab-kitab  cerita  wayang  yang  sampai  sekarang  masih  ada.
Cerita-cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Hindu Jawa dengan corak kehidupannya  yang  ada,  tetapi sudah dimasuki unsur-unsur  ajaran Islam sebanyak  mungkin. Hal semacam inilah  yang  ingin  dilanjutkan oleh Jaka Tingkir  dengan  Kerajaan Pajang sebagai Laboratorium Dakwahnya.
Tokoh lain selain Sunan Kalijaga yang ajarannya dijadikan panutan  oleh  Jaka Tingkir dalam perkembangan Dakwah Islamiyah pada masa Kesultanan Pajang, adalah Malang Sumirang. Saking kuat pengaruhnya, namanya diabadikan dengan tinta emas di dalam Babad Jaka Tingkir. Malang Sumirang kadang tidak sepaham dengan Dewan Wali Songo, ia pernah berkata “tanpa melihat besar atau kecilnya dosa dan kesalahan, namun langsung mencap buruk terhadap suatu ajaran, cara pandang seperti ini tidaklah tepat dan benar”. Statement Malang Sumirang menunjukkan realitas sejarah di mana Dewan Wali Songo tak menyetujui cara dakwah Malang Sumirang yang menekankan aspek Tasawuf Ahlaki. Dalam rangka menangkal stigma tersebut, Malang Sumirang menjelaskan bahwa Tasawuf yang ia anut tidak menentang Syariat Islam tetapi justru memperdalam penghayatan dalam beragama. Malang Sumirang juga berkata, “Orang yang sudah memahami hakikat dirinya sendiri, sembahyangnya tidak akan melihat waktu,

ibarat air mengalir; berdoa selalu siang malam tanpa henti. Memuji Allah kapan saja dan dimana saja”. Bagi Malang Sumirang, shalat yang merupakan representasi syariat merupakan ritual yang penting namun seharusnya tak terbatasi oleh lima waktu saja. Allah dapat dan harus senantiasa diingat di dalam hati setiap saat dan dimana pun.
Dalam Babad Jaka Tingkir, di pupuh ke XXII, untaian tembang Mijil, dituliskan dengan nada memuji bahwa Malang Sumirang ikhlas menerima usulan Sunan Bonang yang menghendaki dirinya menjalani hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup di tumangan (api unggun). Hukuman mati terhadap Malang Sumirang membuktikan bahwa situasi ketika itu tidak memungkinkan seseorang mengambil sikap bersebrangan dengan cara, pemikiran maupun pemahaman keagamaan yang diikuti oleh penguasa, alhasil kekuasaan dari pemegang otoritas untuk melakukan interpretasi dalam bidang agama bertindak dengan memberangus tubuh siapapun yang menurut mereka mencoba menafsirkan agama sesuka hatinya.
Jaka Tingkir juga merekrut seorang pujangga besar bernama Pangeran Karanggayam, penulis karya filosofis berjudul Serat Nitisruti yang berisi ajaran moral dan mistisme Islam Jawa. Salah satu ungkapannya yang merepresentasikan struktur nalar mistik adalah, “bersumpahlah atas nama mati dan mempraktikkan cara bertapa ala leluhur. Tak henti melihat segala hal di muka bumi. Langit seisinya semuanya adalah hamba Allah. Teks ini dapat ditafsirkan sebagai hasrat untuk menjauhkan kebutuhan-kebutuhan duniawi. Kebutuhan utama adalah menghadirkan Allah di dalam jiwanya. Apabila Allah sudah hadir dalam jiwa manusia, secara otomatis kebutuhan apapun sudah tercukupi, manusia tidak akan menjadi serakah dan haus akan harta benda maupun kekuasaan yang dapat merugikan orang lain.

Dalam Lingkungan Istana, Jaka Tingkir berusaha menciptakan atmosfer yang Islami, yang ditandai dengan adanya tata tertib, sensitifitas dan estetika dengan memanfaatkan Adat Budaya Jawa seperti yang dicontohkan Sunan Kalijaga. Dikalangan istana terdapat adat walon, yakni tata krama yang diberikan sejak kecil. Misal : cara berpakaian, cara makan, cara bergaul dengan keluarga, tetangga, orang lain, dan sebagainya. Untuk memperhalus perasaan diberikan pelajaran kesenian dan sejumlah pendidikan seperti Pendidikan kasatupan, yaitu pendidikan pembentukan karakter yang ditempuh dengan melalui laku atau cara-cara tertentu. Hal itu sesuai dengan upacara ngelmu iku kelakone kanthi laku artinya ilmu pengetahuan itu dapat diperoleh dengan cara yang tidak mudah. Pendidikan itu bersifat lahirah dan batiniah. Pendidikan ini meliputi ngelmu jaya kawijayan, yakni pendidikan bertujuan agar seseorang memiliki kesaktian. Untuk mendapat tujuan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti bertapa, berpantang, dan berpuasa. Ngelmu pangawikan, yakni pendidikan yang bertujuan agar seseorang menguasai berbagai ilmu, misalnya, ilmu tentang menjinakkan kuda, harimau, buaya, burung perkutut, dan benda pusaka. Ngelmu kasantikan, yakni pendidikan yang bertujuan agar seseorang memiliki kebijaksanaan dan kesempurnaan hidup. Dengan metode semacam itulah, pada akhirnya Jaka Tingkir sebagai Penguasa Kerajaan Pajang berdakwah dengan memberi panutan kepada masyarakat bagaimana cara hidup sebagai seorang Muslim yang baik.
Transisi Maritim ke Agraris
Pada masa Kesultanan Demak, Islamisasi banyak terjadi di wilayah Pesisir. Hal ini disebabkan karena Pantai menjadi tempat bertemunya berbagai macam kebudayaan dari luar Nusantara. Hal tersebut berakibat pada tumbuhnya perkampungan pedagang Arab di Pesisir Utara Jawa. Dalam perkembangan selanjutnya, koloni dagang para pedagang Arab ini mulai memberikan kontribus dalam penyebaran Islam . Hal ini mempengaruhi pula perkampungan pedagang lain yang terdapat di sepanjang jalan perdagangan Asia Tenggara.
Disadari atau tidak, tumbuhnya Bandar-bandar baru itu dimana banyak Saudagar asing yang datang untuk berdagang, turut memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Kesultanan Demak pada awal masa Kekuasaanya.
Bukan hanya menyumbang devisa terhadap negara, makin intensnya komunikasi yang terjalin antara para penyebar islam baik itu mubaligh, kiai maupun sufi dengan para pedagang menciptakan hubungan Patron-Client, bahkan banyak diantara para saudagar yang menduduki jabatan penting di kerajaan. Tidak salah jika dikatakan bahwa, berdirinya Kesultanan Demak adalah kemenangan kelas saudagar dari Kerajaan Maritim terhadap Aristokrat Feodal pedalaman yang menguasai Imperium Majapahit.
Tidak hanya berhenti menjadi Penguasa Bandar Dagang, Demak bertransformasi menjadi Penguasa Lautan dengan menjalin Kerjasama militer bersama Kerajaan Aceh dan Kepangeranan Jepara. Pada tahun 1513, berkoalisi dengan angkatan laut Aceh, Demak melakukan penyerangan melawan Portugis di Malaka. Mereka membawa sekitar 100 kapal perang dengan kekuatan
12.000 kelasi. Kapal laksamana pemimpin perangnya diberi panser dari kapur. Meriam yang dibawa untuk menggempur Portugis di Malaka ini semua berasal dari Jawa. Begitu pun dengan Jepara. Dibawah pimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara mengirimkan bantuan militer kepada Kerajaan Aceh yang berperang melawan Portugis di Malaka.
Setelah Demak runtuh, kekuasaan pindah ke Pajang, di mana pusat kekuasaan beralih dari kawasan pesisir ke kawasan pedalaman. Peralihan pusat kekuasaan tersebut memberi dampak terhadap corak pemerintahan, lambat laun kehilangan taring khas bangsa maritim dan terkungkung dalam eksotisme budaya agraris.
Jaka Tingkir memiliki inovasi baru untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi lewat menggalakan perniagaan berbasiskan pengembangan komoditas seni-budaya yang sofistikatif. Hal itu dapat terlihat dari bandar laweyan dimana Jaka Tingkir mendukung berdirinya kampung kerajinan seperti Kampung Batik Laweyan, kampung mutihan dan beberapa kampung kerajinan lainnya yang membuat Pajang menjadi kerajaan yang terkenal kala itu. Seni budaya masa Jaka Tingkir juga mendapat perhatian tatkala Demak saat itu menjadi kadipaten dibawah kekuasaan Pajang. Selanjutnya keraton Kerajaan Pajang diperindah oleh Hadiwijaya, membangun masjid beserta makam dikampung Laweyan dan kemajuan dibidang lainnya

Kehidupan Kerajaan Pajang dari Berbagai Aspek
Kehidupan Politik Kerajaan Pajang
Kerajaan Pajang ini bisa dikatakan sebagai kerajaan bekas dari Demak. Hal ini karena sejarah berdirinya Kerajaan Pajang tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Demak. Pendiri Kerajaan Pajang adalah Joko Tingkir yang kala itu berhasil menumpas Aryo Penangsang. Aryo Penangsang sendiri adalah raja di Demak yang tidak diinginkan oleh peihak keluarga besar Demak. Dari sini kemudian keluarga meminta bantuan Joko Tingkir untuk menyingkirkan Aryo Penangsang. Setelah berjalannya waktu, Kerajaan Demak runtuh maka Joko Tingkir kemudian menggeser pusat pemerintahan di Demak ke Pajang yang sekaligus menjadi penanda berdirinya Kerajaan Islam Pajang.
Kehidupan politik Kerajaan Pajang ini sebenarnya mulai mapan dan stabil. Namun disayangkan perjalanan Kerajaan Islam Pajang tidak cukup lama karena beberapa konflik yang terjadi. Kerajaan Pajang sendiri berpusat di Jawa Tengah bekas Kerajaan Demak lebih tepatnya yaitu di daerah Kartasura dekat Surakarta atau Solo. Kerajaan Pajang ini sebenarnya meski muncul belakangan, pernah juga disebut oleh Hayam Wuruk dalam kitab Negarakertagama. Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, kerajaan Pajang dan kerajaan Demak sudah disinggung di dalam kitab tersebut.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Pajang
Meski merupakan kerajaan baru jika dibanding dengan Kerajaan Demak, namun secara ekonomi Kerajaan Pajang sangatlah baik. Kesejahteraan rakyatnya cukup terjamin dengan berbagai hasil bumi yang dihasilkan. Ketika Kerajaan Demak masih berkuasa, bahkan Kerajaan Pajang ini sudah berhasil mengekspor beras ke beberapa daerah melalui perniagaan dengan memanfaatkan Bengawan Solo sebagai jalur transportasi. Pada umumnya, masyarakat Pajang mengandalkan hasil kebun dan pertanian untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan Pajang berhasil menjadi lumbung beras pada sekitar abad ke 16 dan ke 17. Hal ini karena irigasi di daerah Pajang sangat bagus dengan adanya Bengawan Solo sehingga irigasi lancar yang kemudian membuat hasil pertanian melimpah.
Kelemahan masyarakat Pajang pada saat itu adalah ketidakmampuan dalam bidang perniagaan. Sehingga meski memiliki hasil agraris yang sangat melimpah, kedigdayaan ekonomi Kerajaan Pajang ini tidak berlangsung lama. Terlebih lagi perniagaan dengan basis laut atau maritim yang sedang ngetrend pada saat itu, semakin membuat Kerajaan Pajang tertinggal dengan kerajaan lain di bidang ekonomi perniagaan. Karena masyarakat pajang kurang ahli dalam masalah kelautan, padahal pada saat itu semua perdagangan hampir dilakukan di lautan.
Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Pajang
Meski kerajaan Pajang merupakan salah satu Kerajaan Islam di Jawa, namun pengaruh tradisi Hindu masih kentara. Sehingga beberapa kebudayaan pun masih ada yang menggunakan tradisi-tradisi Hindu. Masyarakat di Pajang juga masih banyak yang menjalankan beberapa tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Pada masa kejayaan Kerajaan Pajang, terjadi akulturasi budaya antara Hindu dan Islam yang kuat. Bahkan, kemunculan Kerajaan Pajang ini juga banyak yang menafsirkan kembalinya kekuasaan Islam kejawen dari Islam ortodok.
Demikian sedikit informasi mengenai Sejarah Kerajaan Pajang, Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya Kerajaan Islam Pajang yang bisa kami sampaikan untuk Anda semua. Semoga sedikit informasi mengenai sejarah Kerajaan Pajang dan kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya Kerajaan Pajang di atas bisa menambah pengetahuan kita semua mengenai sejarah Kerajaan Pajang.
Peninggalan Kerajaan Pajang
Berikut merupakan peninggalan-peninggalan kerajaan Pajang, yaitu:
Masjid Laweyan

Masjid Laweyan berada di daerah Solo tepatnya di kampung Batik, tepatnya di Dusun Pajang Rt 4 Rw 4, laweyan Solo. Masjid ini didirikan pada tahun 1546 M yang sampai sekarang masih ada dan digunakan para masyarakat setempat. Pada masa raja Joko Tingkir yang memerintah di kerajaan Pajang, masjid ini didirikan dan masjid ini kental dengan unsure tradisional jawa. Masjid ini pun menjadi letak sejarah tentang keberadaan Ki Ageng Henis karena masjid ini dekat dengan makam-makam raja dan kerabat kasunanan.
Masjid ini sangat dipengaruhi oleh kerajaan Surakarta yang sangat terlihat dari bangunan yang berubah-ubah. Pada salah satu komplek daerah masjid ini terdapat ada pemakaman untuk para bangsawan keraton Solo. Gerbang makamnya pun terdiri dari Betari Durga dan terdapat suatu simbolisme penjagaannya dari Betari Durga. Makam ini pun pernah direnovasi oleh Paku Buwono X bersama dengan renovasi Keraton Kasunanan.
Berikut nama-nama Raja kerajaan Pajang yang dikuburkan di komplek masjid Laweyan:
Ki Ageng Henis
Susuhunan Paku Buwono II
Permaisuri Paku Buwono V
Pangeran Widjil I Kadilangu
Nyai Ageng Pati
Nyai Pandanaran
Prabuwinoto
Dalang keraton kasunanan Surakarta
Kyai Ageng Proboyekso

Bandar Kabanaran

Bandar ini merupakan suatu pelabuhan yang terkenal. Pada saat Kyai Ageng henis tinggal di daerah Laweyan dengan dakwahnya beliau pun juga mengadakan bisnis perdagangan, yaitu karya yang terkenal adalah teknik pembuatan batik pada penduduk setempat. Perdagangan semakin ramai dan berkembang sangat pesat, karena itu arus lalu lintas yang padat sangat mendukung perkembangan perdagangan tersebut. Bandar kabanaran ini merupakan pelabuhan yang menghubungkan kerajaan Pajang dengan Bandar Besar Nusupan yang ada di tepi sungai bengawan Solo.
Pasar Laweyan
Pasar ini merupakan pusat perdagangan bahan pakaian dan kain tenun. Semenjak tahun 1546 M pasar ini banyak sekali memproduksi jenis batik yang berasal dari para masyarakat kampung tersebut. seperti halnya dengan tradisi membatik di masyarakat Laweyan. Teknik membatik ini pada awalnya dikenalkan oleh Ki Ageng Henis yang merupakan penasihat spiritual di Kerajaan Pajang. Pasar ini terletak di timur kampung Setono, di selatan Kampung Lor Pasar dan di utara Kampung Kidul Pasar.
Tidak jauh dari Bandar Kabanaran ada sebuah pasar yang di namai Pasar Laweyan. Pasar itu  dahulu kala merupakan pendorong utama kegiatan perdagangan di Bandar Kabanaran. Hingga sampai kini, pasar Laweyan masih di pakai masyarakat untuk melakukan transaksi perdagangan. Namun demikian, tidak ada sisa benda bersejarah yang menceritakan bagaimana sejarah peradaban bangunan pasar itu di bangun.
Kesenian Batik
Kerajaan pajang pada masa lampau juga mewariskan kesenian batik tulis. Batik yang selama ini di kenal oleh masyarakat. ternyata sejarah awalnya pembuatan batik pertama kali yang membuat adalah masyarakat laweyan saat masa kerajaan pajang.Meskipun kesenian batik Laweyan pernah pudar karena perkembangan batik printing yakni pada tahun 1980. namun kini ke populeran kain batik tulis ini kembali naik daun berkat minat masyarakat yang semakin besar terhadap kain batik tulis ini.

BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan
Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya yang merupakan penerus keturunan dari kerajaan Demak. Sultan Hadiwijaya mendirikan kerajaan Pajang pada tahun 1549 sampai 1582 dan diteruskan oleh Arya Pangiri pada tahun 1583 sampai 1587, dan diakhiri oleh Pangeran Banawa atau biasa dipanggil Sultan Prabuwijaya (1586-1587). Kesultanan Pajang berusia tidak lebih dari setengah abad dikarenakan adanya konflik-konflik politik di lingkup keluarga.
Keadaan ekonomi kesultanan Pajang yaitu menggunakan pertemuan aliran sungai Pepe dan Dengkeng dengan  Bengawan Solo untuk digunakan sebagai irigasi pertanian. Keadaan sosial budaya di kerajaan Pajang sangatlah Islami, karna adanya tata tertib, sensitifitas, dan estetika Adat Budaya Jawa seperti yang dicontohkan Sunan Kalijaga.
Kerajaan Pajang runtuh saat Pangeran Banawa naik tahta sebagai raja Pajang ke-3 saat beliau menikahkan dengan Dyah Bonawati dengan Raden Mas Jolang dan melahirkan Raden Mas Rangsang (Sultan Agung). Banyak versi yang mengatakan Pangeran Banawa lari dari kerajaan Pajang untuk mengurus sesuatu. Sepeninggalan beliau, Raden Bagus dinobatkan sebagai adipati Pajang. Karena statusnya seorang kadipaten bawahan Mataram, maka riwayat kesultanan Pajang dianggap berakhir, dan hal ini belum bisa dikatakan bahwa Pajang mengalami kehancuran. Walaupaun kerajaan Pajang berakhir, kita masih bisa melihat peninggalan-peninggalan Kejaraan Pajang , seperti Masjid Laweyan, Bandar Kabanaran, dan Pasar Laweyan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Sri Winata. Sejarah Islam di Tanah Jawa. Yogyakarta: Araska. 2017.

Arswendo Atmowiloto. Kitab Solo. (Surakarta : Pemerintah Kota Surakarta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,2009), dari Skripsi Dede Maulana. Peran Jaka Tingkir Dalam Merintis Kerajaan Pajang 1546-1586. UIN Syarif Hidayatullah: 2015.
Hermawati, dkk. Peninggalan Masa Islam Di Jawa Tengah Abad XV-XVIII M. Semarang: Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Prov. Jawa Tengah. 2007

Sudewa. Serat Panaitisastra : Tradisi, Resepsi dan Transformasi.(Yogjakarta : Disertasi Pascasarjana UGM, 1989),  dari Skripsi Dede Maulana. Peran Jaka Tingkir Dalam Merintis Kerajaan Pajang 1546-1586. UIN Syarif Hidayatullah.2015.
http://dapurilmiah.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-kerajaan-demak-pajang-dan.html

https://pintasilmu.com/peninggalan-kerajaan-pajang-islam/

http://sejarahindonesiadahulu.blogspot.co.id/2017/03/sejarah-kerajaan-pajang-kehidupan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...