KERAJAAN BANTEN
Makalah ini kami buat untuk memenuhi mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad-16
Dosen : Irma Ayu Kartika Dewi, S.Pd., M.A.
NAMA KELOMPOK
Afrizal Mukhlisin (173231051)
Aviana Pramesti (173231052)
Hafizan Pramanda P (173231053)
Ainy Musthofiyah (173231057)
Nur Khasanah (173231073)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
SEJARAH PERADABAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur terhadap Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga kelompok kami dapat menyusun makalah Kerajaan Banten ini dengan tiada suatu masalah yang berarti. Dan semoga makalah ini dapat berguna bagi pembelajaran mata kuliah Sejarah Indonesia sampai abad-16.
Makalah ini disusun oleh mahasiswa yang tergabung dalam kelompok, untuk itu terimakasih atas kontribusinya dan kerja sama serta kekompakan dalam penyusunan makalah demi terpenuhinya tugas kami bersama.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dalam sejarah Kerajaan Banten. Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Surakarta, April 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di ProvinsiBanten,Indonesia dan juga merupakan bagian dari kerajaan Sunda yang dikenal dengan Banten Girang.Sekitar tahun 1526 kedatangan pasukan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin putera Sunan Gunung Jati ke kawasan tersebut dengan tujuan untuk perluasan wilayah dan menyebarkan dakwah Islam. Maulana Hasanuddin mulai melakukan penaklukan dan membuat benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan dan menjadi pusat pemerintahan setelah Banten berhasil mendirikan kesultanan sendiri. Pada tahun 1527 Banten menjadi kerajaan yang penting dan dapat diperhitungkan di Nusantara karena Kerajaan Banten memiliki pengaruh yang besar terhadap perdagangan rempah-rempah dan menjadi pemasok rempah-rempah ke Negara Eropa seperti Inggris, Portugis, Belanda.
Fatahillah merupakan seorang perintis berdirinya Kesultanan Banten. Agar Banten berkembang dengan baik, maka Fatahillah berupaya memperluas kekuasaan dan wilayahnya ke berbagai daerah sekitar kekuasaannya. Setelah Banten berkembang dengan baik, Fatahillah kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya yang bernama Sultan Maulana Hasanudin untuk menjadi Kesultanan Banten yang pertama. Sultan Maulana Hasanudin berhasil mendirikan kerajaan Islam di Banten sehingga masyarakat Banten yang saat itu berada dibawah kepemimpinannya mulai memeluk agama Islam.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana sejarah awal Kerajaan Banten?
Bagaimana peran dan kedudukan ulama di Kesultanan Banten
Bagaimana masa kejayaan Kerajaan Banten?
Bagaimana proses kemunduran Kerajaan Banten?
TUJUAN PENULISAN
Mengetahui sejarah awal terbentuknya Kerajaan Banten
Mengetahui peran dan kedudukan ulama di Kesultanan Banten
Mengetahui masa kejayaan Kerajaan Banten
Mengetahui proses kemunduran Kerajaan Banten
BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Awal Kerajaan Banten
Sejak sebelum zaman islam, ketika masih berada dibawah kekuasaan raja-raja Sunda, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten, sebuah kota pelabuhan diujung barat pantai utara Jawa. Pada tahun 1525, Sunan Gunung jati dan Cirebon, meletak dasar bagi pengemban islam serta bagi perdagangan orang-orang islam disana.
Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Demak dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin, selain perluasan wilayah juga penyebaran dakwah islam, ia juga melakukan perluasan ke Lampung, selain itu dia juga melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabau.
Letak Banten berada didekat selat Sunda menjadikan kedudukan yang startegis. Selat Sunda menjadi pintu masuk utama ke Nusantara bagian Timur lewat pantai Barat Sumatra bagi pedagang-pedagang muslim. Dan kemudian bagi para pedagang Eropa yang datang dari arah ujung selatan Afrika dan Samudra Hindia. Masuknya pedagang-pedagang asing terutamma pedagang muslim yang datang ke Banten telah banyak mengakibatkan perubahan dalam pemerintahan. Maulana Hasanuddin telah berhasil berdakwahdari satu tempat ke daerah yang lain mulai dari Gunung Polusari, Gunung Karang, Gunung Aseupan sampai ke Pulau Panaitan Ujung Kulon.
Kerajaan Islam Banten didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Setelah Sunan Gunungjati. Setelah Sunan Gunungjati menakhlukan Banten pada tahun 1525, ia kembali ke Cirebon, dan kekuasaannya diserahkan kepada anaknya yaitu Sultan Hasanuddin. Hasanuddin kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam meluaskan wilayah islam, yaitu ke Lampung. Hubungan perdagangan dari hasil bumi ini terus berlanjut dan berkembang. Pada akhirnya Sultan Hasanuddin mulai menyebarkan Agama Islam didaerah Lampung. Mulailah rakyat Banten bermigrasi kedaerah Lampung untuk mencari lahan dan sumber penghasilan untuk perkebunan dan penjualannya. Sejak masuknya Masyarakat Banten ke Lampung, banyak perkampungan orang Banten yang membentuk kampung-kampung sendiri dan membuat ladang di Lampung. Misalnya penduduk di Lampung yang mayoritas dari Banten yaitu warga gang damai kampung Baru Rajabaa Bandar Lampung. Pengaruh Banten di Lampung tidak hanya berdagang saja, melainkan dalam berbagai bidang itu semua dapat dilihat dari masuk dan berkembangnya Islam di Lampung, yang dibawa dan disebarkan oleh Kesultanan Banten, lebih lagi pada masa itu pemerintahan, kebudayaan dan perekonomian Banten jauh lebih maju daripada Lampung. Banten cukup banyak memberikan pengaruh kepada para ketua adat Lampung untuk melakukan perpindahan ke Banten. Semua itu merupakan tanda akan pengakuan masyarakat Lampung terhadap hubungan persahabatan dengan Banten dan sebagai tanda pengakuan masyarakat Banten terhadap Lampung, Sultan Banten memberikan piagam kepada pemimpin Lampung yaitu piagam yang ditulis diatas lempengan tembaga yang ditulis dengan huruf arab dan huruf Lampung serta mempergunakan bahasa jawa Banten.
Pada tahun 1568 M, ketika kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Sultan Hasanuddin memerdekakan Banten. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai raja Islam pertama dari Banten. Beliau memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). ia telah memberikan Andil besar dalam meletakkan pondasi Islam di Nusntara. Selain dengan mendirikan masjid dan pesantrenn tradisional, juga mengirim ulama ke berbagai daerah yang telah dikuasainya sebagai upaya penyebarluasan Islam untuk pembangunan mental spiritual Banten. Keberhasilannya membangun istana yang selanjutnya dinamai Surosuwan dan menjadi ibukota kerajaan Banten.
Ketika ia meninggal pada tahun 1570 M, kedudukan digantikan oleh putranya yaitu pangeran Yusuf. Pangeran Yusuf menakhlukkan Pakuan pada tahun 1579 M sehingga banyak para bangsawan Sunda yang masuk islam. Ia juga berhasil memperluas wilayah penyebaran Islam ke daerah Banten selatan, bahkan berhasil menduduki ibu kota Kerajaan Pajajaran-Sunda di Pakwan pada tahun 1580.
Setelah pangeran Yusuf meninggal pada tahun 1580 M, ia digantikan oleh putranya yaitu Maulana Muhammad yang masih muda. Maulana Muhammad bergelar Kanjeng Ratu Banten. Selama kekuasaan dipegang oleh Qadhi bersama empat pembesar istana lainnya. Maulana Muhammad meninggal pada tahun 1596 M dalam usia 25 tahun. Setelah itu kedudukannya digantikan oleh anaknya yang amsih kecil bernama Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir. ia memerintah secara resmi pada tahun 1638 M.
Pada masa Sultan Abdul Fatah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1659 M) terjadi beberapa kali peperangan antara Banten dengan VOC karena Sultan Ageng Tirtayasa anti Belanda. Sikapnya yang anti Belanda itu mendapat dukungan dari seorang alim berpengaruh yaitu Syaikh Yusuf yang berasal dari Makasar. perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberika dukungan kepada Sultan Haji sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. sementara dalam memperkuat posisinya Sultan Haji mengirimkan 2 orang utusan untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan. Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah kekawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia. Dan VOC tetap mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada tanggal 14 Desember 1683 mereka berhasil menahan Syekh Yusuf, setelah itu berhasil menahan Purbaya.Kemudian Untung Surapati disuruh pleh kapten Johan Ruis untuk menjemput Pangeran Purbaya dan dalam perjalanan membawa pangeran Purbaya ke Batavia, namun mereka ketemu pada pasukan VOC. Puncaknya pada 28 Januari 1864, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC Sikap anti Belanda ini tidak disetujui oleh anaknya yaitu Abdul Kahar yang bergelar Sultan Haji, ia lebih suka bekerja sama dengan belanda.
Peran dan Kedudukan Ulama di Kesultanan Banten
Peran dan kedudukan kyai di Banten memiliki status yang dihormati oleh masyarakat. kehidupan masyarakat yang religius didasarkan kepada suatu kesakralan Tuhan, sehingga keamanan pun dipandang memiliki hubungan yang erat dengan kekuasaan di atasnya, menjadikan masyarakat Banten memiliki ikatan lebih erat terhadap tokoh agama dalam memandu kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat.
kyai Banten dibedakan menjadi kyai kitab dan kyai hikmah. kyai kitab adalah istilah yang ditunjukkan kepada kyai atau guru yang banyak mengajarkan ilmu-ilmu secara tekstual islam khususnya yang dikenal dengan kitab kuning. sedangkan kyai hikmah adalah kyai yang mempraktekan ilmu magis islam yakni wirid,zikr dan ratib.
peran keagamaan kyai Banten, sebagai berikut :
Guru Ngaji, peran awal yang dilakukan adalah membaca Al-Qur’an dengan ilmu tajwid. kemudian mengajarkan metode membaca Al-Qur’an dengan suara merdu dan lagu yangindah untuk para qari’ dan qari’ah.
Guru Kitab, santri yang sudah lancar membaca Al-Qur’an dilanjut dengan membaca kitab islam klasik yaitu kitab kuning. Ini merupakan tugas utama kyai pesantren terutama kalangan ulama fiqh yang bermazhab syafi’i.
Guru Tarekat, seorang kyai yang kharismatik. bimbingan seorang guru yang berasal dari arab bernama Syaikh Ibrahim bin Abu Bakar, yang dikenal sebagai Ki Ageng Karang.
Guru Ilmu Hikmah. para kyai yang menjadi mursyid suatu tarekat tidak hanya dikenal sebagai pemimpin atau guru tarekat, tapi juga sebagai guru ilmu hikmah.
Mubaligh, seorang kyai tidak hanya mengajarkan kitab klasik di pesantren, tapi juga melakukan ceramah agama dan khutbah kepada masyarakat dengan berkeliling. cara ini memberikan pengaruh besar meningkatkan kehidupan keagamaan rakyat Banten. kedudukan mereka tidak hanya sebagai orang yang dihormati tetapi juga sebagai orang yang berkuasa di Kesultanan Banten.
Puncak Kejayaan Kesultanan Banten
Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Abu Fath Abdul Fatah atau lebih di kenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Yang menjadi kerajaan Banten menjadi berjaya, pada saat itu Pelabuhan Banten menjadi pelabuhan internasional, sehingga perekonomian kesultanan menjadi maju pesat. Wilayah kekuasaan juga semakin luas meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut Kesultanan Mataram serta wilayah sekarang yang menjadi Lampung. Selain dari segi pelabuhan dan luasnya wilayah, kesultanan banten juga mengadakan hubungan dengan negara lain melalui jalur laut. Pengiriman pejabat ke berbagai negara sering kali dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
Sultan Ageng Tirtayasa sempat mengirimkan dua orang utusannya ke Inggris sebagai duta besar yang ditugasi juga membeli senjata, sementara itu Sultan juga menjaga hubungan baik dengan negara dan kota besar yang ada di Indonesia, seperti Aceh, Makasar, India, Mongol, Turki dan Arab. Para penguasa Banten pergi ke Arab untuk menunaikan haji dan ke Inggris untuk menunaikan tugas sebagai utusan, milik pedagang inggris. Sebagai sultan ke-6 Sultan Ageng Tirtayasa, tegas menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya. Beliau tidak pernah mempunyai keinginan untuk berkompromi dengan Belanda sejak tahun 1645 hubungan Banten dengan Belanda semakin panas.
Pada 1656 pasukan Banten bergerilya di sekitar Batavia. Setahun kemudia Belanda menawarkan perjanjian damai, namun perjanjian itu hanya menguntungkan pihak Belanda dan Sultan Ageng menolaknya kemudian tahun 1580 meletuslah perang besar antara Banten dan Belanda dan berakhir pada tanggal 10 Juli 1659 dengan ditandatangani perjanjian gencatan senjata. Pada tanggal 16 Februari 1671 diangkatlah putra mahkota oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Abdul Kohar dengan gelar Sunan Abu’n Nasr Abdul Kohar yang dikenal dengan nama Sultan Haji. Putera mahkota inilah yang menjadi jalan Belanda untuk mengadu domba antara Sultan Agung dan puteranya sendiri. Sultan Haji menginginkan untuk berdamai dengan Belanda dengan mengirimkan surat pada tahun 1680 dan menyatakan bahwa ia adalah penguasa Banten sepenuhnya dan bukan lagi Sultan Ageng Tirtayasa.
Pada tahun 26 Februari 1682, SultanAgeng Titayasa menyerbu Surosowan tempat Sultan Haji berkedudukan. Serangan tersebut berhasil namun Surosowan direbut oleh Belanda di bawah pimpinan Kapten Tack. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh Sultan Haji. Setelah Sultan Hai meninggal terjadilah perebutan kekuasaan antara anak-anaknya dan pihak Belanda. Sejak saat itu terjadilah gonta-ganti sultan dan Kesultanan Banten mengalami kemunduran. Puncak kemunduran Kesultanan Banten diperintah ole Muhammad Syarifudin. Ia dipaksa turun tahta dan Kesultanan Banten dihapus oleh pemerintahan Inggris dan digantikan oleh Belanda di Banten dibawah pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles. Sejak itulah Kesultanan Banten dan hanya meninggalkan jejaknya.
Kemunduran kerajaan Banten
Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik di dalam istana. Sultan Ageng Tirtayasa yang berusaha menentang VOC, kurang disetujui oleh Sultan Haji sebagai raja muda. Keretakan di dalam istana ini dimanfaatkan VOC dengan politik devide et impera. VOC membantu Sultan Haji untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya kekuasaan VOC di Banten. Raja-raja yang berkuasa berikutnya, bukanlah raja-raja yang kuat. Hal ini membawa kemunduran kerajaan Banten. Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam kerajaan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sejak sebelum zaman islam, ketika masih berada dibawah kekuasaan raja-raja Sunda, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan Sunda kuno, cerita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten, sebuah kota pelabuhan diujung barat pantai utara Jawa. Pada tahun 1525, Sunan Gunung jati dan Cirebon, meletak dasar bagi pengemban islam serta bagi perdagangan orang-orang islam disana. Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Demak dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin. Selain itu dia juga melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabau. Hasanuddin kemudian menikahi putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten pada tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha-usaha ayahnya dalam meluaskan wilayah islam, yaitu ke Lampung. Pada tahun 1568 M, ketika kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Sultan Hasanuddin memerdekakan Banten. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai raja Islam pertama dari Banten. Beliau memerintah Banten selama 18 tahun (1552-1570). Ketika ia meninggal pada tahun 1570 M, kedudukan digantikan oleh putranya yaitu pangeran Yusuf. Pangeran Yusuf menakhlukkan Pakuan pada tahun 1579 M sehingga banyak para bangsawan Sunda yang masuk islam
DAFTAR PUSTAKA
http://sumatera-utara.silaturahim.web.id/id3/1824-1710/Kesultanan-Banten_41793_sumatera-utara-silaturahim.html
http://eprints.uny.ac.id/21617/10/RINGKASAN.pdf
http://digilib.unila.ac.id/16287/100/BAB%20I.pdf
https://media.neliti.com/.../131857-ID-sejarah-masuknya-islam-dan-pendidikan-is.pdf
Amin,Samsul Munir.2010.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:AmzahYatim,Badri.2017.Sejarah Peradaban Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sejarah Indonesia karangan Muhammad Nuh. Jakarta : kementerian dan Kebudayaan, 2014. Hal : 61-65
http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/29/me846i-inilah-puncak-kejayaan-kesultanan-banten
Tidak ada komentar:
Posting Komentar