Rabu, 25 April 2018

Makalah SEJARAH FILSAFAT ISLAM

SEJARAH FILSAFAT ISLAM
Makalah ini kami buat untuk memenuhi mata kuliah filsafat ilmu
Dosen Pengampu : Fuad Muh.Zein, M.UD.

NAMA KELOMPOK
Yaser Pratama (173231035)
Hesti Dwi Palupi (173231044)
Rita Purnamasari
Ainy Musthofiyah (173231057)
Wahyu Indra Widyasmoko (173231063)

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Sejarah Peradaban Islam
Institut Agama Islam Negeri Surakarta
Tahun Ajaran 2018

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Aqidah bagi setiap muslim merupakan salah satu aspek ajaran Islam yang wajib diyakini. Dalam Al qur’an, aqidah disebut al-iman (percaya) yang sering digandengkan dengan al-amal shalih (perbuatan baik). Tampaknya kedua unsur ini menggambarkan suatu integritas dalam ajaran islam. Dasar-dasar aqidah islam telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW melalui pewahyuan Al Qur’an dan kumpulan sabdanya untuk umat manusia. Generasi muslim awal binaan Rasulullah SAW telah meyakini dan menghayati aqidah ini meski belum diformulasikan sebagai ilmu lantaran rumusan tersebut belum diperlukan. Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya, umat manusia lebih dulu memikirkan dengan logika tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafat. Dasar-dasar aqidah yang termaktub dalam Al Qur’an dianalisa dan dibahas lebih lanjut dengan filsafat untuk mendapatkan keyakinan yang kokoh. Pembahasan tentang filsafat, terutama tentang filsafat islam akan dibahas dalam makalah ini.

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan filsafat Islam?
Apa yang melatarbelakangi munculnya filsafat Islam?
Apa saja karakteristik dari filsafat Islam?
Bagaimana Perkembangan Ilmu-Ilmu Keislaman Klasik?
Apa saja objek filsafat?
Apa saja isu-isu penting dalam filsafat Islam?

Tujuan
Mengetahui apa yang dimaksud dengan filsafat Islam.
Mengetahui apa yang melatarbelakangi munculya filsafat Islam.
Mengetahui apa karakteristik dari filsafat Islam.
Mengetahui perkembangan ilmu-ilmu keislaman klasik.
Mengetahui apa saja objek filsafat.
Mengetahui apa saja isu-isu penting dalam filsafat Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Filsafat
Secara etimologi, kata filsafat diambil dari perkataan Yunani : Philo (suka, cinta) dan shopia (kebijaksanaan). Jadi “philosopia” berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Jadi dalam penelitian ini, seorang yang ahli filsafat adalah orang yang dalam hidupnya sangat mencintai kebijaksanaan, kebenaran dan pengetahuan.
Kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam kehidupan manusia. Dengan kebijaksanaan orang akan bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi. Predikat “kebijaksanaan” sebagaimana arti diatas setidaknya dapat diperoleh jika orang harus melakukan hal-hal berikut : pertama, orang harus membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap kepercayaan dan sikap yang selama ini sangat kita junjung tinggi. Kedua, memadukan temuan sains dengan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam semesta dan isinya. Ketiga, mencermati jalan pemikiran para filsuf dan menempatkannya sebagai piasu analisis untuk memecahkan masalah kehidupan. Keempat, mempelajari butir-butir hikmah yang terkandung dalam ajaran agama.
Beberapa deinisi filsafat, yaitu :
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.
Filsafat adalah sebuah proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
Filsafat berusaha memadukan temuan sains dengan pengalaman kemanusiaan
Usaha menafsirkan segala sesuatu berdasarkan akal pikiran dan seluruh alam semesta secara sistematis.
Selain definisi tersebut, ada juga menurut Plato yang mengartikan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yangg ada. Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, estetika. Pengertian filsafat yang umum yang digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba. Menurutnya, filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah, atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Filsuf adalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh dan mendalam. Filsafat merupakan hasil akal seseorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya.
Pengertian Filsafat Islam
Filsafat Islam merupakan gabungan dari dua kata yaitu filsafat dan islam.  Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah, dan dengan menyerahkan diri kepada Allah maka akan memperoleh keselamatan dan kedamaian. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaittu philo dan sophia yang artinya cinta kebijaksanaan. Secara terminologi filsafat merupakan kontemplasi atau mempelajari pertanyaan penting mengenai eksistensi kehidupan yang berakhir dengan pencerahan. Jadi filsafat islam adalah berfikir secara bebas dan radikal namun tetap berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak, serta karakter yang menyelamatkan dan memberi kedamaian hati.
Filsafat Islam tidaklah semata-mata bersifat rasional yang hanya bersandar pada analisis logis terhadap suatu peristiwa, tetapi juga jejak spiritual untuk memasuki dimensi kegaiban. Rasionalitas filsafat Islam terletak pada kemampuannya menggunakan potensi berfikir secara bebas, radikal dan berrada pada tataran makna unuk menganalisis fakta empirik dari suatu kejadian dalam suatu bangunan sistem pengetahuan yang ilmiah. Sedangkan trandensinya terletak pada kesanggupan mendayagunakan kalbu dan intuisi imajinatif, untuk menembus dan menyatu dalam kebbenarran gaib secara langsung dan menjadi saksi kehadiran Allah dalam realitas kehidupan.
Latar Belakang Munculnya Filsafat Islam
Munculnya filsafat di dunia Islam dilatar belakangi oleh dua faktor yaitu pertama faktor eksternal. Ketika Alexsander  datang ke Timur Tengah pada abad IV SM, ia tidak hanya datang membawa kaum militer untuk meluaskan daerah kekuasaannya keluar Mesodonia, tetapi juga membawa kaum sipil untuk menanamkan kebudayaan Yunani yang dibawanya dengan penduduk setempat. Dari situlah filsafat berkembang di Timur Tengah.
Penduduk yang kini berada dibawah kekuasaan Islam kemudian diperlakukan dengan cara yang baik. Mereka tidak melakukan pemaksaan dalam beragama, sehingga penduduk daerah tersebut tidak dipaksa para sahabat untuk masuk islam.
Diantara warga Non-Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan islam dan oleh karena itu ingin memajukan islam. Mereka menyerang agama islam dengan mengetengahkan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dai Yunani. Dari pihak umat islam sendiri timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen filosofis pula. Karena itu mereka mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani.
Kedua faktor internal. Menurut Olivier Leaman, Louis Gardet, C.A Qadir dan Al-Jabiri, pemikiran rasional yang tumbuh dan  berkembang dalam dunia islam tidak semata-mata bersumber dari filsafat Yunani. Al-Qur’an dan Hadis juga mengandung ajaran-ajaran yang sangat menghormati kemampuan akal. 
Penghormatan Islam terhadap fungsi akal didasarkan pada beberapa alasan : pertama, akal merupakan salah satu fakttor yang menjadikan manusia dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah terbaik. Kedua, dengan akalnya, manusia dapat mencapai peradaban dan kebudayaan yang sangat tinggi. Ketiga, dengan akal manusia juga dapat menjadi pengemban tugas sebagai khalufah dimuka bumi.. keempat, Allah sendiri memerintahkan manusia untuk menggunakan akal, termasuk dalam memahami  al-qur’an.
Karakteristik Filsafat Islam
Identitas suatu filsafat tidak mungkin bisa dilandaskan pada kemurnian rasionalitas semata, sebab rasionalitas hanyalah syarat lazim bagi filsafat dan bukan syarat yang mencukupi.
Peran agama, keunikan budaya lokal, karakter bahasa dan perkembangan sains adalah beberapa faktor penentu yang dapat mempengaruhi bagaimana identitas filsafat diarahkan. Ada banyak faktor yang menentukan sehingga identitas filsafat dapat terwujud dalam ruang sejarah.  Karena itu dalam sejarah muncul istilah filsafat Barat, filsafat Timur, filsafat Kristen, Filsafat Islam dan sebagainya.  Adanya beragam ajektif tersebut akan menentukan bagaimana format dan arah filsafat tumbuh dan berkembang dalam buaiannya. Filsafat islam hanyalah perpanjangan dari filsafat Yunani.
Al-Kindi adalah poiner pertama filosof islam yang mencoba mendamaikan filsafat dengan agama. Farabi berusaha membuktikan bahwa filsafat dan agama adalah hakikat yang satu namun terjelma dalam dua berbahasa yang berbeda. Ibnu Sina dan filsof muslim lainnya yang berusaha dengan gigih untuk membuktikan wajibul-wujud melalui berbaggai versi burhan sidiqin-nya. Puncaknya pada Mula Shadra yang berusaha mengharmonisasikan burhan (filsafat), Qur’an (aama) dan irfan. Semua itu merupakan beberapa indikator utama akan nuansa keislaman pada filsafat sehingga kesan Yunani yang melatarinya telah luntur dengan ruh monoteisme (tauhid) yang ditiupkan para filsof muslim dalam karya-karya luhur filsafatnya.
Selain itu yang terpenting lainnya yang sarat akan nuansa islam seperti : mad jismani dan mad ruhani, khudusul-zati dunia (keterbaruan subtansial dunia), hakikat ruh manusia, pembuktian nubuwat merupakan beberapa topik kajian yang cukup membuktikan betapa Islam telah mampu mewarnai bangunan filsafat yang tumbuh dalam asuhannya, tanpa harus melunturkan kemurnian rasionalitas sebagai jati diri filsafat.
Perkembangan Ilmu-Ilmu Keislaman Klasik
Era klasik merupakan era penyusunan, pembentukan pemantapan dan pemapanan ajaran-ajaran doktrinal dan normatif setiap agama kharismatik. Dalam upaya, ulama yang diklaim sebagai pewaris yang memiliki peran yan sentral dan signiffikan. Pada perkembangan berikunya, jawaban dan respon ulama disusun dan diklarifikasikan sesuai denan bidang dan wilayah kajian dan ojek pemasalahan yang dihadapi sehinggga melahirkan klarifikasi ilmu-ilmu keislaman kedalam tiga medan episimologi : teologi, tasawuf, dan hukum.
Dalam batas ini, epistimologi pemikir Islam yang ketat sudah mulai dikenal dan dalam batas-batas ini pula terdapat suatu konsep yang menjadi landasan intelekual dalam studi berbagai disiplin ilmu. Dalam masing-masing disiplin ini dan dapat menemukan istilah sama: baik-buruk (hasan-qabih), benar-betul ( mustaqim-sahih), status (manzilah), diperkenankan (jaizz), analogi (qiyas), sebab (illah), bukti (hujjah), argumen (dalil), definisi (had) dan lain-lain.
Pada dasanya sistem kognitif mendasari ilmu keislaman yang merupakan pengembangan dari fenomena sekterianisme yang tumbuh pada awal perkembangan islam. Lahirrnya fenomena sekterianisme sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor polittik yakni peristiwa terbunuhnya usman. Dan berpengaruh mewarnai kekuasaan dinasti Umayyah dan awal kekuasaan Abbasiyah.
Obyek Filsafat
Fase pertama dari pengenalan (pengetahuan) adalah pengenalan inderawi. Pada penggenalan ini, indera mencata semua persoalan menurut urutan yang datang pada indera dengan bentuk, warna, besar, letak dan sebagainya.  Orang yang berpengalaman adalah orang yang mengetahui bahwa kesamaan dan korelasi tersebut mempunyai sebab yang tetap yaitu subtansi. Jika manusia melihat awan yang menebal maka ia menanti hujan. Jika seseorang dilingkungannya sakit, maka ia tidak ragu untuk memberikan resep jamu ramuan sebagai hasil kegunannya dimasa yang lalu. Hubungan tersebut baru diketahui ketika subtansi sesuatu yaitu sistematika dan ciri khasnya. 
Kemudian pembahasan obyek baru lagi yaitu pengetahuan (pengenal) itu sendiri, cara dan syarat kebenaran atau kesalahan. Dari sinilah maka lahirlah ilmu logika (mantiq) yang tidak sama dengan ilmu positif lainnya.
Kemudian kita melihat pada akhlak. Akhlak berbeda dengan ilmu sosiologi yang lebih menekankan pada pengertian tentang gejala kemasyarakatan dan hubungan-hubungan tanpa meneliti apa yang seharusnya terjadi. Sumber akhlak berasal dari Al-Qur’an dan hadis serta hasil pemikiran hukama dan filosof. Ruang lingkup akhlak meliputi akhlak terhadap Khaliq dan akhlaq terhadap makhluk.
Isu-Isu Penting dalam Filsafat Islam
Keesaan Tuhan ( Tauhid)
Pemikiran islam lahir teologi rasional dipelopori oleh kaum Mu’tazilah. Menurut sudut pandang teologi rasional, kedudukan akal menempati posisi yang tinggi sehingga ketika menafsirkan wahyu mereka tidak mau tunduk kepada arti harrfiah dan mengambil arti majazinya. Mereka meninggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. bagi Mu’tazilah akal menunjukkan kekuatan manusia. Teologi rrasional Mu’tazilah ini selanjutnya melahirkan perkembangan intelektual islam, khususnya fallsafat.
Filsof besar yaitu Al-Kindi mengatakan bahwa antara falsafat dan agama taka ada pertentangan. Filsafat membahas tentang yang benar seperti halnya agama juga menjelaskan yang benar. Jadi kedua nya membahas kebenaran. Dalam pemikiran filsafat kalau ada yang benar pasti ada yang benar pertama( al-haqq al-awwal) , menurut Al-Kindi yang benar pertama adalah Tuhan.
Dengan itu Al-Kindi berusaha memurnikan keesaan Tuhan. Bagi Al-Kindi kebenaran mengandung arti kesesuaian antara aapa yang ada didalam akal dengan apa yang ada diluarnya atau kesesuaian antara konsep yang tertuang dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada diluar akal.
Dalam Pemikiran Al-Farrabi, kalau Tuhan pencipta alam semesta berhubungan langsung dengan ciptaan-Nya yang tak terhitung jumlahnya berarti dalam diri Tuhan terdapat arti banyaak. Bagi Al-Farabi, Tuhan Yang Maha Esa agar menjadi Esa harus berhubungan dengan yang Esa. Jadi Yang Maha Esa menciptakan yang esa. Dalam akal I pemikiran tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan langit pertama. Akal II juga mempunyai obyek yaitu dirinya sendiri. Pemikirannya tentang tuhan menghasilkan akal III dan menghasilkan bintang. Begitulah akal dan menghasilkan akal dan berfikir tentang dirinya sendiri dan meghasilkan planet-planet.
Tema lain yang berhubungan dengan filsafat adalah penciptaan alams semestaa. Dalam pandangan filsafat, alam semesta diciptakan bukan dari tiada atau nihil, tetapi dari materi asal yaitu api, udara, air dan tanah. Maka materi asal timbul bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan dari pemikiran Tuhan.
Karena Tuhan berfikir semenjak zaman qadim (zaman tak bermula), maka akal I,II,III dan seterusnya serta materi asal yaitu api , udara, air, dan tanah juga bersifat qadim.
Jiwa Manusia
Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia terbagi dalam tiga hal yaitu pertama, jiwa dan tumbuhan yang mempunyai daya makan, tumbuh dan bergerak biak. Kedua, jiwa binatang yang mempunyai daya gerak, pindah dari tempat ke tempat dan daya menangkap dengan panca indera, baik berupa indera luar atau indera dalam. Ketiga, jiwa manusia yan mempunyai daya akal unuk berfikir yaiu akal,akal menjadi “akal praktis” yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang, dan “akal teoritis” yang menangkap arti-arti murni yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, Roh dan Malaikat. akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedangkan akal teoritis lebih kepada metafisik.
Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana yang berpengaruh pada dirinya. manusia yang dipengaruhi jiwa binatang, maka sifat orang itu akan menyerupai binatang, begitu juga sebaliknya orang yang dipengaruhi jiwa manusia akan lebih menyerupai malaikat. setelah tubuh manusia mati, jiwa yang akan tinggal menghadapi perhitungan dihadapan Tuhan adalah jiwa manusia. sementara itu jiwa tumbuhan dan jiwa binatang akan lentap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah, sebab kedua jiwa ini hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. berbeda dengan dua jiwa diatas, jiwa manusia bersifat abstrak dan rohani. karena itu balasan yang diterimanya bukan didunia namun diakhirat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Filsafat merupakan suatu hal yang dipelajari untuk memperoleh suatu kebenaran. Dasar-dasar aqidah yang termaktub dalam Al Qur’an juga dianalisa dan dibahas lebih lanjut dengan filsafat untuk mendapatkan keyakinan yang kokoh. Ajaran filsafat berdasar akal fikiran manusia, sedangkan agama berdasarkan wahyu. Meskipun jalan yang ditempuh agama dan filsafat berbeda, namun tujannya sama yaitu mendapat kebenaran yang hakiki. Ilmu filsafat juga mempelajari hakikat kebenaran suatu ilmu dan berdasarkan pada ajaran dan nilai-nilai agama islam disebut sebagai ilmu filsafat islam. Meskipun diadaptasi dari nilai-bilai budaya barat atau Yunani, ilmu filsafat islam tetap memiliki kaidah tersendiri. Hal yang biasanya dipikirkan atau dibahas dalam filsafat islam adalah mengenai ketauhidan atau ketuhanan, kerasulan, kitab, hubungan manusia dan sesamanya, lingkungan dan  juga ,mencakup ilmu tasawuf atau kebatinan.
Peran agama, keunikan budaya lokal, karakter bahasa dan perkembangan sains adalah beberapa faktor penentu yang dapat mempengaruhi bagaimana identitas filsafat diarahkan. Filsafat Islam berlandaskan Qur’an Hadits dan Keimanan, sementara filsafat Yunani mengandalkan rasio semata. Dalam sejarah perkembangan filsafat Islam, filosof pertama yang lahir dalam dunia Islam adalah al-Kindi (796-873 M). Filosof besar kedua dalam sejarah perkembangan filsafat Islam ialah al-Farabi (872-950 M). Dia banyak menulis buku-buku tentang logika, etika, ilmu jiwa dan sebagainya. Selanjutnya, filosof setelah al-Farabi adalah Ibnu Sina (980-1037 M). Filosof selanjutnya adalah Ibnu Miskawaih ( 1030 M) dan lain sebagainya. Qur’an dan Hadits menjadi sumber inspirasi bagi para filosuf Islam dalam mengembangkan kajiannya.
Saran
Makalah ini merupakan gerbang awal untuk memotivasi kita agar selalu rajin membaca khususnya tentang Filsafat Islam. Makalah ini tentunya banyak sekali kekurangan dan literature atau buku sumber yang kami kutif dalam makalah ini belumlah cukup untuk mencapai kesempurnaan Oleh karena itu kami meminta kritik dan saran dari pembaca pada umumnya dan khususnya kepada dosen pengampu dan rekan-rekan.

Daftar Pustaka
Supena,Ilyas.2013.Filsafat Islam.Yogyakata: Penerbit Ombak
Maftukhin.2012.Filsafat Islam.Yogyakarta: Teras
Zaprulkhan.2014.Filsafat Islam.Jakarta: PT Grafindo Persada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...