BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Manusia yang beruntung adalah manusia yang memiliki agama, karena dengan agama manusia memiliki nilai dan aturan untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.Presiden Indonesia yang ke-4 di kenal dengan bapak pluralisme mengatakan bahwa “semua agama benar” dan perkataan beliau benar adanya bila di tinjau secara horizontal (sesama makhluk) dan di nilai dalam kehidupan di dunia saja.memang faktanya benar,tidak ada agama yang membolehkan manusia berbuat sewenang-wenangnya dan merugikan orang lain seperti ,mencuri,berzina,memperkosa,menindas dan lain sebagainya.semua agama mengajarkan manusia untuk berbuat baik kepada manusia dan alam sekitarnya.akan tetapi bila di tinjau secara vertikal (antara makhluk dan pencipta) islam lah yang paling benar).
Islam adalah agama yang paling sempurna,agama yang menunutun kehidupan pemeluknya secara rinci dan jelas.karna islam datang untuk meluruskan agama-agama terdahulu yang di ajarkan oleh rasul-rasul sebelumnya yang telah di simpangkan dan menjadi pelengkap ajaran-ajaran rasul sebelumnya.Islam adalah pembenaran,islam menuntun hidup manusia kepada kebaikan dalam segala aspek kehidupan,tetapi banyak manusia yang tidak mengetahui dan menyadarinya.
Ada tiga pilar penting agama islam yang manusia harus diketehuiUntuk menuju kehidupan yang tidak hanya menciptakan kebaikan dan kebenaran, akan tetapi juga untuk menuju kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat,yaituiman, islam dan ihsan.
Rumusan Masalah
Bagaimana hadist tentang tiga pilar agama ?
Bagaimana analisa hadist tersebut ?
Bagaimana hubungan antara iman, islam, dan ihsan ?
BAB II
PEMBAHASAN
Hadits tentang Tiga Pilar Agama
Agama islam memiliki pokok ajaran atau landasan dalam agama, pokok pokok tersebut disebut dnegan tiga pilar agama yaitu iman islam dan ihsan. Pokok pokok tersebut berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“ Abu Hurairah berkata : “ suatu ketika Nabi SAW muncul di hadapan manusia ( syahadat ), maka Jibril as mendatanginya lalu bertanya “ apa itu iman ?” Nabi saw menjawab : “ iman yaitu percaya pada Allah, malaikat, kitab kitab, bertemu dengan-Nya dan percaya pada rasul rasul-Nya, serta percaya pada kebangkitan ( kiamat )”. Jibril bertanya lagi : “ apa itu islam ?” Nabi saw menjawab : “ islam yaitu engkau menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan dengan-Nya sesuatu, menidirikan salat, menunaikan zakat, yang wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan. Lagi lagi Jibril bertanya : “ apa itu ihsan ? “ Nabi saw menjawab : “ ihsan yaitu engkau menyembah Allah seakan akan engkau melihat-Nya, dan bila engkau tak melihat-Nya ( ketahuilah ) maka sungguh Dia melihatmu “ Jibril masih saja bertanya : “ kapan datang kiamat ? “, Nabi saw pun menjawabnya “ tidaklah orang yang di tanya tentang kiamat lebih tahu dari orang yang bertanya. Namun aku bisa menginformasikan akan tanda-tanda kiamat yaitu, jika hamba sahaya melahirkan budaknya, dan para pengembala unta yang berwarna indah berlomba lomba dalam membangun. Lima hal, tak ada satupun mengetahuinya kecuali Allah. Lalu Nabi SAW membaca sepotong ayat yang berbunyi “Sungguh disisi Allah SWT ilmu kiamat”.Lalu orang itu pergi, maka Rassulullah SAW bersabda : “Hendaklah kalian (sahabat) memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat apapun. Nabi SAW bersabda : “Ini adalah Jibril, dia datang untuk mengjarkan kepada manusia tentng agama mereka”.
Hadist ini berisi tentang tiga asas agama yaitu iman, islam, dan ihsan, atau lebih populer disebut dengan tiga pilar agama. Tiga pilar ini terdiri dari tauhid sebagai padanan dari iman, syari’ah adalah islam dan akhlak di samakan dengan ihsan. Jika iman mencakup rukun iman, maka islam berkaitan dengan praktek keagamaan seseorang ( rukun islam ) . sementara ihsan mengarah pada polesan yang menjiwai seorang muslim saat ia menyatakan dan mempraktekan keminan dan keislamannya.
Hadist diatas selain mencakup tiga pilar agama juga berkaitan dengan iman pada hari kiamat dan tak berkaitan dnegan keimanan kepada pada selainya. Keterkaitan ini di kerenakan semua bentuk keimanan, pelaksanaan syari’at dan nerusaha membaguskan amalan atas dasar keimann ( ihsan ) merupakan sesuatu yang masih bersiafa abstrak jika dilihat dari aspek keutntungan atau balasan yang akan di peroleh seseorang yang melaksankan tiga pilar tersebut.
Analisis Hadist
Iman
Iman berasal dari kata amin, yaamin, dan amanaa bentuk lampaunya bisa dibaca amina berarti tenang, tidak takut dan aman, atau dapa dibaca amanu berarti jujur. Secara termininologi, iman menurut Al – Jurjainy adalah membenarkan dengan hati atau keyakinan di hati disertai pengakuan secara lisan.
Tingkat keimanan seseorang secra pasti dapat dilihat atau dinilai tingkat keimanannya dengan tidakan sehari hari. Setelah mengucapankan keimanana secara lisan, harus di buktikan dengan tindakan tindakan sehari hari yang membuktikan keimanannya atau kepercayaannnya. Definisi al-Jurjainy tentang iman, setidaknya ingin menegaskan mengenai hati jika yakin ( beriman ) harus diikuti dengan pernyataan lisan sehingga gugurlah iman jika hanya perkataan lisan tanpa da keyakinanhati. Sebagaiman sabda Rasulullah yang berarti :
“ jika kalian melihat seseorang terbiasa ke masjid, makas saksikanlah untuknya iman “
Hadist di atas bernilai hasan bahkan di pandang da’if karana perawinya. Namun Al Qur’an membenarkan hadist terseut dalam Q.S At Taubah 18 yang artinya :
“ Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah di hari kemudian...“
Iman meliputi yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada Kitab Allah. Iman kepada Rassul, dan iman kepada hari kiamat, tanpa menyebutkan iman kepada takdir.Mengapa demikian? Tentu jawabnya takdir termasuk keimanan namun bukan sebagai keimanan yang pokok, setidaknya pemikkran ini menurut pemikiran Syi’ah, Mukta’zilah. Adapun menurut Ahlusunah Wal Jamaah meyakini takdir sebagai pokok iman. Takdir bukan berarti manusia menerima suatu apa adanya tanpa melakukan perubahan melalui usaha, karena takdir juga berarti memilih mana diantara pilihan yang terbaik menurut manusia. Takdir bukan berarti pasif tak bergerak tapi aktif dinamis namun kkeputusan berasal dari san penentu takdir.
Iman kepada Allah yaitu meyakini Allah adalah Dzat yang Maha Esa, tak ada tuhan selainNya, hidup kekal tanpa awal dan akhir tanpa berakhir. Adapun iman kepada malaikat yaitu percaya bahwa mereka ciptaan Allah SWT yang senatiasa patuh dan tunduk kepadaNya dan tak pernah melanggar apalagi bermaksiat padaNya. Percaya kepada kitab berarti mempercayai risalah-risalah Allah yang diturunkan kepada RasulNya melalui perantara malaikat Jibril untuk umat manusia. Iman kepada Rassul berarti meyakini bahwa tak ada terkecuali membawa satu misi yang sama mentauhidkan manusia melalui risalah Allah walau kadang terdapat perbedaan dalam pelaksanaan risallah(syariah) tersebut disebabkan kondisi masyarakat pada saat Rasul diutus. Iman kepada hari akhir yaitu percaya ada kebangkitan setelah kematian dan semua manusia akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereeka selama hidup di dunia.
Islam
Islam dari kata as-salam berarti tunduk yang sumber awalnya dari kata sala yasilu salamah artinya selamat. Menurut Al Jurjainy, secara terminologi islam adalah tunduk dan pasrah terhadap apa yang Rasulullah SAW informasikan dan berkaitan. Bila iman berkaitan dengan kepercayaan yang tercokol dalam hati dan pengakuan di lidah, maka islam lebih terkait dengan praktek keberagaman seseorang. Praktek tersebut dapat dilihat dan disaksikan secara nyata dalam kehidupan mereka yang disebut muslim. Amalan nyata ini dikenal sebagai rukun islam terdiri dari mengucap dua kalimat syahadat sholat, zakat, puasa dan melaksakan haji di mekah. Lima perbuatan tersebut dapat dilaksanakan empiris pada, mereka yang mengaku beragama islam.
Syahadat dari aspek praktek bawa siapapun yang berucap syahadat dalam kehidupan nyatanya tak akan menyekutukan Allah dengan apapun juga. Sholat sehai semallam 17 rekaat dengan rincian 2 rekaat subuh, 4 rekaat dzuhur, 4 rekaat ashar, 3 rekaat maghrib dan 4 rekaat isya. Zakat sebagai sarana membersihkan harta dari segala macam kesamaran pemiliknya (syubhat). Zakat terbagi menjadi 2 yaitu zakat fitrah dan zakat mal, zakat fitrah ialah menzakatkan apa yang kita makan sehari-hari, sedangkan zakat mal adalah mengeluarkan harta kita pada pihak yang berhak menerimanya. Ibadah haji meruoakan rukun terakhir dari seorang muslim yang tidak wajib dilaksanakan bagi yang tidak mampu.
Ikhsan
Berasal dari kata “ikhsan-yakhsanu-ikhsana” secara bahasa berarti berbuat kebaikan, mempercantik atau memperbaiki, akar kata ikhsan adalah hasuna yang artinya baik. Orang yang telah berbuat ikhsan berarti ia telah berusaha memoles perbuatan yang pada dasarnya baik menjadi indah jika dipandang. Bila iman dan ikhsan disebut sebagai akar dan pohon maka ikhsan merupakan buah dari keimanan dan keislaman. Al-Jurjainy mendefisikan ihsan adalah memastikan ketaatan atas penyaksian akan kehadiran Tuhan ( Esa ) dengan cahay kearifan, yaitu melihat secra yakin dari lubuk hati bukan melihat yang sebenar-benarnya berbentuk materi. Dari definisi tersebut hadirlah dalam diri seseorang akan menunjukkan tiga unsur yaitu :
Mematuhi semua yang berasal dari Allah dan RasulNya
Karena telah merasakan kehadiran Allah SWT dalam dirinya
Cahaya kearifan yaitu melihat dengan yakin akan eksistensi sang pencipta walau tak melihat dengan nyata secara panca indra.
Dari ketiga unsur tersebut mendorong seseorang beribadah kepada Allag SWT secara taat dengan keindahan, khusyuk dan ridho saat ibadah disebabkan ia seperti benar-benar melihat Allah.
Hubungan Antar Iman, Islam, dan Ihsan
Islam, iman dan ihsan adalah satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan, ketiganya saling berhubungan atau terdapat sangkut paut yang perlu di terapkan untuk menuju keridhoa-Nya.Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah, keyakinan tersebut di implementasikan melalui islam yang di dalamnya terdapat rukun-rukun yang wajib di kerjakan, kemudian pelaksanaannya di lakukan dengan ikhlas setulus hati karena Allah Subhanallahu ta’ala merasa seakan-akan kita melihat Allah, atau setidaknya merasa Allah melihat dan mengawasi kita. Iman, islam, dan ihsan juga di ibaratkan sebagi pohon, jika iman dan islam sebagai pohon dan akarnya, maka ihsan merupakan buah dari keimanan dan keislamaan seeseorang.
BAB III
PENTUP
KESIMPULAN
Agama islam merupakan agama yang memiliki pokok ajaran yang berbeda dengan agama yang lain, pokok pokok ajaran itu terfokus terhadap tiga hal yaitu : iman, islam, dan ihsan. Ketiganya memiliki hubungan yang erat, bila iman dan islam di ibaratkan pohon dan akarnya, maka ihsan adalah buah hasil keimanan dan keislaman seseorang.
Iman berarti membenarkan dengan hati atau keyakinan di hati disertai pengakuan secara lisan.pokok pokok kepercayaan ini mencakup percaya kepada Allah, malaikat, kitab, hadist, rasul dan hari akhir. Taqdir termasuk keimanana namun bukan sebagai keimanan pokok, setidaknya pemikiran menurut aliran syi’ah, Mu’tazilah dan lainya. Sedangkan menurut ulama ahl Sunnah wa Al Jama’ah menyakini bahwa takdir sebagai pokok iman.
Islam adalah tunduk dan pasrah terhadap apa yang Rosulullah SAW informasikan dan sampaikan.islam mencakup lima hal di dalamnya yaitu mengucap dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa dan melaksanakan haji di mekkah. Lima perbuataan tersebut dapat disaksikan secara empirik dalm kehidupan sehari hari bagi mereka yang disebut muslim.
Ihsan secara bahasa berarti kebaikan, mempercantik atau memperbaiki. Ihsan adalah memastikan ketaatan atas penyaksian akan kehadiran Ketuhannan ( Esa ) dengac cahaya ke arifn, yaitu melihat dengan yakin dari lubuk hati. Ihsan menghadirkN TIG unsur pada diri manusia yaitu, pertama, mematuhi semuanya berasal dari Allah Swt dan Rasul-Nya karena, kedua, telah meraskan kehadiran Allah Swt dalam dirinya, ketiga, cahaya kearifan yaitu melihat dengan yakin akan eksistensi Sang pencipta walau tak bisa melihat nya deng nyata secra panca indra.
DAFTAR PUSTAKA
Assagaf, Ja’far.2014.Jejak Jejak Cahaya Nabi SAW konstektualisasi Hadist.Kartasura : Fataba press
http://ngampusiana.blogspot.co.id/2016/05/islam-iman-dan-ihsan-tiga-pilar-agama.html. Diakses, Minggu, 29 Oktober 2017, pukul 14.29.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar