MANUSIA DAN HARAPAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Budaya
Dosen : Marsus, M.Hum
Disusun oleh :
Afifah Rahma 173231049
Erlin Fatmawati 173231067
Firly Nur Hidayah 173231070
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Manusia dan harapan saling berhubungan. Harapan atau cita-cita merupakan sesuatu yang belum terwujud. Setiap manusia itu pasti mempunyai harapan dan cita-cita. Ada yang berharap dalm jangka panjang dan ada juga yang berharap dalam jangka pendek. Setiap manusia pun pasti memiliki alasan untuk mempunyai harapan itu. Harapan juga ada hubungan dengan kepercayaan dan kepercayaan.
Hal itu sangat menarik untuk dipelajari dan dibahas dalam cabang ilmu budaya dasar. Maka dari itu kita membuat makalah ini.
Rumusan Masalah
Apa itu harapan ?
Apa yang menyebabkam manusia mempunyai harapan ?
Apa saja macam-macam harapan ?
Mengapa harapan merupakan sebuah fenomena nasional ?
Bagaiman hubungan manusia dan harapan ?
Apa yang dimaksud dengan kepercayaan dan kebenaran ?
Tujuan Penulisan
Mengetahui definisi harapan.
Mengetahui penyebab manusia mempunyai harapan.
Mengetahui macam-macam harapan.
Mengetahui harapan merupakan sebuah fenomena nasional.
Mengetahui hubungan manusia dan harapan.
Mengetahui arti kepercayaan dan kebenaran.
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Harapan
Harapan berasal dari kata “harap” yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Harapan adalah keinginan yang belum terwujud. Hatilah yang mempunyai harapan. Seseorang yang putus harapan akan mengalami yang namanya putus asa. Setiap orang pasti mempunyai harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya sebagai manusia. Orang mati pun memiliki harapan yang lebih sering kita dengar dengan istilah “wasiat”. Memang kadang kala harapan tidak sesuai dengan hasil. Harapan, cita-cita yang rendah, itu pencapaiannya juga rendah. Kalau pencapaiannya tinggi itu sebuah keberuntungan bagi kita. Jika harapan, cita-cita kita tinggi, jika tidak berhasil, paling tidak hasilnya di tengah-tengah. Memang biasanya harapan atau cita-cita yang tinggi tidak berhasil akan menyebabkan frustasi, putus asa. Setiap harapan, cita-cita itu memiliki potensi kekecewaan. Kecewa adalah apabila antara harapan dengan kenyataan tidak sesuai, meskipun kenyataannya lebih tinggi dari harapan. Tuhanlah yang menentukan. Manusia sekedar berusaha, jika usahanya maksimal kemungkinan harapan itu akan terwujud. Namun harus diimbangi dengan do’a. Gagal dalam meraih harapan anggaplah sebagai pengalaman dan akan berusaha semaksimal lagi.
Harapan bisa kita samakan dengan istilah cita-cita. Cita-cita juga merupakan sesuatu yang belum terwujud. Manusia wajib memiliki cita-cita setinggi langit, tapi kita harus siap dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika itu gagal. Jika tidak ingin mengalami kekecewaan, kita harus mempunyai jalan tengah. Kita jadikan cita-cita atau harapan itu mempunyai multi tujuan. Misal kita bercita-cita masuk ke perguruan tinggi di jurusan kedokteran, UGM. Awalnya kita ingin kuliah disana “ingin masa depan yang cerah”. Jika kenyataannnya gagal! Kita akan gagal 100%. Sekarang kita ubah menjadi multi tujuan, kita ingin kuliah disana karena, missal :
Ingin memiliki masa depan yang cerah,
Mengusahakan masa depan yang lebih baik sebagai ibadah,
Belajar keras akan menyenangkan hati orang tua, menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dan menghargai dorongan orang tua selama ini,
Ingin tahu sejauh mana kemampuan diri, dengan menguji diri melalui seleksi masuk perguruan tinggi,
Meniukmati permainan, karena permainan ini menuntut kemampuan juga strategi yang sangat menantang dan mengasyikkan.
Dari 1 tujuan menjadi 5 tujuan, jika tujuan pertama kita gagal, masih banyak tujuan yang bisa disapai. Ini artinya jika gagal 1 dari 5 tujuan, kita hanya gagal 20%. Jika mempunyai cita-cita tinggi, ingat tambahlah sebanyak mungkin tujuan untuk mencapainya. Dengan demikan walaupun harapan atau cita-cita tinggi, kita tidak akan depresi dan selalu bergembira.
Cita-cita merupakan suatu refleksi dari diri kita. Cita-cita suatu gambaran dari diri kita seorang tentang sifat, bakat maupun minatnya. Jangan pernah tidak mempunyai cita-cita, karena cita-cita juga merupakan tujuan hidup. Jangan sekali-kali memilih cita-cita yang tidak sesuai dengan sifat, bakat, minat karena hal itu mempersulit jalan untuk mencapainya. Setiap anak pasti mempunyai cita-cita. Mereka pasti pernah mendengar, membaca, melihat sesuatu yang menarik hatinya, dengan segera pasti anak itu akan memahatnya dalam hati. Ada yang memahatnya dengan kuat-kuat dan berhasil mencapai mimpinya, tapi lebih banyak yang tidak kuat memahat sehingga gagal dalam mencapainya. Jika sudah memiliki cita-cita, selalu berusaha mencapai walaupun sulit. Pasti ada jalan. Ingat! Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika tidak berusaha mengubahnya. Berusahalah mencapai cita-cita yang diimpikan.
Sebab Manusia Mempunyai Harapan
Penyebab manusia mempunyai harapan ada dua dorongan, yaitu dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu dorongan sifat, keadaan, pembawaan alamiah yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia lahir diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, tertawa, bercinta, berpikir dan lain-lain. Dorongan kebutuhan hidup ada kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani seperti pangan, sandang, papan dan kebutuhan rohani seperti kebahagiaan, kesejahteraan, hiburan dan lain-lain.
Macam-macam Harapan
Menurut Abraham Maslow, macam-macam harapan adalah :
Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untyk mencintai dan dicintai (being loving and love).
Harapan untuk memperoleh status untuk diterima atau diakui di lingkungan.
Harapan untuk memperoleh perwujudan dari cita-cita (self actualization).
Harapan sebuah Fenomena Nasional
Harapan adalah fenomena yang sifatnya universal. Harapan merupakan sesuatu wajar dan berkembang dalam diri manusia, dimanapun dia berada. Harapan itu sesuai dengan kebutuhan manusia yang memiliki harapan itu. Harapan yang sangat mendalam dapat menimbulkan keinginan. A.F.C Wallace dalam bukunya “Culture and Personality” kebutuhan adalah pokok dari unsur kepribadian, sasarannya dari harapan, keinginan emosi seseorang.
A.F.C Wallace juga mengatakan kebutuhan dibagi menjadi kebutuhan organik individu dan psikologi individu. Kebutuhan organik individu :
1. Makan dan minum,
2. Istirahat dan tidur,
3. Sex,
4. Bernafas,
5. Buang hajat,
6. Keseimbangan suhu, dan lain-lain.
Kebutuhan psikologi individu :
Pengendoran ketegangan dan bersantai,
Kemesraan dan cinta,
Kepuasan ego,
Kepuasan altruistik : kesempatan berbuat baik,
Kehormatan,
Kepuasan dan kebanggaan mencapai tujuan.
Manusia dan Harapan
Hubungan manusia dan harapan sangatlah erat, ada pepatah yang mengatakan “manusia tanpa cita-cita ibarat sudah mati sebelum ajal”. Artinya orang yang tidak mempunyai cita-cita atau harapan itu seperti orang yang sudah mati. Harapan sifatnya manusiawi, dimiliki oleh siapapun dari golongan apapun, kapanpun dan dimanapun. Ditinjau dari wujudnya, harapan itu tidak terhingga. Mau sebanyak apapun boleh, tidak ada yang melarangnya. Dilihat dari tujuannya, hanya ada satu yaitu bahagia.
Kadang orang tua selalu berharap anaknya menjadi dokter, insinyur, polisi, TNI, pokoknya yang terlihat menjadi orang sukses, orang kaya. Padahal tidak semua orang kaya itu bahagia, mereka bisa jadi hatinya gundah. Orang yang hidupnya sederhana bisa jadi mereka lebih bahagia. Kita tidak hanya berharap bahagia dunia saja, tapi juga berharap bahagia akhirat. Karena akhirat itu yang abadi.
Jika kita ingin atau mengharapkan menjadi orang kaya, lebih cenderung terseret ke jalan yang tidak benar. Dia akan melakukan apapun, menghalalkan segala cara. Jika sudah kaya, mereka akan memuaskan kehendak, memuaskan hawa nafsu. Mereka akan puas, tapi puas yang dilandasi hawa nafsu. Puas yang dilandasi hawa nafsu, lama-lama tidak akan merasa puas, dan tidak akan bahagia.
Jika kita dari orang yang sederhana, dia tahu semua ini hanya Titipan Tuhan. Dia akan ikhlas, mengeluarkan zakat, bersedekah, korban, membantu anak yatim piatu dan lain-lain. Jika harapan yang dia inginkan belum tercapai, dia akan selalu bersabar. Jika harapannya tercapai, mereka akan bersyukur.
Harapan tidak selamanya menjadi kenyataan. Ada sebuah pepatah mengatakan “Berusahalah untuk urusan dunia seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan berusahalah untuk urusan akhirat seolah-olah kamu akan mati besok pagi”.
Kepercayaan dan Kebenaran
Harapan harus berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan, kata dasarnya “percaya” yang artinya menyakini akan kebenaran. Kepercayaan merupakan hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Harapan dan kepercayaan tidak bisa dipisahkan. Kebenaran pengetahuan atas orang lain, karena orang lain itu dapat dipercaya. Pengetahuan yang diterima dari orang yang dapat dipercaya ini yang dinamakan kepercayaan. Kepercayaan dalam agama, keyakinan yang paling besar. Dalam agama, setiap orang wajib menghormati kepercayaan umat lain, dengan istilah lain toleransi.
Kebenaran menurut Poedjawiyatna, dalam bukunya “Etika Filsafat Tingkah Laku”, kebenaran adalah harapan orang yang tahu. Kebenaran tersebut, kebenaran yang logis, benar-benar diusahakan. Tidak ada seorang pun yang suka dengan kekeliruan. Dasar kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia.
Kepercayaan bisa kita bagi menjadi empat, kepercayaan kepada diri sendiri, kepercayaan kepada orang lain, kepercayaan kepada pemerintah dan kepercayaan terpenting adalah kepercayaan kita kepada Tuhan.
Kepercayaan kepada Tuhan, sebagai tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia kepada Tuhan-Nya. Dengan kepercayaan ini, tiap-tiap individu merasa bahwa tujuan hidup, bahagia yang sebenarnya tidak ada di dunia, tapi di akhirat. Kepercayaan kepada pemerintah, kita mempercayakan pilihan kita untuk mewujudkan Negara yang adil, makmur dan berdaulat.
Kepercayaan pada diri sendiri, ini sangat perlu ditanamkan kepada setiap individu, setiap pribadi manusia. Percaya bahwa dirinya itu benar, percaya bahwa dirinya mampu dalam melakukannya, dan lain-lain. Kepercayaan kepada orang lain, percaya dengan kata hatinya. Ada pepatah “orang itu dipercaya karena ucapannya”. Semua yang dilakukan itu sesuai dengan ucapannya. Semisal berjanji, meskipun berat dan ada kepentingan lain yang lebih mendesak, ia akan tetap melakukan janji itu.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Harapan berasal dari kata “harap” yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi. Harapan adalah keinginan yang belum terwujud. Hatilah yang mempunyai harapan. Seseorang yang putus harapan akan mengalami yang namanya putus asa. Setiap orang pasti mempunyai harapan. Penyebab manusia mempunyai harapan ada dua dorongan, yaitu dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu dorongan sifat, keadaan, pembawaan alamiah yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia lahir diciptakan oleh Tuhan. Dorongan kebutuhan hidup ada kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Macam-macam harapan adalah Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival), Harapan untuk memperoleh keamanan (safety), Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untyk mencintai dan dicintai (being loving and love), Harapan untuk memperoleh status untuk diterima atau diakui di lingkungan, dan Harapan untuk memperoleh perwujudan dari cita-cita (self actualization).
Harapan adalah fenomena yang sifatnya universal. Harapan merupakan sesuatu wajar dan berkembang dalam diri manusia, dimanapun dia berada. Harapan itu sesuai dengan kebutuhan manusia yang memiliki harapan itu. Harapan yang sangat mendalam dapat menimbulkan keinginan. Hubungan manusia dan harapan sangatlah erat, ada pepatah yang mengatakan “manusia tanpa cita-cita ibarat sudah mati sebelum ajal”. Artinya orang yang tidak mempunyai cita-cita atau harapan itu seperti orang yang sudah mati. Harapan sifatnya manusiawi, dimiliki oleh siapapun dari golongan apapun, kapanpun dan dimanapun.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan. Kepercayaan, kata dasarnya “percaya” yang artinya menyakini akan kebenaran. Kepercayaan merupakan hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Harapan dan kepercayaan tidak bisa dipisahkan. Kebenaran menurut Poedjawiyatna, dalam bukunya “Etika Filsafat Tingkah Laku”, kebenaran adalah harapan orang yang tahu. Kebenaran tersebut, kebenaran yang logis, benar-benar diusahakan.
DAFTAR PUSTAKA
Mustopo, Muhammad Habib. 1989. ILMU BUDAYA DASAR. Kumpulan Essay : Manusia dan Budaya. Surabaya : Usaha Nasional.
Widagdho, Joko. 1994. ILMU BUDAYA DASAR. Jakarta : Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar