REVOLUSI ISLAM IRAN
Oleh
Nur Isnaini Firdhausa Kholidah
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah member Rahmat, Hidayat dan KaruniaNya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Juma’ selaku dosen Islam di Asia Barat yang telah memberikan tugas makalah dengan judul “Revolusi Islam Iran”.
Harapan kami dengan membuat makalah ini teman-teman, dosen, dan pembaca dapat menambah pengetahuan, ilmu yang bermanfaat dan pengalaman bagi pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk kalimat dan menambahkan isi makalah ini.
Karena keterbatasan kami dalam membuat makalah ini. Kami membutuhkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari teman-teman, dosen, dan pembaca agar menjadi lebih baik.
Sukoharjo, 06 Maret 2019
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keberhasilan revolusi Islam Iran tanggal 11 Februari 1979 adalah sebuah deskripsi dramatis bagi semangat kebangkitan Islam militan di bekas kerajaan Persia kuno, tidak sengaja membuat miris rezim semi-feodal di dunia Arab namun juga menimbulkan ketegangan berat di dunia Barat. Kekalahan Syah Iran menyesakkan dada para penguasa semi-feodal di negara-negara Tmur Tengah yang menganggap Syah sebagai pelindung mereka.
Menarik saat revolusi Islam Iran ditimjau dari aspek pergerakan kebangkitan kaum Islam militan hingga mampu merebut kekuasaan dari genggaman rezim diktator tanpa sedikitpun meneteskan darah rakyat. Perubahan sistem pemerintahan Iran dari monarki yang turun temurun dan menjadi republik Islam melahirkan sifat pemerintahan dan kepemimpinan dalam masyarakat muslim.
Rumusan Masalah
Revolusi apa saja yang terjadi sebelum meletusnya revolusi Islam Iran?
Bagaimana situasi meletusnya revolusi Islam Iran ?
Tujuan Penulisan
Mengetahui berbagai rvolusi yang terjadi sebelum meletusnya revolusi Islam Iran.
Mengetahui situasi meletusnya revolusi Islam Iran.
Revolusi Sebelum Revolusi Iran
Revolusi Mazdak
Revolusi mazdak terjadi dilatarbelakngi oleh adanya penindasan yang dilakukan oleh Dinasti Sasanid kepada para buruh dan juga petani miskin. Revolusi ini di peolopori oleh Mazdak. Mazdak adalah seorang revolusioner besar pada zaman itu dengan gerakan revolusinya. Ajarannya menuntut distribusi kesejahteraan yang adil, melarang memiliki istri lebih dari satu dan memperjuangkan eliminasi kebangsawanan dan feodalisme. Gagasan-gagasan pada revolusi Mazdak mengakar kuat dikalangan budak dan kaum tani miskin. Gerakannya bertahan selama 30 tahun dari tahhun 494-524 M.
Pada masa pemerintahan Raja Nosherwan gerakan Mazdak secara brutal ditindas dan sebanyak 30.000 pengikutnya dbinasakan. Dipertengahan abad ke 7 M, terjadilah sebuah peristiwa yang mengubah nasib Iran. Tentara Arab berhasil menaklukan negara-negara tersebut dan banyak dari rakyat Iran yang kmudian memeluk agam Islam yang semula beragama Persia kuno yaitu Zoroastrianisme.
Revolusi Bab / Konsesi Tembakau
Kemenangan Dinasti Qajar atas kaum Zaund pada tahun1974 telah mengakhiri otoritarianisme. Namun ketika Dinasti Qajar memimpin banyak terjadi ketidakpuasan dalam bidang ekonomi karena ketidakmampuannya dalam membangun ekonomi modern, serta dominasi ekonomi asing yang berujung pada gerakan massa. Revolusi Bab tahun 1844 adalah gerakan massa yang melakuakn perlawanan terhadap kebijakan politik luar negeri Qajar yang menghadirkan konsesi kepada perusahaan tembakau Inggris. Gerakan perlawanan ini dilakukan oleh para pedagang dan institusi religius yang mendapatkan dukungan dari para bazaris, penjaga toko, dan dari kelas yang lebih rendah lainnya.
Revolusi Konstitusional
Pada akhir kekuasaan Dinasti Qajar pada 1906, telah terjadi apa yang disebutdengan Revolusi Konstitusional yang digerakkan oleh kaum kelas menengah. Revolusi ini akhirnya berhasil memaksa Raja Muhammad Ali Syah untuk memberlakukan konstitusi model Barat dan membentuk parlemen (males). Terjadinya revolusi konstitusional disebabkan oleh timbulnya tuntutan atas dirombaknya tatanan tradisional, dan terjadinya fragmentasi dikalangan penguasa Qajar sendiri.
Revolusi Putih
Revolusi putih ini dicetuskan oleh Syah pada 1963 yang merupakan sebuah program reformasi agraria dengan memberikan tanah kepada 1,5 juta keluarga pededesaan yang dikombinasikan dengan langkah-langkah pendidikan dan kesehatan. Pada tahun 1963-1967 kondisi ekonomi Iran cukup stabil karena harga minyak dunia naik empat kali lipat dan pendapatan Iran meningkat dari 5 milyar dollar ke 20 milyar dolar pertahunnya.
Dengan meningkatnya pendapatan ekonomi Iran, Syah merayakan ulang tahun ke 2500 berdirinya kerajaan persia dari masa Cyrus pada tahun 550 SM. Ketika itu Syah benar-benar sedang mabuk kekuasaan dan pesta tersebut telah menghabiskan dana sebesar ratusan juta dolar. Akibat dari pendapatan Iran yang sangat melejit tersebut terjadi inflasi yang yang tinggi di Iran, migrasi masal ke daerah perkotaan yang akhirnya mebuat para rakyat kelas menengah seperti buruh dan petani melakukan gerakan masa revolusioner.
Meletusnya Revolusi Islam Iran
Banyak analisi yang mengatakan bagaimana situasi di Iran yang mengakibatkan berhasilnya Revolusi Islam dan jatuhnya seorang Reza Syah dari tahta kepemimpinannya. Terdapat empat faktor yang menagkibatkan terjadinya revolusi Islam Iran yaitu keberhasilan kelompok-kelompok anti Syiah menggalang persatuan, tampilnya Syi’isme sebagai ideologi revolusioner yang memberikan landasan pembenaran bagi perjuangan melawan Syah serta menjanjikan masa depan Iran yang cemerlamg, keberhasilan kaum revolusioner dalam menarik dukungan internasional, kegagalan Syah dalam memnafaatkan sarana-sarana represif secara efektif.
Situasi Terjadinya Revolusi Islam
Bermula dari peringatan 10 Muharram di kota suci Syi’ah pada 1 Desember 1978 retusan ribu orang turun ke jalan memperingati terbunuhnya Imam Husein di tengah padang pasir Karbala. Sambil berteriak Allahu Akbarterus menerus mulai dari masjid-masjid, rumah-rumah hingga jalan-jalan di berbagai wilayah diiringi dengan tuntutan kepada Syah Iran untuk turun dari tahta kepemimpinan. Demonstrasi yang pada awalnya hanya sebuah acara ritual berubah menjadi kerusuhan setelah tentara memblokir jalan-jalan dan menembaki para demonstran. Masyarakat yang sebenarnya memperingati hari Asy Syura itu banya yang menjadi korban, mereka mati sebagai syuhada. Persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa mereka yang tebunuh sebagai syuhada, sehingga pada hari-hari berikutnya terjadi pemogokan massal di seluruh penjuru Iran. Dan menuntut Jendral Azhari dipecat karena kebrutalan menembaki masyarakat yang tak berdosa.
Sebagai rasa simpati terhadap kejadian tersebut pada 11 Desember 1978 digelar kembali demonstrasi nasional di depan Avenue Syah (istana Syah) untuk menentang pemerintah. Pada hari pertama situsai masih bisa terkendali masyarakat hanya menyuarakan agar Syah segera turun dari jabatan dan mereka menyerukan “HidupKhomaeni “. Namun pada hari kedua para demonstran mejadi brutal karena menuntut balas dendam akibat penndaan dan penembakan. Mereka menyerukan slogan “mampuslah Syah” dan menginginkan agar Khomaeni menjadi pemimpin yang baru. Pada hari itu 3 juta rakyat Teheran menentang pemerintahan Syah Iran.
Pada 13 Desmber 1978 Syah memerintah para tentara agar melakukan perlawanan. Para tentara Syah memaksa orang-orang pinggiran, pedagang kecil, dan kaum buruh agar menyuarakan “hidup Syah” kalau tidak mereka akan ditembak. Namun banyak dari mereka yang tidak mau melakukannya dan akhirnya mereka ditembak mati. Mendengar kekejaman yang dilakukan oleh tentara Syah para dokter, dan perawat serta pegawai kesehatan membantu para korban yang ditembak mati maupun luka-luka, namu karena hal itu justru rumah sakit dan apotek-apotek malah dibakar hangus oleh para tentara SAVAK tanpa belas kasihan.
Pada 15 Desember 1978 terjadi pemberontakan dari para dokter dengan membuta pernyataan “ para dokter perawat, dan apoteker bergabung dengan rakyat yang berjuang di bawah pimpinan Khomaeni”. Melihat pernyataan tersebut Syah panik karena awalnya para dokter tersebut berada dibelakang Syah ditambah lagi pemberontakan para dokter tersebut mendapat perhatian dari Prancis. Dari pemberontakan dokter tersebut muncul fenomena baru dimana tentara-tentara Syah iku mebangkang. Untuk mengatasi ketegangan tersebut Syah membentuk pemerintahan sipil. Ketegangan semakin memuncak ketika kantor Kedutaan Besar Amerika berhasil dikuasai oleh para Mahasiswa, dan kantor peruahaan penerbangan Israel juga brhasil diporak porandakan oleh massa yang mengakibtakan terbunuhnya wakil direktur perusahaan Amerika. Mendengar hal tersebut AS marah besar dan mengancam seluruh oposisi dan ulama.
Ancaman dari AS tidak menyurutkan semangat para demonstrasi justru mereka malah melakukan aksi pemgokan kerja nasional yang berdampak pada lumpuhnya perusahaan minyak nasional Iran, bahkan para kru pesawat, nahkoda, masinis mogok total dan menghentikan ekspor minyak Iran yang berimbas pada turunya harga minyak yang cukup drastis. Pada tanggal 13 Desember 1979 salah seorang Jendral yang bernama Jendral Azhari mengundurkan diri dari jabatanyya dan pergi melarikan diri ke luar negeri. Kemudian tanggal 1 Januari 1979 para dokter mengirim surat kepada PBB untuk untuk mengehntikan kekerasan di Iran, karena setiap harinya terjadi pembunuhan oleh orang-orang yang tak dikenal yang diduga sebagai tentara SAVAK.,
Setelah Azhari mengundurkan diri Syah mencari perdana menteri baru untuk menggantikan Azhari. Shapur Bakhtiar yang menajdi pengganti Azhari adalah orang yang pernah dipenjara. Alasan Bakhtiar bersedia untuk menjabat sebagai perdana menteri yang aru adalah untuk menghindarkan Iran dari chaos total. Langkah pertama yang dia ambil adalah membubarkan SAVAK, mencabut sensor press, dan meyakinkan Syah untuk pergi ke luar negeri. Syah menyetujui nya dan Syah memutuskan untuk pergi meninggalkan negaranya dan dia pergi ke Los Angles bersama dengan anak, istri dan orangtuanya. Sebelum Syah meninggalkan Iran ia membentuk Dewam Negara yang beranggotakan 9 orang, dan kesembilan orang tersebut adalah orang-orang kepercayaan Syah. Alasan Syah membentuk Dewan Negara tersebut adalah jika suatu saat kondisi Iran sudah membaik dia berharap dapat kembali memangku jabatan sebagai pemimpin Iran kembali.
Pengangkatan Shapur Bakhtiar sebagai perdana menteri ternyata tidak memberikan pengaruh apapun terhadap Iran, justru pada tanggal 19 Januari 1979 jutaan orang berdemo menuntut agar Bakhtiar turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Akhirnya Shapur Bakhtiar mundur dari jabatannya dan meminta Khoameni untuk pulang dan memimpin Iran. Tanggal 25 Januari 1979 Khomaeni pulang dari pengasingannya dan kepulangan Khoameni disambut dengan luar biasa oleh rakyat Iran, akhirnya pada 13 Februari 1979 dihadapan para wartawan Khoameni mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi dan berakhirlah Dinasti Pahlevi sekaligus tumbanglah kerajaan Persia.
BAB III
PENUTUP
Keberhasilan revolusi Islam Iran tanggal 11 Februari 1979 adalah sebuah deskripsi dramatis bagi semangat kebangkitan Islam militan di bekas kerajaan Persia kuno, tidak sengaja membuat miris rezim semi-feodal di dunia Arab namun juga menimbulkan ketegangan berat di dunia Barat. Kekalahan Syah Iran menyesakkan dada para penguasa semi-feodal di negara-negara Tmur Tengah yang menganggap Syah sebagai pelindung mereka.
Referensi
Kiki,Mikail. Iran di Tengah Hegemoni Barat.
Prof.Dr.H.Musa Asy’ari. Islam Ditepian Revolusi. Yogyakarta: Pilar Media. 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar