Rabu, 06 September 2017

MAKALAH SEJARAH PULAU JAWA PRA ISLAM

SEJARAH PULAU JAWA PRA ISLAM
Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Islam Dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu Ainun Yudhistira, S.H.I., M.H.I


















DISUSUN OLEH :
Dhiya Ulfiqri                           (173231061)
Nur Afni Sedyowati               (173231062)
Wahyu Indra Widyasmoko     (173231063)
Rina Marsidyani Kasanah       (173231064)



SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
SURAKARTA
2017




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
     Kebudayaan  Jawa merupakan satu dari sekian banyak kebudayan di Indonesia. Hingga saat ini, kebudayaan ini terus berkembang seiring dengan berkembangnya pola hidup dan faktor-faktor dalam kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan Jawa disini adalah nilai budaya dalam  masyarakat Jawa yang dipandang perlu bagi proses berlangsungnya hidup, karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi tindakan-tindakan masyarakat dimana nilai tersebut dianut.

     Salah satu sikap positif masyarakat Jawa jika dipandang dari sudut pandang luar adalah bahwa pada dasarnya masyarakat Jawa menganut sistem budaya terbuka terhadap pengaruh budaya luar, atau budaya asing. Proses asimilasi sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dimana beberapa kelompok manusia dengan latar budaya yang berbeda saling bergaul secara langsung dan intensif, dengan jangka waktu yang relatif lama sehingga kebudayaan-kebudayaan dari beberapa kelompok tersebut saling menyesuaikan diri menjadi kebudayaan campuran. Sehingga masyarakat Jawa tidak memiliki ciri khusus, sebab ciri khasnya justru pada kemampuannya yang luar biasa dalam membiarkan dirinya dibanjiri kebudayaan-kebudayaan yang datang dari luar sambil tetap kukuh mempertahankan keasliannya.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana asal usul Jawa ?
2.      Bagaimana letak geografis dan demografis Jawa ?
3.      Bagaimana etika Jawa ?

C.    TUJUAN
1.         Agar memahami asal-usul Jawa
2.         Agar mmahami letak geografi dan demografi Jawa
3.         Agar memahami etika Jawa







 BAB II
PEMBAHASAN
A.     ASAL-USUL JAWA
      Jika kita menulusuri sejarah  jawa, maka kita akan kembali pada masa 3000 th SM, Dimana pada saat itu terjadi imigrasi secara besar-besaran. Suku Melayu yang berasal dari China Selatan mulai membanjiri Asia Tenggara termasuk diantaranya adalah Indonesia, yang selanjutnya di susul oleh gelombang-gelombang berikutnya. Suku Jawa disinyalir berasal dari keturunan imigrasi Melayu pada gelombang berikutnya itu.

      Jauh sebelum masuknya agama Hindu dan Budha, suku Jawa telah terhimpun menjadi masyarakat yang arif, teratur dan bersahaja. Menjunjung tinggi nilai-nilai norma di masyarakat adalah bagian dari wujud abstrak kebudayaan yang menjadi pedoman bagi orang Jawa pada saat itu. Bahkan, hingga saat ini, budaya-budaya tersebut masih eksis dan diwarisi oleh anak cucu dari suku Jawa itu sendiri. Berangkat dari nilai kepribadian yang luhur di atas, orang  Jawa memiliki solidaritas yang sangat kuat, sebagai mana mereka menjaga hubungan baik pertalian darah.
  Dari segi sosial, masyarakat Jawa masa itu telah mengenal sistem perpolitikan walau masih berskala kecil. Dibuktikan dengan lahirnya lembaga-lembaga politik di tingkat desa. Dikarenakan sebagian besar dari mereka mnggantungkan hidup dari pertanian, sehingga berangkat dari sistem perpolitikan skala kecil tadi, menciptakan suatu gerakan perkumpulan masyarakat yang saling membantu satu sama lain  (gotong royong).
B.     GEOGRAFIS  PULAU  JAWA
Pulau Jawa adalah sebuah pulau terluas ke 13 di dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar hampir 160 juta  penduduk. Data letak geografis pulau Jawa :
1.      Luas Pulau Jawa adalah 126.700 km² (48.919,1 mil²).
2.       Letak Astronomi Pulau Jawa terletak di antara 113°48′10″ - 113°48′26″ BT dan 7°50′10″ - 7°56′41″ LS
3.       Batas Laut:

- Sebelah utara : Laut Jawa
- Sebelah selatan : Samudra Hindia
- Sebelah barat : Selat Sunda
- Sebelah timur : Selat Bali

4.       Batas daratan Pulau Jawa :

  - Sebelah utara : Laut Jawa dan Pulau Kalimantan
  - Sebelah selatan : Samudera Hindia
  - Sebelah barat : Selat Sunda dan Pulau Sumatera

  - Sebelah timur : Selat Bali dan Pulau Bali
5.       Nama pantai yang ada di pulau Jawa :

- Pantai Pangandaran (Jawa Barat)
- Pantai Carita (Banten)
- Pantai Siung (Yogyakarta)
- Pantai Menganti (Jawa Tengah)
- Pantai Ombak Mati (Jawa Tengah)
- Pantai Karang Agung (Jawa Timur)
- Pantai Tanjung Lesung (Banten)
- Pantai Klayar (Jawa Timur)
- Pantai Anyer (Banten)
- Pantai Parangkritis

6.       Nama Laut yang ada di pulau Jawa 

- Laut Jawa
- Samudera Hindia

7.      Nama Dataran rendah yang ada di Pulau Jawa :

  - Dataran rendah Surakarta
    Terletak di Provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian  95 meter sampai 105 meter di atas permukaan laut.
  - Dataran rendah Semarang
    Dataran rendah ini mempunyai ketinggian berkisar antara 0 sampai 3,5 meter di atas permukaan laut dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa.
   - Dataran rendah Madiun
     Terdapat di Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur.
Dataran rendah Madiun berada pada ketinggian antara 63 meter sampai dengan 67 meter dari atas permukaan air laut. 

8.       Nama Gunung yang ada di pulau Jawa

- Gunung Ciremai, Jawa Barat.

- Gunung Papandayan, Jawa Barat.

- Gunung Salak, Jawa Barat.
- Gunung Tangkupan Perahu, Jawa Barat.
- Gunung Sindoro, Jawa Tengah.
- Gunung Sumbing, Jawa Tengah.
- Gunung Merbabu, Jawa Tengah.
- Gunung Merapi, Jawa Tengah.
- Gunung Prau, Jawa Tengah.
- Gunung Lawu, Jawa Timur.
- Gunung Ijen, Jawa Timur.
- Gunung Argopuro, Jawa Timur.
- Gunung Semeru, Jawa Timur.


C.    DEMOGRAFI PULAU JAWA
Demografi : de•mo•gra•fi /démografi/ n ilmu tt susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk; ilmu yg memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial politik; dan ilmu kependudukan. (Kamus Bahasa Indonesia)

Menurut Koentjaraningrat (1963) telah menggambarkan stratifikasi (tingkatan) masyarakat Jawa dengan mencoba menganalisa dan membuat perbedaan yang jelas antara pembagian-pembagian masyarakat Jawa yang horisontal dan vertikal. Menurutnya orang jawa sendiri membedakan empat tingkat sosial sebagai stratifikasi status; yaitu dhara (bangsawan), priyayi (birokrat), wong dagang atau saudagar (pedagang) dan wong cilik (orang kecil, rakyat kecil).

Di pulau Jawa terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta kebudayaannya. Kepercayaan pada masa itu kebanyakan adalah percaya kepada roh-roh halus (animisme), dan percaya kepada pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar. Arwah nenek moyang itu sering dimintai tolong untuk urusan mereka.

Pada abad ke-4 SM hingga abad ke-1 atau ke-5 M penduduk Jawa menerima pengaruh dari kerajaan Hindu-Buddha dari India. Sebagai bukti ialah beberapa struktur megalitik telah ditemukan di pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja batu, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus.

Beberapa suku yang sudah ada di pulau ini diantaranya ada suku Jawa (termasuk Cirebon , Osing, Tengger). Suku Madura (Pendalungan). Suku Sunda (termasuk Baduy , Banten), dan Suku Betawi ada juga beberapa minoritas orang Tionghoa dan orang Arab. Ada juga bahasa yang ada di pulau ini diantaranya : Bahasa Baduy, bahasa Betawi, bahasa Javindo, bahasa Jawa, bahasa Kangean, bahasa Cirebon, bahasa Madura, bahasa Osing.

Pulau Jawa yang sangat subur dan bercurah hujan tinggi memungkinkan berkembangnya budidaya padi di lahan basah, sehingga mendorong terbentuknya tingkat kerjasama antar desa yang semakin kompleks. Dari aliansi-aliansi desa tersebut, berkembanglah kerajaan-kerajaan kecil. Jajaran pegunungan vulkanik dan dataran-dataran tinggi di sekitarnya yang membentang di sepanjang pulau Jawa menyebabkan daerah-daerah interior pulau ini beserta masyarakatnya secara relatif terpisahkan dari pengaruh luar. Pada masa sebelum berkembangnya negara-negara Islam serta kedatangan kolonialisme Eropa, sungai-sungai yang ada merupakan sarana perhubungan utama masyarakat, meskipun kebanyakan sungai di Jawa beraliran pendek. Hanya Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang dapat menjadi sarana penghubung jarak jauh, sehingga pada lembah-lembah sungai tersebut terbentuklah pusat dari kerajaan-kerajaan yang besar.

D. ETIKA JAWA
1. PENGERTIAN ETIKA JAWA
     Berasal dari bahasa yunani yaitu “ethos” dan “eticos”. Etos berarti sifat dan eticos brarti kelakuan. Pengertian etika secara terminonologi yaitu ilmu yang menjelaskan baik dan buruk. Pengertian Jawa adalah orang masyarakat dan  bahasa yang berada di Jawa.
     Jadi, etika Jawa adalah pola pikir atau sifat masyarakat Jawa untuk mencari solusi-solusi terbaik dalam menelusuri jalan hidup demi tercapainya tujuan yang diinginkan menurut adat dan paham masyarakat Jawa.
2. KARAKTERISTIK MASYARAKAT JAWA
a)    Masyarakat Jawa Dilihat dari Segi Kebudayaan dan Adat.
Wayang merupakan salah satu budaya Jawa yang merupakan simbol untuk masyarakat Jawa. Jadi dengan budaya pewayangan sebagai simbol masyarat dimana wayang selalu menampilkan  konflik antara yang benar dan  yang buruk tanpa ada yang menang dan yang kalah. Budaya yang seperti inilah yang dipahami masyarakat Jawa sebagai suatu realitas hidup dimana ada keburukan disitulah ada kebaikan atau dengan kata lain baik dan buruk akan selalu mewarnai hidup manusia.

b)    Masyarakat Jawa Dilihat Dari Segi Kenikmatan Hidup.
Masyarakat Jawa dikenal dengan orang yang menikmati hidup dengan praktiknya didalam bidang keluarga dan gotong royong. Dimana didalam keluarga merupakan sarang keamanan dan sumber perlindungan benar-benar dirasakan. Gotong royong merupakan kenikmatan masyarakat Jawa dengan keramah-tamahannya dan kekentalannya dalam sebuah paguyuban atau kelompok.

c)    Masyarakat Jawa Dilihat dari Kepercayaan
Sejak jaman  prasejarah masyarakat Jawa menganut sistem animisme dan dinamisme. Animisme adalah  kepercayaan kepada roh-roh halus sedangkan dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda.
3 Unggah-Ungguh Dalam Etika Jawa
1.    Pengertian unggah-ungguh.
Unggah-ungguh berasal dari dua kata yaitu unggah dan ungguh. Unggah dalam bahasa Jawa yaitu munggah dalam bahasa Indonesia yaitu naik keatas maupun memanjat, yang berarti masyarakat Jawa menghormati orang yang lebih diatas derajatnya. Sedangkan ungguh yang dalam konteks bahasa Indonesianya yaitu sesuai pantas dan menyesuaikannya yang berarti  masyarakat Jawa selalu menyesuaikan dan berhati-hati dalam membawa atau  memantaskan diri. Itu semua untuk tidak menyinggung orang lain dan untuk tidak menimbulkan konflik.

2.    Ada dua aspek jika kita membahas tentang unggah-ungguh. Aspek pertama yaitu dalam bertutur dan berbahasa, yang kedua dalam tingkah laku masyarakat:

a.     Aspek bertutur dan berbahasa.
Dalam bahasa Jawa terdapat tingkatan bahasa, yaitu Jawa ngoko, madya, dan krama. Ngoko merupakan tingkat bahasa yang paling rendah, yang biasa digunakan raja kepada rakyat maupun orang tua kpada anaknya dan orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Tingkat yang kedua yaitu madya digunakan untuk sesama teman dan sesama derajat. Paling tinggi tingkatannya yaitu krama yaitu menyatakan kesopanan yang paling tinggi digunakan untuk semua kalangan yang kedudukannya jauh lebih tinggi, seperti anak kepada orang tuanya, rakyat kecil kepada rajanya.

b.    Aspek Pergaulan (tingkah laku dalam masyarakat jawa)
Selain kemampuan dalam bertutur kata dan pemakaian bahasa yang tepat, orang Jawa harus bersifat hormat atau andap anshor (rendah  hati). Yang berperan sangat penting dalam prgaulan masyarakat Jawa.




KESIMPULAN
 Zaman dahulu terjadi imigrasi secara besar-besaran. Suku melayu yang berasal dari China Selatan mulai membanjiri Asia Tenggara termasuk diantaranya adalah Indonesia, yang selanjutnya di susul oleh gelombang-gelombang berikutnya. Suku Jawa di sinyalir berasal dari keturunan imigrasi melayu pada gelombang berikutnya itu. Suku Jawa adalah suku yang telah berada lama di pulau Jawa ini sejak dahulu hingga sekarang. Suku Jawa sangat terkenang dengan budayanya yang arif.
Pulau Jawa adalah sebuah pulau terluas ke 13 di dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar dengan penduduk kurang lebih 145.143.600  jiwa pada tahun 2015. Adapun kelompok etnik dari berbagai suku.
Etika Jawa adalah pola pikir atau sifat masyarakat Jawa untuk mencari solusi-solusi terbaik dalam menelusuri jalan hidup demi tercapainya tujuan yang diinginkan menurut adat dan paham masayarakat Jawa. Etika di Jawa itu terkenal lembut, penuh dengan sopan sapun, lemah gemulai.




DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Lorens, 2000, Kamus Filsafah, Jakarta: Indonesia, Gramedia Pustaka
Amin, Ahmad, 1983, Etika (Ilmu Akhlak), Jakarta, Bulan Bintang
Tebba, Sudirman, 2007, Etika dan Tasawuf Jawa; Untuk Meraih Keterangan Hati, Tangerang, Pustaka




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...