SEJARAH PULAU JAWA PRA ISLAM
Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Islam
Dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu Ainun Yudhistira, S.H.I.,
M.H.I

DISUSUN
OLEH :
Dhiya Ulfiqri (173231061)
Nur Afni
Sedyowati (173231062)
Wahyu Indra
Widyasmoko (173231063)
Rina Marsidyani
Kasanah (173231064)
SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Kebudayaan
Jawa merupakan satu dari sekian banyak kebudayan di Indonesia. Hingga
saat ini, kebudayaan ini terus berkembang seiring dengan berkembangnya pola
hidup dan faktor-faktor dalam kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan Jawa disini
adalah nilai budaya dalam masyarakat
Jawa yang dipandang perlu bagi proses berlangsungnya hidup, karena baik secara
langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi tindakan-tindakan masyarakat
dimana nilai tersebut dianut.
Salah satu sikap positif masyarakat Jawa
jika dipandang dari sudut pandang luar adalah bahwa pada dasarnya masyarakat
Jawa menganut sistem budaya terbuka terhadap pengaruh budaya luar, atau budaya
asing. Proses asimilasi sering terjadi dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Dimana beberapa kelompok manusia dengan latar budaya yang berbeda saling
bergaul secara langsung dan intensif, dengan jangka waktu yang relatif lama
sehingga kebudayaan-kebudayaan dari beberapa kelompok tersebut saling
menyesuaikan diri menjadi kebudayaan campuran. Sehingga masyarakat Jawa
tidak memiliki ciri khusus, sebab ciri khasnya justru pada kemampuannya yang
luar biasa dalam membiarkan dirinya dibanjiri kebudayaan-kebudayaan yang datang
dari luar sambil tetap kukuh mempertahankan keasliannya.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimana asal usul Jawa ?
2.
Bagaimana letak geografis dan demografis Jawa ?
3.
Bagaimana etika Jawa ?
C.
TUJUAN
1.
Agar memahami asal-usul
Jawa
2.
Agar mmahami letak
geografi dan demografi Jawa
3.
Agar memahami etika
Jawa
BAB II
PEMBAHASAN
A.
ASAL-USUL JAWA
Jika kita menulusuri sejarah jawa, maka kita akan kembali pada masa 3000
th SM, Dimana pada saat itu terjadi imigrasi secara besar-besaran. Suku Melayu
yang berasal dari China Selatan mulai membanjiri Asia Tenggara termasuk
diantaranya adalah Indonesia, yang selanjutnya di susul oleh
gelombang-gelombang berikutnya. Suku Jawa disinyalir berasal dari keturunan
imigrasi Melayu pada gelombang berikutnya itu.
Jauh sebelum masuknya agama Hindu dan
Budha, suku Jawa telah terhimpun menjadi masyarakat yang arif, teratur dan
bersahaja. Menjunjung tinggi nilai-nilai norma di masyarakat adalah bagian dari
wujud abstrak kebudayaan yang menjadi pedoman bagi orang Jawa pada saat itu.
Bahkan, hingga saat ini, budaya-budaya tersebut masih eksis dan diwarisi oleh
anak cucu dari suku Jawa itu sendiri. Berangkat dari nilai kepribadian yang
luhur di atas, orang Jawa memiliki
solidaritas yang sangat kuat, sebagai mana mereka menjaga hubungan baik
pertalian darah.
Dari segi
sosial, masyarakat Jawa masa itu telah mengenal sistem perpolitikan walau masih
berskala kecil. Dibuktikan dengan lahirnya lembaga-lembaga politik di tingkat
desa. Dikarenakan sebagian besar dari mereka mnggantungkan hidup dari
pertanian, sehingga berangkat dari sistem perpolitikan skala kecil tadi,
menciptakan suatu gerakan perkumpulan masyarakat yang saling membantu satu sama
lain (gotong royong).
B.
GEOGRAFIS PULAU
JAWA

Pulau Jawa adalah sebuah pulau terluas ke 13 di
dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar hampir 160 juta penduduk. Data letak geografis pulau Jawa :
1.
Luas Pulau Jawa
adalah 126.700 km² (48.919,1 mil²).
2.
Letak Astronomi Pulau Jawa terletak di antara
113°48′10″ - 113°48′26″ BT dan 7°50′10″ - 7°56′41″ LS
3.
Batas Laut:
- Sebelah utara : Laut Jawa
- Sebelah selatan : Samudra Hindia
- Sebelah barat : Selat Sunda
- Sebelah timur : Selat Bali
4.
Batas daratan Pulau Jawa :
- Sebelah utara : Laut Jawa dan Pulau Kalimantan
- Sebelah selatan : Samudera Hindia
- Sebelah barat : Selat Sunda dan
Pulau Sumatera
- Sebelah timur
: Selat Bali dan Pulau Bali
5.
Nama pantai yang ada di pulau Jawa :
- Pantai Pangandaran (Jawa Barat)
- Pantai Carita (Banten)
- Pantai Siung (Yogyakarta)
- Pantai Menganti (Jawa Tengah)
- Pantai Ombak Mati (Jawa Tengah)
- Pantai Karang Agung (Jawa Timur)
- Pantai Tanjung Lesung (Banten)
- Pantai Klayar (Jawa Timur)
- Pantai Anyer (Banten)
- Pantai Parangkritis
6.
Nama Laut yang ada di pulau Jawa
- Laut Jawa
- Samudera Hindia
7.
Nama Dataran rendah
yang ada di Pulau Jawa :
- Dataran rendah Surakarta
Terletak di Provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian 95 meter sampai 105 meter di atas permukaan
laut.
- Dataran rendah Semarang
Dataran rendah ini mempunyai ketinggian
berkisar antara 0 sampai 3,5 meter di atas permukaan laut dan berbatasan
langsung dengan Laut Jawa.
- Dataran rendah Madiun
Terdapat di Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur.
Dataran rendah Madiun berada pada ketinggian antara 63 meter sampai dengan 67
meter dari atas permukaan air laut.
8.
Nama Gunung yang ada di pulau Jawa
- Gunung Ciremai, Jawa Barat.
- Gunung
Papandayan, Jawa Barat.
- Gunung Salak, Jawa Barat.
- Gunung Tangkupan Perahu, Jawa Barat.
- Gunung Sindoro, Jawa Tengah.
- Gunung Sumbing, Jawa Tengah.
- Gunung Merbabu, Jawa Tengah.
- Gunung Merapi, Jawa Tengah.
- Gunung Prau, Jawa Tengah.
- Gunung Lawu, Jawa Timur.
- Gunung Ijen, Jawa Timur.
- Gunung Argopuro, Jawa Timur.
- Gunung Semeru, Jawa Timur.
C.
DEMOGRAFI
PULAU JAWA
Demografi
: de•mo•gra•fi /démografi/ n ilmu tt susunan, jumlah, dan perkembangan
penduduk; ilmu yg memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu
bangsa dilihat dari sudut sosial politik; dan ilmu kependudukan. (Kamus Bahasa Indonesia)
Menurut
Koentjaraningrat (1963) telah menggambarkan stratifikasi (tingkatan) masyarakat
Jawa dengan mencoba menganalisa dan membuat perbedaan yang jelas antara
pembagian-pembagian masyarakat Jawa yang horisontal dan vertikal. Menurutnya
orang jawa sendiri membedakan empat tingkat sosial sebagai stratifikasi status;
yaitu dhara (bangsawan), priyayi (birokrat), wong dagang atau saudagar
(pedagang) dan wong cilik (orang kecil, rakyat kecil).
Di pulau Jawa
terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta kebudayaannya.
Kepercayaan pada masa itu kebanyakan adalah percaya kepada roh-roh halus
(animisme), dan percaya kepada pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah
meninggal menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar. Arwah
nenek moyang itu sering dimintai tolong untuk urusan mereka.
Pada abad ke-4
SM hingga abad ke-1 atau ke-5 M penduduk Jawa menerima pengaruh dari kerajaan
Hindu-Buddha dari India. Sebagai bukti ialah beberapa struktur megalitik telah
ditemukan di pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja batu, dan piramida
berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden berundak dan menhir
ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa
Barat. Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan
struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus.
Beberapa suku
yang sudah ada di pulau ini diantaranya ada suku Jawa (termasuk Cirebon ,
Osing, Tengger). Suku Madura (Pendalungan). Suku Sunda (termasuk Baduy ,
Banten), dan Suku Betawi ada juga beberapa minoritas orang Tionghoa dan orang
Arab. Ada juga bahasa yang ada di pulau ini diantaranya : Bahasa Baduy, bahasa
Betawi, bahasa Javindo, bahasa Jawa, bahasa Kangean, bahasa Cirebon, bahasa
Madura, bahasa Osing.
Pulau Jawa yang
sangat subur dan bercurah hujan tinggi memungkinkan berkembangnya budidaya padi
di lahan basah, sehingga mendorong terbentuknya tingkat kerjasama antar desa
yang semakin kompleks. Dari aliansi-aliansi desa tersebut, berkembanglah
kerajaan-kerajaan kecil. Jajaran pegunungan vulkanik dan dataran-dataran tinggi
di sekitarnya yang membentang di sepanjang pulau Jawa menyebabkan daerah-daerah
interior pulau ini beserta masyarakatnya secara relatif terpisahkan dari
pengaruh luar. Pada masa sebelum berkembangnya negara-negara Islam serta kedatangan
kolonialisme Eropa, sungai-sungai yang ada merupakan sarana perhubungan utama
masyarakat, meskipun kebanyakan sungai di Jawa beraliran pendek. Hanya Sungai
Brantas dan Bengawan Solo yang dapat menjadi sarana penghubung jarak jauh,
sehingga pada lembah-lembah sungai tersebut terbentuklah pusat dari
kerajaan-kerajaan yang besar.
D. ETIKA JAWA
1. PENGERTIAN ETIKA JAWA
Berasal
dari bahasa yunani yaitu “ethos” dan “eticos”. Etos berarti sifat dan eticos
brarti kelakuan. Pengertian etika secara terminonologi yaitu ilmu yang
menjelaskan baik dan buruk. Pengertian Jawa adalah orang masyarakat dan bahasa yang berada di Jawa.
Jadi,
etika Jawa adalah pola pikir atau sifat masyarakat Jawa untuk mencari
solusi-solusi terbaik dalam menelusuri jalan hidup demi tercapainya tujuan yang
diinginkan menurut adat dan paham masyarakat Jawa.
2. KARAKTERISTIK MASYARAKAT JAWA
a) Masyarakat
Jawa Dilihat dari Segi Kebudayaan dan Adat.
Wayang merupakan
salah satu budaya Jawa yang merupakan simbol untuk masyarakat Jawa. Jadi dengan
budaya pewayangan sebagai simbol masyarat dimana wayang selalu menampilkan konflik antara yang benar dan yang buruk tanpa ada yang menang dan yang
kalah. Budaya yang seperti inilah yang dipahami masyarakat Jawa sebagai suatu
realitas hidup dimana ada keburukan disitulah ada kebaikan atau dengan kata
lain baik dan buruk akan selalu mewarnai hidup manusia.
b) Masyarakat
Jawa Dilihat Dari Segi Kenikmatan Hidup.
Masyarakat Jawa
dikenal dengan orang yang menikmati hidup dengan praktiknya didalam bidang
keluarga dan gotong royong. Dimana didalam keluarga merupakan sarang keamanan
dan sumber perlindungan benar-benar dirasakan. Gotong royong merupakan
kenikmatan masyarakat Jawa dengan keramah-tamahannya dan kekentalannya dalam
sebuah paguyuban atau kelompok.
c) Masyarakat
Jawa Dilihat dari Kepercayaan
Sejak jaman prasejarah masyarakat Jawa menganut sistem
animisme dan dinamisme. Animisme adalah
kepercayaan kepada roh-roh halus sedangkan dinamisme adalah kepercayaan
terhadap benda-benda.
3 Unggah-Ungguh Dalam Etika Jawa
1. Pengertian
unggah-ungguh.
Unggah-ungguh
berasal dari dua kata yaitu unggah dan ungguh. Unggah dalam bahasa Jawa yaitu
munggah dalam bahasa Indonesia yaitu naik keatas maupun memanjat, yang berarti
masyarakat Jawa menghormati orang yang lebih diatas derajatnya. Sedangkan
ungguh yang dalam konteks bahasa Indonesianya yaitu sesuai pantas dan
menyesuaikannya yang berarti masyarakat
Jawa selalu menyesuaikan dan berhati-hati dalam membawa atau memantaskan diri. Itu semua untuk tidak
menyinggung orang lain dan untuk tidak menimbulkan konflik.
2. Ada
dua aspek jika kita membahas tentang unggah-ungguh. Aspek pertama yaitu dalam
bertutur dan berbahasa, yang kedua dalam tingkah laku masyarakat:
a. Aspek
bertutur dan berbahasa.
Dalam bahasa
Jawa terdapat tingkatan bahasa, yaitu Jawa ngoko, madya, dan krama. Ngoko
merupakan tingkat bahasa yang paling rendah, yang biasa digunakan raja kepada
rakyat maupun orang tua kpada anaknya dan orang yang lebih tua kepada yang
lebih muda. Tingkat yang kedua yaitu madya digunakan untuk sesama teman dan
sesama derajat. Paling tinggi tingkatannya yaitu krama yaitu menyatakan
kesopanan yang paling tinggi digunakan untuk semua kalangan yang kedudukannya
jauh lebih tinggi, seperti anak kepada orang tuanya, rakyat kecil kepada rajanya.
b. Aspek
Pergaulan (tingkah laku dalam masyarakat jawa)
Selain
kemampuan dalam bertutur kata dan pemakaian bahasa yang tepat, orang Jawa harus
bersifat hormat atau andap anshor (rendah
hati). Yang berperan sangat penting dalam prgaulan masyarakat Jawa.
KESIMPULAN
Zaman dahulu terjadi
imigrasi secara besar-besaran. Suku melayu yang berasal dari China Selatan
mulai membanjiri Asia Tenggara termasuk diantaranya adalah Indonesia, yang
selanjutnya di susul oleh gelombang-gelombang berikutnya. Suku Jawa di sinyalir
berasal dari keturunan imigrasi melayu pada gelombang berikutnya itu. Suku Jawa
adalah suku yang telah berada lama di pulau Jawa ini sejak dahulu hingga
sekarang. Suku Jawa sangat terkenang dengan budayanya yang arif.
Pulau Jawa adalah sebuah pulau terluas ke 13 di
dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar dengan penduduk
kurang lebih 145.143.600 jiwa pada tahun
2015. Adapun kelompok etnik dari berbagai suku.
Etika
Jawa adalah pola pikir atau sifat masyarakat Jawa untuk mencari solusi-solusi terbaik
dalam menelusuri jalan hidup demi tercapainya tujuan yang diinginkan menurut
adat dan paham masayarakat Jawa. Etika di Jawa itu terkenal lembut, penuh
dengan sopan sapun, lemah gemulai.
DAFTAR PUSTAKA
Bagus,
Lorens, 2000, Kamus Filsafah, Jakarta: Indonesia, Gramedia Pustaka
Amin,
Ahmad, 1983, Etika (Ilmu Akhlak), Jakarta, Bulan Bintang
Tebba,
Sudirman, 2007, Etika dan Tasawuf Jawa; Untuk Meraih Keterangan Hati,
Tangerang, Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar