Jumat, 29 September 2017

MAKALAH DEFINISI HADIST PALSU

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Hadits Palsu
Hadist palsu atau maudlu’ menurut bahasa berarti yang ditinggalkan, yang diletakan, yang diadakan dan ada arti lain yaitu hadist maudlu’ ialah berita bohong yang dibuat – buat yang diciptakan oleh orang atas nama Nabi saw.
Hadist palsu berarti ada orang / rawi yang meriwayatkan berita yang katanya dari nabi Muhammad saw namun nyatanya bukan, hal ini dilakukan baik dengan sengaja ataupun tidak sengaja.[1]
Dari penjelasan diatas, dapat kita ketahui bahwa sebenarnya hadist maudlu’ itu bukanlah dari nabi Muhammad saw, disebut hadist semata – mata hanya menuruti akuan dari perawi itu saja, sebab pada hakekatnya hadist maudlu’ itu palsu,
Untuk mengetahui kepalsuan hadist perlu melalui ulama yang luas pengetahuanya tentang hadist dan ilmu – ilmunya sehingga dapat meninjau hadist dari segala sumbernya.
Sifat – sifat yang menyebabkan seorang perawi lemah atau dianggap lemah  ialah:
1.      Adanya pemalsuan.
2.      Tuduhan/memalsu.
3.      Berdusta/dituduh berdusta.
4.      Dituduh atau sering keliru.
5.      Dituduh atau sering lalai/lupa/sering salah atau suka menyamar.
6.      Karena fasiq.
7.      Tidak kuat hafalanya.
8.      Tidak dikenal orangnya atau sifatnya.
9.      Tersembunyi/tidak dijelaskan namanya.
10.  Berubah pikiranya/rusak hafalannya.
11.  Karena melakukan bid’ah.
12.  Berlawanan dengan hadist / rawi yang lebih kuat daripadanya.

B. Sebab – sebab pemalsuan hadits / timbulnya hadist maudlu’

v  Masalah politik
Awal mula dari fitnah politik di kalangan umat islam adalah pada jaman akhir kekhalifahan usman bin affan r.a yang pada masa ini banyak terjadi perpecahan antara golongan diantaranya :
-          Golongan Syi’ah yang pro terhadap Ali r.a
-          Golongan yang pro Mu’awiyah
-          Golongan Khawarij yakni golongan yang memisahkan dari golongan Ali, golongan ini tidak menyetujui Mu’awiyah maupun Ali
Ketika suatu golongan terlalu fanatic terhadap golonganya dank arena diburu nafsu untuk menjatuhkan lawan politiknya serta guna memperoleh simpati dari ummat Islam, mereka sampai berani membuat hadist palsu[2]
Contoh hadist palsu yang dibuat oleh golongan syiah yaitu.
Artinya : “Ali, adalah wasiat saya tempat menaruh kerahasiaan saya, pengganti saya dalam keluarga saya, dan sebaik – baiknya orang sepeninggal saya”
Contoh hadist palsu yang dibuat oleh Mu’awiyah.
Artinya : orang yang paling dapat dipercaya di sisi Allah ada tiga : “Saya, jibril dan Mu’awiyah”
v  Hadist palsu yang datangnya dari musuh-musuh Islam.
Setelah daerah islam meliputi daerah – daerah yang dahulunya merupakan bagian kerajaan yang besar (seperti Romawi dan Persia), maka banyaklah orang – orang yang dahulunya memegang kekuasaan daerah itu, iri hati melihat kebesaran islam. Inilah yang mempengaruhi mereka untuk membuat hadist – hadist palsu.
v  Tukang – tukang cerita yang ingin menarik perhatian pendengarnya.
Guna menarik perhatianya para pendengarnya maka tukang – tukang ceritera membuat ceriteranya menyandarkannya sebagai sabda Nabi saw.
v  Ada motif mendekat kepada penguasa.
Terdapat pula para pemalsu yang mencari muka terhadap para penguasa agar mendapatkan kasih sayang serta kepercayaanya. Untuk tujuan yang demikian itu mereka kadang – kadang membuat hadist palsu.

C. Bahaya Hadist Palsu Terhadap Agama Islam
Menurut fakta sejarah ada lebih dari 700 hadist yang dipalsukan oleh para perawi hal ini akan memberikan dampak buruk bagi umat islam, berikut beberapa bahaya hadist palsu.
1. Menimbulkan perpecahan diantara umat islam
Jika suatu mazhab diserang oleh mazhab yang lain dengan menggunakan hadist palsu, dan mazhab yang diserang ingin mempertahankan dirinya sehingga ia juga membalasnya dengan hadis palsu juga maka akan terjadi saling serang dan saling serang yang akhirnya membuat tajamnya perpecahan diantara umat islam.
2. Mencemarkan pribadi Rasullulah SAW
Adanya hadis palsu yang kadang isinya bertentangan akal sehat, logika yang benar dan fakta yang mengakibatkan tercemarnya pribadi rasullulah saw, karna hadis palsu menggambarkan sosok rasullulah itu seorang yang pelupa dan lain – lain
3. Mengahamburkan pemahaman tentang islam
Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu bahwa sumber hukum umat islam kedua setelah Al-Qur’an dan hadis Rasullulah Saw, dalam hal ini tentulah bahwa nilai – nilai keislaman yang menjadi sumber kedua setelah Al-qur’an banyak yang dipalsukan maka akan menciptakan pemahaman yang salah tentang agama islam.
4. Melemahkan semangat dan jiwa ke islam
Salah paham terhadap agama islam, dapat menimbulkan keraguan dan kebimbangan yang membawa akibat yang sangat fatal di kalangan umat islam yaitu melemahnya semangat dan jiwa keislaman.



D. Ciri-ciri dan contoh hadits palsu.
     Ciri-ciri yang dimaksud dapat mempermudah pengenalan terhadap hadits maudhu’ dan menghindari resiko pembahasan yang panjang lebar. Adapun ciri hadits maudhu’ sebagaimana perincian berikut:
a.       Ciri-ciri hadits maudhu’ pada rawinya.
     Seperti halnya periwayatan Al-Hakim dengan sanad melalui saif bin “umar al-Tamimi, Katanya, “ketika aku berada di sisi sa’d bin Tharif, tiba-tiba datang anaknya dari majelis ta’lim sambil menagis.” Sa’d bertanya, “ada apa?” Anaknya menjawab, “saya dipukul oleh guru.” Sa’d berkata, “ sungguh akan aku hinakan mereka hari ini juga”; meriwayatkan kepadaku ‘ikrimah dari ibnu Abbas, hadits marfu’.
Para pengajar anak-anakmu adalah orang-orang yang terjahat di antara kamu; mereka adalah orang yang paling sedikit rasa kasih sayangnya kepada anak yatim, dan paling kejam terhadap orang miskin.

b.      Ciri-ciri hadits maudhu’ pada matan.
                 Karena para muhadditsin telah mensyaratkan bagi rawi yang meriwayatkan hadits dengan maknanya saja harus tahu benar bahasa Arab dan tahu benar terhadap kata-kata yang bisa mengubah makna.
                 Dan diantara hadits yang dicontohkan adalah:
     “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima doa yang bacaannya tidak benar.
Imam al-Qari berkata, “Hadits ini tidak diketahui sumbernya.

c.       Hadits yang menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.
                 Hadits ini menyalahi ketentuan akal dan tidak dapat dita’wil atau mengandung hal-hal yang ditolak oleh perasaan, kejadian empiris, dan fakta sejarah.
                 Diantara contohnya adalah:
     “Bunga mawar itu diciptakan oleh keringatku.”
Al-Dzahabi menjelaskan dalam al-Mughni: 455) “hadits ini batil”

d.      Hadits bertentangan dengan petunjuk Al-Quran yang pasti.
                 Imam al-subki menjelaskan dalam jam’ul jawami: 460 “setiap hadits yang mengesankan batil dan tidak dapat dita’wil, maka dinilai dusta atau dikurangi kedudukan dan fungsinya selama belumhilang kesan negatif itu.”
                 Contoh hadits tentang batas usia dunia:
     “Sesungguhnya batas usia dunia itu 7000 tahu, dan kita berada pada seribu tahun terakhir.
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
          Hadist palsu atau maudhu’ menurut bahasa berarti yang di tinggalkan, yang diletakkan dan ada arti lain yaitu hadist maudhu’ ialah berarti berita bohong yang dibuat-buat yang di ciptakan oleh orang atas nama Nabi saw. Hadist maudhu’ adalah hadist dha’if yang paling jelek dan paling membahayakan bagi agama islam dan pemeluknya, oleh karena itu untuk mengetahui kepalsuan suatu hadist perlu memalui ulama yang luas pengetahuannyabdan ilmu-ilmunya sehingg dapat meninjau hadist dari segala sumbernya, dengan demikian kita lebih berhati hati dalam memilih apakah hadist itu bersifat shahih atau maudhu.
B.     SARAN
     Makalah kami jauh dari kata sempurna karna kami masih dalam tahap belajar, jikalau ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini itu karna kami sebagai manusia adalah tempatnya salah dan dosa.
























Daftar Pustaka

            Nuruddin, 1994, Ulum Al-Hadist 2, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
                        Anwar, Moh, 1981, Ilmu Mushthalah Hadist, Surabaya : AL-Ikhlas

















[1] Drs. Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah Hadist, AL IKHLAS, Surabaya, hlm. 17
[2] Drs. Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah Hadist, AL IKHLAS, Surabaya, hlm. 205

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...