Jumat, 29 September 2017

MAKALAH BANI UMAYYAH

DINASTI UMAYYAH
Makalah ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Dian Uswantina, M.Hum.



Dibuat Oleh :
Atta Bhika Khoir
Dino Aditya Tantowi
Syaiful Haq

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2017   
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Peradaban Islam pada zaman dahulu pernah mengalami masa keemasan. Pada masa keemasan itulah sebuah syariat Islam mampu ditegakan dengan baik. Namun sebuah kejayaan mengakibatkan para pemimpin muslim lalai akan amanahnya. Sehingga ada pihak internal yang ingin mengembalikan system khalifah seperti seharusnya. Pada itulah, terjadi sebuah pertumpahan darah sesama muslim. Hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi.
Peradaban Islam saat ini mengalami kemunduran. Peradaban Islam tenggelam dalam peradaban Barat yang mayoritas beragama Nasrani. Hal ini membuat harga diri umat Muslim seperti kehilangan martabatnya. Karena umat muslim tidak dikdaya dalam peradaban dunia. Sebagai generasi muda umat Muslim, maka kita harus menyadari hal tersebut. Oleh karena itu, pada makalah ini disusun dalam rangka mempelajari bagaimana umat Muslim terdahulu membangun peradaban Islam hingga menjadi sebuah peradaban maju.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana caranya umat Muslim terdahulu membangun peradaban yang maju?
2.      Apa tantangan membangun sebuah peradaban?
3.      Kesalahan apa yang terjadi pada umat Muslim terdahulu hingga mengakibatkan peradaban Islam runtuh?



C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui cara umat Muslim terdahulu membangun peradaban yang maju.
2.      Mengetahui tantangan dalam membangun sebuah peradaban.
3.      Mengetahui kesalahan umat Muslim terdahulu dalam memelihara sebuah peradaban maju.















BAB 2
PEMBAHASAN
A.    SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH
Dinasti umayah sangat berkaitan dengan umayyah bin abd syam bin abdu manaf , dia adalah tokoh penting dari bangsa quiraisy pada masa jaman jahiliyah, dia adalah paman dari hasyim bin abdul manaf yang selalu memperebutkan kekuasaan dan kedudukanya, sejarah bani umayah sangat berkaitan dengan kemelut politik dalam dunia islam selepas meninggalnya Khalifah Ustman bin affan, hal itu menimbulkan adanya perang jamal yaitu perang antara pihak Aisyah dan Zubair bin awwam dengan kelompok Ali bin abi thalib, dan tidak lama setelah itu munculah lagi perang shifin yaitu perang Ali bin abi thalib dengan Muawiyah.
Muawiyah bin abu sofyan seorang gubernur syiria yang sejak awal menentang selalu berseberangan dengan Ali juga mengharapkan kekuasaan dan memanfaatkan keadaan yang ditimbulkan oleh pembunuh Utsman itu untuk kepentingan sendiri. Persaingan keduanya bahkan sudah terjadi sejak nenek moyang mereka, yakni bani Umayyah dan bani Hasyim
Kedua pasukan itu berhadapan dimedan siffin. Khalifah Ali mau menghindari pertumpahan darah umat islam dan mau menyelesaikan itu dengan jalan damai. Karena penyelesaian dengan jalan damai menemukan kegagalan, pertempuran pun meletus. Pertempuran terjadi beberapa hari lamanya. Ali dengan kepribadiannya dapat membangkitkan semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga kemenangan sudah membayang baginya. Muawiyah sudah cemas dan kehilangan akal. Muawiyah yang cerdik, atas nasihat Amr ibn Ash sekutunya yang cerdik, mengikatkan Al Quran pada ujung tombak tentaranya dan dengan demikian menuntut agar perselisihan itu diselesaikan menurut Al Quran.
Seruan lascar Muawiyah mendapat sambutan hangat dari lascar Ali. Banyak diantara mereka yang tadinya hendak meneruskan peperangan, akan tetapi oleh karena keadaan mereka telah morat-marit,lantas memperkenankan seruan itu.setelah pertempuran berhenti, diputuskan bahwa perselisihan itu harus diselesaikan oleh dua orang penengah sebagai wasit. Muawiyah mengangkat sahabatnya, Amr ibn ash yang cerdik, untuk menjadi peneng ah dari pihaknya. Pihak Ali diwakili oleh Abu musa Al Asy’Ari, yang bukan tandingannya. Kedua penengah itu massing – masing dibantu oleh 400 orang dan seandainya para penengah itu tidak bias tidak bias menyelesaikan persoalan, masalah itu akan diputuskan dengan suara mayoritas
Namun dengan siasat  dan tipu muslihat Amr ibn Ash, akhirnya pihak Ali keluar sebagai yang kalah, dan muawiyah keluar sebagai pemenang. Ali harus melepaskan kekhalifahannya, tetapi Muawiyah tidak demikian. Peristiwa itu membuat muawiyah seorang gubernur yang memberontak mempuntai kedudukan yang sama dengan kholifah Ali.
Penyelesaian kompromi Ali dengan Muawiyah tidak menguntungkan bagi Ali, karena hal tersebut menimbulkan pecahnya kaum muslimin, sehingga kepemimpinan Ali semakin lemah dan Muawiyah semakin kuat. Selain itu, dalam hal keuangan, sumber-sumber kekayaan dan tenaga manusia pun muawiyah juga memiliki sumber-sumber yang kaya di syiria dan memiliki dukungan yang tangguh  dari keluarga
Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M) Ali terbunuh oleh seorang dari golongan Khawarij , Kemudian kedudukan Ali sebagai kholifah dijabat oleh anaknya Hasan selama beberapa bulan. Namun, karena Hasan ternyata lemah, sementara Muawiyah semakin kuat, maka hasan mambuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat mempersatukan umat islam kembali dalam satu kepemimpinan politik, hal itu membuat muawiyah menjadi penguasa absolute dalam dunia islam pada tahun 41 H/661M, dengan demikian berakhirlah apa yang disebut dengan al khulafa’ar Rasyidin. Dan dimulailah kekuasaan bani umayyah dalam sejarah politik.















B.     KHALIFAH YANG BERKUASA
Masa dinasti umayah bertahan hampir satu abad lamanya dengan 14 khalifah, khalifah pertama yaitu muawiyah bin abu sofyan dan terakhir adalah Marwan bin Muhammad. Para Khalifah – khalifah ini antara lain :
1.      Muawiyah I bin Abi Sufyan                    (40-64 H/661-680M)
2.      Yazid bin Muawiyah                               (61-64 H/680-683M)
3.      Muawiyah II bin Yazid                           (64-65 H/683-684M)
4.      Marwan I bin hakam                                (65-66 H/684-685M)
5.      Abdul Malik bin Marwan                        (66-86 H/685-705M)
6.      Al Walid I bin Abdul Malik                    (86-97 H/705-715M)
7.      Sulaiman bin Abdul Malik                       (97-99 H/715-717M)
8.      Umar bin Abdul Aziz                                          (99-102 H/717-720M)                 
9.      Yazid II bin Abdul Malik                                    (102-106 H/720724M)                
10.  Hisyam bin Abdil Malik                          (106-126 H/724-743M)               
11.  Al Walid II bin Yazid II                          (126 H /744M)              
12.  Yazid bin Walid bin Malik                      (127 H/744M)              
13.  Ibrahim bin Walid                                    (127 H/744M)
14.  Marwan bin Muhammad                         (127 – 133 H/744-750M)
Sejarah singkat dari masing – masing Khalifah :
1.      Muawiyah bin Abi Sufyan
Muawiyah dipandang sebagai pembangun Dinasti yang oleh sebagian sejarawan awalnya dipandang negative. Keberhasilannya memperoleh legalitas atas kekuasaannya dalam perang saudara di siffin dicapai melalui cara yang curang. Lebih dari itu, muawiyah juga dituduh sebagai penghianat prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan islam, karena dialah yang mula- mula mengubah pemimpin Negara dari seorang yang dipilih oleh rakyat menjadi menjadi kekuasaan raja yang diwariskan turun-temurun.
2.      Yazid bin Muawiyah
Kholifah yazid merupakan putra dari muawiyah. Beliau lahir pada tahun 22 H/643 M. Pada tahun 679 M, muawiyah mencalonkan anaknnya, yazid untuk mengantikan dirinya. Yazid menjabat sebagai kholifah dalam usia 34 tahun.
3.      Muawiyah bin yazid
Menjabat sebagai kholifah pada usia 23 tahun, berbeda dengan ayahnya, ia bukan seorang yang berwatak keras atau menyukai peperangan. Tak banyak literatur yang membahas tentang kholifah ini secara lengkap. Ia memerintah hanya selama enam bulan.
4.      Marwan bin hakam
Ketika muawiyah II wafat dan tidak menunjuk siapa penggantinya, maka keluarga besar Umayah mengangkatnya sebagai kholifah, Marwan bin Hakam bukanlah sosok baru dalam catur perpolitikan kala itu. Sebelumnya, ia pernah menjabat penasihat kholifah Usman bin Affan, Marwan meninggal pada usia 63 tahun. Ia hanya menjabat sebagai kholifah selama 9 bulan 18 hari. Masa pemerintahnnya tak membawa banyak perubahan bagi sejarah islam
5.      Abdullah bin Marwan
Abdulloh bin Marwan dilantik sebagai kholifah setelah kematian ayahnya. Dibawah kekuasaannya pemerintahan Umayyah mencapai kejayaannya. Hal yang terlebih dahulu dilakukan oleh Abdul Malik adalah menyatukan kembali kekuasaan politik bani Umayyah yang sempat terpecah diera sebelumnya.
6.      Al walid bin Abdul Malik
Pada masa ini, penyebaran islam mengalami momentumnya tersendiri. Tercatat suatu peristiwa besar yaitu perluasan wilayah kekuasaan dari Afrika Utara menuju wilayah Barat daya, yaitu benua eropa, yaitu pada tahun 711 M. Perluasan wilayah kekuasaan islam sampai ke Andalusia (spanyol) di bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad. Perjuangan panglima Thariq bin Ziyad mencapai kemenangan, sehingga dapat menguasai kota Cordoba, Granada dan Toledo yang merupakan wilayah kekuasaan Roderik, penguasa Gothik yang memerintah wilayah Spanyol dan Portugal. Kholifah Al Walid bin Abdul Malik wafat tahun 96 H dan digantikan oleh adiknya sulaiman
7.      Sulaiman bin Abdul Malik
Sulaiman bin  Abdul Malik menjadi kholifah pada usia 42 tahun. Masa pemerintahnnya berlangsung selama 2 tahun 8 bulan, satu-satunya jasa yang dapat di kenangnya dari masa pemerintahannya ialah menyelesaikan pembangunan masjid yang diberi nama Jamiul Umawi yang terkenal megah dan Agung di Damaskus
8.      Umar bin Abdul Aziz
Nama lengkapnya adalah Umar bin abdul Azizi bin Marwan bin Hakam bin Harb bin Umayyah. Ayahnya Abdul Aziz pernah menjadi gubernur di mesir selama beberapa tahun, kholifah Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia di Dir Sim’an, sebuah kota di wilayah Hism pada 20 atau 25 Rajab 101 Hijriyah dalam usia 36 tahun 6 bulan
9.      Yazid bin Abdul Malik
Yazid bin Abdul Malik menjabat kholifah kesembilan Daulah Bani Umayyah pada usia 36 tahun. Kholifah yang sering di panggil dengan sebutan Abu kholid ini lahir pada 71 H. Ia menjabat kholifah atas wasiat saudaranaya, Sulaiman bin  Abdul Malik.ia dilantik pada bulan rajab 101 H.
10.  Hisyam bin Abdul Malik
Kholifah Hisyam bin Abdul Malik perlu dicatat juga sebagai kholifah yang sukses. Ia memerintahkan dalam waktu yang panjang yakni 20 tahun
11.  Walid bin Yazid
Walid bin abdul Aziz bin Abdul Malik dilahirkan pada 90 hijriyah. Ketika ayahnya Yazid bin Abdul Malik diangkat sebagai kholifah, Walid baru berusia 11 tahun
12.  Yazid bin Walid
Disamping gemar membaca Al Quran dan tekun beribadah. Kholifah yang satu ini memiliki budi pekerti seperti Umar bin Abdul Aziz dalam kezuhudannya terhadap dunia. Dialah satu-satunya kholifah yang dilahirkan didekat ka’bah. Masa pemerintahnnya tidak lama yaitu kurang dari dua tahun.
13.  Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik
Ia menjabat sebagai kholifah ketiga belas Daulah bani Umayyah mengantikan saudaranya, yazid bin Walid.
14.  Marwan bin Muhammad
Marwan terbunuh pada tanggal 27 Dzul hijjah 132 H. Dengan kudeta ini berakhirlah kedaulatan bani Umayyah dan terjadi transformasi kepemimpinan ke Bani Hasyim yang dipimpin oleh Abul Abbas As-Saffah.
C.    KEMAJUAN DINASTI UMAYYAH
Masa pemerintahan Bani umayyah terkenal sebagai era agresif dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan yang terhenti pada zaman kedua khulafaur Rosidin. Hanya dalam waktu 90 tahun, banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk kedalam kekuasaan isam, yang meliputi tanah spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afghanistan, India dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirginiztan.
1.      Bidang Politik
Kondisi perpolitikan pada masa awal Daulah Bani Umayyah cenderung stabil. Muawiyah dengan kemampuan politiknya mampu meredam gejolak-gejolak yang terjadi. Hingga ia mengangkat anaknya Yazid menjadi penggantinya, barulah terjadi pergolakan politik.
Bentuk pemerintahan Muawiyah berubah dari Theo-Demokrasi menjadi monarchi (kerajaan/dinasti) sejak ia mengangkat anaknya Yazid sebagai Putera Mahkota. Kebijakan ini dipengaruhi oleh tradisi yang terdapat di bekas wilayah kerajaan Bizantium.







2.      Bidang Administrasi Pemerintahan
Setidaknya ada empat diwan (departemen) yang berdiri pada Daulah Bani Umayyah, yaitu:
a.       Diwan Rasail
Departemen ini mengurus surat-surat negara kepada gubernur dan pegawai di berbagai wilayah
b.      Diwan Kharraj
Departemen Kharraj adalah sekertaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
c.       Diwan Jundi
Departemen ini mengurus tentang ketentaraan negara. Ada juga yang menyebut dengan departemen perperangan.
d.      Diwan Syurtah
Departemen yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban.
e.       Diwan Katib Al-Qudat
Departemen yang berfungsi menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.
3.      Bidang Ekonomi
Sumber uang masuk pada zaman Daulah Bani Umayyah sebagiannya diambil dari Dharaib yaitu kewajiban yang harus dibayar oleh warga negara. Di samping itu, bagi daerah-daerah yang baru ditaklukkan, terutama yang belum masuk Islam, ditetapkan pajak istimewa.
Namun, pada masa Umar bin Abdul Aziz, pajak untuk non muslim dikurangi, sedangkan jizyah bagi muslim dihentikan. Kebijakan ini mendorong non muslim memeluk agama Islam. 
Pada masa Abd Malik, mata uang kaum muslimin dicetak secara teratur. Pembayaran diatur dengan menggunakan mata uang ini. Meskipun pada Masa Umar bin Khattab sudah ada mata uang, namun belum begitu teratur.
4.      Bidang Sosial
Ketika Walid naik tahta, ia menyediakan pelayannan khusus. Orang cacat diberi gaji. Orang buta diberikan penuntun. Orang lumpuh disediakan perawat. Ia juga mendirikan bangunan khusus untuk pengidap penyakit kusta agar mereka dirawat sesuai dengan persyaratan standar kesehatan. 
Masyarakat dunia Islam begitu luas sedangkan orang-orang Arab merupakan unsur minoritas. Meskippun demikian, mereka memegang peranan penting secara sosial. Muslim Arab menganggap bahwa mereka lebih baik dan lebih pantas memegang kekuasaan dari muslim non Arab. Muslim non Arab kala itu disebut Mawali.


5.      Bidang Pendidikan
Daulah Bani Umaiyah tidak terlalu memperhatikan bidang pendidikan, karena mereka fokus dalam bidang politik. Meskipun demikian, Daulah Bani Umayyah memberikan andil bagi pengembangan ilmu-ilmu agama Islam, sastra dan filsafat. Daulah menyediakan tempat-tempat pendidikan antara lain:
a.       Kuttab
Kuttab merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Alquran serta belajar pokok-pokok ajaran Islam.
b.      Masjid
Pendidikan di masjid merupakan lanjutan dari kuttab. Pendidikan di masjid terdiri dari dua tingkat. Pertama, tingkat menengah diajar oleh guru yang biasa saja. Kedua, tingkat tinggi yang diajar oleh ulama yang dalam ilmunya dan masyhur kealimannya.
D.    KEMUNDURAN DINASTI UMAYYAH
Meskipun kejayaan telah diraih oleh bani Umayyah ternyata tidak bertahan lebih lama, karena kelemahan-kelemahan internal dan semakin kuatnya tekanan daari pihak luar. Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan oleh Yazid bin Abd Malik (720-724M). Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abd Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat.
Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya,Hisyam bin Abd Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golonganmawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abd Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya. 










Ada beberapa faktor yang menyebabkan Daulah Bani Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain adalah :
1.      Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.
2.      Latar belakang terbentuknya Daulah Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Kelompok Syi’ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3.      Lemahnya pemerintahan daulah Bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan.
E.     KERUNTUHAN DINASTI UMAYYAH
Setelah Hisyam bin Abd Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang menjadi khalifah berikutnya bukan hanya lemah dalam politik, tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bagian dari Bani Hasyim. 
Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah.











BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Umat Muslim pada zaman dahulu membangun peradaban dengan sebuah fondasi yang kuat. Fondasinya yaitu sebuah pemahaman agama yang mumpuni dan diaplikasikan dalam kehidupan. Sehingga mereka mampu menjadi sebuah peradaban yang maju pada waktu itu. Namun, zaman keemasan membuat mereka terlalaikan karena godaan duniawi. Sehingga ada pihak internal muslim yang memberontak. Maka runtuhlah sebuah peradaban yang telah mereka bangun.
            SARAN
Sebagai generasi umat Muslim muda, seharusnya kita memahami persoalan umat pada masa ini. Peradaban kita mengalami kemunduran dan tenggelam oleh peradaban Nasrani. Oleh karena itu, kita harus memikirkan bagaimana membawa peradaban Islam ini menjadi peradaban yang maju seperti sediakala.Dimulai dari memperbaiki diri sendiri, kemudian keluarga, setelah itu masyarakat dan akhirnya pada tingkat memperbaiki Negara ini.






DAFTAR PUSTAKA
Munir Samsul , Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah,2009
Yatim, Badri, 1993, Sejarah Peradaban Islam , Jakarta : PT Raja Grafindo Persada



                       


                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...