DINASTI UMAYYAH
Makalah
ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen
Pengampu : Dian Uswantina, M.Hum.
Dibuat
Oleh :
Atta
Bhika Khoir
Dino
Aditya Tantowi
Syaiful
Haq
JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2017
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Peradaban Islam pada zaman dahulu pernah mengalami
masa keemasan. Pada masa keemasan itulah sebuah syariat Islam mampu ditegakan
dengan baik. Namun sebuah kejayaan mengakibatkan para pemimpin muslim lalai
akan amanahnya. Sehingga ada pihak internal yang ingin mengembalikan system
khalifah seperti seharusnya. Pada itulah, terjadi sebuah pertumpahan darah
sesama muslim. Hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi.
Peradaban Islam saat ini mengalami kemunduran.
Peradaban Islam tenggelam dalam peradaban Barat yang mayoritas beragama
Nasrani. Hal ini membuat harga diri umat Muslim seperti kehilangan martabatnya.
Karena umat muslim tidak dikdaya dalam peradaban dunia. Sebagai generasi muda
umat Muslim, maka kita harus menyadari hal tersebut. Oleh karena itu, pada
makalah ini disusun dalam rangka mempelajari bagaimana umat Muslim terdahulu
membangun peradaban Islam hingga menjadi sebuah peradaban maju.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
caranya umat Muslim terdahulu membangun peradaban yang maju?
2. Apa
tantangan membangun sebuah peradaban?
3. Kesalahan
apa yang terjadi pada umat Muslim terdahulu hingga mengakibatkan peradaban
Islam runtuh?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui
cara umat Muslim terdahulu membangun peradaban yang maju.
2. Mengetahui
tantangan dalam membangun sebuah peradaban.
3. Mengetahui
kesalahan umat Muslim terdahulu dalam memelihara sebuah peradaban maju.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. SEJARAH BERDIRINYA DINASTI UMAYYAH
Dinasti umayah sangat berkaitan dengan umayyah bin
abd syam bin abdu manaf , dia adalah
tokoh penting dari bangsa quiraisy pada masa jaman jahiliyah, dia adalah paman
dari hasyim bin abdul manaf yang selalu memperebutkan kekuasaan dan
kedudukanya, sejarah bani umayah sangat berkaitan dengan kemelut politik dalam
dunia islam selepas meninggalnya Khalifah Ustman bin affan, hal itu menimbulkan
adanya perang jamal yaitu perang antara pihak Aisyah dan Zubair bin awwam
dengan kelompok Ali bin abi thalib, dan tidak lama setelah itu munculah lagi
perang shifin yaitu perang Ali bin abi thalib dengan Muawiyah.
Muawiyah bin abu sofyan seorang gubernur syiria yang
sejak awal menentang selalu berseberangan dengan Ali juga mengharapkan
kekuasaan dan memanfaatkan keadaan yang ditimbulkan oleh pembunuh Utsman itu
untuk kepentingan sendiri. Persaingan keduanya bahkan sudah terjadi sejak nenek
moyang mereka, yakni bani Umayyah dan bani Hasyim
Kedua
pasukan itu berhadapan dimedan siffin. Khalifah Ali mau menghindari pertumpahan
darah umat islam dan mau menyelesaikan itu dengan jalan damai. Karena penyelesaian
dengan jalan damai menemukan kegagalan, pertempuran pun meletus. Pertempuran
terjadi beberapa hari lamanya. Ali dengan kepribadiannya dapat membangkitkan
semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga kemenangan sudah membayang baginya.
Muawiyah sudah cemas dan kehilangan akal. Muawiyah yang cerdik, atas nasihat
Amr ibn Ash sekutunya yang cerdik, mengikatkan Al Quran pada ujung tombak
tentaranya dan dengan demikian menuntut agar perselisihan itu diselesaikan
menurut Al Quran.
Seruan
lascar Muawiyah mendapat sambutan hangat dari lascar Ali. Banyak diantara
mereka yang tadinya hendak meneruskan peperangan, akan tetapi oleh karena
keadaan mereka telah morat-marit,lantas memperkenankan seruan itu.setelah
pertempuran berhenti, diputuskan bahwa perselisihan itu harus diselesaikan oleh
dua orang penengah sebagai wasit. Muawiyah mengangkat sahabatnya, Amr ibn ash
yang cerdik, untuk menjadi peneng ah dari pihaknya. Pihak Ali diwakili oleh Abu
musa Al Asy’Ari, yang bukan tandingannya. Kedua penengah itu massing – masing
dibantu oleh 400 orang dan seandainya para penengah itu tidak bias tidak bias
menyelesaikan persoalan, masalah itu akan diputuskan dengan suara mayoritas
Namun dengan
siasat dan tipu muslihat Amr ibn Ash, akhirnya pihak Ali keluar sebagai
yang kalah, dan muawiyah keluar sebagai pemenang. Ali harus melepaskan
kekhalifahannya, tetapi Muawiyah tidak demikian. Peristiwa itu membuat muawiyah
seorang gubernur yang memberontak mempuntai kedudukan yang sama dengan kholifah
Ali.
Penyelesaian
kompromi Ali dengan Muawiyah tidak menguntungkan bagi Ali, karena hal tersebut
menimbulkan pecahnya kaum muslimin, sehingga kepemimpinan Ali semakin lemah dan
Muawiyah semakin kuat. Selain itu, dalam hal keuangan, sumber-sumber kekayaan
dan tenaga manusia pun muawiyah juga memiliki sumber-sumber yang kaya di syiria
dan memiliki dukungan yang tangguh dari keluarga
Pada tanggal
20 ramadhan 40 H (660 M) Ali terbunuh oleh seorang dari golongan Khawarij ,
Kemudian kedudukan Ali sebagai kholifah dijabat oleh anaknya Hasan selama
beberapa bulan. Namun, karena Hasan ternyata lemah, sementara Muawiyah semakin
kuat, maka hasan mambuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat mempersatukan
umat islam kembali dalam satu kepemimpinan politik, hal itu membuat muawiyah
menjadi penguasa absolute dalam dunia islam pada tahun 41 H/661M, dengan
demikian berakhirlah apa yang disebut dengan al khulafa’ar Rasyidin. Dan
dimulailah kekuasaan bani umayyah dalam sejarah politik.
B. KHALIFAH YANG BERKUASA
Masa dinasti umayah bertahan hampir satu abad lamanya
dengan 14 khalifah, khalifah pertama yaitu muawiyah bin abu sofyan dan terakhir
adalah Marwan bin Muhammad. Para Khalifah – khalifah ini antara lain :
1. Muawiyah I bin Abi Sufyan (40-64 H/661-680M)
2. Yazid bin Muawiyah (61-64 H/680-683M)
3. Muawiyah II bin Yazid (64-65 H/683-684M)
4. Marwan I bin hakam (65-66
H/684-685M)
5. Abdul Malik bin Marwan (66-86 H/685-705M)
6. Al Walid I bin Abdul Malik (86-97 H/705-715M)
7. Sulaiman bin Abdul Malik (97-99 H/715-717M)
8. Umar bin Abdul Aziz
(99-102
H/717-720M)
9. Yazid II bin Abdul Malik
(102-106
H/720724M)
10. Hisyam bin Abdil Malik
(106-126
H/724-743M)
11. Al Walid II bin Yazid II
(126 H /744M)
12. Yazid bin Walid bin Malik
(127
H/744M)
13. Ibrahim bin Walid (127
H/744M)
14. Marwan bin Muhammad (127
– 133 H/744-750M)
Sejarah
singkat dari masing – masing Khalifah :
1. Muawiyah bin Abi Sufyan
Muawiyah dipandang sebagai pembangun Dinasti yang oleh
sebagian sejarawan awalnya dipandang negative. Keberhasilannya memperoleh
legalitas atas kekuasaannya dalam perang saudara di siffin dicapai melalui cara
yang curang. Lebih dari itu, muawiyah juga dituduh sebagai penghianat
prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan islam, karena dialah yang mula- mula
mengubah pemimpin Negara dari seorang yang dipilih oleh rakyat menjadi menjadi
kekuasaan raja yang diwariskan turun-temurun.
2. Yazid bin Muawiyah
Kholifah yazid merupakan putra dari muawiyah. Beliau
lahir pada tahun 22 H/643 M. Pada tahun 679 M, muawiyah mencalonkan anaknnya,
yazid untuk mengantikan dirinya. Yazid menjabat sebagai kholifah dalam usia 34
tahun.
3. Muawiyah bin yazid
Menjabat sebagai kholifah pada usia 23 tahun, berbeda
dengan ayahnya, ia bukan seorang yang berwatak keras atau menyukai peperangan.
Tak banyak literatur yang membahas tentang kholifah ini secara lengkap. Ia
memerintah hanya selama enam bulan.
4. Marwan bin hakam
Ketika muawiyah II wafat dan tidak menunjuk siapa
penggantinya, maka keluarga besar Umayah mengangkatnya sebagai kholifah, Marwan
bin Hakam bukanlah sosok baru dalam catur perpolitikan kala itu. Sebelumnya, ia
pernah menjabat penasihat kholifah Usman bin Affan, Marwan meninggal pada usia
63 tahun. Ia hanya menjabat sebagai kholifah selama 9 bulan 18 hari. Masa
pemerintahnnya tak membawa banyak perubahan bagi sejarah islam
5. Abdullah bin Marwan
Abdulloh bin Marwan dilantik sebagai kholifah setelah
kematian ayahnya. Dibawah kekuasaannya pemerintahan Umayyah mencapai
kejayaannya. Hal yang terlebih dahulu dilakukan oleh Abdul Malik adalah
menyatukan kembali kekuasaan politik bani Umayyah yang sempat terpecah diera
sebelumnya.
6. Al walid bin Abdul Malik
Pada masa ini, penyebaran islam mengalami momentumnya
tersendiri. Tercatat suatu peristiwa besar yaitu perluasan wilayah kekuasaan
dari Afrika Utara menuju wilayah Barat daya, yaitu benua eropa, yaitu pada
tahun 711 M. Perluasan wilayah kekuasaan islam sampai ke Andalusia (spanyol) di
bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad. Perjuangan panglima Thariq bin Ziyad
mencapai kemenangan, sehingga dapat menguasai kota Cordoba, Granada dan Toledo
yang merupakan wilayah kekuasaan Roderik, penguasa Gothik yang memerintah
wilayah Spanyol dan Portugal. Kholifah Al Walid bin Abdul Malik wafat tahun 96
H dan digantikan oleh adiknya sulaiman
7. Sulaiman bin Abdul Malik
Sulaiman bin Abdul Malik menjadi kholifah pada
usia 42 tahun. Masa pemerintahnnya berlangsung selama 2 tahun 8 bulan,
satu-satunya jasa yang dapat di kenangnya dari masa pemerintahannya ialah
menyelesaikan pembangunan masjid yang diberi nama Jamiul Umawi yang terkenal
megah dan Agung di Damaskus
8. Umar bin Abdul Aziz
Nama lengkapnya adalah Umar bin abdul Azizi bin Marwan
bin Hakam bin Harb bin Umayyah. Ayahnya Abdul Aziz pernah menjadi gubernur di
mesir selama beberapa tahun, kholifah Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia di
Dir Sim’an, sebuah kota di wilayah Hism pada 20 atau 25 Rajab 101 Hijriyah
dalam usia 36 tahun 6 bulan
9. Yazid bin Abdul Malik
Yazid bin Abdul Malik menjabat kholifah kesembilan
Daulah Bani Umayyah pada usia 36 tahun. Kholifah yang sering di panggil dengan
sebutan Abu kholid ini lahir pada 71 H. Ia menjabat kholifah atas wasiat
saudaranaya, Sulaiman bin Abdul Malik.ia dilantik pada bulan rajab 101 H.
10. Hisyam bin Abdul Malik
Kholifah Hisyam bin Abdul Malik perlu dicatat juga
sebagai kholifah yang sukses. Ia memerintahkan dalam waktu yang panjang yakni
20 tahun
11. Walid bin Yazid
Walid bin abdul Aziz bin Abdul Malik dilahirkan pada
90 hijriyah. Ketika ayahnya Yazid bin Abdul Malik diangkat sebagai kholifah,
Walid baru berusia 11 tahun
12. Yazid bin Walid
Disamping gemar membaca Al Quran dan tekun beribadah.
Kholifah yang satu ini memiliki budi pekerti seperti Umar bin Abdul Aziz dalam
kezuhudannya terhadap dunia. Dialah satu-satunya kholifah yang dilahirkan
didekat ka’bah. Masa pemerintahnnya tidak lama yaitu kurang dari dua tahun.
13. Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik
Ia menjabat sebagai kholifah ketiga belas Daulah bani
Umayyah mengantikan saudaranya, yazid bin Walid.
14. Marwan bin Muhammad
Marwan terbunuh pada tanggal 27 Dzul hijjah 132 H.
Dengan kudeta ini berakhirlah kedaulatan bani Umayyah dan terjadi transformasi
kepemimpinan ke Bani Hasyim yang dipimpin oleh Abul Abbas As-Saffah.
C.
KEMAJUAN DINASTI UMAYYAH
Masa pemerintahan Bani umayyah terkenal sebagai era
agresif dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan
yang terhenti pada zaman kedua khulafaur Rosidin. Hanya dalam waktu 90 tahun,
banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk kedalam kekuasaan
isam, yang meliputi tanah spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab,
Syiria, Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afghanistan, India
dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirginiztan.
1. Bidang Politik
Kondisi perpolitikan pada masa awal Daulah Bani Umayyah cenderung stabil.
Muawiyah dengan kemampuan politiknya mampu meredam gejolak-gejolak yang terjadi.
Hingga ia mengangkat anaknya Yazid menjadi penggantinya, barulah terjadi
pergolakan politik.
Bentuk pemerintahan Muawiyah berubah dari
Theo-Demokrasi menjadi monarchi (kerajaan/dinasti) sejak ia mengangkat anaknya
Yazid sebagai Putera Mahkota. Kebijakan ini dipengaruhi oleh tradisi yang
terdapat di bekas wilayah kerajaan Bizantium.
2. Bidang Administrasi Pemerintahan
Setidaknya ada empat diwan (departemen) yang
berdiri pada Daulah Bani Umayyah, yaitu:
a. Diwan Rasail
Departemen ini mengurus surat-surat negara kepada
gubernur dan pegawai di berbagai wilayah
b. Diwan Kharraj
Departemen Kharraj adalah sekertaris yang bertugas
menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara.
c. Diwan Jundi
Departemen ini mengurus tentang ketentaraan negara.
Ada juga yang menyebut dengan departemen perperangan.
d. Diwan Syurtah
Departemen yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan
keamanan dan ketertiban.
e. Diwan Katib Al-Qudat
Departemen yang berfungsi menyelenggarakan tertib
hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.
3. Bidang Ekonomi
Sumber uang masuk pada zaman Daulah Bani Umayyah
sebagiannya diambil dari Dharaib yaitu kewajiban yang harus dibayar
oleh warga negara. Di samping itu, bagi daerah-daerah yang baru ditaklukkan,
terutama yang belum masuk Islam, ditetapkan pajak istimewa.
Namun, pada masa Umar bin Abdul Aziz, pajak untuk non
muslim dikurangi, sedangkan jizyah bagi muslim dihentikan. Kebijakan
ini mendorong non muslim memeluk agama Islam.
Pada masa Abd Malik, mata uang kaum muslimin dicetak
secara teratur. Pembayaran diatur dengan menggunakan mata uang ini. Meskipun
pada Masa Umar bin Khattab sudah ada mata uang, namun belum begitu teratur.
4. Bidang Sosial
Ketika Walid naik tahta, ia menyediakan pelayannan
khusus. Orang cacat diberi gaji. Orang buta diberikan penuntun. Orang lumpuh
disediakan perawat. Ia juga mendirikan bangunan khusus untuk pengidap penyakit
kusta agar mereka dirawat sesuai dengan persyaratan standar kesehatan.
Masyarakat dunia Islam begitu luas sedangkan
orang-orang Arab merupakan unsur minoritas. Meskippun demikian, mereka memegang
peranan penting secara sosial. Muslim Arab menganggap bahwa mereka lebih baik
dan lebih pantas memegang kekuasaan dari muslim non Arab. Muslim non Arab kala
itu disebut Mawali.
5. Bidang Pendidikan
Daulah Bani Umaiyah tidak terlalu memperhatikan bidang
pendidikan, karena mereka fokus dalam bidang politik. Meskipun demikian, Daulah
Bani Umayyah memberikan andil bagi pengembangan ilmu-ilmu agama Islam, sastra
dan filsafat. Daulah menyediakan tempat-tempat pendidikan antara lain:
a. Kuttab
Kuttab merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan
membaca, menghafal Alquran serta belajar pokok-pokok ajaran Islam.
b. Masjid
Pendidikan di masjid merupakan lanjutan dari kuttab.
Pendidikan di masjid terdiri dari dua tingkat. Pertama, tingkat menengah diajar
oleh guru yang biasa saja. Kedua, tingkat tinggi yang diajar oleh ulama yang
dalam ilmunya dan masyhur kealimannya.
D.
KEMUNDURAN DINASTI UMAYYAH
Meskipun kejayaan telah diraih oleh
bani Umayyah ternyata tidak bertahan lebih lama, karena kelemahan-kelemahan
internal dan semakin kuatnya tekanan daari pihak luar. Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan
oleh Yazid bin Abd Malik (720-724M). Masyarakat yang
sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada masa itu berubah
menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis, masyarakat
menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abd Malik cendrung
kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat.
Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan
khalifah berikutnya,Hisyam bin Abd Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini
muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi
pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani
Hasyim yang didukung oleh golonganmawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin
Abd Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena
gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Daulah Bani
Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain
adalah :
1. Sistem pergantian khalifah melalui
garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih
menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem
pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di
kalangan anggota keluarga istana.
2. Latar belakang terbentuknya Daulah
Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konflik-konflik politik yang terjadi di
masa Ali. Kelompok Syi’ah (para pengikut Ali) dan Khawarij terus menjadi
gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun
secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan Bani Umayyah.
Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah.
3. Lemahnya pemerintahan daulah Bani
Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga
anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka
mewarisi kekuasaan.
E.
KERUNTUHAN DINASTI UMAYYAH
Setelah Hisyam bin Abd Malik wafat,
khalifah-khalifah Bani Umayyah yang menjadi khalifah berikutnya bukan hanya
lemah dalam politik, tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat
golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan
oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bagian dari Bani Hasyim.
Marwan bin Muhammad, khalifah
terakhir Bani Umayyah, melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil
ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai
berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh
Daulah Abbasiyah.
BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Umat
Muslim pada zaman dahulu membangun peradaban dengan sebuah fondasi yang kuat. Fondasinya
yaitu sebuah pemahaman agama yang mumpuni dan diaplikasikan dalam kehidupan.
Sehingga mereka mampu menjadi sebuah peradaban yang maju pada waktu itu. Namun,
zaman keemasan membuat mereka terlalaikan karena godaan duniawi. Sehingga ada
pihak internal muslim yang memberontak. Maka runtuhlah sebuah peradaban yang
telah mereka bangun.
SARAN
Sebagai
generasi umat Muslim muda, seharusnya kita memahami persoalan umat pada masa
ini. Peradaban kita mengalami kemunduran dan tenggelam oleh peradaban Nasrani.
Oleh karena itu, kita harus memikirkan bagaimana membawa peradaban Islam ini
menjadi peradaban yang maju seperti sediakala.Dimulai dari memperbaiki diri
sendiri, kemudian keluarga, setelah itu masyarakat dan akhirnya pada tingkat
memperbaiki Negara ini.
DAFTAR PUSTAKA
Munir Samsul
, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah,2009
Yatim, Badri, 1993, Sejarah Peradaban Islam , Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar