Minggu, 15 April 2018

MAKALAH PENYIMPANGAN SOSIAL


MAKALAH SOSIOLOGI PENYIMPANGAN SOSIAL
Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi
Dosen: Dr. H. Moh Mahbub, S,Ag., M.Si.

Disusun oleh :
Slamet Miftahul Abror (173231036)
Ana Sulistiyo Wati       (173231065)
Atta Bhika Khoir         (173231037)
Anugrahini Rofik  N I H (17231070)

PROGRAM STUDI SEJARAH PERADAPAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2018


BAB I
PENDAHULUAN
A.         LATAR BELAKANG
Masalah penyimpangan sosial bukanlah masalah yang baru muncul. Masalah ini telah lama lahir dan hadir dalam masyarakat. Namun demikian, masalah-masalah penyimpangan sosial ini tetap saja ada dan melekat dalam kehidupan masyarakat seolah tidak ada tindakan yang menanganinya. Ada banyak jenis dan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh masyarakat dan telah banyak pula aturan-aturan yang mengatur tentang penyimpangan tersebut. Pada kenyataannya, hingga saat ini penyimpangan sosial masih terus terjadi meskipun aturan atau bahkan hukuman diberlakukan bagi para pelaku. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan buruknya perilaku-perilaku menyimpang, atau mungkin kurangnya sosialisasi tentang penyimpangan sosial.
Ironisnya, ada banyak masyarakat yang merasa bangga ketika melakukan suatu perilaku menyimpang, seperti merokok, padahal perilaku menyimpang jelas bukanlah hal yang patut untuk dibanggakan. Keadaan seperti inilah yang akan memicu dan memperluas lingkup terjadinya penyimpangan sosial. Selain itu, penyimpangan sosial akan selalu berpengaruh terhadap masyarakat lain. Para pelaku penyimpangan sosial akan berinteraksi dengan masyarakat lain dan secara tidak langsung ia akan memberikan sugesti-sugesti untuk mengikuti perilakunya. Jika masyarakat tidak memiliki kesadaran yang kuat dan pengetahuan yang lemah akan perilaku menyimpang, maka dengan mudah mereka akan terpengaruh dan terbawa dalam kondisi menyimpang. Sebagian masyarakat awam mungkin menganggap perilaku menyimpang sebagai perilaku yang normal dan wajar untuk dilakukan, hal itu disebabkan karena masyarakat terlalu sering melakukan atau sekedar mengamati perilaku-perilaku menyimpang tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hal tersebut menjadi biasa. Maka dari itu kami membuat makalah ini selain sebagi tugas juga kami berharap makalah kami ini dapat bermanfaat bagi kita.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian penyimpangan sosial?
2.      Apa penyebab penyimpangan sosial?
3.      Sebutkan teori penyimpangan sosial?
4.      Bagaimana proses pembentukan perilaku menyimpang?
5.      Apa contoh penyimpangan sosial?
6.      Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah penyimpangan sosial?
C. TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian penyimpangan sosial.
2.      Mengetahui penyebab penyimpangan sosial.
3.      Mengetahui sebutkan teori penyimpangan sosial.
4.      Mengetahui proses pembentukan perilaku menyimpang.
5.      Mengetahui contoh penyimpangan sosial.
6.      Mengetahui upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah penyimpangan sosial.

BAB II
PEMBAHASAN

A.   PENGERTIAN PENYIMPANGAN SOSIAL
Penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.[1]
Pengertian perilaku menyimpang menurut para ahli adalah sebagai berikut..
  • James Vander Zanden: Menurut James Vander Zanden, mengatakan bahwa pengertian perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang 
  • Bruce J. Cohen: Pengertian menurut Bruce J. Cohen bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. 
  • Robert M.Z. Lawang: Pengertian perilaku menyimpang menurut Robert M.Z. Lawang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut
  • Paul B. Horton: Menurutnya, pengertian perilaku penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.[2]
Jadi Penyimpangan sosial terlihat dalam bentuk perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang disebut nonkonformitas. Jadi, pada dasarnya perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang atau sifat sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang dianut masyarakat atau kelompok, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.
B.   PENYEBAB PENYIMPANGAN SOSIAL
Secara umum, terdapat dua penyebab utama mengapa seseorang melakukan perbuatan yang digolongkan ke dalam penyimpangan sosial, yaitu faktor subjektif dan objektif, penjelasannya adalah :
1. Faktor Subjektif
Faktor subjektif merupakan penyebab penyimpangan sosial yang berasal dari dalam diri seseorang yang melakukan penyimpangan itu. Contoh faktor subjektif adalah :
A.    Intelegensia atau Tingkat Kecerdasan
Tingkat kecerdasan seseorang berpengaruh terhadap daya tangkap dia untuk menerapkan aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat kecerdasannya, maka semakin berkurang faktor ia untuk melakukan penyimpangan sosial.
B.     Usia
Usia muda merupakan usia yang paling banyak kasus penyimpangan sosial yang terjadi. Karena di usia muda, seseorang mulai mencari jati diri untuk hidup.
C.    Jenis Kelamin
Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap tingkat penyimpangan sosial seseorang. Laki-laki lebih banyak melakukan penyimpangan daripada perempuan.
D.    Kedudukan Dalam Keluarga
Kedudukan dalam keluarga disini berarti bagaimana seseorang di dalam keluarga itu diperlakukan. Banyak anak-anak yang mengalami “broken home” yang melakukan penyimpangan sosial
2. Faktor Objektif
Faktor objektif merupakan faktor dari luar yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan perilaku menyimpang. Contoh faktor luar tersebut ialah :
A.Ketidaksanggupan Menyerap Norma-Norma Kebudayaan
Seseorang yang tidak mampu untuk menyerap norma-norma yang berlaku di dalam kelompoknya ke dalam kepribadiaanya, maka ia tidak akan dapat membedakan mana yang Pantas untuk dilakukan dan mana yang tidak pantas untuk dilakukan.
B.Ketegangan Antara Kebudayaan dan Struktur Sosial
Penyimpangan sosial disini terjadi apabila seseorang yang dalam proses berupaya untuk mencapai tujuannya, akan tetapi ia tidak memperoleh peluang, maka ia akan lebih beresiko untuk melakukan perilaku menyimpang
C. Proses Belajar yang Menyimpang
Perilaku seseorang juga dapat ditelusuri darimana asal ia belajar. Seperti contoh ketika ia sering menonton dan membaca hal-hal yang berkenaan dengan perilaku menyimpang, maka ia akan lebih tertarik kepada hal tersebut
D. Ikatan Sosial yang Berlainan
Setiap manusia itu tentunya memiliki ketertarikan untuk mencari kelompok-kelompk baru sebagai objek pertemanannya. Apabila dalam mencari itu ia memasuki kelompok yang sering berbuat perilaku menyimpang, maka kemungkinan ia juga kaan mencontoh perilaku kelompoknya tersebut[3]


C.   TEORI PENYIMPANGAN SOSIAL
Dalam ilmu sosiologi ada 2 teori penyimpangan sosial yang paling sering ditemui:
1.      Labeling
Teori labeling menyebutan bahwa seseorang akan melakukan penyimpangan sosial akibat pelampiasan rasa frustasi atas julukan yang diberikan oleh masyarakat kepadanya.Pemberian julukan ini biasanya bersifat menjelek-jelekkan, misalnya tukang nyontek, tukang tipu, dan pembohong.
2.      Anomie (Anomy)
Teori anomie menyimpulkan bahwa perilaku menyimpang muncul akibat ketidakpastian akan norma dan ajaran yang berlaku pada masyarakat.Anomie terjadi akibat perubahan sosial yang terjadi secara tiba-tiba, yang biasanya diikuti dengan penggantian dan lunturnya nilai atau norma yang telah dianut oleh sekelompok masyarakat sebelumnya.
Contoh penyimpangan sosial dalam keluarga menurut teori anomie yaitu, terjadi pilih kasih dalam keluarga.
Misalnya, sang ayah lebih sayang terhadap si sulung, dan sang ibu lebih sayang terhadap si bungsu. Hal tersebut akan membuat kedua anak merasa tidak suka akan satu sama lain, dan juga terhadap orang tuanya. Perlakuan yang berbeda akan membuat kedua anak lebih menghargai orang tua yang lebih menyayanginya.[4]

D.   PROSES PEMBENTUKAN PERILAKU MENYIMPANG
Perilaku menyimpang seseorang atau kelompok karena proses sosialisasi yang tidak sempurna akan berakibat terjadinya benturan. Akibatnya, akan timbul kelompok-kelompok sosial yang tidak teratur. Kelompok sosial itu, dibedakan menjadi dua golongan, yaitu kerumunan dan publik.
Kerumunan 
Kerumunan (crowd) adalah kumpulan orang, yang timbul secara spontan. Keru-munan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara. Kerumunan akan segera berakhir dengan bubarnya orang-orang tersebut. Ukuran utama adanya kerumunan ialah kehadiran orang-orang secara fisik. Sesuatu dapat dikatakan kerumunan jika memiliki ciri-ciri khusus, yaitu
·         Tidak terorganisasi
·         Tidak terorganisasi maka tidak ada pimpinan;
·         Tidak mempunyai sistem pembagian kerja;
·         Identitas sosial seseorang yang ikut serta dalam kerumunan biasanya tenggelam;
·         Dapat bersifat merusak (destruktif).
·         Usaha yang dapat dilakukan untuk membubarkan kerumunan, antara lain sebagai berikut:
·         Mengalihkan pusat perhatian, misalnya mengusahakan agar individu-individu sadar kembali akan kedudukan dan" peranan yang sesungguhnya;
·         Melakukan usaha untuk menakut-nakuti, misalnya demonstrasi dibubarkan dengan gas air mata atau tembakan peringatan; 
·         Melakukan usaha memecah belah pendapat orang-orang dalam kerumunan tersebut sehingga terjadi pertentangan di dalamnya. 
Sering dikatakan bahwa kerumunan timbul dalam kelas-kelas organisasi sosial suatu masyarakat. Sifatnya yang sementara tidak mernungkinkan terbentuknya tradisi, kebudayaan, dan alat-alat pengendalian sosial. Individu-individu yang berkerumun secara kebetulan saja di suatu tempat pada waktu yang bersamaan bukan berarti sama sekali tidak ada penyebab mereka berkumpul.
Keruthunan dapat terjadi karena individu-individu mempergunakan fasilitas-fasilitas yang sama dalam memenuhi keinginan pribadinya. Misalnya, membeli karcis kereta api untuk berpergian, karcis bioskop, memesan makanan di restoran, menonton pertandingan tinju di GOR, atau melihat konser musik di stadion. Semua itu terjadi karena penyaluran keinginan yang terdapat pada diri seseorang. Bahkan, kerumunan dapat disebabkan seseorang ingin meniru perbuatan orang lain, lalu diikuti oleh orang lain yang menyaksikannya.
            Norma-norma dalam masyarakat atau pemerintah sering membatasi terjadinya kerumunan. Masyarakat tertentu melarang atau membatasi demonstrasi. Suatu kerumunan yang sudah beraksi, bila datangnya dari pihak yang tidak bertanggung jawab mempunyai kecenderungan merusak. Seperti pembaca surat kabar atau penonton jual obat, kalau tiba-tiba ada copet yang berteriak cepat maka secara spontan massa tetap akan segera bertindak tanpa berpikir mana yang benar dan mana yang salah.
Banyak bukti, bahwa kerumunan dianggap sebagai gejala sosial yang kurang disukai dalam masyarakat yang teratur. Sebaliknya, ada kerumunan yang dapat diarahkan pada tujuan yang baik, seperti kumpulan manusia untuk menghadiri suatu ceramah keagamaan. Berdasarkan uraian di atas, kerumunan dapat dibedakan sebagai berikut: 
·         Kerumunan yang dikendalikan oleh keinginan pribadi,
·         Kerumunan yang berguna bagi organisasi masyarakat yang timbul dengan sendirinya tanpa diduga sebelumnya.
Atas dasar perbedaan tersebut, bentuk-bentuk umum kerumunan, dapat dikategorikan sebagai berikut. Kerumunan yang Berartikulasi dengan Struktur Sosial Kerumunan ini meliputi kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan serta kerumunan yang dialami sebagai penyalur keinginan. Kerumunan yang Berlawanan dengan Norma-Norma Hukum. Kerumunan yang berlawanan dengan norma hukum meliputi kerumunan yang bertindak secara emosional dalam mencapai suatu tujuan tertentu, menggunakan kekuatan fisik, dan bertentangan dengan norma-norma yang berlaku; kerumunan yang bersifat immoral, yaitu kerumunan yang bersifat merusak moral. 
Sedangkan Kerumunan yang Bersifat Sementara. Kerumunan yang bersifat sementara meliputi kerumunan yang merupakan ha1angan tercapainya maksud seseorang; kerumunan orang yang sedang dalam keadaan panik karena tertimpa bencana atau musibah lainnya, dan kerumunan penonton yang terjadi karena seseorang ingin melihat kejadian tertentu.
Publik adalah kelompok yang bukan merupakan kesatuan. Hubungan publik terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi, seperti radio, televisi, atau film. Publik mempunyai pengikut lebih luas dan lebih besar jumlahnya.
Dengan demikian, tidak ada pusat perhatian yang khusus dan kesatuan juga tidak ada. Setiap aksi publik diprakarsai oleh keinginan individual. Individu-individu dalam suatu publik masih mempunyai kesadaran akan kedudukan sosial yang sesungguhnya. Individu masih lebih mementingkan diri sendiri daripada tergabung dalam kerumunan terhadap perilaku seseorang. Kepribadian menjadi sikap seseorang untuk berbuat, mengetahui, dan menanggapi suatu keadaan. Perilaku seseorang terwujud dari faktor biologis dan psikologis.[5]

E.   CONTOH PENYIMPANGAN SOSIAL
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan penyimpangan para remaja atas norma yang ada. Perbuatan para remaja tersebut merupakan tindakan antisosial. Dalam usia yang memasuki pubertas, seringkali remaja mencari jati dirinya, muncul sifat sebagi jagoan, solidaritas sosial yang berlebihan, bahkan ingin eksistensi dirinya diketahui orang lain tetapi dengan tindakan menyimpang. Para remaja seringkali membentuk kelompok (geng) yang menjadi kebanggaannya. Perilaku menyimpang remaja ini dapat berupa tawuran, mabuk-mabukan, bertindak semaunya, dan bahkan dalam tragedi dalam kelas yakni penguasaan kelas berupa gengs, kelompok ini akan mampu mendominasi kekuasaan selama mereka mampu menjaga solidaritas kelompoknya, dan lain sebagainya.[6] 
Kenakalan remaja pada umumnya disebabkan oleh
·         Lingkungan keluarga yang tidak harmonis; 
·         Lingkungan masyarakat yang tidak sehat;
·         Kurangnya wadah pengembangan diri;
·         Situasi yang tidak menentu.

TindakanKriminal.
Kriminalitas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Semakin hari semakin meningkat, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitasnya. Kriminalitas sebenarnya bukanlah semata-mata bawaan seseorang sejak lahir, tetapi terjadi karena bersifat kondisional.

Kondisi yang mendorong terjadinya kriminalitas adalah:
·         Keadaan ekonomi yang morat marit;
·         Tingginya angka pengangguran;
·         Timbulnya kecemburuan sosial;
·         Rasa ingin cepat menyelesaikan masalah.
Tindakan kriminalitas pada individu dapat terjadi karena alasan berikut ini:
Alasan Psikologis
Seringkali penjahat melakukan aksinya karena di dorong oleh keadaan bingung, putus asa, dendam, marah, dan sebagainya. Secara biologis, pelaku kejahatan memiliki kesehatan yang prima.
Contoh: seseorang yang bertubuh kecil ketika diejek terus-menerus dapat melakukan pembunuhan terhadap lawannya yang lebih besar. Kekuatan timbul ketika motivasi yang timbul mendorong untuk melakukan kejahatan.
AlasanBiologis
Kebutuhan untuk makan bisa menyebabkan timbulnya dorongan untuk melakukan tindakan kejahatan. Mungkin alasan ini yang paling banyak ditemukan dalam kasus kejahatan. Kejahatan juga disebabkan karena kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama.[7]
Contoh: orang yang tidak makan dalam beberapa hari dapat mendorong dirinya untuk mencuri makanan milik orang lain.
PenyalahgunaanNarkotika
Narkotika dan obat-obatan terlarang sebenarnya adalah obat yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit oleh dokter. Apabila pemakaian obat ini dilakukan atas petunjuk dokter, maka tidak akan menjadi masalah. Penyalahgunaan narkoba oleh sebagian anggota masyarakat cukup mengkhawatirkan. Bahkan, tidak sedikit anak usia sekolah yang menjadi korban dari narkoba. Penyalahgunaan narkoba menyebabkan kerugian bagi si pemakai maupun bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, penyalahgunaan narkoba digolongkan sebagai bentuk perilaku yang menyimpang. Penggunaan jarum suntik yang bersamaan dapat menularkan penyakit AIDS yang mematikan. Untuk itu janganlah sekali-kali mencoba menggunakan narkoba.

Hubungan seksual sebelum nikah

Gejala hubungan seksual pranikah pada para remaja akhir-akhir ini menunjukan gejala yang terus meningkat, sehingga cukup mengkhawatirkan. Hal tersebut terjadi karena pemahaman yang salah atas modernisasi, kebebasan dan hak individual. Hubungan seksual pranikah tidak dapat dibenarkan oleh norma sosial dan norma agama. Akibat hubungan seksual sebelum nikah adalah terjadinya gangguan psikologi dan biologis. Gangguan psikologi berupa ketidaktenangan dalam hidupnya karena dihantui rasa berdosa. Sedangkan gangguan yang bersifat biologis dapat berupa penularan penyakit kelamin yang membahayakan seperti AIDS.
Pelacuran
Pelacuran dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah. Pada umumnya terjadi di daerah perkotaan atau tempat-tempat yang mempunyai objek wisata. Faktor internal yang menyebabkan pelacuran adalah sifat malas, rusaknya moral, ingin hidup enak tanpa usaha, sedangkan faktor eksternalnya antara lain faktor ekonomi dan urbanisasi yang tinggi.
Homo Seksualitas
Penyimpangan seksual dengan cara melakukan hubungan seks dengan sesama jenis. Misalnya, seorang laki-laki dengan laki-laki yang lain disebut homoseks, sedangkan seorang perempuan dengan perempuan yang lain disebut lesbian. Salah satu negara yang sudah mengakui perkawinan homoseksual adalah negara Belanda.[8]

F.    UPAYA YANG DAPAT DILAKUKAN DALAM PENGENDALIAN PENYIMPANGAN SOSIAL
Berbagai perilaku penyimpangan sosial dalam masyarakat selalu ada. Untuk menekan agar perilaku menyimpang ini tidak menjalar sebagaimana wabah, ada upaya-upaya yang dapat dilakukan sebagai pencegahan, baik itu di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Sebagaimana banyak orang berkata bahwa pencegahan lebih baik daripada mengobati.
1.    Di Lingkungan Keluarga
Di sini perlu dukungan dari semua anggota keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga luas. Anggota keluarga hendaknya mampu mengembangkan sikap kepedulian, kompak, serta saling memahami peran dan kedudukannya masing-masing di keluarga.
Orang tua memegang peran utama dalam membentuk perwatakan dan membina sikap anak-anaknya. Orang tua merupakan figur utama anak yang dijadikan panutan dan tuntunan.
Orang tua hendaknya dapat melakukan beberapa hal sbb.
a.    Menciptakan suasana harmonis, perhatian, dan penuh rasa kekeluargaan.
b.    Menanamkan nilai-nilai budi pekerti, kedisiplinan, dan ketaatan beribadah.
c.    Mengembangkan hubungan yang akrab dengan anak.
d.    Selalu menghargai pendapat anak, memberikan solusi jika anak mendapat kesulitan.
e.    Memberikan teguran jika anak bersalah dan memberikan pujian jika anak berbuat baik.
f.     Memberikan tanggung jawab kepada anak sesuai tingkat usia dan pendidikannya.
2. Di Lingkungan Sekolah
Pendidik di lingkungan sekolah memegang peran utama dalam mengarahkan anak agar tidak melakukan berbagai penyimpangan sosial.
Berbagai hal yang dapat dilakukan guru/pendidik:
a.    Menciptakan hubungan yang harmonis dengan setiap anak didiknya.
b.    Menanamkan nilai-nilai agama, disiplin, budi pekerti, moral.
c.    Selalu mengembangkan sikap keterbukaan, jujur, dan saling percaya.
d.    Memberi kebebasan dan mendukung siswa untuk mengembangkan potensi diri.
e.    Bersedia mendengar keluhan siswa serta mampu membantu mecari solusi.
3. Di Lingkungan Masyarakat
Pengaruh lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Lingkungan pergaulan yang sehat dan nyaman dapat dijadikan tempat ideal untuk membentuk karakter anak yang baik.
Hal-hal yang dapat dikembangkan dalam masyarakat sebagai upaya pencegahan perilaku penyimpangan sosial
Pembinaan generasi muda harus sangat diperhatikan yaitu dengan menjalankan usaha-usaha untuk mengatasi atau membatasi sumber sumber penyebabnya.[9]
Mengembangkan kerukunan antarwarga masyarakat. Seperti rasa kepedulian, gotong royong, dan kekompakan.
Membudayakan perilaku disiplin bagi warga masyarakat, misalnya disiplin dalam menghormati keputusan-keputusan bersama, seperti ronda malam,gotongroyong kebersihan lingkungan dll.
Mengembangkan berbagai kegiatan warga yang bersifat positif, seperti perkumpulan PKK, Karang Taruna, Pengajian, Kegiatan Kemanusiaan.[10]


BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Adakalanya terjadi penyimpangan terhadap nilai dan norma yang ada. Tindakan manusia yang menyimpang dari nilai dan norma atau peraturan disebut dengan perilaku menyimpang.terutama pada kalangan remaja karena tingkat emosionalnya cukup tinggi dan bulum mampu mengontrol diri dalam mengambil pergaulan .perilaku menyimpang ini tidak memandang umur baik anak-anak sampai orang dewasa bisa melakukan  perilaku menyimpang tersebut.

B.     SARAN
Sebaiknya kita harus lebih  memperhatikan dan mentaati segala aturan dan norma yang  berlaku di lingkungan kita karena perilaku menyimpang dapat menyebabkan kerusakan moral pada masyarakat terutama pada remaja ,apalagi pada zaman ini banyak terdapat perilaku menyimpang sehingga kita harus lebih menjaga diri dari perilaku-perilaku tersebut agar tidak merusak masa depan kita .














DAFTAR PUSTAKA

Soekamto,soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar:Rajawali pers.

Susan,Novri. 2009. Sosiologi Konflik & Isu-isu Konflik Kontemporer:Kencana.

Kartasapoetra. 1987. Sosiologi Umum:Bina Aksara
https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang. Diambil jam 22:53 WIB, 10 april 2018


https://www.sayanda.com/penyimpangan-sosial/. Diambil jam 23:25 WIB, 10 april 2018.



[1]https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang. Diambil jam 22:53 WIB, 10 april 2018
[4]https://www.sayanda.com/penyimpangan-sosial/. Diambil jam 23:25 WIB, 10 april 2018
[6] Sosiologi konflik dan isu-isu konflik kontemporer, 2009, karangan Novri Susan, M.A, halaman 30.
[7] Sosiologi Suatu Pengantar 2006, karangan soerjono soekamto, halaman 321.
[9] Sosiologi umum, 1987. karangan G.Kartasapoetra, halaman 511.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...