Minggu, 15 April 2018

MAKALAH KELOMPOK SOSIAL


KELOMPOK SOSIAL
Makalah dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi
Dosen Pengampu Dr. H. Moh. Mahbub, S.Ag., M.Si.


Disusun oleh :
Umi Kultsum                          173231038
Sigit Yogatama                       173231046
Ahmad Farchan Saputra         173231056
Rina Marsidyani K                  173231064

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia pada dasarnya dilahirkan seorang diri, namun mengapa mereka harus hidup bermasyarakat?, karena pada dasarnya juga manusai juga tidak bisa hidup sendiri. Manusia merupakan makhluk yang bersegi jasmaniah (raga) dan rohaniah (jiwa). Segi rohaniah manusia terdiri dari pikiran dan perasaan. Apabila direalisasikan, akan menghasilkan kehendak yang kemudian menjadi sikap tindak.
Suatu aspek yang menarik dari kelompok sosial tersebut adalah bagaimana caranya mengendalikan anggota-anggotanya. Secara sosiologis kelompok mempunyai pengertian sebagai kumpulan kumpulan orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi yang mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian, Ciri-ciri, dan Syarat Kelompok Sosial ?
2.      Apa Macam-Macam Kelompok Sosial?
3.      Bagaimana Dinamika Kelompok Sosial ?

C.    Tujuan Masalah
1.      Mengetahui Pengertian, Ciri-ciri, dan Syarat Kelompok Sosial.
2.      Mengetahui Macam-Macam Kelompok Sosial.
3.      Mengetahui Dinamika Kelompok Sosial.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian, Ciri-ciri, dan Syarat Kelompok Sosial
1.      Pengertian Kelompok Sosial
Secara sosiologis kelompok mempunyai pengertian sebagai kumpulan kumpulan orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi yang mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Kelomok social tersebut merupakan kesatuan dari manusia yang hidup bersama, dan berperasaan sama. Jadi, perasaan ppersatuan dalam kelompok social akan tercapai apabila setiap anggota kelompok mempunyai pandangan yang sama tentang masa depan bersama, dan secara sadar mengetahui tugas-tugas dan syarat untuk mewujudkan masa depannya.
Menurut mayor polak (1979), kelompok social adalah yang saling berinteraksi dalam sebuah struktur. Selanjutnya, Abdulsyah dalam buku Sosiologi Kelompok dan MAsalah Sosial (1987), membatasi kelompok pada sejumlah system yang dapat menyebabkan kelompok dapat dikatakan berstruktur, yaitu sebagai berikut.
a.         System dari status para anggotanya, seperti sebuah organisasi pemuda yang memiliki susunan pengurus yang sifatnya hierarki;
b.        Nilai dan norma yang berlaku dalam mempertahankan kehidupan kelompoknya;
c.         Peranan social (social role) yang merupakan aspek dinamis dari struktur.
Menurut Robert K. Merton, kelompok social merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama, bersifat memengaruhi, dan saling menolong. Jadi kelompok social diartikan sebagai kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa memiliki.
Dalam kalangan ahli sosiologi, konsep kelompok mempunyai beberapa makna. Robert Bierstend menggunakan tiga criteria untuk membedakan jenis kelompok, yaitu ada tidaknya (a) organisasi, (b) hubungan social di antara anggota kelompok, an (c) kesadaran jenis.
Berdasarkan criteria tersebut, Bierstend kemudian membedakan tiga jenis kelompok yaitu;
a.         Kelompok statistik adalah kelompok yang tidak memenuhi ketiga criteria di atas. Kelompok ini hanya ada dalam arti analisis dan merupakan hasil ciptaan para ilmuan social
b.         Kelompok masyarakat adalah kelompok yang hanya memenuhi satu persyaratan, yaitu kesadaran akan persamaan diantara mereka
c.         Kelompok social adalah kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lain, tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi.
2.      Ciri-ciri Kelompok Sosial
Kelompok social adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Dalam proses pembentukan suatu kelompok social, terdapat beberapa cirri dasar dari suatu kelompok. Menurut D.A. Wila Huky, cirri dasar tersebut adalah sebagai berikut.
a.         Terdiri atas paling sedikit dua orang dan dapat terus bertambah anggotanya, keduanyya harus bisa memberikan respon mental.
b.         Tidak terlalu terbentuk karena memenuhi persyaratan jumlah anggotanya, yang terpenting adalah di antara mereka terdapat saling interaksi dan komunikasi
c.         Komunikasi dan interaksi yang merupakan unsur pokok suatu kelompok harus bersifat timbal balik. Komunikasi satu arah tidak dapat membentuk interaksi dalam kelompok.
d.        Kelompok-kelompok tersebut berlaku sepanjang hidup atau jangka panjang, tetapi dapat pula bersifat sementara atau  jangka pendek. Kelompok ini hanya ada selama adanya interaksi timbale balik
e.         Minat dan kepentingan bersama merupakan warna utama pembentukan kelompok
f.          Pembentuka kelompok berdasarkan situasi yang beragam, yang dalam situasi ini manusia dituntut untuk bersatu
g.         Merupakan satu kesatuan dalam dirinya. Ia memiliki warna dan cirri sendiri yang berbeda dari lainnya, bahkan berbeda dengan anggota-anggotanya secara pribadi.
3.      Syarat Kelompok Sosial
Kelompok sosial merupakan himpunan manusia atau kesatuan manusia yang hidup bersama melakukan hubungan. Menurut Maclaver dan Carles, hubungan tersebut berkaitan dengan timbal balik, saling memengaruhi, dan satu kesadaran untuk tolong-menolong. Kelompok sosial memiliki beberapa persyaratan berikut :
a.       Kesadaran sebagai bagian dari kelompok tersebut;
b.      Hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainya dalam kelompok itu;
c.       Faktor pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok, berupa kepentingan yang sama, ideologi politik yang sama dan lain-lain;
d.      Struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama;
e.       Bersistem dan berproses
Emile Durkheim, membedakan antara kelompok yang didasarkan pada dasar solidaritas mekanik dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organik
a.      Kelompok Sosial yang Didasarkan pada Solidaritas Mekanik
Solidaritas mekanik merupakan ciri yang menandai masyarakat yang masih sederhana dan belum mengenal pembagian kerja. Dalam masyarkat ini, kelompok manusia tinggal secara tersebar dan hidup terpisah satu dengan yang lainya. Tiap-tiap kelompok dapat memenuhi keperluan mereka masing-masing tanpa memerlukan bantuan atau kerja sama dengan kelompok lain. Dalam kelompok ini yang diutamakan adalah persamaan perilaku dan sikap.
Masyarakat diikat oleh kesadaran kolektif, yaitu suatu kesadaran bersama yang memiliki tiga karakteristik mencakup keseluruhan, kepercayaan, perasaan kelompok dan bersifat memaksa. Kesadaran bersama dalam solidaritas mekanik menjaga persatuan, sedangkan hukumannya bertujuan agar kondisi yang tidak seimbang akibat perilaku menyimpang dapat pulih kembali
b.      Kelompok Sosisal yang Didasarkan pada Solidaritas Organik
Solidaritas organik merupakan bentuk solidaritas yang mengikat masyarkat kompleks, masyarakat yang telah mengenal pembagian kerja yang terperinci dan dipersatukan oleh saling bergantung antar-bagian. Pada masyarakat ini, ikatan yang mempersatukan masyarakat bukan lagi kesadaran kolektif atau hati nurani, melainkan kesepakatan yang terjalin diantara berbagai kelompok profesi.
Solidaritas ini bersifatmengikat, sehingga saling bergantung karena adanya sifat ini, ketiadaan salah satu unsur mengakibatkan gangguan pada kelangsungan hidup bermasyarkat. Hukum yang menonjol bukan hukum pidana, melainkan ikatan hukum perdatan dan bersifat resitutif.
c.       Kelompok Sosial yang Didasarkan pada Kelompok Formal dan Informasi
Kelompok ormal dan informal merupakan suatu gejala yang menarik perhatian banyak ilmuwan. Suatu gejala yang telah diamati oleh para ilmuan sosial adalah bahwa organisasi formal sering terbentuk oleh kelompok informal yang nilai dan normanya dapat bertentangan dengan nilai dan aturan yang berlaku dalam organisasi formal. Di kalangan pelajar, misalnya sering terjalin kesetiakawanan yang bertentangan dengan aturan organisasi, misalnya kesetiakawanan dalam melakukan pelangaran disiplin (misalnya, bersama-sama meninggalkan kelas selama jam pelajaran)
Hubungan antara organisasi formal dan informal dapat pula kita jumpai dalam bidang pekerjaan. Pada suatu pihak, kita dapat menjumpai studi yang mengungkapkan bahwa hubungan persahabatan antara teman sekerja dapat memperlancarkan urusan kedinasan

B.     Macam-Macam Kelompok Sosial
1.      Klasifikasi tipe-tipe  kelompok sosial
Tipe-tipe kelompok sosial dapat diklasifikasikan dari berbagai sudut pandang. Seorang sosiologi Jerman, Georg Simmel, mengambil sudut pandang dari besar-kecilnya jumlahnya anggota kelompok, bagaimana individu memengaruhi kelompoknya serta interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Ukuran lain yang diambil adalah atas dasar derajat interaksi sosial dalam kelompok sosial tersebut. Beberapa sosiologi memperhatikan pembagian atas dasar kelompok-kelompok dimana anggota-anggotanya saling mengenal (face-to-face grouping), seperti keluarga, rukun tetangga dan desa, dengan kelompok-kelompok sosial seperti kota-kota, korporasi dan negara. Ukuran lainnya adalah kepentingan dan wilayah. Suatu komuniti (masyarakat setempat) misalnya, merupakan kelompok-kelompok atau satu kesatuan atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang khusus/tertentu.
Berlangsungnya suatu kepentingan merupakan ukuran lain bagi klasifikasi tipe-tipe sosial. Sutau kerumunan misalnya, merupakan kelompok yang hidupnua sebentar saja karena kepentingannya pun tidak juga berlangsung lama. Lain halnya dengan kelas atau dengan komuniti yang kepentingan-kepentingannya secara relatif atau permanen. Klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial adalah ukuran jumlah atau derajat interaksi sosial atau kepentingan-kepentingan kelompok, atau organisasinya .

2.      Kelompok Sosial DiPandang dari Sudut Individu
Dalam masyarakat yang sudah kompleks, individu biasanya menjadi anggota dari kelompok sosial tertentu sekaligus,  misalnya atas dasar seks, ras dsb. Akan tetapi, dalam hal seperti dibidang pekerjaan, keanggotannya bersigat sukarela. Dengan demekian, terdapat derajat dan arti tertentu bagi individu-individu tadi sehubungan dengan keanggotaan kelompok sosial tertentu sehingga bagi individu terdapat dorongan-dorongan tertentu pula sebagai anggota suatu kelompok sosial. Suatu ukuran lainnya bagi si individu adalah bahwa ia merasa lebih tertarik pada kelompok-kelompok sosial terdekat dengan kehidupanseperti keluarga, kelompok kekerabatan, dari pada miasalnya dengan suatu perusahaan atau negara. Apabila kelompok sosial dianggap sebagai kenyataan didalam kehidupan manusia atau individu , juga harus diingat pada konsep-konsep dan sikap-sikap individu terhadap kelompok sosial sebagai kenyataan subjektif yang penting untuk memahami gejolak.

3.      In-Group dan Out-Group
Istilah In-Group , dikemukakan oleh W.G sebagai lawan dari Out-Group  yang lazim digunakan dalam literatur sosiologi. In-Group adalah kelompok sosial dimana, individu mengidenhtifikasikan dirinya. Sedangkan out-group sendiri adalah kelompok sosial yang oleh individu diartikan lawan dari in-group. Dapat kita tarik contoh yaitu dikaitkan dengan istilah “kami atau kita” sebagai in-group, sedangkan sbagai out-group “mereka”, seperti kita warga RT 01, sedangkan mereka warga RT 02. Sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai perasaaan dekat kepada anggota-anggotanya.   
Sikap Out-group selalu ditandai dengan sutau kelainan yang berwujud antagonis dan antipati. Perasaan In-Group dan Out-Group atau perasaan dalam dan luar kelompok dapat merupakan satu sikap yang dinamakan etnosentrisme. Etnosentrisme adalah sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan menggunakan ukuran kebudayaan sendiri. Dalam proses etnosentrisme, sering kali digunakan stereotip, yakni gambaran atau anggapan-anggapan yang  bersifat mengejek terhadap objek tertentu.

4.      Kelompok Primer ( Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Menurut Charles Horton Cooley, kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri kenal-mengenal antar anggotanyamserta kerjasama erat yamg bersifat pribadi. Salah satu hasil hubungan erat dan bersifat pribadi tersebut adalah peleburan individu dalam kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok. Dari pendapat Cooley, ada dua hal yang penting. Pertama, menunjuk pada kelas yamg terdiri atas kelas kelompok konkret (Keluarga, Kelompok permainan, rukun tetangga). Kedua, istilah saling mengenal, terutama menekankan pada sifat hubungan antarindividu, seperti simpapti dan kerjasama yang spontan kelompok-kelompok tersebut mempunyai makana sangat penting bagi pembentukan atau perwujudan cita-cita sosial individu.
Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok-kelompok besar yang terdiri atas banyak orang, yang sifat hubungannya tidak berdasarkan pengenalan secara pribadi dan juga tidak langgeng. Conjtohnya, hubungan kontrak jual-beli. Jelas bahwa hubungan-hunungan manusia tak mungkin semata-mata didasarkan atas kontrak semacam ini, pasti harus ada rasa kesetiaan dan pengapdian terhadap kelompok serta pola perilaku dalam kelompok.

5.      Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
Konsep Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft) dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies. Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama, dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah dan kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Bentuk Paguyuban dijumpai didalam keluarga. Secara umum, ciri-ciri paguyuban adalah :
a.       Intimate, yaitu hubungan yang bersifat menyeluruh dan mesra,
b.      Private, yaitu hubungan yang bersifat pribadi,
c.       Exclusive, yaitu hubungan tersebut hanya untuk “kita” dan tidak untuk orang lain.
Menurut Ferdinand Tonnies, dalam setiap masyarakat dapat dijumpai salah satu diantara tiga tipe paguyuban, sebagai berikut:
a.       Paguyuban karena ikatan darah (Gemeinschaft by Blood), yaitu paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Misalnya, keluarga dan kelompok kekerabatan.
b.      Paguyuban karena tempat (Gemeinschaft of Place), yaitu peguyuban yang terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggal sehingga saling tolong-menolong. Misalnya, kelompok arisan dan rukun tetangga.
c.       Paguyuban karena jiwa dan pikiran (Gemeinschaft of Mind), yaitu paguyuban yang terdiri atas orang-orang yang tidak mempunyai hubungan darah ataupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, mereka mempunyai jiwa, pikiran, ideologi  yang sama. Namun, biasanya paguyuban ini biasanya tidak sekuat paguyuban karena ikatan darah atau keturunan.
Sedangkan Patembayan (Gesellschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu yang pendek (sementara). Patembayan bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis seperti mesin. Bentuk Gesellschaft, terutama tersapat dalam hubungan perjanjian yang bersifat timbal balik. Misalnya, ikatan perjanjian kerja, birokrasi dalam suatu kantor, dan perjanjian dagang, dsb.
6.      Formal Group dan Informal Group
Formal Group adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oelh anggota-anggotanyauntuk mengatur hubungan antar-sesamanya. Kriteria rumusan organiosasai Formal Group merupakan keberadaan tatacara untuk menggerakkan dan mengordonisakan usaha-usaha femi tercapainya tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat khusus. Formal Group ditegakkan pada landasan mekanisme administratif. Misalnya, sekolah terdiri atas berbagai bagian, seperti kepala sekolah, siswa, guru, wali murid, bagian TU, bagian kebersihan, dll., kelompok seperti itu dinamakan birokrasi. Menurut Max Weber, organisasi yang didirikan secara birokrasi mempunyai ciri-ciri, sebagi berikut :
a.       Tugas organisasi didistribusikan dalam beberapa posisi yang merupakan tugas-tugas jabatan,
b.      Posisi dalam organisasi terdiri atas hierarki struktur wewenang,
c.       Suatu sistem peraturan memengaruhi keputusan dan pelaksanaannya,
d.      Unsur staf merupakan pejabat, bertugas memelihara organisasi dan khususnya keteraturan organisasi,
e.       Para pejabat berharap agar hubungan atasan dengan bawahan dan pihk lain bersifat orientasi impersonal,
f.       Penyelenggaraan kepegawaian didasarkan pada karir.
Adapaun pengetian Informal Group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti. Kelompok-kelompok tersebut terbentuk karena pertemuan yang berulang-ulang. Dasar pertemuan tersebut adalah kepentingan dan pengalaman yang sama.
7.      Membership Group dan Reference Group
Robert K. Merton menyatakan bahwa Membership Group adalah kelompok sosial yang setiap orang secar fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Batas-batas fisik dipakai untuk menentukan anggotaan seseorang tidak dapat ditentukan secara mutlak. Hal ini disebabkan perubahan-perubahan keadaan. Situasi yang tidak tetap akan memengaruhi  derajat interaksi di dalam kelompok sehingga kadang-kadang seorang anggota tidak sering berkumpul dengan kelompok tersebut walaupun secara resmi ia belum keluar dari kelompok itu.
Reference Group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Dengan kata lain, seorang yang bukan anggota kelompok sosial bersangkutan mengidentifikasikasi dirinya dengan kelompok tadi. Misalnya, seseorang yang ingin sekalim menjadi seorang mahasiswa, tetapi gagal memenuhi persyaratan unyuk memasuki salah satu Perguruan Tunggi, kemudian bertingkah laku seperti mahasiswa, walaupun bukan mahasiswa.

8.      Kelompok Okupasional dan Kelompok Voluenter
Pada awalnya masyarakat mungkin saja melakukan berbagai pekerjaan sekaligus. Artinya di dalam msyarakat tersebut belum ada spesisalisasi yang tegas. Akan tetapi, masyarakat tersebut pasri terpengaruh oleh dunia luar. Salah satu akibatnya adalah bahwa mesyarakat utu berkembang menjadi suatu masyarakat yang heterogen. Kelompok Okupasionanal adalah kelompok yang muncul karena semakin memudahnya fungsi kekerabatan, dimana kelompok ini timbul karena anggotanya memiliki perkerjaan yang sejenis. Misalnya, kelompok profesi, seperti asosiasi srajana farmasi, ikatan dokter Indonesia, dll.
Dengan berkembangnya komuinikasi komunikasi dalam arti luas secara cepat dan salah satu akibat dari tidak terpenuhinya kepentingan-kepentingan primer itu, baik yang bersifat material dan spiritual adalah munculnya keleompok-kelompok Voluentir. Kelompok Voluenter adalah kelompok orang yang memiliki kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat. Melalui kelompok ini diharapkan akan dapat memenuhi kepentigan anggotanya secara individual tanpa mengganggu kepentingan masyarakat secara umum.

9.      Kelompok-kelompok sosial tidak teratur
a.      Kerumunan (Crowd)
Kerumunan merupakan kelompok sosial yang bersifat sementara dan tidak terorganisasi. Kerumunan dapat saja memiliki pemimpin, tetapi tidak mempunyai sistem pembagian kerja ataupun sistem pelapisan sosial. Interaksinya bersifat spontan dan tidak terduga  dan berkumpul secara tidak sengaja disuatu tempat dan waktu tertentu. Bentuk-bentuk kerumunan, yaitu:
1.      Kerumuanan yang berartikulasi dengan struktur sosial, yaitu;
a)      Formal audience (pendengar yang formal), kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan persamaan tujuan, tetapi sifatnya pasif. Contohnya, penonton film,dll.
b)      Plannned expensive group (kelompok ekspensif yang telah di rencanakan). Kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, tetatapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul.

2.      Kerumunan bersifat sementara, yaitu;
a)      Inconvenient aggregations ( kumpulan yang kurang menyenangkan). Contohnya, orang-orang yang antri karcis, orang-orang yang memunggu bis, dsb. Dalam kerumunan tersebut kehadiran orang-orang lain merupakan halangan terhadap tercapainya maksud seseorang.
b)      Panic crowds, kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik. Misalnya, orang-orang yang bersama-sama berusaha menyelematkan diri dari suatu bahaya.
c)      Spectator crowds, kerumunan penonton. Terjadi karena ingin melihat suatu kejadian tertetu .

3.      Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (Lawless Crowds), yaitu:
a)      Acting mobs, kerumunan yang bertidak emosional. Bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
b)      Immoral Crowds, kerumunan yang bersifat imoral. Hampir sama dengan kelompok ekspensif. Perbedaannya adalah kerumunan bersifat imoral bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Contohnya, orang-orang mabuk.
b.      Publik
Berbeda dengan kerumunan, publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi, misalnya pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, radio, TV, film, dsb. Alat-alat penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publi mempunyai pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Setiap aksi publik dikuasai oleh keinginan individual (misalnya pemungutan suara dalam pemilihan umum), dan ternyata individu-individu dalam suatu publik masih mempunyai kesadaran akan kedudukan sosial yang sesungguhnya dan juga masih lebih mementingkan kepentingan-kepentingan pribadi daripada merekayang regabung dalam kerumunan.

C.    Dinamika Kelompok Sosial
Kelompok social bukan merupakan kelompok statis. Setiap kelompok social pasti mengalami perkembangan serta perubahan. Untuk meneliti gejala tersebut, perlu ditelaah lebih lanjut perihal dinamika kelompok social tersebut. Beberapa kelompok social sifatnya lebih stabil daripada kelompok-kelompok social lainnya, atau dengan kata lain, struktuurnya tidak mengalami perubahan perubahan yang mencolok. Ada pula kelompok-kelompok social yang mengalami perubahan-perubahan cepat, walaupun tidak ada pengaruh-pengaruh dari luar. Akan tetapi, pada umumnya, kelomok social mengalami perubahan sebagai akibat proses formal maupun reformasi dari pola pola didalam kelompok tersebut karena pengaruh dari luar. Ada sebagian dari kelompok yang ingin merebut kekuasaan dengan mengorbankan golongan lainnya, ada kepentingan yang tidak seimbang sehingga timbul ketidak adilan, ada pula perbedaan paham tentang cara-cara memenuhi tujuan kelompok dan lain sebagainya. Semuanya itu mengakibatkan perpecahan di dalam kelompok hingga timbul peubahan struktur
Perubahan struktur kelompok social karena sebab-sebab luar pertama tama perlu diuraikan mengenai perubahan yang disebabkan karena perubahan situasi. Siruasi yang dimaksud adalah keadaan dimana kelompok tadi hidup.
Sebab kedua adalah pergantian anggota kelompok. Pergantian anggota suatu kelompok social tidak perlu membawa perubahan struktur kelompok tersebut. Umpamanya perssonalia suatu pasukan. Angkatan bersenjata sering mengalami pergantian, dan itu tidak selalu mengakibatkan perubahan struktur secara keseluruhan. Akan tetapi, ada pula kelompok-kelompok social yang mengalami kegoncangan-kegoncangan apabila ditingkalkan seorang dari anggotanya, apalagi kalau anggota yang bersangktan mempunyai kedudukan penting. Misalnya, dalam suatu keluarga.
Penyebab lain adalah sebab yang ketiga yaitu perubahan perubahan yang terjadi dalam situasi social ekonomi. Dalam keadaan depresi misalnya, suatu keluarga akan bersatu untuk menghadapinya, walaupun anggota-anggota keluarga tersebut mempunyai agama ataupun pandangan politik yang berbeda dengan yang lainnya.
Didalam dinamika kelomok, mungkin terjadi antagonism antar kelompok. Apabila terjadi peristiwa tersebut, secara hipotesis prosesnya adalah sebagai berikut,
1.      Bila dua kelompok bersaing maka timbul stereotip
2.      Sikap kedua kelompuk yang bermusuhan tidak akan mengurangi sikap tindak bermusuhan tersebut
3.      Tujuan yang akan dicapai harus dengan kerja sama akan dapat menetralkan tindak bermusuhan
4.      Didalam kerja sama mencapai tujuan, stereotip yang semula negative menjadi positif

Konflik antar kelompok mungkin terjadi karena persaingan untuk mendapatkan mata pencaharian hidupyang sama atau terjadi karena pemaksaan unsure-unsur kebudayaan tertentu.
Masalah dinamika keompok juga menyangkut gerak atau perilaku kolektif. Gejala tersebut merupakan suatu cara berfikir, merasa, dan beraksi suatu kolektifitas yang serta merta dan tidak berstruktur. Sebab0sebab suatu kolektiva menjadi agresif antara lain adalah
1.      Frustasi selama jangka waktu yang lama
2.      Tersiggung
3.      Diragukan
4.      Ada ancaman dari luar
5.      Diperlakukan tidak adil
6.      Terkena pada bidang-bidang kehidupan yang sangat sensitive.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kelompok sosial atau social group adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama, karena adanya hubungan diantara mereka. Hubungan tersebut antara lainmenyangkut hubungan timbal balik yang saling memengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong. Manusia mempunyai naluri untuk sennatiasa berhubungan dengan sesamanya. Hubungan yang sinambung tersebut menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan pola interaksi sosial.
Kelompok sosial merupakan gejala yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung didalamya. Tanpa disadari sejak lahir kita telah menjadi anggota kelompok.


















DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Tajul. 2015. Pengantar Sosiologi. Bandung. CV Pustaka Setia.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...