KELOMPOK SOSIAL
Makalah dibuat
untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi
Dosen Pengampu Dr. H. Moh. Mahbub, S.Ag., M.Si.
Disusun oleh :
Umi Kultsum 173231038
Sigit Yogatama 173231046
Ahmad Farchan Saputra 173231056
Rina Marsidyani K 173231064
JURUSAN SEJARAH
PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI SURAKARTA
TAHUN PELAJARAN
2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia pada dasarnya dilahirkan seorang diri, namun
mengapa mereka harus hidup bermasyarakat?, karena pada dasarnya juga manusai
juga tidak bisa hidup sendiri. Manusia merupakan makhluk yang bersegi jasmaniah
(raga) dan rohaniah (jiwa). Segi rohaniah manusia terdiri dari pikiran dan
perasaan. Apabila direalisasikan, akan menghasilkan kehendak yang kemudian
menjadi sikap tindak.
Suatu aspek yang menarik dari kelompok sosial
tersebut adalah bagaimana caranya mengendalikan anggota-anggotanya. Secara
sosiologis kelompok mempunyai pengertian sebagai kumpulan kumpulan orang yang
mempunyai hubungan dan berinteraksi yang mengakibatkan tumbuhnya perasaan
bersama
B. Rumusan Masalah
1. Apa
Pengertian, Ciri-ciri, dan Syarat Kelompok Sosial ?
2. Apa
Macam-Macam Kelompok Sosial?
3. Bagaimana
Dinamika Kelompok Sosial ?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui
Pengertian, Ciri-ciri, dan Syarat Kelompok Sosial.
2. Mengetahui
Macam-Macam Kelompok Sosial.
3. Mengetahui
Dinamika Kelompok Sosial.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian, Ciri-ciri,
dan Syarat Kelompok
Sosial
1.
Pengertian
Kelompok Sosial
Secara sosiologis kelompok mempunyai pengertian
sebagai kumpulan kumpulan orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi yang
mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Kelomok social tersebut merupakan
kesatuan dari manusia yang hidup bersama, dan berperasaan sama. Jadi, perasaan
ppersatuan dalam kelompok social akan tercapai apabila setiap anggota kelompok
mempunyai pandangan yang sama tentang masa depan bersama, dan secara sadar
mengetahui tugas-tugas dan syarat untuk mewujudkan masa depannya.
Menurut mayor polak (1979), kelompok social adalah
yang saling berinteraksi dalam sebuah struktur. Selanjutnya, Abdulsyah dalam
buku Sosiologi Kelompok dan MAsalah
Sosial (1987), membatasi kelompok pada sejumlah system yang dapat
menyebabkan kelompok dapat dikatakan berstruktur, yaitu sebagai berikut.
a.
System dari
status para anggotanya, seperti sebuah organisasi pemuda yang memiliki susunan
pengurus yang sifatnya hierarki;
b.
Nilai dan norma
yang berlaku dalam mempertahankan kehidupan kelompoknya;
c.
Peranan social (social role) yang merupakan aspek
dinamis dari struktur.
Menurut
Robert K. Merton, kelompok social merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang
hidup bersama, bersifat memengaruhi, dan saling menolong. Jadi kelompok social
diartikan sebagai kumpulan individu yang saling memiliki hubungan dan saling
berinteraksi sehingga mengakibatkan tumbuhnya rasa kebersamaan dan rasa
memiliki.
Dalam
kalangan ahli sosiologi, konsep kelompok mempunyai beberapa makna. Robert
Bierstend menggunakan tiga criteria untuk membedakan jenis kelompok, yaitu ada
tidaknya (a) organisasi, (b) hubungan social di antara anggota kelompok, an (c)
kesadaran jenis.
Berdasarkan criteria
tersebut, Bierstend kemudian membedakan tiga jenis kelompok yaitu;
a.
Kelompok
statistik adalah kelompok yang tidak memenuhi ketiga criteria di atas. Kelompok
ini hanya ada dalam arti analisis dan merupakan hasil ciptaan para ilmuan
social
b.
Kelompok
masyarakat adalah kelompok yang hanya memenuhi satu persyaratan, yaitu
kesadaran akan persamaan diantara mereka
c.
Kelompok social
adalah kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan berhubungan satu
dengan yang lain, tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi.
2.
Ciri-ciri
Kelompok Sosial
Kelompok social adalah suatu unit yang terdiri atas
dua orang atau lebih yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Dalam proses
pembentukan suatu kelompok social, terdapat beberapa cirri dasar dari suatu
kelompok. Menurut D.A. Wila Huky, cirri dasar tersebut adalah sebagai berikut.
a.
Terdiri atas
paling sedikit dua orang dan dapat terus bertambah anggotanya, keduanyya harus
bisa memberikan respon mental.
b.
Tidak terlalu
terbentuk karena memenuhi persyaratan jumlah anggotanya, yang terpenting adalah
di antara mereka terdapat saling interaksi dan komunikasi
c.
Komunikasi dan
interaksi yang merupakan unsur pokok suatu kelompok harus bersifat timbal
balik. Komunikasi satu arah tidak dapat membentuk interaksi dalam kelompok.
d.
Kelompok-kelompok
tersebut berlaku sepanjang hidup atau jangka panjang, tetapi dapat pula
bersifat sementara atau jangka pendek.
Kelompok ini hanya ada selama adanya interaksi timbale balik
e.
Minat dan
kepentingan bersama merupakan warna utama pembentukan kelompok
f.
Pembentuka
kelompok berdasarkan situasi yang beragam, yang dalam situasi ini manusia
dituntut untuk bersatu
g.
Merupakan satu
kesatuan dalam dirinya. Ia memiliki warna dan cirri sendiri yang berbeda dari
lainnya, bahkan berbeda dengan anggota-anggotanya secara pribadi.
Kelompok
sosial merupakan himpunan manusia atau kesatuan manusia yang hidup bersama
melakukan hubungan. Menurut Maclaver dan Carles, hubungan tersebut berkaitan
dengan timbal balik, saling memengaruhi, dan satu kesadaran untuk
tolong-menolong. Kelompok sosial memiliki beberapa persyaratan berikut :
a. Kesadaran
sebagai bagian dari kelompok tersebut;
b. Hubungan
timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainya dalam kelompok itu;
c. Faktor
pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok, berupa kepentingan yang
sama, ideologi politik yang sama dan lain-lain;
d. Struktur,
kaidah, dan pola perilaku yang sama;
e. Bersistem
dan berproses
Emile
Durkheim, membedakan antara kelompok yang didasarkan pada dasar solidaritas
mekanik dan kelompok yang didasarkan pada solidaritas organik
a.
Kelompok
Sosial yang Didasarkan pada Solidaritas Mekanik
Solidaritas
mekanik merupakan ciri yang menandai masyarakat yang masih sederhana dan belum
mengenal pembagian kerja. Dalam masyarkat ini, kelompok manusia tinggal secara
tersebar dan hidup terpisah satu dengan yang lainya. Tiap-tiap kelompok dapat
memenuhi keperluan mereka masing-masing tanpa memerlukan bantuan atau kerja
sama dengan kelompok lain. Dalam kelompok ini yang diutamakan adalah persamaan
perilaku dan sikap.
Masyarakat
diikat oleh kesadaran kolektif, yaitu suatu kesadaran bersama yang memiliki
tiga karakteristik mencakup keseluruhan, kepercayaan, perasaan kelompok dan
bersifat memaksa. Kesadaran bersama dalam solidaritas mekanik menjaga
persatuan, sedangkan hukumannya bertujuan agar kondisi yang tidak seimbang
akibat perilaku menyimpang dapat pulih kembali
b.
Kelompok
Sosisal yang Didasarkan pada Solidaritas Organik
Solidaritas
organik merupakan bentuk solidaritas yang mengikat masyarkat kompleks,
masyarakat yang telah mengenal pembagian kerja yang terperinci dan dipersatukan
oleh saling bergantung antar-bagian. Pada masyarakat ini, ikatan yang
mempersatukan masyarakat bukan lagi kesadaran kolektif atau hati nurani,
melainkan kesepakatan yang terjalin diantara berbagai kelompok profesi.
Solidaritas
ini bersifatmengikat, sehingga saling bergantung karena adanya sifat ini,
ketiadaan salah satu unsur mengakibatkan gangguan pada kelangsungan hidup
bermasyarkat. Hukum yang menonjol bukan hukum pidana, melainkan ikatan hukum
perdatan dan bersifat resitutif.
c.
Kelompok
Sosial yang Didasarkan pada Kelompok Formal dan Informasi
Kelompok
ormal dan informal merupakan suatu gejala yang menarik perhatian banyak
ilmuwan. Suatu gejala yang telah diamati oleh para ilmuan sosial adalah bahwa
organisasi formal sering terbentuk oleh kelompok informal yang nilai dan
normanya dapat bertentangan dengan nilai dan aturan yang berlaku dalam
organisasi formal. Di kalangan pelajar, misalnya sering terjalin kesetiakawanan
yang bertentangan dengan aturan organisasi, misalnya kesetiakawanan dalam
melakukan pelangaran disiplin (misalnya, bersama-sama meninggalkan kelas selama
jam pelajaran)
Hubungan
antara organisasi formal dan informal dapat pula kita jumpai dalam bidang
pekerjaan. Pada suatu pihak, kita dapat menjumpai studi yang mengungkapkan
bahwa hubungan persahabatan antara teman sekerja dapat memperlancarkan urusan
kedinasan
B.
Macam-Macam
Kelompok Sosial
1.
Klasifikasi
tipe-tipe kelompok sosial
Tipe-tipe kelompok sosial dapat diklasifikasikan
dari berbagai sudut pandang. Seorang sosiologi Jerman, Georg Simmel, mengambil
sudut pandang dari besar-kecilnya jumlahnya anggota kelompok, bagaimana
individu memengaruhi kelompoknya serta interaksi sosial dalam kelompok
tersebut. Ukuran lain yang diambil adalah atas dasar derajat interaksi sosial
dalam kelompok sosial tersebut. Beberapa sosiologi memperhatikan pembagian atas
dasar kelompok-kelompok dimana anggota-anggotanya saling mengenal (face-to-face grouping), seperti
keluarga, rukun tetangga dan desa, dengan kelompok-kelompok sosial seperti
kota-kota, korporasi dan negara. Ukuran lainnya adalah kepentingan dan wilayah.
Suatu komuniti (masyarakat setempat) misalnya, merupakan kelompok-kelompok atau
satu kesatuan atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan
yang khusus/tertentu.
Berlangsungnya suatu kepentingan merupakan ukuran
lain bagi klasifikasi tipe-tipe sosial. Sutau kerumunan misalnya, merupakan
kelompok yang hidupnua sebentar saja karena kepentingannya pun tidak juga
berlangsung lama. Lain halnya dengan kelas atau dengan komuniti yang
kepentingan-kepentingannya secara relatif atau permanen. Klasifikasi tipe-tipe
kelompok sosial adalah ukuran jumlah atau derajat interaksi sosial atau
kepentingan-kepentingan kelompok, atau organisasinya .
2.
Kelompok
Sosial DiPandang dari Sudut Individu
Dalam masyarakat yang sudah kompleks, individu
biasanya menjadi anggota dari kelompok sosial tertentu sekaligus, misalnya atas dasar seks, ras dsb. Akan
tetapi, dalam hal seperti dibidang pekerjaan, keanggotannya bersigat sukarela.
Dengan demekian, terdapat derajat dan arti tertentu bagi individu-individu tadi
sehubungan dengan keanggotaan kelompok sosial tertentu sehingga bagi individu
terdapat dorongan-dorongan tertentu pula sebagai anggota suatu kelompok sosial.
Suatu ukuran lainnya bagi si individu adalah bahwa ia merasa lebih tertarik
pada kelompok-kelompok sosial terdekat dengan kehidupanseperti keluarga,
kelompok kekerabatan, dari pada miasalnya dengan suatu perusahaan atau negara.
Apabila kelompok sosial dianggap sebagai kenyataan didalam kehidupan manusia
atau individu , juga harus diingat pada konsep-konsep dan sikap-sikap individu
terhadap kelompok sosial sebagai kenyataan subjektif yang penting untuk
memahami gejolak.
3.
In-Group dan Out-Group
Istilah In-Group
, dikemukakan oleh W.G sebagai lawan dari Out-Group yang lazim
digunakan dalam literatur sosiologi. In-Group
adalah kelompok sosial dimana, individu mengidenhtifikasikan dirinya.
Sedangkan out-group sendiri adalah
kelompok sosial yang oleh individu diartikan lawan dari in-group. Dapat kita tarik contoh yaitu dikaitkan dengan istilah
“kami atau kita” sebagai in-group, sedangkan
sbagai out-group “mereka”, seperti
kita warga RT 01, sedangkan mereka warga RT 02. Sikap in-group pada umumnya didasarkan pada faktor simpati dan selalu mempunyai
perasaaan dekat kepada anggota-anggotanya.
Sikap Out-group
selalu ditandai dengan sutau kelainan yang berwujud antagonis dan antipati.
Perasaan In-Group dan Out-Group atau perasaan dalam dan luar
kelompok dapat merupakan satu sikap yang dinamakan etnosentrisme. Etnosentrisme
adalah sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan menggunakan
ukuran kebudayaan sendiri. Dalam proses etnosentrisme, sering kali digunakan stereotip, yakni gambaran atau
anggapan-anggapan yang bersifat mengejek
terhadap objek tertentu.
4.
Kelompok
Primer ( Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Menurut Charles Horton Cooley, kelompok primer
adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri kenal-mengenal antar
anggotanyamserta kerjasama erat yamg bersifat pribadi. Salah satu hasil
hubungan erat dan bersifat pribadi tersebut adalah peleburan individu dalam
kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok. Dari pendapat
Cooley, ada dua hal yang penting. Pertama,
menunjuk pada kelas yamg terdiri atas kelas kelompok konkret (Keluarga,
Kelompok permainan, rukun tetangga). Kedua,
istilah saling mengenal, terutama menekankan pada sifat hubungan antarindividu,
seperti simpapti dan kerjasama yang spontan kelompok-kelompok tersebut
mempunyai makana sangat penting bagi pembentukan atau perwujudan cita-cita
sosial individu.
Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok-kelompok
besar yang terdiri atas banyak orang, yang sifat hubungannya tidak berdasarkan
pengenalan secara pribadi dan juga tidak langgeng. Conjtohnya, hubungan kontrak
jual-beli. Jelas bahwa hubungan-hunungan manusia tak mungkin semata-mata
didasarkan atas kontrak semacam ini, pasti harus ada rasa kesetiaan dan
pengapdian terhadap kelompok serta pola perilaku dalam kelompok.
5.
Paguyuban
(Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
Konsep Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies. Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama,
dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat
alamiah dan kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan
batin yang memang telah dikodratkan. Bentuk Paguyuban dijumpai didalam
keluarga. Secara umum, ciri-ciri paguyuban adalah :
a. Intimate,
yaitu hubungan yang bersifat menyeluruh dan mesra,
b. Private,
yaitu hubungan yang bersifat pribadi,
c. Exclusive,
yaitu hubungan tersebut hanya untuk “kita” dan tidak untuk orang lain.
Menurut
Ferdinand Tonnies, dalam setiap masyarakat dapat dijumpai salah satu diantara
tiga tipe paguyuban, sebagai berikut:
a. Paguyuban
karena ikatan darah (Gemeinschaft by
Blood), yaitu paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan
darah atau keturunan. Misalnya, keluarga dan kelompok kekerabatan.
b. Paguyuban
karena tempat (Gemeinschaft of Place), yaitu
peguyuban yang terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggal sehingga
saling tolong-menolong. Misalnya, kelompok arisan dan rukun tetangga.
c. Paguyuban
karena jiwa dan pikiran (Gemeinschaft of
Mind), yaitu paguyuban yang terdiri atas orang-orang yang tidak mempunyai
hubungan darah ataupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, mereka mempunyai
jiwa, pikiran, ideologi yang sama.
Namun, biasanya paguyuban ini biasanya tidak sekuat paguyuban karena ikatan
darah atau keturunan.
Sedangkan Patembayan (Gesellschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka
waktu tertentu yang pendek (sementara). Patembayan bersifat sebagai suatu
bentuk dalam pikiran belaka (imaginary)
serta strukturnya bersifat mekanis seperti mesin. Bentuk Gesellschaft, terutama tersapat dalam hubungan perjanjian yang
bersifat timbal balik. Misalnya, ikatan perjanjian kerja, birokrasi dalam suatu
kantor, dan perjanjian dagang, dsb.
6.
Formal
Group dan Informal Group
Formal Group adalah kelompok yang mempunyai
peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oelh anggota-anggotanyauntuk
mengatur hubungan antar-sesamanya. Kriteria rumusan organiosasai Formal Group
merupakan keberadaan tatacara untuk menggerakkan dan mengordonisakan
usaha-usaha femi tercapainya tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang
bersifat khusus. Formal Group ditegakkan pada landasan mekanisme administratif.
Misalnya, sekolah terdiri atas berbagai bagian, seperti kepala sekolah, siswa,
guru, wali murid, bagian TU, bagian kebersihan, dll., kelompok seperti itu dinamakan
birokrasi. Menurut Max Weber, organisasi yang didirikan secara birokrasi
mempunyai ciri-ciri, sebagi berikut :
a. Tugas
organisasi didistribusikan dalam beberapa posisi yang merupakan tugas-tugas
jabatan,
b. Posisi
dalam organisasi terdiri atas hierarki struktur wewenang,
c. Suatu
sistem peraturan memengaruhi keputusan dan pelaksanaannya,
d. Unsur
staf merupakan pejabat, bertugas memelihara organisasi dan khususnya
keteraturan organisasi,
e. Para
pejabat berharap agar hubungan atasan dengan bawahan dan pihk lain bersifat
orientasi impersonal,
f. Penyelenggaraan
kepegawaian didasarkan pada karir.
Adapaun pengetian Informal Group adalah kelompok
yang tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti. Kelompok-kelompok
tersebut terbentuk karena pertemuan yang berulang-ulang. Dasar pertemuan
tersebut adalah kepentingan dan pengalaman yang sama.
7.
Membership
Group dan Reference Group
Robert K. Merton menyatakan bahwa Membership Group
adalah kelompok sosial yang setiap orang secar fisik menjadi anggota kelompok
tersebut. Batas-batas fisik dipakai untuk menentukan anggotaan seseorang tidak
dapat ditentukan secara mutlak. Hal ini disebabkan perubahan-perubahan keadaan.
Situasi yang tidak tetap akan memengaruhi
derajat interaksi di dalam kelompok sehingga kadang-kadang seorang anggota
tidak sering berkumpul dengan kelompok tersebut walaupun secara resmi ia belum
keluar dari kelompok itu.
Reference Group adalah kelompok sosial yang menjadi
acuan seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan
perilakunya. Dengan kata lain, seorang yang bukan anggota kelompok sosial
bersangkutan mengidentifikasikasi dirinya dengan kelompok tadi. Misalnya,
seseorang yang ingin sekalim menjadi seorang mahasiswa, tetapi gagal memenuhi
persyaratan unyuk memasuki salah satu Perguruan Tunggi, kemudian bertingkah
laku seperti mahasiswa, walaupun bukan mahasiswa.
8.
Kelompok
Okupasional dan Kelompok Voluenter
Pada awalnya masyarakat mungkin saja melakukan
berbagai pekerjaan sekaligus. Artinya di dalam msyarakat tersebut belum ada
spesisalisasi yang tegas. Akan tetapi, masyarakat tersebut pasri terpengaruh
oleh dunia luar. Salah satu akibatnya adalah bahwa mesyarakat utu berkembang
menjadi suatu masyarakat yang heterogen. Kelompok Okupasionanal adalah kelompok
yang muncul karena semakin memudahnya fungsi kekerabatan, dimana kelompok ini
timbul karena anggotanya memiliki perkerjaan yang sejenis. Misalnya, kelompok
profesi, seperti asosiasi srajana farmasi, ikatan dokter Indonesia, dll.
Dengan berkembangnya komuinikasi komunikasi dalam arti luas secara cepat dan salah satu
akibat dari tidak terpenuhinya kepentingan-kepentingan primer itu, baik yang
bersifat material dan spiritual adalah munculnya keleompok-kelompok Voluentir. Kelompok
Voluenter adalah kelompok
orang yang memiliki kepentingan sama, namun tidak mendapatkan perhatian
masyarakat. Melalui kelompok ini diharapkan akan dapat memenuhi kepentigan
anggotanya secara individual tanpa mengganggu kepentingan masyarakat secara
umum.
9. Kelompok-kelompok sosial tidak teratur
a. Kerumunan (Crowd)
Kerumunan
merupakan kelompok sosial yang bersifat sementara dan tidak terorganisasi.
Kerumunan dapat saja memiliki pemimpin, tetapi tidak mempunyai sistem pembagian
kerja ataupun sistem pelapisan sosial. Interaksinya bersifat spontan dan tidak
terduga dan berkumpul secara tidak
sengaja disuatu tempat dan waktu tertentu. Bentuk-bentuk kerumunan, yaitu:
1.
Kerumuanan yang berartikulasi dengan struktur sosial,
yaitu;
a)
Formal audience (pendengar yang formal), kerumunan yang mempunyai pusat
perhatian dan persamaan tujuan, tetapi sifatnya pasif. Contohnya, penonton
film,dll.
b)
Plannned expensive group (kelompok ekspensif yang telah di rencanakan). Kerumunan
yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, tetatapi mempunyai persamaan
tujuan yang tersimpul.
2.
Kerumunan bersifat sementara, yaitu;
a)
Inconvenient aggregations ( kumpulan yang kurang menyenangkan). Contohnya,
orang-orang yang antri karcis, orang-orang yang memunggu bis, dsb. Dalam
kerumunan tersebut kehadiran orang-orang lain merupakan halangan terhadap tercapainya
maksud seseorang.
b)
Panic crowds, kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik.
Misalnya, orang-orang yang bersama-sama berusaha menyelematkan diri dari suatu
bahaya.
c)
Spectator crowds, kerumunan penonton. Terjadi karena ingin melihat suatu
kejadian tertetu .
3.
Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (Lawless Crowds), yaitu:
a)
Acting mobs, kerumunan yang bertidak emosional. Bertujuan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang
berlawanan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
b)
Immoral Crowds, kerumunan yang bersifat imoral. Hampir sama dengan
kelompok ekspensif. Perbedaannya adalah kerumunan bersifat imoral bertentangan
dengan norma-norma masyarakat. Contohnya, orang-orang mabuk.
b. Publik
Berbeda dengan
kerumunan, publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan.
Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi, misalnya
pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, radio, TV, film,
dsb. Alat-alat penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publi mempunyai
pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Setiap aksi publik dikuasai
oleh keinginan individual (misalnya pemungutan suara dalam pemilihan umum), dan
ternyata individu-individu dalam suatu publik masih mempunyai kesadaran akan
kedudukan sosial yang sesungguhnya dan juga masih lebih mementingkan
kepentingan-kepentingan pribadi daripada merekayang regabung dalam kerumunan.
C. Dinamika Kelompok Sosial
Kelompok social bukan merupakan kelompok statis.
Setiap kelompok social pasti mengalami perkembangan serta perubahan. Untuk
meneliti gejala tersebut, perlu ditelaah lebih lanjut perihal dinamika kelompok
social tersebut. Beberapa kelompok social sifatnya lebih stabil daripada
kelompok-kelompok social lainnya, atau dengan kata lain, struktuurnya tidak
mengalami perubahan perubahan yang mencolok. Ada pula kelompok-kelompok social
yang mengalami perubahan-perubahan cepat, walaupun tidak ada pengaruh-pengaruh
dari luar. Akan tetapi, pada umumnya, kelomok social mengalami perubahan
sebagai akibat proses formal maupun reformasi dari pola pola didalam kelompok
tersebut karena pengaruh dari luar. Ada sebagian dari kelompok yang ingin
merebut kekuasaan dengan mengorbankan golongan lainnya, ada kepentingan yang
tidak seimbang sehingga timbul ketidak adilan, ada pula perbedaan paham tentang
cara-cara memenuhi tujuan kelompok dan lain sebagainya. Semuanya itu
mengakibatkan perpecahan di dalam kelompok hingga timbul peubahan struktur
Perubahan struktur kelompok social karena
sebab-sebab luar pertama tama perlu
diuraikan mengenai perubahan yang disebabkan karena perubahan situasi. Siruasi
yang dimaksud adalah keadaan dimana kelompok tadi hidup.
Sebab kedua adalah
pergantian anggota kelompok. Pergantian anggota suatu kelompok social tidak
perlu membawa perubahan struktur kelompok tersebut. Umpamanya perssonalia suatu
pasukan. Angkatan bersenjata sering mengalami pergantian, dan itu tidak selalu
mengakibatkan perubahan struktur secara keseluruhan. Akan tetapi, ada pula
kelompok-kelompok social yang mengalami kegoncangan-kegoncangan apabila
ditingkalkan seorang dari anggotanya, apalagi kalau anggota yang bersangktan
mempunyai kedudukan penting. Misalnya, dalam suatu keluarga.
Penyebab lain adalah sebab yang ketiga yaitu perubahan perubahan yang terjadi dalam
situasi social ekonomi. Dalam keadaan depresi misalnya, suatu keluarga akan
bersatu untuk menghadapinya, walaupun anggota-anggota keluarga tersebut
mempunyai agama ataupun pandangan politik yang berbeda dengan yang lainnya.
Didalam
dinamika kelomok, mungkin terjadi antagonism antar kelompok. Apabila terjadi
peristiwa tersebut, secara hipotesis prosesnya adalah sebagai berikut,
1. Bila
dua kelompok bersaing maka timbul stereotip
2. Sikap
kedua kelompuk yang bermusuhan tidak akan mengurangi sikap tindak bermusuhan
tersebut
3. Tujuan
yang akan dicapai harus dengan kerja sama akan dapat menetralkan tindak
bermusuhan
4. Didalam
kerja sama mencapai tujuan, stereotip yang semula negative menjadi positif
Konflik antar kelompok mungkin terjadi karena
persaingan untuk mendapatkan mata pencaharian hidupyang sama atau terjadi
karena pemaksaan unsure-unsur kebudayaan tertentu.
Masalah
dinamika keompok juga menyangkut gerak atau perilaku kolektif. Gejala tersebut
merupakan suatu cara berfikir, merasa, dan beraksi suatu kolektifitas yang
serta merta dan tidak berstruktur. Sebab0sebab suatu kolektiva menjadi agresif
antara lain adalah
1. Frustasi
selama jangka waktu yang lama
2. Tersiggung
3. Diragukan
4. Ada
ancaman dari luar
5. Diperlakukan
tidak adil
6. Terkena
pada bidang-bidang kehidupan yang sangat sensitive.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kelompok sosial
atau social group adalah himpunan
atau kesatuan manusia yang hidup bersama, karena adanya hubungan diantara
mereka. Hubungan tersebut antara lainmenyangkut hubungan timbal balik yang
saling memengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong. Manusia
mempunyai naluri untuk sennatiasa berhubungan dengan sesamanya. Hubungan yang
sinambung tersebut menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan pola interaksi
sosial.
Kelompok sosial
merupakan gejala yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena sebagian
besar kegiatan manusia berlangsung didalamya. Tanpa disadari sejak lahir kita
telah menjadi anggota kelompok.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin, Tajul. 2015. Pengantar Sosiologi. Bandung. CV Pustaka Setia.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. PT Raja
Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar