EPISTEMOLOGI DALAM STUDI ISLAM
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Metodologi Studi Islam
Dosen pembimbing : Abdullah Hanapi, M.Hum.
Disusun oleh :
Afifah Rahmah (173231045)
Nur Afni Sedyowati (173231062)
Erlin Fatmawati (173231067)
JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Model berfikir yang berkembang dalam sejarah untuk mengetahui benar atau tidaknya sesuatu ada tiga yaitu rasional, emperikal, dan intuitif (irasional). Sedangkan model berfikir dalam studi islam juga ada tiga yaitu bayani, burhani, dan irfani.
RUMUSAN MASALAH
Apakah itu epistemologi?
Apakah macam-macam epistemologi secara umum?
Apakah macam-macam epistemologi dalam studi islam?
TUJUAN PENULISAN
Mengetahui pengertian epistemologi.
Mengetahui macam-macam epistemologi secara umum.
Mengetahui macam-macam epistemologi dalam studi islam.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Epistemologi
Secara etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani. Epistemologi terdiri dari dua kata “episteme” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan dan logos berarti ilmu. Jadi epistemologi ilmu tentang pengetahuan. Epistemologi lebih dikenal dengan “model berfikir”.
Macam-macam Epistemologi Secara Umum
Epistemologi secara umum ada tiga yaitu
Epistemologi/Model berfikir Rasional
Berpendapat bahwa akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Jadi dalam menentukan benar tidaknya sesuatu dengan menggunakan akal secara logis.
Berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengamatan dan i
Epistemologi/Model berfikir Intuitif (Irrasional)
Berpendapat bahwa kebenaran dapat dicapai lewat pertimbangan-pertimbangan emosional.
Macam-macam Epistemologi dalam Studi Islam
Epistemologi Bayani
Epistemologi Bayani adalah pendekatan dengan cara menganalisis teks. Sumber teks dalam studi islam yaitu teks nash (al-Qur’an dan sunnah) dan teks non-nash (karya para ulama). Untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, pendekatan Bayani melalui dua metode. Pertama, berpegang pada redaksi (lafal) teks dengan menggunakan kaidah bahasa Arab seperti nahwu shorof. Kedua, berpegang pada makna teks dengan disertai logika. Pada langakah kedua dalam penggunaan logika ada empat cara. Berikut empat cara penggunaanya.
Berpegang pada tujuan pokok (al maqoshid al-dlaruriyah) yang meliputi lima kepentingan yaitu menjaga keselamatan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Caranya dengan menggunakan induksi tematis (al-istiqro’ al-ma’wi).
Berpegang pada illah teks
Untuk menemukan adanya illah pada teks terdiri dari tiga hal.
Illah yang sudah ditetapkan oleh nash. Seperti illah tentang mengambil 20% harta fa’i untuk fakir miskin.
Illah yang telah disepakati oleh para mujtahid seperti illah menguasai harta anak kecil karena kecilnya.
Al shibr wa al-taqsim yaitu menerangkan sifat-sifat baik untuk dijadikan illah.
Cara kedua ini akan memunculkan metode qiyas (analogi) dan istihsan yang artinya beralih dari sesuatu yang jelas kepada sesuatu yang masih samar, karena adanya alasan yangn kuat untuk pengalihan itu.
Berpegang teguh pada tujuan sekunder teks.
Tujuan sekunder teks adalah tujuan yang mendukung terlaksananya tujuan pokok. Untuk menemukan tujuan sekunder dengan cara istidlal yaitu mencari dalil dari luar teks, berbeda dengan istimbat yang berarti dalam teks.
Berpegang pada diamnya syari’ (Allah dan Rasulullah).
Ini untuk masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilakukan dengan cara qiyas. Caranya dengan kembali pada hukum pokok (fasal) yang telah diketahui.
Metode ini melahirkan melahirkan teori istishab, yakni menetapkan sesuatu berdasarkan keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemukan dalil yang menunjukkan perubahan.
Ada tiga titik kelemahan dari epistemologi Bayani yaitu :
1. Teks dalam epistemologi ini mutlak harus dipatuhi, diikuti, dan diamalkan tidak boleh diperdebatkan, tidak boleh dipertanyakan apalagi ditolak.
2. Teks yang dikaji pada epistemologi ini tidak didekati atau diteliti historinya.
3. Kajian dalam epistemologi ini tidak diperkuat dengan analisis konteks.
Epistemologi Burhani
Epistemologi Burhani didasarkan pada kekuatan rasio, akal yang akan dilakukan lewat dalil logika. Menurut al Jabiri dalam logika adalah aktivitas intelektual untuk membuktikan kebenaran suatu proposisi dengan cara konklusi atau deduksi. Sedangkan dalam pengertian umum, burhan merupakan semua aktivitas intelektual untuk membuktikan kebenaran suatu proposisi.Untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, Burhani menggunakan sologisme yang diperoleh dari indra, percobaan, dan hukum-hukum logika. Epistemologi Burhani adalah pendekatan yang dilakukan berdasarkan pengalaman dan akal. Kelemahan yang sering dihadapi adalah tidak sinkronnya teks dan realitas.
Menurut Aristoteles menarik kesimpulan dengan silogisme harus memenuhi syarat sebagai berikut :
Mengetahui latar belakang
Adanya konsistensi logis antara alasan dan kesimpulan
Kesimpulan yang diambil harus pasti dan benar
Al Farabi mengatakan bahwa premis-premis Burhani harus meyakinkan dan benar . berikut syarat premis yang meyakinkan.
1. Kepercayaan bahwa sesuatu itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik.
2. Kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang lain seklain darinya.
3. Kepercayaan bahwa kepercayaan kedua tidak mungkin sebaliknya.
Burhani bisa menggunakan sebagian pengetahuan indra dengan syarat bahwa objek tersebut harus tetap konstan saat diamati dimanapun dan kapanpun.
Epistemologi Irfani
Didasarkan pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Pengetahuan Irfani setidaknya diketahui melalui tiga tahap.
Persiapan
Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf) harus menempuh jenjang berikut:
Taubat
Wara’ yang berarti menjauhkan dari segala syubhat
Zuhud yang berarti tidak mengutamakan kehidupan dunia
Faqir yang berarti mengosongkan pikiran dan tidak menghendaki apapun kecuali Tuhan
Sabar
Tawakkal
Ridho
Penerimaan
Untuk mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara iluminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yamg mutlak. Sehingga, dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri sebagai objek yang diketahui.
Pengungkapan
Pengalaman mistik yang diungkapkan kepada orang lain lewat ucapan atau tulisan. Namun, tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan.
Pendekatan ini bersumber intuisi. Langkah penelitian dalam irfani adalah takhliyah, tahliyah, dan tajliyah. Adapun tekniknya riadoh, tariqoh, dan ijazah.
Perbedaan bayani, burhani dan irfani.
Bayani
Burhani
Irfani
Sumber
Teks nash (Al-Qur’an dan hadist)
Rasio
Intuisi
Metode
Istinbat
Tahlili(analitik)
Kasyf
Pendekatan
Linguistik
Logika
Psikhognastik
Tema Sentral
Ashl-Furu’
Essensi-Aksistensi
Zahir-Batin
Validitas kebenaran
Korespodensi
Koherensi Konsistensi
Intersubjektif
Pendukung
Kaum teolog, ahli fiqih
Para Filosofi
Para Sufi
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Epistemologi dalam studi islam ada tiga yaitu epistemologi bayani, burhani, dan irfani. Epistemologi bayani berdasarkan pada teks nash yaitu Al-Qur’an dan hadits. Ada dua langkah dalam pendekatan dan langkah kedua ada empat cara. Epistemologi burhani berdasarkan rasio sedangkan epistemologi Irfani berdasarkan intuisi.
DAFTAR PUSTAKA
Epistemologi dalam studi islam. 2013. http://habibisir.blogspot.co.id/2013/04/episteologi-bayani-burhani-dan-irfani.html?m=1 diunduh pada 18 Oktober 2017 jam 07.05
Epistemologi Studi Islam. 2014. http://psikologi.uin-malang.or.id/2014/03/epistemologi-studi-islam diunduh pada 21 Oktober 2017 jam 13.26
Naim, Ngainun. 2009. Pengantar Studi Islam. Bandung: Pustaka Setia. Hal : 82-83 https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/8065/18.pdf?sequence=1&isAllowed=y diakses pada 30-10-2017 pukul 00:04 WIB.
http://jlokowor.blogspot.co.id/2013/05/epi.com.com.comstemologi-dalam-studi-islam-dan.html?m= diunduh pada 11 oktober 2017 pukul 11.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar