BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Masuknya agama islam ke tanah Jawa yang terjadi pada abad ke-15 M dihadapkan dua jenis kebudayaan lokal, yaitu budaya kejawen (Kerajaan Majapahit) yang menyerap unsur-unsur Hinduisme dan budaya pedesaan. Dengan demikian kontak budaya kemudian terjadi yang akhirnya melahirkan akulturasi budaya. Nilai-nilai agama Islam terserap dan mempengaruhi terhadap kebudayaan lokal yang akhirnya melahirkan kebudayaan baru dalam bentuk Islam-Jawa. Istilah “melu banyu mili” (mengikuti arus air mengalir) merupakan strategi yang unik, tanpa harus menimbulkan konflik kebudayaan.
Bahkan dalam mitologi jawa sering diungkapkan bukan hanya sekedar mengikuti arus air, tetapi menjadi air “Dadio banyu, ojo dadi watu“ (jadilah air, jangan menjadi batu). Kata-kata yang singkat tetapi penuh makna, memeiliki pengertian yang amat mendalam. Air adalah entitas yang menyejukkan, menjadi kebutuhan orang bnayak. Air bias masuk ke berbagai tempat, bersifat lembut dan tidak keras. Maka dapat dikatakan bahwa awal mula masuknya Islam masuk ke Jawa, tidak dengan cara kekerasan, tidak terjadi konflik antara agama dan budaya, apalagi sampai terjadinya pertumpahan darah, tetapi Islam dapat diterima oleh masyarakat secara luas dengan kelembutan.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana upacara kelahiran dalam tradisi islam-jawa ?
Bagaiamana upacara perkawinan dalam tradisi islam-Jawa ?
Bagaimana upacra kematian dalam islam tradisi islam-Jawa ?
TUJUAN
Mengetahui upacara kelahiran dalam tradisi islam-Jawa
Mengetahui upacara perkawian dalam tradisi islam-Jawa
Mengetahui upacara kematian dalam tradisi islam-Jawa
BAB II
PEMBAHASAN
UPACARA KELAHIRAN
Upacara Pra Lahir
Ngapati ( Empat Bulan Kehamilan )
Upacara ( selametan ) empat bulan masa kehamilan yang biasa disebut oleh orang jawa dengan istilah “ Ngapati” adalah bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT dalam menyambut berita gembira kehamilan dari pasangan suami istri.
Ngapati/Ngupati adalah selametan wanita hamil saat janin mencapai usia 4 bulan. Upacaraini bertujuan mendoakan ibu yang sedang hamil agar selamat, demikian pula anak yang dikandungnya , lebih- lebih kehamilan anak pertama.
Tradisi tidak hanya berlaku di pedesaan tetapi juga banyak dilakukan orang- orang Muslim di daerah perkotaan sebagai bentuk bersyukur atas nikmat Allah SWT dan memanjatkan doa agar diberi keselamatan baik terhadap janin maupun ibu yang sedang mengandung. Upacara (selametan) yang tidak hanya menghadirkan saudara dan tetangga, tetapi dilengkapi dengan sesaji ( hidangan ) untuk dimakan bersama. Hidangan ini memberikan pengertian bersedakah, memuliakan tamu yang hadir dan sebagainnya, maka bisa menjadi media khusnudhdhan (berprasangka baik) kepada Allah SWT agar memberi takdir baik bagi bayi yang ada di kandungan kelak dikemudian hari.
Tampaknya, penyelenggaraan upacara seperti ini, berangkat dari penafsiran ayat Al- Qur’an dan dalam pemahaman hadis Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut.
QS. Al- mu’minun ayat 12-14 menyebutkan :
Artinya : Kemudian air mani kami jadikan segumpal darah,lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,dan segumpal daging itu kami jadikan tulang- belulang, lalu tulang belulang kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan Dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha sucilah Allah SWT ,Pencipta yang paling baik.dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati berasal dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh ( Rahim ).
Hadis Nabi Muhammad SAW Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibn Mas’ud berbunyi :
Artinya : Dari Abu ‘Abdirahman Abdullah bin Mas’ud ra, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda: Sesungguhnya tiap- tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam Rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah ( seperma ) , kemudian menjadi ‘alaqoh ( segumpal darah ) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh ( segumpal daging ) selama itu juga ,kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata : rizki,ajal,amal, dan celaka/ bahagiannya. Maka demi Allah hyang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surge kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga. ( HR. Muttafaq Alaih ).
Mitoni ( Tujuh Bulan Masa Kehamilan )
Upacara “ mitoni” dalam tradisi Jawa yang berarti tujuh bulan masa kehamilan. Kata “ mitoni” berasal dari kata “pitu” ( tujuh ), dimaksudkan umur tujuh bulan masa kehamilan. Upacara ini bermakna bahwa pendidikan bukan saja setelah lahir ( dewasa ) akan tetap dimulai semenjak benih tertanam di dalam Rahim ibu. Orang Jawa yang masih berpegang pada tradisi Jawa sebelum upacara ( selametan ) sang ibu yang sedang hamil dimandikan dengan air kembang agar anggota badan bersih dan harum, disertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Allah agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga sang ibu dan bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat. Upacara mitoni pada dasarnya permohonan kepada Allah SWT , Sang Pencipta alam semesta yang dilakukan bersama- sama dengan menyuguhkan hidangan ( sesaji ) dan melafalkan bacaan- bacaan tertentu, seperti : membaca surat yasin, surat al- khafi , surat al- mulk, surat as- sajdah, surat ad- dhuqa, surat yusuf, dan surat Maryam.
Namun kadang- kadang memilih yang lebih simpel yaitu membaca surat Maryam dan surat yusuf. Namun sebelumnya, dibacakan surat al- fatihah tiga kali, surat al- ikhlas, surat al- falaq, dan surat an- nas masing-masing satu kali. Pembacaan surat Maryam dimaksudkan jika nanti anak yang dilahirkan perempuan memiliki kesucian seperti kesucian Maryam Ibu Nabi Isa dan surat yusuf dimaksudkan jika anaknya laki- laki maka akan menjadi manusia seperti Nabi Yusuf yang tampan dan berakhlak.
Tampaknya upacara tujuh bulanan ini banyak yang mengaitkan dengan penafsiran ayat Al- Qur’an surat Al- A’raf 189 dalam kisah kehamilan Hawa pertama ( istri Nabi Adam ) yang berbunyi :
Artinya : Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinnya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan ( beberapa waktu ). Kemudian tatkala dia merasa berat ( kandungannya ), keduanya ( suami-istri ) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata : “ sesungguhnya jika engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”.
Kata “ hamalat hamlan khafifan” ( isterinya itu mengandung kandungan yang ringan ) oleh ibn Katsir ditafsirkan permulaan hamil dan memasuki siklus keempat ( nuthfah,alaqah,dan mudhghah ). Sedangkan kata “ Atsqolat da’awallah rabbahuma” ( kemudian tatkala dia mersa berat ,keduannya ( suami-istri ) bermohon kepada Allah….) dipahami bahwa ketika kandungan beranjak usia tujuh bulan atau menjelang kelahiran si jabang bayi dianjurkan banyak berdoa kepada Allah, agar mendapatkan keselamatan dan mendapatkan keturunan yang baik-baik ( saleh- salehah ). Dalam bahasa jawa upacara mitoni disebut juga dengan upacara “ Tingkeban ” dalam upacara tingkepan terdapat upacara yang sangat penting yaitu “ Siraman ”.
Berikut tata cara upacara siraman tingkeban ( upacara mitoni ) :
Siraman dipunlaksanaken dening para sesepuh ingkang cacahipun pitu, kalebet rama kaliyan ibu ingkang nembe ngandhut. Saenipun ingkang nyirami inggih punika tiyang sepuh ingkang sampun gadhah wayah.
Sasampunipun upacara siraman, dipunlajengaken upacara nglebetaken tigan ayam kampung wonten ing kain sarung calon sang ibu dening sang garwa saking padharanipun ngantos pecah. Punika minongko simbol saha nyuwun supados bayi ingkang badhe dipunlairaken seget lair kanthi gampil tanpa alang setunggal punapa. Padatanipun , bilih priyantun estri ingkang nembe ngandhut sapisanan nglairaken kathah godhanipun. Awit saking punika perlu ndedonga kaslametan , utaminipun ing wekdal pitung sasi.
Salajengipun inggih punika gantos busana kaping pitu dipun rangkepi kain pethak. Kain pethak kala wau dados dhasaring busana ingkang kaping pisan minangka pralambang bilih bayi ingkan badhe dipunlairaken inggih suci saha badhe pikantuk rahmat saking gusti Allah SWT.
Sesampunipun ingkang calon ibu ngagem kain pethak kaping pitu gantos-gantosan , lajeng dipunadani adicara medhot lawe ingkan dipunubengaken ing padharanipun calon ibu. Dene ingkang medhot benang lawe punika inggih calon bapak nipun kanthi ancas supados bayi ing kandhutan samangke saget lair kanthi gampil.
Menawi lawe sampun dipunpedhot, mila calon simbah putri saking pihak calon ibu, nggendhong klapa gadhing dipunkancani dening ibu besan. Ananging sederengipun , klapa gadhing kala wau dipunlebetaken wonten ing kain ingkang dipun agem calon ibu saking nginggil liwat padharan dumugi ngandhap, lajeng dipun tampani dening calon simbah putrinipun. Ancas saking upacara punika inggih supados samangke bayi ingkang dipun kandhut saget lair kanthi gampil tanpa rubeda satunggal punapa.
Rerangkening adicara ingkang salajengipun inggih calon bapa mecah kelapa gadhing kasebat kanthi saderengipun milih setunggal saking kalih klapa ingkang sampun dipugambari kamajaya saha Dewi Ratih utawi Arjuna kaliyan Wara Sumbadra utawi Srikandhi. Klapa kalih kala wau dipun walik supados ingkang bapa mboten saged ningali gambaripun kala wau. Menawi klapa ingkang dipungepuk kaliyan ingkang bapa ingkang gambaripun kamajaya mila bayi nipun badhe lair kakung,saha kosok walikipun bilih ingkang dipungepuk gambar Dewi Ratih , mila bayinipun estri.( Punika namung ingkang dipunkaremaken kemawon, dereng mesti dados kasunyatan ). Ananging, bilih kita nyuwun kanthi saestu dhumateng Gusti Ingkang Maha Kuwasa , mila punapa ingkang dipun gayuhaken saged Kabul.
Sabibaripun upacara siraman punika kalejengaken upacara milih sekul jene ingkang mapan wonten ing takiripun ingkang garwa. Lajeng dipunlajengaken upacara dodol dhawet saha rujak. Anggenipun bayar dodolan ngangge logam ingkang kadamel saking remukan gendheng kreweng ingkan dipun bentuk bunder , arupi yatra logam punika. Asilipun dodolan dipunkempalaken lajeng dipunlebetaken kwali ingkang dipun damel saking lempung. Kwali ingkang sampun dipunisi kaliyan kreweng kala wau lajeng dipungepuk wonten ing ngajeng lawang. Upacara punika minangka simbol supados bayi ingkang dipunlairaken samangke pikanthuk kathah rejeki, saged kangge nyekapi gesangipun kulawarganipun sahingga saged ngamal ingkang kathah.
Upacara Kelahiran
Adzan dan Iqamat
Ada dua hadis yang menjadi dasar masyru’iyah dalam melantunkan adzan untuk bayi yang baru lahir.
Abu Rafi meriwayatkan: Aku melihat rasulullah SAW mengadzani telinga Al-Hasan ketika dilahirkan oleh Fatimah. ( HR. Abu Daud,At-Tirmizy,dan Al-Hakim ).
Secara status hadis, Al-Imam At-Tirmizy menegaskan bahwa yang beliau riwayatkan itu adalah hadis hasan sahih. Demikian juga Al-Imam Al-Hakim menyebutkan kesahihan hadis ini. Sedangkan Al-Imam An-Nawawi menshahihkan hadis ini di dalam kitabnya Al- Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab.
Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Nabi SAW melantunkan adzan di telinga Al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan, dan melantunkan iqamah di telinga kirinya. ( HR. Al- Baihaqi ).
Upacara Brokohan
Brokohan atau babaran adalah upacara syukuran kelahiran bayi, untuk menandai bahwa bayi dilahirkan dengan selamat. Upacara “Brokohan” merupakan upacara adat jawa yang berupa bancaan ( Pemberian Makanan ) atau selamatan yang dilaksanakan beberapa jam setelah kelahiran bayi. Kata “Brokohan” sebenarnya adalah bahasa Arab yang diambil dari kata “Barakah” yang berarti mengharapkan berkah dari Yang Maha Pencipta, Allah SWT.
“Brokohan” memiliki makna pengunkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan rasa suka cita atas proses kelahiran yang berjalan lancer dan selamat. Biasannya upacara semacam ini dirangkai dengan mendem ( memendam ) ari-ari atau plasenta si bayi. Setelah itu dilanjutkan dengan membagikan makanan, seperti tumpeng brokohan kepada sanak saudara dan para tetangga.
Sepasaran dan Akikahan
Ketika bayi berusia 5 hari dilakukan selametan sepasaran, dengan jenis makanan sama dengan brokohan. Lima hari dimaksud adalah hitungan maksimal kalender Jawa berdasarkan weton ( Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon ). Biasanya orang islam Jawa menggunakan hitungan ketujuh hari masa kelahiran, yaitu disebut kekah ( aqiqah ) dengan menyembelih dua ekor kambing bila dilahirkan laki-laki dan seekor kambing bila dilahirkan perempuan. Penyembelihan hewan kambing sebagai bentuk penebusan terhadap anak karena diyakini bahwa anak yang baru lahir seperti barang gadaian yang harus ditebus dengan aqiqah ( penyembelihan binatang ). Upacara penebusan ( aqiqah ) ini dilakukan untuk mengharap dan berdoa agar anak yang dilahirkan tersebut kelak menjadi orang baik dan berguna ( saleh- salehah ) di kemudian hari.
Upacara Perkawinan
Perkawinan merupakan sebuah fase peralihan kehidupan manusia dari masa remaja ke masa berkeluarga. Perkawinan bagi masyarakat Jawa diyakini sebagai sesuatu yang sakral, sehingga diharapkan dalam menjalaninya cukup sekali seumur hidup. Kesakralan tersebut melatarbelakangi pelaksanaan perkawinan dalam masyarakat Jawa yang sangat selektif dan hati-hati baik saat pemilihan bakal menantu ataupun penentuan hari pelaksanaan perkawinan.
Masyarakat jawa sangat selektif dan hati-hati dalam mencari bakal menantu. Hal tersebut dilakukan dengan harapan pasangan suami-istri yang telah dinikahkan dapat hidup bahagia dan harmonis selamanya.keharmonisan pasangan suami istri tersebut digambarkan dalam ungkapan Jawa “kaya mimi lan mintuna”. Agar harapan tersebut dapat terwujud maka penentuan bakal menantu dalam masyarakat Jawa ditentukan oleh beberapa kriteria antara lain, bibit yang berarti memperhitungkan segi keturunan, bobot berarti dari segi kekayaannya, bebet dari segi kedudukan sosial atau tingkat pendidikannya, serta persatuan salaki rabi.
Siraman (Pemandian)
Sehari sebelum pelaksanaan akad nikah dilakukan upacara siraman (pemandian) yang dilakukan oleh ibu-ibu yang sudah berumur serta sudah menikahkan anaknya. Siraman dilakukan dengan menggunakan air kembang kemudian disiramkan dari atas kepala calon si calon pengantin dengan berdoa dan memohon kepada Allah SWT semoga selamat di dalam mengarungi kehidupan baru (ambyur ing madyaning bebrayan agung). Seusai upacara siraman, makan bersama berupa nasi dengan sayur tumpang. Namun, jenis hidangan biasanya disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan daerah.
Midodareni
Upacara midodareni misalnya, adalah suatu ritual yang dilangsungkan pada malam hari menjelang hari perkawinan. Ritual ini dimaksudkan sebagai usaha keluarga pengantin untuk mendekati para bidadari dan roh halus supaya melindungi kedua calon pengantin dari mara bahaya yang mengganggu jalnnya perkawinan dan hari-hari sesudahnya. Di kalangan muslim ritual ini diisi dengan pembacaan barzanji, kalimat toyyibah, dan tahlil.
Sungkeman
Upacara sungkeman terhadap kedua orang dari mempelai berdua adalah bentuk dari proses penggabungan antara budaya jawa dengan ajaran islam, atau dengan istilah lain, bahwa upacara ini adalahbentuk dan ekspresi birru al walidain atau berbakti kepada orang tua yang dikemas dalam budaya Jawa. Berbakti kepada kedua orang tua dalam ajaran islam adalah wajib, maka media sungkem adalah bagian terpenting untuk diekspresikan dihadapkan orang banyak tentang berbakti kepada orang tua.
Injak telur
Salah satu adat jawa dalam sebuah pernikahan adalah “injak telur” yang biasa dilakukan dalam prosesi pernikahan setelah berlangsungnya akad nikah. Mempelai pria yang menginjak telur kemudian dibersihkan pleh sang mempelai wanita dan keluarga dari kedua mempelai wajib ikut menyaksikan. Telur melambangkan awal atau permulaan sesuatu kehidupan yang dapat diibaratkan sebagai sebuah wadah keluarga yang tertutup rapat dan harus terjaga agar bisa menghasilakan sebuah generasi baru sebagai penerus.
Pria menginjak telur dimaksudkan bahwa prialah yang nantinya akan menjadi kepala rumah tangga harus berjuang keras untuk mempertahankan dan menghidupi keluarga tanpa harus merengek-rengek meminta bantuan orang atau bergantung dengan orang lain. Wanita membersihkan pecahan telur berarti bahwa wanita itu mengabdi pada suami dengan senang hati dan ikhlas. Ini juga menunjukkan bahwa sang istri haruslah patuh terhadap suami. Rasa sakit dan lelah yang dirasakan suami setelah bekerja kemudian dihilangkan dengan pengabdian sang istri di rumah.
UPACARA KEMATIAN
Kematian adalah bentuk kesedihan dari pihak keluarga yang ditinggalkan. Meka kehadiran tamu untuk ta’ziyah ( melayat ) adalah bentuk menghibur pihak keluarga yang sedang berduka. Maka para pelayat ( para asung belasungkawa ) dalam bahasa arab biasanya diucapkan dengan kata “ mu’zziyin “ dan “ mu’azziyat “ ( penglipur laki laki dan perempuan ) sebagai bentuk sapaan di ruang publik. Kata serapan bahasa arab kr dalam bahasa jawa ini sudah banyak yang salah kaprah di pergunakan dalam sambutan pada prosesi upacara kematian dengan penyebut para ta’ziyyin dan ta’ziyat. Seharusnya di ucapkan para “ mu’azziyin lan mu’azziyat “.
Dalam adat islam-jawa terdapat serangkaian selametan yaitu : tujuh hari ( mitung dino ), empuluh hari ( patangpuluh dino ), seratus hari ( nyatus dino ), setahun ( mendak ), dan seribu hari ( nyewu ). Setelah tajhizul jenazah seperti memandikan, mengkafani, mensholatkan, dan menguburkan, setiap malam hari selama tujuh malam diadakan selametan mitung dino yaitu kirim do’a atau biasa di sebut dengan tahlilan. Rangkaian bacaan tersebut berlaku sama halnya dengan ketika serangkaian selamatan lainnya.
Pada sisi lain upacar kematian ( selametan, tahililan ) sebagai bentuk strategi atau metode berdakwah, sehingga ajaran islam tanpa terasa dapat mewarnai bahkan membumikan ditengah kehidupan masyarakat jawa. Sekalipun demikian , memang diakui bahwa proses alkuturasi antar ajaran islam dengan budaya jawa tidak sepenuhnya berjalan dengan mulus dan baik, karena kalangan santri dan abangan akan terjadi bentuk yang berbeda dalam mengemas dan mengimplementasikannya.
Unsur Keislaman Dalam Upacara Kematian
Pengaruh islam sebagai unsur penting dalam upacara kematian tampak dalam berbagai ritual, antar lain :
Dominasi bacaan ayat ayat Al qur’an
Dalam acara selametan kematian, masyarakat umumnya melakukan pembacaan ayat ayat Al qur’an, sholawat, istigfar, tahlil, tasbih, dan lain lain yang dihadiahkan ( hidayatan ) kepada orang yang telah meninggal.
Sedekah
Makan dan minuman yang dihidangkan ( disajikan ) di dalam ritual upacara kematian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari acara tersebut. Hidangan dalam upacara selametan di saat kematian menurut sebagian masyarakat meruapakn suatu bentuk kebajikan yang di anjurkan oleh islam yang disebut dengan istilah sedekah, agar si mayat terhindar bahaya dan siksa al-shodaqotul tadfa’u al-bala’ ( sedakah adalah tolak balak ). Hidangan yang disajikan dengan ketentuan pasti, terkadung dengan kemampuan keluarga yang ditinggalkan ( ahli waris ). Bahkan tidak menutup kemungkinan jika hidangan yang disajiakan hanya air minum.
Nilai Ukhwah Islamiyah
Selametan pada upacara kemtian memberikan kesempatan berkumpulkannya sekelompok orang untuk melakukan do’a bersama, bersilahturahmi, menikmati hidangan yang disajikan adalah suatu sikap sosail untuk menjalin ukhuwah islamiyah diantar warga masyarakatt. Nilai nilai silahturahmi dalam rangka menumpuk ikatan persaudaraan di antara mereka menjadi sesuatu yang sangat penting.
Nilai Tolong Menolong
Tolong menolong atau gotong royong identik dengan budaya jawa, terutama dalam peristiwa kematian, biasanya dilakukan oleh seseorang dengan amat sukarela, tanpa perhitungan akan mendapat pertolongan kembali ( imbal jasa ), karena menoling orang yang mendapat musibah itu, didasarakn rasa bela sungkawa yang bersifat universal dalam diri makluk manusia. Dasar tolong meolong adalah perasaan yang saling membutuhkan pada setiap orang.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dalam tradisi jawa terdapat serangkaian upacara yang dilakukan mulai dari upacara pra-kelahiran dan upacara kelahiran. Dalam upacara pra-kelahiran terdapat tradisi islam jawa yaitu ngapati ( empat bulan kehamilan ), mitoni ( tujuh bulan masa kehamilan ). Sedangakan pada upacara kelahiran ada serangkaian tradisi yaitu adzan dan iqomat, uoacara brokohan, sepasaran dan akikahan.
Sama halnya dengan upacara kelahiaran pada upacara perkawian juga terdapat serangkaina acara yang dilakukan. Upacara upacara perkawian dalam tradisi Islam-Jawa yaitu siraman ( pemandian ), midodareni, sungkeman, dan injak telur. Serangkaian upacara tersebut sudah menjadi keharusan dalam upacara perkawian di adat jawa.
Kematian adalah bentuk kesedihan dari pihak keluarga yang ditinggalkan. Maka kehadiran tamu untuk ta’ziyah ( melayat ) adalah bentuk menghibur pihak keluarga yang sedang berduka. Maka para pelayat ( para asung belasungkawa ) dalam bahasa Arab biasanya diucapkan dengan kata “ mu’zziyin “ dan “ mu’azziyat “ ( penglipur laki laki dan perempuan ) sebagai bentuk sapaan di ruang publik. Kata serapan bahasa arab ke dalam bahasa Jawa ini sudah banyak yang salah kaprah di pergunakan dalam sambutan pada prosesi upacara kematian dengan penyebut para ta’ziyyin dan ta’ziyat. Seharusnya di ucapkan para “ mu’azziyin lan mu’azziyat “. Dalam upacara kematian ( selametan ) terdapat upacara yaitu tujuh hari ( mitung dino ), empat puluh hari ( patangpuluh dino ), seratus hari ( nyatus dino ), setahun ( mendak ), dan seribu hari ( nyewu dino ).
DAFTAR PUSTAKA
Faishol, Abdullah dan Samsul Bakri. 2014. Islam dan Budaya Jawa.Surakarta: Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Surakarta.
Sutardjo, Imam.2017.Mengenal dan Mengungkap Budaya Jawa. Solo : Bukutujju
Tidak ada komentar:
Posting Komentar