Minggu, 06 Mei 2018

Makalah manusia dan kematian

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bumi dan alam semesta diciptakan oleh Tuhan dengan berbagai jenis makhluk hidup yang menempatinya. Ada yang dari jenis hewan, tumbuhan, buah-buahan, dan yang menjdi pusatnya adalah manusianya itu sendiri. Bericara  hidup maupun kehidupan sudahlah pasti tidak jauh dari  namanya kematian. Setiap yang bernyawa pasti akan menemui masa akhirnya yakni kematiannya itu. Kematian menjadi suatu hal yang sakral yang tidak bisa ditolak sebagai takdir dari Tuhan kepada makhluk-Nya. Dan  kita sebagai kaum awam, manusia biasa sudahlah sepatutnya mengetahui hal dasar mulai dasar pengertiannya, konsep kematian, fungsi kematian, manfaat kematian, makna kematian dan proses kematian.
Oleh karenanya kami penulis berusaha akan menguaknya semua itu dalam makalah ini berjudul “Manusia dan Kematian” , besar harapan kami makalah ini dapat menjadi salah satu refernsi sebagai bahan untuk belajar ilmu pengetahuan baik ditingkat dasar, menengah pertama, menengah keatas, tingkat lanjut dan bahkan di khalayak umum.    
Rumusan Masalah
Apa hakikat dari manusia?
Apa yang menjadi pengertian kematian atau maut?
Bagaimana konsepsi kematian bagi setiap yang bernyawa?
Apa yang dapat diambil dari makna, fungsi dari kematian ?
Tujuan
Mengulas kembali hakikat manusia.
Menegtahui pengertian kematian atau maut.
Menegtahui bagaimana konsepsi kematian bagi setiap yang bernyawa
Mengetahui apa saja yang dapat diambil dari makna dan fungsi dari adanya kematian bagi setiap yang bernyawa.

BAB II
PEMBAHASAN

Hakikat Manusia
Hakikat manusia sebagai manifestasi (tajalli) atau cermin dari nama-nama dan sifat Allah sekaligus Khalifahnya di muka bumi, menurut Nursi “manusia merupakan ciptaan yang luar biasa bagi pencipta Yang Maha Suci dan juga merupakan mukjizat yang paling tinggi di antara mukjizat kekuasaanya. Manusia adalah ciptaan yang paling lembut karena sang pencipta menciptakannya sebagai tempat perwujudan semua menifestasi nama-nama Allah Yang Mulia dan menjadikannya poros untuk semua ukirannya indah serta sebagai miniaturnya alam semesta.
Manifestasi nama-nama Allah dalam diri manusia dapat di lihat dalam tiga hal yakni:
Sebagaimana kegalapan malam menunjukan adanya cahaya, semua manusia melalui kelemahan, ketidakberdayaan, kefakiran, kemiskinan, kekurangan dan segala cacatnya menunjukan adanya kekuatan, keperkasaan kekayaan serta  kesempurnaan Allah melalui lisan kelemahan, kekurangan dan ketidakberdayaan, secara inrinstik  manusia menyeru Allah dengan al-Qadir wa al-Qahar. Lewat bahasa kemiskinan dan kefakiran manusia memanggil Allah dengan panggilan al-Raziq wa al-Ghaniyy.
Manusia memiliki potensi-potensi kekuatan, kemampuan, kekuasaan, pemilikan, pendengaran, penglihatan, pengetahuan dan juga pemikiran. Semua itu hakikatnya bersumber dari Allah Yang Maha Kuat, Maha Kuasa an maha memiliki segalanya semua pensi manusia merupakan menifestasi dari nama-nama dan sifat-sifatnya.
Potensi manusia bukan hanya bersifat teoritis, melainkan juga berada alam tataran subjektif tetapi juga objektif. Disini seorang manusia benar-benar mencintai Allah dan dia pun mencintainya, maka Allah akan memberikan secercah kehebatannya dengan sifat al-Qawiyy, Allah memberikan kelebihan kepada manusia yang di cintainya sehingga ia mempunyai kekuatan luar.kelebihannya dari manusia pada umumnya.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk ekologis yang hidupnya sangat tergantung pada makhluk hidup lainnya, manusia merupakan makhluk yang membutuhkan aneka ragam makhluk hidup dan manusia juga memiliki keterkatian hubungan dengan makhluk lainnya.
Hakekat seanjutnya adalah manusia merupakan khalifah, posisi khalifah yang di berikan kepada manusia merupakan kepercayaan dan kehormatan yang telah di berikan Allah. Namun sebagian manusia merusak kepercayaan tersebut dengan cara merusak tatanan alam. Kekhalifahan manusia bukanlah legitimasi teologis untuk merusak alamnya melainkan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga dan memeliharanya.
Kematian atau Maut
        Setiap saat manusia dikungkung oleh kematian, dan setiap hari kita berjumpa dengan iring-iringan jenazah. Penyebab kematian bermacam-macam, sspeerti kecelakaan, perang, serangan penyakit, dan lain-lain.  Biasanya seseorang itu takut mati, bahkan dia tidak mau atau takut melihat orang mati. Tetapi ada juga orang bersahabat dengan kematian karena orang tersebut mempunyai prinsip bahwa hidup ini menuju mati, mati adalah sesuatu yang menarik dan menghibur serta penawar kesulitan.
        Semua makhluk hidup yang ada di muka bumi tidak kekal, pada suatu saat nanti pasti akan mengalami kematian. Karena manusia sadar atau tidak sadar terhadap kematian, maka kematian atau maut menimbulkan persoalan bagi manusia. Misalnya, manusia yang menyadari kematian akan berusaha sebaik-baiknya untuk menghadapi kematian. Sebab kematian merupakan bagian dari proses kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan. Manusia yang tidak menyadari kematian sering terjerumus ke dalam sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan agama.
Manusia mengakhiri hidupnya di dunia ini dengan kematian, semuanya ini adalah pengalaman. Kematian manusia menimbulkan problema besar. Manusia merasa bingung dan tercengang dalam menghadapi kematian. Sikap manusia terhadap kematian beraneka ragam, ada yang bersifat budaya dan ada yang bersifat keagamaan, bahkan ada yang berusaha mengatasi peristiwa kematian tersebut.
Pengertian Mati
Kata mati berarti tidak ada, gersang, tandus, kehilangan akal dan hati nurani, kosong, berhenti, padam, buruk, lepasnya ruh dari jasad. Pengertian mati dalam kehidupan sehari-hari sering diistilahkan sebagai;
Kemusnahan dan kehilangan total roh dari jasad.
Terputusnya hubungan antara roh dan badan.
Terhentinya budi daya manusia secara total.
Apabila dikaji dengan keterangan-keterangan yang bersumber dari ajaran agama Islam, maka kematian bukanlah kemusnahan atau terputusnya hubungan. Kematian hanyalah terhentinya budi daya manusia pada alam pertama, yang nanti akan dilanjutkan kehidupannya pada alam kedu. Ajaran agama menggambarkan konsepsi adanya pertalian alam dunia dan akhirat serta menggambarkan prinsip tanggung jawab manusia selama hidup di dunia.
Konsep Kematian
Dari segi kebahasan, istilah kata mati (al-mawt) memiliki korelasi yang sama dengan istilah pancaindra seperti akal, dan lain-lain. Korelasi ini mengandung pemahaman bahwa kematian yang dimaksud berarti telah kehilangan kekuatan atau kemampuan untuk hidup, dan ini seperti seseorang telah kehilangan sejumlah organ tubuh yang menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan atau melihat sesuatu. Mati mengindikasikan berlawanan dengan dengan kata hidup (al- hayah), meski kemudian kedua ini meruapakan ciptaan Alloh SWT. Namun, demikian mati dan hidup memiliki kaitan erat dengan kedudukan dan perwujudan roh.
Dalam al Quran sendiri perkataan al mawt disbutkan sebanyak lima puluh kali dalam bentuk mufrodat dan enam kali dalam bentuk jamak. Salah satunya ialah ayat berikut :
QS : Ali Imron ayat 185  yang artinya “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”
Demikian pula untuk kata hidup (al hayah). Kata ini mengandung mkna hidup, kehidupan, tumbuh kembang, kekal atau berguna. Kata hayat  termasuk kata yang banyak disebutkan dalam al Qur’an. Bahkan al Qur’an sendiri menginformasikan bahwa kata tersebut diulang sebanyak tujuh puluh enam kali. Enam puluh delapan kali diantaranya dihubungkan dengan kata al dunya, sehingga tersusun menjadi kata al hayah al dunya, yang berarti kehidupan sebagai lawan daripada kehidupan akhirat.
Penyebutan kata mati dan hidup dari sekian banyak kodrat dan kuasa agaknya disebabkan karena kedua hal ini merupakan bukti yang paling jelas tentang Kuasa-Nya dalam konteks manusia. Secara sederhana, al Qu’ran turut mengemukakan pengertian yang hampir sama tanpa terdapat perubahan maksud. Al Qur’an menunjukkan bahwa setiap makhluk yang bernyawa (ruh) pasti mati, bahkan alam duniapun akan diakhiri dengan hari kiamat.
Mati menjadi titik pemisah diantara dua perkara, yakni masa, keadaan dan kehidupan dunia menuju kepada masa, keadaan dan kehidupan akhirat yang abadi.  Dengan berlakunya kematian, keadilan di alam akhirat yang abadi mulai dilaksanakan dan kiamat bagi setiap manusia pun telah dimulai.
Perspektif mengenai kematian memiliki beberapa ketetarangan. Sebagian mengatakan mati sebagai bentuk penyucian diri dari kotoran yang meliputi perbuatan dosa dan ia boleh dianggap sebagai tempat kesucian yang bisa digunakan untuk menghilangkan sejumlah bentuk kotoran. Oleh karena itu, kematian merupakan peluang terakhir bagi setiap manusia untuk membebaskan diri dari sejumlah dosa dan menyucikan diri dari segala bentuk keburukan. Penyucian ini termanifestasi kepada dua golongan manusia, yaitu apakah seseorang itu sebagai mukmin atau kafir.
Adapun terkait dengan persoalan pengambilan ruh yang dimiliki oleh setiap makhluk, al Qur’an mengemukakan beberapa penjelasan mengenainya. Sebagian ayat menggambarkan Alloh swt sendiri mematikan makhluk-makhluk-Nya yang bernyawa. Sementara dalam ayat yang lain disebutkan, bahwa malaikat maut yang akan melakukannya, sedangkan ayat seterusnya menunjukkan malaikat-malaikat yang akan mematikannya. Dalam menguraikan persoalan tersebut, merujuk kepada argumentasi ‘Ali bin Abi Thalib, bahwa Alloh swt melakukan segala urusan mengikuti kehendak-Nya. Untuk itu Alloh telah  memilih malaikat maut secara khusus sebagai wakil-Nya untuk melaksanakan tugas itu dengan mengacu berdasarkan kehendak-Nya.
Untuk memperjelas hal ini secara umum beliau mengklasifikasikan manusia ini kepada dua golongan; pertama, orang ang bersenang-senang dan terdiri dari orang-orang kafir. Kedua, orang yang melepaskan diri dari beban orang-orang mukmin, yang dengan kematiannya itu dapat melepaskan diri dari dunia dan ujian-ujiannya.
Berdasarkan uraian diatas, maka ketentukan mati dan hidup merupakan persoalan yang berhubungan dengan hikmah Alloh swt dalam konteks yang begitu dinamis dan praktis sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pertama Alloh menciptakan mati dan hidup bermaksud  untuk menguji, membedakan dan menentukan manusia berdasarkan amalan dan perbuatan mereka terhadap perintah dan larangan yang Alloh swt kemukakan untuk diberikan pembalasan. Kedua, menghindari dunia ini yang tampak sempit lantaran dipenuhi oleh keturunan manusia yang banyak. Ketiga, sebagai peringatan kepada semua makhluk, khususnya manusia dan jin supaya dengan demikian, mereka senantiasa menjaga diri dalam setiap perbuatannya.   
Perihal kematian memanglah sangat dirahasiakan oleh Alloh SWT terlebih mnengai hari kiamat itu sendiri. Adapun Alloh swt merahasikan tentang kematian dan kehidupan lantaran disebabkan sebagai berikut:
Pertama, sekiranya manusia mengetahui datangnya kematiannya atau adanya kehidupan, maka dimungkinkan bahwa manusia manusia gagal dalam tugasnya sebelum ajalnya tiba. Untuk itu, adalah suatu rahmat dna perbuatannya menjadi faktor penggerak dalam kehidupannya. Kedua, kejahilan itu sebagai sesuatu yang berbentuk pendidikan kerana sekiranya diketahui waktunya ajal, sudah tentu manusia tidak menjadi sombong. Keadaan ini tidak mendatangkan kesempurnaan dari segi aspek spiritual dan tingkat kemuliaan sebagai langkah untuk mengatasi kehinaan seorang hamba atau manusia.        
Proses Kematian (sakaratul maut)
Proses kematian setiap orang pasti berbeda-beda. Ada yang proses kematiannya tenang, dan adaa juga yang harus mengalami kecelakaan dan sebagainya. Ini semua adalah peristiwa batin. Demikian pula dalam sikap batin, manusia menghadapi kematian bermacam-macam. Menurut ukuran agama, misalnya, ada yang mati dalam keadaan iman atau sebaliknya. Semuanya mempunyai penilaian atau penghargaan menurut dimensi agama yang berbeda-beda.
Proses kematian manusia tidak dapat diketahui atau digambarkan dengan jelas karena menyangkut segi fisik dan segi rohani. Dari segi fisik dapat diketahui secara klinis, yaitu seseorang dikatakan mati apabila pernapasannya dan denyut jantungnya berhenti. Dari segi rohani ialah proses roh manusia melepaskan diri dari jasadnya. Proses kematian dari segi rohani ini sulit digambarkan secara inderawi, tetapi nyata terjadi.
Istilah lain untuk proses kematian adalah sakaratul maut. Sakaratulmaut artinya bingung, ketakutan, dan kedahsyatan saat sedang dicabut rohnya dari badan yang perlahan-lahan menjadi beki.  Pertama kakinya dingin membeku, perlahan-lahan bergeser ke paha, sampai ke kerongkongan, kemudian mata terbelalak ke atas mengikuti lepasnya roh.

Fungsi Kematian
Ajaran agama tidak memandang semata-mata sebagai kematian fisik, tetapi berfungsi rohaniah, yaitu untuk memberikan pembalasan kepada manusia sesuai dengan amal perbuatannya sewaktu hidup. Orang yang mengikuti ajaran agama dengan sebenarnya dan sebaik-baiknya akan dijamin masuk surga, dan sebaliknya, orang yang tidak mengikuti ajaran agama akan masuk neraka. Kalau demikian, kematian itu dapat merupakan bencana atau nikmat. Fungsi kematian adalah untuk menghentikan budi daya, prestasi, dan sumbangan seluruh potensi kemanusiaannya. Maka kematian itu bukan akibat kesalahannya atau dosanya kepada orang lain, atau tumbal, melainkan karena takdir.
Sikap Menghadapi Kematian
Sikap menghadapi kematian adalah kecenderungan perbuatan manusia dalam menghadapi kematian yang diyakininya bakal terjadi. Sikapnya bermacam-macam, sesuai dengan keyakinan dan kesadarannya. Diantaranya yaitu:
Orang yang menyiapkan dirinya dengan amal perbuatan yang baik karena menyadaribahwa kematian bakal datang dan mempunyai makna rohaniah.
Orang yang mengabaikan peristiwa kematian, yang menganggap kematian sebagai peristiwa alamiah yang tidak ada  makna rohaniahnya.
Orang yang merasa takut atau keberatan untuk mati karena terpukau oleh dunia materi.
Orang yang ingin melarikan diri dari kematian karena manganggap bahwa kematian itu merupakan bencana yang merugikan, mungkin karena banyak dosa, hidup tanpa norma, atau beratnya menghadapi keharusan menyiapkan diri untuk mati.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan pokok-pokok pikiran tentaang mati sebagai berikut:
Mati adalah berhentinya budi daya manusia secara total.
Proses kematian menyangkut segi fisik dan segi rohani.
Sikap manusia menghadapi kematian bermacam-macam.
Kematian merupakan pengalaman akhir dari hidup seseorang.
Kesimpulan, konsepsi atau pengertian tentang kematian lebih banyak diperoleh dari sumber-sumber agama seperti wahyu atau ajaran agama lainnya.

Makna Kematian
Menurut B.S. Mardiatmadja (1987), makna di balik maut (kematian) itu adalah maut sebagai putusnya segala relasi, sebagai kritik atas hidup, sebagai pelepasan, sebagai awal hidup baru, dan hanya Tuhan yang merupakan penguasa hidup dan maut. Selanjutnya Mardiatmadja menguraikan:
Maut sebagai putusnya segala relasi
Maut adalah putusnya segala relasi karena segala relasi terputus dengannya. Maut menjemput kita sejak di dunia. Kalau diartikan maut itu sebagai perpisahan, misalnya, semakin tua umur seseorang, maka semakin sedikit kesempatannya untuk berjumpa dengan relasinya. Orang yang takut akan mati menandakan bahwa orang tersebut tidak memiliki cinta yang mendalam dan tanpa batas sehingga ia tidak yakin bahwa relasinya tetap terjaga, dan takut relasinya terputus.
Maut sebagai kritik atas hidup
Maut adalah arah utama dari hidup. Segala macam dimensi kebanggaan menjadi lenyap. Yang cantik, kekar, cerdas, dan sebagainya, menjadi layu dan lenyap. Tidak ada sedikit pun harta benda yang dimiliki terbawa ke kuburan. Segala macam keangkuhan, tirani, atau kekuasaan menjadi ciut di hadapan maut. Maut mengkritik orang-orang yang tidak pernah merasa puas, atau haus untuk menumpuk-numpuk atribut kejayaan serta kesuksesan. Mungkin orang yang sudah merasa alim dan imannya kuat akan berkata, kami siap menjawab kritikan maut dan hidup berdampingan dengan maut. Tetapi, tidak sedikit orang yang kita pandang alim dan kuat imannya serta saleh, harus menanggung kematiaan dengan cara yang keji. Tidak ada pemutlakan nilai-nilai, kekuasaan, serta jasa-jasa selama orang hidup bagi sesuatu yang dikatakan maut.
Maut sebagai pelepasan
Pahit getirnya mengarungi kehidupan di zaman modern, semakin sukarnya menghadapi tuntutan zaman seperti sekolah, mencari nafkah, mencari kerja, tuntutan lingkungan dan yang kejam, penindasan, pemerasan, bahkan memadu cinta pun mungkin semakin terasa mengandung racun, semuanya itu dihayati sehingga sampai pada pemikiran bahwa maut merupakan pelepasan dari penderitaan hidup. Dalam kasus-kasus di kota-kota besar, sering terjadi kasus bunuh diri demi membebaskan diri dari penderitaan, dari kerasnya persaingan hidup, atau karena merasa tersaingi, tidak merasakan cinta dan kasih sayang orang tuanya.
Maut sebagai awal hidup baru
Dalam suatu keyakinan agama, mati itu adalah awal dari hidup. Tetapi, pernyataan ini hanya sebagai harapan manusia, sebab manusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali. Dalam suatu kepercayaan dikatakan bahwa kematian merupakan buah pekerjaan dan sukses hidup yang sejati sehingga orang yang sudah dapat ditentukan daya tahan hidupnya menurut ilmu kedokteran, dapat dengan tenang menghadapi maut. Bila manusia mau tabah menghadapi kematian, maka perlu kepastian tentang hidup. Hal ini penting sebab kematian tetap akan datang menjemput manusia. Maka lebih bijaksana apabila manusia menyambutnya dengan penuh kesadaran. Atau sama sekali jangan memikirkan kematian, sebab kematian itu bukan urusan manusia.
Tuhan sebagai penguasa hidup dan mati
Seseorang yang menganut agama atau suatu kepercayaan pasti mengakui bahwa Tuhan adalah penguasa hidup dan mati.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak bisa melepaskan kodratnya terhadap takdir yang ditetapkan Tuhan. Pengertian mengenai kematian menjadikan suatu hal yang wajar bagi setiap yang bernyawa khususnya manusia, sebagai wujud pengingat bahwasanya hidup ini tidak kekal, tidak abadi melainkan akan berakhir dengan namanya kematian. Kemudian makna kematian sendiri itu akan didapatkan setelah mempelajari secara mendalam oleh pribadi manusianya. Ketenangan dan kebimbangan menjadi suatu rasa yang timbul akibat akan datangnya kematian. Keindahan dan keburukan di kehidupan berikutnya menjadi tolak ukur bagaimana suatu insan berperilaku sewaktu hidup di alam duniawi.
Banyak macam bentuk manusia dalam menyikapi takdir mati yang tidak bisa dihindarkannya. Ada orang yang menyiapkan dirinya dengan amal perbuatan yang baik karena menyadari bahwa kematian bakal datang dan mempunyai makna rohaniah. Ada orang yang mengabaikan peristiwa kematian, yang menganggap kematian sebagai peristiwa alamiah yang tidak ada  makna rohaniahnya. Ada orang yang merasa takut atau keberatan untuk mati karena terpukau oleh dunia materi. Ada orang yang ingin melarikan diri dari kematian karena manganggap bahwa kematian itu merupakan bencana yang merugikan, mungkin karena banyak dosa, hidup tanpa norma, atau beratnya menghadapi keharusan menyiapkan diri untuk mati. Ya begitulah warna karakteristik manusia dalam menanggapi kematian yang pasti akan dialaminya.


DAFTAR PUSTAKA

Ridwanuddin, Parid. 2017. “Ekoteologi dalam Pemikiran Baiduzzaman Said Nursi”. Lentera. Vol. 1 (1).
Soelaeman, M. Munandar. 1987. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: PT Eresco.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minoritas islam di thailand

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang        Pada abad ke-14, Islam masuk ke Asia Tenggara dan menjadi agama besar ke tiga di dunia. Pada perk...